Halloween Costume ideas 2015
12/17/15

koalisi-saudi
Saudi Arabia telah membentuk koalisi "Tentara Islam" dari 34 negara untuk melawan terorisme. Koalisi yang dideklarasikan pada hari Selasa pagi (15/12). Koalisi ini berkantor pusat di Ibukota Arab Saudi-Riyadh.

Dalam pernyataan yang dilaporkan oleh Kantor berita Al-Jazeera dan Saudi Press Agensi, sekumpulan negeri-negeri Islam mengumumkan adanya Pernyataan Bersama untuk Membentuk Koalisi Militer Islam untuk Melawan Terorisme. Saudi Arabia menjadi pemimpin dari koalisi ini.

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa koalisi militer ini akan mendirikan Pusat Komando Bersama di kota Riyadh.  Pusat Komando ini berfungsi sebagai pusat pengkoordinasian operasi militer untuk menghadapi terorisme, serta sebagai pusat pengembangan program dan peralatan dalam rangka penguatan operasi militer.

Koalisi militer ini dibentuk di berdasarkan  prinsip-prinsip dan tujuan yang telah dicanangkan oleh Organisasi Kerjasama Islam dan berdasarkan pakta kesepakatan PBB, yang menyerukan kerjasama untuk memberantas terorisme dalam bentuk apapun.

Pangeran Saudi yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Muhammad bin Salman, menegaskan bahwa koalisi ini bukan hanya menargetkan Daulah Islamiyah atau ISIS tetapi juga menargetkan seluruh organisasi yang dianggap sebagai organisasi teroris.

Negara-negara yang berpartisipasi dalam koalisi ini (selain Arab Saudi) adalah: Yordania, Mesir, Turki, Uni Emirat Arab, Pakistan, Qatar, Bahrain, Bangladesh, Benin, Chad, Togo, Tunisia, Djibouti, Senegal, Sudan, Sierra Leone, Somalia, Gabon, Guinea, Palestine, Komoro, Ivory Coast, Kuwait, Lebanon, Libya, Maladewa, Malaysia ,Mali, Maroko, Mauritania, Niger, Nigeria dan Yaman.

Saudi Agen Politik Amerika di Timur Tengah

Arab Saudi telah menunjukkan wajahnya di Timur Tengah, dari mulai bermain mata dengan Amerika dan Rusia, hingga Konferensi Riyadh yang memaksa para pejuang oposisi untuk "hidup rukun" dengan rezim Bashar Asad.

Kini Arab Saudi tengah menampilkan dengan membangun koalisi negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim, untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai terorisme. Sayangnya, tidak ada satupun dari pernyataan bersama negeri-negeri tersebut (yang didalamnya juga melibatkan Palestina), yang juga menyatakan akan melawan Israel. Sementara hingga hari ini, Israel lah yang telah nyata-nyata menunjukkan aksi terorisme luar biasa terhadap para penduduk Palestina,

Pembentukan koalisi ini jelas merupakan fase baru dalam jihad di Timur Tengah, yang mestinya harus dihadapi oleh kaum Muslimin umumnya dan para Mujahidin khususnya dalam tantang jihad di masa depan yang semakin memanas.

Dengan jelas, inilah strategi Amerika untuk mengantisipasi kebangkitan umat islam di negeri Syam dengan memerangi ratusan kelompok mujahidin di Suriah yang tidak mau tunduk dalam konferensi Riyadh.

Dalam kunjungannya ke Moskow pada hari Selasa (15/12) kemarin, Menlu AS John Kerry melakukan pembicaraan cukup panjang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pembicaraan kedua pejabat penting Amerika dan Rusia itu menghasilkan sebuah deklarasi yang mengejutkan bahwa “Amerika Serikat dan mitra koalisinya tidak mengharuskan pergantian rezim di Suriah”.

Sebelumnya berangkat ke Moskow, Kerry mengatakan, pembicaraan lebih jauh mengenahi masa depan Assad akan menjadi topik diskusi dengan para pejabat Rusia.

Hal itu cukup mengagetkan karena selama ini para pejabat Amerika selalu bersikeras bahwa tidak akan ada masa depan bagi Assad. Namun, Kerry kembali menggarisbawahi bahwa AS dan Rusia pada dasarnya memiliki cara pandang yang sama mengenahi masa depan Suriah.

Rusia mengajukan proposal perundingan antara Assad dengan kelompok-kelompok oposisi sekuler untuk merancang draft konstitusi baru serta merencanakan pemilu yang bebas. Bahkan, sebelumnya Amerika menolak implementasi rencana semacam ini karena masih menyertakan Assad dan sejumlah pejabat penting rezim lainnya untuk berpartisipasi dalam pemilu.

Sejumlah pejabat Amerika memang pernah mengisyaratkan bahwa kebijakan mereka mengenahi Suriah bisa saja berubah, namun ini merupakan pertama kalinya seorang pejabat tinggi Washington secara terbuka menarik kembali ucapannya dengan menyatakan menolak perubahan rezim. Satu-satunya pejabat yang ‘berani’ melakukan hal itu hanyalah John Kerry.

Setelah mengirimkan beberapa pasukan dan jet pengintainya di Suriah, kini Jerman tengah melancarkan misi pengisian bahan bakar pada jet-jet sekutu.

Dilansir Worldbulletin pada Rabu (16/12), militer Jerman telah melancarkan misi pertama pengisian bahan bakar udara kepada jet-jet tempur sekutu yang memerangi ISIS.

german_air_militerPesawat A310 MRTT Jerman dikabarkan telah mengisi bahan bakar dua pesawat tempur pasukan koalisi AS sebelum kembali ke pangkalan militer Incirlik selatan Turki.

Pesawat tangki itu sendiri menjadi bagian dari misi pemerintah Jerman untuk membantu koalisi pimpinan AS dalam membombardir ISIS.

Jerman juga pernah mengindikasikan akan mengirim enam jet tempur pengintai Tornado, kemudian sebuah kapal untuk melindungi kapal induk Perancis serta mengirimkan 1.200 tentaranya.

Meski demikian, Jerman sendiri tidak secara langsung melancarkan serangan udara ke Suriah dan Irak seperti yang dilakukan oleh Perancis, Inggris dan Amerika Serikat.

hama_jaish_alislam
Upaya militer Suriah yang didukung milisi-milisi pendukungnya dan jet tempur Rusia menyerbu mujahidin di Sahlu Al-Ghab, pedesaan Hama, kembali gagal. Mujahidin harus bekerja keras menghadang serangan dari darat dan udara.

Dilaporkan Al-Jazeera, Rabu (16/12), militer rezim berupaya menyerbu daerah Al-Janabirah dan pangkalan Tel Utsman di pedesaan Hama Utara dan kota As-Sarmianiyah. Kedua daerah termasuk bagian dari wilayah Sahlu Al-Ghab dan termasuk daerah sangat strategis.

Aktivis media, Ubaidah Al-Utsman, menuturkan militer mengawali serangan dengan menembakkan roket dan mortir. Mereka bergerak menuju kota Al-Janabirah melalui tiga titik. Di saat bersamaan, sebagian lain dari mereka bergerak menuju Tel Utsman, dataran tinggi yang sangat strategis.

Pertempuran sengit pun meletus. Militer didukung serangan udara Rusia sehingga membuat mujahidin harus berjuang ekstra keras.

Perlawanan sengit yang diberikan mujahidin membuahkan hasil, kata Utsman. Setelah beberapa jam bertempur, pergerakan militer rezim terhenti. Bahkan, mereka mengelami kerugian pasukan dan peralatan.

Menurut Utsman, kerugian yang diderita musuh sangat besar. Setidaknya dua mortir hancur, 21 anggota musuh tewas, sebuah mobil ambulans pengangkut tentara yang luka hancur.

Mujahidin juga membalas serangan tersebut dengan menghujani pos-pos militer di pedesaan Hama Utara dengan mortir dan roket. Hal ini untuk menekan psikologis musuh supaya tidak kembali menyerang.

Perlu diketahui, wilayah Hama menjadi medan pertempuran sengit antara rezim dan mujahidin dalam beberapa bulan terakhir. Militer Suriah yang didukung milisi asing semakin kerap melancarkan operasi di wilayah itu setelah mendapat dukungan udara dari jet Rusia.

Akan tetapi, militer Suriah mengalami pukulan pahit ketika di awal intervensi Rusia. Puluhan tank tempur yang digunakan untuk menyerbu wilayah mujahidin berhasil dihancurkan, sebelum sampai ke wilayah mujahidin.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget