Halloween Costume ideas 2015
December 2016

Penduduk Latakia mengalami masa-masa yang berat pada tahun 2016. Mereka harus meninggalkan kampung halamannya karena masifnya serangan Rezim Assad dan milisi Syiah yang didukung pasukan udara Rusia. Akibatnya, Rezim dilaporkan menduduki 85% dari wilayah ini.



Meski demikian, para pejuang oposisi Suriah tidak tinggal diam. Mereka melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan kembali kontrol wilayah yang hilang. Ada yang gagal, ada juga yang membuahkan hasil.

Kegagalan dinilai karena terjadi perbedaan pandangan antar faksi yang berjuang. Sehingga, tidak ada ruang operasi bersama untuk saling berkoordinasi dalam serangan. Turki pun menarik dukungan dari faksi-faksi ini. Selain, banyak dari faksi yang konsentrasi dalam pertempuran Aleppo dan pedesaan di wilayah utara dan barat.

Pada pertengahan Januari 2016, semua penduduk Latakia meninggalkan pedesaan. Mereka menuju ke kamp pengungsian di sepanjang perbatasan Turki, wilayah pedesaan barat Idlib.

Pada bulan Januari, faksi perlawanan terpaksa menarik diri dari posisi mereka di gunung dan pedesaan Latakia setelah Rusia melakukan pemboman brutal dengan senjata yang bahkan dilarang secara internasional. Rusia menargetkan mereka dengan rudal thermobaric, Bomb Guided Unit 28, dan bom cluster. Pesawat Rezim juga membom mereka dengan Napalm dan bom barel dalam intensitas belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada tanggal 28 Januari, pasukan rezim dengan kekuatan milisi tambahan memperketat dominasi mereka di sebagian besar wilayah Jabal Akrad dan Jabal Turkman, setelah memasuki desa-desa di dekat distrik Kinsaba di Jabal Akrad dan kabupaten Rabia di Jabal Turkmen. Pasukan Rezim telah menguasai daerah ini sebelumnya, tapi serangan mereka dihentikan.

Pada tanggal 2 Februari, angkatan udara Rusia sedikit mengurangi intensitas pemboman atas apa yang tersisa dari pedesaan Latakia ini.

Pada tanggal 14 Februari, Rusia membuat pernyataan palsu bahwa pihaknya menarik pasukannya dari Suriah. Padahal jet tempur Rusia terus melakukan pemboman di pedesaan Latakia ini.

Menjelang akhir Februari, pejuang oposisi melakukan usaha perebutan kembali atas wilayah yang hilang. Pertempuran dengan slogan “Mendorong Kembali Tiran” ini berhasil mendapatkan kembali beberapa lokasi di Jabal Turkman.

Pada tanggal 27 Juli, faksi-faksi perlawanan melancarkan serangan besar terhadap pasukan Rezim sebagai bagian dari Operasi Yarmouk. Mereka pun berhasil mendapatkan kembali beberapa desa-desa dan kabupaten Kinsaba di Jabal Akrad.

Pada tanggal 10 Oktober, faksi-faksi perlawanan mencoba untuk mendapatkan kembali posisi mereka yang hilang selama hari Asyura, dengan pertempuran yang berlangsung hanya beberapa jam. Namun, mereka gagal untuk mencapai setiap kemajuan yang ada.

Beberapa hari setelah pertempuran ini, pasukan Rezim melancarkan serangan besar untuk mengambil kendali Jabal Tufahiya dan posisi lainnya di Jabal Turkman, tetapi faksi perlawanan dapat meredam serangan ini dan pasukan Rezim mengalami kerugian berat. Media Rezim mengumumkan bahwa lebih dari 100 tentaranya tewas.

Pada tanggal 8 Desember, pejuang oposisi menewaskan seorang perwira Iran berpangkat kolonel dalam bentrokan di sekitar desa Kabaneh di Jabal Akrad. Rezim mencoba selama puluhan kali untuk mengambil kendali Kabaneh, desa terakhir di Jabal Akrad. Tetapi tidak berhasil.

Terjadi gencatan senjata setelah itu. Namun, pasukan Rezim dan sekutunya masih melakukan serangan terhadap jalur pasukan yang terhubung ke Idlib. Faksi perlawanan menanggapinya dengan serangan rudal grad ke posisi-posisi Rezim.

Beberapa faksi perlawanan yang beroperasi di pedesaan Latakia juga dilaporkan berpartisipasi dalam pertempuran di pedesaan utara Hama dan Aleppo. Pada tanggal 15 Desember brigade Ansar Sham bergabung dengan Jaisyul Islam.

Sementara itu, selama 2016 pihak keamanan Turki menembak 15 orang ketika mereka berusaha menyeberang ke Turki secara ilegal. Di sisi lain, para pengungsi Latakia di kamp-kamp yang disediakan menjalani musim dingin ekstrem. Salju dan hujan terus turun, dimana kamp kekurangan fasilitas yang memadai.

Sejak 20 Desember ini, Latakia mengalami suhu rendah ekstrem dan hujan salju yang mencapai kedalaman 50 cm di dataran tinggi. Kondisi cuaca buruk diperkirakan akan terus terjadi hingga awal 2017.

Reporter: Ibas Fuadi
Sumber: Zaman el-Wasl


(21/12/2016) - Mujahidin berada di garis perbatasan dengan diselimuti cuaca salju

Jaish al-Islam mengumumkan, pada hari Jumat malam (30/12/2016), pejuangnya berhasil menggagalkan upaya pasukan Assad yang mencoba melakukan serangan di sekitar Ghouta timur, Pedesaan Damaskus.

maidaani ghouta timur
 
Menurut Media Kantor Jaish al-Islam, pertempuran sengit meletus di dua sumbu jalan raya Damaskus-Homs dan daerah Maid'ani, berlangsung selama beberapa jam, dimana pasukan Assad menggunakan senjata berat, rudal dan artileri, namun pejuang berhasil menghancurkan dua kendaraan tempur dan menewaskan beberapa pasukan.

Kantor Media menambahkan bahwa rezim Assad menargetkan front al-Karem di jalan raya internasional dengan lebih dari 100 peluru artileri dan mortir.

Rabu (28/12/2016) - Mujahidin dari Faylaq ar-Rahman berhasil tewaskan seorang sniper pasukan rezim di lingkungan Jobar, front pedesaan Damaskus. Mujahidin menggunakan rudal jenis SPG-9 sehingga bisa menghantam sasaran yang berada di balik bangunan. 



Sementara itu, di area yang sama mujahidin juga berhasil menembakan rudal ke arah kendaraan BMB yang sedang melintas di garis depan pertahanan pasukan rezim di lingkungan Jobar.




Kamis (29/12/2016) - Jaish al-Mujahidin berhasil hancurkan sebuah Truk milik pasukan rezim di front Menyan, Barat Aleppo. Kendaraan Truk ini biasa digunakan untuk membawa personil militer dan pasokan senjata.



Di area yang lain, Jaish al-Mujahidin menembakan roket menargetkan posisi pasukan rezim di Akademi Militer, Aleppo


Dalam Video dijelaskan serangan dilakukan untuk memberi dukungan bagi para pejuang dan warga sipil di Wadi Barada, pedesaan Damaskus yang saat ini tengah dikepung serangan udara Rezim Suriah.

Pejuang oposisi Suriah Jaish Al-Mujahidin pada hari Rabu (28/12/2016) melalui akun Twitter mereka mempublikasikan potongan video yang menargetkan  sekumpulan pasukan rezim teroris Assad dan milisi Syi'ah asing bayaran di wilayah Dhahiyat al-Assad di barat Aleppo dengan dua roket ATGM (Peluru Kendali Anti-Tank).




Tembakan pertama mengarah kepada sekumpulan pasukan pro-Assad yang tengah berjalan membelakangi kamera dan operator roket TOW. Roket yang ditembakkan secara tepat mengenai sasaran pasukan pro-rezim yang terlambat menyadari dan menghindari serangan.

Roket kedua ditembakan saat pasukan pro-Assad lainnya mengevakuasai rekan mereka yang tewas atau terluka dan memasukkannya ke sebuah mobil berwarna putih. Di saat mereka tengah melakukan evakuasi, roket kedua melayang mengarah kepada para tentara evakuator yang, meski menyadari datangnya roket dan sempat kabur ingin menghindar, tetap terhantam ledakan karena rudal tersebut sudah mengunci sasarannya.

Roket ATGM-TOW sendiri merupakan peluru kendali yang diperuntukkan untuk menghancurkan kendaraan lapis baja seperti tank dan APC. Namun demikian, di lapangan, rudal pandu penjejak panas ini juga kerap digunakan sebagai senjata anti-personal yang menargetkan kumpulan pasukan musuh.

Serangan udara yang diluncurkan oleh rezim Assad pada Kamis (29/12) pagi di wilayah perkotaan dan pedesaan di Ghouta Timur menambah jumlah warga sipil yang tewas di Suriah.



Sumber medis yang dikutip situs El-Dorar mengatakan bahwa korban berjumlah 14 orang, termasuk dua anak dan seorang wanita. Sedangkan jumlah korban luka menurut perkiraan awal mencapai 40 orang.

Sumber juga mengatakan bahwa serangan udara menargetkan sekolah-sekolah di Arbin. Sehingga para siswa dan guru dilarikan ke tempat yang lebih aman.

Pada Jum’at (25/12) pekan lalu, pesawat tempur Rezim telah menewaskan 28 warga sipil, termasuk 10 anak-anak di dekat Damaskus. Selain itu, setidaknya 60 orang lainnya juga terluka dalam penyerangan di Hammuriyeh dan Arbin, Ghouta Timur.

Tiga hari sebelumnya, setidaknya 35 orang dikabarkan tewas dan puluhan lainnya terluka akibat serangan jet Rusia pada sebuah pasar di Ghouta Timur.

Menteri Pertahanan Sipil Suriah mengklaim, serangan tersebut hanya menargetkan desa yang dikuasai pasukan oposisi. Namun, sejumlah wanita dan anak-anak juga dikabarkan tewas dalam operasi militer Rusia tersebut.

Perlu dicatat, serangan dan pengepungan di Ghauta Timur oleh Rezim Suriah telah memasuki tahun kelima. Korban sipil yang tewas di wilayah ini menjadi bagian 250.000 orang yang tewas dalam konflik di Suriah.

Fasilitas mata air Ain Fijeh di lembah Barada mengalami kehancuran setelah dua bom barel yang dijatuhkan dari helikopter rezim membombardir wilayah tersebut dengan tujuan untuk memaksa penduduk sekitar melarikan diri dari rumah-rumah mereka.



Helikopter telah menjatuhkan puluhan bom barel di wilayah tersebut yang berdampak pada desa Basimah dan kota Ain Al-Fijeh, menyebabkan kerusakan besar untuk mata air dan pompa dan menyebabkan tercampurnya minyak dan air. Penembakan juga menyebabkan pemadaman listrik yang mengganggu jalannya pemompa air yang akan mengalirkan air ke kota Damaskus. Pengeboman juga menyebabkan rumah sakit dan klinik tidak bisa berjalan, serta perusakan kantor pertahanan sipil, Masjid dan bangunan bagi pengungsi, lansir ElDorar AlShamia pada Rabu (28/12/2016).


Jalanan Banjir akibat hancurnya Bendungan Fijeh

Jaish al-Izzah lakukan penyebaran mujahidin di garis depan utara Hama dengan kekuatan cadangan. meskipun cuaca badai salju yang melanda wilayah tersebut dan menyebabkan suhu beku.


Petinggi Jaish al-Izzah, Manaf Almarata mengatakan , "Kami telah belajar menghadapi badai salju, selama beberapa hari mempersiapkan makanan, minuman dan bahan bakar."

Seorang komandan lapangan, Abu Abdul-Jabbar menambahkan "..di setiap pos Ribat ditempatkan 2 atau 3 orang, kemudian mereka berbagi peran untuk beristirahat, proses ini terus berlanjut sepanjang hari."

Operasi selama sepekan untuk mengevakuasi puluhan ribu warga sipil dari Aleppo ke kota barat laut Idlib selesai, tapi pengungsi menghadapi cuaca Salju, hujan dan suhu beku selain pasukan rezim Assad tentunya.



"Semua warga sipil yang ingin dievakuasi telah (dievakuasi)," kata Krista Armstrong, juru bicara Komite Internasional Palang Merah seperti dilansir Arab News hari Senin (26/12/2016).

Kelompok bantuan tersebut memimpin operasi yang kompleks dalam kondisi musim dingin bersalju bersama dengan Bulan Sabit Merah Suriah setelah rezim Bashar Assad mengambil kontrol penuh dari Aleppo pada hari Kamis.

Cuaca bersalju mendatangkan malapetaka. Dua anak tewas Jumat ketika hujan salju berat meruntuhkan beberapa tenda.

"Badai salju telah menyebabkan runtuhnya tenda-tenda kami dan menutup jalan di tengah kelangkaan air dan pangan," Qadir Darwish, seorang pengungsi Suriah, mengatakan kepada wartawan.

Sedikit salju diperkirakan di provinsi Idlib pekan ini, tapi suhu siang hari yang diperkirakan akan menurun sampai -14 derajat Celcius sedangkan suhu semalam akan serendah -16 derajat Celcius. Pengungsi diperkirakan akan menglami hujan hampir setiap hari, menurut AccuWeather.

Ribuan pengungsi yang melarikan diri Aleppo dengan hanya pakaian di badan mereka dan beberapa barang tiba di Idlib di tengah suhu beku.

Banyak yang sekarang tidur di bangunan tanpa pemanas atau tenda. Salju juga telah menghambat pengiriman roti dan bahan makanan ketika jalan menuju Idlib tertutup.

Darwish mengajukan permohonan ke badan bantuan Turki IHH dan kelompok bantuan lain untuk campur tangan untuk memberikan pengungsi di Idlib dengan lebih banyak tenda untuk melindungi mereka dari badai salju.

Sementara kekhawatiran paling mendesak para pengungsi adalah bagaimana menghadapi cuaca, mereka juga mengatakan daerah itu adalah "penjara terbuka," sangat membatasi gerakan mereka pada saat tentara pemerintah Suriah diharapkan untuk menargetkan Idlib berikutnya.

Setidaknya 25.000 orang, termasuk pejuang oposisi, telah meninggalkan Aleppo timur sejak Kamis di bawah kesepakatan evakuasi yang melihat kota tersebut berada di bawah kendali penuh rezim.

"Kami tidak ingin meninggalkan tanah kami, tapi mereka menggunakan setiap senjata yang tersedia untuk memaksa kami keluar," Abu Mohammed, seorang ayah dari empat dari Aleppo timur, mengatakan kepada seorang wartawan AFP.

"Sekarang mereka sudah menyiapkan sebuah penjara bagi kita untuk mengepung kami dan membombardir kita."

Kota Idlib telah dikuasai sejak Maret 2015 oleh koalisi mujahidin. Sejak itu, puluhan ribu orang dari seluruh negeri yang tidak sudi didzalimi oleh rezim Assad dan milisi Syi'ah sekutunya telah membanjiri provinsi tersebut.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperkirakan bahwa 700.000 orang pengungsi telah menemukan perlindungan di Idlib sejak perang Suriah meletus hampir enam tahun yang lalu.

SOHR menerima informasi bahwa tidak kurang dari 58 pasukan rezim dan milisi sekutunya tewas akibat 5 ledakan di wilayah Sukkari dan Ansari dalam 24 jam terakhir selama operasi pemindaian oleh pasukan rezim dan Hizbullah di Aleppo timur, 5 milisi Assad juga tewas akibat ledakan ranjau darat di wilayah yang sebelumnya dikuasai mujahidin.


bom ranjau aleppo timur

SOHR mendapat laporan bahwa 58 orang termasuk anggota komite al-Taafish yang berasal dari Aleppo, Homs, dan Pesisir Suriah, tewas selama operasi penjarahan di Aleppo timur ketika ranjau darat meledak, membunuh puluhan milisi dan melukai banyak lainnya, sementara sisanya tewas selama operasi penjarahan di sekolah dan rumah-rumah lainnya.

Rusia telah menggunakan wilayah Suriah sebagai ladang percobaan untuk menguji senjata baru mereka, menurut komentar oleh menteri pertahanan Rusia, Orient News melaporkan hari Kamis (22/12/2016).

Lebih dari 160 jenis senjata telah diuji selama intervensi militer Rusia di Suriah, Sergey Shoigu mengatakan Kamis, menurut kantor berita Rusia TASS.

"Sebanyak 162 jenis senjata modern dan upgrade diuji selama aksi pertempuran di Suriah," kata Shoigu dalam pertemuan yang dihadiri oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Diantaranya adalah sistem pesawat canggih Su-30SM, Su-34, dan helikopter Mi-28H dan Ka-52. Amunisi presisi tinggi dikonfirmasi karakteristik taktis mereka," tambah sang menteri.




Rusia telah membantu rezim Assad dengan perang terhadap warga sipil sejak September 2015. Negara Komunis itu biasa menggunakan senjata dan bom-bom terlarang untuk membombardir infrasturktur sipil di wilayah yang dikuasai oposisi, menimbulkan puluhan ribu korban jiwa di kalangan warga sejak itu.

Jet tempur Rusia meningkatkan serangan di beberapa kota di provinsi Idlib yang dikuasai oleh Mujahidin Suriah dan pinggiran Aleppo, dua hari setelah proses evakuasi di wilayah Aleppo yang terkepung telah rampung, ujar pejuang dan warga setempat pada Sabtu (24/12/2016).


Serangan udara di Kota Binish, Provinsi Idlib (24/12/2016)


Mereka mengatakan sedikitnya delapan serangan menargetkan Binish, Saraqeb dan Jisr Al-Shughur, kota utama di barat laut provinsi Idlib. Terdapat laporan mengenai korban dari kalangan sipil, lansir Zaman Alwasl.

Provinsi Idlib dalam beberapa bulan terakhir telah menjadi target serangan sengit jet Rusia. Itu terjadi bahkan saat mujahidin Suriah di Aleppo timur menghadapi eskalasi dalam serangan udara dan penembakan sampai pertahanan mereka runtuh dan terpaksa harus menyetujui kesepakatan evakuasi.

Warga dan Mujahidin mengatakan jet Rusia dan rezim Suriah Bashar Asad melancarkan serangan sengit di wilayah yang dikuasai oleh Mujahidin di bagian barat pinggiran Aleppo dan pedesaan selatan Aleppo untuk hari kedua sejak evakuasi selesai dilaksanakan.

Mereka menyerbu kota Khan Al-Asal, sekitar 14 km dari barat Aleppo dengan bom cluster sementara beberapa serangan memukul Hreitan dan Andan, menurut seorang mujahidin dari Jaisyul Mujahidin. Kota terdekat, Atareb juga terkena serangan.

Meskipun pasukan rezim mampu mengambil kontrol penuh atas kota Aleppo, namun sebagian besar wilayah barat dan selatan provinsi Aleppo tetap berada di tangan mujahidin Suriah.

Kementerian Pertahanan Rusia, Jumat (23/12), mengumumkan satu batalion polisi militer Rusia tiba Aleppo. Ratusan pasukan itu dikatakan untuk membantu keamanan, menjaga keselamatan konvoi kemanusiaan dan rumah sakit darurat di wilayah rezim Assad.


Seperti diketahui, setelah warga dievakuasi dari Aleppo Timur melalui kesepakatan barter, daerah yang hancur itu segera dimasuki oleh militer rezim dan milisi Syiah. Bahkan, sejumlah informasi menyebutkan bahwa milisi Iran mendatangkan warga Syiah untuk mengisi daerah yang ditinggal penghuninya itu.

Disebutkan Departemen Pertahanan Rusia, kedatangan ratusan serdadu Rusia ini paling utama untuk membantu menjaga keamanan di wilayah yang baru diduduki. Salah satu tugas mereka, menyisir bom-bom aktif.

Tentara-tentara itu tiba di Aleppo dengan pesawat pengangkut militer. Sebelumnya dikirim mereka mendapat pelatihan khusus.

Sumber Rusia menyebut, batalion itu terdiri dari 300 sampai 400 pasukan. Mereka dari unit keamanan militer di bawah payung pasukan bersenjata Rusia.

Sehari sebelumnya, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Ciogo mengungkapkan bahwa pasukan polisi militer mulai tiba di Aleppo pada Kamis malam. Pasukan ini akan mengatur wilayah yang sudah direbut.

Direbutnya kembali kontrol penuh Aleppo oleh rezim Suriah pada hari Kamis (22/12/2016) adalah "kerugian besar" untuk revolusi lima tahun terhadap rezim Suriah Bashar Assad, kata seorang pejabat pejuang oposisi.

Militer rezim mengatakan pada hari Kamis bahwa Aleppo telah sepenuhnya direbut kembali setelah konvoi terakhir pejuang oposisi dan warga sipil meninggalkan bekas benteng pemberontak di timur kota.

"Pada tingkat politik, ini adalah kerugian besar," kata Yasser al-Youssef dari kelompok pejuang oposisi Nuruddin al-Zinki.

"Untuk revolusi, itu adalah masa kemunduran dan titik balik yang sulit.

"Revolusi saat ini sedang menghadapi kemunduran militer," kata Youssef kepada AFP.

"Intervensi dari Rusia dan Iran, direstui di kancah internasional dengan kebisuan Arab dan Muslim, kerugian besar bagi kami," katanya mengacu pada dua sekutu paling kuat dari rezim Assad.

Sementara itu, Ahmed Qorra Ali, seorang pejabat kelompok pejuang oposisi Ahrar al-Sham, mengatakan: "Aleppo sekarang berada di bawah pendudukan Rusia dan Iran."

(22/12/2016) - Situasi terbaru Aleppo dibawah kontrol rezim Suriah

Pejuang oposisi Suriah di kota terkepung Aleppo mengenakan sabuk peledak dan siap untuk melawan jika pasukan pro-Assad berupaya untuk menghentikan mereka meninggalkan Aleppo timur, menurut wartawan terakhir di bekas benteng oposisi tersebut.

Rekaman video yang diposting pada hari Selasa (20/12/2016) oleh Bilal Abdul Kareem, seorang wartawan muslim AS yang telah terjebak di Aleppo timur selama berminggu-minggu, bersama dengan seorang mujahidin bertopeng memakai rompi peledak di bawah jaketnya dan membawa senjata Kalashnikov.


Kareem mengatakan bahwa para mujahidin mempersiapkan diri untuk meninggalkan Aleppo, menyusul evakuasi sudah sekitar 25.000 orang dari Aleppo timur yang sebelumnya dikuasai mujahidin.

"Ini adalah sebuah sabuk peledak. Ini adalah apa yang banyak para mujahidin kenakan karena mereka tidak dapat mempercayai rezim untuk menjaga kata-katanya bahwa mereka akan memiliki perjalanan yang aman untuk pergi," kata Kareem.

"Jika mereka dihentikan mereka siap untuk bertempur."

Kareem mengatakan kepada MEE ada perwakilan dari sekitar 22 faksi jihad yang masih terjebak di Aleppo timur. Dia mengatakan ada antrian mobil berkilo-kilometer panjangnya yang memuat mujahidin dan keluarga mereka.
Sebagian besar warga sipil sekarang telah pergi, meskipun beberapa warga terluka dan dokter dan perawat tetap tertinggal di belakang.

"Mereka merasa, mereka seharusnya, sesuai perjanjian dengan pihak lain, telah pergi pagi ini," kata Kareem.

....
....

Pasukan rezim Suriah menyebarkan pesan ke Aleppo Timur, Selasa (20/12/2016), memperingatkan bahwa mereka siap untuk memasuki daerah itu siang hari dan mendesak mujahidin untuk mempercepat evakuasi mereka.

Evakuasi telah dimulai, berhenti dan mulai lagi beberapa kali selama beberapa hari terakhir karena ketidak saling percayaan, dan di tengah kekhawatiran di pihak oposisi bahwa tentara Suriah dan milisi Syi'ah asing bayaran yang menjadi sekutunya tidak akan membiarkan para pejuang pergi.

Syaikh DR Abdullah Al-Muhaisini mengatakan bahwa insiden pembunuhan Duta Besar Rusia untuk Turki Andrey Karlov (62) menunjukkan Rusia menjadi musuh umat Islam karena membantai warga Suriah. Hal itu terbukti bahwa pembunuh bukan dari kelompok yang terlibat pertempuran di negari Syam itu.

“Dia (Andrey Karlov) tidak dibunuh oleh ISIS, Al-Qaidah, oposisi ataupun warga Suriah. Akan tetapi, dia dibunuh oleh warga Muslim!” tegasnya melalui akun resmi Twitter, Selasa (20/12).

Dengan insiden ini, kata syaikh yang saat ini aktif berjihad di Suriah tersebut, menandaskan bahwa Rusia telah menempatkan diri sebagai musuh jutaan umat Islam.



Al-Muhaisini juga menambahkan, Rusia datang ke Suriah untuk mencari keuntungan dengan mengalirkan darah ribuan warga setempat. Sangat pantas kepentingan Rusia di berbagai tempat diserang.

“Kemuliaan bagi yang menolong warga Aleppo. Mereka membalaskan serangan tanpa diketahui,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa yang dilakukan pembunuh dubes Rusia merupakan wujud dari perasaan jutaan umat Islam atas tindakan Rusia di Aleppo. Rusia akan mengalami kerugian lebih banyak daripada keuntungan yang didapat.

Seperti diketahui, seorang anggota muda polisi Ankara bernama Mevlut Mert Altintas, Senin lalu, menembak mati Dubes Rusia Andrey Karlov di sebuah pembukaan pameran kesenian. Saat itu, Karlov memberi sambutan yang disaksikan awak media.

------------//----------------

Lihat juga : Video Polisi Turki Tembak Mati Dubes Rusia

(20/12/2016) - Sejumlah faksi mujahidin membombardir posisi pasukan rezim Suriah dengan artileri dan peluncur roket di pinggiran kota Soran, utara provinsi Hama. Mujahidin juga membombardir posisi rezim Suriah di pangkalan udara Hama dengan artileri berat dan rudal.


Tembakan mortar dan artileri yang dilakukan mujahidin Jaish an-Nashr menargetkan posisi pasukan rezim di kota Soran



Secara terpisah, pesawat tempur rezim Suriah melakukan serangan udara menargetkan lingkungan perumahan di desa Andarin, wilayah kontrol mujahidin di timur provinsi Hama sehingga menyebabkan kerusakan bangunan milik warga sipil. Sementara Pasukan rezim Suriah yang terletak di bukit Zain Al-Abidin membombardir kota Taybat Al-Emam dan wilayah pinggiran dengan peluncur roket.

Pertempuran pecah antara mujahidin dengan pasukan rezim Suriah di sekitar kota Maida'ani di Ghouta Timur. Pertempuran terjadi akibat upaya rezim melakukan serangan ofensive untuk merebut kontrol atas kota tersebut.

Penembakan dengan rudal oleh pasukan rezim Suriah dilakukan secara intens di lingkungan pemukiman, dengan tujuan meningkatkan tekanan militer atas mujahidin yang terletak di kota dan pinggiran.

Secara terpisah, pesawat tempur rezim Suriah melakukan serangan udara atas kota Shayfonia dan Douma sehingga menyebabkan kerusakan bangunan milik warga.

Selain itu, pasukan rezim Suriah membombardir wilayah Marj dengan artileri berat, pada saat yang sama helikopter terbang di daerah itu tanpa melakukan serangan udara apapun.

(20/12/2016) - Perlawanan mujahidin dari faksi Faylaq al-Rahman menghadapi milisi rezim Suriah di front Maida'ani, Ghouta Timur

Saat bus mendekati pos pemeriksaan tentara rezim Suriah pada hari Senin, puluhan pengungsi dari Aleppo terdiam, dicengkeram kekhawatiran pada konvoi pertama perjalanan berbahaya mereka ke pengasingan.

Koresponden AFP dan warga kota menjelaskan ketegangan sepanjang 12 kilometer (7 mil) perjalanan dari Aleppo timur yang hancur ke wilayah yang dikuasai rezim, dan menuju ke wilayah yang dikuasai oposisi di Al Rasyidin, barat kota Aleppo.

Setelah bertahun-tahun berjuang dan lima bulan pengepungan, cobaan terakhir mereka adalah melintasi tiga pos pemeriksaan, masing-masing lebih berbahaya daripada yang sebelumnya.

Yang pertama adalah pos tentara rezim Assad, diikuti oleh persimpangan yang dijaga oleh petugas Rusia dan pos ketiga oleh milisi Iran dan Irak.

“Dari semua pos, pos pemeriksaan Iran dan Irak adalah yang paling berbahaya,” kata salah satu penumpang setengah baya, yang telah berada di sebuah konvoi yang berbalik beberapa hari yang lalu di persimpangan terakhir.

“Allah melindungi kami dari milisi Irak sehingga mereka tidak menarik kita turun dari bus dan menyerang kami seperti yang mereka lakukan terakhir kali,” katanya kepada sesama pengungsi.

Ribuan orang – kebanyakan perempuan dan anak-anak – berdesakan di bus dengan barang-barang apa pun yang bisa mereka bawa, banyak yang menangis dan menggigil kedinginan.

Wajah tirus dan pakaian compang-camping tertutup jelaga, setelah banyak menghabiskan malam meringkuk di api unggun untuk tetap hangat saat mereka menunggu bus.

Pengungsi menempelkan pipi mereka ke jendela yang dingin untuk melihat wilayah yang tidak pernah mereka lihat sejak 2012, ketika Aleppo dibagi antara kontrol rezim di barat dan oposisi di timur.

– ‘Saya akan kembali’ –

“Insya Allah, saya akan kembali ke Aleppo,” satu orang tua menangis saat melintasi lingkungan kampung halamannya yang hancur.

Lainnya mengambil gambar dengan ponsel mereka, bergumam “Kami mungkin tidak pernah melihat kota kami lagi dalam sisa hidup kami.”

Ketika mereka berhenti di pos pemeriksaan pertama yang diawaki oleh sepasang tentara rezim Suriah, dengung obrolan di bus tiba-tiba berhenti, kata seorang koresponden AFP.

Pengungsi mencoba untuk melihat pejuang dari sudut mata mereka, dan saat dia keluar warga mendesah lega karena tentara Assad melambaikan tangan agar bus berlalu.

Berikutnya datang pos pemeriksaan dengan sekelompok tentara pirang dari sekutu rezim, Rusia, mereka memakai jaket antipeluru dan memegang detektor bom.

Mereka menghentikan bus selama 30 menit yang menegangkan, menarik keluar koper dan tas ransel untuk diperiksa secara menyeluruh.

“Apakah ada yang ingin turun dan pergi ke Hamdaniyah?” penerjemah mereka berseru dalam bahasa Arab kepada penumpang, menawarkan daerah yang dikendalikan rezim di provinsi Aleppo.

Tidak ada yang bersedia, dan bus meluncur seterusnya ke pos pemeriksaan terakhir yang dijaga milisi Iran dan Irak.

Penumpang menunggu dengan napas tertahan, mengintip dari jendela kendaraan terlihat milisi memakai patch dari Harakat al-Nujaba, gerakan Syiah Irak.

Para milisi Syiah mengeluarkan ponsel mereka dan memfoto bus, lalu tertawa, sebelum melambai agar bus berlalu.

– Terjaga Sepanjang Malam –

Beberapa ribu pengungsi lainnya, termasuk Ahmad Raslan, tidak begitu beruntung.

“Kami meninggalkan (Aleppo timur) dengan bus sekitar pukul 3 sore pada hari Minggu dan kami terjebak sampai siang hari. Kami diperlakukan sangat mengerikan-. Mereka bahkan tidak memberi kami secangkir air,” katanya kepada AFP.

Puluhan bus termasuk bus nya ditahan selama kurang lebih 20 jam di pos pemeriksaan ketiga, dan mereka dilarang turun bahkan untuk pergi ke toilet.

“Anak-anak muntah dan bau bus itu mengerikan,” kata Raslan 23 tahun.

Koresponden AFP di konvoi yang sama menjelaskan penumpang menggunakan kantong plastik untuk buang air dan melemparkannya keluar dari jendela.

Penumpang tetap terjaga sepanjang malam, karena milisi Syiah memerintahkan sopir bus untuk menghidupkan lampu di atas kepala di dalam bus.

Para perempuan membaca Al Quran dalam upaya untuk menemukan pelipur lara, sedangkan para laki-laki berusaha untuk menjaga anak-anak tenang dengan membuat permainan siapa anak yang paling lama bisa diam.

Pada Senin pagi, kelelahan dan trauma, para pengungsi akhirnya diizinkan menuju wilayah yang dikuasai oposisi di barat Aleppo.

Ketika mereka sampai di pos pemeriksaan oposisi pertama, penumpang saling berpelukan dan menangis lega.

Anak-anak mulai ceria, menggigit pisang dan menghirup botol air yang didistribusikan oleh pekerja bantuan kemanusiaan.

Orang dewasa masih bersikap waspada, belum percaya bahwa saat ini mereka telah berada di wilayah oposisi, seakan masih merasa bahwa mereka akhirnya bisa keluar dari wilayah yang dikuasai tentara rezim Suriah.

- AFP News -


(19/12/2016) - Situasi di lingkungan Rashidin, Aleppo Barat ketika proses evakuasi warga dari Aleppo Timur sebanyak 100 Bus telah sampai 

Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov (62) tewas ditembak di ibu kota Turki, Ankara, Senin (19/12) malam waktu setempat. Karlov ditembak saat memberi sambutan di sebuah pameran fotografi di Ankara.




Penembaknya diidentifikasi sebagai seorang anggota kepolisian Turki bernama Mevlut Mert Altintas, 22 tahun. Aljazeera mengutip Wali Kota Ankara bahwa Altintas adalah polisi yang bertugas di ibu kota Turki itu.

Altintas berpakaian rapi, mengenakan jas dan berdasi, memiliki kartu pengenal sebagai anggota pengawal Duta Besar Rusia. Saat penyerangan itu, Altintas tengah libur alias sedang tidak bertugas.

Setelah menembak, Altintas membiarkan para tamu keluar dari ruang pameran. Menurut saksi, Altintas tersebut meneriakkan, “Jangan lupa Aleppo! Jangan lupa Suriah!” tepat setelah Duta Besar Karlov roboh meregang nyawa.

“Siapa pun yang mengambil bagian dalam kekejaman ini akan membayar harga, satu persatu … Hanya kematian yang akan membawa saya dari sini,” tegas Altintas sambil memegang pistolnya.

Ia kemudian melanjutkan pernyataannya dalam bahasa Arab, “Kami adalah keturunan dari mereka yang mendukung Nabi Muhammad, untuk berjihad!”

Mevlut sendiri dikabarkan ditembak mati dalam kepungan pasukan khusus Turki. Ia tergeletak di lantai dengan luka-luka berdarah, di tembok sekitar 50 cm dari tubuhnya nampak belasan lubang peluru. Pistolnya tergeletak di dekat tangannya dalam kondisi rusak dan buyar.

Diego Cupolo, seorang jurnalis foto di Ankara, mengatakan kepada Aljazeera bahwa ada sekitar seratus tentara dan polisi bersenjata bertugas di lokasi kejadian lengkap dengan kendaraan tempur lapis baja.

Faksi mujahidin Suriah berhasil membunuh sedikitnya 15 tentara rezim Suriah Bashar Assad di pedesaan Hama dalam dua ledakan selama 24 jam.

Sumber militer mengumumkan pembunuhan sepuluh tentara termasuk seorang perwira pada Ahad (18/12/2016) di pos pemeriksaan Al-Dahra di sebelah barat kota Ma’an di pedesaan timur Hama. Dalam pernyataannya, serangan tersebut juga menghancurkan satu tank dan senapan mesin, lansir ElDorar AlShamia pada Senin (19/12).

Serangan kedua terjadi di Soran, pedesaan utara Hama di mana lima tentara rezim Asad lainnya tewas.


Pernyataan resmi Jabhah Fath al-Sham, mujahidin berhasil membunuh 5 pasukan Assad dalam operasi penyusupan ke area musuh

Pasukan rezim Asad kembali menguasai Soran dan daerah lain di pedesaan utara Hama setelah sebelumnya dikuasai oleh mujahidin selama 50 hari.

Santer beredar kabar faksi-faksi kunci pejuang Suriah di wilayah utara mencapai kesepakatan melebur menjadi satu kekuatan di bawah satu komandan.

Menurut sumber menolak disebutkan namanya, seperti dilansir Arabi21.com, Ahad (18/12), Al-Hayah Al-Islamiyah As-Suriyah disepakti sebagai nama kekuatan bersatu oposisi Suriah itu. Adapun faksi-faksi besar yang melebur, Ahrar Al-Syam, Jabhah Fath Al-Syam, Nurudin Zanky, Jabhah Syamiyah, Jaisyul Islam, Tajammuk Fastaqim, Jabhah Ansharudin, Faylaq Al-Syam dan lainnya.

Berdasarkan informasi yang hampir bisa dipastikan, pemimpin Ahrar Al-Syam saat ini insinyur Abu Ammar memimpin persatuan pejuang Suriah itu.

Sumber itu menambahkan, Abu Muhammad Al-Jaulani yang merupakan pemimpin Jabhah Fath Al-Syam ditunjuk sebagai panglima militer, sementara ketua dewan syura diamanahkan kepada Taufiq Syihabudin, pemimpin Nurudzin Zanky.

Pada gilirannya, Qadhi aliansi Jaisyul Fath, Syaikh AbdurRazzaq al-Mahdi, mengungkapkan bahwa pengumuman resmi persatuan pejuang Suriah itu akan dilakukan dalam waktu dekat.

Sementara itu, juru bicara Fath Al-Syam Hisam Syafi’i menunjukkan bahwa peleburan faksi-faksi menjadi satu kekuatan itu sudah sangat dekat. Dalam pernyatannya dalam channel Telegram, Syafi’i mengatakan bahwa para komandan telah mencurahkan segala upaya untuk bersatu.

Ke depan, ungkap Syafi’i, faksi-faski mujahidin berada dalam satu barisan baik dalam politik, militer dan pandangan Syar’i.

Kabar ini beredar setelah terjadi demonstrasi di berbagai wilayah oposisi mendesak para pejuang untuk melebur dalam satu kekuatan. Warga sepakat bahwa kekalahan yang dialami di Aleppo akibat pejuang tidak dalam satu barisan.

Berikut ini dokumentasi (17/12/2016) aksi Hizbut Tahrir Suriah bersama warga menuntut faksi-faksi jihad bersatu dalam satu komando ..


...


...




Evakuasi di Aleppo timur telah dilanjutkan pada Senin pagi (19/12/2016) dengan 500 orang tiba di daerah barat, menurut sumber-sumber lokal, sebagaimana dilansir AA.



Rezim Suriah dan pasukan oposisi telah menetapkan kesepakatan yang ditengahi oleh Turki dan Rusia awal bulan ini.

Akan ada evakuasi di kota Madaya dan al-Zabadani, serta di kota-kota Syiah al-Fuah dan Kefraya, yang memiliki populasi gabungan 15.000.

Pada Ahad, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas evakuasi warga sipil di Aleppo, Suriah, melalui telepon.

Awal pekan ini, pasukan oposisi Suriah di Aleppo timur mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan pasukan Presiden Bashar Asad untuk mengevakuasi warga sipil dari kota tersebut.

Sejak itu, setidaknya 7.500 warga sipil telah meninggalkan Aleppo menuju Idlib, yang terletak di perbatasan Suriah-Turki, menurut pejabat kelompok oposisi Suriah.

Setidaknya lima bus yang dikirim menuju kota Al-Fu’ah dan Kufreya di wilayah Idlib, Ahad (18/12), dibakar oleh orang tak dikenal. Bus-bus itu akan mengevakuasi ratusan orang di dua desa Syiah tersebut menuju wilayah kontrol rezim Assad.

Seperti diketahui, rezim Assad dan pendukungnya milisi Iran meminta barter dalam proses evakuasi warga dari Aleppo Timur. Teman-teman mereka di dua kota yang terkepung tersebut diminta dibukakan jalan untuk dievakuasi.

Faksi-faksi di Aleppo, dalam pernyataan bersama, menegaskan bahwa pembakaran bus-bus tersebut merupakan tindakan tidak bertanggung jawab. Mereka mengungkapkan bahwa hal itu mencederai revolusi Suriah dan mengabaikan keselamatan warga Aleppo Timur yang masih terkepung.


pernyataan fsa terkait pembakaran bis

Pernyataan itu memperingatkan bahwa upaya mengagalkan proses evakuasi terakhir oleh kedua pihak (oposisi dan rezim) akan mengancam keselamatan 50 ribu sipil yang masih terperangkap di Aleppo Timur.

Qadhi aliansi Jaisyul Fath, Syaikh Abdullah Al-Muhaisini juga mengungkapkan hal senada. Menurutnya, pembakaran bus-bus evakuasi pengikut rezim di Idlib hanya mengakibatkan bahaya bagi warga Aleppo.

Sampai saat berita ini dibuat, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas sabotase kesepakatan tersebut. Sementara itu, Rezim Bashar Assad lebih dulu menuduh pejuang melakukan pembakaran itu.

Di sisi lain, komandan pejuang sekaligus pendiri Ahrar Al-Syam, Khalid Abu Anas, menegaskan bahwa sel-sel ISIS dan agen rezim Assad di balik pembakaran bus-bus tersebut. Dalam pandangannya, hal tersebut dilakukan untuk mencederai puluhan warga yang masih di Aleppo Timur.

Sementara itu, sebagian di lapangan mengatakan bahwa pelaku pembakaran merupakan perorangan dari kalangan warga sipil. Ini bagian dari kemarahan mereka yang sudah memuncak atas pembantaian rezim Assad dan pendukungnya di Aleppo Timur.

Dalam kesepakatan yang ditandangani oposisi dan rezim, sebanyak 1200 pengikut Syiah di kota Al-Fu’ah dan Kufreya dibolehkan dievakuasi dengan imbalan separuh warga yang terkepung di Aleppo Timur, dalam sesi pertama.

Sesi kedua, rezim meminta barter separuh dari warga Aleppo Timur yang tersisa dengan 1200 pengikut Syiah. Sementara sesi terakhir, rezim meminta ratusan pengikut mereka dengan ratusan warga Aleppo sisanya.

Bus-bus telah dikirimkan ke wilayah terakhir yang dikuasai oleh pejuang Suriah di bagian timur kota Aleppo pada Ahad (18/12/2016) untuk melanjutkan evakuasi warga sipil Suriah dan para pejuang yang masih berada di sana.

Operasi dihentikan pada Jum’at (16/12) hingga meninggalkan sekitar 50.000 orang terjebak di dalam wilayah yang terkepung.

Sabtu (17/12/2016) - Evakuasai Warga dari Aleppo timur sempat terhenti, warga berharap cemas menunggu kesepakatan terbaru dengan pihak rezim Suriah


Bus memasuki beberapa lingkungan pada Ahad (18/12) di bawah pengawasan Bulan Sabit Merah dan Komite Palang Merah Internasional untuk membawa para pejuang dan keluarga mereka keluar dari kota, lansir The New Arab.

Evakuasi tersebut berlangsung setelah tercapai kesepakatan antara rezim dan pasukan oposisi untuk mengevakuasi warga dari lingkungan timur Aleppo dengan imbalan evakuasi orang-orang dari dua desa Syiah Al-Fu’a dan Kefraya di provinsi Idlib.

Kendala utama untuk memulai kembali proses evakuasi adalah perselisihan atas jumlah orang yang akan dievakuasi secara paralel dari dua desa Syiah.

Seorang wakil pejuang Suriah mengatakan kepada AFP bahwa kesepakatan baru telah dicapai di mana evakuasi akan berlangsung dalam dua tahap.

“Dalam tahap pertama, setengah dari orang-orang yang terkepung di Aleppo akan pergi, secara paralel dilakukan evakuasi 1.250 orang dari Al-Fu’a,” ujar perwakilan oposisi yang tidak ingin disebutkan namanya.

“Pada tahap kedua, 1.250 orang dari Kefraya akan pergi dari desa dan secara paralel dilakuan evakuasi orang-orang yang tersisa di Aleppo,” lanjutnya.

1.500 orang lainnya akan meninggalkan Al-Fu’a dan Kefraya bersama dengan jumlah yang sama dari Zabadani dan Madaya, dua kota yang dikuasai oleh pejuang Suriah yang dikepung oleh pasukan rezim Nushairiyah di pinggiran Damaskus.

Menurut laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), kelompok pemantau yang berbasis di Inggris, 15.000 orang berkumpul di sebuah lapangan di Aleppo timur pada Ahad untuk menunggu bus tiba dan membawa mereka ke daerah-daerah yang dikuasai oleh pejuang Suriah di luar kota.

Banyak yang menghabiskan malam tidur di jalan-jalan dalam suhu yang sangat ekstrim.

“Kondisi di Aleppo timur tetap sangat mengerikan,” ujar reporter Al Jazeera.

“Di malam hari bisa mencapai minus 5 derajat celcius. Mereka hanya memiliki sedikit makanan, bahan bakar, air dan obat-obatan. Situasi di lapangan tetap suram saat orang-orang menunggu.”

Berbicara kepada Al Jazeera melalui Skype, seorang warga sipil yang terjebak di Aleppo timur, Ismail Abdullah, mengatakan: “Evakuasi belum dimulai. Tidak ada satu pun orang yang meninggalkan kota hari ini.”

“Dua orang yang terluka telah meninggal saat menunggu Bulan Sabit Merah untuk dievakuasi, sementara saat menunggu untuk dirawat, kami mengatakan kepada mereka berkali-kali, ‘Anda akan dievakuasi, menunggu ambulans’, tapi itu tidak terjadi dan mereka meninggal.”

Abdullah yang telah mengunjungi titik evakuasi pada Ahad, mengatakan: “Kami melihat sejumlah orang, kami pikir tidak akan mampu untuk mengevakuasi orang dengan jumlah seperti itu, jadi kami kembali berbalik.”

Tidak ada yang tahu kapan atau bagaimana evakuasi akan dilanjutkan, katanya.

“Kami dikepung, kami hanya bertahan hidup saat ini.”

Selain di Aleppo, ada banyak daerah yang masih dalam pengepungan Rezim Suriah, termasuk wilayah Al-Waer di provinsi Homs.




Penderitaan warga semakin diperparah dengan masuknya musim dingin, kekurangan sumber makanan dan alat pemanasan.

Seorang warga yang disebut dengan panggilan Abu Karim menambahkan'" tidak ada susu untuk anak-anak dan sekarang sudah memasuki musim dingin, tidak ada diesel dan kayu bakar untuk pemanasan dan semuanya tidak ada disini".


Sejumlah faksi pejuang Suriah di kota Termanin, utara provinsi Idlib mengumumkan penggabungan diri untuk menyatukan kekuatan pada Sabtu (17/12/2016).


Dalam sebuah pernyataan singkat yang dilihat oleh The New Arab, kelompok pejuang Suriah mengatakan: “Kami faksi-faksi militer di kota Termanin mengumumkan penyatuan kami di bawah formasi militer tunggal.”

“Kami menyeru para pemimpin Jihad Suriah untuk bersatu dan meninggalkan divisi dan label, dan mengikuti pemimpin tunggal,” ujar pernyataan itu.

Pernyataan itu mengatakan kelompok telah memilih Abu Hamza Termanin untuk memimpin formasi baru, yang para pengamat mengatakan dinamakan “Komisi Islam Suriah”.

Pernyataan itu ditandatangani oleh Jabhah Fath Syam, Ahrar Syam dan Failaq Asy-Syam.

Langkah ini dilakukan setelah pasukan rezim Suriah pimpinan Bashar Asad merebut hampir seluruh wilayah Aleppo, di mana pejuang Suriah telah mendirikan benteng pertahanan di timur kota, di mana ribuan pejuang dan warga sipil masih tetap berada di bawah pengepungan.

Timur Aleppo jatuh ke tangan pasukan rezim Assad dan sekutunya setelah kampanye militer brutal dan pemboman udara oleh jet tempur rezim Assad dan Rusia, sementara beberapa pihak menyalahkan terpecahnya faksi-faksi pejuang.

Operasi untuk mengevakuasi warga sipil dan pejuang perlawanan dari Aleppo dimulai pada Kamis (15/12/2016) sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang memungkinkan rezim Suriah mengambil kontrol penuh atas kota tersebut setelah bertahun-tahun pertempuran.


Ribuan warga sipil dan pejuang Aleppo meninggalkan Aleppo timur pada Kamis (15/12) di bawah kesepakatan evakuasi. Akan tetapi, sebanyak 50.000 orang kemudian dikabarkan masih terjebak di kota itu.

Sejumlah media mengatakan bahwa gencatan senjata ini akan mengakhiri tahun pertempuran antara pasukan rezim dan kelompok oposisi bersenjata serta menandakan “kemenangan besar” bagi Presiden Suriah Bashar Asad.

Di lapangan, penduduk Aleppo yang terpaksa dievakuasi dari bagian timur kota mengaku tak rela dan berat meninggalkan Aleppo, tanah ibu mereka tercinta. Mereka pun meninggalkan jejak dan pesan-pesan mereka pada dinding-dinding Aleppo yang tersisa di tengah reruntuhan kota mereka yang dihancurkan pasukan brutal rezim dan Rusia.

“Kami akan kembali, Aleppo!”
“Kembali… Cinta.”
“Kematian tak lagi menakutkan, hidup ini lebih menakutkan.”
“Selamat tinggal, Ibu.”

Pesan-pesan tersebut merupakan sebagian pesan mengharukan yang mereka tulis sebelum mereka beranjak pergi meninggalkan Aleppo.

 Jenderal Iran yang sangat terkenal, Qasem Soleimani, diduga telah mengunjungi lingkungan timur kota Aleppo setelah kota tersebut jatuh ke tangan pasukan rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad, menurut laporan sebuah media pro-rezim.




Soleimani, kepala Pasukan Quds, Garda Revolusi Iran, unit yang bertanggung jawab atas operasi militer luar negeri Iran dari Irak hingga Libanon, muncul di Aleppo dan melakukan tur bersama kolonel Suriah Iyad Salloum, lansir The New Arab pada Sabtu (17/12/2016).

Salloum juga diduga menjadi komandan lapangan tentara rezim Asad yang memimpin operasi di sepanjang benteng kuno Aleppo. Khat Tamas, media pro-rezim mempublikasikan foto jenderal Iran tersebut dan dikatakan bahwa itu diambil saat kunjungan ke benteng kuno.

Ini adalah kedua kalinya Soleimani muncul di kota Aleppo.

Pada 4 Desember lalu, milisi Syiah Irak yang mendukung rezim Asad mempublikasikan video yang memperlihatkan sang komandan mengunjungi garis depan Aleppo.

Kunjungan Soleimani kali ini dilakukan setelah kesepakatan untuk mengevakuasi massal warga Aleppo setelah pengepungan selama empat bulan oleh pasukan rezim Asad yang didukung Iran dan Rusia.

Milisi Syiah yang dikomandoi oleh Soleimani diduga menghalangi evakuasi sebelumnya. Milisi mencegat salah satu konvoy warga Aleppo dan melancarkan serangan yang meninggalkan beberapa warga sipil tewas.

Proses pemindahan warga dari Aleppo Timur, Jumat siang (16/12), kembali mendapat gangguan dari milisi syiah Hizbullah.



Wartawan Al-Jazeera melaporkan, proses evakuasi warga dari Aleppo Timur pada Jumat dihentikan setelah ada tembakan dari wilayah kontrol rezim di Aleppo Barat.

Akibat penghadangan ini, tim evakuasi tidak bisa kembali ke Aleppo Timur. Mereka tertahan sampai waktu yang belum diketahui.

Ribuan warga telah dievakuasi dari Aleppo Timur melalui tiga tahap sejak Kamis kemarin. Puluhan ribu lainnya masih tertahan di Aleppo Timur. Pemindahan warga ini dilingkupi kekhawatiran buyarnya gencatan senjata.

Berikut ini pemaparan politik yang disampaikan Syeikh Atha Abu Rasytah (Amir Hizbut Tahrir) terkait Situasi Krisis di Aleppo, dimana rezim Assad mengalami kemajuan dan berhasil menguasai Aleppo Timur. Kejadiannya tidak terlepas dari konspirasi internasional termasuk Amerika yang berada dibalik layar.


Sejak lebih dari dua bulan lalu, Amerika menampakkan seolah-olah memperburuk sikapnya dengan Rusia. Hal itu dalam konteks ketika terjadi kritik keras dari Eropa yang diarahkan ke Rusia akibat kerasnya kebrutalan serangan udara Rusia terhadap Aleppo. Demikian juga kerasnya penolakan di dalam negeri Suriah untuk peran Amerika, dimana penolakan itu mencapai puncaknya dengan terjadinya penolakan oleh faksi-faksi kombatan yang bergabung dalam operasi Turki “Perisai Eufrat” terhadap eksistensi pasukan khusus Amerika di tengah mereka. Kemudian Amerika paham bahwa operasi militer yang lebih keras untuk menundukkan warga Suriah dan orang-orang revolusioneris merupakan pra syarat mutlak yang wajib mendahului kembalinya negosiasi yang bisa menyediakan untuk Amerika sebagian elemen keberhasilan. Sejak saat itu, Amerika mulai mengumpulkan tipudayanya pada beberapa arah:
  1. Amerika mendorong Rusia untuk mempercepat pengiriman satuan militer yang lebih mematikan. Terlihat telah tiba kapal induk pengangkut pesawat Rusia satu-satunya Kuznetsov ke pantai Suriah pada 1/11/2016 bersama armada perangnya khususnya kapal penjelajah pengangkut rudal, dan langsung memulai operasi pengintaian di atas target-target Suriah terutama di atas Aleppo. Ini tambahan terhadap pesawat-pesawat tempur dan peralatan tempur milik Rusia di Suriah khususnya di lapangan udara Humaimim. 
  2. Amerika mendatangkan pasukan tambahan Iran dan kelompoknya, khususnya ke wilayah Aleppo. 
  3. Amerika mendinginkan sebagian besar front lainnya di Suriah melalui Saudi, Turki dan lainnya. Pengaruh negara-negara ini terjadi melalui dolar yang diberikan ke faksi-faksi yang berperang. Hal itu makin membesar dalam bentuk membunyikan alarm hancurnya gencatan senjata dan perdamaian. Terlihat bus sarat dengan orang-orang revolusioneris dan keluarga mereka ke Idlib. Semua itu untuk membuka ruang bagi rezim guna mengirimkan dukungan ke Aleppo dari front-front yang mendingin itu. Hal itu masih ditambah lagi dengan upaya negara-negara itu memicu fitnah di dalam Aleppo sendiri. Fitnah-fitnah itu yaitu bentrokan-bentrokan diantara orang-orang revolusioneris yang dikepung. Dan segala puji hanya bagi Allah, fitnah itu telah berhasil dikendalikan… 
  4. Semua yang disebutkan sebelumnya masih ditambah dengan terus berlanjutnya kampanye Erdogan “Perisai Eufrat” dan upayanya menarik lebih banyak faksi-faksi kombatan yang berafiliasi kepada Turki ke pertempuran al-Bab setelah Jarablus. Semua itu untuk melemahkan front sebenarnya di Aleppo, yang mensuport dalam pembukaan blokade yang mencekik atas kota Aleppo dan daerahnya… (Laporan-laporan lapangan menyebutkan bahwa oposisi bersejata Suriah kehilangan sepertiga wilayah yang dikuasainya di timur Aleppo. Hal itu disebabkan penarikan sejumlah besar kombatan oposisi dari front-front pertempuran di Aleppo untuk mendukung pasukan Turki dalam pertempurannya melawan ISIS dan kelompok-kelompok Kurdi dalam operasi “Perisai Eufrat”. Direktur observeratori Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for human rights) Rami Abdurrahman dalam pernyataannya kepada Sky News arabic pada Senin menyatakan bahwa perintah-perintah Turki sampai ke para kombatan yang berafiliasi dalam pasukan Free Syirian Army untuk bergabung ke pasukan yang memerangi ISIS dalam operasi “Perisai Eufrat” yang diluncurkan oleh Ankara sebulan lalu melawan ISIS dan kelompok Kurdi yang ditakutkan oleh Ankara bisa meluaskan kontrol terhadap daerah-daerah perbatasan. Abdurrahman menjelaskan bahwa intervensi Turki adalah kata rahasia dan sebab penting kekalahan oposisi, akibat penggunaan faksi-faksi yang berafiliasi kepada Turki di Free Syrian Army dalam pertempuran Turki sendiri. Hal itu menyebabkan kosongnya front-front dari tentara oposisi yang diasumsikan dihadapi oleh pasukan Suriah dan sekutu-sekutunya” (Sky News arabic, 28/11/2016).


Begitulah terjadi tekanan riil dan besar terhadap orang-orang revolusionaris Aleppo dengan lepasnya banyak distrik yang sebelumnya telah berhasil mereka bebaskan. Orang-orang revolusionaris itu pun dikepung di area yang lebih sempit dan terus terjadi pemboman sengit dan ancaman direbutnya distrik-distrik lainnya.  Di sini meski ada seruan-seruan internasional yang meminta penghentian tembak menembak, Amerika menemukan kesempatan yang mungkin sebagai kesempatan yang tepat untuk menghidupkan jalur politik untuk solusi di Suriah, di bawah iklim baru yang menuntut percepatan dan tidak mungkin ditunda. Hal itu ditujukkan oleh fakta-fakta berikut:

  1.     Amerika paham bahwa pencabutan distrik-distrik penting sebelah timur Aleppo bukan akhir untuk revolusi Suriah. Pembersihan orang-orang revolusionaris di berbagai daerah Suriah merupakan mimpi yang mustahil dicapai. Amerika paham bahwa tahun-tahun revolusi yang panjang di Suriah telah mengadakan iklim islami yang berbahaya. Oleh karena itu, Amerika bersegera untuk menghancurkan iklim ini. Politik dan lobi-lobi lebih efektif dalam menghancurkannya daripada alat-alat militer yang justru menambah bersinar iklim itu. Amerika yang telah putus asa bahwa pembunuhan dan penghancuran dan peningkatan keduanya, untuk bisa menundukkan rakyat di Suriah. Oleh karena itu, Amerika sejak beberapa tahun telah menunggu kesempatan untuk solusi politik sesuai rencana-rencananya.
  2.     Pemerintahan Obama saat ini akan meninggalkan Gedung Putih pada 20 Januari 2017. Obama masih bermimpi bisa meninggalkan Gedung Putih dengan keberhasilan yang bisa dicatatkan untuk pemeritahannya. Karenanya, setelah masuknya Pasukan Suriah ke distrik-distrik Aleppo, Rusia menyebutkan bahwa menteri luar negeri Kerry berupaya histeris untuk mencapai kesepakatan di Aleppo. Rusia Today pada 28/11/2016 telah menyebutkan, “Yuri Ushakov deputi presiden Rusia, pada Senin 28 November 2016 mengatakan: “jika Anda bertanya tentang upaya Kerry maka itu sangat intensif”. Ia menyusuli dengan mengatakan, “kita bisa menyifati upaya ini bahwa itu luar biasa, mengingat intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kontak telepon diantara kedua menteri luar negeri Amerika dan Rusia, di mana dalam kontak itu difokuskan pada satu masalah yaitu Suriah”.
  3.     Amerika mewakilkan kepada Turki dan melatihnya untuk melakukan peran politik menonjol mewakili Amerika, sampai pada tingkat seolah-olah bilateral Kerry-Lavrov digantikan oleh bilateral Rusia-Turki. Ini yang menjelaskan kontak-kontak intensif Turki pada jangka waktu belakangan untuk mencabut distrik-distrik timur Aleppo. Demikian juga peningkatan histeris dalam pertemuan-pertemuan para pejabat Turki dengan sejawat mereka para pejabat Rusia dan kunjungan-kunjungan para pejabat Turki ke Lebanon dan Iran… Kunjungan-kunjungan dan pertemuan-pertemuan Turki yang diintensifkan dan menyolok itu adalah sebagai berikut:
  4.     “Hari Sabtu 26/11/2016 presiden Iran Hassan Rouhani di Teheran bersama menteri luar negeri Turki Mevlud Cavusoglu membahas krisis Suriah, masalah-masalah regional lainnya ditambah masalah hubungan-hubungan bilateral kedua negara. Kantor berita republik Islam Iran, IRNA, memberitakan bahwa menteri luar negeri Turki melanjutkan diskusinya di Teheran dengan sejawatnya menteri luar negeri Iran Mohammed Jawad Zharif…” (Al-Jazeera.net, 26/11/2016).
  5.     Dari pihaknya, kantor berita Anadul mengatakan, “Cavusoglu, menteri luar negeri Turki, bersama Riyadh Hijab membahas pentingnya penghentian tembak menembak segera dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Aleppo, disamping upaya yang dikerahkan untuk mengadakan solusi politik bagi pertikaian di Suriah” (Al-Jazeera.net, 30/11/2016).
  6.     Kunjungan Lavrov ke Turki pada 30/11/2016: “menteri luar negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengumumkan bahwa kesepakatan-kesepakatan Rusia-Turki seputar Suriah, pada tingkat militer, diplomatik dan politik, tinggal diimplementasikan…” (Rusia today, 1/12/2016). Lavrov menambahkan, “Rusia dan Turki akan melanjutkan pembahasan-pembahasan untuk mencapai solusi bagi krisis Suriah secepat mungkin…” (Al-Jazeera.net, 1/12/2016).
  7.     Presiden Turki Racep Tayyib Erdogan telah “mendiskusikan masalah Suriah melalui telepon dengan sejawatnya presiden Rusia Putin minimal sebanyak tiga kali dalam seminggu lalu…” (BBC, 2/12/2016).
  8.     “Menteri luar negeri Turki, Mevlud Cavusoglu mengatakan dalam konferensi pers di kota Alanya Turki, dengan ditemani sejawatnya menlu Rusia Sergei Lavrov, “kami sepakat pentingnya menghentikan tembak menembak untuk mengakhiri malapetaka” (BBC arabic, 1/12/2016). Ia mengatakan, “Turki berdiskusi dengan Rusia dan Iran, dua sekutu Assad, dan juga dengan Suriah dan Lebanon untuk mencapai solusi bagi krisis Suriah” (BBC, 2/12/2016).
  9.     Sputnik mengutip dari Samir Nashar anggota koalisi oposisi pada Kamis 1 Desember 2016 yang mengatakan, “terjadi pertemuan-pertemuan sejak tiga hari lalu dengan upaya Turki, dan itu sangat tertutup. Faksi-faksi yang bertemu adalah faksi-faksi yang Turki bisa melakukan suatu pengaruh atasnya, akan tetapi dari pertemuan-pertemuan itu tidak keluar hasil yang bisa dirasakan” (Rusia today, 1/12/2016). Surat kabar the Financial Times pada Kamis 1 Desember 2016 menyebutkan bahwa sejumlah pemimpin oposisi Suriah “melangsungkan pembahasan rahasia dengan para pejabat Rusia melalui pengaturan oleh Turki untuk mengakhiri perang yang terus berlangsung di kota Aleppo. The Financial Times menambahkan bahwa “empat anggota dari oposisi yang ada di utara Suriah memberitahunya bahwa Turki mengatur pembicaraan-pembicaraan dengan para pejabat Rusia di ibukota Ankara” (BBC arabic, 1/12/2016). …”Gerakan “Ahrar asy-Syam al-Islamiyah” atas nama “front islami” memimpin negosiasi dengan para pejabat Rusia untuk mencapai gencatan senjata di Aleppo. Hasilnya, mengharuskan pengeluaran para tentara dari “front Fatah Syam” melalui Al-Kastilo dan dibukanya jalan untuk mengungsikan orang-orang yang cacat dan sakit dari distrik-distrik timur di bawah supervisi tim di bawah PBB. Sumber-sumber al-Mudun menunjuk kepada perginya “Fatah Syam” untuk Aleppo akan terjadi melalui rencana Turki, dimana Ankara akan menangani masalah pemberian bantuan-bantuan ke distrik-distrik yang diblokade belakangan” (Al-Mudun, 3/12/2016).
  10.     Adapun kerelaan Amerika terhadap pergerakan Turki itu, maka hal itu tampak dalam sambutan kementerian luar negeri Amerika terhadap negosiasi itu… “… Dan dalam briefing media, Mark Toner, juru bicara kementerian luar negeri Amerika pada Kamis 1 Desember 2016 mengatakan: “kami melihat laporan-laporan bahwa Rusia bernegosiasi dengan orang-orang revolusionaris Suriah…”. Toner mengatakan: “adapun reaksi kami, maka kami siap menyambut semua upaya riil yang ditujukan meringankan penderitaan rakyat Suriah khususnya di Aleppo” (Rusia today, 1/12/2016). Amerikalah yang berada di belakang apa yang terjadi apalagi Amerika bersepakat dengan Rusia atas jalannya negosiasi dan rekonsiliasi. “Menteri luar negeri Rusia pada Sabtu 3 Desember mengungkap bahwa sejawatnya menteri luar negeri Amerika John Kerry memberinya usulan-usulan seputar rekonsiliasi di Aleppo “selaras dengan sikap-sikap yang dipegang oleh Rusia” (Rusia today, 3/12/2016). … “Lavrov mengatakan di dalam konferensi pers bahwa Rusia dan Amerika Serikat akan memulai pembicaraan-pembicaraan tentang penarikan dilakukan di Jenewa pada besok sore atau Rabu pagi. Ia menjelaskan bahwa menteri luar negeri Amerika John Kerry “mengirimkan usulan-usulan tentang rute-rute dan penentuan waktu penarikan” (Dar al-Hayat, 5/12/2016). “Ia menegaskan bahwa pihak Rusia siap memulai diskusi mulai hari Senin 5 Desember 2016. Akan tetapi Washington meminta penundaaan sedikit untuk pertemuan para ahli. Diprediksi bahwa diskusi itu akan dimulai Selasa sore atau Rabu pagi” (Rusia today, 5/12/2016).  Karena semua itu, pergerakan Turki akhir-akhir ini dan intensitasnya, lebih berat dari keberadaanya bahwa hanya Turki saja yang berada di belakang semua itu. Ditegaskan bahwa Amerika lah yang mendorong Turki, selangkah demi selangkah… Amerika pulalah yang mengatur negosiasi-negosiasi dengan Rusia sesuai usulan-usulan yang diberikan oleh Amerika kepada Rusia pada waktu di mana pemerintahan Obama mengkalkulasi hari-hari itu dengan cermat, dengan harapan bisa merealisasi suatu keberhasilan walaupun hanya di Aleppo saja pada minggu-minggu tersisa dari masa pemerintahan Obama itu.


Adapun kesempatan untuk keberhasilan Amerika dalam menempatkan faksi-faksi kombatan di meja perundingan dan menghidupkan kembali aktivitas politik di Suriah, maka hal itu ditentukan oleh fakta-fakta berikut:

  1.     Di dalam Suriah, penolakan terhadap solusi damai makin meningkat. Warga Suriah telah yakin tentang konspirasi negara-negara arab dan Turki terhadap mereka bersama Amerika dan Rusia. Telah menjadi jelas dan tidak bisa diragukan lagi bahwa negara-negara itu menentang revolusi Suriah… Situasi dalam negeri ini menekan faksi-faksi untuk memperbaiki jalannya setelah banyak tercemar dengan afiliasi luar negeri dan terpengaruh dengan dukungan finansial yang kotor. Hal itu tampak dalam perdamaian, gencatan senjata dan pendinginan berbagai front serta komitmen terhadap garis merah dan instruksi-instruksi dari ruang koordinasi MOC –Military Operations Center-. Pergerakan tiba-tiba rakyat di dalam Suriah yang menekan faksi-faksi ini mendahului serangan rezim dan sekutunya terhadap wilayah timur Aleppo. Adapun sekarang, pergerakan itu makin membesar menyifati faksi-faksi yang melakukan gencatan senjata sebagai pengkhianat dan menuntut dikeluarkannya para pemimpin faksi-faksi itu dari rel. Berhadapan dengan serangan militer sengit itu, faksi-faksi di dalam Aleppo berinisiatif membubarkan diri dan membentuk Jaysy al-Halab (Tentara Aleppo) dan menjadi satu kekuatan. Itu merupakan langkah yang baik yang mudah-mudahan menuntun kepada terbebas dari afiliasi-afiliasi luar negeri di depan bahaya yang mengancam. “Samir Nasyar anggota koalisi oposisi Suriah menyesalkan tidak diperolehnya hasil-hasil dalam negosiasi faksi-faksi dengan Rusia di Turki. Ia menyesalkan bahwa keputusan asasi kembali kepada kelompok bersenjata yang bertahan di kota Aleppo. Ia mengatakan, “pertemuan-pertemuan itu tidak mengeluarkan hasil yang nyata sebab mereka yang diblokade di dalam kota Aleppo, keputusan mereka menjadi independen dari kepemimpinan mereka yang ada di luar kota, dan berikutnya keputusan tersebut memiliki independensi luar biasa berkaitan dengan orang-orang yang dikepung di dalam kota tersebut” (Rusia today, 1/12/2016). Kelompok-kelompok bersenjata di dalam Aleppo itu tidak peduli dengan negosiasi-negosiasi khianat dan ancaman-ancaman brutal untuk menyerah yang terjadi di luar Aleppo. “Pejabat di oposisi Suriah mengatakan bahwa komandan tentara oposisi tidak akan menyerahkan timur Aleppo kepada pasukan pemerintah. Hal itu setelah Rusia berkata bahwa Rusia siap melakuka pembicaraan-pembicaraan dengan Amerika Serikat tentang penarikan semua tentara oposisi dari kawasan tersebut, sesuai apa yang dinyatakan oleh kantor berita Reuters pada Sabtu…” (Al-Jazeera, 3/12/2016).
  2.     Begitulah, rakyat yang bangun niscaya menemukan puncak revolusi “Aleppo” ada di bawah bahaya mengancam, mereka tidak terdorong untuk menyerah dan menyetujui solusi-solusi politik. Akan tetapi mereka justru terdorong dengan daya lebih besar untuk meluruskan jalan faksi-faksi yang berafiliasi kepada negara-negara arab dan Turki. Faksi-faksi yang dukungan finansial kepadanya diubah menjadi rem besar yang menghalanginya melajutkan revolusi… Begitulah yang buruk dibedakan dari yang baik… Yang buruk patuh kepada tuan-tuan di Turki, Saudi dan lainnya dan bergegas kepada aktivitas politik yang tunduk kepada Amerika, sekutunya dan kelompoknya dan jatuh ke parit mereka yang melakukan konspirasi terhadap revolusi… Sedangkan yang baik, tekad mereka benar dan tidak tunduk kecuali kepada Allah SWT. Yang baik inilah, dengan ijin Allah, yang akan membuat tipudaya yang dikumpulkan oleh Amerika, Iran, Rusia, Turki dan negara-negara Arab menjadi debu yang ditiup angin.

Serangan brutal dan keteguhan legendaris perlawanan di Aleppo ini, semua itu tidak hanya mengungkap yang buruk dalam skala lokal saja, akan tetapi juga mengungkap semua yang buruk khususnya regional Iran, Saudi dan Turki. Iran berkontribusi dengan aksi-aksi pembunuhan brutal yang hanya dikalahkan oleh aksi-aksi pembunuhan Rusia sesuai rencana Amerika. Saudi berkontribusi dengan dana kotor yang menyuapi sebagian faksi untuk berkontribusi dalam negosiasi khianat. Sedangkan Turki, mengambil penyesatan sebagai senjata untuk menjalankan rencana-rencana Amerika. Turki berteriak bahwa Turki tidak akan menghinakan Aleppo, nyata justru menghinakannya di depan mata. Bukan hanya itu. Bahkan kakinya yang tertanam di kawasan Aleppo tidak melindungi Aleppo dan malah dialihkan dari Aleppo ke wilayah yang jauh! Kemudian suaranya makin tinggi bahwa Turki tidak akan mentolerir Hamma kedua, nyatanya terjadi Hamma kedua dan ketiga tetapi Turki tidak bergerak dan diam saja!  Ketika Turki dipermalukan oleh sikap-sikap ini, belakangan Turki berusaha kembali berteriak lebih keras lagi dan Erdogan menyatakan bahwa Perisai Eufrat yang dimaksudkan adalah “hengkangnya Asad”.  “Presiden Turki Racep Tayyip Erdogan melalui pidatonya di forum yang didedikasikan untuk al-Quds (Jerusalem) di Istanbul pada Selasa 29 November 2016 mengatakan: “… dan kami masuk ke Suriah bersama Free Syrian Army”. Erdogan menyusuli dengan ucapannya: “kenapa kami masuk? Kami masuk supaya kita bisa menghentikan pemeritahan diktator Asad yang meneror warga Suriah dengan negara teroris. Masuknya kita bukan karena sebab lainnya” (Rusia today, 29/11/2016). Akan tetapi belum sampai gema suaranya hilang, Erdogan menarik kembali untuk menyenangkan Rusia yang membom Aleppo siang dan malam! “Presiden Erdogan menyampaikan pidato dalam pertemuan tiga puluh Mehter yang diselenggarakan di kompleks kepresidenan al-Kulliyah. Presiden Racep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa operasi Perisai Eufrat yang terus berlangsung di Suriah dipimpin oleh angkatan bersenjata Turki tidak menargetkan person atau negara tertentu. “Operasi yang berlangsung sejak 24 Agustus itu menargetkan organisasi-organisasi teroris” (TRT arabic, 1/12/2016). Rusia paham bahwa pernyataan Erdogan tentang hengkangnya Asad adalah kosong dari makna. Menteri luar negeri Rusia mengomentarinya pada Kamis 1 Desember 2016 dengan mengatakan: “Moskow dalam ranah praktis bersandar kepada kesepakatan-kesepakatan yang dicapai antara kedua presiden yang diimplementasikan dan bukan kepada pernyataan-pernyataan personal dari pihak yang banyak menyampaikan pernyataan” (Rusia today, 1/12/2016)… Dan hari ini 7/12/2016 dalam kujungan Yildirim ke Moskow, ia menyatakan dengan jelas dalam wawancara dengan kantor berita Interfax Rusia bahwa operasi Perisai Eufrat “tidak terkait dengan kejadian-kejadian yang terjadi di pusat kota Aleppo dan tidak ada hubungannya dengan operasi perubahan rezim Suriah” (al-Khaleej on line, 7/12/2016).



Begitulah, Amerika berkoordinasi secara penuh dengan Rusia dalam serangan-serangan brutalnya. Amerika lah yang ada di belakang “Perisai Eufrat” yang targetnya adalah menarik faksi-faksi dari front Aleppo ke operasi “Perisai Eufrat” dan berikutnya memperlemah front Aleppo…  Demikian pula, Amerika jugalah yang mengatur negosiasi-negosiasi faksi-faksi yang mencurigakan dengan Rusia dan yang berada di belakang mobilisasi Iran dan para pengikutnya. Kemudian Amerika lah yang berada di belakang dihalanginya senjata yang efektif dari oposisi. Hal itu tidak diubah dengan apa yang dilansir oleh media massa pada 7/12/2016 bahwa DPR Amerika telah “menyetujui rancangan undang-undang yang memberi kesempatan kepada pemerintahan presiden terpilih Donald Trump untuk mengirimkan rudal-rudal anti pesawat darat ke udara kepada faksi-faksi oposisi di Suriah… Surat kabar the Washington Post mengutip bahwa rancangan resolusi tersebut mencakup beberapa batasan untuk mentransfer senjata-senjata ini” (Al-‘Arabiya, 7/12/2016).  Keputusan itu datang pada injury time setelah Aleppo hampir hancur lebur, dan pengiriman senjata itu masih diragukan akan benar-benar terjadi. Dan jika pun benar terjadi maka itu akan menjadi senjata yang dilucuti! Senjata itu tidak akan digunakan kecuali dengan ijin dari musuh Islam dan kaum Muslim. Dan apakah tanaman berduri bisa diharapkan berbuah anggur?! Kemudian, rancangan undang-undang ini disetujui untuk diimplementasikan bukan sekarang, akan tetapi pada masa Trump yang sebelum masa pemerintahannya dimulai telah mengumumkan untuk meghalangi senjata dari oposisi! Sungguh itu merupakan penyesatan di atas penyesatan dan sungguh merupakan kedustaan yang besar …

Meskipun semua itu, Aleppo bagaimanapun penghancuran yang menimpanya, Aleppo akan bangkit kembali. Bumi Syam seluruhnya dan Aleppo khususnya akan menjadi duri beracun di tenggorokan Amerika, Rusia, para pengikut dan kelompoknya, yang akan mengguncang peraduan mereka dan membunuh mereka karena kejahatan-kejahatan mereka. Mereka tidak akan menikmati kemenangan yang mereka klaim. Mereka tidak bisa masuk negeri kecuali setelah menghancurkannya, itu adalah kemenangan palsu… Dan mereka tidak bisa mengalahkan para pejuang kecuali setelah para pejuang itu syahid adalah kemenangan yang kalah… Mereka mengumpulkan rudal-rudal, bom-bom barel, dan pasukan ribuan untuk menghadapi ratusan atau beberapa ribu. Meski demikian, mereka tidak bisa menghadapi para pejuang kecuali dengan pemboman dari udara dan kapal-kapal perang, maka itu merupakan kemenangan pengecut yang takut untuk menghadapi langsung para ksatria. Kemenangan seperti itu akan lenyap…

Sungguh, Amerika dan Rusia serta sekutu, kelompok dan para pengikutnya ingin mengulangi kejahatan-kejahatan brutal mereka meniru sejarah teman-teman mereka sebelumnya kaum salibis dan Moghul Tatar dengan kejahatan-kejahatan yang mereka perbuat di Irak dan negeri Syam. Akan tetapi, mereka tidak mengambil pelajaran dari nasib kaum salibis dan Moghul Tatar. Mereka telah dicampakkan oleh kaum Muslim dari negeri mereka dan kaum Muslim bangkit kembali.  Kemuliaan Islam dan kaum Muslim pun kembali lagi. Khilafah mereka menjadi kuat kembali. Mereka pun membebaskan kota Heraklius dan kota itu menjadi kota Islam “Istanbul”.  Mereka juga mendekati Moskow dan mengetuk pintu-pintu Wina. Hari-hari itu silih berganti dipergilirkan. Dan sungguh hari esok bagi orang yang menantinya adalah dekat.

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (TQS asy-Syu’ara’ [26]: 227).

---------------------------//----------------------------
Sumber :
http://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/40910.html#sthash.3SsbgJeo.dpuf

Di tengah teror, pembunuhan, pemerkosaan dan kekacauan yang telah terjadi di Aleppo ada suatu kisah sedih yang mendalam. Satu kisah yang muncul tentang sebuah kelompok pejuang pemberani dari brigade pejuang kecil yang semua wafat karena melindungi kota mereka dan menyerahkan hidup mereka bagi Allah (Swt). Ini, secara singkat, adalah kisah tentang mereka. Sebuah kisah tentang keberanian yang besar. Semoga Allah menerima syahidnya mereka dan meningkatkan ribuan pejuang lain seperti mereka.

Utsman Badar (aktivis Hizbut Tahrir Australia)  menulis tentang kejadian ini:

Di mana ada kematian, di situ ada kehidupan.

Dimana ada kegelapan, di situ ada cahaya.

Di mana ada cerita horor, di situ ada legenda.

Beberapa brigade yang seharusnya ditempatkan di Aleppo untuk melindungi penduduk pindah dalam beberapa pekan terakhir ke wilayah lain mengikuti perintah dari negara-negara sponsor mereka (Turki, Saudi, dll). Mereka salah perhitungan atas racun ketergantungan politik yang bernoda. Suatu kisah bagi lain waktu.

Brigade-brigade lain berdiri dengan kokoh, karena mereka tahu bahwa mereka memiliki kewajiban untuk melindungi penduduk Aleppo, apa pun caranya. Kesetiaan mereka adalah murni karena Allah dan Rasul-Nya (Saw).

Tadi malam, ketika terjadi invasi atas Aleppo oleh para preman Assad yang semakin sering, orang-orang ini – orang-orang seperti ini adalah para pria sejati! – memberi sumpahnya untuk tetap berdiri dan melawan, mereka tahu benar bahwa kematian menunggu mereka. Dan demikianlah yang terjadi.

Brigade Rayat al-Islam adalah salah satu contohnya, yang dipimpin oleh Abu al-Jud (secara harfiah artinya “bapak yang murah hati”). Seluruh anggota brigade (lebih dari 100 pejuang) menjadi syahid dalam pertempuran di distrik Kalasa di  Aleppo timur. Mereka syahid dalam perjalanan melakukan perbuatan yang paling dicintai Allah: peperangan di jalan Allah, dalam membela orang-orang yang tidak bersalah. Syuhada, dengan menambahkan darah mereka dengan darah yang telah mengairi negeri yang suci al-Sham abad demi abad. Darah yang mulia untuk tanah yang mulia.

Jantung terasa lepas karena kehilangan jiwa-jiwa yang mulia, air mata mengalir. Tapi bukan atas mereka kita seharusnya menangis, tapi lebih atas diri kita sendiri. Untuk mereka yang telah pergi mendahului setelah nama mereka terukir dalam gulungan lembaran orang-orang yang paling dekat dengan Yang Maha Penyayang. Mereka telah pergi menghidupkan kembali kenangan atas Malik ibn al-Nadhr (ra) dan pemanah yang tetap bersamanya di Bukit Uhud. Sebuah akhir kehidupan yang mulia.

(15/12/2016) - Evakuasi yang terluka dan beberapa keluarga dari kota Aleppo dimulai setelah sore menuju daerah di pedesaan barat Aleppo dan provinsi Idlib serta di bawah kesepakatan yang dicapai antara faksi-faksi pejuang dari Aleppo dengan Rezim Suriah dan Rusia yang ditengahi oleh Turki.



Koresponden ElDorar melaporkan bahwa dua konvoi bus telah meninggalkan Aleppo menuju daerah barat, dan yang lainnya dimana lebih dari 100 warga yang terluka masuk ke wilayah Turki dan dievakuasai ke rumah sakit pemerintah dari Rihaniyya dan Antakya di negara bagian Hatay.

Sebelumnya, milisi Iran dan milisi Hizbullah telah menghambat kesepakatan kemarin dengan menembaki sebuah Ambulan yang membawa warga terluka di daerah Ramouseh, sehingga keluar ultimatum Rusia mengancam untuk menggunakan kekuatan jika ada pelanggaran perjanjian.



(15/12/2016) - proses evakuasai warga aleppo timur menggunakan bus hijau

(14/12/2016) - Jabhah Fath al-Sham lancarkan serangan dengan 2 bom syahid di Aleppo Timur tepatnya di distrik al-Zahra dan al-Haj. Serangan dilakukan dalam upaya menghadang konvoi pasukan rezim Suriah yang mencoba maju mempersempit pengepungan.

Video salah satu bom syahid dari mujahidin yang bernama "Abu Islam"

Operasi ini didukung juga dengan serangan artileri sehingga berhasil menewaskan puluhan milisi pasukan Assad, menghancurkan sebuah Tank dan menguasai beberapa bangunan di distrik tersebut.

lokasi bom syahid di aleppo timur

Pasukan rezim Asad kembali membombardir lingkungan timur Aleppo, menimbulkan kekhawatiran bahwa kesepakatan untuk mengevakuasi warga sipil dan mujahidin yang berada di sana tidak akan berjalan lancar.

“Ada tembakan artileri saat ini, saat saya berbicara,” ujar jurnalis di Aleppo timur, Zouhir Al Shimale mengatakan kepada Al Jazeera dalam pesan Whatsaap pada Rabu (14/12/2016).

“Tidak ada bentrokan,” katanya, menjelaskan bahwa kelompok-kelompok mujahidin tidak melawan saat ini.

“Ada yang terluka, namun kami tidak tahu berapa banyak. Kami tidak bisa pergi keluar karena penembakan yang membabi buta.”

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), kelompok pemantau yang berbasis di Inggris mengatakan penembakan bisa didengar, tapi asalnya tidak jelas. Berbicara kepada kantor berita Reuters, salah satu komandan mujahidin Suriah mengatakan pasukan rezim telah melakukan penembakan dan melanggar gencatan senjata yang dicapai sehari sebelumnya.

Sumber medis mengatakan kepada Al Jazeera bom cluster telah digunakan di lingkungan Al-Zubdiyeh dan tempat lain di wilayah yang tersisa yang dikuasai oleh mujahidin Suriah.


Video diunggah kemarin tanggal 14/12/2016, mungkin menjadi pesan terakhir bagi anak-anak di Aleppo Timur jika tidak berhasil dievakuasi ..

 Jalur evakuasi warga sipil di Aleppo Timur yang telah disepakati

Demonstrasi diadakan di kota-kota di dunia pada Selasa (13/12/2016) malam untuk menunjukkan solidaritas terhadap warga sipil di distrik-distrik terakhir di timur Aleppo yang dikuasai pejuang oposisi menyusul berbagai laporan pembantaian oleh pasukan rezim teroris Assad.


Aleppo telah berada di bawah pengepungan dan penembakan selama bertahun-tahun, namun perlawanan oposisi akhirnya hancur dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan laporan dari kekejaman lebih lanjut yang dilakukan oleh pasukan rezim dan milisi Syi'ah asing bayaran Iran di kota itu.

Di London, ratusan orang berkumpul di luar kediaman Perdana Menteri Theresa May di 10 Downing Street untuk memprotes kurangnya aksi oleh Inggris dalam melindungi penduduk sipil kota itu. Menurut penyelenggara acara, sebuah kelompok yang disebut Youth4Aleppo, para pengunjuk rasa berkumpul untuk menuntut "pengiriman tak terbatas dari bantuan kemanusiaan - termasuk air, dijatuhkan dari udara - dan evakuasi yang aman terhadap semua warga sipil dan non-kombatan dari Aleppo".

Sebuah demo kecil juga digelar di Manchester oleh masyarakat Suriah dan pendukung oposisi.

Sementara itu di Turki Istanbul, ribuan orang juga turun ke jalan untuk menunjukkan solidaritas untuk warga Sunni di Aleppo, melakukan protes di luar kedutaan Rusia.

Protes ini terjadi ketika Turki mengkonfirmasi pada hari Selasa bahwa kesepakatan gencatan senjata disepakati antara Rusia dan oposisi Suriah untuk memungkinkan pejuang oposisi untuk mengevakuasi Aleppo timur.

Bagaimanapun, kesepakatan itu runtuh menyusul intervensi rezim Syi'ah Iran di mana para milisi Syi'ah asing bayaran mereka mencegah evakuasi warga sipil dan membombardir distrik-distrik di Aleppo timur

Di tempat lain di Turki, postingan media sosial menunjukkan gambar perempuan Turki yang telah mencat boneka-boneka untuk melambangkan anak-anak tewas di gerak maju brutal rezim Suriah.

Pada hari yang sama, protes serupa diadakan di ibukota Belgia Brussel dan di Malmo di Swedia, di mana pesan yang sama dari kemarahan atas kelambanan internasional untuk menyelamatkan warga sipil diungkapkan.

Di Suriah sendiri, protes juga digelar di daerah yang dikuasai pejuang oposisi. Postingan media sosial pada hari Selasa menunjukkan warga sipil sambil memegang lilin di udara terbuka di wilayah yang dikuasai pemberontak, Ghouta, sebuah kota yang menarik perhatian dunia pada tahun 2013 ketika rezim Suriah melakukan salah satu serangan kimia terburuk dari perang terhadap warga sipil.

Jatuhnya timur Aleppo, yang telah menggagalkan gerak maju rezim teroris Assad sejak 2012, akan menjadi pukulan besar bagi oposisi Suriah dan mengekspos banyak warga sipil untuk ancaman kekerasan lebih lanjut. Menurut PBB, laporan yang dapat dipercaya telah mengkonfirmasi bahwa setidaknya 82 warga sipil - termasuk 11 perempuan dan 13 anak-anak - telah dieksekusi oleh pasukan rezim teroris Assad dalam beberapa hari terakhir.

Saksi di lapangan juga telah menjelaskan adegan pembantaian mengerikan, termasuk perkosaan dan pembunuhan tanpa pandang bulu oleh pasukan pemerintah dan milisi Syi'ah bayaran pendukung Assad.

Setelah pernah menjadi pusat ekonomi dan budaya di Suriah, Aleppo sekarang menjadi kota yang hampir hancur total menyusul bertahun tahun pemboman dan pengepungan oleh rezim terhadap daerah yang sebelumnya dikuasai pejuang oposisi tersebut.

 Situasi Terakhir di Aleppo Timur, Daerah yang dikuasai mujahidin hanya beberapa distrik lagi, sementara Pasukan Rezim telah melakukan pengepungan dan bombardir melalui serangan udara.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget