Damaskus – Presiden Suriah Bashar Assad mengakui pasukannya terdesak dan terpaksa menyerah di beberapa wilayah, empat tahun setelah meletus konflik.

Pernyataan tersebut disampaikan Assad dalam sebuah pidato yang ditayangkan televisi pada Ahad (26/07), dihadapan para pejabat Suriah di Damaskus.


“Kadang-kadang, dalam beberapa kondisi, kita terpaksa menyerahkan sejumlah wilayah untuk memindahkan pasukan ke daerah-daerah yang ingin kita kuasai,” kata Assad sebagaimana dikutip BBC.

“Kita harus menetapkan wilayah-wilayah penting yang dikuasai pasukan bersenjata, sehingga tidak terjadi jatuhnya wilayah yang tersisa,” imbuhnya.

Pada bulan April lalu pejuang Jabhah Nusrah berhasil menguasai Jisr Shughur, benteng terakhir militer rezim di provinsi Idlib. Sejak awal konflik, wilayah itu dikuasai oleh pasukan rezim Suriah, kemudian jatuh ke tangan mujahidin pada bulan Maret.

Pasukan rezim juga kehilangan kendali di kota Palmyra pada bulan Mei, yang berhasil direbut oleh pejuang Daulah Islamiyah (ISIS). Kota kuno bersejarah itu terletak diantara propinsi Deir Zour, Homs dan ibukota Suriah, Damaskus.

Meskipun pasukannya terus terdesak dan telah kehilangan banyak wilayah, Assad menyatakan kepada para pendukungnya bahwa kata kekalahan tidak ada dalam kamus tentara Suriah. “Kita akan bertahan dan kita akan menang,” ujarnya.Damaskus – Presiden Suriah Bashar Assad mengakui pasukannya terdesak dan terpaksa menyerah di beberapa wilayah, empat tahun setelah meletus konflik.

Pernyataan tersebut disampaikan Assad dalam sebuah pidato yang ditayangkan televisi pada Ahad (26/07), dihadapan para pejabat Suriah di Damaskus.

“Kadang-kadang, dalam beberapa kondisi, kita terpaksa menyerahkan sejumlah wilayah untuk memindahkan pasukan ke daerah-daerah yang ingin kita kuasai,” kata Assad sebagaimana dikutip BBC.

“Kita harus menetapkan wilayah-wilayah penting yang dikuasai pasukan bersenjata, sehingga tidak terjadi jatuhnya wilayah yang tersisa,” imbuhnya.

Pada bulan April lalu pejuang Jabhah Nusrah berhasil menguasai Jisr Shughur, benteng terakhir militer rezim di provinsi Idlib. Sejak awal konflik, wilayah itu dikuasai oleh pasukan rezim Suriah, kemudian jatuh ke tangan mujahidin pada bulan Maret.

Meskipun pasukannya terus terdesak dan telah kehilangan banyak wilayah, Assad menyatakan kepada para pendukungnya bahwa kata kekalahan tidak ada dalam kamus tentara Suriah. “Kita akan bertahan dan kita akan menang,” ujarnya.