Halloween Costume ideas 2015
02/03/16

Kelompok mujahidin Jaisyul Islam membantah laporan oleh kementerian pertahanan Rusia yang mengatakan bahwa jet tempur Rusia telah menghancurkan gudang penyimpanan minyak milik mereka di daerah-daerah yang mereka kuasai di pinggiran timur ibukota pada Selasa (2/2/2016).

Jaisyul Islam membantah laporan Rusia dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui surat elektronik pada Senin (1/2) malam, lansir Al Bawaba tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Jaisyul Islam dianggap sebagai faksi perlawanan yang paling kuat di daerah pinggiran timur Damaskus dan telah menjadi target pemboman Rusia sejak awal invasi militer Moskow beberapa bulan lalu.

Amir Jaisyul Islam, Syaikh Zahran Alloush rahimahullah, telah gugur dalam serangan udara pengecut oleh pasukan Rusia pada Desember lalu di mana Rusia menargetkan markas kelompok tersebut.

Jabhah Nusra telah mendiskusikan adanya kemungkinan penyatuan dengan sejumlah sekutu terdekatnya, sebagaimana yang disampaikan oleh sebuah situs resmi milik kelompok-kelompok jihad.

Berita itu pertama kali dilaporkan melalui Twitter yang digunakan oleh seseorang bernama Muzamjir asy-Syam. Tweet yang ia kirimkan tersebut menuai respon dari berbagai pihak, termasuk Abu Ammar Asy-Syami. Kalangan Mujahidin telah mengidentifikasi Abu Ammar sebagai seorang anggota senior Al-Qaidah di Suriah.

Abu Ammar menampilkan ringkasan pembicaraan dalam serial tweet yang dikirimkannya pada 27 Januari. Pada awal bulan ini, Ringkasan tersebut berisi diskusi Jabhah Nusrayang menyerukan kepada berbagai faksi yang telah membentuk Jaisyul Fath, sebuah koalisi militer yang berhasil menyapu bersih kawasan propinsi Idlib di barat laut Suriah pada tahun kemarin. Dalam ringkasan yang diajukan tersebut, Al-Qaidah di Negeri Syam itu menawarkan adanya "Penyatuan Penuh", yang bermakna bahwa kelompok-kelompok tersebut akan melebur menjadi satu dan menjalankan setiap operasinya dibawah kepemimpinan tunggal sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Ammar.

Abu Ammar menjelaskan bahwa ada dua orang ulama yang ikut menyimak uraian tersebut sebagai saksi dan untuk mengawasi jalannya pembicaraan tersebut. Setelah pembicaraan ini dilakukan, masing-masing pimpinan faksi militer dalam Jaisyul Fath menunjukkan sikap persekutuan mereka.

Pihak terakhir yang berbicara mengenai persoalan ini adalah Abu Muhammad Al-Jaulani, Pimpinan Umum Jabhah Nusra.

Jaulani menawarkan untuk didirikannya sebuah kelompok baru dan ia menawarkan kepada pihak-pihak lain untuk memimpin kelompok tersebut, demikian keterangan Abu Ammar.

Akan tetapi, penawaran dari syaikh Al-Jaulani tersebut memiliki beberapa persyaratan. Sebagai contoh, organisasi yang dibentuk nantinya harus menjamin tegaknya "Supremasi Penegakan Syariah Islam." dan menjaga keselamatan para pejuang asing (Muhajirin). Jika faksi-faksi yang mendapatkan penawaran ini bersepakat dengan persyaratan yang diajukan, maka Jabhah Nushrah akan menaati setiap keputusan majelis syura dari kelompok baru yang akan dibentuk ini. sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh Abu Ammar.

Syaikh Jaulani mengeluarkan proposal penyatuan faksi-faksi militer tersebut demi tercapainya persatuan dan kesatuan di kalangan Mujahidin dan kaum Muslimin, walaupun Jabhah Nushrah memberi tanggapan terhadap tindakan-tindakan sejumlah faksi yang mendapatkan pengajuan proposal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Ammar. Dalam perkembangannya hampir semua faksi yang mendapatkan penawaran ini telah menampakkan sikap kesetujuan mereka terhadap rencana yang ditawarkan oleh Syaikh Jaulani kecuali perwakilan Ahrar Syam yang memutuskan untuk menunda pembicaraan.

Delegasi oposis Suriah membatalkan pertemuan dengan de Misture. Pemboikotan itu dilakukan karena serangan intensif masih dilakukan pasukan rezim dengan didukung jet bomber Rusia di utara, barat wilayah Aleppo.

Oposisi Suriah sengaja membatalkan pertemuan dengan de Misturre yang dijadwalkan di Markas PBB di Jenewa karena kurangnya jawaban de Misture atas sejumlah pertanyaan yang disampaikan pihak oposisi kapada Pihak delegasi rezim melaluinya.

Farah atassi, anggota delegasi oposisi Suriah membenarkan bahwa pertemuan hari ini dengan de Misture dibatalkan. “kami megajukan sejumlah tuntutan, kami tidak ingin kembali berbicara dengan utusan PBB”.

Juru bicara PBB juga mengatakaan bahwa pertemuan delegasi oposisi dengan de Misture yang sedianya dijadwalkan pada Selasa sore dibatalkan.

Di sisi lain, Jubir Dewan Tinggi Oposisi Suriah Riyad Nassan Agha mengatakan bahwa Rezim Suriah, Rusia dan Iran telah melakukan serangan brutal, tanpa pandang buluh di sepanjang daratan Aleppo. Dengan cara yang belum pernah digunakan sepanjang catatan sejarah konflik yang telah memasuki tahun kelima.

Riyad Nassan juga menunjukan bahwa Rezim dan sekutunya justeru meningkatkan blokade ke kota yang lebih besar seperti Kota Aleppo. Dimana sekitar lima juta orang pernah tinggal disana. Namun kini penduduk kota yang tersisa, terisolir dengan cara menyedihkan dan belum pernah terjadi.

Riyad Nassan Agha juga menyeru kepada masyarakat internasional untuk sama-sama meneriakkan, “Hentikan pembunuhan rakyat Suriah”. Lalu mengecam tindakan Rezim guna menghentikan bombardir, pembunuhan terhadap anak-anak serta mengakhiri blokade dan kelaparan yang disebutnya sebagai penjara kota. Dia mengatakan bahwa serangan rezim ke Aleppo adalah bentuk penghinaan yang terhadap perjanjian internasional yang terlampir dalam resolusi DK PBB No.2254.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget