Halloween Costume ideas 2015
[ads-post]

Derita Warga di Kota Madhaya dibawah Pengepungan Tentara Suriah

Blokade mencekik yang diberlakukan militer Suriah terhadap warga sipil di Kota Madhaya, pedesaan Damaskus, menyebabkan krisis makanan pokok dan susu balita.  Musim salju yang bulan ini menghampiri Suriah semakin menambah penderitaan warga di kota yang dikepung lebih dari tujuh bulan itu.


Tidak cukup sampai di situ, peluru-peluru dan bom militer Suriah dan milisi Syiah Hizbullah Lebanon yang mengepung mereka selalu mengintai. Dilaporkan sudah empar ribu warga meninggal akibat blokade dan serangan rezim di kota di utara Damaskus itu. Warga Suriah pun kini menyebut kota tersebut “penjara kota”.

Dalam laporan yang diturunkan  Al-Jazeera pada Rabu (06/01), pengepungan membuat realita kehidupan di kota Madhaya dalam keadaan tragis. Risiko mengancam warga, mulai dari luka bahkan cacat permanen akibat ranjau darat yang dipasang militer. Mereka pun harus menggadaikan nyawa demi mendapatkan sesuap nasi dari luar kota Madhaya.

Ummu Muhammad, salah satu penduduk Madhaya menuturkan, saya dan delapan anak saya sudah menghadapi berbagai penderitaan yang tak terhitung di Madhaya. Kami hanya makan satu kali sehari. Kami hidup dari bantuan berupa tepung. Setelah gencatan senjata gagal, kami tidak memiliki apa-apa lagi.

“Di sini kami bagaikan tahanan di penjara besar. Kami tidak bisa keluar masuk kota. Setiap usaha untuk menyelinap keluar kota untuk mencari makanan, justeru yang didapatkan adalah kematian. Seperti yang terjadi terhadap banyak warga kota ini,” kisahnya sedih.

Kisah itu pun diamini oleh Mohammad Al-Dibus, tokoh masyarakat dan Dewan bantuan untuk sipil Madaya. Ia menyalahkan lembaga-lembaga kemanusiaan dunia yang tidak peduli nasib warga Madhaya.

“Kami di Madaya berada dalam kelaparan. (Hal ini disebabkan) lembaga, organisasi, serta pihak berwenang enggan membela hak asasi manusia,” ujarnya.

Di Madhaya, lanjutnya, kami hidup dengan harga pangan di atas rata-rata harga bahan pangan dunia. Di sini harga makanan bisa mencapai seratus dollar. “Satu kilo beras saja setara dengan delapan puluh dollar,” tegasnya.

Dia juga menjelaskan bahwa ratusan keluarga di Madhaya, rata-rata hanya makan dua kali sehari. Makanan terbaik ialah sisa-sisa makanan yang dimasak dengan garam.

Seorang aktivis juga mengungkapkan bahwa melalui jejaring sosial banyak orang yang merespon dan mendukung demontrasi masa di Madhaya. Mereka menyeru PBB dan seluruh lembaga HAM menanggapi  tuntuntan mereka berupa pembebasan dari pengepungan dan blokade makanan ke dalam kota.

Ketua tim medis Madaya, Dr. Mohammad Yusuf, mengatakan bahwa mereka adalah satu-satunya tim medis yang meroperasi untuk melayani empat puluh ribu orang di kota tersebut. Penderitaan sipil Madaya diperparah dengan kekurangan obat-obatan bagi para pasien.

Yusuf menambahkan bahwa lebih dari 850 balita menyusui terancam kekurangan gizi. Hal itu akibat kurangnya persediaan formula bayi di pasaran semenjak bulan lalu. Ia melihat, para orang tua bayi rela mempertaruhkan nyawa demi berusaha mendapatkan makanan di luar kota.

Dia melanjutkan, selama pengepungan sudah lebih dari dua puluh kasus ledakan yang menimpa sejumlah sipil yang mencoba keluar kota. Ditambah lagi, 5 orang meninggal dunia dan lebih seratus orang koma akibat malnutrisi dan kurangnya bahan pangan selama berhari-hari.
materi islam

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget