Halloween Costume ideas 2015
December 2015

Basis militer Brigade 82 di provinsi selatan Daraa masih berada di bawah kendali mujahidin, ujar sumber lapangan kepada Zaman Alwasl pada Selasa (29/12/2015), saat mujahidin berhasil menggagalkan serangan besar oleh pasukan rezim di pangkalan militer strategis tersebut.

Selasa (29/12) pagi, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) dan kantor berita rezim, SANA, melaporkan bahwa tentara rezim telah mengambil alih basis Brigade 82 dan terlibat bentrok dengan Mujahidin Suriah di kota Sheikh Miskeen di provinsi Daraa.

Aktivis lapangan mengatakan Mujahidin telah memperdaya pasukan rezim dengan melakukan penarikan palsu.



Faksi Mujahidin termasuk Jabhah Nushrah telah mengendalikan Sheikh Miskeen dan basis militer Brigade 82 sejak tahun lalu.

(Zaman Alwasl)

Pemimpin baru Jaisyul Islam, Abu Hamma Al-Buwaidhani, Selasa (29/12), menegaskan gerakannya tidak menarik diri dari Dewan Tinggi untuk Negosiasi yang dihasilkan konferensi Riyadh awal bulan lalu. Gugurnya komandan Jaisyul Islam tidak akan mengubah sikap gerakan.

“Sikap kami tidak berubah setelah gugurnya Alloush. Keputusan kami bukan reaksi peristiwa dan kami tidak mengambil keputusan sendirian tanpa bermusyawarah dengan mitra,” kata Abu Hammam dalam pernyataan perdana setelah menggantikan pendahulunya, Zahran Alloush, seperti dilansir Al-Jazeera.

Namun, Abu Hammam mensyaratkan rezim harus segera menghentikan operasi menargetkan pemukiman sipil. Syarat ini harus dipenuhi demi keberlangsungan seruan PBB untuk bernegosiasi antara oposisi dan rezim.

Dia menegaskan, ini bukan syarat baru atau reaksi atas terbunuhnya pemimpin kami. Syarat ini, tegasnya, inti dari pernyataan terakhir dalam konferensi Riyadh.

Konferensi Riyadh yang disponsori Arab Saudi mengasilkan sejumlah poin penting bagi masa depan konflik Suriah. Seluruh pihak yang hadir menyepakati solusi politik. Mereka membentuk Dewan Tertinggi untuk Negosiasi. Dewan ini diakui internasional sebagai pihak oposisi yang sah untuk bernegosiasi dengan rezim Suriah.

Sebagaimana diberitakan, pemimpin Jaisyul Islam Zahran Alloush gugur bersama pengawalnya ketika memeriksa pos-pos ribath di Ghautah Timur. Jet tempur Rusia berada di balik serangan tersebut.

Faksi-faksi mujahidin Suriah menyampaikan belasungkawa atas musibah tersebut. Padahal, di antara faksi tersebut tidak setuju dan menentang kebijakan-kebijakan Zahran Alloush.

---- komentar ----

Konferensi Riyadh adalah upaya Amerika melalui tangan Saudi, agar faksi-faksi oposisi bersedia melakukan perundingan dengan Bashar Assad. Sungguh, perjuangan politik yang ditempuh Jaysul Islam terlibat didalamnya adalah kesalahan besar. Semoga Allah swt berikan hidayah kepada mereka.

ISIS Incar Indonesia Jadi khalifah Jauh, Bualan Barat Untuk Simpangkan Pemahaman Siapa Musuh Sebenarnya

Pernyataan pemerintah Australia yang menyebut ISIS mengincar Indonesia untuk dijadikan khalifah jauh (provinsi Khilafah ISIS, red) dinilai Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto sebagai bualan Barat untuk menyimpangkan kaum Muslimin dari pemahaman siapa musuh yang sesungguhnya.

“Tidak boleh percaya terhadap bualan tersebut. Karena bualan tersebut akan menyimpangkan kita kepada pemahaman siapa musuh sesungguhnya,” tegas Ismail kepada mediaumat.com, Rabu (23/12) melalui telepon selular.

Menurutnya, cengkraman kapitalisme yang membuat rakyat sengsara sekarang ini sebenarnya musuh yang nyata. Dengan bualan terorisme, kapitalisme dari Barat dan kapitalisme dari Timur (Cina, red) semakin erat menjajah Indonesia. Padahal kapitalisme itu sudah jelas-jelas sekali mengeksploitasi negeri ini dalam berbagai bentuk.
“Kalau kita percaya kepada bualan, kita malah hanya menganggap bualan itu sebagai musuh utama dan lupa dengan kapitalisme global yang berkolaborasi dengan antek-antek pengkhianat di negeri ini,” Ismail mengingatkan.

Ismail juga mengingatkan kaum Muslimin tidak boleh terpengaruh dengan penggambaran buruk terhadap Kekhilafahan Islam. Karena Khilafah merupakan bagian dari syariat Islam yang wajib ditegakkan. Sekarang bualan terorisme itu bukan hanya menyasar Islam tetapi sudah mengidentikan dengan sesuatu yang merupakan ide besar Islam yakni Khilafah. Harapan Barat siapa saja yang menyerukan Khilafah akan digeneralisir sebagai teroris. Makanya, umat harus waspada.


Ketika ditanya apakah ada hubungannya antara Kekhilafahan Islam dengan ISIS, Ismail menjawab dengan tegas. “Tidak ada. Banyak data-data yang menunjukkan bahwa terorisme itu merupakan pabricated (sengaja dibuat oleh Barat sendiri, red), Khilafah jadi-jadian itu dikontruksi oleh Barat untuk mendelegitimasi atau pembusukan terhadap kewajiban menegakkan Khilafah,” tegasnya.

Ismail mengingatkan  begitulah musuh-musuh Islam terutama Barat mencoba untuk menghambat kebangkitan Islam, sambil mencoba menghancurkan kekuatan-kekuatan yang memang sekarang ini sedang tumbuh di mana-mana di berbagai belahan dunia.

“Tapi kita sangat yakin bahwa itu semua akan gagal total karena Islam akan tetap bangkit dan umat sudah tidak bisa dibohongi lagi. Karena fakta-fakta kebohongan itu semakin hari semakin terungkap, semakin terbuka,” pungkasnya.

(hizbut-tahrir.or.id)

Meninggalnya panglima Jaysul Islam, syaikh Muhammad Zhahran bin  Abdullah Allusy karena serangan udara Rusia, terlihat benar-benar memancing nafsu keserakahan milisi Assad untuk segera kembali merampas kota Ghauthah.

Mereka benar-benar menganggap bahwa syahidnya syaikh Muhammad Zhahran bin Abdullah Allusy telah menurunkan moral tempur para Mujahidin Jaysul Islam.
Akan tetapi, sebagai kesatuan Mujahidin yang benar-benar memahami bahwa kewajiban Jihad fi Sabilillah akan terus berlangsung hingga hari kiamat, para Mujahidin segera bergerak untuk menyatukan barisan.

Para komandan Jaisyul Islam pun segera mengatur pasukan, yang kini dipimpin oleh Syaikh Abu Hammam Al-Buwaidani ini. Pidato yang membakar semangat Mujahidin Jaysul Islam di Ghuto, Damaskus pun segera dikumandangkan sebelum memulai operasi menghadapi gerak laju pasukan Syi'ah di pinggiran Ghautah. Pidato tersebut pada intinya menyampaikan apa yang pernah diucapkan oleh Shahabat yang agung Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu di hadapan Umat Islam, setelah wafatnya Rasulullah shalallaahu 'alaihi wassalaam. "Barang siapa yg menyembah Muhammad, maka Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam telah wafat".

Sesungguhnya Islam tidaklah mati. Jika syaikh Muhammad Zahran 'Alusy meninggal maka Jihad tidak akan mati. Dan sesungguhnya Jaysul Islam akan kuat dan semakin kuat.

Demikianlah, kedatangan milisi Assad tersebut segera disambut dengan serangan artileri berat oleh Mujahidin Jaysul Islam. Serangan balik Mujahidin Jaisyul Islam tersebut telah menyebabkan banyak korban berjatuhan dari pihak rezim Bashar dan akhirnya mereka kembali mundur dengan penuh kehinaan.

Jaisyul Islam, kelompok pejuang Suriah yang memiliki kekuatan besar di wilayah Ghautah Timur, pinggiran timur Damaskus, telah menunjuk Ali Al-Buweidhani atau Abu Humam Al-Buweidhani sebagai pemimpin baru menggantikan Zahran Alloush yang gugur dalam serangan udara pada Jum’at (25/12/2015).


Abu Hummam (40), lahir di kota Douma, pinggiran Damaskus. Ia masuk ke dalam daftar pencarian orang oleh rezim Nushairiyah bahkan sebelum revolusi meletus di tahun 2011, menurut arsip intelijen yang didapatkan oleh Zaman Alwasl.

Surat perintah yang dikeluarkan oleh departemen keamanan nomor 701183 di tahun 2009 untuk Al-Buweidhani.

Beberapa pemimpin faksi perlawanan Suriah telah gugur sejak Rusia memulai kampanye udara pada 30 September untuk mendukung dan menopang kekuasaan rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad.

Sumber komandan di gerakan Jaisyul Islam mengungkapkan kepada Al-Jazeera, Ahad (27/12), bahwa pemimpinnya Zahran Alloush syahid –insyallah- ketika memeriksa pos-pos ribath di front Maraj Al-Sultan di Ghautah Timur, pedesaan Damaskus. Misil jet tempur melesat dari udara dan menghantam salah satu pos yang saat itu dikunjungi Zahran Alloush.



Sumber yang meminta namanya disembunyikan itu menambahkan, jet tersebut diyakini milik angkatan udara Rusia. Pembunuhan ini akan dilaporkan ke internasional.

Ia menambahkan, wakil komandan Jaisyul Islam Abu Mahmud Az-Zubaiq juga terluka dalam serangan itu. Sementara, dua pengawal komandan Zahran Alloush gugur.

Militer rezim Suriah dibantu milisi-milisi pendukungnya beberapa hari terakhir melancarkan kampanye militer besar-besaran di front Maraj Al-Sulthan. Hal itu membuat ribuan warga ketakutan dan mengungsi. Mereka menuju wilayah-wilayah aman di Ghautah, meski wilayah itu dalam kondisi terkepung.

Peta lokasi syahidnya Zahran Alloush akibat serangan Jet Tempur Rusia

Zahran Alloush merupakan pendiri Jaisyul Islam, aliansi faksi pejuang di wilayah pedesaan Damaskus. Aliansi ini terdiri dari Dewan Komando, 26 kantor administrasi dan 54 batalion tempur. Pusat komando berada di wilayah Ghautah yang terkepung.

Dia langsung memimpin pertempuran di Ghautah Timur dan sekitarnya menghadapi militer Suriah. Pertempuran paling sengit yang pernah dipimpinnya adalah pertempuran Dzahiyah Udran dan pertempuran Liwa 39. Jaiysul Islam sendirian dalam pertempuran itu.

Sejumlah orang tewas dan luka-luka setelah bom birmil yang dijatuhkan helikopter rezim Suriah menghantam daerah Mukdzamiyah Al-Syam di pedesaan Damaskus, Selasa kemarin (22/12). Sumber-sumber menyebutkan, birmil tersebut mengandung gas beracun sehingga banyak korban mengalami sesak nafas.

Kantor berita Turki, Anadolu Agency, melaporkan bahwa serangan malam hari itu menewaskan sedikitnya 10 orang. Anadolu menegaskan, bom tersebut mengandung gas beracun.

Belum diketahui identatitas para korban. Jumlah korban kemungkinan bertambah karena banyak yang menghirup gas.




Di saat bersamaan, aktivis melaporkan sejumlah helikopter rezim menjatuhkan sedikitnya 16 birmil di sisi selatan daerah tersebut. Saat itu, pertempuran sengit meletus antara pejuang dan militer rezim.

Masih di pedesaan Damaskus, dilaporkan sebanyak 40 orang termasuk di antaranya anak-anak dan wanita tewas saat berada di sebuah pasar di desa Zinah di Ghautah Timur. Suasana mencekam dan panik seketika menyelimuti pasar setelah jet Rusia melepaskan sejumlah roket.

Desa Zinah yang dikontrol pejuang dua bulan terakhir menyaksikan pertempuran sengit. Militer rezim berupaya merebut daerah tersebut.

Mujahidin TIP (Partai Islam Turkistan) afiliasi Al-Qaidah baru-baru ini merilis sebuah foto melalui media sosial saat para pejuang mereka sedang bertempur dan mengoperasikan sedikitnya satu unit senjata rudal anti-tank TOW untuk melawan pasukan rezim Assad di bagian barat laut Suriah. Foto ini merupakan salah satu dari sekian banyak rilisan mujahidin di dataran Al-Ghab yang strategis di bagian utara propinsi Hama.





Di samping itu, foto yang dirilis melalui akun Twitter resmi milik TIP ini diberi caption “Para ikhwan mujahidin Turkistan melancarkan tembakan balasan sengit ke arah pasukan Nushairiyah dukungan Rusia.” Rudal anti-tank yang menggunakan sistem kendali dan bisa “mengunci” target itu diduga milik faksi FSA dan digunakan secara bersama-sama saat mereka bertempur melawan Assad.

Banyak di antara faksi-faksi jihadis termasuk JN cabang Al-Qaidah turut ambil bagian dalam amaliyat di dataran Al-Ghab, sementara sejumlah elemen FSA juga ikut berperang bahu membahu bersama mereka melawan pasukan rezim Assad dan sekutu-sekutunya.

Jika benar bahwa misil (BMG-71 TOW) itu berasal dari pejuang FSA, maka merupakan satu indikasi bahwa kelompok/faksi FSA (Free Syrian Army) ini terus bekerjasama dengan para jihadis di Suriah.

Rusia kembali melakukan serangan udara yang membombardir kota Idlib yang mengakibatkan warga sipil menjadi korban, sebagaimana yang dilaporkan oleh Zaman Al-Wasl.

Serangan tersebut mengakibatkan 43 orang warga sipil meninggal dunia dan sisanya luka-luka karena tertimpa reruntuhan bangunan sebagai efek dari pengeboman tersebut. Sebagaimana yang dilaporkan oleh Unit Pertahanan Masyarakat-Tim Penyelamat Darurat dan warga setempat.

Selain di kota Idlib serangan Rusia juga dilancarkan intensif mengenai sejumlah titik penting di wilayah lain termasuk provinsi Hama, Homs, Ghoutah Timur, dan Aleppo.







Sebuah laporan dari Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR), menyatakan bahwa puluhan jet tempur dan Helikopter Rusia di Suriah dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 600 warga sipil termasuk 40% diantaraya adalah anak-anak dan perempuan dalam serangan udara beruntun yang dilakukan sejak keterlibatan Rusia di pihak rezim Bashar Assad dalam perang di Suriah. 

Daerah Khan Tuman yang lebih dari dua tahun yang lalu telah dibebaskan oleh Mujahidin, telah direbut paksa oleh rezim setelah mereka berusaha berkali-kali untuk menguasai wilayah tersebut dalam beberapa tahun ini. Akan tetapi, kemajuan yang diraih oleh koalisi pasukan rezim Assad dan Rusia itu tidak berlangsung lama, Koalisi Mujahidin Anti Assad yang selama ini diburu oleh ISIS, terus berusaha mengembalikan Khan Tuman.


Mujahidin pun berusaha sekuat tenaga untuk menghujani wilayah tersebut dengan berbagai peluru artileri. Pertolongan Allah tampak di Khan Tuman tercatat bahwa pesawat-pesawat tempur Rusia telah salah sasaran ketika melakukan pengeboman di wilayah tersebut, sehingga mengenai posisi-posisi pasukan rezim Assad sendiri ketika rezim Assad tengah menghadapi serangan balik dari Mujahidin. Rezim Assad benar-benar mengerahkan segala kekuatannya untuk menguasai Khan Tuman dengan strategi pembumihangusan dengan mengerahkan 100 buah roket untuk membakar kota tersebut.

Alhamdulillah, setelah melalui pertempuran sengit yang berlalu kurang dari tiga hari, akhirnya seluruh Khan Tuman berhasil dikuasai kembali oleh Mujahidin setelah pertempuran sengit melawan rezim Assad  dan pesawat tempur Rusia. Dilaporkan bahwa koalisi Mujahidin Suriah (Ahrar Syam, Jabhah Nushrah, Faylaq ash Shaam, Jaisyul Muhajirin,  sejumlah komponen FSA) berhasil membunuh melukai dan menangkap puluhan pasukan rezim dan milisi-milisi pendukungnya. Sejumlah besar persenjataan dan amunisi juga berhasil dijadikan sebagai ghanimah dari tangan rezim Assad.






Sekitar 40-an orang tentara rezim Asad dan milisi-milisi pendukungnya telah berhasil di tawan dalam operasi pembebasan Khan Tuman ini, di antara mereka terdapat milisi-milisi Syiah dari Iran dan Afghanistan.

Dalam pertempuran memperebutkan Khan Tuman ini, Rusia telah menghujani wilayah tersebut dengan 250 rudal dalam serangan udara mereka sehingga pasukan rezim dan para milisi pendukungnya berhasil menguasai 20% wilayah Khan Tuman. Namun demikian, Mujahidin mampu membebaskan Khan Tuman dan mengembalikannya ke pangkuan kaum Muslimin.


(21/12 Pertempuran Khan Tuman) - Mujahidin dari Suwaru al-Sham berhasil hancurkan Tank Milisi Bashar Assad


(21/12 Pertempuran Khan Tuman) - Unit FSA Liwa Suqur al-Jabal hancurkan Senjata 23 mm Pertahanan Milisi Bashar Assad


(20/12 Pertempuran di Khan Tuman) - Mujahidin Faylaqu al-Sham menembakan beberapa roket ke wilayah posisi pasukan Assad   

jerman-intelejen
Dinas intelijen luar negeri Jerman, BND telah melanjutkan kerjasama dengan dinas rahasia Suriah untuk memerangi kelompok oposisi.

Harian Mass-Circulation mengatakan, agen BND telah bepergian secara teratur ke Damaskus untuk melakukan pembicaraan dengan rekan-rekan Suriahnya dan ingin membuka kembali kantor pelayanan di sana.

Pemerintah Berlin dan Barat sebenarnya menjalin kesepakatan untuk tidak melakukan kerjasama resmi dengan Presiden Suriah, Bashar Assad. Tetapi, kerjasama Berlin dengan Damaskus ini menjadi bukti bahwa keduanya terlibat pembicaraan. Pihak BND sendiri juga tidak berkomentar ketika surat kabar Bild melaporkan kerjasama keduanya.

Kanselir Jerman, Angela Merkel dalam konferensi pers menolak berkomentar tentang setiap kegiatan operasional BND.

Meski telah terbukti, pemerintah Jerman berkilah bahwa tujuan kerjasama ini untuk tukar menukar informasi tentang ekstremis, dan membuka saluran komunikasi dalam hal krusial, seperti pilot Tornado Jerman yang ditembak jatuh di atas wilayah yang dikuasai oleh oposisi yang mereka nilai sebagai ekstremis.

Jerman sendiri telah mengerahkan pesawat pengintai Tornado dan dukungan militer non-tempur lainnya bagi pasukan koalisi AS di Suriah.

(World Bulletin)

Di Selatan negara Lebanon banyak terdapat pos-pos pertahanan militan Syiah milik Hizbullah Lebanon. Puluhan pemuda harus menjalani pelatihan militer selama 99 hari, sebelum ditugaskan dalam peperangan untuk mendukung rezim Assad di Suriah.

Menurut beberapa sumber yang dihimpun oleh Al-Bayan, Selasa (22/12), untuk menarik perhatian pemuda-pemuda itu, Hizbullah menawarkan upah dengan nominal yang lumayan besar. Mereka memperoleh bayaran sebesar US$ 2.000  per bulan atau setara 27 juta rupiah. Nilai itu belum termasuk fasilitas gratis seperti pendidikan militer, pengobatan, serta jaminan perlindungan kepada keluarga yang mereka tinggalkan.

Sebagai pendukung rezim Suriah, milisi Syiah Hizbullah sangat bergantung dengan perekrutan pemuda dari kalangan Syiah Lebanon, selain para pemuda asing yang menuntut ilmu Syiah di pusat-pusat pendidikan yang diselenggarakan Hizbullah.

Dalam sebuah hasil penelitian dijelaskan, Syiah Hizbullah mewakili 15% kekuatan pasukan pembela rezim Suriah. Selain itu, Hizbullah juga dilaporkan memiliki 30.000 prajurit. Menurut kantor berita Associated Press, Hizbullah memiliki sistem perekrutan pasukan yang sangat intensif.


Laporan media itu juga menjelaskan, selama perang Suriah Hizbullah telah kehilangan seribu lebih prajurit. Jumlah itu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan peperangan Hizbullah melawan Zionis di Lebanon Selatan yang telah berlangsung 18 tahun lamanya.

Laporan dari situs berita orient news, beberapa kelompok mujahidin di selatan Lattakia serukan mobilisasi kekuatan di Jabal Akrad untuk menahan laju pasukan Assad. Video di bawah ini menunjukan situasi darurat dimana mujahidin terlibat pertempuran sengit dengan milisi Syiah irak yang telah menguasai Jabal Nuba, pinggiran Lattakia.


Muslimah di wilayah pegunungan Jabal Akrad dan Turkiman di pedesaan Lattakia mengeluarkan seruan terakhir kepada mujahidin Suriah. Mereka menyeru seluruh mujahidin, khususnya di Idlib, segera datang ke kampung-kampung mereka yang kini dalam bahaya.

Ummu Khalid, warga pedesaan Lattakia yang kini mengungsi di kamp di perbatasan Turki, mengatakan kepada Al-Jazeera, Kamis (17/12), ketika para lelaki tidak menjawab seruan saudara-saudara kami sesama wanita untuk menghadang serangan Rusia di pedesaan Lattakia, maka wajib bagi kami melakukan seruan serupa.

Wanita berjilbab ini menambahkan sambil menangis, bahwa seruan ini untuk membangkitkan jiwa-jiwa para pejuang terhormat di Suriah. Dia berharap para pejuang seperti umat Islam pada zaman Khalifah Al-Muktashim ketika seorang wanita Muslimah dilecehkan tentara Roma.

“Kami berharap para pejuang Suriah menyambut seruan ini sebagaimana seruan para lelaki di zaman Khalifah Al-Muktashim,” tegasnya sesenggukan.

Seruan itu menyeru Jabhah Nusrah, Ahrar Al-Syam, Jaisyul Fath, Jaisyul Nasr dan Jaisyul Islam menyelamatkan pedesaan Lattakia hari ini, besok atau secepat mungkin.

Ketika saudara laki-laki, perempuan dan anak-anak kami dibunuh, kata seruan itu, tidak ada wanita di pedesaan Lattakia kecuali dia dibunuh. Kehadiran kalian, para pejuang, sangat kami butuhkan.

Muslimah pedesaan Lattakia juga meminta faksi-faksi pejuang tidak percaya berita yang menyebutkan rezim bersedia menarik diri dari Idlib jika pejuang menghentikan dukungan terhadap pejuang di Front Pesisir.

Seperti diketahui, militer Suriah didukung jet tempur Rusia beberapa hari terakhir mengontrol banyak wilayah di pegunungan Jabal Akrad dan Turkiman. Lokasi terakhir yang direbut adalah Jabal An-Nubah. Dukungan jet Rusia memberikan pengeruh besar bagi militer Suriah.

Aktivis media di pedesaan Lattakia beberapa hari terakhir juga gencar menyerukan mujahidin di Idlib dan Hama mengirim bantuan ke pedesaan Lattakia. Wilayah ini dalam bahaya, militer Suriah serta milisi Syiah semakin mendekat.

lattakia_16 desember 2015
Situasi Militer di pinggiran Lattakia, 16 Desember 2015

koalisi-saudi
Saudi Arabia telah membentuk koalisi "Tentara Islam" dari 34 negara untuk melawan terorisme. Koalisi yang dideklarasikan pada hari Selasa pagi (15/12). Koalisi ini berkantor pusat di Ibukota Arab Saudi-Riyadh.

Dalam pernyataan yang dilaporkan oleh Kantor berita Al-Jazeera dan Saudi Press Agensi, sekumpulan negeri-negeri Islam mengumumkan adanya Pernyataan Bersama untuk Membentuk Koalisi Militer Islam untuk Melawan Terorisme. Saudi Arabia menjadi pemimpin dari koalisi ini.

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa koalisi militer ini akan mendirikan Pusat Komando Bersama di kota Riyadh.  Pusat Komando ini berfungsi sebagai pusat pengkoordinasian operasi militer untuk menghadapi terorisme, serta sebagai pusat pengembangan program dan peralatan dalam rangka penguatan operasi militer.

Koalisi militer ini dibentuk di berdasarkan  prinsip-prinsip dan tujuan yang telah dicanangkan oleh Organisasi Kerjasama Islam dan berdasarkan pakta kesepakatan PBB, yang menyerukan kerjasama untuk memberantas terorisme dalam bentuk apapun.

Pangeran Saudi yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Muhammad bin Salman, menegaskan bahwa koalisi ini bukan hanya menargetkan Daulah Islamiyah atau ISIS tetapi juga menargetkan seluruh organisasi yang dianggap sebagai organisasi teroris.

Negara-negara yang berpartisipasi dalam koalisi ini (selain Arab Saudi) adalah: Yordania, Mesir, Turki, Uni Emirat Arab, Pakistan, Qatar, Bahrain, Bangladesh, Benin, Chad, Togo, Tunisia, Djibouti, Senegal, Sudan, Sierra Leone, Somalia, Gabon, Guinea, Palestine, Komoro, Ivory Coast, Kuwait, Lebanon, Libya, Maladewa, Malaysia ,Mali, Maroko, Mauritania, Niger, Nigeria dan Yaman.

Saudi Agen Politik Amerika di Timur Tengah

Arab Saudi telah menunjukkan wajahnya di Timur Tengah, dari mulai bermain mata dengan Amerika dan Rusia, hingga Konferensi Riyadh yang memaksa para pejuang oposisi untuk "hidup rukun" dengan rezim Bashar Asad.

Kini Arab Saudi tengah menampilkan dengan membangun koalisi negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim, untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai terorisme. Sayangnya, tidak ada satupun dari pernyataan bersama negeri-negeri tersebut (yang didalamnya juga melibatkan Palestina), yang juga menyatakan akan melawan Israel. Sementara hingga hari ini, Israel lah yang telah nyata-nyata menunjukkan aksi terorisme luar biasa terhadap para penduduk Palestina,

Pembentukan koalisi ini jelas merupakan fase baru dalam jihad di Timur Tengah, yang mestinya harus dihadapi oleh kaum Muslimin umumnya dan para Mujahidin khususnya dalam tantang jihad di masa depan yang semakin memanas.

Dengan jelas, inilah strategi Amerika untuk mengantisipasi kebangkitan umat islam di negeri Syam dengan memerangi ratusan kelompok mujahidin di Suriah yang tidak mau tunduk dalam konferensi Riyadh.

Dalam kunjungannya ke Moskow pada hari Selasa (15/12) kemarin, Menlu AS John Kerry melakukan pembicaraan cukup panjang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pembicaraan kedua pejabat penting Amerika dan Rusia itu menghasilkan sebuah deklarasi yang mengejutkan bahwa “Amerika Serikat dan mitra koalisinya tidak mengharuskan pergantian rezim di Suriah”.

Sebelumnya berangkat ke Moskow, Kerry mengatakan, pembicaraan lebih jauh mengenahi masa depan Assad akan menjadi topik diskusi dengan para pejabat Rusia.

Hal itu cukup mengagetkan karena selama ini para pejabat Amerika selalu bersikeras bahwa tidak akan ada masa depan bagi Assad. Namun, Kerry kembali menggarisbawahi bahwa AS dan Rusia pada dasarnya memiliki cara pandang yang sama mengenahi masa depan Suriah.

Rusia mengajukan proposal perundingan antara Assad dengan kelompok-kelompok oposisi sekuler untuk merancang draft konstitusi baru serta merencanakan pemilu yang bebas. Bahkan, sebelumnya Amerika menolak implementasi rencana semacam ini karena masih menyertakan Assad dan sejumlah pejabat penting rezim lainnya untuk berpartisipasi dalam pemilu.

Sejumlah pejabat Amerika memang pernah mengisyaratkan bahwa kebijakan mereka mengenahi Suriah bisa saja berubah, namun ini merupakan pertama kalinya seorang pejabat tinggi Washington secara terbuka menarik kembali ucapannya dengan menyatakan menolak perubahan rezim. Satu-satunya pejabat yang ‘berani’ melakukan hal itu hanyalah John Kerry.

Setelah mengirimkan beberapa pasukan dan jet pengintainya di Suriah, kini Jerman tengah melancarkan misi pengisian bahan bakar pada jet-jet sekutu.

Dilansir Worldbulletin pada Rabu (16/12), militer Jerman telah melancarkan misi pertama pengisian bahan bakar udara kepada jet-jet tempur sekutu yang memerangi ISIS.

german_air_militerPesawat A310 MRTT Jerman dikabarkan telah mengisi bahan bakar dua pesawat tempur pasukan koalisi AS sebelum kembali ke pangkalan militer Incirlik selatan Turki.

Pesawat tangki itu sendiri menjadi bagian dari misi pemerintah Jerman untuk membantu koalisi pimpinan AS dalam membombardir ISIS.

Jerman juga pernah mengindikasikan akan mengirim enam jet tempur pengintai Tornado, kemudian sebuah kapal untuk melindungi kapal induk Perancis serta mengirimkan 1.200 tentaranya.

Meski demikian, Jerman sendiri tidak secara langsung melancarkan serangan udara ke Suriah dan Irak seperti yang dilakukan oleh Perancis, Inggris dan Amerika Serikat.

hama_jaish_alislam
Upaya militer Suriah yang didukung milisi-milisi pendukungnya dan jet tempur Rusia menyerbu mujahidin di Sahlu Al-Ghab, pedesaan Hama, kembali gagal. Mujahidin harus bekerja keras menghadang serangan dari darat dan udara.

Dilaporkan Al-Jazeera, Rabu (16/12), militer rezim berupaya menyerbu daerah Al-Janabirah dan pangkalan Tel Utsman di pedesaan Hama Utara dan kota As-Sarmianiyah. Kedua daerah termasuk bagian dari wilayah Sahlu Al-Ghab dan termasuk daerah sangat strategis.

Aktivis media, Ubaidah Al-Utsman, menuturkan militer mengawali serangan dengan menembakkan roket dan mortir. Mereka bergerak menuju kota Al-Janabirah melalui tiga titik. Di saat bersamaan, sebagian lain dari mereka bergerak menuju Tel Utsman, dataran tinggi yang sangat strategis.

Pertempuran sengit pun meletus. Militer didukung serangan udara Rusia sehingga membuat mujahidin harus berjuang ekstra keras.

Perlawanan sengit yang diberikan mujahidin membuahkan hasil, kata Utsman. Setelah beberapa jam bertempur, pergerakan militer rezim terhenti. Bahkan, mereka mengelami kerugian pasukan dan peralatan.

Menurut Utsman, kerugian yang diderita musuh sangat besar. Setidaknya dua mortir hancur, 21 anggota musuh tewas, sebuah mobil ambulans pengangkut tentara yang luka hancur.

Mujahidin juga membalas serangan tersebut dengan menghujani pos-pos militer di pedesaan Hama Utara dengan mortir dan roket. Hal ini untuk menekan psikologis musuh supaya tidak kembali menyerang.

Perlu diketahui, wilayah Hama menjadi medan pertempuran sengit antara rezim dan mujahidin dalam beberapa bulan terakhir. Militer Suriah yang didukung milisi asing semakin kerap melancarkan operasi di wilayah itu setelah mendapat dukungan udara dari jet Rusia.

Akan tetapi, militer Suriah mengalami pukulan pahit ketika di awal intervensi Rusia. Puluhan tank tempur yang digunakan untuk menyerbu wilayah mujahidin berhasil dihancurkan, sebelum sampai ke wilayah mujahidin.

Pada hari ahad kemarin (13/12) koalisi mujahidin di utara Hama mengalami pertempuran sengit dengan pasukan Assad.

Sumber lapangan menyebutkan, bahwa mujahidin melancarkan serangan pada beberapa posisi pasukan Assad di desa Al-massasnah, al-Bowayda, al-Zlakiet, dan Shalyout.

wilayah biru adalah area yang menjadi target serangan mujahidin

Sementara itu kendaraan militer yang mengangkut banyak tentara Assad di wilayah alMadajen berhasil dihancurkan dengan rudal TOW dari mujahidin Jaish al-Nasr.



Serangan secara intensive dilakukan pula oleh mujahidin Jund al-Aqsa dengan menembakan beberapa meriam jahanam.



Di sisi berlawanan, pasukan Assad menembaki kota Al-Lataminah dengan puluhan roket diikuti dengan melemparkan beberapa bom barel secara bebas di Al-Lataminah, Markpah dan Lahaya oleh helikopter, yang mengakibatkan luka-luka di kalangan warga sipil. Kemudian pesawat tempur Rusia meluncurkan pula serangan di kota Morek, Markpah dan Lahaya pedesaan utara Hama.

Berikut ini adalah wawancara seputar Konferensi Riyadh bersama ustadz Ahmad Abdul Wahab, Kepala Kantor Media Hizbut Tahrir Suriah.



Konferensi Riyadh adalah strategi lanjutan dari Amerika setelah konferensi Wina beberapa bulan lalu. Dari awal Amerika sudah berencana mengumpulkan pihak oposisi agar berada di bawah kontrolnya sehingga terjadinya masa transisi dengan Pemerintah Assad, serta menjauhkan dari upaya tegaknya Khilafah di Suriah.

Dengan jelas, Amerika menjadikan Arab Saudi memuluskan rencananya secara politik dan di sisi yang lain Amerika mengendalikan Rusia agar bertindak secara militer.   

Sejumlah pasukan Assad tewas dan lainnya luka-luka pada hari Jumat (11/12) dalam serangan mujahidin Faylaq ar-Rahman di Ghouta Timur, tepatnya di wilayah Jobar.

Sumber lapangan mengatakan mujahidin berhasil menyergap konvoi sekelompok pasukan Assad di pinggiran al-Marj, Ghouta Timur; menewaskan sedikitnya tujuh orang dan puluhan luka-luka dalam jajaran milisi Assad.


Sementara itu, beberapa pesawat tempur Assad melancarkan dua serangan udara di wilayah Jobar menyebabkan jatuhnya korban dari kalangan warga sipil.



(eldorar)

Video Wawancara dengan Amir Jabhah Nusrah



Syaikh Al-Fatih Abu Muhammad Al-Jaulani mengatakan bahwa semua kelompok yang terlibat dalam konferensi Riyadh tersebut adalah para pengkhianat.

Amir Jabhah Nusrah tersebut mengecam sepak terjang Arab Saudi yang memaksakan penyatuan seluruh faksi di Suriah dalam agenda Sekulersime, sekaligus menyebut mereka yang terlibat dalam konferensi Riyadh  tersebut sebagai para pengkhianat.

Dalam acara wawancara dengan sejumlah perwakilan kelompok media, termasuk Al-Jazeera tersebut, pimpinan Jabhah Nushrah Abu Muhammad al-Jaulani mengatakan bahwa Konferensi Riyadh adalah bagian dari konspirasi untuk membangkitkan dan mempertahankan rezim Bashar Al-Assad.

"Konferensi yang diadakan di Suriah tersebut, tidak diadakan untuk menolong rakyat Suriah." kata Jaulani.

Ia mengatakan bahwa Jabhah Nusrah tidak diundang dalam acara tersebut, dan Jabhah Nusrah pun juga tidak akan pernah datang dalam acara tersebut atau acara semacamnya jika  diundang.

Syaikh Jaulani menegaskan, "Kelompok-kelompok bersenjata lain yang menghadiri konferensi tersebut telah melakukan 'pengkhianatan terhadap pengorbanan rakyat Suriah.' dalam perang sipil yang telah berlangsung hampir lima tahun ini."

Konferensi Riyadh yang diadakan oleh Arab Saudi tersebut mengundang para diplomat dari 17 negara, termasuk negara-negara para pendukung kelompok yang berseteru, baik dari kalangan oposisi maupun dari rezim Bashar Assad, yang menyetujui hasil-hasil konferensi di Wina-Austria tentang peta penyelesaian konflik Suriah.

Syaikh Al-Jaulani menolak adanya kemungkinan gencatan senjata atau penyelesaian politik dengan rezim thaghut Assad, dan menambahkan bahwa pasukan Suriah hanya menguasai 20 persen wilayah di negara tersebut.

"Sejauh ini, kami menganggap bahwa rezim Bashar Assad ini telah bubar dan pada faktanya rezim ini telah terpecah menjadi banyak faksi, yang dikontrol oleh Kolonel ini atau Jendral itu." Demikian penjelasan syaikh Al-Jaulani.

Jabhah Al-Islamiyah-Ahrar Syam

Penjelasan Walk Out dari Muktamar Riyadh.

 Sungguh kami sangat ingin menjadi pelopor untuk setiap inisiatif apapun di bidang politik yang bisa mewujudkan tujuan-tujuan revolusi rakyat kami, dan meringankan beban penderitaan mereka.

Dari titik tolak itulah kami mengikuti secara aktif dalam pertemuan Muktamar Riyadh untuk menghilangkan berbagai pertentangan-pertentangan dan menyatukan perbedaan, meskipun kami menyadaru lemahnya daya tawar kami dalam mewakili kelompok-kelompok mujahidin lain dan adanya oknum-oknum yang diketahui bergabung dengan rezim Suriah.

Kami pergi ke Muktamar Riyadh karena berterima kasih kepada orang yang mengundang kami dan juga membawa tugas dari rakyat kami di dalam negeri,  kami telah menjanjikan kepada mereka untuk tetap berperang baik secara politik maupun militer demi menjaga prinsip-prinsip dan ketetapan-ketetapan mereka yang sudah diumumkan sebelumnya.

Namun kami mendapati diri kami berada di depan kewajiban syariat maupun negara yang membuat kami wajib untuk keluar meninggalkan muktamar ini dan menolak semua solusi-solusi yang dikeluarkannya, itu disebabkan karena sebab-sebab berikut ini:

  1. Memberikan peranan penting/mendasar kepada Lembaga Rekonsiliasi Nasional dan oknum-oknum lainnya yang berada di bawah pengawasan rezim, hal ini jelas merupakan bentuk penghancuran yang nyata dan terang-terangan bagi aksi revolusi.
  2. Tidak mau menerima beberapa catatan-catatan dan tambahan yang disodorkan oleh kelompok-kelompok (revolusi) sebagai pertimbangan ketetapan yang telah disepakati atasnya dalam muktamar, termasuk di dalamnya dokumen lima poin ketetapan dan tidak ada kesungguhan untuk memenuhi harapan dan  keinginan rakyat muslim kami. 
  3. Tidak memberikan peranan penting  dan semestinya bagi kelompok-kelompok revolusi baik dalam pelaksanaannya dan tidak pula memberikan ruang bagi mereka untuk berperan dalam   menentukan solusi.

Dan kami mundur dari Muktamar ini sembari menyeru kepada kelompok-kelompok Mujahidin dan lembaga-lembaga revolusi yang aktif untuk berhenti dan melakukan perenungan secara historis demi kepentingan agama, umat dan rakyat mereka, memfokuskan pandangan mata mereka terhadap sejauh mana pengorbanan besar mereka yang dipersembahkan untuk mewujudkan tujuan-tujuan dan kesepakatan-kesepakatan ini.

Dan segala puji hanya bagi Allah


Harakah Ahrar Syam Al-Islamiyah

Pimpinan Umum


28 Shafar 1437 H
10 Desember 2015 M

muktamar-riyadh-ahrar-syam

Ahrar Al-Syam mengumumkan menarik diri dari konferensi oposisi Suriah di Riyadh pekan ini. Penyertaan ini diumumkan di pertemuan hari kedua, Kamis (10/12), dalam konferensi yang difasilitasi oleh pemerintah Arab Saudi itu.

Dalam pernyataan yang dilansir harian An-Nahar di situs onlinennya, Kamis, Ahrar Syam mengungkapkan bahwa konferensi tersebut tidak mendukung tuntutan rakyat dan revolusi Suriah. Yang dibahas tidak berpihak pada rakyat.

Gerakan yang kerap berkerjamasa dengan Jabhah Nusrah dalam operasi pertempuran itu menganggap, orang-orang yang terpilih dalam Komite Koordinasi Oposisi yang baru terbentuk mayoritas dari kalangan oposisi yang dikenal dengan dengan rezim. Di sisi lain, tokoh dan perwakilan faksi militer moderat ditempatkan dalam struktur pelengkap.

“Kami menghadiri konferensi Riyadh, dan terima kasih telah diundang, membawa mandat dari warga di dalam Suriah yang mempercayakan perjuangan politik dan militer kepada kami untuk melindungi revolusi. Namun, melihat kewajiban Syar’i dan negara, kami memutuskan menarik diri dari konferensi ini,” kata pernyataan Ahrar Al-Syam seperti dilansir An-Nahar.

Perlu diketahui, Ahrar Al-Syam menarik diri di hari kedua konferensi yang digelar sejak Selasa itu. Hari itu, agenda pembahasan menentukan orang-orang yang menjadi perwakilan seluruh oposisi Suriah bernegosiasi dengan rezim bulan depan.

Sumber: annahar.com

 Situasi Militer di Utara Aleppo, Koalisi Mujahidin diapit oleh serangan dari Kurdi sebelah Barat, ISIS sebelah Timur, dan Pasukan Rezim di sisi yang lain.


Brigade 51 FSA, Jabhah Shamiya, dan Thuwar al-Sham Kuasai Desa Jarez dan Baragidah


Serangan Ahrar Syam menargetkan pasukan ISIS di Desa Baragidah



Mujahidin memasuki Desa Baragidah

Beberapa pejuang ISIS yang terbunuh dalam pertempuran di Desa Baragidah


Penasihat senior rujukan Syiah Iran Ali Khemenei, Ali Akbar Wulayati, menyatakan negaranya siap menampung Bashar Assad sebagai “pahlawan”. Pernyataan ini dikeluarkan di saat Rusia menambah kekuatannya di Suriah setelah bersitegang dengan Turki.

“Kami siap menampung Bashar Assad sebagai pahlawan yang membela tanah dan rakyatnya sejak lima tahun terakhir,” kata Wulayati dalam wawancara dengan TV Al-Mayadin, TV pro rezim Bashar Assad, Kamis lalu.

Dia menegaskan bahwa keberadaan Bashar Assad di Suriah “sangat penting”. Kami tidak ingin dia tidak hadir di Suriah untuk “membela negaranya”.

Dalam kesempatan itu, Wulayati juga menyinggung memanasnya hubungan Turki dan Rusia pasca penembakan jet Rusia Su-24. Ia meminta kedua negara mengurangi ketegangan itu.

Para pengamat melihat, seperti dilansir portal middle east online, Iran dalam beberapa waktu terakhir semakin gencar mengeluarkan pernyataan-pernyataan ke media menegaskan negaranya mendukung Bashar Assad. Hal itu, kata mereka, karena Iran takut pengaruhnya melemah di Suriah pasca Rusia turun tangan.

Iran ingin menjadi pemain inti dalam kancah pertempuran di Suriah membela Bashar Assad. Sehingga, Iran bisa memiliki pengaruh besar dalam pergerakan politik di negara tersebut .

Di sisi lain, Rusia menambah kekuatannya di Suriah pasca penembakan jet tempurnya di pinggiran Lattakia yang berbatasan dengan Turki. Pembangunan pangkalan militer baru dan penambahan militer rencananya akan dilakukan Rusia dalam beberapa hari ke depan.

Dari Suriah dilaporkan bahwa serangan udara Rusia yang menargetkan posisi para Mujahidin dan kelompok-kelompok oposisi di Suriah utara telah membantu ISIS untuk memperluas pengaruhnya, kata seorang sumber militer dalam kondisi anonimitas kepada Anadolu Agency.

isis-syria-control
Sumber militer itu itu mengatakan bahwa ia memiliki bukti bahwa serangan udara yang dilaksanakan oleh Rusia sama sekali “tidak memiliki dampak langsung” pada kelompok ISIS, tetapi justru memiliki efek yang sangat menghancurkan bagi kelompok oposisi NON ISIS yang berjuang melawan rezim Syiah Bashar Assad.

“Kita dapat melihat dalam operasi militer yang terjadi di kawasan Mara’a,” katanya. “Ketika pertama kali memulai serangan udara, Rusia justru menyerang Aleppo yang merupakan tempat berkumpulnya para pejuang anti rezim Assad yang juga berperang melawan invasi ISIS di sepanjang garis Mara’a, serangan Rusia itu berfungsi untuk membantu pasukan rezim Assad mnghabisi para Mujahidin Ahlussunnah di kawasan tersebut dengan dukungan serangan udara. Serangan tersebut justru menciptakan kekosongan kekuasaan yang dimanfaatkan oleh ISIS untuk memperluas wilayahnya.”
Sebagaimana diketahui, pertempuran di Aleppo Utara merupakan pertempuran paling ganas, ketika para Mujahidin anti Rezim ini harus menghadapi kepungan tentara Rusia dan Assad dari depan dan serangan ISIS dari belakang.

Jalur Mara’a mengacu ke suatu daerah yang terletak di antara kata Mara’a dan Deir Rafat di Suriah. Wilayah ini terletak di dekat garis depan pertempuran melawan gerombolan Daulah Baghdadiyah/ISIS, yang berusaha untuk mengontrol dua kota tersebut sebelum mengambil Azaz, yang akan memberikan kontrol terhadap wilayah pedesaan di Aleppo utara.

Tangan-Tangan Intelijen Rusia di Tubuh ISIS

Banyak pihak yang curiga dengan keterlibatan Rusia dalam perang Suriah, mengingat nyaris tidak ada satu pun serangan udara Rusia yang menghantam wilayah ISIS, 90% lebih serangan udara tersebut ,justru diarahkan untuk menghancurkan posisi-posisi Mujahidin anti Assad yang sampai saat ini berjuang keras melawan ISIS.

Kecurigaan tentang maksud Kremlin mengirim pasukan ke Suriah, agaknya mulai terkuat, saat muncul laporan yang sangat cepat beredar di dunia maya maupun siaran televisi setempat tentang pengakuan anggota ISIS yang lari ke Turki bahwa dirinya diorganisir oleh intelijen Rusia untuk bergabung bersama ISIS.

Pengakuan tersebut, agaknya mendapatkan sebuah penegasan, ketika salah satu channel berita, Muzamzir Asy-Syam menyebutkan bahwa Jamaah Daulah pimpinan Al-Baghdadi telah mengeksekusi salah satu prajurinya, bernama Harun Asy-Syisyany setelah mengaku direkrut oleh intelijen Rusia sejak sekitar setengah tahun yang lalu, ini membuktikan bahwa lebih dari 1 orang Czhechnya yang telah diorganisir oleh intelijen Rusia untuk bergabung dengan ISIS.

Sementara itu sejumlah kelompok hak asasi manusia yang bermarkas di Eropa telah mencatat bahwa mayoritas orang-orang Chechnya yang berperang dalam barisan Jamaah Daulah dibawa ke Suriah oleh intelejen Rusia.

Mereka bahkan mengetahui nama-nama pejabat Rusia yang bertugas merekrut orang-orang Chechnya untuk mendukung Jamaah Daulah. Ini berarti di satu sisi Rusia mengklaim memerangi Jamaah Daulah di Suriah, sementara intelijen Rusia mengawasi pengiriman mereka ke Suriah, berdasarkan sumber-sumber Barat.

Mujahidin yang tersisa di kawasan Aleppo Utara benar-benar tengah menghadapi ujian yang sangat berat. Garis perbatasan yang mereka jaga saat ini harus menghadapi serangan dari segala penjuru.

Jika sebelumnya mereka berkonsentrasi untuk menjaga garis demarkasi tersebut dari serangan musuh, kini mereka harus menghadapi serangan rezim yang berkoalisi dengan pasukan darat dan udara Rusia, pada saat yang sama mereka harus menghadapi serbuan pasukan Kurdi dari arah utara.





Beratnya medan pertempuran di Aleppo Utara tersebut, masih diperparah dengan pengkhianatan pasukan ISIS yang mengerahkan segala kekuatan mereka untuk menyerbu Aleppo utara dari arah timur.

Jaringan Media Al-Jazeera merilis sebuah video wawancara singkat dengan Saja Dailami, mantan istri Abu Bakar Al-Baghdadi (Amir Jama’ah Daulah/ISIS). Saja Dailami kembali menjadi topik hangat ketika menjadi salah satu muslimah yang kembali berhasil dibebaskan oleh Jabhah Nushrah dari penjara Lebanon.

Sebelumnya Saja Dailami juga pernah ditawan oleh rezim Assad di Suriah, dan berhasil dibebaskan oleh Jabhah Nushrah melalui proses pertukaran biarawati yang mereka tahan. Namun Saja Dailami kembali tertangkap oleh otoritas Lebanon dalam perjalanan pulangnya melalui Lebanon. Alhamdulillah, kemarin Saja Dailami dan anak-anaknya kembali bebas setelah Jabhah Nushrah berhasil mengupayakan pertukaran tahanan dengan pihak Lebanon.



Mantan Istri Baghdadi, Saja Ad-Dailami

Saja Ad-Dailami dilaporkan termasuk di antaranya tawanan yang dibebaskan Lebanon dalam operasi pertukaran tawanan. Ia ditangkap pemerintah Lebanon untuk kedua kalinya pada 2013.

Laporan berbagai media menyebutkan bahwa Saja sempat menikah dengan pemimpin ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi. Pernikahan itu terjadi sebelum munculnya ISIS sekarang. Menurut pengakuan Saja, seperti dilansir rassd.com, pernikahan itu tidak lebih dari tiga bulan.

Selepas itu, Saja menikah dengan komandan mujahidin di Provinsi Anbar pada 2010. Namun, suaminya gugur dalam operasi yang digulirkan militer Iraq. Kemudian dia menikah dengan seorang pria berkebangsaan Palestina sampai ia ditangkap.

Ayah Saja Ad-Dailami bernama Humaid Ibrahim Ad-Dailami. Ia adalah salah satu pemimpin Jabhah Nusrah di wilayah perbatasan dengan Lebanon. Dikabarkan juga, ayahnya termasuk salah satu komandan yang bertanggung jawab dalam proses penawanan para tentara Lebanon tersebut.

Jenderal Qassim Sulaimani, Panglima pasukan elit Garda Revolusi Iran (IGRC) dilaporkan mengalami luka parah di Aleppo Suriah. Hal itu diungkapkan oleh situs oposisi Iran berbahasa Persia, AsrIran.

Sebagaimana dilansir Al Arabiya, Senin (30/11), AsrIran melaporkan bahwa Sulaimani terluka parah bersama dengan dua orang personil lainnya. Dia terluka setelah dihantam roket antitank 12 hari yang lalu, dalam pertempuran di Aleppo, Suriah Utara.

Situs Asriran merupakan laman yang dianggap dekat dengan Dewan Nasional Perlawanan Iran. Organisasi yang berpusat di Paris, Prancis tersebut menaungi lima kelompok oposisi di negeri mullah.

“Berdasarkan laporan dari dalam Korps Garda Revolusi rezim Iran, Qassem Sulaimani komandan ternama pasukan teroris Al Quds, telah menderita luka parah akibat pecahan peluru, termsuk di kepala, saat berada di medan pertempuran di selatan Aleppo dua pekan lalu,” kata AsrIran dalam laporannya.

Laporan tersebut menerangkan bahwa saat itu Sulaimani berada dalam kendaraan yang membawanya mengawasi operasi pasukan Garda Revolusi Iran. Pasukan yang dikerahkan di Suriah itu menjadi sasaran Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) yang kemudian turut melukai Sulaimani.

“Akibat luka-luka parah yang dideritanya, dia langsung dibawa oleh helikopter IRGC ke Damaskus, dan setelah menerima pengobatan awal dipindahkan ke Teheran. Dia dirawat di Rumah Sakit IRGC Baqiyatullah di Jalan Mullahsadra Teheran, dan sejauh ini telah mengalami sedikitnya dua operasi. Sekelompok dokter yang dipimpin oleh seorang ahli saraf dan otak spesialis terus mengawasi kondisinya,” kata laporan tersebut.

Laporan tersebut juga dibenarkan oleh pernyataan Amir Musavi. Dia adalah direktur Pusat Studi Strategis dan Hubungan Internasional di Teheran.

Seorang mantan tahanan di penjara Sednaya mengungkapkan bahwa ribuan tahanan tewas di rumah sakit militer Tishreen di Damaskus, di mana rumah sakit menggunakan sebuah kamar kecil untuk para tahanan. Di kamar tersebut banyak kasus pembunuhan terjadi.



Mantan tahanan di penjara Sednaya mengatakan kepada Zaman Alwasl di Hama empat pejabat militer yang ditahan di dalam ruangan yang sama dengan dirinya, meninggal dalam waktu kurang dari satu tahun setelah mengunjungi rumah sakit untuk penyakit yang berbeda. Oleh karena itu, para tahanan banyak yang menolak pergi ke rumah sakit dan lebih memilih untuk mati di dalam penjara, tetapi banyak dari mereka yang dipaksa ke rumah sakit dengan kekuatan dan kemudian mereka dibunuh di sana.

Mantan tahanan (HA), seorang Letnan Resimen pasukan khusus menjelaskan bahwa ia perlu dilarikan ke rumah sakit di bulan Oktober 2013 karena penyakit kulit dan ia dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang diawasi oleh asisten dan seorang prajurit Angkatan Darat rezim Suriah, ia menegaskan bahwa banyak pasien yang datang ke rumah sakit tanpa sadar dan kemudian tewas, ia memperkirakan bahwa mereka diberi suntikan yang menyebabkan kematian.

Ia menjelaskan bahwa 6 dari 20 tahanan yang merupakan petinggi militer yang membelot dari jajaran militer rezim, meninggal dengan alasan yang berbeda dalam jangka waktu setahun (pertengahan 2013-pertengahan 2014). Dia mengatakan bahwa alasan yang paling mungkin atas kematian mereka adalah penyiksaan, kurangnya kebersihan ruangan penjara di samping penyebaran penyakit menular seperti infeksi kulit, tifus dan kudis, yang diperburuk dengan adanya kekurangan gizi dan kurangnya perawatan.


“Dalam banyak waktu kami berharap kematian dari rekan-rekan kami untuk mengambil makanan mereka dan pakaian mereka,” ungkapnya yang menambahkan bahwa hingga saat ini masih banyak tahanan yang hanya memakan biji zaitun, kulit kentang dan tulang ayam.

Mantan tahanan yang menjadi sumber Zaman Alwasl menjelaskan bahwa makanan yang diberikan terlalu sedikit untuk satu asrama yang berisi 30 tahanan, yang menyebabkan kurangnya gizi dan tubuh para tahanan terus mengurus hingga hanya mencapai 49 kg saja.

media resmi Jabhah Nushrah wilayah Qalamoun telah merilis pesan audio Amir JN Qalamoun Abu Malik As-Syami. Dalam pesan audio yang berjudul “Peringatan Terakhir Untuk Jama’ah Daulah (ISIS)”, Syaikh Abu Malik As-Syami kembali memperingatkan dengan tegas Jama;ah ISIS untuk segera berhenti memerangi mujahidin dan muslimin dan bertaubat dari penyimpangan strategi dan aqidah yang mereka usung.

Dalam audio ini, Syaikh Abu Malik As-Syami memberi tanggapan dan bantahan atas pesan terbaru Jubir resmi ISIS Al-Adnani. Dalam pesan terbarunya Al-Adnani telah semakin menggila dan hilang kendali, dengan mengancam semua jama’ah jihad di muka bumi yang masih saja tidak mau tunduk kepada “Daulah Islam” mereka.

Syaikh Abu Malik As-Syami menekankan bahwa fitnah internal ini tidak memberikan sedikitpun kebaikan kepada Islam, dan bahkan menguntungkan musuh-musuh Islam. Dimana mujahidin kini malah disibukkan dengan harus menghadapi dua musuh sekaligus, musuh kafir yang berada di depan dan Jama’ah ISIS yang menyerang dari belakang.

Namun, jika peringatan dan imbauan terakhir ini tetap dianggap angin lalu dan tak digubris oleh Jama’ah ISIS dan prajuritnya, maka bahasa pedanglah yang selanjutnya akan diberikan! Sehingga fitnah atas dienullah dan jihad bisa dibersihkan kembali, dan mujahidin bisa kembali leluasa menghadapi musuh mereka dari kalangan kuffar!


https://soundcloud.com/islam-islam-745595159/ae8nwjvcaldj

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget