Halloween Costume ideas 2015
01/14/16

Selain menghadang gerak laju pasukan Syiah Nushairiyah yang dibantu oleh pesawat-pesawat udara Rusia, Mujahidin Suriah dari berbagai faksi yang bersama-sama berjuang demi tegaknya kalimat Laa Ilaaha Illallaah, serta berjihad demi membela harta, darah dan kehormatan kaum Muslimin, mulai mengarahkan segala kemampuan mereka untuk menghadang serbuan ISIS pimpinan Al Baghdadi.


Salah satunya adalah dengan mengembalikan wilayah-wilayah yang sebelumnya telah direbut paksa oleh pasukan ISIS tersebut ke pangkuan kaum Muslimin di Suriah, khususnya di Aleppo Utara.

Sebagaimana diketahui, Mujahidin Suriah telah berjuang mati-matian untuk membebaskan wilayah-wilayah di utara Suriah dari tangan rezim Syiah Assad. Akan tetapi, pasukan ISIS kemudian melakukan pengkhianatan dan menyerang Mujahidin dari belakang dengan mengambil paksa wilayah-wilayah yang telah dibebaskan oleh Mujahidin. Tak cukup dengan merampas wilayah, pasukan ISIS ini juga menghalalkan darah, mengeksekusi mujahidin dengan jenis eksekusi yang hanya pantas untuk orang murtad, menghalalkan istri-istri Mujahidin dengan alasan suami mereka telah murtad, menjarah harta dan terakhir memaksa manusia untuk berbaiat kepada Al-Baghdadi.

Ribuan nyawa Mujahidin Suriah yang suci telah melayang di tangan pasukan ISIS ini, demi membentangkan kekuasaan mereka dari Hasakah hingga Aleppo. Dan kehadiran pasukan ISIS ini telah memberi manfaat tersendiri bagi rezim Assad dan aliansinya, mereka pun segera "meminjam" tangan ISIS, menggunakannya sebagai sarana untuk menarik simpati luar negeri, memanggil negara sekutu dan menyamaratakan seluruh operasi untuk menumpas Mujahidin dengan mengatasnamakan "Operasi Menumpas ISIS". Hal ini telah menyebabkan Jihad Suriah kembali ke titik Nol! Rezim Assad semakin langgeng, perjuangan militer maupun diplomatik harus dimulai dari awal lagi, Rusia, Amerika dan seluruh dunia bersatu untuk menjadikan Suriah sebagai ladang pembantaian kaum Muslimin berkedok "Operasi Menumpas ISIS." Kenyataannya, lebih dari 80% wilayah mujahidin yang menjadi target, bukan wilayah ISIS.

Demikianlah, kehadiranISIS di bumi Syam benar-benar menjadi sesuatu yang sangat merugikan kaum Muslimin, maka dimulailah upaya untuk menghentikan kerusakan dan merawat jihad Suriah ini dengan gerakan nyata dari para Mujahidin untuk menumpas ISIS, dan dalam pertempuran yang berlangsung tanggal 12-13 Januari 2016 di Aleppo Utara kemarin, Mujahidin Suriah dari berbagai faksi telah membukukan kemenangan di sejumlah wilayah  pedesaan pinggiran Aleppo seperti Mazro'ah, Desa Khirbah dan Baghidin serta sejumlah wilayah lainnya.



Setelah membebaskan kawasan tersebut, Mujahidin kemudian melaksanakan hukuman Qishash/pembalasan setimpal dengan memenggal sejumlah prajurit Khawarij (ISIS).

Kecaman dunia terhadap blokade Madaya oleh Rezim Suriah dibantu milisi Syiah Hizbullah menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi pihak Hizbullah.


Dikutip dari Al-Arabiya, Kamis (14/01) Jawad bin Hasan Nasrullah, anak dari pemimpin Syiah Hizbullah baru-baru ini memposting status di akun twitternya, @Jwdnsrlh tentang rencana pembunuhan ayahnya sembari menyertakan video yang dibuat sebuah saluran TV Suriah yang juga mengungkapkan isu serupa.

Dalam video, seorang presenter berbicara berkenaan sejumlah kekhawatiran tentang aksi-aksi intelijen negara-negara besar untuk membunuh Hasan Nasrullah, tanpa menjelaskan bentuk operasi intelijen yang dilakukan.

Hal itu dinilai sebagai sebuah strategi politik untuk menutup-nutupi aksi blokade yang mereka lakukan terhadap penduduk Madaya. Tampak terjadi koordinasi antara Jawad dan stasiun TV Suriah terkait postingan tersebut.

Warga dari 13 kota dan desa-desa Suriah yang dikepung oleh rezim Asad dan sekutunya saat ini menghadapi bencana kelaparan, ungkap sumber-sumber lokal sebagaimana dilansir Anadolu Agency pada Rabu (13/1/2016).


Di antara kota-kota dan desa-desa yang menghadapi bencana kelaparan di Suriah itu ialah :

Jayrud, Rabayah

Jayrud dan Rabayah, keduanya terletak di Damaskus timur, menghadapi serangan yang sering diluncurkan oleh rezim Asad dan kelompok “Daulah Islamiyah”, atau Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS. Kedua kota itu terus berada di bawah blokade rezim sejak April 2013.

Abu Kamal, seorang komandan oposisi lokal, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa 85 persen kematian yang terjadi baru-baru ini di kota itu disebabkan oleh serangan yang dilakukan pasukan rezim Nushairiyah atau oleh “Daulah”.

Kota Al-Dumayr, terletak sekitar 40 kilometer di timur laut Damaskus, juga masih berada di bawah blokade yang dilakukan rezim.

Ghouta Timur, Al-Tall

Wilayah Ghouta Timur hingga timur Damaskus, sementara itu, telah berada di bawah pengepungan rezim Nushairiyah sejak Desember 2012. Pengepungan tersebut telah menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan dan hilangnya pasokan listrik dan air di wilayah itu.

Menurut sebuah komite koordinasi lokal di daerah Douma Ghouta Timur, sekitar 1.600 warga setempat baru-baru ini meninggal, dengan perkiraan 40 persen dari korban meninggal dalam serangan udara rezim dan sisanya meninggal akibat kekurangan gizi.

Rezim brutal Asad menyerang wilayah Ghouta Timur dengan gas sarin pada bulan Agustus tahun 2013, hingga menyebabkan terbunuhnya sekitar 1.300 penduduk setempat.

Kota Al-Tall, sementara itu, terletak di sebelah barat Ghouta Timur, juga masih berada di bawah pengepungan rezim sejak Juni 2015.

Kamp Yarmouk, Darayya, Muadamiyat Al-Sham, Kanaker

Kamp Yarmouk yang dihuni pengungsi Palestina telah diblokade oleh rezim sejak Desember 2012.

Banyak penduduk kamp, yang dikepung oleh “Daulah” dari selatan, baru-baru ini pindah ke provinsi Hatay Turki atau ke provinsi-provinsi Suriah seperti Hama, Idlib dan Aleppo.

Lebih dari 1.000 warga sipil telah terbunuh di kamp itu sejak konflik Suriah dimulai pada awal tahun 2011.

Darayya di pinggiran selatan Damaskus juga telah berada di bawah blokade rezim Nushairiyah sejak akhir 2012. Pada bulan Juli 2015, ketika pengepungan memasuki hari ke-1000, sekitar 2200 warga telah meninggal sebagai akibat dari pengepungan atau dari serangan yang dilakukan oleh rezim .

Sumber-sumber lokal mengatakan sekitar 1.000 bom barel – alat peledak improvisasi – telah dijatuhkan di wilayah tersebut oleh rezim Asad.

Di kota Muadamiyat Al-Sham di barat daya Damaskus, sementara itu, sekitar 40.000 warga sipil berada di bawah pengepungan total selama 15 hari terakhir.

Dengan tidak diizinkannya makanan memasuki kota, warga mengatakan jumlah kematian anak telah meroket karena tingginya angka kekurangan gizi.

Desa Kanaker, sementara itu, yang terletak sebelah barat daya Damaskus, telah terkepung sejak Maret 2015.

Al-Waer, Houla, Talbiseh, Al-Rastan

Al-Waer, sebuah distrik di pusat provinsi Homs Suriah, juga dilaporkan masih berada di bawah blokade rezim Asad.

Selama pengepungan Homs sejak 2011 hingga 2015, yang berakhir dengan diserahkannya daerah itu kepada rezim Asad, sekitar 150 orang meninggal karena kekurangan gizi dan kurangnya perawatan medis.

Menurut Pusat Koordinasi Homs, beberapa daerah Al-Waer masih dikepung.

Wilayah Houla, Talbiseh dan Al-Rastan di Homs utara, semuanya telah berada di bawah pengepungan selama tiga tahun terakhir.

Madaya

Duta Besar Spanyol untuk PBB Romawi Oyarzun Marchesi baru-baru ini mengutip Kepala urusan kemanusiaan PBB Stephen O’Brien mengatakan bahwa sekitar 400 orang di kota Madaya berada dalam situasi yang sangat kritis.

Minggu ini, sebuah konvoi bantuan kemanusiaan dilaporkan memasuki kota itu, membawa makanan dan obat-obatan untuk 42.000 warga Mdaya yang terancam mati kelaparan.

Bulan lalu, 23 orang, termasuk enam anak, meninggal karena kelaparan di kota itu, menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh panitia kesehatan lokal Madaya.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget