Halloween Costume ideas 2015
12/29/15

ISIS Incar Indonesia Jadi khalifah Jauh, Bualan Barat Untuk Simpangkan Pemahaman Siapa Musuh Sebenarnya

Pernyataan pemerintah Australia yang menyebut ISIS mengincar Indonesia untuk dijadikan khalifah jauh (provinsi Khilafah ISIS, red) dinilai Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto sebagai bualan Barat untuk menyimpangkan kaum Muslimin dari pemahaman siapa musuh yang sesungguhnya.

“Tidak boleh percaya terhadap bualan tersebut. Karena bualan tersebut akan menyimpangkan kita kepada pemahaman siapa musuh sesungguhnya,” tegas Ismail kepada mediaumat.com, Rabu (23/12) melalui telepon selular.

Menurutnya, cengkraman kapitalisme yang membuat rakyat sengsara sekarang ini sebenarnya musuh yang nyata. Dengan bualan terorisme, kapitalisme dari Barat dan kapitalisme dari Timur (Cina, red) semakin erat menjajah Indonesia. Padahal kapitalisme itu sudah jelas-jelas sekali mengeksploitasi negeri ini dalam berbagai bentuk.
“Kalau kita percaya kepada bualan, kita malah hanya menganggap bualan itu sebagai musuh utama dan lupa dengan kapitalisme global yang berkolaborasi dengan antek-antek pengkhianat di negeri ini,” Ismail mengingatkan.

Ismail juga mengingatkan kaum Muslimin tidak boleh terpengaruh dengan penggambaran buruk terhadap Kekhilafahan Islam. Karena Khilafah merupakan bagian dari syariat Islam yang wajib ditegakkan. Sekarang bualan terorisme itu bukan hanya menyasar Islam tetapi sudah mengidentikan dengan sesuatu yang merupakan ide besar Islam yakni Khilafah. Harapan Barat siapa saja yang menyerukan Khilafah akan digeneralisir sebagai teroris. Makanya, umat harus waspada.


Ketika ditanya apakah ada hubungannya antara Kekhilafahan Islam dengan ISIS, Ismail menjawab dengan tegas. “Tidak ada. Banyak data-data yang menunjukkan bahwa terorisme itu merupakan pabricated (sengaja dibuat oleh Barat sendiri, red), Khilafah jadi-jadian itu dikontruksi oleh Barat untuk mendelegitimasi atau pembusukan terhadap kewajiban menegakkan Khilafah,” tegasnya.

Ismail mengingatkan  begitulah musuh-musuh Islam terutama Barat mencoba untuk menghambat kebangkitan Islam, sambil mencoba menghancurkan kekuatan-kekuatan yang memang sekarang ini sedang tumbuh di mana-mana di berbagai belahan dunia.

“Tapi kita sangat yakin bahwa itu semua akan gagal total karena Islam akan tetap bangkit dan umat sudah tidak bisa dibohongi lagi. Karena fakta-fakta kebohongan itu semakin hari semakin terungkap, semakin terbuka,” pungkasnya.

(hizbut-tahrir.or.id)

Meninggalnya panglima Jaysul Islam, syaikh Muhammad Zhahran bin  Abdullah Allusy karena serangan udara Rusia, terlihat benar-benar memancing nafsu keserakahan milisi Assad untuk segera kembali merampas kota Ghauthah.

Mereka benar-benar menganggap bahwa syahidnya syaikh Muhammad Zhahran bin Abdullah Allusy telah menurunkan moral tempur para Mujahidin Jaysul Islam.
Akan tetapi, sebagai kesatuan Mujahidin yang benar-benar memahami bahwa kewajiban Jihad fi Sabilillah akan terus berlangsung hingga hari kiamat, para Mujahidin segera bergerak untuk menyatukan barisan.

Para komandan Jaisyul Islam pun segera mengatur pasukan, yang kini dipimpin oleh Syaikh Abu Hammam Al-Buwaidani ini. Pidato yang membakar semangat Mujahidin Jaysul Islam di Ghuto, Damaskus pun segera dikumandangkan sebelum memulai operasi menghadapi gerak laju pasukan Syi'ah di pinggiran Ghautah. Pidato tersebut pada intinya menyampaikan apa yang pernah diucapkan oleh Shahabat yang agung Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu di hadapan Umat Islam, setelah wafatnya Rasulullah shalallaahu 'alaihi wassalaam. "Barang siapa yg menyembah Muhammad, maka Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam telah wafat".

Sesungguhnya Islam tidaklah mati. Jika syaikh Muhammad Zahran 'Alusy meninggal maka Jihad tidak akan mati. Dan sesungguhnya Jaysul Islam akan kuat dan semakin kuat.

Demikianlah, kedatangan milisi Assad tersebut segera disambut dengan serangan artileri berat oleh Mujahidin Jaysul Islam. Serangan balik Mujahidin Jaisyul Islam tersebut telah menyebabkan banyak korban berjatuhan dari pihak rezim Bashar dan akhirnya mereka kembali mundur dengan penuh kehinaan.

Jaisyul Islam, kelompok pejuang Suriah yang memiliki kekuatan besar di wilayah Ghautah Timur, pinggiran timur Damaskus, telah menunjuk Ali Al-Buweidhani atau Abu Humam Al-Buweidhani sebagai pemimpin baru menggantikan Zahran Alloush yang gugur dalam serangan udara pada Jum’at (25/12/2015).


Abu Hummam (40), lahir di kota Douma, pinggiran Damaskus. Ia masuk ke dalam daftar pencarian orang oleh rezim Nushairiyah bahkan sebelum revolusi meletus di tahun 2011, menurut arsip intelijen yang didapatkan oleh Zaman Alwasl.

Surat perintah yang dikeluarkan oleh departemen keamanan nomor 701183 di tahun 2009 untuk Al-Buweidhani.

Beberapa pemimpin faksi perlawanan Suriah telah gugur sejak Rusia memulai kampanye udara pada 30 September untuk mendukung dan menopang kekuasaan rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad.

Sumber komandan di gerakan Jaisyul Islam mengungkapkan kepada Al-Jazeera, Ahad (27/12), bahwa pemimpinnya Zahran Alloush syahid –insyallah- ketika memeriksa pos-pos ribath di front Maraj Al-Sultan di Ghautah Timur, pedesaan Damaskus. Misil jet tempur melesat dari udara dan menghantam salah satu pos yang saat itu dikunjungi Zahran Alloush.



Sumber yang meminta namanya disembunyikan itu menambahkan, jet tersebut diyakini milik angkatan udara Rusia. Pembunuhan ini akan dilaporkan ke internasional.

Ia menambahkan, wakil komandan Jaisyul Islam Abu Mahmud Az-Zubaiq juga terluka dalam serangan itu. Sementara, dua pengawal komandan Zahran Alloush gugur.

Militer rezim Suriah dibantu milisi-milisi pendukungnya beberapa hari terakhir melancarkan kampanye militer besar-besaran di front Maraj Al-Sulthan. Hal itu membuat ribuan warga ketakutan dan mengungsi. Mereka menuju wilayah-wilayah aman di Ghautah, meski wilayah itu dalam kondisi terkepung.

Peta lokasi syahidnya Zahran Alloush akibat serangan Jet Tempur Rusia

Zahran Alloush merupakan pendiri Jaisyul Islam, aliansi faksi pejuang di wilayah pedesaan Damaskus. Aliansi ini terdiri dari Dewan Komando, 26 kantor administrasi dan 54 batalion tempur. Pusat komando berada di wilayah Ghautah yang terkepung.

Dia langsung memimpin pertempuran di Ghautah Timur dan sekitarnya menghadapi militer Suriah. Pertempuran paling sengit yang pernah dipimpinnya adalah pertempuran Dzahiyah Udran dan pertempuran Liwa 39. Jaiysul Islam sendirian dalam pertempuran itu.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget