Halloween Costume ideas 2015
March 2016

Presiden Suriah, Bashar al-Assad mengklaim bahwa keberhasilan tentaranya dalam merebut Palmyra dari ISIS merupakan langkah untuk “mempercepat penyelesaian politik” di Suriah.

“Tindakan militer dan keberhasilan yang ada akan menyebabkan percepatan dalam penyelsaian politik dan tidak mencegahnya,” katanya.

bashar assad
Pernyataan Assad ini juga untuk menyangkal klaim Barat, rezimnya dan Rusia hanya mempersulit proses perdamaian di Suriah.

Seorang analis berspekulasi bahwa perebutan Palmyra kuno yang dilancarkan rezim Suriah ini hanyalah sebuah rancangan untuk meningkatkan kredibilitas Assad dengan kekuatan internasional yang ada.

Belum lama ini, Bashar al-Assad juga menyampaikan kata terima kasihnya kepada Sekjen PBB, Ban Ki Moon yang telah “mendorong” pasukannya untuk merebut kembali wilayah Palmyra.

DK PBB sebenarnya sangat kritis terhadap rezim Assad dan pasukannya terkait adanya pelanggaran HAM yang berat. Namun, hal ini mulai memudar pasca munculnya ISIS dan membuat masyarakat internasional mulai melunak dengan pelanggaran rezim.

Pemerintah Assad sendiri telah menghadapi pemberontakan selama lima tahun, dan kini masih mengikuti adanya pembicaraan damai dengan oposisi di Jenewa. Namun, negosiasi masih berhenti dan akan berlanjut awal bulan depan.

Berapakah nilai penjualan persenjataan Amerika Serikat ke Timur Tengah? Dalam setahun penjualan senjata Washington ke negara-negara teluk mencapai angka yang fantastis, USD 33 miliar atau setara dengan Rp 441 triliun.
bisnis senjata amerika

Data terbaru yang dirilis Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebutkan bahwa sejak Mei tahun lalu mereka telah menjual senjata senilai USD 33 miliar ke negara-negara di kawasan Teluk. Angka penjualan senilai lebih dari seperlima APBN Indonesia di tahun 2016.

“Konsisten dengan komitmen yang kami buat bagi mitra-mitra Teluk pada KTT Camp David Mei lalu, kami telah melakukan segala upaya untuk memeperlancar penjualan,” kata juru bicara Departeman Luar Negeri Amerika Serikat David McKeeby kepada Defense News.

Sejak itu, Amerika Serikat telah mengekspor segala sesuatu terkait operasi militer ke negara-negara Teluk. Peralatan-peralatan mulai dari helikopter, rudal balistik, hingga peluru kendali dikirimkan ke Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang tergabung dalam Lembaga Kerjasama Teluk (GCC).

Penguatan sistem persenjataan yang dilakukan oleh negara-negara Teluk tak lepas dari berakhirnya embargo terhadap Iran, yang dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas kawasan. Namun, sebagian besar amunisi diarahkan untuk pertempuran di Irak dan Suriah.

Menurut McKeeby, pada tahun 2015 Amerika Serikat mengirimkan 4.500 amunisi peluru kendali untuk negara-negara Teluk. Sebanyak 1.500 diantaranya diambilkan dari persediaan milik militer Amerika sendiri.

Desember tahun lalu, Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Jenderal Mark Welshsaid mengeluarkan pernyataan terkait kurangnya rudal Hellfire dan amunisi lainnya. “Penyebaran amunisi lebih cepat dari kemampuan kita menyediakannya,” ujarnya.

Bahkan Sekretaris Angkatan Udara Deborah Lee James mengatakan secara terang-terangan soal bisnis amunisi itu. “Kita ada dalam bisnis pembunuhan teroris, dan bisnis ini bagus.”

Sumber: Worldbulletin

Pesawat-pesawat tempur rezim Nushairiyah Suriah pimpinan Bashar Asad melakukan serangan udara di provinsi Idlib pada Selasa (29/3/2016), membunuh seorang anak dan melukai 6 lainnya, ujar aktivis lokal mengatakan kepada Zaman Alwasl.

Seorang anak telah kehilangan nyawanya dalam serangan udara yang menghantam sebuah sekolah di desa Al-Kastan, dekat kota Jisr A-Shughur, sementara enam orang lainnya termasuk tiga perempuan, terluka dalam serangan udara di kota Ariha yang dikendalikan oleh Jaisyul Fath.

Tentara rezim juga menargetkan kota-kota Al-Najiya dan Bdama dengan bom barel. Tidak ada laporan mengenai korban.

Di provinsi Aleppo, pasukan rezim yang berada di kota Nubul dan Zahraa telah menggempur kota Anadan, Hayyan dan Bayanon dengan artileri berat saat pertempuran sengit meletus di desa-desa dekat ibukota Aleppo.

Komandan Gerakan Islam Ahrar Al-Syam, Abu Yahya Al-Hamawy, Jumat (25/03), dengan tegas menolak draft yang dibuat utusan PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura. Pernyataan itu dikeluarkan sehari setelah dirilisnya draft yang berisi prinsip-prinsip dasar solusi politik di Suriah.

“Warga Suriah tidak mendelegasikan seorang pun untuk menandatangani (draft) menyerahkan diri,” tegas Abu Yahya dalam akun Twitternya seperti dinukil Al-Jazeera. Dia menegaskan bahwa revolusi telah mencapai puncaknya dan tidak akan menerima setengah solusi.

komandan ahrar al-sham

Abu Yahya kembali menegaskan, kami tidak akan keluar membela rakyat-rakyat kami untuk menyelamatkan mereka sementara dari bombardir dan birmil kemudian membiarkan mereka dibunuh dibawah penyiksaan penjara baru.

Dia juga mengatakan bahwa draft yang dibuat utusan PBB tersebut bukan tuntuan rakyat Suriah dan hanya ingin memulihkan sistem rezim.

Pernyataan ini dikeluarkan setelah Staffan de Mistura merilis 12 poin prinsip dasar untuk menyelesaikan konflik di Suriah melalui jalur politik. Seluruh pihak yang menyetujui solusi politik harus tunduk dan taat pada prinsip tersebut.

Di antara prinsip itu, harus menjadikan Suriah sebagai negara demokrasi yang mengekor kepada PBB. Begitu juga halnya dalam perang melawan “teroris” harus berdasarkan putusan PBB.

Yang tak kalah pentingnya, draft tersebut tidak menghargai pejuang asing yang ikut membantu warga Suriah. Mereka tidak diberi tempat dan tidak boleh campur tangan dalam urusan Suriah. Di sisi lain, negara-negara internasional mengambil peran dalam pembentukan negara Suriah baru.

Warga Suriah kembali keluar rumah untuk menggelar demonstrasi mendesak dilanjutkannya revolusi sampai rezim Bashar Assad lengser. Aksi itu digelar selepas Shalat Jumat, Jumat (25/03), di berbagai kota di Suriah.

Demonstran mengibarkan bendera revolusi dan menggelar aksi jalan kaki di kota masing-masing. Slogan-slogan menuntut rezim lengser dan mengutuk peran Rusia di Suriah berulang-ulang mereka teriakkan dalam aksi tersebut.

Aksi termeriah terjadi di kota Saqa, pedesaan Idlib. Ratusan warga mengibarkan poster-poster dan meneriakkan seruan, yang mendesak dilanjutkannya revolusi dan mengutuk Bashar Assad.

demonstrasi anti assad

Bendera rovolusi juga dikibarkan para demonstran di kota Tetaz, pedesaan Idlib. Mereka turun ke jalan dengan slogan “Jumat Asad pencipta teror”. Pemandangan demikian juga terlihat di kota Mar’arrah Nukman.

Di pedesaan Aleppo, warga mendesak revolusi berlanjut sampai mencapai target. Mereka juga menolak negoisasi dengan orang-orang yang berlumuran darah warga Suriah.

Di wilayah yang terkepung Ghutah Timur, puluhan warga berkumpul dan menggelar demonstrasi menentang rezim. Mereka memanfaatkan waktu Jumat, karena hari itu hari libur pekanan dan dijadikan hari berkumpul warga.

Warga di Daraa tak ketinggalan ikut menambah ramainya demonstrasi menentang Bashar Assad di hari tersebut. Mereka menuntut seperti rekan-rekan mereka di daerah lainnya.

Rezim Nushairiyah Suriah menghentikan konvoi bantuan PBB yang berusaha untuk mengirim bantuan kemanusiaan ke Douma dan Darayya, ungkap penasihat kemanusiaan PBB Jan Egeland, Rabu (23/3/2016).


“Kami tidak memiliki izin untuk pergi ke enam daerah yang terkepung. Kami mendapat jaminan lisan (dari rezim) tadi malam dan pagi ini. Tiga atau empat dari enam daerah ini akan dibahas,” kata Egeland kepada wartawan di Kantor PBB di Jenewa di hari Rabu.

Egeland mengatakan mereka akan dapat memberikan bantuan kemanusiaan ke 15 atau 16 dari 18 kota yang terkepung di Suriah, sementara Darayya dan Douma masih menunggu izin dari rezim untuk dapat menerima bantuan kemanusiaan PBB, lansir WB.

Menurut Egeland mereka memiliki lebih banyak kemajuan mendapatkan akses ke penduduk sipil di Suriah, menambahkan bahwa konvoi bantuan PBB juga mampu mencapai Houla di Homs pada Selasa malam.


“Kita bisa menjangkau 384.000 orang sejak awal tahun di daerah-daerah yang sulit terjangkau dan daerah-daerah yang terkepung, yang akan lebih dari dua kali lipat minggu depan sebelum akhir April,” kata Egeland.

Sejumlah masyarakat Suriah mengungkapkan kekesalannya pasca deklarasi wilayah federal Kurdi PYD di Suriah bagian utara.

“Milisi Kurdi PYD tidak menghormati hukum dan etika,” ujar Ghassan Derbas, yang merupakan anggota dewan kota utara Tal Rifaat kepada Anadolu Agency.

Derbas sendiri terpaksa melarikan diri setelah adanya serangan dari Kurdi PKK dan kini tinggal di sebuah kamp pengungsian.

Bahkan, dia juga membeberkan bahwa PYD selama ini telah menghancurkan kota-kota di Suriah utara dan telah mencuri sejumlah barang-barang milik publik atau milik pribadi.

Dia juga menegaskan, tidak akan kembali ke kotanya sampai milisi Kurdi PYD keluar dari wilayahnya.

“Kami tidak akan kembali ke kota kami sampai kelompok teroris ini keluar. Arab dan dan Kurdi telah hidup bersama selama bertahun-tahun, tetapi teroris PYD ternoda persaudaraan ini dan datang untuk membagi masyarakat,” tegasnya pada Kamis (24/03).

Pada hari Kamis lalu (24/3), milisi Kurdi PYD mengumumkan bahwa pihaknya akan membentuk pemerintah federal di Suriah bagian utara yang telah mereka kuasai.

Perencanaan ini sendiri akan melibatkan sejumlah wilayah seperti daerah Jazeera, Kobane dan Afrin, Rojava, ditambah dengan kota-kota yang dihuni etnis Arab saat ini yang masih di bawah kontrol Kurdi.

Menurut mereka, deklarasi PYD ini sama seperti deklarasi “khilafah” yang diusung oleh ISIS di sebagian wilayah Irak dan Suriah.

“Beberapa kelompok telah mengambil keuntungan dari revolusi rakyat Suriah dan pengorbanan mereka dan menguasai bagian dari wilayah Suriah untuk mendirikan entitas etnis, nasionalis dan sektarian. Yang pertama merencanakan hal seperti ini adalah ISIS,” pungkasnya.

Tujuh puluh faksi oposisi Suriah mengecam deklarasi wilayah federal di Suriah bagian utara oleh milisi Kurdi PYD ini.

60 faksi tolak negara federal pyd

Perwakilan oposisi Suriah di Jenewa mengatakan, tidak ada kemajuan yang berarti dalam pembicaraan damai di Jenewa untuk konflik Suriah.

“Kami benar-benar belum mencapai apa-apa karena rezim dan timnya di sini,” kata Salim al-Muslat, jubir Komite Tinggi Negosiasi Oposisi kepada Aandolu Agency, Kamis (24/03).


Putaran pertama pembicaraan damai Jenewa sendiri telah dimulai pada tanggal 14 Maret kemarin, yang berakhir tanpa hasil. Putaran berikutnya dimulai pada awal bulan April mendatang.

Dalam pembicaraan damai, al-Muslat merasa kesal karena pihak rezim Assad tidak pernak serius untuk mencari solusi. Bahkan, delegasi rezim hanya membuang-buang waktu di Jenewa.

“Jenewa bukanlah tempat untuk membahas Golan Heights atau isu-isu lain yang tidak berkaitan dengan negosiasi Suriah. Kami mencoba untuk menyelamatkan rakyat Suriah dari bom barel tetapi mereka malah membicarakan isu-isu non logis,” ungkapnya.

Seiring berjalanya waktu negosiasi di Jenewa, pihak PBB membeberkan bahwa rezim Assad telah menghalang-halangi konvoi bantuan PBB yang hendak dikirim ke Douma dan Darayya.

“Kami tidak memiliki izin untuk pergi ke enam daerah yang terkepung. Kami telah mendapat jaminan lisan dari rezim tadi malam dan pagi ini. Tiga atau empat dari enam daerah akan dibahas,” paparnya.

Akhir-akhir ini, rezim Bashar al-Assad malah meningkatkan blokade di Suriah dengan mengepung 25 daerah, naik dari 12 wilayah sebelumnya.

Konvoy bantuan kemanusiaan telah memasuki wilayah yang diperangi, Al-Houla, di pusat provinsi Homs pada Selasa (22/3/2016), ujar laporan aktivis lokal yang mengatakan bahwa puluhan desa di Houla masih berada dalam pengepungan parah selama lebih dari empat tahun.


27 kendaraan sarat dengan makanan dan bantuan medis telah mencapai kota-kota yang diperangi di wilayah Houla, ujar juru bicara Palang Merah Internasional di kota Kafr Iaha seperti dilansir Zaman Alwasl pada Rabu (23/3).

Rusia akhirnya mengakui menempatkan pasukan elit di Suriah untuk membantu menentukan target jet tempur Rusia dan melatih militer lokal. Ini merupakan pengakuan pertama Rusia sejak campur tangan dalam konflik Suriah.

“Saya tidak ingin menyembunyikan bahwa unit pasukan elit kami bertugas di wilayah Suriah,” ungkap Panglima Militer Rusia, Jenderal Alexander Dfornekov, Rabu (23/03), seperti dikuti Al-Jazeera dari kantor berita Rusia Interfax.

pasukan elit rusia
Dia menjelaskan, pasukan elit itu membantu mengumpulkan informasi target serangan udara dan mengarahkan jet tempur ke sasaran di wilayah-wilayah terpencil serta misi khusus lainnya.

Alexander menambahkan, para instruktur militer kami juga aktiv di Suriah di berbagai misi. Mereka juga membantu militer Suriah merencanakan dan meluncurkan operasi militer.

Menurutnya, pasukan elit itu telah memberi kontribusi terhadap pengkaderan instruktur militer lokal. Mereka juga sukses melatih pasukan rezim dan milisi Kurdi serta gerilyawan lainnya.

Di saat yang sama, Alexander mengklaim serangan udara Rusia berhasil menewaskan dua ribu lebih “teroris” (baca: kaum muslim) di Suriah. Peran jet tempurnya juga memberi banyak kontribusi bagi kemajuan pasukan rezim.

Klaim jenderal Rusia ini bertolak belakang dengan laporan jaringan HAM Suriah yang dilansir dua pekan lalu. Menurut laporan HAM, selain mujahidin korban tewas tersebut dari kalangan sipil dengan jumlah 1.984 orang.

Pejuang FSA pada Selasa (22/3/2016) meluncurkan serangan balasan terhadap pasukan rezim Suriah di pedesaan timur laut provinsi Hama, membunuh sedikitnya 10 tentara, ujar laporan aktivis lokal.

Hashem Al-Rimi, aktivis Suriah yang berbasis di Hama, mengatakan kepada Zaman Alwasl bahwa pasukan FSA menyerang pos pemeriksaan rezim Al-Dhobbat dan Al-Karah, meninggalkan 10 tentara tewas.

Sementara itu, pasukan rezim Suriah menargetkan kota Kafr Zeita dengan artileri berat saat helikopter mereka menyerbu daerah pinggiran kota.


Di kota tetangga, Khan Sheikhoun, jet tempur rezim telah meluncurkan serangan rudal dan mengakibatkan sejumlah warga sipil terluka.

Pihak oposisi Suriah mengabarkan bahwa rezim Assad kembali meluncurkan pengepungan baru di kota-kota dan desa-desa di seluruh wilayah Suriah.

Pemimpin delegasi oposisi, Asaad Al-Zoubi mengatakan bahwa pasukan Bashar Assad telah meningkatkan blokade di Suriah dengan mengepung 25 daerah, naik dari 12 wilayah sebelumnya.


(22/3) - Rezim serang dengan tembakan mortar di distrik Jobar, pinggiran Damaskus

Rezim Bashar Assad sekarang menciptakan pengepungan baru. Ada juga pengepungan baru di Homs, Aleppo dan Latakia

Mengenai Rusia di Suriah, pemimpin kolompok Jaisyul Islam, Mohamed Allush memaparkan bahwa intervensi Moskow di Suriah hanyalah tindakan pembantaian terhadap warga Suriah dan penghancuran terhadap berbagai bangunan yang ada seperti sekolah-sekolah dan pusat medis.

“Intervensi Rusia di Suriah adalah tindakan agresi yang menyebabkan banyanya pembantaian, penghancuran sekolah, pusat kesehatan dan rumah sakit dan mengakibatkan adanya pengungsian besar-besaran,” jelasnya.

pasukan rusia di suriah
Menurutnya, penarikan beberapa jet tempur Rusia hanya karena disebabkan kurangnya biaya yang merupakan manuver belaka, yang bukan merupakan penarikan total.

“Penarikan parsial baru-baru ini karena disebabkan bertanya biaya intervensi, kami percaya bahwa hal ini adalah manuver belaka daripada penarikan asli yang berarti,” ungkapnya.

Beberapa hari yang lalu, Kolonel Pat Ryder yang merupakan pejabat pertehanan AS mengatakan bahwa operasi Rusia di Suriah masih akan berlanjut walau telah menarik sejumlah jet tempur dari negara tersebut.

Bahkan, Vladimir Putin masih menempatkan sejumlah helikopter dan pesawat transportasi di wilayah Suriah. Selain itu, tentara Rusia juga masih menembakkan arliteri mereka guna mendukung rezim Bashar al-Assad.

Pemerintah Moskow juga masih masih mempertahankan sistem rudal S-400 di Suriah guna menjaga rezim Assad, termasuk bila ada serangan udara dari pihak musuh mereka di Suriah.

“Dalam rangka untuk menjamin keamanan yang ada, termasuk bila ada serangan udara. Sistem pertahanan udara yang paling canggih ini masih diperlukan,” papar Staf Kepala Pemerintahan Kremlin, Sergei Ivanov.

Sumber: Anadolu Agency

Seorang pejabat senior keamanan Irak mengatakan pada Ahad (20/3/2016) bahwa Iran telah mengirimkan milisi Irak ke Suriah dalam rangka mengisi kekosongan pasca Rusia menarik pasukannya baru-baru ini.

“Para pemimpin Pasukan Quds dari Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan perintah kepada milisi di Irak untuk mengirimkan milisinya ke Suriah, dan untuk memperkuat kehadiran Iran di wilayah Suriah, dan mengisi kekosongan yang terjadi pasca Rusia menarik pasukan,” ungkap sumber itu, sebagaimana dilansir ElDorar AlShamia, Ahad (20/3/2016).

alquds-milisi-syiah-irak

Pejabat Irak mengatakan bahwa sebuah pertemuan antara pemimpin IRGC dengan pemimpin Asa’eb Ahl al-Haq, Organisasi Badr, Abu al Fadl al Abbas, milisi “Hizbullah” dan Nujaba, serta pejabat di pemerintah Irak; digelar untuk membahas penarikan pasukan Rusia dari Suriah.

Pejabat keamanan, yang meminta anonimitas, mengatakan bawa pertemuan itu meliputi penerbitan indikasi baru, yang mengharuskan pengiriman lebih banyak milisi ke Suriah untuk membela rezim Assad, setelah hal itu menjadi perhatian pasca Rusia menarik pasukannya, di tengah janji IRGC untuk mengirim ratusan milisinya selama jangka waktu tidak melebihi satu bulan.


al-jaulani

Lima tahun revolusi Suriah menjadi momen penting bagi Jabhah Nusrah, salah satu faksi oposisi yang eksis semenjak awal revolusi Suriah.

Dalam sambutan memperingati 5 tahun revolusi, Amir Jabhah Nusrah Abu Muhammad Al-Jaulani menyampaikan bahwa perjuangan masih akan berlanjut. Era kali ini dinilai sebagai penghujung era penantian menjelang kemenangan.

“Saat ini Syam berada di era baru, dalam melanjutkan estafet perjuangan dan melangkah menuju kemuliaan,” ungkap Al-Jaulani dalam sambutan tertulisnya seperti dikutip dari Arabi21 pada Jum’at (18/03).

Dalam sambutannya,Jabhah Nusrah kembali menegaskan bahwa mereka adalah bagian dari Suriah. Jabhah Nusrah bersumpah tetap akan berjuang sampai benar-benar memperoleh kemenangan.

“Kami adalah bagian dari Suriah, dan Suriah adalah bagian dari kami. Tidak ada satu pun yang bisa memisahkan kami darinya, kecuali kematian Insya Allah. Kami kembali bersumpah akan berjuang hingga hembusan nafas terakhir,” lanjutnya.


Abu Muhammad Al-Jaulani juga melayangkan pujian atas ketabahan rakyat Suriah dalam menghadapi lima tahun revolusi.

“Berbahagialah engkau wahai penduduk Syam! berbahagialah, Allah cerahkan kampung halamanmu dengan terbitnya kemilau fajar yang membawa generasi baru,” ungkapnya.

“Perang kalian adalah bukti, amalan kalian merupakan keunggulan, jihad kalian telah mengalahkan mereka (musuh), kesabaran kalian merupakan suatu kebanggaan,” tambahnya.

Selain itu, secara tidak langsung dalam surat terbuka itu, Al-Jaulani juga memuji aksi protes massa sipil yang menginginkan berlanjutnya revolusi Suriah.

“Maka bagi siapa yang berada diantara rasa sakit dan penderitaan, meskipun di tengah kezaliman dan penindasan, lalu keluar untuk mendapatkan kembali kemuliaan dan kejayaan itu,” lanjutnya.

Jabhah Nusrah merupakan faksi oposisi yang eksis semenjak awal revolusi. Tercatat sebagai cabang Al-Qaidah di Suriah dan mulai beraksi di akhir 2011 setelah hampir delapan bulan pasca dimulainya revolusi Suriah.

Gesekan antara faksi yang memerangi rezim Bashar Assad kembali terjadi. Kali ini, Jabhah Nusrah terlibat baku tembak dengan faksi Divisi 13, yang mendapat dukungan senjata dan dana dari negara asing. Sejumlah pejuang dilaporkan terbunuh dan Jabhah Nusra berhasil mengontrol markas Divisi di bawah naungan Free Syrian Army (FSA) itu.

Maarrat al-Numan jabhah nusra fighting

Jabhah Nusra dalam pernyataan yang diunggah di internet menjelaskan kronologi penyerangan anggota terhadap markas Divisi 13. Menurutnya, pihaknya hanya membela diri dari kejahatan yang dilakukan Divisi 13.

Pernyataan tertanggal 13 Maret 2016 itu menjelaskan, insiden tersebut terjadi ketika sekelompok anggota Divisi 13 menyerang rumah sejumlah anggota Jabhah Nusra di kota Marrah Nukman, Idlib. Kemudian, anggota Jabhah Nusra berdatangan dan mendirikan pos militer di sekitar wilayah tersebut untuk melindungi rumah dan keluarga pejuang.

Namun tiba-tiba sebuah mobil milik Divisi 13 mendekat dan melepaskan tembakan ke arah kerumumunan anggota. Seorang anggota Jabhah Nusra bernama Abu Yahya Al-Anshari terbunuh akibat berondongan peluru tersebut. Serangan itu membuat pejuang kami menindak tegas Divisi 13.

Dalam pernyataan tersebut, Jabhah Nusra menyeru ulama membentuk pengadilan Syariah independen untuk menyelesaikan konfik tersebut. Jabhah Nusra menyatakan tidak ragu-ragu menyerahkan anggotanya jika memang bersalah.

Cabang Al-Qaidah Suriah itu juga menegaskan siap duduk bersama faksi lain dan ulama untuk menyelesaikan segala permasalahan. Jabhah Nusra tidak ingin jihad di Suriah terpecahnya kesatuan seluruh faksi pejuang.

“Kami tegaskan, kami tidak mengangkat senjata kecuali terhadap orang yang menyerang kami,” tegas Jabhah Nusra menutup pernyataan tersebut.

Sumber: Reuters Arabic, elwatannews

(12/3) - Beberapa faksi Islam dan FSA terlibat pertempuran sengit dengan pasukan Rezim di Kafr Nabudah, utara Provinsi Hama. Kerugian banyak dialami pasukan Rezim, selain jatuhnya pesawat tempur ada juga daerah yang berhasil direbut mujahidin.


Pejuang dari Divisi FSAberhasil hancurkan Senjata misil 14,5 mm dengan rudal TOW


Mujahidin dari Jaysh Nashr, Ahrar Syam, dan Jabhah Nusra berhasil kuasai Desa Al-Sakhr, selatan Kafr Nabudah

Mujahidin dari faksi Jaisyul Islam berhasil menjatuhkan pesawat tempur MiG-21 milik Rezim Suriah di dekat desa Kafr Nabudah, provinsi Hama. Demikian dilaporkan Arabi21, Sabtu (12/03).

Pemimpin Jaisyul Islam, Zahran Alloush mengonfirmasi tentang hal ini dalam twitternya. “Jaisyul Islam telah menembak jatuh pesawat tempur Rezim yang menyerang desa Kafr Nabudah,” katanya.

Peristiwa ini secara langsung direkam oleh Jaisyul Islam dalam sebuah tayangan video, dan diunggah di situs Youtube. Terlihat, pesawat mengeluarkan asap setelah rentetan tembakan mengenainya.



Salah satu sumber mengatakan, pilot dapat menyelamatkan diri dengan parasut dan mendarat di desa Kafr Naz tempat pasukan Rezim berkumpul. Sedangkan pesawat yang dikendarainya jatuh di Mahardeh, desa sebelahnya.

Kurang lebih 27 pelanggaran terjadi pada hari kesembilan gencatan senjata di Suriah. Sehingga jumlah pelanggaran dalam tempo 10 hari gencatan senjata mencapai 339 pelanggaran.

Jaringan HAM Suriah mengatakan bahwa rezim Assad melakukan 12 pelanggaran pada hari kesembilan. Sementara tiga pejuang oposisi juga dikabarkan tewas pada hari Senin (07/03), sehingga jumlah korban yang tewas sejak gencatan senjata menjadi 67 orang, termasuk warga sipil.

Dalam pernyataan tersebut, pasukan rezim Assad juga telah melanggar sebuah perjanjian dengan melancarkan operasi bersenjata lima kali di wilayah Damaskus, lima kali di Hama, dan dua kali di daerah Homs.

Selain itu, rezim Assad juga melakukan operasi penangkapan di Lattakia, Hama, Tartous dan di Homs. Sementara itu, pasukan Kurdi juga menangkap tiga orang di kota Afrin, provinsi Aleppo.

Mengenai gencatan senjata, sebenarnya rezim Assad kerap kali melanggar ketentuan yang ada. Bahkan pasukan rezim Assad telah melakukan 52 pelanggaran termasuk terlibat dalam 19 bentrokan dan melakukan 32 penahanan dalam sehari.

Bahkan, pasukan rezim Assad juga mencegah masuknya konvoi bantuan kemanusiaan untuk memasuki kota Mudamiyat al-Syam di provinsi Rif Dimashq. Bahkan mereka juga terlibat dalam 15 insiden pertempuran darat.

Menurut laporan yang beredar sebelumnnya, pasukan rezim Assad telah melakukan berbagai pelanggaran di wilayah Hama, Homs, Idlib, Rif Dimashq dan provinsi Daraa. Dua hari lalu, tentara rezim maupun Rusia juga masih melakukan penyerangan walau kesepakatan gencatan senjata telah berlangsung.

Serangan yang terjadi di Idlib ini sendiri telah menewaskan 15 orang dan melukai empat puluh lainnya. Selain menewaskan belasan orang, serangan yang dilakukan rezim Assad ini juga mengakibatkan kebakaran pada beberapa toko di wilayah tersebut.

Sementara itu, pasukan Rusia juga telah melakukan dua pelanggaran di wilayah Idlib dan Hama.

Sumber: Middle East Monitor

Kabar Gembira untuk Menyejukan Hati
oleh : Abdullah al-Muhaysini



AsSalaamu alaikum wa rahmatullahi wa Barakatuhu

... maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka ... [QS. al-Hasyr : 2]

Saudaraku tercinta .. untuk menyelesaikan tweet saya sebelumnya mengenai Prasangka yang baik kepada Allah- subhanahu wa ta'ala, saya katakan: ada sesorang yang bertanya: "Bagaimana kita bisa memiliki prasangka yang baik kepada Allah ?

Dan beberapa orang mengatakan: "Kami memiliki prasangka yang baik kepada Allah, namun kenyataannya berbeda, karena melihat ruang gelap dan tidak melihat apa-apa, jadi bagaimana bisa kita diberikan kemenangan ?!

Bagaimana Anda bisa yakin, sementara kita tidak melihat adanya jalan terang dan tidak ada harapan kembali dari serangan dan blokade ?! Bagaimana Anda bisa yakin saat Anda melihat perpecahan faksi ?!

Bagaimana Anda bisa yakin saat Anda melihat kemajuan musuh ?!

Bagaimana Anda bisa yakin sementara kita melihat dekat dan jauh mengkhianati kita, dan kita melihat diamnya dunia - justru merencanakan melawan kita - dan itu sikap musuh terhadap kita ?! "

Saya katakan: Pandangan yang pesimis karena belum menelaaah Kitabullah, ia tidak membaca firman Allah: "... maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka ...".

Dia tidak membaca dan merenungkan .. "maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka ..."

"maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka" adalah ayat yang saya pernah membaca satu hari, adalah yang membuat saya yakin sehingga memenuhi pikiran dan tubuh saya, kemudian mengalir melalui pembuluh darah saya .. Itulah firman dari Allah - Yang Maha Kuasa dan Bijaksana !

"maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka", Kaum Nabi Nuh - alayhis-salam - tidak menyangka bahwa perahu yang dibuat akan menyelamatkan Nuh dan orang-orang yang bersamanya.

Mereka tidak menyangka bahwa bumi akan tertutupi air, dan bahwa air akan menggenangi segala sesuatu dan itulah ajal mereka, ...

Tidak ada yang mengira bahwa tongkat kayu di tangan Musa akan membelah laut, kemudian Musa dan kaumnya bisa menyeberang, sementara Fir'aun dan tentaranya tenggelam ... "maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka".

Namrud tidak menyangka bahwa Allah akan mencabut nyawanya dengan makhluk yang paling lemah, sehingga Allah melenyapkan dia dengan seekor nyamuk, dan ia tidak menyangka bahwa akan terjadi ... "maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka".

Tidak ada yang menyangka bahwa Nabi Ibrahim - alayhis-salam - akan aman dan keluar hidup-hidup dari kerumunan api yang menyala, dan mereka pikir Nabi ibrahim akan mati ... "maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka".

Dan selamatnya Ibrahim - alayhis-salam - adalah meruntuhkan keyakinan mereka. Allah menyelamatkannya dari api yang berkobar meliputi dirinya, dan Allah menyelamatkan orang-orang beriman.

Kaum Luth - alayhis-salam - tidak menyangka bahwa ajal mereka dimana Allah mengirim malaikat untuk mengangkat desa mereka yang tinggi dan membalikannya.

Dan orang-orang dari 'Ad tidak menyangka bahwa Allah akan mengirim kepada mereka angin besar sehingga melenyapkan mereka. Dan kaum Tsamud tidak menyangka bahwa Allah akan menghancurkan mereka dengan teriakan yang memotong hati mereka dan menjadikan mereka mayat yang tak berdaya.

"maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka" .. Para Mufasirin mengatakan dalam makna itu: dengan kata lain: sehingga keputusan Allah datang kepada mereka sebagaimana tidak menyangka akan menimpa mereka, sebagaimana mereka tidak memperhitungkan dan sebagaimana mereka tidak mengetahui.

Karena itu, Saya menemukan pelajaran, bahwa dibalik skenario yang terlihat  - maka ada skenario yang tidak terlihat .. "maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka".

Maka harus memliki keyakinan dan prasangka yang baik kepada Allah. Dan ketika Allah menginginkan sesuatu, cukup berkata "kun Fayakun". Dengan dua huruf "kun Fayakun" maka Bashar dan orang-orang yang bersamanya akan Allah musnahkan.

Rusia dan Amerika dimusnahkan, hanya sekejap mata Allah merubah suatu keadaan ke keadaan yang lain. Dan itu tidak sulit bagi Allah, dan hari itu kemenangan dengan pertolongan Allah.

Mari kita bersungguh-sungguh dan beramal, menyerahkan sebab dan hasilnya di tangan Allah. Dan Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya dan tidak akan meneguhkan musuh-musuhnya dan tidak akan mengkhianati pasukannya. Maka berimanlah kepada Rabb kalian.

Kita memohon kepada Allah semoga secepatnya menolong penduduk Syam, dan menimpakan dengan segera siksanya dan hukuman untuk para penindas.

Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

Sumber : https://justpaste.it/mhesny102

Koalisi Nasional untuk Kekuatan Oposisi Suriah menyeru anggota milisi Kurdi PYG, sayap militer Partai Uni Demokratik Kurdi (PYD), membelot dan kembali ke barisan revolusi Suriah dan bertempur bersama Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) memerangi Bashar Assad. Seruan ini dikeluarkan menyusul pergerakan milisi Kurdi yang merebut wilayah oposisi.

“Para komandan kalian memperdagangkan darah dan nyawa kalian untuk melindungi thata tiran, yang juga menangkapi, memblokade, mengusir dan membunuhi warga Kurdi,” seru Wakil Koalisi Nasional Oposisi Suriah, Abdul Hakim Bashar, seperti dilansir Al-Araby Al-Jadid, Selasa (08/03).

Bashar melanjutkan, arahkanlah senjata kalian kepada rezim Suriah dan Organisasi ISIS bukan kepada warga Suriah yang sudah bebas. Kalian membunuh seorang warga Suriah yang bukan pembela rezim atau anggota ISIS, sama saja kalian membunuh seluruh Kurdi.

Pasukan Demokratik Suriah (sayap milisi Kurdi PYG) merebut sejumlah desa dan kota yang dikontrol pejuang oposisi. Daerah penting yang mereka rebut adalah bandara militer Manag dan kota Tel Rafaat. Di saat bersamaan, internasional menuduh Kurdi melakukan pengusiran etnis di sejumlah kota di Suriah.

Milisi Kurdi mendapat kemajuan besar di wilayah Suriah Utara setelah berhasil merebut kota-kota yang dikontrol ISIS. Kemajuan itu tak lepas dari dukungan koalisi pimpinan AS, baik dari udara maupun darat.

Mereka ingin mendirikan negara Kurdi merdeka, lepas dari rezim maupun oposisi Suriah. Keinginan tersebut membuat khawatir Turki, karena banyak warga Kurdi tinggal di negara tetangga Suriah itu.

Sumber: Al-Araby Al-Jadid

Daraa – Militer Suriah bersama milisi-milisi pendukungnya, Rabu (09/03), menyerbu sejumlah daerah di dekat perbatasan Suriah-Yordania. Ini merupakan serangan darat yang diluncurkan militer Suriah di tengah gencatan senjata sejak sepekan lalu.


Kondisi Masyarakat di Al-Yadudah pada 4 maret 2016 yang lalu

Wartawan Al-Jazeera di Provinsi Daraa melaporkan bahwa pejuang oposisi menghadang serangan militer Suriah di daerah Halq Ar-Rami yang terletak dekat dengan perbatasan Suriah-Yordania. Pergerakan militer Suriah itu dari kota Al-Yadudah dan Kharab Asy-Shukmah.

Menurut para komandan pejuang, serangan ini bertujuan merebut sejumlah daerah di dekat berbatasan Yordania. Rezim ingin memutus jalur logistik oposisi antara pedesaan Daraa Barat dan Timur.

Pejuang Suriah mengontrol penuh perlintasan perbatasan yang menghubungkan Suriah-Yordania pada April tahun lalu. Kemengangan itu diraih setelah mujahidin meluncurkan operasi bersama yang memecah pertahanan militer Suriah.

Militer Suriah mengosongkan pos-pos militer di wilayah tersebut. Mereka melarikan diri setelah tidak mampu menahan serangan sengit mujahidin.

Menurut aktivis, faksi-faksi mujahidin yang terlibat dalam operasi perebutan daerah strategis itu di bawah payung Pasukan Pembebasan Suriah (FSA). Pejuang dari Liwa Yarmuk yang mendominasi pertempuran itu.

Di sisi lain, mujahidin Jabhah Nusrah menegaskan ikut andil dalam pertempuran itu.  Jabhah Nusrah merilis video yang memperlihatkan bahwa pejuangnya berhasil merebut sejumlah daerah di perbatasan negara tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Asharq al-Awsat, Kurtulmus mengatakan bahwa rakyat Suriah harus memiliki keputusan akhir tentang nasib rezim Bashar al-Asad, sebagaimana dilansir oleh Al Bawaba, Senin (7/3/2016).

turki-wakil-perdana-menteri
“Apa yang terjadi di Suriah adalah sebuah perjanjian Sykes-Picot baru,” ungkap Kurtulmus, mengacu pada perjanjian rahasia setelah Perang Dunia I antara Inggris dan Perancis yang ingin menancapkan pengaruh mereka pasca-perang di Timur Tengah.

Dia mengatakan bahwa ada kekuatan tertentu yang berusaha untuk memaksakan “fase baru” dari perjanjian yang bertujuan untuk membagi-bagi beberapa negara di kawasan itu.

“Fokus utama dari beberapa kekuatan tersebut adalah untuk membagi negara-negara Islam di sepanjang garis sektarian dan etnis dalam upaya untuk menciptakan lebih banyak masalah antara kelompok etnis,” katanya.

Dia mengatakan, ada pihak-pihak tertentu yang sekarang berbicara tentang pembagian Suriah menjadi tiga entitas yang berbeda.

“Faktanya adalah bahwa Suriah dapat dibagi menjadi 30 atau 40 bagian yang berbeda,” ungkapnya.

(6/3) - Serangan pesawat tempur Rusia menargetkan sebuah pasar di Abu Dluhur, provinsi Idlib. Jabhah Nusrah merilis video terkait kejadian ini dimana penduduk melakukan evakuasi terhadap para korban.



Hal yang serupa, terjadi juga di beberapa wilayah lainnya. Serangan udara Rusia dan Rezim Suriah menyebabkan banyak korban di kalangan warga sipil.






Kampanye penyadaran terkait pentingnya faksi-faksi pejuang keluar dari gencatan senjata masih terus dilakukan anggota Hizbut Tahrir Suriah. Kegiatan kali ini dilakukan menggunakan konvoi kendaraan mengelilingi sepanjang pedesaan utara Idlib.



Kampanye penyadaran ini sudah dilakukan selama 3 pekan semenjak bulan februari. Hizbut Tahrir wilayah Suriah terus berupaya keras menyadarkan umat dan faksi-faksi jihad agar membawa islam sebagai solusi permasalahan di Suriah serta menjauhkan diri dari konspirasi Barat.


Pasukan AS telah mulai membangun dua bandara di pedesaan Hasaka dan Aleppo untuk misi militer dan tugas-tugas sipil, ungkap beberapa sumber dan aktivis Kurdi.


Sebagaimana dilansir oleh Orient Net, Ahad (6/3/2016), pembangunan bandara yang pertama dipilih agar dekat dengan Bandara Pertanian di al-Rumaila di pedesaan Hasaka, dan dilaporkan bahwa landasan pacunya telah selesai. Bangunan itu ini diawasi oleh penasihat militer dan pengusaha AS.

Bandara kedua akan dibangun di sekitar pedesaan Khrab Ashek, sebelah tenggara dari Ayn al-Arab, dan bandara itu akan digunakan untuk misi sipil dan militer, ungkap media Kurdi.

Upaya-upaya besar sedang dilakukan oleh pasukan AS untuk menyelesaikan pembangunan dua bandara itu sesegera mungkin, menurut laporan aktivis Kurdi.

AS mempertimbangkan untuk mengerahkan pesawat pengebom raksasa B-52 Stratofortress ke Suriah April mendatang. Pesawat ini mampu menjatuhkan bom seberat 32 ton.


B-52 akan menggantikan sejumlah pesawat pengebom supersonik B-1 Lancer yang kini telah kembali berada di markas Angkatan Udara di Texas, AS setelah beberapa bulan melakukan pengeboman di dekat Kobani, Suriah.

Sebagaimana dilansir RT (5/3/2016), belum diungkapkan berapa banyak B-52 yang akan diturunkan. Masih belum diketahui juga dari pangkalan udara mana pesawat pengebom terbesar AS itu akan beroperasi.

Selama lebih dari setahun pesawat tempur AS lepas landas dari pangkalan udara di Arab Saudi dan Qatar untuk melakukan operasi militer di Irak. Sedangkan untuk operasi di Suriah, AS menggunakan pangkalan udara yang berada di Incirlik, Turki.

Kamis malam (3/3), Mujahidin menimpakan kerugian besar bagi pasukan Assad ketika mereka mencoba melakukan serangan ofensive di pedesaan selatan Aleppo dalam pelanggaran gencatan senjata.

gagalkan_tentara_rezim_suriah

Kantor Media Ahrar al-Sham melaporkan bahwa mujahidin berhasil meledakan tiga mobil sarat dengan milisi Assad, mencoba untuk maju dari kota al-Jarmak menuju kota Rasm Amish di Jabal al-Hoss, pedesaan selatan Aleppo.

Ini adalah upaya kedua pasukan Assad untuk maju masuk ke kota selatan Rasm Amish dalam waktu kurang dari 24 jam, dimana sebelumnya pada hari rabu (2/3) mujahidin berhasil menggagalkan serangan Rezim, membunuh dan melukai banyak elemen dalam barisan mereka.

سم الله الرحمن الرحيم
AMERIKA DAN RUSIA MEREKAYASA
GENCATAN SENJATA SURIAH

Banyak media pada 22/2/2016 menyebarluaskan teks pernyataan bersama Amerika dan Rusia seputar gencatan senjata. Di dalamnya antara lain dinyatakan: Amerika Serikat dan Rusia, sebagai dua partisipan utama dalam kelompok internasional untuk mendukung Suriah dan kelompok kerja penghentian peperangan, pada 22 Februari 2016 mengumumkan pengadopsian syarat-syarat gencatan senjata di Suriah…Keduanya mengusulkan inisiatif penghentian aksi permusuhan pada pukul 00.00 waktu Damaskus, 27 Februari 2016…Setiap pihak mengumumkan kepada Rusia atau Amerika Serikat dalam waktu tidak lebih dari pukul 12.00 waktu Damaskus 26 Februari 2016. Masing-masing mengumumkan komitmen dan penerimaan atas syarat-syarat gencatan senjata, di antaranya: melaksanakan Resolusi DK PBB no. 2254 secara penuh; siap berpartisipasi dalam perundingan politik yang dijalankan oleh PBB; menghentikan serangan dengan jenis senjata apapun termasuk rudal, mortir, rudal anti tank; dan berhenti mendapatkan atau berusaha mendapatkan wilayah dari pihak lain yang terlibat dalam gencatan senjata (Al-Arabiya.net, 22/2/2016).

Setelah itu Oposisi Riyadh setuju. Dinyatakan: …Riyad Hijab, pemimpin Komite Tinggi Perundingan, mengumumkan persetujuan Komite atas poin-poin kesepakatan gencatan senjata, sebagai kompensasi atas sejumlah jaminan internasional (Al-Arabi al-Jadid, 22/2/2016).

Kemudian rezim diktator Suriah juga menyatakan setuju. Dinyatakan: Republik Arab Suriah mengumumkan menerima penghentian perang, tetapi dengan tetap melanjutkan upaya militer memerangi terorisme melawan ISIS, Jabhah an-Nushrah, organiasi teroris lainnya dan al-Qaeda sesuai pengumuman Rusia-Amerika (Russia Today, 23/22016).

Dinyatakan pula: Pada hari Senin 22/2/2016, di dalam pesawat saat kembali ke Washington, John Kerry memberitahu para menlu Inggris, Prancis, Jerman, Arab Saudi, Qatar dan Turki tentang kesepakatan itu. Ini menurut pernyataan salah seorang pejabat senior di Kementerian Luar Negeri Amerika (Ash-Sharq al-Awsath, Rabu, 24/2/2016).

Wahai Kaum Muslim

Orang yang mendalami teks gencatan senjata ini bisa melihat bahwa Amerika dan Rusia telah mengerahkan upaya besar untuk persetujuan gencatan senjata ini. Dalam Pertemuan Wina 12/2/2016 tercapai persetujuan atas gencatan senjata selama beberapa minggu. Lalu Kerry dan Lafrov kembali melakukan pertemuan berturut-turut dan menetapkan tenggat baru gencatan senjata, 27/2/2016. Terjadilah tekanan kuat Amerika terhadap oposisi. Bahkan utusan Amerika ke Suriah Michael Ratney tinggal di tengah-tengah mereka untuk mengambil persetujuan mereka!

Pendalaman atas gencatan senjata ini memperlihatkan betapa racun bertebaran memenuhi wadahnya. Pertama: Gencatan senjata ini mensyaratkan semua pihak yang bermusuhan agar menyetujui upaya rekonsiliasi (pemulihan) yang menghinakan dengan rezim Suriah untuk menyelesaikan krisis Suriah. Kedua: Gencatan senjata itu menilai setiap orang yang tidak masuk di bawah syarat-syarat gencatan senjata ini sebagai teroris. Hal itu tidak terbatas pada yang telah mereka umumkan, yaitu ISIS dan Jabhah an-Nushrah. Namun, setiap orang yang tidak setuju atas upaya damai dengan rezim diktator Suriah dinilai sebagai teroris. Ada sejumlah faksi yang tidak setuju atas upaya damai yang menghinakan dengan rezim. Mereka semuanya dibombardir dan dibunuhi sesuai teks perjanjian itu. Jika kita memahami bahwa sikap menolak upaya damai yang menghinakan adalah jantung keagungan warga Syam, maka jelas warga Syam atau mayoritas dari mereka adalah teroris dalam pandangan Amerika dan Rusia.

Isu terorisme diambil Amerika dan Rusia untuk dijadikan sandaran atas berbagai serangan brutalnya terhadap warga Suriah. Amerika memulai serangannya atas Suriah pada 23/9/2014 dengan nama Koalisi Amerika. Lalu Amerika mengundang Rusia dalam kesepakatan busuk melalui pertemuan Obama dan Putin selama 90 menit di New York, 29/9/2015. Di dalamnya dibahas Krisis Suriah dan juga menyinggung Krisis Ukraina. Dalam konferensi pers, Putin mengumumkan kemungkinan mengarahkan serangan udara Rusia di Suriah untuk mendukung mereka yang ada di medan pertempuran memerangi terorisme. Seorang pejabat Amerika mengatakan, Obama dan Putin sepakat agar ada pembicaraan antara militer kedua negara untuk menghindari kemungkinan terjadinya konflik apapun selama operasi di Suriah (Russia today, AFP, Reuters, AP as-Safir, 30/9/2015).

Setelah pertemuan keduanya, siang 30/9/2015, Rusia memasuki Suriah dengan rudal-rudal dan pesawat-pesawatnya. Rusia mengumumkan perang terhadap teroris. Mengikuti Amerika, Rusia menjadikan kata teroris berlaku atas semua perlawanan bersenjata terhadap rezim Suriah. Sekarang bahkan kata teroris diperluas agar mencakup semua pihak yang menolak upaya damai yang menghinakan dengan rezim Suriah. Dinyatakan: Departemen Luar Negeri Rusia mengumumkan, “Serangan Rusia adalah menyiapkan suasana untuk memerangi teroris dan berikutnya untuk negosiasi Suriah-Suriah.” (Russia today, 10/2/2016).

Wahai kaum Muslim

Sungguh tidak aneh jika Amerika dan Rusia merajut benang-benang kejahatan terhadap warga Syam, bahkan seluruh kaum Muslim. Mereka adalah musuh Islam dan kaum Muslim. Namun, yang lebih aneh, ikut bergabung pula orang-orang atas nama oposisi rezim dan atas nama warga Syam, bahkan dengan nama islami, lalu bersegera menyetujui gencatan senjata yang menghinakan itu! Gencatan senjata ini adalah untuk melindungi rezim Suriah sampai batas waktunya. Amerika tidak ingin Bashar tumbang sebelum Amerika menemukan pengganti khianat semisal Bashar, yang melayani kepentingan Amerika dan menjaga pengaruh Amerika seperti yang dilakukan Bashar. Karena itu Amerika memperpanjang rezim Bashar dengan sarana-sarana busuk dan dengan dukungan antek-anteknya, dengan tipudaya dan penyesatan. Amerika adalah gembong permusuhan terhadap negeri kaum Muslim. Amerika memerangi kita di Syam, tidak hanya secara langsung, tetapi juga dengan beragam alat: lokal, regional dan internasional. Kadang dengan diktator Syam dan para begundalnya; melalui Iran dan partainya di Lebanon serta para pengikutnya dari Irak; kadang melalui perjanjian keji internasional. Lalu Rusia pun berjalan di jalur Amerika. Rusia berperang di Suriah untuk tujuan Amerika dalam sebuah kesepakatan yang sebetulnya merugikan Rusia. Putin menganggap bahwa dengan melayani Amerika di Suriah akan meredakan problem yang dihadapi Rusia terkait Ukraina. Namun, masalah Suriah terpisah dengan masalah Ukraina! Terjerumusnya Rusia dalam perang melawan kaum Muslim akan menjerumuskan Rusia dalam sejumlah bencana, termasuk lautan kemarahan kaum Muslim terhadap Rusia.

Amerika menyiapkan gencatan senjata besar sejak memulai rangkaian gencatan senjata kecil; mulai dari Gencatan Senjata Kofi Annan pada 10/4/2012, Gencatan Senjata Lakhdar Brahimi sampai ke Gencatan Senjata Barzah, Gencatan Senjata al-Qabun, Gencatan Senjata Kafraya dan Fu’ah di Idlib utara, serta az-Zabadani dan Madhaya di pedesaan Damaskus. Kemudian ada Gencatan Senjata al-Wa’ar, Desember 2015, yang dipuji oleh Presiden Amerika dan dia menyerukan agar gencatan itu diperluas secara lebih besar. Saat itu Presiden Amerika mengomentari Gencatan Senjata al-Wa’ar, bahwa itu mungkin diterapkan di Suriah pada tingkat yang lebih besar (Reuters, 9 Desember 2015).

Membatalkan gencatan senjata bukan hal baru bagi rezim diktator Suriah. Semua orang berakal mengetahui, melanggar perjanjian bagi rezim Suriah lebih ringan dari mengedipkan mata! Rezim telah melanggar semua perjanjian yang diikatnya. Orang yang berakal tidak dipatok ular dari lubang yang sama dua kali, lalu bagaimana jika orang dipatok dari lubang yang sama berkali-kali?! Rasul saw. bersabda:

«لاَ يُلْدَغُ المُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ»
Seorang Mukmin tidak dipatok ular dari lubang yang sama dua kali (HR al-Bukhari).

Gencatan senjata ini tidak akan menjaga keamanan bagi faksi-faksi hingga yang moderat sekalipun, bahkan juga warga sipil Suriah. Amerika dan Rusia telah memperluas makna kata teroris. Setiap orang yang menolak rekonsiliasi yang menghinakan dan khianat itu, dalam pandangan AS dan Rusia, akan dipandang sebagai teroris. Para penjahat itu lupa atau pura-pura lupa, mereka adalah poros dan sumber teroris sebenarnya. Mereka adalah pelaku pembantaian di Jepang, Vietnam, Irak, Afganistan; juga pelaku kebrutalan di Baghram, Abu Ghraib dan Guantanamo. Mereka adalah pelaku pembantaian di Grozny, Krimea dan Eropa Timur. Mereka adalah pelaku dan anak-anak kejahatan. Dengan izin Allah SWT mereka akan ditimpa api kejahatan mereka meski setelah beberapa waktu.

سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ
Orang-orang yang berdosa pasti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksaan yang keras karena mereka selalu membuat tipudaya (TQS al-An’am [6]: 124).

Kaum kafir tidak akan rela terhadap kaum Muslim, kecuali kaum Muslim menanggalkan agama mereka. Maha Benar Allah SWT Yang berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka (TQS al-Baqarah [2]: 120)

Wahai kaum Muslim, Wahai Faksi-Faksi Bersenjata, Wahai Warga Syam Pusat Dar al-Islam

Amerika dan para pengikutnya, Rusia serta Barat seluruhnya lebih penakut untuk mengadakan sendiri perubahan yang mereka inginkan. Mereka lebih hina untuk menegakkan hukum sekular dambaan mereka. Mereka bisa melakukan semua itu karena di tengah-tengah Anda ada para pengkhianat yang menjadi antek mereka, yang menjual agama mereka dengan harga sangat murah, yang dalam sekejap lenyap. Lihatlah Amerika di Afganistan. Seandainya tidak ada pengkhianat di Pakistan dan Afganistan, niscaya keberuntungan tidak akan berpihak pada Amerika. Lihatlah juga Amerika di Irak. Seandainya tidak ada antek-antek dari luar Irak yang menyertai Amerika di atas tank-tank mereka, dan para pengkhianat dalam negeri, niscaya Amerika tidak bisa menapakkan kakinya di sana. Begitu juga di Bumi Syam. Kekalahan kaum kafir penjajah di Syam adalah mudah jika tidak ada di tengah-tengah Anda pengkhianat dan antek Amerika dan Barat.

Karena itu jadilah tembok kokoh di depan kelemahan jiwa yang patuh sepenuhnya kepada para penjajah itu. Tindaklah mereka! Anda adalah ksatria-ksatria yang dengan tangan-tangan Anda, dengan izin Allah SWT, panji kebenaran akan menjulang dan panji kebatilan akan tersungkur.

إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap (TQS al-Isra’ [17]: 81).

Waspadalah! Janganlah kalian mendengarkan kaym munafik yang berkoar-koar meminta pertolongan orang kafir disebabkan kekuatan internasional mereka. Allah SWT lebih mulia dan lebih kuat.

أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Sesungguhnya semua kekuatan itu milik Allah (TQS an-Nisa’ [4]: 139).

Rasulullah saw. bersabda:
«إِنَّا لاَ نَسْتَعِينُ بِمُشْرِكٍ»
Kita tidak meminta pertolongan kepada orang musyrik (HR Abu Dawud).

Ketahuilah bahwa orang-orang munafik itu sangat berbahaya. Allah Yang Mahatahu lagi Maha Mengenal mendahulukan mereka untuk diazab sebelum kaum kafir.

إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا
Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam (TQS an-Nisa’ [4]: 140)

Rasul saw. juga bersabda di dalam hadis sahih:

«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ»
Sungguh yang paling aku takutkan atas umatku adalah setiap orang munafik yang pandai bersilat-lidah (HR Ahmad).

Sungguh, Hizbut Tahrir, pioner yang tidak membohongi warganya, menyampaikan kepada Anda, wahai warga Syam: Tetap teguhlah Anda di atas kebenaran yang bisa mengeluarkan Anda dari musibah ini. Jangan sampai Anda terpedaya oleh antek-antek munafik yang mendandani permintaan tolong kepada kaum kafir dengan sebutan “koalisi”; yang mengambil dana menjijikkan dari mereka dengan alasan “saling memberi hadiah”; serta yang tunduk di depan mereka dengan dalih itu adalah “muru’ah”.

كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلاَّ كَذِبًا
Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta (TQS al-Kahfi [18]: 5)

Sesungguhnya Syam merupakan pusat Dar al-Islam dan hampir-hampir menjadi nyata dengan izin Allah SWT. Penguasa diktator tengah berada dalam sekarat tarikan nafas terakhir, dan berikutnya ada Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
Allah berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui (TQS Yusuf [12]: 21).

[Diringkas dari Nasyrah berjudul “Hudnah Amn an-Nizhâm fî Myunikh Hâkathâ Amrîkâ wa min Tsamma Rûsiyâ…” yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir tanggal 15 Jumad al-Ula 1437 H/24 Februari 2016]
----------------------------//--------------------------------

amerika rusia sepakati gencatan senjata di suriah

keruntuhan khilafah maret 1924
28 Rajab 1342 H bertepatan dengan 3 Maret 1924 merupakan peristiwa penting yang perlu diingat kembali oleh umat Islam.  Saat dimana umat Islam secara resmi kehilangan  perkara penting dalam kehidupannya, yaitu khilafah Islam.  Pada tanggal itu lewat tangan kotor Kamal Atatürk  yang bekerjasama dengan negara imperialis Inggris,  Khilafah Islam dihapuskan.  Majelis Nasional Agung Turki dibawah kendali penuh Kamal yang penuh darah mengeluarkan tiga keputusan penting: menghapuskan kekhilafahan, menurunkan kholifah , dan mengasingkan kholifah bersama keluarganya.

Itu artinya lebih dari  92 tahun umat Islam telah hidup tanpa kepemimpinan Khilafah.  Padahal hukum syara’ berdasarkan ijma’ sahabat  hanya membolehkan umat Islam hidup tanpa kepemimpinan Kholifah selama 3 hari. Waktu yang sempit 3 hari ini  , harus digunakan oleh umat Islam untuk bersungguh-sungguh  mengangkat kembali Kholifah yang baru.

Ath-Thabari meriwayatkan bahwa Umar ra. benar-benar menegaskan pentingnya pembatasan waktu selama tiga hari untuk mengangkat khalifah dengan mengatakan:  “Jika saya meninggal maka bermusyawarahlah kalian selama tiga hari. Hendaklah Suhaib yang mengimami shalat masyarakat. Tidaklah datang hari keempat, kecuali kalian sudah harus memiliki amir (khalifah).”

Para Imam Madzhab sendiri telah menegaskan kewajiban mengangkat Kholifah ini ditengah-tengah umat Islam.  Imam Ibnu Hazm  dalam Al-Fashlu fi Al Milal wal Ahwa` wan Nihal  menegaskan telah sepakat semua Ahlus Sunnah, semua Murji`ah, semua Syiah, dan semua Khawarij akan wajibnya Imamah [Khilafah].
Pentingnya kewajiban Khilafah ini ditegaskan pula  oleh Syaikh Abdurrahman Al Jaziri dengan menyebutkan : “ para imam mazhab yang empat [Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad] rahimahumullah, telah sepakat bahwa Imamah [Khilafah] itu fardhu, dan bahwa kaum muslimin itu harus mempunyai seorang Imam (Khalifah) yang akan menegakkan syiar-syiar agama dan menolong orang yang dizalimi dari orang zalim. Mereka juga sepakat bahwa kaum muslimin dalam waktu yang sama di seluruh dunia, tidak boleh mempunyai dua imam, baik keduanya sepakat atau bertentangan.”

Syekh Abdul Qadim Zallum, dalam kitabnya Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm memberikan penjelasan jernih tentang apa Khilafah. Dalam kitabnya itu dijelaskan  : “Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.”

Berdasarkan pengertian Khilafah itu, kita bisa melihat ketiadaan Khilafah telah menyebabkan umat Islam kehilangan tiga perkara penting. Perkara pertama, kehilangan  kepemimpinan umum di tengah umat Islam. Padahal keberadaan pemimpin ini adalah sangat penting untuk menyatukan, mengurus, melindungi  umat Islam. Tanpa Khilafah, umat Islam saat ini tercerai berai menjadi negara-negara bangsa yang lemah tidak berdaya. Lemahnya persatuan umat Islam ini pulalah yang membuat negara-negara imperilais yang buas memperlakukan umat Islam seenaknya dengan keji.

Umat Islam juga kehilangan pelindung yang sejati. Pemimpin  negara-negara bangsa yang ada saat ini, alih-alih menjadi pemimpin dan pelindung umat mereka justru berperan sebagai boneka yang mengokohkan penjajahan negara-negara imperialis. Membiarkan rakyatnya dibunuh dan kekayaan alam negeri Islam dirampas.

Perkara kedua, ketiadaan khilafah , telah menyebabkan dilalaikannya penegakan hukum-hukum Islam (syariah Islam) secara menyeluruh (kaffah). Padahal penegakan syariah Islam merupakan kewajiban yang shorih (tegas) . Pasalnya, penegakan syariah Islam yang merupakan konsekuensi keimanan seorang muslim ini tidak bisa dilaksanakan secara totalitas tanpa adanya institusi negara yang legal yaitu Khilafah.
Karena itu sesungguhnya keberadaan Khilafah merupakan bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT  dengan cara melaksanakan seluruh perintah Allah dan Rosul-Nya.  Bahkan Ibnu Taimiyah mengatakan hal ini sebagai  bagian dari sebaik-baik pendekatan diri kepada Allah SWT (min afdholil qurrubat).  Ibnu Taimiyah menegaskan wajib menjadikan kepemimpinan  (Khilafah) sebagai bagian dari agama dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, taqorrub kepada Allah di dalam kepemimpinan itu dengan mentaati Allah Dan Rosulnya termasuk dalam taqorrub yang paling utama.

Perkara ketiga, ketiadaan khilafah juga telah membuat umat Islam lalai menjalankan perkara penting yang harus dilakukan oleh negara, yaitu mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia.  Padahal perkara dakwah ini dengan tegas dinyatakan kewajibannya oleh Allah SWT dan Rosul-Nya. Dengan dakwah yang dilakukan oleh Khilafah ini, Islam kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Umat manusia pun berbondong-bondong untuk memeluk Islam.

Walhasil inilah  perkara penting yang harus sungguh-sungguh diperjuangkan umat Islam. Para ulama menyebutnya sebagai tâj al-furûdh (mahkota dari semua kewajiban). Artinya, penerapan Islam secara kâffah (menyeluruh) hingga tercapai kehidupan berkah itu mustahil diwujudkan tanpa adanya Khalifah dan tegaknya Khilafah. Oleh karena itu, menegakkan Khilafah dan mengangkat khalifah merupakan kewajiban yang paling penting.

Mengingat pentingnya hal ini sampai-sampai Imam Ibnu Hajar Al Haitami  dalam As Shawa’iqul Muhriqah berkata  :“Ketahuilah juga, bahwa para shahabat -semoga Allah meridhai mereka- telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban paling penting ketika mereka menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan meninggalkan kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah SAW.”
Kerena itu, keruntuhan Khilafah bukanlah perkara untuk diratapi, atau sekedar kenangan historis masa kejayaan Islam belaka, namun merupakan kewajiban yang harus sama-sama diperjuangkan oleh umat Islam.  Kelalaian memperjuangkan Khilafah berarti melalaikan tiga kewajiban penting yang diperintahkan agama ini yaitu persatuan umat Islam, penegakan syariah Islam dan dakwah. Melalaikan  tiga  perkara kewajiban penting di dalam Islam, tentu merupakan dosa.

Apa yang diperingatkan oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum tentu perlu kita renungkan. Pemimpin Hizbut Tahrir ini  dalam kitabnya Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm menegaskan, “Mengangkat seorang khalifah adalah wajib atas kaum Muslim seluruhnya di segala penjuru dunia. Melaksanakan kewajiban ini—sebagaimana kewajiban manapun yang difardhukan Allah atas kaum Muslim—adalah perkara yang pasti, tidak ada pilihan di dalamnya dan tidak ada toleransi dalam urusannya. Kelalaian dalam melaksanakan kewajiban ini  termasuk sebesar-besar maksiat yang (pelakunya) akan diazab oleh Allah dengan azab yang sepedih-pedihnya”. (Farid Wadjdi)

Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2016/03/03/menolak-lupatragedi-3-maret-1924/

(4/3) - Di utara provinsi Hama sebelah timur, Jabhah Nusra serang sekumpulan Tentara Assad yang melintas di jalanan.


Persiapan dilakukan di malam hari dengan memasang beberapa bahan peledak di jalanan. Keesokan harinya kendaraan yang melintas membawa peralatan militer berhasil dihancurkan. 3 tentara tewas dalam ledakan ini.


Di tempat yang berbeda serangan tidak terduga Jabhah Nusra membuat tentara Assad melarikan diri dari jalanan. Tragis satu orang dari mereka yang sedang berlindung, tewas tertabrak mobil yang melaju dengan cepat. 

Issa al-Issawi, anggota Hizbut Tahrir Suriah mengingatkan faksi-faksi mujahidin untuk keluar dari negosiasi dan gencatan senjata dengan Rezim Assad. Aksi ini diikuti bersama warga di desa Deir Samaan, Utara Aleppo sebelah Barat.



Sudah terbukti, gencatan senjata yang disepakati Amerika dan Rusia adalah tipu daya untuk memusatkan serangan dan pengeboman terhadap faksi-faksi mujahidin di beberapa wilayah.

Pasukan rezim Bashar Asad dilaporkan telah menutup persimpangan utama di distrik Al-Waer, distrik terakhir yang dikuasai oleh mujahidin di provinsi Homs, dalam upaya untuk memperketat pengepungan meskipun adanya klaim “gencatan senjata”.

homs_syria_3_maret_2016

Penutupan terjadi saat rezim mencoba untuk menekan komite negosiasi lingkungan yang menuntut pelepasan 7.350 orang yang telah ditangkap sejak Maret 2011, lansir Zaman Alwasl pada Rabu (2/3/2016).

Kesepakatan “gencatan senjata” menyatakan bahwa rezim Bashar ASad harus mengungkapkan nasib para tahanan. Keluarga dan kerabat para tahanan turun ke jalan pada Februari lalu mengatakan bahwa nasib anak-anak mereka belum diketahui.

Pada 10 Desember tahun lalu, sekitar 300 pejuang bersama dengan 400 anggota keluarga mereka meninggalkan Al-Waer sebagai bagian dari kesepakatan “gencatan senjata” lokal. Para pejuang dan keluarga mereka dipindahkan ke daerah yang dikuasai oleh pejuang Suriah di dekat perbatasan Turki.

Pasukan rezim nampaknya ingin melucuti pasukan oposisi yang ingin tinggal di Al-Waer atau mendorong mereka untuk meninggalkan lingkungan tersebut sebelum tahap ketiga dari kesepakatan “gencatan senjata” berlaku.

Pesawat tempur Rusia dan Rezim Assad terus lakukan pelanggaran gencatan senjata dengan meningkatkan serangan udara dan pemboman di provinsi Hama.

Para aktivis mengatakan bahwa jumlah serangan udara Rusia dan Rezim Assad telah mencapai 28 serangan sejak pagi di kota Hirbnafsah pedesaan Hama, seperti peluncuran roket di kota Talaf, selatan pedesaan Hama.



Pasukan Assad mencoba untuk maju ke titik posisi mujahidin menuju kota Hirbnafsah di bawah dukungan pesawat tempur dan tembakan meriam. Mujahidin berhasil membunuh dan melukai beberapa pasukan selama pertempuran berlangsung.

Pesawat-pesawat tempur Rusia menargetkan markas FSA di pedesaan utara kota Kafr Zita dan meluncurkan empat serangan udara di wilayah Jabal Albelaas, Hama timur.

Dalam menghadapi gempuran ini, mujahidin dari Jaish al Sunna dengan Ahrar Syam membentuk ruang komando bersama.

jaish-alsunna dan ahrar syam hama

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget