Halloween Costume ideas 2015
[ads-post]

Ahrar Syam dan Abu Yahya AlHamawi

Harakah Islam Ahrar Asy-Syam, yang merupakan salah satu kelompok Mujahidin terbesar di Suriah, telah memilih pemimpin baru: Syaikh Abu Yahya Al-Hamawi Hafidzahullah.


Pidato Pertama Abu Yahya AlHamawi setelah terpilihnya menjadi Pemimpin baru Ahrar Syam

Didirikan pada tahun 2011, Ahrar Asy-Syam pertama kali dipimpin oleh Syaikh Hassan Abboud Rahimahullah, yang juga menggunakan alias Syaikh Abu Abdullah Al-Hamawi. Seperti kebanyakan para petinggi Ahrar Syam, beliau adalah seorang mantan narapidana "sayap Islam" dari penjara politik utama pemerintah rezim Suriah di Seidnaia, utara Damaskus. Menurut salah satu sumber informasi, Syaikh Abu Abdullah Al-Hamawi ditahan di penjara antara 2004 dan 2011 atas tuduhan memiliki hubungan dengan kelompok salafi jihadi; sumber lain mengatakan 2007-2011.

Banyak dari tahanan Islamis ini dibebaskan pada awal pemberontakan oleh amnesti presiden, keputusan yang masih hangat diperdebatkan. Tahanan yang mendapat amnesti membentuk beberapa kelompok bersenjata yang berbeda pada tahun 2011 dan mulai berhubungan dengan relasi, sel-sel tidur Islamis yang lebih tua dari dalam atau di luar penjara, sejumlah orang buangan yang melarikan diri dari tindakan keras anti-Islam dari tahun 1980-an, serta tokoh-tokoh Mujahidin asing, dalam rangka menciptakan sebuah gerakan bersenjata Suriah yang masif.

Fraksi yang dihasilkan, yang kemudian dikenal sebagai Batalyon Ahrar Asy-Syam, mengambil markas di wilayah Idlib-Hama dari barat laut Suriah, di mana banyak dari para pemimpinnya lahir di sana dan yang mana kelompok itu masih tetap kuat hingga saat ini. Syaikh Hassan Abboud, misalnya, dilaporkan berasal dari Khirbet Naqous di daerah Sahl Ghab, yang menjorok naik dari Hama barat ke Idlib. Kelompok ini kemudian langkah demi langkah mulai berkembang, dengan bergabungnya faksi-faksi kecil mencari perlindungan dan kepemimpinan, selain itu Ahrar Asy-Syam juga merajut kembali hubungan dengan teman satu sel di Seidnaia yang secara independen mendirikan gerakan mereka sendiri di provinsi lain (seperti yang berbasis di Aleppo, Harakah Fajr Al-Islam, Fraksi yang dibuat oleh Syaikh Abu Hamzah dan Syaikh Abu Yazen, keduanya Syahid pada tahun 2014). Setelah memperluas jaringannya ke sebagian besar Suriah, meskipun masih lemah di timur dan selatan, kelompok ini mengubah namanya setelah merger besar-besar pada musim semi 2013.

Pada tanggal 9 September 2014, sebagian besar generasi pertama pemimpin Ahrar Asy-Syam gugur Syahid dalam sebuah ledakan bom di sebuah lokasi bawah tanah di dekat Ras Hamdan di Provinsi Idleb, di mana mereka sedang berkumpul untuk pertemuan tingkat tinggi. Penyebab ledakan itu belum diketahui secara pasti. Ada yang menganggap ledakan itu berangkat dari kecelakaan (karena lokasi Ras Hamdan kabarnya juga terdapat pabrik bom), atau serangan seorang pembom bunuh diri, atau pengkhianatan intern atas nama pemerintah asing, serangan ISIS, tapi semua itu masih spekulasi. Pemimpin Ahrar Asy-Syam yang diwawancarai tentang insiden tersebut menolak untuk berkomentar kecuali dengan mengatakan bahwa penyelidikan sedang berlangsung.

Abu Jaber dan Kepemimpinan tahun 2014

Syaikh Hassan Abboud dan sebagian besar petingginya antara mereka yang terbunuh dan banyak orang memperkirakan Ahrar Asy-Syam akan secara dramatis melemah dan mungkin juga pecah. Tapi entah bagaimana kelompok Jihad ini menantang harapan dan bangkit kembali dengan mengesankan.

Segera setelah ledakan, anggota Dewan Syura Ahrar Asy-Syam yang selamat berkumpul untuk segera memilih pemimpin baru, termasuk sejumlah komandan yang sebelumnya lapis kedua dan yang baru-baru ini berafiliasi.

Sebagai pemimpin baru, -Ahrar Asy-Sham lebih suka istilah "pemimpin umum," atau Qaid 'amm, dibanding "Amir"- Dewan Syura menunjuk Hasyim As-Syaikh. Juga dikenal dengan nama Syaikh Abu Jaber Al-Maskani dan Abu Jaber As-Syaikh, beliau bukan berasal dari Idlib atau Hama. Sebaliknya, beliau datang dari kota yang diduduki oleh Jamaah Daulah (ISIS) Maskanah, timur dari Aleppo, tempat beliau memimpin sebuah kelompok kecil yang dikenal sebagai Batalyon Mus’ab bin Umair hingga akhirnya ia bergabung ke Ahrar Asy-Syam pada tahun 2013. Syaikh Abu Jaber, juga adalah mantan tahanan Seidnaia, yang ditahan oleh rezim pada rentang waktu 2005-2011, diduga untuk membantu memasukkan pejuang asing ke perlawanan Mujahidin di Irak.

Syaikh Abu Jaber dan kepemimpinan baru memimpin kelompok bersama-sama sehingga tahun berikutnya dan bahkan berhasil memperluas pengaruhnya.

Abu Jaber Al-Maskani Mengundurkan Diri

Penunjukan Syaikh Abu Jaber sebagai pemimpin Ahrar Asy-Syam hanya ditetapkan berlangsung selama satu tahun. Beliau bisa memilih untuk memperpanjang masa jabatan, namun dia menolak, kata juru bicara Ahrar Asy-Syam, Ahmed Qara Ali ketika dihubungi: "Karena masa jabatannya berakhir, saudara Hasyim As-Syaikh menolak untuk memperpanjang masa jabatannya, karena beliau ingin membuka jalan bagi darah baru untuk diangkat menjadi pimpinan."

Kampanye internal untuk menggantikan Abu Jaber telah berlangsung untuk sementara waktu dan itu tampaknya cukup sengit, setidaknya sebagian disebabkan oleh ketegangan ideologis dalam kelompok.

Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Ahrar Asy-Syam, sang pemenang Abu Yahya Al-Hamawi telah terlibat dalam perdebatan internal melawan pesaing paling menonjol lainnya, Abu Ali Al-Sahel, tetapi ada orang lain juga, termasuk, Abu Amer. Charles Lister seorang pengamat timur tengah juga memasukkan nama Abu Azzam Al-Ansari, kepala mantan kontingen Liwa Al-Haqq dari Homs, Abu Abderrahman Asy-Syami, dan Abu Ammar Taftanaz.

Namun, menurut Ahmed Qara Ali, Abu Yahya terpilih oleh dewan Syura. Ketika ditanyakan tentang pesaing lain, beliau menegaskan bahwa “sesi Dewan Syura adalah pertemuan tertutup dan saudara Abu Yahya terpilih secara konsensus, seperti yang telah diumumkan,"

Pemimpin Baru: Biografi Awal

Abu Yahya Al-Hamawi adalah nama alias dari Mohannad Al-Masri, seorang warga Suriah yang lahir pada tahun 1981. (Beliau juga dipanggil dengan nama Abu Yahya Al-Ghab) Beliau adalah seorang insinyur sipil dengan pelatihan, yang belajar di Universitas Tishreen di Kota Latakia sebelum terjadi pemberontakan. Di Tishreen, seperti yang terjadi, beliau berteman dengan Hadi Al-Abdullah, yang setelah 2011 muncul sebagai salah satu aktivis media yang paling terkenal di oposisi Suriah.

Seperti Hassan Abboud dan begitu banyak pemimpin Ahrar awal lainnya, Abu Yahya juga merupakan putra dari Sahl Ghab. Menurut pemimpin senior Ahrar Asy-Syam, Khaled Abu Anas –beliau sendiri berasal dari Saraqeb di Idlb – Abu Yahia berasal dari Qalaat Al-Madiq. Tempat yang dihuni oleh sekitar 80,000-100,000 masyarakat Sunni (sebelum perang), terletak di sebelah reruntuhan Romawi yang terkenal, Apamea, yang menjadi tujuan wisata utama sebelum perang. Saat ini, setelah jatuhnya Idlib dan Jisr Al-Shughour pada bulan Maret ke tangan Mujahidin, daerah tersebut diperebutkan oleh pemerintah rezim Bashar Al-Assad dan Mujahidin. Saat ini kota tersebut menjadi sasaran pengeboman rezim Assad.

Abu Yahya juga merupakan mantan tahanan Seidnaia, pertama kali ditangkap pada 2 Agustus 2007. Salah satu sumber online mengklaim beliau adalah bagian dari kelompok aktivis Islam yang ditangkap pada saat yang sama, yang juga termasuk Abu Abdullah Al-Hamawi (Hassan Abboud) dan Abu Thalhah Al-Makhzoumi, pemimpin militer Ahrar Asy-Syam yang juga gugur pada 2014. Keduanya dari desa terdekat di Sahl Ghab.

Abu Yahya ditahan di Seidnaia sampai pembebasannya ketika pertengahan musim semi Arab pada 16 Maret 2011, hampir bertepatan dengan dimulainya pemberontakan Suriah. Pada awalnya, dia ikut serta dalam demonstrasi damai tapi beliau segera beralih jalur untuk membantu merintis pemberontakan bersenjata Suriah dan mendirikan Ahrar Asy-Syam. Menurut Syaikh Hassan Abboud, operasi bersenjata pertama kelompok itu dimulai di daerah Idlib-Hama atau Sahl Ghab pada sekitar Mei-Juni 2011, yaitu mendahului pengumuman pendirian Tentara Pembebasan Suriah (FSA) di Turki yaitu pada Juli 2011.

Seiring dengan rekan-rekannya, kemudian, Abu Yahya mulai mengatur penyergapan bersenjata terhadap pemerintah. Beliau menjadi pemimpin kelompok Usamah bin Zaid, sebuah kelompok bersenjata kecil yang berbasis di dan sekitar kota kelahirannya, Qalaat Al-Madiq. Menurut Ahmed Ali Qara, ini adalah kelompok bersenjata pertama yang bekerja di bawah bendera Ahrar Asy-Syam.

Abu Yahya kemudian pindah untuk mengomandoi kelompok cabang Usama bin Zaid, Batalyon Umar bin Khattab. Ketika tumbuh konflik, beliau menjadi pemimpin struktur yang lebih besar, yang disebut Brigade Khattab. (Beliau terlihat berbicara kepada pejuang Brigade Khattab di sini, dalam rilisan video Ahrar al-Sham tahun Januari 2014) Sementara memegang posisi ini, Abu Yahya ditunjuk untuk melayani sebagai kepala operasi Ahrar Asy-Syam di pedesaan Hama, yang mencakup Sahl Ghab dan itu merupakan front yang sangat penting bagi Ahrar Asy-Syam. Beliau akhirnya diangkat menjadi wakil pemimpin di bawah Abu Jaber pada tahun 2014 -dilaporkan dengan tanggung jawab khusus untuk keamanan- dan telah bertugas dalam peran ini sampai sekarang.

Aktivis Media Ahrar Asy-Sham, Abul Yazid Taftanaz juga mengklaim bahwa Abu Yahya mengepalai Angkatan Pusat yang Ahrar Asy-Syam dirikan dalam upaya untuk menata kembali angkatan bersenjatanya, setelah mergernya dengan faksi Suqour Asy-Syam sebelumnya pada tahun 2015.

Kemungkinan, akar keluarga dan kepemimpinan Abu Yahya di wilayah Ghab telah memainkan peran dalam pemilihannya, karena saat ini Sahl Ghab termasuk salah satu front pertempuran terpanas dalam perang Suriah. Ahrar Asy-Syam memainkan peran utama dalam koalisi Jaisyul Fath yang mendominasi pertempuran ini, yang terjadi di dalam dan sekitar kota asal pendiri Ahrar Asy-Syam.

Kelompok Pemberontak dengan Lembaga yang Terorganisir

Masyarakat Suriah dan orang-orang saat ini akan mencari tanda-tanda pergeseran garis politik Ahrar Asy-Syam. Jadi apa yang kita ketahui tentang politiknya? Hampir tidak ada.

Sebuah akun Twitter yang dimiliki Abu Yahya sejak tahun 2013 (baru aktif April tahun ini) sebagian besar mengandung retweet dari ucapan dan pernyataan tokoh Ahrar Asy-Syam senior atau tokoh Islam independen seperti Syaikh Abdulaziz Al-Tarifi, seorang ulama berpengaruh di Arab Saudi. Tapi ada juga beberapa tweet oleh Abu Yahya sendiri, seperti yang satu ini: "Jika proyek kami adalah proyek dari Ummah, maka jihad kami harus untuk kepentingan jihad Ummah; sebuah Ummah berjihad yang dipimpin oleh elit yang tidak hanya membatasi jihad kepada kelompok elit saja." (akun twitter beliau telah dihapus)

Sebuah sumber yang mengklaim dekat dengan Ahrar Asy-Syam mengatakan, prioritas politik Abu Yahya  tidak akan jauh berbeda dari Abu Jaber. Menurut sumber ini, "masalah dalam struktur Ahrar adalah bahwa pemimpin hanya memiliki kewenangan yang terbatas. Ini kebalikan dari Jaisyul Islam, di mana Zahran memiliki kewenangan lebih, meskipun keduanya memiliki Dewan Syura."

Sementara ini mungkin memang ada masalah di tubuh Ahrar Asy-Syam, misalnya dengan memperlambatnya struktur komando dan kebijakan, tingkat pelembagaan yang dicapai oleh kelompok itu juga merupakan aset utama. Diplomat dan lainnya yang berhubungan dengan kepemimpinan Ahrar Asy-Syam menyaksikan betapa kelompok ini sangat terstruktur dan terorganisir, bahkan dalam hal birokrasi, ia mampu menarik keluar sebuah data pada setiap pertemuan terakhir dengan catatan persis seperti yang ada di sana dan apa yang dikatakan oleh siapa. Hal ini juga apa yang membuat Ahrar Asy-Syam kembali bangkit setelah kehilangan sebagian besar pemimpin topnya pada bulan September 2014, pukulan sangat serius tidak semua kelompok dapat lolos darinya.

Abu Jaber telah mengundurkan diri dengan terhormat. Beliau telah mengumumkan pengunduran dirinya dan penunjukan Abu Yahya di akun Twitter pribadinya, berkomentar bahwa "tentara Ahrar Asy-Syam dibesarkan untuk berpegang teguh pada proyek daripada kepribadian. Samaada berpindah dari prajurit ke pemimpin atau dari pemimpin untuk prajurit, semua amal berada di bawah atap yang sama, yang mana merupakan ketaatan kepada Allah."

Sejauh ini, perubahan kepemimpinan (yang kedua kalinya dalam setahun) tampaknya sudah sangat lancar. Apakah itu akan membantu memecahkan kontradiksi internal kelompok masih harus dilihat.

Penulis: Aron Lund, editor Syria In Crisis
materi islam

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget