Halloween Costume ideas 2015
01/07/16

Aktivits mujahidin di medan jihad masih terus berlangsung di beberapa titik wilayah Suriah terhitung awal januari kemarin. Berikut ini adalah beberapa video yang kami dapatkan, bagaimana mujahidin melakukan serangan intensif terhadap posisi rezim Suriah dan berjaga di wilayah perbatasan.


Unit FSA ruang operasi di Lattakia targetkan posisi tentara rezim di Qassab Tower dengan peluncuran roket.


Aktivitas ribath koalisi mujahidin Aleppo di distrik Al-Breij


Sheikh Miskeen - Mujahidin dari Sayfu al-Syam yang ikut menjaga markas brigade 82, berhasil tembakan rudal SPG-9 ke arah bangunan tempat berjaganya pasukan Assad

Sepak terjang gerombolan khawarij ISIS yang telah dikenal sebagai penyelamat rezim Assad dan pembantai Mujahidin dilaporkan semakin menjadi-jadi.

Meskipun telah kehilangan 50% wilayahnya di Irak maupun di Suriah, namun kelompok pimpinan gembong khawarij asal Irak ini, terus saja menyerang daerah-daerah yang telah dibebaskan oleh Mujahidin dari rezim Assad.

Hal tersebut menyebabkan posisi Mujahidin menjadi terjepit. Pada satu sisi, Mujahidin harus bertempur melawan serbuan pasukan Assad dan Rusia, sementara dibelakang, Mujahidin harus menghadapi serbuan pengkhianatan pasukan ISIS.

Kombinasi serangan musuh dan pengkhianatan ini, telah menimpakan musibah besar dikalangan Mujahidin, mulai dari banyaknya darah suci para Mujahid yang tertumpah, hingga lepasnya sejumlah wilayah yang telah dibebaskan sebelumnya, baik itu jatuh ke tangan rezim Suriah, maupun dirampas oleh gerombolan Khawarij-ISIS..

Demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan dan menjaga tanah air kaum Muslimin yang telah dibebaskan dari kekuasaan orang-orang kafir, serta menyelamatkannya dari serbuan Khawarij, maka Mujahidin Ahrar Syam Al-Islamiyah melakukan Ribath untuk menjaga Qalamoun Timur dari serangan musuh, salah satunya dari serbuan pasukan ISIS.




Kabar duka kembali menghampiri gerakan garda terdepan melawan rezim Suriah, Ahrar Al-Syam. Orang tak dikenal, Selasa malam (05/01), membunuh Amir Ahrar Al-Syam wilayah Homs, Syaikh Muhammad Hasan Ratib Al-Sayid atau lebih dikenal Abu Ratib Al-Homsy. Musibah itu terjadi ketika beliau dalam perjalanan mengunjungi keluarga.



Gerakan Ahrar Al-Syam pusat segera mengeluarkan pernyataan belasungkawa atas gugurnya salah satu komandannya itu. Dalam pernyataan itu tidak dijelaskan lokasi terjadinya pembunuhan tersebut.

Harian online Suriah, Zaman Wasl, melansir dari keterangan aktivis, insiden itu terjadi ketika Syaikh Abu Ratib melintasi desa Al-Furhaniyah yang berdekatan dengan kota Talbisah di pedesaan Homs Utara. Beliau ditembak di kepala sehingga gugur seketika.

Insiden pembunuhan itu terjadi saat beliau bersama istri mengendarai mobil untuk mengunjungi kerabat. Sesampainya di desa Al-Furhaniyah, sebuah motor yang dinaiki dua orang membuntutinya.

Setelah motor tersebut berhasil berjalan sejajar dengan mobil Syaikh Abu Ratib, salah satu dari mereka melepaskan sejumlah tembakan. Salah satu tembakan tepat mengenai kepala sehingga beliau gugur di tempat.

Pembunuhan ini terjadi beberapa hari setelah beliau menyerukan persatuan faksi-faksi mujahidin Suriah, khususnya di Homs. Seperti diketahui, banyak faksi dengan berbagai corak yang bertempur di wilayah tersebut.

Syaikh Abu Ratib sebelumnya bertempur bersama Liwa Al-Haq di kota Homs. Setelah kota itu dikontrol rezim dan seluruh mujahidin menarik ke pinggiran, beliau mengumumkan bergabung dengan Ahrar Al-Syam bersama pengikutnya. Beliau dipilih menjadi Amir dan Dewan Syariah Ahrar Al-Syam wilayah Homs.

Sejumlah komandan Ahrar Al-Syam telah berulang kali mengalami pembunuhan. Mulai dari pembunuhan komandan senior, Abu Khalid As-Suri hingga pembunuhan pemimpin tertinggi Ahrar Al-Syam dan para pejabat penting.

Blokade mencekik yang diberlakukan militer Suriah terhadap warga sipil di Kota Madhaya, pedesaan Damaskus, menyebabkan krisis makanan pokok dan susu balita.  Musim salju yang bulan ini menghampiri Suriah semakin menambah penderitaan warga di kota yang dikepung lebih dari tujuh bulan itu.


Tidak cukup sampai di situ, peluru-peluru dan bom militer Suriah dan milisi Syiah Hizbullah Lebanon yang mengepung mereka selalu mengintai. Dilaporkan sudah empar ribu warga meninggal akibat blokade dan serangan rezim di kota di utara Damaskus itu. Warga Suriah pun kini menyebut kota tersebut “penjara kota”.

Dalam laporan yang diturunkan  Al-Jazeera pada Rabu (06/01), pengepungan membuat realita kehidupan di kota Madhaya dalam keadaan tragis. Risiko mengancam warga, mulai dari luka bahkan cacat permanen akibat ranjau darat yang dipasang militer. Mereka pun harus menggadaikan nyawa demi mendapatkan sesuap nasi dari luar kota Madhaya.

Ummu Muhammad, salah satu penduduk Madhaya menuturkan, saya dan delapan anak saya sudah menghadapi berbagai penderitaan yang tak terhitung di Madhaya. Kami hanya makan satu kali sehari. Kami hidup dari bantuan berupa tepung. Setelah gencatan senjata gagal, kami tidak memiliki apa-apa lagi.

“Di sini kami bagaikan tahanan di penjara besar. Kami tidak bisa keluar masuk kota. Setiap usaha untuk menyelinap keluar kota untuk mencari makanan, justeru yang didapatkan adalah kematian. Seperti yang terjadi terhadap banyak warga kota ini,” kisahnya sedih.

Kisah itu pun diamini oleh Mohammad Al-Dibus, tokoh masyarakat dan Dewan bantuan untuk sipil Madaya. Ia menyalahkan lembaga-lembaga kemanusiaan dunia yang tidak peduli nasib warga Madhaya.

“Kami di Madaya berada dalam kelaparan. (Hal ini disebabkan) lembaga, organisasi, serta pihak berwenang enggan membela hak asasi manusia,” ujarnya.

Di Madhaya, lanjutnya, kami hidup dengan harga pangan di atas rata-rata harga bahan pangan dunia. Di sini harga makanan bisa mencapai seratus dollar. “Satu kilo beras saja setara dengan delapan puluh dollar,” tegasnya.

Dia juga menjelaskan bahwa ratusan keluarga di Madhaya, rata-rata hanya makan dua kali sehari. Makanan terbaik ialah sisa-sisa makanan yang dimasak dengan garam.

Seorang aktivis juga mengungkapkan bahwa melalui jejaring sosial banyak orang yang merespon dan mendukung demontrasi masa di Madhaya. Mereka menyeru PBB dan seluruh lembaga HAM menanggapi  tuntuntan mereka berupa pembebasan dari pengepungan dan blokade makanan ke dalam kota.

Ketua tim medis Madaya, Dr. Mohammad Yusuf, mengatakan bahwa mereka adalah satu-satunya tim medis yang meroperasi untuk melayani empat puluh ribu orang di kota tersebut. Penderitaan sipil Madaya diperparah dengan kekurangan obat-obatan bagi para pasien.

Yusuf menambahkan bahwa lebih dari 850 balita menyusui terancam kekurangan gizi. Hal itu akibat kurangnya persediaan formula bayi di pasaran semenjak bulan lalu. Ia melihat, para orang tua bayi rela mempertaruhkan nyawa demi berusaha mendapatkan makanan di luar kota.

Dia melanjutkan, selama pengepungan sudah lebih dari dua puluh kasus ledakan yang menimpa sejumlah sipil yang mencoba keluar kota. Ditambah lagi, 5 orang meninggal dunia dan lebih seratus orang koma akibat malnutrisi dan kurangnya bahan pangan selama berhari-hari.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget