Halloween Costume ideas 2015
[ads-post]

Kisah Abu Hamzah Sudani, Mujahid Jabhah Nusrah

Abu Hamzah atau juga dikenal dengan nama Abdus Salam Mahmud adalah sosok mujahid yang mengagumkan. Ketahanan tubuhnya sangat kuat dan tidak terlihat lelah di saat mujahid lainnya sudah kehabisan tenaga. Agar lebih intensif dalam inspeksi wilayah, kelompok mujahid dibagi menjadi dua dan Abu Hamzah termasuk dalam salah satu dari dua kelompok itu.

Momen penting itu pun terjadi. Ketika dua kelompok mujahid mulai bergerak, tiba-tiba ada serangan membabi buta dari musuh dan membuat barisan pertahanan mujahidin buyar. Mereka terpisah-pisah dan masing-masing mempertahankan diri dengan senjata yang dibawanya.

Dari anggota mujahidin tadi, ada dua mujahidin yang terjebak dalam terjangan peluru musuh. Kebetulan magasin kalashnikov dari  salah satu mujahid ini kosong sedangkan desingan peluru musuh begitu memekakkan telinga. Mujahid ini kemudian memberikan peringatan bagi anggota lain di belakangnya untuk berhati-hati dari terjangan peluru musuh. Dia mengira semua anggota ada di belakangnya, ternyata tidak ada satu pun mujahid yang tersisa kecuali Abu Hamzah.

Keduanya hanya bisa pasrah kepada Allah saat itu. Mereka menggunakan cover untuk berlindung dari serangan musuh yang membabi buta. Mujahid ini kemudian memberikan magasin yang kosong pada Abu Hamzah agar diisi ulang. Selang beberapa menit, ia meminta magasin dari Abu Hamzah dan sekilas ia melihat ke arah Abu Hamzah.

Ia terkejut magasin kosong tadi terkena bercak darah segar dan mendapati Abu Hamzah telah limbung tidak sadarkan diri. Rupanya Abu Hamzah telah menjemput apa yang selama ini ia rindukan, mati syahid. Allah telah memberikan anugerah terindah kepada mujahid mulia ini.

Itulah salah satu kisah dari ribuah kisah menjemput syahid yang ada. Dialah Abu Hamzah Sudani, seorang mujahid sekaligus bapak dari Hamzah kecil yang lahir setelah kesyahidannya. Dia ibarat Lukman Al-Hakim yang memberikan wasiat ketakwaan kepada anaknya.

Abu Hamzah bersama anak-anak Suriah

Surat dari Abu Hamza rahimahullah untuk anaknya yang lahir setelah kesyahidannya.

Assalamualaikum Hamzah, Ayah menulis ini ketika dirimu masih berukuran sebesar arbei. Beberapa minggu silam dirimu hanyalah sebuah cairan hina, kemudian Allah membentukmu menjadi segumpal darah dan sekarang dirimu berbentuk janin di rahim ibumu.

Ayah menulis ini untuk mengingatkanmu bagaimana kita diciptakan dan betapa kecil serta lemahnya kita jika Allah tidak memberikan kekuatan dan kemampuan. Kemudian Dia akan melihat kekuatan yang diberikan pada kita dipergunakan untuk apa. Seketika itu juga kita akan lupa bahwa pada asalnya kita berasal dari setetes air hina.

Ayah ragu mempunyai waktu yang cukup untuk melihatmu tumbuh dewasa hingga mampu membaca tulisan ini dan paham maknanya. Ayah memberimu nama Hamzah karena Hamzah Radhiyallahu ‘Anhu adalah seorang pemimpin para syuhada di Jannah dan Ayah juga mengharapkan kesyahidan untukmu. Kesyahidan datang jika menapaki jihad dan jihad adalah jalan yang kuharapkan untukmu.

Hiduplah dengan kemuliaan, putraku dan tunduklah hanya kepada Allah. Jangan sampai memusuhi orang beriman dan berteman dengan orang kafir. Jangan sampai terlepas dari kawalan Al-Quran dan Sunnah. Selalu sertakan ibumu di hatimu. Selalulah meminta petunjuk dari Rabbmu atas semua yang kamu kerjakan dan jangan pernah takut celaan dari pencela. Jadilah peluru untuk Islam, dan biarlah kamu ditembakkan ke mana saja sesuai kebutuhan Islam. Terakhir, selalu ingatlah ayahmu di dalam doa-doamu.


Betobat dan Menjemput Hidayah

Sebelum seorang Abu Hamzah berubah menjadi mujahid, ia pernah menjalani masa kelam yang begitu gelap di Australia. Tidak disebutkan bagaimana awalnya Abu Hamzah bisa menetap di benua kanguru ini.

Saat itu, remah-remah kebaikan seolah tak bersisa di dalam dirinya. Dia dikenal sebagai seorang petarung jalanan, buronan polisi, pecandu narkotika dan terlihat seperti manusia yang tidak punya cita-cita.

 “Meskipun saat itu saya telah melakukan semua perbuatan setan, tetapi masih tersisa sisa-sisa kebenaran di lubuk hati yang terdalam.” ujar Abu Hamzah.

Allah adalah Sang Penguasa Segala Sesuatu, sungguh suatu hal yang sangat mudah bagi-Nya untuk membolak-balikkan hati seseorang. Jiwa dan hati Abu Hamzah yang telah larut dengan kemaksiatan, Dia angkat derajat Abu Hamzah dengan keimanan. Hidayah itu datang. Abu Hamzah serta merta menjadi seorang aktivis dakwah yang tidak mengenal lelah.

Abu Hamzah mulai meninggalkan lubang kemaksiatan dan mencoba memanjat terjalnya jalan dakwah. Bahkan berkat dakwahnya mampu mendatangkan hidayah bagi orang-orang kafir di sana. Tidak sedikit penduduk Australia yang akhirnya masuk Islam lantaran dakwah Abu Hamzah dan tentunya atas kehendak Allah semata.

Tentu jalan dakwah tidak akan pernah sepi dari godaan dan cobaan. Abu Hamzah mendapat gangguan dan intimidasi dari orang-orang yang tidak suka padanya. Hal ini membuatnya untuk berhijrah ke Mesir dan berharap di sana dapat memperdalam ulumuddien.

Abu Hamzah Sudani


Perjalanan ke Mesir

Banyak pengalaman menarik yang Abu Hamzah dapatkan di negeri laut merah ini. “Setiap malam di bulan Ramadhan, kami pergi ke masjid-masjid yang berbeda untuk shalat, sebagian besar imam yang ada mempunyai Qiraah yang menakjubkan.” ungkap Abu Hamzah.

Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Niat awal Abu Hamzah untuk belajar di Mesir terganjal karena adanya kudeta militer Al-Sisi. Justru, hal ini membuka mata hatinya untuk benar-benar memperjuangkan Islam seutuhnya. Dia secara aktif membela kaum muslimin dari penindasan yang dilakukan rezim Al-Sisi. Kesadaran inilah yang membuat dirinya semangat untuk berjihad membela dien Allah.

Perjalanan ke Syam

Abu Hamzah mengalihkan pandangannya ke arah Syam dimana amalan jihad terbuka lebar di sana. Kecintaan pada jihad menuntunnya untuk melangkah kaki ke bumi Syam. Namun, perjalanan awal ke Syam ini tidak semanis yang ia bayangkan. Saat itu, bentuk perlawanan oposisi belum tertata rapi. Semangat perjuangan mereka bukan untuk menegakkan syariat Allah melainkan demi demokrasi.

Kondisi Abu Hamzah semakin berat ketika sang ibu tidak menyetujuinya bergabung dengan mujahidin Syam. Hal ini semakin mengecilkan hati Abu Hamzah dan hampir membuyarkan mimpinya. Bahkan ia sempat keluar dari Syam karena kondisi yang jauh dari harapan.

Alhamdulillah, setelah penantian selama setahun, harapan itu muncul kembali. Abu Hamzah kembali berhijrah ke Suriah dan ingin bergabung dengan salah satu kelompok di sana, yaitu ISIS (saat itu belum bernama IS). Karena dia melihat banyak dari kawan-kawan lamanya bergabung dengan jamaah pimpinan Al-Baghdadi ini.

Setelah mempersiapkan segala hal, Abu Hamzah mencoba melakukan hubungan dengan temannya yang bergabung dengan ISIS. Namun, usahanya sia-sia. Panggilan telepon atau usaha lainnya tidak mendapatkan respon dan tidak aktif. Mungkin Allah berencana menggabungkan Abu Hamzah dengan kelompok lain yang lebih baik.

“Subhanallah, sahabatku yang bergabung dengan IS menonaktifkan handphone-nya dan tidak membalas. Saya pun mencoba nomor kontak lainnya dan si pemilik kontak itu bilang, ‘Jangan datang!!!’. Alhamdulilah sekarang saya bisa memutuskan setelah shalat istikharah, Allah membukakan jalan benderang untukku.” ungkap Abu Hamzah.

Dengan cepat Allah mengarahkan pelabuhan yang dikunjungi Abu Hamzah adalah Lattakia, dimana ia bergabung dengan Jabhah Nusrah. Setelah secara resmi dirinya bergabung dalam JN, ia pun segera turun ke lapangan bergabung dengan berbagai operasi yang digelar. Ia mendonasikan semua apa yang dipunyai untuk perjuangan ini.

Dentuman tank dan serangan birmil tidak menyurutkan semangatnya untuk berjuang. Satu hal yang tidak pernah ia lewatkan adalah ribat (berjaga di perbatasan musuh). Abu Hamzah tidak pernah sekalipun terlambat dari jadwalnya untuk ribat.

Di sela-sela waktu yang ia punya, Abu Hamzah sering berbagi cerita tentang pengalamannya mengarungi dunia dan membicarakan fitnah IS. Ia terkadang menceritakan apa yang dilakukan sahabatnya yang bergabung dalam IS, dari raut wajahnya terlihat ia tidak menyetujui sikap sahabatnya tersebut.

Terkadang juga saat waktu-waktu luang, Abu Hamzah menyempatkan diri menelpon ibunya. Tetapi ia tidak pernah mengaku bahwa telah bergabung dengan Jabhah Nusrah di Syam. Namun, ketika menelepon kadang terdengar suara bom atau birmil yang jatuh sehingga menimbulkan kecurigaan ibunya. Subhanallah, suara bom itu tidak pernah terdengar ketika Abu Hamzah menelepon, justru bom-bom itu berjatuhan setelah ia menelepon ibunya.

Di samping sebagai seorang mujahid, Abu Hamzah juga dikenal sebagai ahlu ibadah. Ia tidak pernah meninggalkan shalat sunnah. Selalu melaksanakan shalat tahajud di malam-malamnya dan ketika siang diisi dengan shaum sunnah Senin-Kamis. Cuaca yang dingin tidak penah menghentikannya untuk beribadah pada Allah.

Abu Hamzah berkata pada salah seorang mujahid, “Allah mengabulkan semua doaku.”

Mujahid ini menjawab,” Apakah kamu tidak meminta pada Allah untuk menjadi syuhada.”

Abu Hamzah menjawab,”Tentu, saya memintanya.”

Ucapan do'a atas syahidnya Abu Hamzah Sudani

Kepribadian Abu Hamzah

Setiap orang yang bertemu dengannya pasti akan merasa nyaman. Abu Hamzah adalah orang yang pemurah dan rendah hati. Sangat menyenangkan menghabiskan waktu dengan mengobrol dengannya. Ia adalah seseorang yang tidak penah mementingkan diri sendiri, suatu saat ia mengalami krisis keuangan dan ada mujahid yang menawarkan uang padanya.

Ia menjawab, “Jika kamu ingin mendonasikan uangmu, di sana ada anak kecil yang membutuhkan uang untuk ke perawatan kesehatan, berikan uangmu padaku akan aku bawa anak itu ke dokter.”

Akhir Penantian

Dalam setiap operasi yang dilakukan, apapun posisi yang dipercayakan pada Abu Hamzah, maka ia akan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Ia tidak pernah merasa malu atau iri hati dengan berbagai posisi yang diberikan kepada para mujahid, baginya adalah semua posisi itu baik, dan hendaknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Allah pun benar-benar mengabulkan doanya. Impiannya menjadi syuhada terkabulkan ketika sedang menjalani sebuah operasi. Kisahnya telah kami tuturkan di awal tulisan ditambah dengan surat wasiat kepada anaknya, Hamzah yang saat itu belum lahir.

Ketika hari kesyahidannya, banyak sahabat-sahabatnya mengucapkan selamat di jejaring sosial atas raihannya memperoleh nikmat sebagai syuhada. Bahkan istrinya, Zaheeda Tshankie yang saat itu hamil membuat status untuk mengenang suaminya tercinta.

“Tiap malam dia selalu ingin menjauhi tempat tidurnya, pinggangnya tidak bisa merasa nyaman berada di tempat tidur.” tulis Zaheeda di jejaring FB.

Setidaknya, kisah Abu Hamzah dapat diambil beberapa pelajaran. Di antaranya adalah bentuk bakti kepada orang tua, penjagaan terhadap ibadah-ibadah sunnah, serta harapan untuk menjemput jalan mulia atau mati syahid. Selamat jalan pahlawan Islam. Semangat dan kesungguhanmu semoga terwariskan pada anakmu dan kaum muslimin seluruhnya.

Penulis: Dhani El_Ashim
Sumber : kiblat-net
Labels:
materi islam

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget