Halloween Costume ideas 2015
September 2015

Kemajuan mujahidin di Qunaithirah , Suriah Selatan, pada Senin (28/09) dimana Markas Infanteri Empat Brigade 90 militer Suriah berhasil dibebaskan. Disamping itu mujahidin juga melanjutkan serangan atas beberapa daerah strategis lainnya di Qunaithirah.


Mujahidin lancarkan serangan dengan Tank ke markas brigade 90


Mujahidin tembakan meriam ke arah markas brigade 90


Saat ketika mujahidin menyerang bunker rahasia dan memasuki terowongan


Saat memasuki komplek markas dan berhasil menguasainya


Pertempuran di Tel al-Ahmar


Mujahidin dari Ahrar Syam menyerang wilayah Majrat al-Amal

Operasi diberi nama “Wa Basysyirish Shabiri” digulirkan oleh faksi-faksi mujahidin yang tergabung dalam Jaisyul Islam pimpinan Zahran Alusy. Faksi mujahidin lainnya yang berada di sekitar Qunaithirah juga ikut berpartisipasi.

Media pro-oposisi melaporkan secara luas pada hari Senin bahwasanya Tentara Revolusi Iran mengambil alih lebih dari dua petak tanah milik pendukung rezim di provinsi Hama dengan dalih mengubah lahan tersebut menjadi pangkalan militer.

“Kehadiran Iran [di pedesaan Hama] telah terasa peningkatannya, setelah Jabhah Nusra menyerang Briagde 47 di bulan September” ujar Ibrahim a-Shamali, seorang jurnalis sekaligus warga yang tinggal di pedesaan Hama, mengatakan kepada Noura Hourani.

“Pasukan rezim di Brigade 47 digantikan oleh brigade Iran” setelah serangan tersebut, ujar ibrahin ashamali menambhakan, dan klaim tersebut dikuatkan juga dengan laporan yang dibuat oleh media pro-oposisi dan media Kurdi.

iran di suriah

Tanya: Apakah ini contoh pertama dari Iran mengambil alih tanah dan properti di provinsi Hama?

Jawab: “Tidak ini bukan kali pertamanya. Milisi Iran juga mengambil alih kantor pusat di kota Slanfa, di perbukitan Latakia, dan Safita di pedesaan Tartous Barat, dan menetap di sana. Kami menerima informasi ini melalui kesaksian warga sipil yang tinggal di daerah-daerah tersebut.

Setelah Jabhat Nusra melakukan operasi di pedesaan Hama, kehadiran Iran terasa meningkat: pasukan rezim di Brigade 47 digantikan oleh brigade Iran setelah Jabhah Nusra menyerang pangkalan militer sekitar sebulan yang lalu [pada tanggal 7 dan 8 September]

Tanya: Beberapa waktu lalu terdapat laporan mengenai pertikaian antara tentara Iran dan Suriah, bahkan beberapa tentara Suriah telah dieksekusi. Apakah ini benar?

Jawab: “iya itu benar sekali. Beberapa tentara rezim yang membelot selama pertempuran melawan koalisi Jaysul Fateh berbicara tentang eksekusi ini, terutama di daerah Jourin di Sahl al-Ghab di pedesaan barat laut Hama. Mereka membicarakan tentang petugas Iran dan Revolusi Garda yang mengeksekusi tentara Suriah karena petugas mereka melarikan diri atau gagal mengikuti perintah Iran ‘. ”

Noura Hourani belajar Sastra Inggris di Universitas Tishreen dan sebelumnya bekerja sebagai guru bahasa Inggris pribadi. Dia meninggalkan Suriah pada awal konflik.

(syiriadirect)

Mujahidin Suriah kembali meraih kemajuan di provinsi Qunaithirah, Suriah Selatan, pada Senin (28/09). Markas Infanteri Empat Brigade 90 militer Suriah berhasil dibebaskan.

base-assad

Kantor berita Al-Jazeera melansir dari Anatolia melaporkan bahwa sumber-sumber lokal menyebutkan pertempuran membebaskan markas militer tersebut berlangsung sangat sengit. Militer rezim dibantu milisi Pertahanan Nasional dan Syiah Hizbullah Lebanon.

Masih menurut sumber setempat, setidaknya delapan tentara rezim tertawan dalam pembebasan markas militer tersebut. Di antara mereka perwira berpangkat letnan kolonel.

Mujahidin Suriah, Jumat lalu, mengumumkan operasi “Wa Basysyirish Shabiri” di pedesaan Qunaithirah. Target operasi ini untuk membebaskan daerah-daerah strategis di wilayah tersebut.

Sementara tujuan utama operasi ini membuka pengepungan kota Bait Jin di distrik Al-Harmun serta membuka jalur logistik menuju Ghauthah Barat yang juga dikepung rezim selama tiga tahun.


Operasi “Wa Basysyirish Shabiri” digulirkan oleh faksi-faksi mujahidin yang tergabung dalam Jaisyul Islam pimpinan Zahran Alusy. Faksi mujahidin lainnya yang berada di sekitar Qunaithirah ikut berpartisipasi dalam operasi tersebut.

Sekretaris Jenderal milisi Lebanon “Hizbullat,” Hassan Nasrallat, mengakui biaya yang dibayarkan oleh Hisbullat dalam pertempuran di Zabadani di Rif-Dimashq diluar prediksi, hal ini dikarenakan keterlibatan sejumlah besar milisi Hizbullat, tetapi tanpa membahas rincian kerugian tersebut .

Nasrallat menyampaikan pidatonya di Al-Manar TV, ia menekankan bahwa serangan terhadap Kefraya dan al-Fouah telah menghambat serangan ke Zabadani, sehingga mereka mulai memperhitungkan strategi negosiasi dalam kesepakatan gencatan senjata.

Nasrallat menunjukkan bahwa kesepakatan dalam gencatan senjata termasuk memungkinkan keluarnya pejuang oposisi dan keluarga mereka dari Zabadani ke Idlib, dibandingkan hanya 10 ribu warga sipil yang keluar dari al-Fouah.

Dikutip Middle East Update, salah satu anggota dari tim negosiasi Jaysh al-Fath telah melaporkan ke jaringan ElDorar bahwa kemajuan terbaru yang dibuat oleh pejuang di al-Fouah dan Kefraya adalah memaksa Iran dan Hizbullat untuk duduk dalam negosiasi, di mana Iran awalnya menuntut untuk melepaskan seluruh orang dari al-Fouah dan Kefraya, akhirnya menyetujui dan menerima bahwa yang diijinkan keluar adalah 10 ribu perempuan dan anak, dan milisi Syiah diharuskan tetap tinggal di dalam kota.

Wakil Rakyat Tatar Ukraina, Mustafa Dzhemilev, mengatakan bahwa Federasi Rusia telah mengirim pasukannya ke Suriah dan sekarang 10 diantaranya telah dipulangkan dalam peti mati. 10 peti mati berisi mayat tentara Rusia telah tiba di Krimea. Demikian lansir RBC news dikutip Middle East Update.
mayat-tentara-rusia

Hal ini diumumkan dalam berita saluran TV “112 Ukraina”. “. Pihak Rusia telah mengirimkan pasukannya langsung ke Suriah dan sekitar selusin mayat telah dikirim ke Sevastopol, mereka dikirim ke Suriah untuk berperang dan 10 peti mati tiba di Sevastopol, Ukraina,.” – Kata Dzhemilev.

Pejuang Suriah telah memberikan peringatan bahwa intervensi militer Rusia dalam konflik di Suriah akan mengancam Moskow menuju “Afghanistan baru”. “Rusia akan beresiko mengahadapi Afghanistan kedua, di mana tentara mereka akan dikirim kembali menuju kuburan mereka,” – kata salah satu pejuang Suriah yang diwawancara oleh Reuters.

Dilaporkan Al-Jazeera, Selasa (22/09), sumber tinggi militer Suriah mengonfirmasi setidaknya lima jet tempur Rusia dan pesawat pengintai yang tidak diketahui jumlahnya tiba di Suriah. Pesawat-pesawat itu ditempatkan di pangkalan militer di kota Latakia pada Jumat lalu.

militer rusia dengan suriah

Sumber itu mengaku, senjata-senjata dari Rusia itu telah memberikan perkembangan positif bagi militer dalam pertempuran di lapangan. Senjata-senjata itu telah digunakan di Dier Zour dan Raqqah.

Sumber militer lainnya menegaskan kepada kantor berita Prancis, selain jet tempur, militer Suriah juga menerima pesawat pengintai canggih. Pesawat ini mampu mendeteksi sasaran dengan akurat.

Menlu Suriah, Walid Al-Muallim, beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Rusia memberikan dukungan militer baru terhadap negaranya. Dia mengaku bahwa dukungan itu untuk memerangi Daulah Islamiyah dan Jabhah Nusrah, yang telah disepakati AS dan sekutunya sebagai musuh bersama.

Sementara itu, koran Rusia menyebutkan Rusia menandatangani kesepakatan rahasia dengan Suriah. Di antara isi kesepakatan itu, pengiriman lima jet tempur MIG 29 pada 2016 dan tiga lainnya pada 2017.

Perlu dicatat, Rusia memasok senjata kepada rezim Suriah di saat rezim diktator itu mengalami serangkaian kemunduran. Terutama, di provinsi Idlib.

Mujahidin saat ini hampir 100% mengontrol wilayah tersebut. Sehingga, posisi Latakia yang menjadi basis pengikut Bashar Assad terancam.

Jaisy Muhajirin wal Anshar merupakan Jamaah Jihad yang aktif sejak musim panas pada tahun 2012 hingga September tahun ini. Jamaah yang menganut garis keyakinan Islam Ahlussunnah wal Jamaah tersebut pada awalnya berasal dari Brigade Al Muhajirin yang didirikan oleh para Mujahidin asal bumi Kaukasia. Sikap mereka yang tetap netral dalam konflik antar faksi Jihad dan menolak ajakan Umar Shishani untuk bergabung dengan Jamaah Daulah Baghdadiyah, serta fokus untuk menyerang Bashar Assad, telah membuat Katibat Muhajirin yang kemudian dipimpin oleh Shalahuddin Shishani ini menarik minat kaum Muslimin Suriah dan sejumlah faksi lainnya untuk menggabungkan diri, hingga akhirnya mereka membentuk Jamaah baru bernama Jaisy Muhajirin wal Anshar.

Dalam perkembangannya, Jamaah ini telah memiliki anggota dari berbagai negara, termasuk negara-negara asal Eropa bagian barat (Inggris, Perancis, Skandinavia, Belgia, Belanda), maupun negara-negara asal Eropa bagian timur, seperti Chechnya, Dagestan, Uzbekistan, Krimea, negara-negara Kaukasia, Bosnia, termasuk para Mujahidin asal Timur Tengah seperti Saudi, Kuwait, Yordania, dan para penduduk asli Suriah. Para Mujahidin asal tanah Khurasan pun tak ketinggalan untuk bergabung dengan Jaisy Muhajirin wal Anshar, hingga salah seorang Mujahidin asal bumi Khurasan bernama Abu Ibrahim al Khurasani diangkat menjadi amir Jamaah Jihad ini pada Juni 2015 hingga meraih kesyahidan pada September 2015.

Berbagai upaya untuk menjalin hubungan positif dengan jamaah-jamaah jihad yang ada terus dilakukan oleh Jaisy Muhajirin wal Anshar, demi menyatukan bendera Jihad menuju tegaknya syariat Islam secara kaffah. Jaisy Muhajirin wal Anshar pun menjadi salah satu elemen utama dalam Jabhah Ansharuddin. yang didalamnya terdiri dari sejumlah faksi Jihad.

Upaya penyatuan faksi-faksi Jihad dengan jalan yang terbaik dan penuh adab pun terus dilakukan, hingga fase penjajagan dengan Tanzhim Al-Qaedah di bumi Syam, Jabhah Nushrah, pimpinan komandan Syaikh Al-Fatih Abu Muhammad al-Jaulani, isu-isu penggabungan kedua jamaah ini pun begulir dengan derasnya pada bulan Maret 2015.

jays muhajirin wal anshar

Akhirnya pada bulan Spetember ini, setelah melalui konfirmasi dengan sumber-sumber mujahidin Jabhah Ansharuddin, dikabarkan bahwa Jaisy Anshar wal Muhajirin yang sekarang dipimpin oleh Mujahid asal Madinah, syaikh Mu ‘tassim Billah al-Madani ini telah bergabung, berbaiat dan melebur dengan Jabhah An-Nushrah, sumber informasi tersebut juga menyatakan bahwa pernyataan resmi akan segera dilayangkan, yang menandai semakin kokohnya wilayah Jabhah Nushrah di Aleppo dan sekitarnya.

Faksi pejuang revolusi yang beroperasi di provinsi utara Aleppo pada Minggu (20/9) telah mengerahkan serangan bom mobil melawan kelompok Jamaah Daulah Al-Baghdadi (ISIS), serangan tersebut mengakibatkan puluhan anggota ISIS tewas dan terluka, komandan faksi revolusi itu mengatakan dalam pernyataannya.

fsa_ALEPPO againts ISIS



Khaled Al-Hammad, Sekretaris Jenderal Jabhah Al-Asalah Wa At-Tanmiyah, mengatakan seorang pembom dari kelompoknya telah meledakkan kendaraan bermuatan bahan peledak itu di dekat sebuah pos pemeriksaan ISIS di kota Harbel, pedesaan utara provinsi Aleppo.

Keberadaan pejuang asing terlibat dalam perang Suriah sudah menjadi rahasia umum. Pejuang asing dari seluruh belahan dunia hadir untuk mendukung pasukan rezim Bashar Assad maupun kelompok oposisi. Bahkan, tentara bayaran juga didapati di barisan pasukan Assad.


Negara-negara regional termasuk Irak, Iran, Lebanon dan Palestina diyakini sebagai kelompok pejuang asing utama yang terlibat dalam perang Suriah, tetapi beberapa pejuang juga ada yang berasal dari Amerika Utara, Eropa, Rusia dan bahkan Korea Utara.

Kaum Syiah baik yang datang dari Iran, Irak maupun Lebanon masih menjadi pendukung utama pasukan pemimpin rezim Bashar Assad di lapangan. Milisi Syiah Hizbullah dari Lebanon dan Syiah Irak telah memberikan basis dukungan asing utama rezim Assad. Adanya dukungan inilah yang menjadi alasan mengapa Assad menolak untuk melengserkan diri dalam konferensi Jenewa II, meskipun perwakilan internasional bersikeras bahwa Assad telah kehilangan kendali di negara itu dan tangannya terlalu banyak berlumuran darah untuk berperan lagi di Suriah.

Sejumlah kecil milisi Syiah Yaman Houthi, Alawi Turki dan Syiah dari Afghanistan serta Pakistan, berikut tentara bayaran dari Rusia, juga diyakini bergabung dari total 10.000 pejuang asing yang berjuang untuk rezim Assad

Koalisi mujahidin yang tergabung dalam Jaish al-Fath memulai operasi membebaskan dua kota di pedesaan Idlib, Al-Fuah dan Kufreya, pada Jumat (18/09). Kekuatasn besar dikerahkan, termasuk aksi 7 bom syahid dari beberapa faksi jihad dalam mengawali serangan ini.


Pesan Syaikh Abullah al-Muhaysini menyertai berangkatnya salah seorang bom syahid


Aksi bom syahid salah satu pejuang Jund al-Aqsa


Drone milik Jabhah Nusrah mendokumentasikan ledakan besar bom syahid dari pejuangnya atas daerah al-Fuah

Peta wilayah pinggiran Al-Fuah dan Kufreya yang berhasil dikuasai mujahidin sampai dengan hari ini (21/9)

Bagaimana status ‘Negara Islam’ yang diproklamirkan di Irak dan Syam? Apakah Sah disebut Khilafah? Jika tidak sah, apa alasannya? Jika sah, mengapa kita tidak ikut membaiat amirnya?


Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut ini kami hadirkan kembali tulisan dari anggota DPP Hizbut Tahrir Indonesia, KH. Hafidz Abdurrahman.
        
Negara Islam adalah negara bagi umat Islam di seluruh dunia, yang menjalankan seluruh syariah Islam di dalam negeri serta mengemban dakwah dan jihad ke luar negeri. Nama lain Negara Islam adalah Khilafah.

Tidak semua milisi yang berhasil mendirikan negara bersedia memproklamirkan negaranya sebagai negara Khilafah. Kasus Taliban di Afganistan, misalnya. Ketika itu mereka menyebut negaranya dengan istilah “Imarah Islamiyyah”, bukan Khilafah. Secara riil, negara Taliban ini juga memang bukan Khilafah, dan tidak layak disebut Khilafah.

Ada juga gerakan yang mendirikan Negara Islam, dan membaiat amirnya sebagai khalifah kaum Muslim, tetapi secara riil tidak mempunyai kekuasaan. Jika umat Islam naik haji, keluar negeri atau urusan formal lainnya, mereka harus menggunakan paspor atau surat yang dikeluarkan oleh “negara lain”, yang bukan negara mereka. Padahal tanpa kekuasaan riil, tidak mungkin ada negara. Sebab, esensi negara adalah kekuasaan, yang bisa digunakan untuk memerintah. Karena itu negara seperti ini hanyalah klaim.

Dalam kitab Nizham al-Hukm, Hizbut Tahrir telah membahas masalah ini dengan mendalam, pada sub bab, Man Tan’aqidu bihim al-Khilafah (Siapakah yang Bisa Menjadi Faktor Tegaknya Khilafah), dinyatakan:

Sesungguhnya tiap wilayah Islam yang ada di Dunia Islam layak untuk membaiat Khalifah dan dengan itu Khilafah akan tegak. Jika satu wilayah dari wilayah-wilayah Islam ini telah membaiat seorang khalifah, dan akad Khilafah telah diberikan kepada dirinya, maka hukumnya fardhu ‘ain atas seluruh kaum Muslim di wilayah lain untuk membaiat dia dengan baiat taat atau baiat ketundukan, setelah akad Khilafah sah diberikan kepadanya melalui pembaiatan penduduk (rakyat) wilayah tersebut; baik wilayah ini besar seperti Mesir, Turki dan Indonesia; ataupun kecil seperti Yordania, Tunisia atau Libanon. Dengan syarat, wilayah tersebut memenuhi empat syarat.

Pertama: kekuasaan wilayah tersebut merupakan kekuasaan yang bersifat independen (otonom), yang hanya bersandar (bertumpu) pada (kekuatan) kaum Muslim, bukan bersandar pada salah satu negara kafir, atau kekuasaan (cengkeraman) kaum kafir.

Kedua: keamanan kaum Muslim di wilayah tersebut berada di tangan Islam, bukan di tangan kufur. Dengan kata lain, pertahanan wilayah tersebut dari ancaman domestik maupun asing adalah pertahanan Islam, yang bersumber dari kekuatan kaum Muslim, sebagai kekuatan Islam murni.

Ketiga: wilayah ini harus seketika itu juga menerapkan Islam secara menyeluruh dan revolusioner, dan harus senantiasa bersiap mengemban dakwah Islam (ke luar negeri).

Keempat: Khalifah yang dibaiat harus memenuhi syarat pengangkatan Khilafah, meski tidak memenuhi syarat keutamaan, karena yang menjadi patokan adalah syarat pengangkatan (Khilafah).
Jika wilayah tersebut memenuhi empat syarat ini, maka Khilafah benar-benar telah terwujud melalui pembaiatan yang dilakukan oleh wilayah tersebut. Meski hanya dengan (pemba’atan) wilayah itu saja, Khilafah telah tegak sekalipun wilayah ini tidak merepresentasikan mayoritas Ahl al-Halli wa al-‘Aqd dari mayoritas kaum Muslim. Sebabnya, mendirikan Khilafah hukumnya fardhu kifayah. Siapa saja yang melakukan fardhu tersebut dangan bentuk dan ketentuan yang benar, dia bisa dianggap telah melakukan fardhu tersebut.

Selain itu, syarat mayoritas Ahl al-Halli wa al-‘Aqd itu hanya berlaku jika di sana sudah ada Khilafah, yang berkeinginan untuk mengangkat Khalifah menggantikan posisi Khalifah yang meninggal atau diberhentikan. Namun, jika Khilafah itu sama sekali belum ada, sementara ingin mengangkat khalifah baru, maka adanya Khilafah yang memenuhi ketentuan syar’i itu saja sudah cukup. Khilafah pun dinyatakan berdiri siapapun khalifahnya, selama memenuhi syarat pengangkatan, berapapun jumlah orang yang membaiat dirinya. Sebabnya, pada saat itu masalahnya adalah masalah melaksanakan fardhu yang telah dilalaikan oleh kaum Muslim dalam tenggat waktu lebih dari tiga hari. Kelalaian mereka ini menyebabkan mereka melepaskan haknya untuk memilih orang yang mereka inginkan. Jadi, siapa saja yang menjalankan kefardhuan ini, cukup dengan itu akad Khilafah dinyatakan sah. Jika Khilafah telah berdiri di wilayah tersebut, dan akad Khilafah telah diberikan kepada seorang khalifah yang sah, maka hukumnya wajib atas seluruh kaum Muslim untuk bergabung di bawah bendera Khilafah, dan membaiat Khalifah. Jika tidak, maka mereka telah berdosa di sisi Allah SWT.1

Penjelasan di atas didasarkan pada Ijmak Sahabat, yang terkait dengan fakta pembaiatan sejumlah khalifah. Pertama: pembaiatan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, yang awalnya hanya dibaiat oleh beberapa Ahl al-Halli wa al-‘Aqdi, bukan oleh semuanya, di Saqifah Bani Saidah di Madinah.2 Setelah itu, beliau baru dibaiat secara umum oleh kaum Muslim di Masjid Nabawi. Itu pun hanya terbatas oleh penduduk Madinah, sementara pendapat kaum Muslim di Makkah dan Jazirah Arab yang lain tidak ditanya. Hal yang sama terjadi pada pembaiaatan Khalifah ‘Umar.3

Kedua: pembaiatan ‘Utsman bin ‘Affan yang diberikan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf tidak hanya dilakukan dengan meminta pendapat Ahl al-Halli wa al-‘Aqdi saja, tetapi seluruh penduduk Madinah.
Ketiga: pembaiatan ‘Ali bin Abi Thalib yang dilakukan hanya dan oleh mayoritas penduduk Madinah dan Kufah, Irak.4

Semuanya ini disaksikan dan didengarkan oleh para sahabat, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang menyangkal keabsahan baiat tersebut. Ini menjadi bukti Ijmak Sahabat tentang keabsahan proses baiat dalam pengangkatan khalifah tersebut.5

Mengenai peristiwa Perang Shiffin atau Perang Jamal, sesungguhnya peristiwa ini terjadi bukan karena mereka menolak baiat tersebut atau menolak pembaiatan Imam ‘Ali bin Abi Thalib ra., tetapi lebih karena faktor “Fitnah Kubra” setelah Khalifah ‘Ustman bin ‘Affan terbunuh. Mereka menuntut darah ‘Utsman untuk segera diselesaikan.6

Penjelasan di atas merupakan pandangan resmi Hizbut Tahrir. Berdasarkan penjelasan di atas maka bisa disimpulkan, bahwa adanya Negara Islam di Suriah dan Irak hanyalah klaim. Pasalnya, baik di Irak maupun Suriah, dua-duanya tidak memenuhi keempat syarat di atas. Jika pun “khalifah” yang dibaiat di sana memenuhi syarat sah pengangkatan khalifah—yaitu Muslim, laki-laki, balig, berakal, adil, merdeka dan mampu—”khalifah” yang dibaiat di sana tidak serta-merta layak disebut khalifah, yang dengan itu Khilafah telah dinyatakan tegak. Alasannya, karena kekuasaan di Irak maupun Suriah, sama-sama tidak independen. Irak masih dalam pendudukan. Suriah pun—di bawah rezim Bashar, yang menjadi boneka AS, ataupun di bawah kaum Mujahidin (yang  masih berperang melawan Bashar, AS dan sekutunya)—belum bisa disebut merdeka. Dengan begitu, keamanan wilayah ini tidak sepenuhnya di tangan umat Islam. Hukum Islam pun belum benar-benar dilaksanakan secara menyeluruh di kedua wilayah tersebut. Karena itu adanya “Negara Islam” di wilayah tersebut hanya klaim.

Karena fakta Khilafah yang secara syar’i belum ada, Khalifah yang sah juga belum ada, maka secara syar’i baiat pun belum wajib ditunaikan. Memberikan baiat kepada “khalifah” yang tidak memenuhi syarat keabsahan Khilafah di atas juga tidak pernah bisa menggugurkan kewajiban untuk menegakkan Khilafah. Bahkan bisa sebaliknya, pembaiatan tersebut akan memalingkan umat Islam dari kewajiban untuk menegakkan Khilafah yang sesungguhnya.

[KH. Hafidz Abdurrahman]

Catatan kaki:

  1. Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dan al-‘Allamah Syaikh ‘Abd al-Qadim Zallum, Nizham al-Hukmi fi al-Islam, Dar al-Ummah, Beirut, cet. VI (Muktamadah), 1422 H/2002 M, hlm. 59-60.
  2. Al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Khaldun, al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawi as-Sulthan al-Akbar, Bait al-Afkar ad-Duwaliyyah, Riyadh, cet. I, t.t., hlm. 526.
  3. Al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Khaldun, Ibid, hlm. 539.
  4. Al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Khaldun, hlm. 576.
  5. Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dan al-‘Allamah Syaikh ‘Abd al-Qadim Zallum, Nizham al-Hukmi fi al-Islam, Dar al-Ummah, Beirut, cet. VI (Muktamadah), 1422 H/2002 M, hlm. 58.
  6. Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dan al-‘Allamah Syaikh ‘Abd al-Qadim Zallum, Ibid., hlm. 58; Al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Khaldun, al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawi as-Sulthan al-Akbar, Bait al-Afkar ad-Duwaliyyah, Riyadh, cet. I, t.t., hlm. 579; Ibn Qutaibah ad-Dainuri, Al-Imamah wa as-Siyasah, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, cet. terakhir, 1969 M, I/102.

Komandan senior dan juga mantan asisten Usamah bin Ladin, Abu Al-Hasan At-Tunisi, dilaporkan gugur dalam pertempuran di kota Syiah di Idlib, Al-Fuah dan Kufreya. Sementara belum ada konfirmasi resmi dari Jabhah Nusrah.

Abu Al-Hasan At-Tunisi

Lembaga pengawas HAM Suriah, Sabtu lalu (19/09), melaporkan Abu Al-Hasan At-Tunisi termasuk dari korban yang gugur di barisan pejuang dalam pertempuran di dua kota Syiah tersebut. Sejak Jumat, pertempuran sengit berlangsung di daerah yang terkepung tersebut.

“Tunisi merupakan salah satu asisten pemimpin Al-Qaidah Usamah bin Ladin,” kata Direktur lembaga yang bermarkas di Inggris itu, Rami Abdurrahman.

Portal enabbaladi.org, menyebutkan akun-akun yang dikenal dekat dengan Jabhah Nusrah berbelasungkawa atas gugurnya komandan mujahidin berumur 65 tahun itu. Menurut mereka, beliau gugur dalam pertempuran di Al-Fu’ah pada Jumat.

Tunisi gugur ketika berusaha menyerbu pos militer rezim dan milisi pendukungnya di desa di pinggiran Al-Fu’ah. Penyerbuan itu sendiri diluncurkan setelah mujahidin menghujani pos-pos militer dengan mortir dan roket.

Sementara itu, portal vetogate.com mengunggah foto Abu Al-Hasan At-Tunisi yang sudah Syahid –insyallah–. Jasad beliau yang masih terbalut pakaian hitam berada di atas tandu berwarna putih.

Sedikitnya 15 mujahidin gugur dalam pertempuran itu, termasuk Abu Al-Hasan Al-Tunisi. Para mujahidin yang gugur itu berasal dari faksi-faksi yang tergabung dalam Jaisyul Fath.

Di lembah yang dalam di dekat desa Kaeb Ammar dekat kota pesisir Banias, sebuah pangkalan militer yang menjadi benteng Rusia dibangun tahun lalu, ujar aktivis Suriah mengatakan kepada Zaman Alwasl saat aktivis lokal melaporkan mengenai penyebaran pasukan dan senjata Rusia secara intens di basis tersebut.


Aktivis lokal, Moataz Shaklab menulis di halaman Facebook-nya bahwa anggota intelijen rezim Nushairiyah Suriah dan hambatan yang dibangun di sekitar lembah, mencegah warga Suriah untuk pergi ke lembah tersebut, namun warga di wilayah itu mengatakan bahwa mereka tahu keberadaan pangkalan Rusia di dalam lembah dan melihat mobil besar membawa senjata ke pangkalan selama tiga hari berturut-turut.

Seorang mantan tentara di Pusat Riset Ilmiah mengungkapkan beberapa rincian mengenai basis militer rahasia itu, karena ia menghabiskan waktu selama 3 bulan di dalam basis untuk pelatihan di masa lalu.

Ayman Al-Thakil menyebutkan bahwa pangkalan militer terletak di dekat kota Banias di daerah yang dikenal dengan lembah dan pegunungan, dekat dengan desa kecil yang disebut Koeeb atau Kaeb Ammar.

Al-Thakil menyebutkan bahwa basis militer tersebut dipenuhi oleh anggota dari Rusia dan Korea Utara dan para petugas Suriah dan mereka benar-benar diperintahkan untuk tidak menghubungi atau meminta apa pun

kepada petugas di tengah keamanan yang ketat di sana, lansir Zaman Alwasl pada Ahad (20/9/2015).

Selama periode yang ia habiskan di basis tersebut pada tahun 1999, Al-Thakil mengatakan bahwa truk besar sering datang ke dalam basis militer membawa peralatan dan mesin-mesin yang ditutupi dengan kayu, dan pekerjaan mereka adalah untuk mengangkat kayu-kayu tersebut sementara petugas Rusia dan Korea Utara memindahkan peralatan ke truk lain dan menutupinya dengan selimut. Kegiatan tersebut dijaga ketat oleh pasukan keamanan dan intelijen Angkatan Udara.

Karena mereka sedang menjalankan wajib militer, mereka tidak menyadari apa yang sedang terjadi dan mereka tdak berani menanyakan apapun karena takut ditangkap dan dipenjara.

Mantan tentara itu menyebutkan bahwa intelijen saat itu menyebarkan rumor mengenai penangkapan beberapa tentara karena mereka bertanya mengenai beberapa hal. Rumor tersebut digunakan sebagai metode mengancam untuk mencegah para tentara dari mencari informasi atau berbicara mengenai hal tersebut.

Ia menambahkan bahwa setelah menyelesaikan pelatihan di basis militer itu, ia dipaksa untuk menandatangani dokumen dan memberikan sidik jari. Dia diwajibkan untuk tinggal di dalam negeri dan tidak bepergian ke luar negeri selama minimal lima tahun dan tidak mengungkapkan tempat di mana ia menjalankan pelatihan militer selama setidaknya 15 tahun, langkah-langkah yang diambil sebagai pencegahan oleh intelijen rezim untuk semua yang pernah berada di basis militer itu.


Dalam beberapa pekan terakhir, media-media internasional melaporkan bahwa Rusia mengirimkan persenjataan dan personil ke Suriah. Hal ini diakui oleh Rusia yang mengatakan bahwa gerakan tersebut dilakukan karena terdapat perjanjian dan kesepakatan antara Suriah dan Rusia.

(19/9) - Mujahidin di wilayah Hama, tepatnya dekat kota Morek berhasil menghancurkan senjata ATGM Kornet milik pasukan Rezim yang sedang bersiaga di atas bangunan. Uniknya mujahidin menhancurkannya dengan menggunakan senjata sama tapi dengan jenis berbeda, TOW ATMG,


Brigade Jundul Aqsha, salah satu faksi yang tergabung dalam koalisi Jaisyul Fath di Idlib, merebut bukit strategis Al-Kharbah di kota Al-Fuah, pedesaan Idlib. Bukit itu merupakan pos pertahanan terakhir yang melindungi kota itu.

Seorang komandan Jaisyul Fath, Abu Ismail, mengatakan bahwa serangan pada Ahad (19/09) itu diawali dengan bom mobil yang dikemudikan seorang mujahidin Jundul Aqsha. Mobil itu melaju dan meledak tepat di markas militer tentara Suriah dan milisi Iran di bukit tersebut. Akibatnya, lebih dari sepuluh tentara tewas.


Kemudian, lanjut Abu Ismail, mujahidin menghujani pos-pos yang ada di bukit itu dengan puluhan mortir, roket serta bom rakitan. Situasi itu membuat tentara rezim panik dan mental mereka melemah.

Abu Ismail menunjukkan, mujahidin kemudian bergerak dan mengontrol penghalang-penghalang militer yang ditinggalkan militer rezim. Mujahidin terus bergerak sehingga berhasil mengontrol sepenuhnya bukit strategis tersebut.

“Puluhan tentara rezim tewas sejumlah peralatan militer berat milik mereka hancur,” kata Abu Ismail seraya menunjukkan, tentara rezim melarikan diri menuju pusat kota Al-Fu’ah.

Bukit Al-Kharbah terletak sangat strategis karena memungkinkan mengawasi langsung pergerakan di sejumlah jalan di dalam kota Al-Fu’ah. Kemajuan ini membuat militer rezim semakin tersudut. Selain itu, bukit itu juga memungkinkan menargetkan helikopter rezim yang berupaya memasok logistik dari udara.

Berikut ini dokumentasi setelah dikuasainya Pos Militer di Bukit al-Kharbah,

Lubang besar akibat bom syahid dari kendaraan BMP 

Beberapa anggota militan syiah berlarian meninggalkan pos mereka

Sebuah Tank menjadi ghanimah mujahidin 

Sebuah Tank Rezim ditemukan hancur akibat serangan rudal mujahidin

Beberapa Mayat tentara Rezim yang berserakan

Kemenangan atas bukit al-Kharbah ini diraih setelah mujahidin merebut lebih dari 13 pos militer di sisi selatan kota tersebut. Sejumlah tentara rezim tewas akibat pertempuran itu.

Mujahidin Suriah mengumumkan memulai operasi membebaskan dua kota Syiah di pedesaan Idlib, Al-Fuah dan Kufreya, pada Jumat (18/09). Sebelumnya, dua kota yang terkepung itu menjadi bulan-bulanan roket dan mortir mujahidin.







Jabhah Nusrah mengumumkan dalam akun resminya, meluncurkan dua serangan syahid menargetkan militer rezim di kota Al-Fuah. Tidak diketahui kerugian tentara akibat serangan itu.

Pada bagiannya, ruang operasi Jaisyul Fath yang termasuk di dalamnya Jabhah Nusrah, mengatakan bahwa pejuangnya menargetkan markas militer rezim dan milisi pendukungnya di desa Dier Az-Zaghab di Al-Fuah barat dengan mobil lapis baja. Sejumlah tentara tewas akibat serangan bom itu.

Abu Khattab, komandan militer Jaisyul Fath, mengatakan bahwa penyerbuan Al-Fuah dimulai dengan menargetkan posisi rezim di desa Dier Az-Zaghab dengan 70 lebih roket. Hal itu memicu kepanikan dan kebingungan di barisan rezim serta sejumlah dari mereka tewas.

Setelah serangan pembukaan itu, mujahidin mengirim tujuh bom mobil di sekitar desa tersebut. Selain menghasilkan sejumlah tentara tewas, serangan itu memungkinkan mujahidin merebut sebagian pos militer di perbukitan yang terletak strategis.

Kota Al-Fuah dan Kufreya merupakan dua kota yang dihuni mayoritas Syiah di pedesaan Idlib. Ini juga termasuk daerah terakhir yang belum dibebaskan mujahidin.

Sebuah video yang diunggah (15/9) oleh seorang tentara Rusia, menunjukan bahwa mereka telah berada di Lattakia membantu pasukan rezim. Terlihat bagaimana tentara Rusia tersebut berbicara di depan kamera berada di atas Tank sedang memantau posisi mujahidin di perbukitan.

Harakah Islam Ahrar Asy-Syam, yang merupakan salah satu kelompok Mujahidin terbesar di Suriah, telah memilih pemimpin baru: Syaikh Abu Yahya Al-Hamawi Hafidzahullah.


Pidato Pertama Abu Yahya AlHamawi setelah terpilihnya menjadi Pemimpin baru Ahrar Syam

Didirikan pada tahun 2011, Ahrar Asy-Syam pertama kali dipimpin oleh Syaikh Hassan Abboud Rahimahullah, yang juga menggunakan alias Syaikh Abu Abdullah Al-Hamawi. Seperti kebanyakan para petinggi Ahrar Syam, beliau adalah seorang mantan narapidana "sayap Islam" dari penjara politik utama pemerintah rezim Suriah di Seidnaia, utara Damaskus. Menurut salah satu sumber informasi, Syaikh Abu Abdullah Al-Hamawi ditahan di penjara antara 2004 dan 2011 atas tuduhan memiliki hubungan dengan kelompok salafi jihadi; sumber lain mengatakan 2007-2011.

Banyak dari tahanan Islamis ini dibebaskan pada awal pemberontakan oleh amnesti presiden, keputusan yang masih hangat diperdebatkan. Tahanan yang mendapat amnesti membentuk beberapa kelompok bersenjata yang berbeda pada tahun 2011 dan mulai berhubungan dengan relasi, sel-sel tidur Islamis yang lebih tua dari dalam atau di luar penjara, sejumlah orang buangan yang melarikan diri dari tindakan keras anti-Islam dari tahun 1980-an, serta tokoh-tokoh Mujahidin asing, dalam rangka menciptakan sebuah gerakan bersenjata Suriah yang masif.

Fraksi yang dihasilkan, yang kemudian dikenal sebagai Batalyon Ahrar Asy-Syam, mengambil markas di wilayah Idlib-Hama dari barat laut Suriah, di mana banyak dari para pemimpinnya lahir di sana dan yang mana kelompok itu masih tetap kuat hingga saat ini. Syaikh Hassan Abboud, misalnya, dilaporkan berasal dari Khirbet Naqous di daerah Sahl Ghab, yang menjorok naik dari Hama barat ke Idlib. Kelompok ini kemudian langkah demi langkah mulai berkembang, dengan bergabungnya faksi-faksi kecil mencari perlindungan dan kepemimpinan, selain itu Ahrar Asy-Syam juga merajut kembali hubungan dengan teman satu sel di Seidnaia yang secara independen mendirikan gerakan mereka sendiri di provinsi lain (seperti yang berbasis di Aleppo, Harakah Fajr Al-Islam, Fraksi yang dibuat oleh Syaikh Abu Hamzah dan Syaikh Abu Yazen, keduanya Syahid pada tahun 2014). Setelah memperluas jaringannya ke sebagian besar Suriah, meskipun masih lemah di timur dan selatan, kelompok ini mengubah namanya setelah merger besar-besar pada musim semi 2013.

Pada tanggal 9 September 2014, sebagian besar generasi pertama pemimpin Ahrar Asy-Syam gugur Syahid dalam sebuah ledakan bom di sebuah lokasi bawah tanah di dekat Ras Hamdan di Provinsi Idleb, di mana mereka sedang berkumpul untuk pertemuan tingkat tinggi. Penyebab ledakan itu belum diketahui secara pasti. Ada yang menganggap ledakan itu berangkat dari kecelakaan (karena lokasi Ras Hamdan kabarnya juga terdapat pabrik bom), atau serangan seorang pembom bunuh diri, atau pengkhianatan intern atas nama pemerintah asing, serangan ISIS, tapi semua itu masih spekulasi. Pemimpin Ahrar Asy-Syam yang diwawancarai tentang insiden tersebut menolak untuk berkomentar kecuali dengan mengatakan bahwa penyelidikan sedang berlangsung.

Abu Jaber dan Kepemimpinan tahun 2014

Syaikh Hassan Abboud dan sebagian besar petingginya antara mereka yang terbunuh dan banyak orang memperkirakan Ahrar Asy-Syam akan secara dramatis melemah dan mungkin juga pecah. Tapi entah bagaimana kelompok Jihad ini menantang harapan dan bangkit kembali dengan mengesankan.

Segera setelah ledakan, anggota Dewan Syura Ahrar Asy-Syam yang selamat berkumpul untuk segera memilih pemimpin baru, termasuk sejumlah komandan yang sebelumnya lapis kedua dan yang baru-baru ini berafiliasi.

Sebagai pemimpin baru, -Ahrar Asy-Sham lebih suka istilah "pemimpin umum," atau Qaid 'amm, dibanding "Amir"- Dewan Syura menunjuk Hasyim As-Syaikh. Juga dikenal dengan nama Syaikh Abu Jaber Al-Maskani dan Abu Jaber As-Syaikh, beliau bukan berasal dari Idlib atau Hama. Sebaliknya, beliau datang dari kota yang diduduki oleh Jamaah Daulah (ISIS) Maskanah, timur dari Aleppo, tempat beliau memimpin sebuah kelompok kecil yang dikenal sebagai Batalyon Mus’ab bin Umair hingga akhirnya ia bergabung ke Ahrar Asy-Syam pada tahun 2013. Syaikh Abu Jaber, juga adalah mantan tahanan Seidnaia, yang ditahan oleh rezim pada rentang waktu 2005-2011, diduga untuk membantu memasukkan pejuang asing ke perlawanan Mujahidin di Irak.

Syaikh Abu Jaber dan kepemimpinan baru memimpin kelompok bersama-sama sehingga tahun berikutnya dan bahkan berhasil memperluas pengaruhnya.

Abu Jaber Al-Maskani Mengundurkan Diri

Penunjukan Syaikh Abu Jaber sebagai pemimpin Ahrar Asy-Syam hanya ditetapkan berlangsung selama satu tahun. Beliau bisa memilih untuk memperpanjang masa jabatan, namun dia menolak, kata juru bicara Ahrar Asy-Syam, Ahmed Qara Ali ketika dihubungi: "Karena masa jabatannya berakhir, saudara Hasyim As-Syaikh menolak untuk memperpanjang masa jabatannya, karena beliau ingin membuka jalan bagi darah baru untuk diangkat menjadi pimpinan."

Kampanye internal untuk menggantikan Abu Jaber telah berlangsung untuk sementara waktu dan itu tampaknya cukup sengit, setidaknya sebagian disebabkan oleh ketegangan ideologis dalam kelompok.

Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Ahrar Asy-Syam, sang pemenang Abu Yahya Al-Hamawi telah terlibat dalam perdebatan internal melawan pesaing paling menonjol lainnya, Abu Ali Al-Sahel, tetapi ada orang lain juga, termasuk, Abu Amer. Charles Lister seorang pengamat timur tengah juga memasukkan nama Abu Azzam Al-Ansari, kepala mantan kontingen Liwa Al-Haqq dari Homs, Abu Abderrahman Asy-Syami, dan Abu Ammar Taftanaz.

Namun, menurut Ahmed Qara Ali, Abu Yahya terpilih oleh dewan Syura. Ketika ditanyakan tentang pesaing lain, beliau menegaskan bahwa “sesi Dewan Syura adalah pertemuan tertutup dan saudara Abu Yahya terpilih secara konsensus, seperti yang telah diumumkan,"

Pemimpin Baru: Biografi Awal

Abu Yahya Al-Hamawi adalah nama alias dari Mohannad Al-Masri, seorang warga Suriah yang lahir pada tahun 1981. (Beliau juga dipanggil dengan nama Abu Yahya Al-Ghab) Beliau adalah seorang insinyur sipil dengan pelatihan, yang belajar di Universitas Tishreen di Kota Latakia sebelum terjadi pemberontakan. Di Tishreen, seperti yang terjadi, beliau berteman dengan Hadi Al-Abdullah, yang setelah 2011 muncul sebagai salah satu aktivis media yang paling terkenal di oposisi Suriah.

Seperti Hassan Abboud dan begitu banyak pemimpin Ahrar awal lainnya, Abu Yahya juga merupakan putra dari Sahl Ghab. Menurut pemimpin senior Ahrar Asy-Syam, Khaled Abu Anas –beliau sendiri berasal dari Saraqeb di Idlb – Abu Yahia berasal dari Qalaat Al-Madiq. Tempat yang dihuni oleh sekitar 80,000-100,000 masyarakat Sunni (sebelum perang), terletak di sebelah reruntuhan Romawi yang terkenal, Apamea, yang menjadi tujuan wisata utama sebelum perang. Saat ini, setelah jatuhnya Idlib dan Jisr Al-Shughour pada bulan Maret ke tangan Mujahidin, daerah tersebut diperebutkan oleh pemerintah rezim Bashar Al-Assad dan Mujahidin. Saat ini kota tersebut menjadi sasaran pengeboman rezim Assad.

Abu Yahya juga merupakan mantan tahanan Seidnaia, pertama kali ditangkap pada 2 Agustus 2007. Salah satu sumber online mengklaim beliau adalah bagian dari kelompok aktivis Islam yang ditangkap pada saat yang sama, yang juga termasuk Abu Abdullah Al-Hamawi (Hassan Abboud) dan Abu Thalhah Al-Makhzoumi, pemimpin militer Ahrar Asy-Syam yang juga gugur pada 2014. Keduanya dari desa terdekat di Sahl Ghab.

Abu Yahya ditahan di Seidnaia sampai pembebasannya ketika pertengahan musim semi Arab pada 16 Maret 2011, hampir bertepatan dengan dimulainya pemberontakan Suriah. Pada awalnya, dia ikut serta dalam demonstrasi damai tapi beliau segera beralih jalur untuk membantu merintis pemberontakan bersenjata Suriah dan mendirikan Ahrar Asy-Syam. Menurut Syaikh Hassan Abboud, operasi bersenjata pertama kelompok itu dimulai di daerah Idlib-Hama atau Sahl Ghab pada sekitar Mei-Juni 2011, yaitu mendahului pengumuman pendirian Tentara Pembebasan Suriah (FSA) di Turki yaitu pada Juli 2011.

Seiring dengan rekan-rekannya, kemudian, Abu Yahya mulai mengatur penyergapan bersenjata terhadap pemerintah. Beliau menjadi pemimpin kelompok Usamah bin Zaid, sebuah kelompok bersenjata kecil yang berbasis di dan sekitar kota kelahirannya, Qalaat Al-Madiq. Menurut Ahmed Ali Qara, ini adalah kelompok bersenjata pertama yang bekerja di bawah bendera Ahrar Asy-Syam.

Abu Yahya kemudian pindah untuk mengomandoi kelompok cabang Usama bin Zaid, Batalyon Umar bin Khattab. Ketika tumbuh konflik, beliau menjadi pemimpin struktur yang lebih besar, yang disebut Brigade Khattab. (Beliau terlihat berbicara kepada pejuang Brigade Khattab di sini, dalam rilisan video Ahrar al-Sham tahun Januari 2014) Sementara memegang posisi ini, Abu Yahya ditunjuk untuk melayani sebagai kepala operasi Ahrar Asy-Syam di pedesaan Hama, yang mencakup Sahl Ghab dan itu merupakan front yang sangat penting bagi Ahrar Asy-Syam. Beliau akhirnya diangkat menjadi wakil pemimpin di bawah Abu Jaber pada tahun 2014 -dilaporkan dengan tanggung jawab khusus untuk keamanan- dan telah bertugas dalam peran ini sampai sekarang.

Aktivis Media Ahrar Asy-Sham, Abul Yazid Taftanaz juga mengklaim bahwa Abu Yahya mengepalai Angkatan Pusat yang Ahrar Asy-Syam dirikan dalam upaya untuk menata kembali angkatan bersenjatanya, setelah mergernya dengan faksi Suqour Asy-Syam sebelumnya pada tahun 2015.

Kemungkinan, akar keluarga dan kepemimpinan Abu Yahya di wilayah Ghab telah memainkan peran dalam pemilihannya, karena saat ini Sahl Ghab termasuk salah satu front pertempuran terpanas dalam perang Suriah. Ahrar Asy-Syam memainkan peran utama dalam koalisi Jaisyul Fath yang mendominasi pertempuran ini, yang terjadi di dalam dan sekitar kota asal pendiri Ahrar Asy-Syam.

Kelompok Pemberontak dengan Lembaga yang Terorganisir

Masyarakat Suriah dan orang-orang saat ini akan mencari tanda-tanda pergeseran garis politik Ahrar Asy-Syam. Jadi apa yang kita ketahui tentang politiknya? Hampir tidak ada.

Sebuah akun Twitter yang dimiliki Abu Yahya sejak tahun 2013 (baru aktif April tahun ini) sebagian besar mengandung retweet dari ucapan dan pernyataan tokoh Ahrar Asy-Syam senior atau tokoh Islam independen seperti Syaikh Abdulaziz Al-Tarifi, seorang ulama berpengaruh di Arab Saudi. Tapi ada juga beberapa tweet oleh Abu Yahya sendiri, seperti yang satu ini: "Jika proyek kami adalah proyek dari Ummah, maka jihad kami harus untuk kepentingan jihad Ummah; sebuah Ummah berjihad yang dipimpin oleh elit yang tidak hanya membatasi jihad kepada kelompok elit saja." (akun twitter beliau telah dihapus)

Sebuah sumber yang mengklaim dekat dengan Ahrar Asy-Syam mengatakan, prioritas politik Abu Yahya  tidak akan jauh berbeda dari Abu Jaber. Menurut sumber ini, "masalah dalam struktur Ahrar adalah bahwa pemimpin hanya memiliki kewenangan yang terbatas. Ini kebalikan dari Jaisyul Islam, di mana Zahran memiliki kewenangan lebih, meskipun keduanya memiliki Dewan Syura."

Sementara ini mungkin memang ada masalah di tubuh Ahrar Asy-Syam, misalnya dengan memperlambatnya struktur komando dan kebijakan, tingkat pelembagaan yang dicapai oleh kelompok itu juga merupakan aset utama. Diplomat dan lainnya yang berhubungan dengan kepemimpinan Ahrar Asy-Syam menyaksikan betapa kelompok ini sangat terstruktur dan terorganisir, bahkan dalam hal birokrasi, ia mampu menarik keluar sebuah data pada setiap pertemuan terakhir dengan catatan persis seperti yang ada di sana dan apa yang dikatakan oleh siapa. Hal ini juga apa yang membuat Ahrar Asy-Syam kembali bangkit setelah kehilangan sebagian besar pemimpin topnya pada bulan September 2014, pukulan sangat serius tidak semua kelompok dapat lolos darinya.

Abu Jaber telah mengundurkan diri dengan terhormat. Beliau telah mengumumkan pengunduran dirinya dan penunjukan Abu Yahya di akun Twitter pribadinya, berkomentar bahwa "tentara Ahrar Asy-Syam dibesarkan untuk berpegang teguh pada proyek daripada kepribadian. Samaada berpindah dari prajurit ke pemimpin atau dari pemimpin untuk prajurit, semua amal berada di bawah atap yang sama, yang mana merupakan ketaatan kepada Allah."

Sejauh ini, perubahan kepemimpinan (yang kedua kalinya dalam setahun) tampaknya sudah sangat lancar. Apakah itu akan membantu memecahkan kontradiksi internal kelompok masih harus dilihat.

Penulis: Aron Lund, editor Syria In Crisis

aleppo-korban-bom-birmil
Kantor berita Al-Jazeera, Kamis tengah malam waktu Timur Tengah (Jumat pagi waktu Indonesia, 18/09), melaporkan lebih dari 100 orang terbunuh dalam serangan udara rezim di Aleppo selama 24 jam terakhir. Gempuran itu terfokus di linkungan Al-Masyhad, Al-Kalasah dan Asy-Syiar serta di sebuah pasar.

Wartawan Al-Jazeera di Aleppo, Amru Halbi, menyampaikan bahwa rezim menggunakan birmil, roket dan serta berbagai jenis mortir dalam gempuran sengit itu. Korban paling banyak jatuh di lingkungan Al-Masyhad, 48 orang tewas. Sementara di lingkungan lainnya puluhan orang juga tewas.

Dia menegaskan bahwa rezim sengaja menargetkan pasar dan lokasi-lokasi jual beli serta kompleks bangunan sipil. Sejumlah bangunan hancur akibat hantaman bom-bom tersebut.

Korban berjatuhan antara tewas dan luka-luka. Bisa pastikan jumlah korban terus meningkat karena semua belum didata. Bahkan, sampai saat berita ini diturunkan, masih terdapat jasad tiga keluarga yang belum dievakuasi dari reruntuhan bangunan.

Halbi menambahkan, jet tempur rezim masih berputar-putar di langit Aleppo hingga tengah malam. Mereka menembakkan roket ke sejumlah lingkungan di Aleppo Barat dan masih mengancam lingkungan yang sebelumnya digempur.

Rumah sakit lapangan yang ada di daerah itu tidak mampu menampung korban selamat. Di satu sisi, peralatan medis dan obat-obatan sangat minim. Peralatan di rumah sakit darurat itu hanya mampu untuk menangani korban dengan luka menengah ke bawah. Sementara korban luka berat, harus dilarikan ke Turki.

Kabar duka syahidnya Mahmud al-Ajwah, seorang komandan lapangan Jaish al-Islam dalam operasi di Ghouta Timur pinggiran Damaskus hari kemarin (16/9).

Surat belasungkawa dikirim untuk Jaish al-Islam dari koalisi mujahidin ( Jaish al-Yarmuk, FSA, Jaish al-Mujahidin, Al-Ittihad Li Ajnad Syam)


Muhammad Zahran Alloush, Pemimpin tertinggi Jaish al-Islam memimpin shalat Jenazah untuk sang komandan, Mahmud al-Ajwah. 


Diriwayatkan dari Anas bin Malik rodliyallohu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada seseorang yang telah mati yang mendapatkan kebaikan di sisi Allah, kemudian dia ingin kembali ke dunia atau ia diberi dunia dan seisinya kecuali orang yang mati syahid. Sesungguhnya orang yang mati syahid itu berharap untuk dapat kembali ke dunia lalu ia terbunuh di dunia lantaran keutamaan mati syahid yang ia lihat."

Ketika perang di Suriah berkecamuk dan bom terus menghujani warga sipil, sekelompok warga biasa inilah yang pertama memasuki bangunan hancur. Mereka menggali reruntuhan dan puing-puing untuk mencari mayat dan tanda-tanda kehidupan, di sana, sebagaimana dilansir lembaga kemanusiaan Indonesia untuk Suriah Gaul Peduli Syam (GPS), Selasa (16/9/2015).

Dikenal sebagai Pertahanan Sipil Suriah atau White Helmets, kelompok relawan penyelamat ini dibentuk pada tahun 2013 dan sekarang jumlah anggotanya lebih dari 2.700 relawan.



Berikut wawancara Al Jazeera dengan James Le Mesurier, pendiri program Syrian White Helmets yang diterjemahkan GPS.

Al Jazeera (AJ): Siapakah White Helmets ?

James Le Mesurier: White Helmets adalah kelompok relawan pekerja penyelamat Suriah yang terbentuk pada awal tahun 2013 untuk menangani dampak serangan bom terhadap masyarakat sipil oleh rezim Assad.

Mereka sepenuhnya organisasi sukarela yang mendapat pelatihan di Turki dan saya mulai melatih awal tahun 2013, awalnya hanya satu tim terdiri dari 20 orang.

Selama dua tahun terakhir, mereka sudah tumbuh menjadi 2790 orang relawan pria dan wanita yang beroperasi di 110 lokasi yang berbeda di seluruh Suriah. Mereka telah menyelamatkan lebih dari 24.000 orang.

AJ: Siapa saja anggotanya? Apakah mereka penyelamat yang terlatih?

Le Mesurier: Setiap anggota adalah orang Suriah, dan setiap satu dari mereka – dua tahun lalu – memiliki pekerjaan yang sama sekali berbeda.

Mereka terdiri atas mantan tukang roti, tukang, sopir taksi, mahasiswa, guru, dan profesi lainnya selain pekerja penyelamat.

Mereka semua kelompok yang sangat beragam dan pribadi yang berbeda, yang semuanya membuat pilihan tentang apa kontribusi mereka terhadap revolusi. Mereka semua punya pilihan apakah ingin mengangkat senjata atau menjadi pengungsi – tetapi mereka semua telah membuat pilihan untuk mengusung tandu.

AJ: Bagaimana organisasi ini terbentuk?

Le Mesurier: Semua dimulai dengan pengeboman rezim di daerah yang berhasil dibebaskan pada akhir 2012, wilayah di utara dan selatan Suriah yang telah di luar kontrol rezim memberi rezim ruang untuk mulai mengebom masyarakat sipil.

Dari dalam komunitas tersebut muncul individu, yang ketika sebuah bom jatuh di jalan, akan berlari keluar mencoba untuk membantu tetangga mereka, dan mereka melakukannya tanpa pelatihan dan tanpa peralatan.

Pada awal 2013, sekelompok tokoh pemimpin dari Suriah utara melihat gambaran yang sangat jelas bahwa masyarakat sedang sangat menderita karena dibom, dan mereka membutuhkan dukungan.

Pada saat itu, saya bekerja di Istanbul dan berkumpul dengan sekelompok relawan penyelamat gempa Turki . [Percakapan kami] berkisar tentang, “Jika Anda bisa menyelamatkan orang-orang dari sebuah bangunan yang telah runtuh sebagai akibat dari gempa bumi, maka Anda dapat menyelamatkan seseorang dari sebuah bangunan yang telah runtuh sebagai akibat dari bom. “

AJ: Apakah motto mereka untuk menyelamatkan orang?

Le Mesurier: Ya itu. Motto mereka benar-benar luar biasa, sebuah ayat dari Al-Qur’an, yang artinya “Dan, barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya”, dan mereka sangat menyakini hal itu.

AJ: Apa motivasi di balik menjadi White Helmets dan pergi ke daerah-daerah yang sangat berbahaya?

Le Mesurier: Masing-masing memiliki motivasi yang berbeda untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Mereka mengalami emosi yang berbeda – dari rasa takut serta rasa tanggung jawab yang luar biasa atas tugas mereka.

Mereka khawatir serangan double tap, yaitu ketika rezim menjatuhkan bom di satu lokasi, menunggu penyelamat muncul, dan kemudian menjatuhkan bom lain.

Sering, di antara dua bom pertama, ada jeda yang sangat sempit – 15 menit atau setengah jam – di mana mereka sering menemukan orang-orang, yang tidak bisa menyelamatkan diri, dan kemudian bom kedua datang. Banyak … telah terluka karena mereka tidak bisa lolos dengan cepat, atau mereka memilih untuk tinggal untuk menyelamatkan orang-orang.

Sampai saat ini, 97 anggota White Helmets telah kehilangan nyawa mereka, dan sekitar empat kali lipatnya telah terluka sangat parah.



AJ: Apakah ada kasus tertentu yang menonjol?

Le Mesurier: Kami sudah melatih langsung sampai sekarang sekitar 1.200 orang dari mereka, dan pertanyaan yang secara teratur kita tanyakan adalah, “Mengapa Anda bergabung?”

Masing-masing dari mereka memiliki cerita yang sangat pribadi tentang mengapa mereka memilih untuk bergabung. Banyak kisah dari mereka yang benar-benar menarik.

Ada satu kisah baru-baru ini yang benar-benar mengejutkan saya adalah ketika kami berjalan turun di selatan Turki – tentu saja didominasi laki-laki muda sekitar 25 sampai berusia 30 tahun – Ada satu orang yang memiliki jenggot abu-abu dan uban, saya kira ia berusia di akhir 40-an atau awal 50-an. Kami berkenalan dan bertanya dari mana ia berasal dan ia sangat tenang. Ia menceritakan kisah anaknya, yang pernah menjadi White Helmets dan tewas saat penyelamatan. Orang tua ini berbalik dan berkata, “Hari yang sama saat anak saya dimakamkan, saya bergabung dengan White Helmets. Ini hal yang paling terhormat yang pernah kulihat selama revolusi dan saya ingin menghormati namanya.”

Dalam kursus baru-baru ini, ada seorang pria relawan White Helmets. Rumahnya dibom dan ia kembali menemukan bahwa anaknya telah tewas. Ia menggali melalui puing-puing untuk mencari anggota keluarganya sendiri.

Ada kisah lain tentang seorang relawan yang kembali ke rumahnya, lalu rumahnya dibom. Rekan timnya yang lain datang dan menggali untuk menyelamatkan dia.

Ada kisah Khaled, mantan pelukis dan dekorator, mempunyai kisah pada penyelamatan di Idlib. Ia sudah selesai tugas pada larut malam dan ia hanya perlu tidur. Mereka telah merespon sebuah bangunan yang telah terkena bom. Ada sekitar 12, mungkin 13 orang diselamatkan dari bangunan tersebut. Ia menemukan sedikit beton datar, dan setelah 5-6 jam penyelamatan, ia benar-benar meringkuk dan tidur. Ia terbangun karena ia mendengar suara bayi menangis. Ia memanggil rekan timnya, yang semuanya datang, dan berkata, “Lihat, aku mendengar bayi menangis!” Mereka menggali selama 11 jam di tempat itu, dan menyelamatkan bayi berusia 10 hari.

Semua orang-orang ini memiliki hal yang berbeda yang dapat mereka lakukan . Semua dari mereka sangat luar biasa, banyak orang biasa yang sehari-hari menjalani kehidupan, tidak memikirkan cara apapun yang luar biasa. Namun, pilihan yang telah mereka buat untuk melakukan semua hal ini membuat mereka luar biasa.

Presiden Suriah Bashar Assad mengaku bahwa Iran memberikan dukungan militer dan ekonomi ke negaranya yang dilanda konflik berkepanjangan. Dia menggambarkan, dukungan itu sebagai bagian dari penguatan kerjasama bilateral dan itu “wajar”.

Bashar Assad mengatakan dalam wawancara dengan TV Rusia yang disiarkan pada Rabu (16/09), Iran dan Suriah serta “warga Suriah” mendukung politik, ekonomi dan militer terhadap negara Suriah. Ia berkilah, maksud dukungan militer itu bukan mengirim tentara atau pasukan ke Suriah sebagaimana dikatakan media Barat.

Mereka, tambah Assad, mengirim peralatan militer kepada kami. Saling bertukar ahli militer antara Suriah dan Iran juga menjadi hal lumrah. Kerjasama itu ada terus dan menjadi wajar semakin meningkat dalam kondisi perang.

Presiden yang berlumuran darah warga Suriah yang menentangnya itu menegaskan bahwa dukungan Iran sangat penting untuk membantu Suriah yang menghadapi perang sulit dan sengit ini.

Sebagaimana diketahui, Iran merupakan sekutu terkuat Suriah. Negara berideologi Syiah itu memberi dukungan senjata, tentara dan uang kepada rezim Bashar Assad. Berulang kali Iran berduka akibat perwira dan komandan militernya tewas dalam pertempuran di Suriah.

Laporan update situasi militer terbaru di Ghouta Timur, pinggiran utara Damaskus. Kemajuan operasi koalisi mujahidin Jaish al-Fath dan Failaq ar-Rahman menguasi beberapa basis pertahanan Rezim.




Pemimpin Jaish al-Islam dan Failaq ar-Rahman mengnjungi para mujahidin di Ghouta Timur

Aktivis melaporkan beberapa perbukitan dan jalan utama yang menghubungkan Harasta dan Kamp Wafidin telah dikuasai mujahidin

Update Peta (15/9) situasi militer di Ghouta Timur, pinggiran Damaskus

Al-Qaeda telah merilis pesan terbaru dari Syaikh Aiman Az-Zhawahiri, yang menegur Abu Bakar Al-Baghdadi dan kelompok “Daulah Islamiyah”, atau Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS, dengan menyebutnya sebagai “khalifah” yang tidak sah.


Dalam pesan yang dirilis pada Rabu (9/11/2015) ini, Syaikh Aiman menekankan bahwa Al-Qaeda tidak mengakui Baghdadi disebut “khalifah,” menjelaskannya belum memenuhi syarat untuk memimpin umat Islam.

Amir Al-Qaeda ini menyampaikan pesannya yang direkam bulan lalu dalam video serial Musim Semi Islami pertama berisi bimbingan perjuangan Islam yang dirilis Yayasan As-Sahab Media.

Syaikh Aiman mengatakan bahwa ia tidak ingin lebih mengobarkan “fitnah” (atau perselisihan) yang mengganggu jajaran jihadis. Syaikh Aiman juga mengatakan, sebagaimana dilansir LWJ pada Rabu (9/9/2015), bahwa ia berharap adanya rekonsiliasi dengan kelompok ISIS.

Penerus Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah ini mengatakan bahwa ia tidak punya pilihan selain merespon tegas Baghdadi yang menyerukan anggota Al-Qaeda untuk membelot dan meninggalkan baiat kepada Syaikh Aiman. Kelompok ISIS juga telah memperkeruh divisi jihadis dengan mengklaim sejumlah “provinsi” di beberapa daerah.

Syaikh Aiman pun membahas upaya ISIS untuk meyakinkan anggota Asy-Syabaab, cabang resmi Al-Qaeda di Somalia, untuk beralih kesetiaan mereka kepada Baghdadi. Dan Amir Al-Qaeda ini mengungkapkan bahwa Ahmed Abdi Godane (alias Mukhtar Abu Al-Zubair), amir pertama Asy-Syabaab, telah menyampaikan kepadanya untuk mengekspresikan ketidaksetujuan metode ISIS.

Bagaimanapun, sejauh ini upaya ISIS telah gagal membangun pijakan yang signifikan di Afrika Timur. Abu Al-Zubair syahid, in syaa Allah, dalam serangan udara Amerika pada bulan September 2014. Syaikh Aiman menyampaikan belasungkawa untuk komandan Asy-Syabaab itu dalam pidatonya yang baru dirilis. Dan ia juga secara resmi menerima baiat Abu Ubaidah Ahmad Umar, penerus Abu Al-Zubair sebagai Amir Asy-Syabaab. Cabang Al-Qaeda di Somalia pun menegaskan kembali baiat kepada Syaikh Aiman hanya beberapa hari setelah kepergian Abu Al-Zubair rahimahullah.

Syaikh Aiman menekankan bahwa tidak ada Muslim yang wajib berbaiat kepada Baghdadi atau daulahnya. Ia mengatakan bahwa “khalifah” itu tidak didirikan berdasarkan metode kenabian dan tidak memperoleh persetujuan dari ulama dan tokoh-tokoh jihad.

Tentara Assad semakin terjepit di wilayah Kafraya dan alFua'. Mereka bertempur melawan koalisi mujahidin Jaish alFath yang sekarang sedang memobilisasi kekuatan lebih besar lagi. Hal yang mengejutkan, warga sipil yang mereka tawan dijadikan tameng, disimpan dalam kandang diatas rumah agar mujahidin tidak menembakan mortal atau sejenisnya. (NGOsyria)




Ahrar Al-Syam Al-Ismiyah, salah satu faksi pejuang Suriah, Sabtu (12/09), mengumumkan pemimpin baru menggantikan Syaikh Hasyim Al-Syaikh (Abu Jabir) yang habis masa amanahnya. Adalah Ir. Muhannad Al-Mishri (Abu Yahya Al-Hamawi) sebagai pemimpin utama Ahrar Al-Syam saat ini.

“Setelah masa amanah Syaikh Hasyim Al-Syaikh (Abu Jabir), komandan Ahrar Al-Syam, habis dan beliau meminta untuk tidak ditunjuk sebagai pemimpin kembali, Dewan Syura sepakat menunjuk Saudara Ir. Al-Muhanddi Al-Misri (Abu Yahya Al-Hamawi) sebagai penggantinya,” kata salah satu gerakan Islamis terbesar di Suriah itu dalam pernyataannya tertanggal, Sabtu, 12 September 2015.

Pernyataan yang diunggah di internet itu menambahkan bahwa Dewan Syura Ahrar Al-Syam memohon semoga Allah membalas amal Syaikh Ab Jabir selama menjabat ketua. Di mana, beliau memimpin Ahrar yang saat itu dalam situasi kritis setelah seluruh orang-orang terbunuh dalam serangan bom.

Begitu juga, Dewan Syura Ahrar berharap semoga Allah membimbing dan membantu Abu Yahya menjalankan amanahnya.

Abu Jabir memimpin Ahrar Al-Syam setahun lalu, menggantikan Hassan Abaod yang gugur bersama puluhan komandan penting lainnya. Abaod yang merupakan pendiri Ahrar Al-Syam dan puluhan komandan lainnya terkena serangan bom di ruang rapat.

Sampai saat ini, belum diketahui siapa yang bertanggung jawab di balik serangan itu. Namun, dugaan kuat pelakunya rezim Suriah yang bekerjasama dengan agen yang menyusup di tubuh Ahrar.

Sementara, kantor berita Al-Jazeera menyebutkan bahwa Abu Yahya Al-Hawami berasal dari provinsi Hama. Beliau sempat mendekam dalam penjara rezim dan dibebaskan seiring meletusnya revolusi di negara itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, dunia terbelalak dengan tragedi kemanusiaan terbesar abad ini paska ditemukannya jasad seorang balita pengungsi Muslim Suriah, Aylan Kurdi (3 tahun), yang tenggelam dan terdampar di pantai Turki bersama beberapa anggota keluarganya.

Ribuan pengungsi Muslim Suriah telah mengalir ke berbagai negara termasuk daratan Eropa untuk mencari perlindungan, lantaran lebih dari 4 tahun negara mereka tak kunjung usai dari perang. Apalagi rezim Bashar Assad tak jua mau turun setelah mendapat dukungan dari Iran dan Rusia serta terus membombardir rakyatnya lewat serangan-serangan udara yang mematikan.

data pengungsi suriah

Jaish al-Islam merilis sebuah video terkait pertempuran di Ghautah Timur, dekat Damaskus. Sejumlah tentara Assad terbunuh dan beberapa ghanimah didapatkan mujahidin.



Dengan persiapan yang matang, Mujahidin masuk dalam terowongan untuk menyusup ke wilayah yang dikuasai tentara Assad. Mujahidin mampu menguasai wilayah Tel Kurdi, bangunan sekitar penjara wanita, dan serangkaian barak militer dan markas keamanan di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Damaskus - Homs.

Dalam bagian video tersebut memperlihatkan ledakan besar di sebuah gedung amunisi seterlah mujahidin Jaish al-Islam menembakinya beberapa jam..

syria_damascus_jaish_islam

Mujahidin malaporkan terkait pertempuran di perbukitan pinggiran Lattakia. Beberapa video diunggah hari kemarin (13/9).

Mujahidin menembaki tentara Assad yang mencoba melarikan diri dari perbukitan dekat Jubb al-Ahmar


Tentara Assad yang sedang berkumpul di atas perbukitan, tepat terkena tembakan meriam B9 dari mujahidin.


Laporan pertempuran membebaskan puncak pegunungan Nabl Younis, Lattakia

Menurut situs berita Ad-Durar Asy-Syamiyah, Mujahidin dari Al-Ittihad Al-Islam Li Ajnad Asy-Syam, pada Jum’at (11/9), menghancurkan konvoi militer pasukan Rezim Nushairiyyah yang sedang dalam perjalanan memberikan bantuan kepada tentara rezim Nushairiyyah di Ghouta Timur, Rif-Dimashq.

Kantor Informasi Al-Ittihad Al-Islam, mengatakan bahwa para pejuang mentargetkan dengan mortir konvoi militer yang datang dari Rumah Sakit Polisi dan Batalion dari Keamanan Pemerintah yang sedang mengarah ke Tal Kurdi untuk mendukung pasukan rezim Nushairiyyah, yang tengah mengalami kerugian besar oleh serangan bertubi-tubi dari Jaisyul Islam, yang mengakibatkan jatuhnya sejumlah besar korban tewan dan hancurnya tank lapis baja.


Operasi penyergapan ini datang ketika pasukan rezim Assad memperbaharui pengeboman di kota Douma di Ghouta Timur, dan berdekatan dengan penjara pusat di Damaskus (penjara Adra), yang menyebabkan jatuhnya banyak korban di pihak sipil. Selain itu rezim Syiah Bashar Assad juga menembakkan rudal darat menargetkan masjid terbesar di kota itu, yang mengakibatkan kehancurannya, menurut koresponden Ad-Durar Asy-Syamiyyah.

Serangan Mujahidin di wilayah pinggiran Damaskus beberapa hari ini, selain menghadapi tentara rezim juga melakukan pembebasan di wilayah yang dikuasai ISIS. Serangan ini mendapatkan kemenangan atas beberapa wilayah.

Seorang amir ISIS wilayah Damaskus, Abu Talha tertangkap hidup-hidup. Sudah diketahui sejak lama, amir ISIS ini sebelumnya adalah seorang kepala kantor intelegen Rezim.





Islam Allousy, juru bicara kelompok Jihad Jaisyul Islam, mengatakan seperti dilansir Zaman Alwasl bahwa angkatan udara rezim Syiah Nusyairiyyah Bashar Assad telah menggagalkan serangan mereka terhadap ISIS di al-Hajar Aswad, pinggiran barat Damaskus, Kamis (10/9).


Allousy mengisyaratkan adanya kerjasama antara tentara rezim dan kelompok yang mengklaim diri sebagai “Khilafah” itu dalam memerangi para pejuang Islam.

Pernyataan Jaisyul Islam itu datang di tengah upaya intens mereka untuk membebaskan sejumlah tahanan Muslim termasuk aktivis dan Muslimah di penjara Adra, Damaskus pada hari yang sama.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget