Halloween Costume ideas 2015
04/11/16

Transisi politik Suriah menjadi titik kontra semua pihak yang terlibat dalam Perundingan Jenewa. Permasalahan ini menjadi perdebatan serius antara pihak oposisi dan Rezim Suriah yang dilindungi sekutunya. Bahkan Perundingan Jenewa ditunda untuk beberapa waktu karena tidak ada titik temu dalam hal ini.

perundingan jenewa suriah

Anas Al-Ubadah, Kepala Koalisi Nasional Oposisi Suriah, menyatakan bahwa oposisi Suriah tidak akan mau menerima segala bentuk proses politik yang masih mempertahankan Bashar Assad. Baik saat berlangsungnya masa transisi politik maupun di masa-masa Suriah yang akan datang.

Anas Al-Ubadah juga terus menghimbau kepada lembaga kemanusiaan internasional untuk terus bekerja mematahkan blokade yang masih terjadi di sejumlah daerah. Ia juga meminta pengiriman bantuan pangan, serta mengangkut keluar seluruh korban luka yang membutuhkan perawatan medis dari blokade yang dilakukan pasukan Assad dan sekutunya di sejumlah daerah Suriah.

Sementara itu, Anadolu melaporkan bahwa Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan menuntut agar Bashar Assad diadili di Mahkamah Internasional. Lantaran senjata-senjata milik pasukan yang dibawahinya telah menelan 500 ribu korban jiwa dari kalangan sipil.

“Tidak ada perbedaan antara senjata kimia dan konvensional jika hasilnya adalah sama. Pemerintahan semacam ini harus diadili (mengacu pada rezim Suriah, Presiden Bashar Assad) di Mahkamah Internasional di Den Haag, untuk membayar atas tindakannya,” tegas Erdogan.

Namun hal itu ditentang tegas oleh Iran. Ali Akbar Velayati seorang pejabat tinggi Teheran menimpali bahwa pihaknya akan terus mendukung dan mempertahankan eksistensi rezim Bashar Assad. Ia bahkan menolak segala bentuk tuntutan agar Assad meninggalkan kekuasaannya. Menurutnya, cara ini tidak sejalan dengan kemauan Iran.

Searah dengan Iran, pihak Rusia pun turut mempersoalkan hal ini. Gennady Gatilov Wakil Menlu Rusia betul-betul menyayangkan tidak adanya pembahasan terkait nasib Assad nantinya. Menurutnya, hal ini sangat berkaitan dengan penyelesaian konflik dan masa depan Suriah.

Pihak PBB sendiri, Staffan de Misture menegaskan bahwa perundingan putaran selanjutnya secara gamblang akan menjurus kepada proses nyata dalam mengawali transisi politik di Suriah.

Perang Suriah merupakan tempat komersial yang sempurna bagi para produsen senjata Rusia.
Moskow bisa mendapatkan uang lebih banyak setelah dunia melihat senjata buatan Rusia, baik lama maupun baru, yang teruji di medan tempur oleh angkatan udara Rusia dan militer Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Senjata Rudal Rusia

Perang Suriah telah membantu Moskow meningkatkan statusnya sebagai produsen dan eksportir senjata besar, yang merupakan kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat.

Ini merupakan kabar baik bagi Presiden Vladimir Putin di tengah krisis ekonomi yang parah yang disebabkan oleh rendahnya harga minyak, jatuhnya mata uang rubel, dan sanksi-sanksi Barat yang diberlakukan atas tindakan Rusia di Ukraina.

Operasi militer itu memberikan kesempatan untuk menguji dalam pertempuran “Semua sistem militer generasi terakhir yang tidak bisa diuji oleh Rusia dalam kondisi militer – yakni persenjataan presisi tinggi, rudal, helikopter, pesawat dan rudal jelajah”, kata Ruslan Pukhov, Direktur Center for Analysis of Strategies and Technologies, yang bermarkas di Moskow.

Harian Kommersant mengatakan pada pekan lalu, dengan mengutip orang dalam di Kremlin dan para analis militer, bahwa “efek marketing” dari konflik Suriah akan meningkatkan penjualan senjata Rusia hingga $ 7 milyar. Aljazair telah membeli selusin pembom tempur Sukhoi Su-32, suatu versi ekspor dari Su-34 yang terbukti mematikan di Suriah.

Pakistan, Vietnam, Indonesia dan sejumlah negara Amerika Latin juga ingin membeli lebih banyak pesawat pembom dan helikopter, tetapi mereka juga ingin yang lebih dari sekedar pesawat, yang merupakan tulang punggung ekspor senjata Rusia sejak Uni Soviet runtuh tahun 1991.

Pada tahun 2015, ekspor senjata Rusia mencapai rekor dengan nilai $ 14.5 miliar karena “keandalan dan efektivitas yang tinggi” dari persenjataan tersebut, Presiden Putin mengatakan pada akhir Maret.

Angka tersebut lebih tinggi dari yang diharapkan, dan pesanan asing bagi senjata Rusia melebihi $ 56 miliar, kata Putin menambahkan, saat menyampaikan pidato pada pertemuan para pejabat pertahanan.

Pada tanggal 7 Oktober 2015, pada hari ulang tahun ke-63 Putin, empat kapal perang Rusia meluncurkan rudal jelajah jarak jauh yang menyerang 11 target di Suriah – suatu jarak yang lebih dari 1.500 kilometer.

Pada bulan Desember, sebuah kapal selam Rusia yang berada di Laut Mediterania meluncurkan rudal jelajah yang sama terhadap sasaran-sasaran di provinsi Raqqa, Suriah.

Sekitar 300 orang cedera pada Ahad (10/4/201) ketika polisi Makedonia menembakkan gas air mata, peluru karet dan granat setrum kepada para pengungsi saat mereka berusaha menerobos pagar perbatasan dengan Yunani, media lokal melaporkan.



Kekerasan itu dikecam oleh Badan Manajemen Kordinasi Krisis Pengungsi Yunani.

“Penggunaan gas air mata, peluru karet dan granat kejut dari pasukan FYROM [Former Yugoslav Republic of Macedonia] terhadap orang-orang yang tak berdaya, dan bahkan tanpa force majeure, adalah praktik yang membahayakan dan sangat tercela,” kata juru bicara Giorgos Kyritsis dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dilansir Anadolu Agency.

“Kami mendesak pihak berwenang FYROM untuk memahami potensi risiko dari penggunaan kekerasan terhadap pengungsi dan migran.”

Kementerian Luar Negeri Yunani mengatakan bahwa pihaknya telah melayangkan protes kepada pihak berwenang Makedonia.

Duta besar Yunani untuk Skopje, Theocharis Lalakos, meminta pihak berwenang Macedonia untuk menunjukkan tanggung jawab yang tepat, pengendalian diri dan keseriusan.

Kementerian Dalam Negeri Makedonia mengklaim 15 petugas polisi Macedonia terluka, termasuk lima diantaranya mengalami luka serius.

Juru bicara Toni Angelovski mengatakan bahwa polisi tambahan telah dikerahkan ke perbatasan.

“Polisi akan berpatroli sepanjang malam,” katanya.

Dia juga menambahkan bahwa pengungsi tersebut berkumpul disana karena ada rumor bahwa perbatasan akan dibuka.

Kekerasan dimulai setelah lima pengungsi mendekati perbatasan untuk berbicara dengan polisi Macedonia.

Sekitar 500 orang kemudian berkumpul di luar kamp pengungsi di Idomeni dan mendekati perbatasan yang dilindungi oleh pagar dan kawat berduri.

Seorang juru bicara Doctors without Borders mengungkapkan bahwa sebanyak 200 orang dirawat karena masalah pernapasan, 34 untuk menderita luka menganga dan 30 orang mengalami luka yang disebabkan oleh peluru karet. Kelompok itu mengatakan tujuh orang diinapkan di rumah sakit.

Lebih dari 11.000 pengungsi di Idomeni, berharap bisa melanjutkan peralanan mereka ke Eropa utara meskipun perbatasan ditutup.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget