Halloween Costume ideas 2015
12/13/15

Berikut ini adalah wawancara seputar Konferensi Riyadh bersama ustadz Ahmad Abdul Wahab, Kepala Kantor Media Hizbut Tahrir Suriah.



Konferensi Riyadh adalah strategi lanjutan dari Amerika setelah konferensi Wina beberapa bulan lalu. Dari awal Amerika sudah berencana mengumpulkan pihak oposisi agar berada di bawah kontrolnya sehingga terjadinya masa transisi dengan Pemerintah Assad, serta menjauhkan dari upaya tegaknya Khilafah di Suriah.

Dengan jelas, Amerika menjadikan Arab Saudi memuluskan rencananya secara politik dan di sisi yang lain Amerika mengendalikan Rusia agar bertindak secara militer.   

Sejumlah pasukan Assad tewas dan lainnya luka-luka pada hari Jumat (11/12) dalam serangan mujahidin Faylaq ar-Rahman di Ghouta Timur, tepatnya di wilayah Jobar.

Sumber lapangan mengatakan mujahidin berhasil menyergap konvoi sekelompok pasukan Assad di pinggiran al-Marj, Ghouta Timur; menewaskan sedikitnya tujuh orang dan puluhan luka-luka dalam jajaran milisi Assad.


Sementara itu, beberapa pesawat tempur Assad melancarkan dua serangan udara di wilayah Jobar menyebabkan jatuhnya korban dari kalangan warga sipil.



(eldorar)

Video Wawancara dengan Amir Jabhah Nusrah



Syaikh Al-Fatih Abu Muhammad Al-Jaulani mengatakan bahwa semua kelompok yang terlibat dalam konferensi Riyadh tersebut adalah para pengkhianat.

Amir Jabhah Nusrah tersebut mengecam sepak terjang Arab Saudi yang memaksakan penyatuan seluruh faksi di Suriah dalam agenda Sekulersime, sekaligus menyebut mereka yang terlibat dalam konferensi Riyadh  tersebut sebagai para pengkhianat.

Dalam acara wawancara dengan sejumlah perwakilan kelompok media, termasuk Al-Jazeera tersebut, pimpinan Jabhah Nushrah Abu Muhammad al-Jaulani mengatakan bahwa Konferensi Riyadh adalah bagian dari konspirasi untuk membangkitkan dan mempertahankan rezim Bashar Al-Assad.

"Konferensi yang diadakan di Suriah tersebut, tidak diadakan untuk menolong rakyat Suriah." kata Jaulani.

Ia mengatakan bahwa Jabhah Nusrah tidak diundang dalam acara tersebut, dan Jabhah Nusrah pun juga tidak akan pernah datang dalam acara tersebut atau acara semacamnya jika  diundang.

Syaikh Jaulani menegaskan, "Kelompok-kelompok bersenjata lain yang menghadiri konferensi tersebut telah melakukan 'pengkhianatan terhadap pengorbanan rakyat Suriah.' dalam perang sipil yang telah berlangsung hampir lima tahun ini."

Konferensi Riyadh yang diadakan oleh Arab Saudi tersebut mengundang para diplomat dari 17 negara, termasuk negara-negara para pendukung kelompok yang berseteru, baik dari kalangan oposisi maupun dari rezim Bashar Assad, yang menyetujui hasil-hasil konferensi di Wina-Austria tentang peta penyelesaian konflik Suriah.

Syaikh Al-Jaulani menolak adanya kemungkinan gencatan senjata atau penyelesaian politik dengan rezim thaghut Assad, dan menambahkan bahwa pasukan Suriah hanya menguasai 20 persen wilayah di negara tersebut.

"Sejauh ini, kami menganggap bahwa rezim Bashar Assad ini telah bubar dan pada faktanya rezim ini telah terpecah menjadi banyak faksi, yang dikontrol oleh Kolonel ini atau Jendral itu." Demikian penjelasan syaikh Al-Jaulani.

Jabhah Al-Islamiyah-Ahrar Syam

Penjelasan Walk Out dari Muktamar Riyadh.

 Sungguh kami sangat ingin menjadi pelopor untuk setiap inisiatif apapun di bidang politik yang bisa mewujudkan tujuan-tujuan revolusi rakyat kami, dan meringankan beban penderitaan mereka.

Dari titik tolak itulah kami mengikuti secara aktif dalam pertemuan Muktamar Riyadh untuk menghilangkan berbagai pertentangan-pertentangan dan menyatukan perbedaan, meskipun kami menyadaru lemahnya daya tawar kami dalam mewakili kelompok-kelompok mujahidin lain dan adanya oknum-oknum yang diketahui bergabung dengan rezim Suriah.

Kami pergi ke Muktamar Riyadh karena berterima kasih kepada orang yang mengundang kami dan juga membawa tugas dari rakyat kami di dalam negeri,  kami telah menjanjikan kepada mereka untuk tetap berperang baik secara politik maupun militer demi menjaga prinsip-prinsip dan ketetapan-ketetapan mereka yang sudah diumumkan sebelumnya.

Namun kami mendapati diri kami berada di depan kewajiban syariat maupun negara yang membuat kami wajib untuk keluar meninggalkan muktamar ini dan menolak semua solusi-solusi yang dikeluarkannya, itu disebabkan karena sebab-sebab berikut ini:

  1. Memberikan peranan penting/mendasar kepada Lembaga Rekonsiliasi Nasional dan oknum-oknum lainnya yang berada di bawah pengawasan rezim, hal ini jelas merupakan bentuk penghancuran yang nyata dan terang-terangan bagi aksi revolusi.
  2. Tidak mau menerima beberapa catatan-catatan dan tambahan yang disodorkan oleh kelompok-kelompok (revolusi) sebagai pertimbangan ketetapan yang telah disepakati atasnya dalam muktamar, termasuk di dalamnya dokumen lima poin ketetapan dan tidak ada kesungguhan untuk memenuhi harapan dan  keinginan rakyat muslim kami. 
  3. Tidak memberikan peranan penting  dan semestinya bagi kelompok-kelompok revolusi baik dalam pelaksanaannya dan tidak pula memberikan ruang bagi mereka untuk berperan dalam   menentukan solusi.

Dan kami mundur dari Muktamar ini sembari menyeru kepada kelompok-kelompok Mujahidin dan lembaga-lembaga revolusi yang aktif untuk berhenti dan melakukan perenungan secara historis demi kepentingan agama, umat dan rakyat mereka, memfokuskan pandangan mata mereka terhadap sejauh mana pengorbanan besar mereka yang dipersembahkan untuk mewujudkan tujuan-tujuan dan kesepakatan-kesepakatan ini.

Dan segala puji hanya bagi Allah


Harakah Ahrar Syam Al-Islamiyah

Pimpinan Umum


28 Shafar 1437 H
10 Desember 2015 M

muktamar-riyadh-ahrar-syam

Ahrar Al-Syam mengumumkan menarik diri dari konferensi oposisi Suriah di Riyadh pekan ini. Penyertaan ini diumumkan di pertemuan hari kedua, Kamis (10/12), dalam konferensi yang difasilitasi oleh pemerintah Arab Saudi itu.

Dalam pernyataan yang dilansir harian An-Nahar di situs onlinennya, Kamis, Ahrar Syam mengungkapkan bahwa konferensi tersebut tidak mendukung tuntutan rakyat dan revolusi Suriah. Yang dibahas tidak berpihak pada rakyat.

Gerakan yang kerap berkerjamasa dengan Jabhah Nusrah dalam operasi pertempuran itu menganggap, orang-orang yang terpilih dalam Komite Koordinasi Oposisi yang baru terbentuk mayoritas dari kalangan oposisi yang dikenal dengan dengan rezim. Di sisi lain, tokoh dan perwakilan faksi militer moderat ditempatkan dalam struktur pelengkap.

“Kami menghadiri konferensi Riyadh, dan terima kasih telah diundang, membawa mandat dari warga di dalam Suriah yang mempercayakan perjuangan politik dan militer kepada kami untuk melindungi revolusi. Namun, melihat kewajiban Syar’i dan negara, kami memutuskan menarik diri dari konferensi ini,” kata pernyataan Ahrar Al-Syam seperti dilansir An-Nahar.

Perlu diketahui, Ahrar Al-Syam menarik diri di hari kedua konferensi yang digelar sejak Selasa itu. Hari itu, agenda pembahasan menentukan orang-orang yang menjadi perwakilan seluruh oposisi Suriah bernegosiasi dengan rezim bulan depan.

Sumber: annahar.com

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget