Halloween Costume ideas 2015
03/31/16

Presiden Suriah, Bashar al-Assad mengklaim bahwa keberhasilan tentaranya dalam merebut Palmyra dari ISIS merupakan langkah untuk “mempercepat penyelesaian politik” di Suriah.

“Tindakan militer dan keberhasilan yang ada akan menyebabkan percepatan dalam penyelsaian politik dan tidak mencegahnya,” katanya.

bashar assad
Pernyataan Assad ini juga untuk menyangkal klaim Barat, rezimnya dan Rusia hanya mempersulit proses perdamaian di Suriah.

Seorang analis berspekulasi bahwa perebutan Palmyra kuno yang dilancarkan rezim Suriah ini hanyalah sebuah rancangan untuk meningkatkan kredibilitas Assad dengan kekuatan internasional yang ada.

Belum lama ini, Bashar al-Assad juga menyampaikan kata terima kasihnya kepada Sekjen PBB, Ban Ki Moon yang telah “mendorong” pasukannya untuk merebut kembali wilayah Palmyra.

DK PBB sebenarnya sangat kritis terhadap rezim Assad dan pasukannya terkait adanya pelanggaran HAM yang berat. Namun, hal ini mulai memudar pasca munculnya ISIS dan membuat masyarakat internasional mulai melunak dengan pelanggaran rezim.

Pemerintah Assad sendiri telah menghadapi pemberontakan selama lima tahun, dan kini masih mengikuti adanya pembicaraan damai dengan oposisi di Jenewa. Namun, negosiasi masih berhenti dan akan berlanjut awal bulan depan.

Berapakah nilai penjualan persenjataan Amerika Serikat ke Timur Tengah? Dalam setahun penjualan senjata Washington ke negara-negara teluk mencapai angka yang fantastis, USD 33 miliar atau setara dengan Rp 441 triliun.
bisnis senjata amerika

Data terbaru yang dirilis Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebutkan bahwa sejak Mei tahun lalu mereka telah menjual senjata senilai USD 33 miliar ke negara-negara di kawasan Teluk. Angka penjualan senilai lebih dari seperlima APBN Indonesia di tahun 2016.

“Konsisten dengan komitmen yang kami buat bagi mitra-mitra Teluk pada KTT Camp David Mei lalu, kami telah melakukan segala upaya untuk memeperlancar penjualan,” kata juru bicara Departeman Luar Negeri Amerika Serikat David McKeeby kepada Defense News.

Sejak itu, Amerika Serikat telah mengekspor segala sesuatu terkait operasi militer ke negara-negara Teluk. Peralatan-peralatan mulai dari helikopter, rudal balistik, hingga peluru kendali dikirimkan ke Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang tergabung dalam Lembaga Kerjasama Teluk (GCC).

Penguatan sistem persenjataan yang dilakukan oleh negara-negara Teluk tak lepas dari berakhirnya embargo terhadap Iran, yang dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas kawasan. Namun, sebagian besar amunisi diarahkan untuk pertempuran di Irak dan Suriah.

Menurut McKeeby, pada tahun 2015 Amerika Serikat mengirimkan 4.500 amunisi peluru kendali untuk negara-negara Teluk. Sebanyak 1.500 diantaranya diambilkan dari persediaan milik militer Amerika sendiri.

Desember tahun lalu, Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Jenderal Mark Welshsaid mengeluarkan pernyataan terkait kurangnya rudal Hellfire dan amunisi lainnya. “Penyebaran amunisi lebih cepat dari kemampuan kita menyediakannya,” ujarnya.

Bahkan Sekretaris Angkatan Udara Deborah Lee James mengatakan secara terang-terangan soal bisnis amunisi itu. “Kita ada dalam bisnis pembunuhan teroris, dan bisnis ini bagus.”

Sumber: Worldbulletin

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget