Halloween Costume ideas 2015
04/24/16

Kabar duka kini menyelimuti kelompok jihad ternama Suriah, Ahrar Asy-Syam. Pada saat bersamaan Ahrar terpaksa kehilangan empat pejuangnya sekaligus, termasuk komandan divisi yang bernama Majid Hussen Shadiq dan melukai sekitar tiga puluh lainnya.

Majid Hussen, komandan divisi Ahrar Syam

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang dilansir dari Arabi21 pada Ahad (24/04), telah terjadi serangan bom bunuh diri yang menargetkan markas Ahrar Asy-Syam di Idlib, Suriah.

Majid Hussen Shadiq dikenal juga dengan nama Islam Abu Hussen, ia keluar dari tentara nasional Suriah kemudian bergabung dengan Ahrar. Dalam kiprahnya selama di Ahrar, ia beberapa kali dipercaya memegang posisi penting. Hingga menjelang kematiannya, ia menjabat sebagai komandan divisi.

Sampai saat ini belum diketahui siapa pelaku serangan tersebut. Namun sumber terdekat Ahrar Asy-Syam menyebutkan serangan itu dilakukan oleh ISIS. Serangan itu diduga karena keterlibatan Shadiq dalam beberapa operasi untuk menangkap anggota ISIS di propinsi Aleppo dan Idlib.

Hal serupa turut disampaikan oleh tokoh Ahrar Asy Syam, Abu Yahya al-Hamawi. Ia bersumpah akan membalas serangan ISIS tersebut. Meskipun belum ada pernyataan resmi dari ISIS terkait serangan ini.

Al-Jazeera merincikan, seorang yang tak dikenal diduga sengaja memanfaatkan keberadaan komandan Shaddiq di Maskas Idlib. Ia pun meledakkan diri di antara puluhan pejuang yang tengah berkumpul di sana. Serangan itu telah menewaskan 4 orang dan sedikitnya 30 orang luka-luka, termasuk beberapa orang yang mengalami luka serius.

Ahrar Asy-Syam merupakan salah satu gerakan oposisi yang paling berpengaruh di Suriah. Bersama dengan Jabhah Nushrah dan kelompok islam lainnya.

Pemimpin Komite Tinggi Oposisi Suriah Riad Hijab menyatakan bahwa utusan PBB untuk Suriah, Staffan de Misture telah memperburuk kondisi Suriah.

Menurutnya, semenjak PBB mengangkat utusan khususnya itu sejak dua tahun lalu, jumlah kota-kota yang diblokade di Suriah semakin meningkat.

“Jumlah kota-kota dan wilayah yang diblokade di Suriah semakin meningkat,” ujarnya seperti dikutip Anadolu pada Sabtu (23/04) saat konferensi pers di Gaziantep, Turki.

Riad Hijab sebelumnya dengan tegas menolak usulan yang ditawarkan de Misture yang meminta Assad agar terlibat dalam proses transisi Suriah. Ia pun lantas menyatakan mundur dari perundingan Jenewa.

raid_hijab_oposisi_suriah
Hijab beralasan mundurnya dari perundingan damai itu lantaran serangan yang masih terus dilakukan Rezim terhadap penduduk Suriah di tengah gencatan senjata.

“Karena kelanjutan serangan Rezim dan sekutunya, pengepungan dan penembakan masih terjadi di Suriah,” kata Riad. Ia mencatat bahwa rakyat Suriah sedang sekarat karena kelaparan, di bawah penyiksaan, sorotan utusan PBB (de Mistura) dan timnya.

“Suriah ingin kembali merdeka dan hidup bermartabat serta bebas dari kediktatoran, despotisme, korupsi, dan penindasan,” sambungnya.

Di Gaziantep, Turki Selatan, Riad mengunjungi kamp pengungsian Nazib. Di sana ia bercerita tentang kondisi Suriah.

“Sebuah bangsa yang hidup di bawah kondisi penderitaan besar, hanya beberapa kilometer dari sini (…) Karena kondisi yang keras, kita lihat warga Suriah hidup di kamp-kamp pengungsi,” katanya.

Hijab menambahkan bahwa Rezim Suriah menggunakan kebijakan intimidasi, kebencian dan amarah untuk menghadapi rakyatnya. Ia juga mengadopsi kebijakan terorisme dalam bernegara, seperti penyiksaan dan hukuman kolektif. Cara itu digunakan sebagai alat tekanan kepada negara-negara tetangga dan negara-negara di dunia termasuk Eropa.

Karena sistem otoriter tersebut, Assad telah membuat lebih dari setengah populasi Suriah lari ke luar negeri.

“Jutaan warga Suriah telah melarikan diri ke negara-negara tetangga, dan negara-negara lainnya. Akibat penindasan Rezim dan para sekutunya,” lanjut dia.

Dalam konferensi pers di Jenewa, Riad telah mengumumkan pada Selasa kemarin bahwa oposisi memutuskan untuk mundur dari perundingan. Hal itu dipicu karena serangan terus menerus yang dilakukan Rezim.

“Kami memutuskan untuk mundur dari perundingan Jenewa yang masih nggantung. Kami tidak akan berada di gedung PBB, sedangkan rakyat kami dalam penderitaan. Tidak ada tempat bagi Assad di depan kelak. Dia pantas menerima hukuman yang setimpal,” tandasnya

Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah menyatakan, jet tempur rezim Assad kembali melakukan serangan di wilayah Ghouta timur dan Aleppo yang dikuasai pejuang oposisi.

Dalam serangan di Ghouta timur (pinggiran Damaskus), angkatan udara Rezim menewaskan 13 orang, termasuk tiga perempuan dan dua bocah.

Sementara itu, Media Center Aleppo juga memaparkan bahwa serangan udara Assad di daerah perumahan dan pasar yang dikuasai pejuang oposisi telah menewaskan 12 orang, termasuk sejumlah anak-anak.

Dari dua laporan yang ada, serangan Rezim pada hari Sabtu (23/04) telah menewaskan dua puluh lima orang di dua lokasi berbeda.



Di sisi lain, para pejuang oposisi Suriah juga berusaha untuk melakukan pembalasan dengan menembakkan sejumlah mortir dan jatuh di lingkungan ibukota Damaskus.

Perjanjian gencatan senjata antara pejuang oposisi dan tentara rezim Assad sendiri telah rapuh setelah banyaknya serangan dari tentara Assad di Aleppo.

Setelah adanya hal ini, delegasi oposisi di Jenewa pun menarik diri dari pembicaraan pada hari Kamis kemarin. Keputusan ini sendiri diambil sebagai protes terhadap rezim Suriah yang semakin meningkatkan serangan di tengah proses negosiasi.

Sebelum bertolak, Muhammad Alloush yang merupakan delegasi senior oposisi Suriah menegaskan tidak ada pembicaraan damai sebelum Rezim menghentikan pembantaian dan membebaskan ratusan ribu tahanan politik.

Dalam konteks terkait, Staffan de Mistura mengungkapkan bahwa perjanjian gencatan senjata masih berlaku di Suriah, namun dalam kondisi bahaya. Di sisi lain, situasi di lapangan menunjukkan gencatan senjata telah tiada.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget