Halloween Costume ideas 2015
August 2015

Istilah bughat perlu dipahami kembali oleh kaum Muslim. Hal itu penting agar kaum Muslim tidak terjebak dalam upaya memanipulasi istilah bughat ini untuk mendukung rezim yang tidak Islami bahkan rezim yang tidak menerapkan hukum-hukum syariah dan sama sekali tidak peduli terhadap hukum-hukum syariah Islam. Hal itu seperti yang terjadi di sebagian negeri Islam.

bughat terhadap khilafah
Bughât adalah bentuk jamak al-bâghi, berasal dari kata baghâ, yabghî, baghyan-bughyatan-bughâ`an. Kata baghâ maknanya antara lain thalaba (mencari, menuntut), zhalama (berbuat zalim), i’tadâ/tajâwaza al-had (melampaui batas), dan kadzaba (berbohong) (Ibrahim Anis, Mu’jam al-Wasith, 1972:64-65; Munawwir, Kamus al-Munawwir, 1984:65,106; Ali, 1998:341).    Jadi, secara bahasa, al-bâghi (dengan bentuk jamaknya al-bughât), artinya azh-zhâlim (orang yang berbuat zalim), al-mu’tadî (orang yang melampaui batas), atau azh-zhâlim al-musta’lî (orang yang berbuat zalim dan menyombongkan diri) (Attabik Ali, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, 1998:295, Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasith, 1972: 65).

Para ulama beragam dalam mendefinisikan bughât, kadang mendefinisikan bughat secara langsung, kadang mendefinisikan tindakannya, yaitu al-baghy[u] /pemberontakan (Abdul Qadir Audah, 1996 at-Tasyrî’ al-Jinâ`i al-Islami :673-674; Syekh Ali Belhaj, 1984, Fashl al-Kalâm fî Muwâjahah Zhulm al-Hukkâm :242-243).

Menurut ulama Hanafiyah al-Baghy[u] adalah keluar dari ketaatan kepada imam (khalifah) yang haq (sah) dengan tanpa [alasan] haq. Dan al-bâghi adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada imam yang haq dengan tanpa haq (Ibn ‘Abidin, Hasyiyah Ibnu Abidin, III/426; Muhammad bin Abdul Wahid as-Siyuwasi, Syarhu Fathul Qadir, IV/48).

Ulama Malikiyah menjelaskan al-Baghy[u] adalah mencegah diri untuk menaati imam (khalifah) yang sah dalam perkara bukan maksiat dengan menggunakan kekuatan fisik (mughalabah) sekalipun karena alasan ta`wil (penafsiran agama). Dan bughat adalah kelompok (firqah) dari kaum muslimin yang menyalahi imam a’zham (khalifah) atau wakilnya, untuk mencegah hak (imam) yang wajib mereka tunaikan, atau untuk menurunkannya (A-Zarqani, Hasyiyah Az-Zarqani wa Hasyiyah Asy-Syaibani, hal. 60).

Ulama Syafi’iyah mengartikan bughât adalah kaum muslimin yang menyalahi imam dengan jalan memberontak kepadanya, tidak mentaatinya, atau mencegah hak yang yang wajib mereka tunaikan (kepada imam), dengan syarat mereka mempunyai kekuatan (syaukah), ta`wil, dan pemimpin yang ditaati (muthâ’) dalam kelompok tersebut (Nihayatul Muhtaj, VIII/382; asy-Syayrazi, Al-Muhadzdzab, II/217; Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, II/197-198; Zakariya al-Anshari, Fathul Wahhab, II/153).

Bughat juga diartikan sebagai orang-orang yang keluar dari ketaatan dengan ta`wil yang fasid (keliru), yang tidak bisa dipastikan kefasidannya, jika mereka mempunyai kekuatan (syaukah), karena jumlahnya yang banyak atau adanya kekuatan, dan di antara mereka ada pemimpin yang ditaati (Asna al-Mathalib, IV/111).

Jadi menurut ulama Syafi’iyah, bughât adalah pemberontakan sekelompok orang (jama’ah), yang mempunyai kekuatan (syaukah) dan pemimpin yang ditaati (muthâ’), dengan ta`wil yang fasid (Abdul Qadir Audah, at-Tasyri’ al-Jina’iy, II/674).

Menurut ulama Hanabilah Bughat adalah orang-orang yang memberontak kepada imam –walaupun ia bukan imam yang adil– dengan suatu ta`wil yang diperbolehkan (ta`wil sa`igh), mempunyai kekuatan (syaukah), meskipun tidak mempunyai pemimpin yang ditaati di antara mereka (Syarah al-Muntaha ma’a Kasysyaf al-Qana’, IV/114).

Ibn Hazm mendefinisikan Bughât adalah mereka yang menentang imam yang adil dalam kekuasaannya, lalu mereka mengambil harta zakat dan menjalankan hudud (Ibnu Hazm, Al-Muhalla, XII/520). Al-Baghyu adalah memberontak kepada imam yang haq dengan suatu ta`wil yang salah dalam agama, atau memberontak untuk mencari dunia (Ibnu Hazm, Al-Muhalla, XI/97-98).
Sedangkan menurut ulama Syiah Zaidiyah, Bughat adalah orang yang menampakkan diri bahwa mereka adalah kelompok yang haq sedang imam adalah orang yang batil, mereka memerangi imam tersebut, atau menyita hartanya, mereka mempunyai kelompok dan senjata, serta melaksanakan sesuatu yang sebenarnya hak imam (ar-Rawdh an-Nadhir, IV/331).

Perbedaan definisi yang ada disebabkan perbedaan syarat yang harus terpenuhi agar sebuah kelompok itu dapat disebut bughat (‘Audah, ibid, 1996:674). Sedangkan syarat merupakan hukum syara’ (bagian hukum wadh’i), yang wajib bersandar kepada dalil syar’i, sehingga syarat yang sah adalah syarat syar’iyah, bukan syarat aqliyah (syarat menurut akal) atau syarat ‘âdiyah (syarat menurut adat) (Asy-Syatibi, al-Muwafaqat, I/186). Oleh karenanya tentang syarat bughât kita harus merujuk kepada dalil-dalil syar’i. Dalil tentang bughât adalah QS Al-Hujurat ayat 9 (Abdurrahman Al-Maliki, 1990:79), hadits-hadits Nabi SAW tentang pemberontakan kepada imam (khalifah). (Ash-Shan’ani, Subulus Salam III bab Qitâl Ahl Al-Baghî hal. 257-261; Abdul Qadir Audah, 1992, at-Tasyri’ al-Jina’iy, hal 671-672) dan ijma’ shahabat, mengenai wajibnya memerangi bughat (Zakariya Al-Anshari, Fathul Wahhab, t.t. :153; Taqiyuddin Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, t.t.:197).

Dengan mengkaji nash-nash syara’ tersebut, dapat disimpulkan ada 3 (tiga) syarat yang harus ada secara bersamaan pada sebuah kelompok yang dinamakan bughat, yaitu (Abdurrahman Al-Maliki, Nizhâm al-‘Uqubat, 1990:79; Muhammad Khayr Haikal, al-Jihad wal Qital fi as-Siyasah asy-Syar’iyyah, 1996: 63):

  1. Pemberontakan kepada khalifah/imam (al-khuruj ‘ala al-khalifah);
  2. Adanya kekuatan yang dimiliki yang memungkinkan untuk mendominasi (saytharah); dan
  3. Mengggunakan senjata untuk mewujudkan tujuan-tujuan politisnya.

Syarat pertama, adanya pemberontakan kepada khalifah (imam) (al-khuruuj ‘ala al-imam). Misalnya dengan ketidaktaatan mereka kepada khalifah atau menolak hak khalifah yang mestinya mereka tunaikan kepadanya, semisal membayar zakat. Syarat pertama ini, memang tidak secara sharih (jelas) disebutkan dalam surah Al-Hujurat ayat 9 :
“Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya (zalim) maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” (TQS Al-Hujurat [49]:9)

Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari (w.925 H) dalam Fathul Wahhab (II/153) mengatakan,”Dalam ayat ini memang tidak disebut ‘memberontak kepada imam’ secara sharih, akan tetapi ayat tersebut telah mencakupnya berdasarkan keumuman ayatnya, atau karena ayat tersebut menuntutnya. Sebab jika perang dituntut karena kezaliman satu golongan atas golongan lain, maka kezaliman satu golongan atas imam tentu lebih dituntut lagi.”

Syarat ini ditunjukkan secara jelas oleh hadits yang menjelaskan tercelanya tindakan memberontak kepada imam (al-khuruj ‘an tha’at al-imam). Misalnya sabda Nabi SAW :
مَنْ خَرَجَ عَن الطَّاعَةِ وَ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَ مَاتَ فَمَيْتَتُهُ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang keluar dari ketaatan (kepada khalifah) dan memisahkan diri dari jamaah dan mati, maka matinya adalah mati jahiliyyah.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah, Subulus Salam III/258).

Mengenai yang dimaksud dengan imam, Abdul Qadir Audah menegaskan, “[Yang dimaksud] Imam, adalah pemimpin tertinggi (kepala) dari Negara Islam (ra`is ad-dawlah al-islamiyah al-a’la), atau orang yang mewakilinya…” (Abdul Qadir Awdah, at-Tasyri’ al-Jina’iy, II hal. 676).

Hal tersebut didasarkan dari kenyataan bahwa ayat tentang bughat (QS Al-Hujurat : 9) adalah ayat madaniyah yang berarti turun sesudah hijrah (As Suyuthi, 1991:370). Berarti ayat ini turun dalam konteks sistem negara Islam (Daulah Islamiyah), bukan dalam sistem yang lain.

Hadits-hadits Nabi SAW dalam masalah bughat, juga demikian halnya, yaitu berbicara dalam konteks pemberontakan kepada khalifah, bukan yang lain (Lihat ash-Shan’ani, Subulus Salam, III/257-261). Demikian juga, pemberontakan dalam Perang Shiffin yang dipimpin Muawiyah (golongan bughat) melawan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang sah, jelas dalam konteks Daulah Islamiyah (Lihat Al-Manawi, Faidh al-Qadir, II/336).

Dengan demikian, pemberontakan kepada kepala negara yang bukan khalifah, misalnya kepada presiden dalam sistem republik, tidak dapat disebut bughat, dari segi mana pun, menurut pengertian syar’i yang sahih.

Syarat kedua, mempunyai kekuatan yang memungkinkan kelompok bughat untuk mendominasi. Kekuatan ini haruslah sedemikian rupa, sehingga untuk mengajak golongan bughat ini kembali mentaati khalifah, khalifah harus mengerahkan segala kesanggupannya, misalnya mengeluarkan dana besar, menyiapkan pasukan, dan mempersiapkan perang (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, II/197). Kekuatan di sini, sering diungkapkan oleh para fuqaha dengan istilah asy-syaukah, sebab salah satu makna asy-syaukah adalah al-quwwah wa al-ba`s (keduanya berarti kekuatan) (Ibrahim Anis, Al-Mu’jamul Wasith, hal. 501). Para fuqaha Syafi’iyyah menyatakan bahwa asy-syaukah ini bisa terwujud dengan adanya jumlah orang yang banyak (al-katsrah) dan adanya kekuatan (al-quwwah), serta adanya pemimpin yang ditaati (Asna Al-Mathalib, IV/111).

Syarat kedua ini, dalilnya antara lain dapat dipahami dari ayat tentang bughat (QS Al Hujurat: 9) pada lafazh “wa in thâ`ifatâni” (jika dua golongan…). Sebab kata “thâ`ifah” artinya adalah al-jama’ah (kelompok) dan al-firqah (golongan) (Ibrahim Anis, Al-Mu’jamul Wasith, hal. 571). Hal ini jelas mengisyaratkan adanya sekumpulan orang yang bersatu, solid, dan akhirnya melahirkan kekuatan. Taqiyuddin Al-Husaini mengatakan,”…jika (yang memberontak) itu adalah individu-individu (afrâdan), serta mudah mendisiplinkan mereka, maka mereka itu bukanlah bughat.” (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar II/198).  Jadi jika satu atau beberapa individu yang tidak mempunyai kekuatan, memberontak kepada khalifah, maka tidak disebut bughat.

Syarat ketiga, mengggunakan senjata untuk mewujudkan tujuan-tujuannya. Dalilnya QS Al Hujurat : 9, yaitu lafazh “iqtatalû” (kedua golongan itu berperang). Ayat ini mengisyaratkan adanya sarana yang dituntut dalam perang, yaitu senjata (as-silâh). Selain itu Nabi SAW bersabda :
مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاَحَ فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa yang membawa senjata untuk memerangi kami, maka ia bukanlah golongan kami.” (Muttafaqun ‘alayhi. Subulus Salam, III/257. Kitab Qitâl Ahl Al-Baghi,  Imam Asy-Syairazi, Al-Muhadzdzab, II/217).

Dengan demikian, jika ada kelompok yang menentang dan tidak taat kepada khalifah, tetapi tidak menggunakan senjata, misalnya hanya dengan kritikan atau pernyataan, maka kelompok itu tak dapat disebut bughat.

Oleh karenanya, Syaikh Abdurrahman Al-Maliki mendefinisikan bughât sebagai orang-orang yang memberontak kepada Daulah Islamiyah (Khilafah), yang mempunyai kekuatan (syaukah) dan senjata (man’ah). Artinya, mereka adalah orang-orang yang tidak menaati negara, mengangkat senjata untuk menentang negara, serta mengumumkan perang terhadap negara (Abdurrahman al-Maliki, Nizhâm al-‘Uqûbât fî al-Islâm, 1990, hal  79).

Menangani Bughât

Ayat diatas telah menyatakan bahwa hukuman terhadap pelaku bughat adalah diperangi sampai mereka kembali kepada perintah Allah, yaitu kembali taat kepada khalifah atau negara dan menghentikan pembangkangan mereka.  Namun sebelum sampai kepada perang tersebut, imam atau khalifah harus mengontak mereka dan menanyakan apa yang mereka tuntut dari negara.  Jika mereka menyebutkan kezaliman maka kezaliman itu harus dihilangkan.

Jika mereka mengklaim suatu syubhat maka syubhat tersebut harus dibongkar dan dijelaskan.  Jika mereka menilai apa yang dilakukan oleh khalifah (negara) menyalahi kebenaran atau syara’, padahal tidak demikian halnya, maka harus dijelaskan kesesuaian tindakan dan kebijakan khalifah atau negara dengan syariah dan nas-nasnya serta harus ditampakkan kebenarannya.  Semua itu harus dilakukan sampai taraf dianggap cukup.  Jika mereka yang melakukan bughât itu tetap dalam pembangkangan, maka mereka diperangi agar kembali taat.

Namun harus diingat, perang terhadap mereka adalah perang dalam rangka memberi pelajaran (qitâl at-ta`dîb) bukan perang untuk memusnahkan.  Perang terhadap mereka bukan merupakan jihad.  Jadi harta mereka bukan fa’i dan tidak boleh dirampas dan dibagi-bagi.  Mereka yang tertawan tidak diperlakukan sebagai tawanan, melainkan diperlakukan sebagai pelaku kriminal.  Wanita dan anak-anak mereka yang dibawa serta di medan perang tidak boleh dijadikan sabi. Wallâh a’lam bi ash-shawâb.

[hizbut-tahrir.or.id/Yahya Abdurrahman ]

Pasukan Daulah Baghdadiyah (ISIS) kembali menebar teror di daerah-daerah yang dikelola oleh Jabhah Nushrah. Pada hari Ahad (30/08) dilaporkan bahwa seorang pelaku bom bunuh diri telah meledakkan dirinya sendiri di pelataran luar kompleks gedung Mahkamah Syariah Islam yang dikelola oleh Jabhah Nushrah di daerah Darul Qadha-Silqeen kawasan pedesaan Idlib.

Pelaku bom bunuh diri dari pejuang ISIS

Potongan jasad pelaku bom

Wilayah tersebut sebelumnya telah berhasil dibebaskan dari rezim Assad oleh koalisi Mujahidin Suriah yang terdiri dari para Muhajirin dan Anshar, kini dijadikan sasaran serangam bom bunuh diri oleh kelompok ekstrimis.

Penduduk Suriah menjadi saksi bahwa wilayah tersebut telah diatur dengan Syariah Islam di bawah pengelolaan Jabhah Nushrah. Namun, hal ini tetap saja membuat kaum khawarij yang sombong, menolak kebenaran lagi suka merendahkan dan mengkafirkan, menganggap bahwa wilayah tersebut sebagai Darul Kuffar yang layak untuk dihujani serangan.

Pembom bunuh diri yang berasal dari Daulah Baghdadiyah tersebut, meledakkan dirinya sendiri di kompleks luar Mahkamah Syariah di kawasan tersebut, sedikitnya 4 orang syahid dan 20 orang lainnya luka-luka akibat bom bunuh diri tersebut.

Ahrar Al-Syam mengumumkan melancarkan operasi pembunuhan komandan tinggi militer Suriah di Damaskus Suriah. Komandan itu tewas setelah bom yang dipasang mujahidin di mobilnya meledak.

Akun resmi Ahrar Al-Syam menjelaskan bahwa operasi tersebut menargetkan Brigadir Jenderal Raif Ali Al-Hasan dan asistennya, Abu Syahin. Pembunuhan itu dilakukan pada Sabtu malam (29/08) di lingkungan Al-Abbasin di pusat Damaskus.



Aktivis media melaporkan, seperti dilansir aranews.org, pejuang Ahrar meletakkan bom di mobil Ali Al-Hasan. Bom itu diledakkan sesaat mobil bertolak dari halaman parkir, tepatnya di dekat alun-alun Al-Abbasin.

“Ali Al-Hasan dan sejumlah pengawalnya tewas akibat ledakan itu,” lansir para aktivis.

Ahrar juga mengunggah video detik-detik suksesnya operasi tersebut. Rekaman yang dipublikasikan di situs resmi Ahrar itu melihatkan Ali Al-Hasan hendak bertolak dari lapangan parkir dengan sejumlah pengawalnya.

Beberapa saat mobil komandan tinggi Suriah itu keluar dari parkiran, terdengar suara ledakan dan letupan api. Asap hitam juga terlihat dari sumber ledakan itu.

Menurut sumber media, operasi ini sebagai balasan pengkhianatan gencatan senjata di kota Zabadani. Rezim yang sebelumnya menyepakati gencatan kedua di Zabadani, kembali menghujani kota yang terkepung tersebut.

Koresponden El-Dorar mengatakan bahwa “Abu Thalib Alloush”, komandan militer dari sektor perbatasan dari gerakan Ahrar al-Sham pada hari sabtu (29/8) selamat dari upaya pembunuhan berturut-turut untuk yang keempat kalinya.



Upaya pembunuhan yang dilakukan dengan menanam bahan peledak di bagian bawah mobilnya tersebut diduga kuat dilakukan oleh militan Jamaah Daulah (ISIS) yang sebelumnya juga telah membunuh sederet komandan Ahrar Syam.

Koresponden menegaskan bahwa unit pengawalan Ahrar Syam menemukan kemasan bom dalam sebuah kotak dan mampu menjinakkan sekaligus membongkar bom tersebut sebelum meledak, kejadian ini terjadi di wilayah yang sangat dekat dengan wilayah perbatasan Turki di provinsi Idlib.

Hal yang semakin memperkuat dugaan ini adalah tuduhan pengkafiran Jamaah Daulah terhadap Mujahidin Ahrar Syam, sekaligus fakta bahwa Komandan Abu Thalib Alloush telah memimpin operasi pertempuran untuk membersihkan Jamaah Daulah dan para perampok di kawasan pedesaan pinggiran Idlib.

Para aktivis mengatakan bahwa serangan tersebut, sangat mungkin dilakukan oleh pasukan Daulah, mengingat Jamaah Daulah baru saja terusir dari sejumlah kawasan perbatasan Turki atas serangan simultan yang dilakukan oleh Ahrar Syam (sj/eldorar)

Pasukan udara Suriah, Jumat (28/08), menggencarkan serangan birmil ke kota Daraya di pedesaan Damaskus. Akibatnya, sejumlah warga sipil terbunuh dan luka-luka.

Aktivis menghitung, sedikitnya 28 birmil dijatuhkan di lingkungan sipil dalam serangan itu. Banyak gedung yang menjadi tempat tinggal warga hancur.

Di saat bersamaan, pertempuran berlangsung antara mujahidin dan tentara Suriah di pinggir utara kota tersebut.

daraya-damascus-mujahedeen


Daraya dalam sebulan terakhir menyaksikan pertempuran sengit setelah mujahidin meluncurkan operasi menargetkan tentara rezim. Operasi itu bagian dari upaya mujahidin membebaskan kota penting tersebut dari kepungan militer Suriah.

Komandan Garda Revolusi Iran kembali tewas dalam pertempuran di provinsi Latakia, Suriah pesisir. Sebelum akhirnya tewas, komandan itu kritis selama dua hari.

Sumber-sumber di Suriah dan media Iran, Rabu (27/08), menyebutkan Komandan Brigade Al-Husain yang dinaungi Garada Revolusi Iran, Hamad Hiyari, akhirnya tewas setelah menderita luka serius. Dia terluka dalam pertempuran di provinsi Latakia dua hari sebelumnya.

Selain perwira Hiyari, wartawan TV Iran dan sekolompok tentara juga luka-luka dalam pertempuran tersebut. Diduga mereka terkena serangan mortir.

Sebagaimana diketahui, perwira dan tentara Iran beberapa bulan lalu dikabarkan berbondong-bondong ke provinsi Latakia setelah mujahidin meraih kemajuan. Mereka membentuk brigade yang diisi milisi-milisi Syiah dari luar Suriah.

Milisi-milisi itu ditugaskan di perbatasan Latakia untuk melindungi basis pengikut Syiah itu dari serangan mujahidin. Persenjataan dan pendaan mayoritas ditanggung Garda Revolusi Iran.

Sebulan sebelumnya, Iran juga kehilangan mantan perwira Garda Revolusi yang kembali terjun ke dunia militer. Perwira dari kota Ahwaz, Iran, itu digambarkan tewas karena membela kuil Sayyidah Zainab di Suriah.

Perlu diketahui, rezim Suriah beberapa waktu terakhir menggalang milisi-milisi asing dengan minta bantuan kepada milisi Syiah Hizbullah dan Garda Revolusi Iran. Cara itu ditempuh setelah Bashar Assad gagal membentuk milisi lokal yang bersedia bertempur membela markasnya itu.

Sumber: Al-Jazeera

Jabhah Nusrah dan faksi-faksi lainnya mengalami kemajuan menuju bandara militer Abu Dhuhur di provinsi Idlib. Bandara itu masih dalam kondisi dikepung oleh mujahidin sejak beberapa bulan lalu.

Sedikitnya 16 tentara Suriah tewas akibat pertempuran itu. Sementara dari pihak mujahidin, dilaporkan sedikitnya 18 pejuang gugur.

airbase-abu-dhuhur-2015

Di sisi lain, helikopter Suriah melancarkan serangan malam hari menargetkan daerah-daerah yang sudah dibebaskan di Jisr Ash-Shughur, pedesaan Idlib. Serangan itu menyebabkan kerugian material, sementara belum ada laporan jatuhnya korban.

Provinsi Idlib mayoritas dikuasai mujahidin Suriah. Hanya daerah yang masih dikontrol militer rezim namun sepenuhnya berada di bawah kepungan mujahidin. Tiga daerah itu adalah bandara Abu Dhuhur, kota Al-Fu’ah dan Kufreya.

idlib-control-mujahidin


Gencatan senjata sementara antara militer Suriah, Syiah Hizbullah di satu sisi dengan Mujahidin Suriah di sisi lain di kota Zabadani, pedesaan Damaskus, dikabarkan kembali diberlakukan pada Kamis pagi ini (27/08). Di saat yang sama, sedikitnya lima milisi Syiah Hizbullah tewas dalam pertempuran 24 jam terakhir di kota strategis itu.

Kantor berita Reuters menyebutkan dari sumber terpercaya, seperti dinukil Al-Jazeera, gencatan itu mulai diberlakukan pada Kamis pukul enam pagi waktu setempat. Selama dua hari kota itu disepakati tidak ada pertempuran atau serangan dari kedua kubu.

Sebelumnya, pihak rezim dan mujahidin juga menyepakati hal serupa. Rezim bersedia gencatan senjata 48 jam di Zabadani dengan sarat mujahidin juga bersedia gencatan senjata di kota dua kota Syiah di pedesaan Idlib yang hampir setiap hari dihujani mortir.

Kedua pihak berupaya menambah waktu gencatan tersebut namun gagal. Hal itu karena Iran mendesak seluruh warga Zabadani minggalkan kota untuk mereka duduki.

Sementara itu, wartawan Al-Jazeera di Lebanon melaporkan sedikitnya lima milisi Syiah Hizbullah tewas dalam pertempuran di Zabadani selama 24 jam terakhir. Dengan demikian, jumlah militan Syiah Hizbullah yang tewas sejak pertempuran bulan Juli lalu menjadi 75 militan, sebagaimana data yang dikumpulkan Al-Jazeera. Sementara korban luka-luka sangat banyak.

Di sisi lain, sumber mujahidin menyebutkan pihaknya menahan sedikitnya enam mayat militan Syiah Hizbullah. Mayat-mayat itu tewas dalam pertempuran di dalam kota Zabadani.


6 Milisi Hizbullah Yang Terbunuh di hari terakhir sebelum gencatan senjata, 
Website pro Hizbullah juga merilis 35 nama pejuangnya yang tewas baru-baru ini http://t.co/f0tPwnLqqv


Kekalahan yang dialami oleh ISIS secara berturut-turut di sejumlah kota dan pedesaan Suriah, serta terusirnya mereka dari sebagian wilayah di pedesaan utara Aleppo benar-benar membuat Jamaah Baghdadi ini bermata gelap.

Setelah sebelumnya mereka mencoba melakukan serangan balasan, di desa Marea di utara Aleppo dengan bom bunuh diri yang membunuh pelakunya sendiri, serta gagalnya sejumlah upaya mereka menyusupkan pelaku bom bunuh diri yang menggunakan baju wanita, pada malam kemarin (21/08), sebuah bom bunuh diri anggota Jamaah ISIS ini meledak di tengah wilayah Marea.

Tak cukup sampai di situ, (26/08) pasukan ISIS menghujani kawasan Marea dengan roket, mortir dan bom. Laporan dari rumah sakit darurat setempat menyebutkan, bahwa sejumlah bom dan roket yang diluncurkan oleh pasukan ISIS ini, merupakan Bom Mustard beracun yang biasa digunakan sebagai senjata biologis oleh rezim Assad untuk membantai rakyat sipil.



Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya bau ya g sangat menyengat, lebih dari satu jam paska bom meledak, serta efek biologis yang menimpa kaum Muslimin akibat ledakan tersebut, sebagaimana yang tampak pada para korban yang sempat dirawat di rumah sakit darurat terdekat.

Para aktivis setempat menyatakan, bahwa aksi bombardemen yang dilakukan oleh Jamaah ISIS ini semakin memperparah penderitaan kaum Muslimin di Suriah, mengingat serangan udara pasukan Koalisi Internasional pimpinan Amerika Serikat di Suriah juga semakin meningkat.

Kekejaman rezim Bashar Al-Assad telah membunuh ratusan ribu kaum Muslim di Suriah, kebanyakan warga sipil termasuk anak-anak. Hampir seperempat juta orang dinyatakan telah tewas dalam konflik Suriah sejak mulai terjadi pada bulan Maret 2011, klaim sebuah organisasi aktivis.

korban-warga-suriah

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan bahwa jumlah kematian yang didokumentasikan meningkat menjadi 240.381 orang dari 230.618 orang pada bulan Juni. 11.964 dari mereka yang tewas adalah anak-anak, kata kelompok itu, dan tercatat juga 71.781 kematian warga sipil.

Sepertiga dari kematian yang dicatat oleh SOHR, yang mengatakan mereka bergantung pada jaringan sumber yang di Suriah untuk mengkompilasi data, adalah dari pasukan rezim. Mereka yang tewas termasuk 50.570 tentara, sementara sisanya dikatakan sebagai sekutu para pejuang.

43.384 tentara pejuang dan 34.375 pejuang asing telah tewas di Suriah, menurut kelompok itu. 3.225 kematian lain juga telah tercatat tetapi identitas mereka tetap tidak diketahui oleh observatorium.

30.000 orang yang telah hilang di Suriah, termasuk 20.000 orang yang disebut ditahan di penjara-penjara Suriah, tidak diperhitungkan dalam perhitungan, Al Jazeera melaporkan.

Kekejian Bashar Al-Assad telah membunuh warga sipil dengan bengis. Termasuk penggunaan senjata kimia yang menewaskan kaum Muslim tak berdosa, termasuk anak-anak.

Lebih dari 4 juta orang telah melarikan diri dari Suriah sebagai pengungsi menurut Badan Pengungsi PBB. Sebuah laporan lebih lanjut dari PBB memperkirakan pada bulan Maret bahwa total kerugian ekonomi sejak awal konflik adalah $ 202 milyar.

Konflik Suriah dimulai ketika warga melakukan protes untuk menumbangkan rezim kejam Bashar Al-Assad bulan Maret 2011 meningkat menjadi perang sipil saat kelompok-kelompok pejuang dibentuk untuk melawan pasukan pemerintah yang terus menerus membantai warga dengan semena-mena.

Revolusi di Suriah berbeda dengan revolusi di negeri lainnya yang terkena Arab Spring seperti Tunisia dan Yaman. Kaum Muslim Suriah hanya menginginkan solusi syariat Islam beserta sistemnya di bawah naungan Khilafah, bukan demokrasi. Ini tampak jelas dari yel-yel revolusi seperti "Muhammad pemimpin kami selamanya" atau "Rakyat inginkan Khilafah".

Inilah yang menyebabkan kesulitan bagi negara-negara Barat untuk menyiapkan pemimpin boneka mereka di Suriah sebagai pengganti Assad setelah rezim itu ditolak warga. Untuk itulah berbagai upaya dilakukan oleh Barat untuk menjauhkan revolusi tulus kaum Muslim tersebut dengan merangkul pihak-pihak pecinta dunia. Termasuk keberadaan pihak-pihak yang mendistorsi ide Khilafah yang agung menjadi sesuatu yang menakutkan. Fitnah di tengah kaum Muslim pun terjadi, termasuk pembantaian terhadap umat ini terjadi.

Bahkan baru-baru ini, Amerika Serikat beserta sekutunya merangkul Turki untuk sama-sama membantai warga dengan dalih melawan "terorisme" setelah berhasil mendistorsi keagungan Khilafah yang diinginkan warga. Pemerintah Erdogan telah memberikan pangkalan Incirlik sebagai landasan bagi pesawat-pesawat Amerika untuk terbang membantai warga Syam. Di waktu yang sama rezim Bashar al-Assad semakin leluasa juga untuk melakukan pembantaian terhadap warga Suriah.

turki-amerika-suriah

Demikianlah, derita kaum Muslim di bumi Syam sebagai pusat negeri kaum Muslim beserta fitnah yang terjadi di dalamnya. Ini semua mengingatkan kita kepada Rasulullah Saw yang telah bersabda:

إِنِّي رَأَيْتُ عَمُودَ الْكِتَابِ انْتُزِعَ مِنْ تَحْتِ وِسَادَتِي، فَأَتْبَعْتُهُ بَصَرِي، فَإِذَا هُوَ نُورٌ سَاطِعٌ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ مَذْهُوبٌ بِهِ إِلَى الشَّامِ، وَإِنِّي أَوَّلْتُ أَنَّ الْفِتَنَ إِذَا وَقَعَتْ أَنَّ الإِيمَانَ بِالشَّامِ

“Aku bermimpi melihat tiang kitab (Islam) ditarik dari bawah bantalku. Aku mengikutinya dengan pandanganku. Ternyata, ia adalah cahaya sangat terang, hingga aku yakin bahwa cahaya itu membawa pandanganku ke Syam. Dan aku menafsirkan dari apa yang aku lihat dalam mimpi itu, bahwa bila fitnah (konflik) terjadi maka iman terletak di negeri Syam.” (Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani).

Umat benar-benar membutuhkan kekuatan politik kaum Muslim di bawah naungan Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan metode kenabian yang dirindukan umat yang akan menyatukan kaum Muslim seluruh dunia dan membawa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Insya Allah, tidak akan lama lagi. [theindependent/htipress/aljazeera/kabarsuriah]

Video yang dirilis oleh Jabhah Nushrah (JN), cabang resmi Al Qaeda (AQ) di Suriah. Video dokumenter berdurasi 43 menit ini berjudul Waratsatul Majd (Pewaris Kemuliaan). Video ini diberi judul “the Heirs of Glory”



“Pada masa lalu, Islam telah mengalami kemenangan gemilang yang menyeluruh. Islam telah membuktikan keberadaannya saat memerangi pasukan Barat: pertama, pada masa Khulafa Rasyidin, yaitu ketika Suriah dan Mesir dibebaskan dari kekuasaan Yunani yang telah membebani mereka selama hampir seribu tahun, dan kedua pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi dan Mamalik saat mengusir Pasukan Salib dan Tatar, yang dikalahkan dan dihinakan…

Sekarang (umat) Islam sedang tidur lelap. Namun, situasi global dapat membangunkannya untuk sekali lagi mengambil dominasi…. Semoga, ini tidak terjadi.” Arnold Toynbee, Sejarawan Inggris

Kutipan di atas merupakan pembuka dari video ini, yang menceritakan perjalanan sejarah Islam dari sudut pandang yang tidak biasa secara mainstream. 

Yayasan Media Jihad Al-Fusthat pada hari rabu (26/08) melalui situs justpaste.it telah menerbitkan sebuah rilisan video menakjubkan dengan tema jalan para Mujahidin di negeri Syam menempuh jalan jihad dan meraih gelar syuhada.




Berikut ini sejumlah link untuk mendownload video tersebut:
https://archive.org/details/drb_sohda
https://archive.org/download/drb_sohda/The%20Martyrs%20Path.mp4
http://www.gulfup.com/?ndbbJG
http://sendvid.com/2nhalosz
https://drive.google.com/file/d/0B2mMcsyX2zI_ZlFjRjJEV2M3LWM/view
http://www.solidfiles.com/d/cd6381c30c/
http://www.4shared.com/web/embed/file/QqHhI_pIce
https://mega.nz/#!YI0UhBSa!o7kgEBrvNz5Gy8_t5S_Okh4qBmjz_EU1Ih7FohQijqs

Video dari salah satu khutbah Jum’at Syeikh Muhammad Arifi, yang isinya mengungkap kekeliruan organisasi ISIS, dan menegaskan bahwa “semua yang dilakukan kaum kafir untuk mengkafirkan umat manusia dari Islam melalui berbagai media dengan menghabiskan miliaran dolar, maka bahayanya terhadap Islam tidak sebahaya yang dilakukan mereka (ISIS) selama tiga tahun, atau empat tahun lalu.”

Arifi mengatakan bahwa “para tentara dan pendukung tandzīm ad-daulah (ISIS) menjalankan ajaran agama Islam dengan cara sesukanya. Mereka mencari dalil apa saja, bahkan terkadang dalilnya salah dan lemah untuk pembenaran atas kejahatan yang mereka lakukan.”



Video Arifi telah menyebar secara luas di antara para netizen di situs jaringan sosial, terutama pada saat Syeikh mulai membicarakan tentang dialog yang berlangsung antara dirinya dengan salah satu pendukung tandzīm ad-daulah (ISIS) melalui “twitter” menyusul tweet (kicauan) yang dipublikasikan Syeikh Arifi seputar at-takfīr (pengkafiran).

-islammemo-

Pertempuran sengit terjadi pada Selasa (25/8/2015) di pedesaan di utara Aleppo antara pejuang Suriah dengan pasukan rezim Nushairiyah yang didukung oleh milisi Syiah, sebagai bagian dari pertempuran baru untuk merebut kembali kota-kota yang direbut oleh pasukan rezim pada bulan lalu, ujar juru bicara pejuang Suriah seperti dilansir Zaman Alwasl pada Rabu (26/8).

Kolonel Muhammad Al-Ahmad, juru bicara Jabhah Shamiya, mengatakan kepada Zaman Alwasl bahwa beberapa faksi yang beroperasi di bawah komando Jaisyul Fath Aleppo telah meluncurkan pertempuran baru terhadap pasukan rezim untuk merebut kembali wilayah yang telah hilang awal tahun ini di pedesaan utara.


Patisipasi Jaish al-Islam dalam pertempuran di Bashkoy, pedesaan utara Aleppo 

Berikut ini bagian kedua wawancara Bilal Abdul Karim seorang wartawan independen yang meliput konflik Suriah sejak beberapa tahun yang lalu, bersama syaikh Abu Firas As Suri, tokoh senior Al Qaeda sejak perang melawan Soviet, yang kini menjabat sebagai Dewan Pimpinan Majelis Syura Jabhah Nushrah. Selamat menyimak!



Wawancara Bilal Abdul Kareem bersama syaikh Abu Firas as Suri, anggota Majelis Syura Jabhah Nushrah, terkait sikap Jabhah Nushrah terhadap Tanzhim Daulah Baghdadi (ISIS).

Bilal: Sebagian orang dari Tanzhim Daulah mengatakan bahwa hukum-hukum hudud (hukum pidana Islam) adalah bentuk kasih sayang, bagaimana tanggapan Anda tentang hal ini?

Syaikh Abu Firas: Hudud adalah rahmat. Allah azza wa jalla berfirman, “Dan di dalam qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 179)

Akan tetapi Hudud harus diterapkan pada tempat yang tepat dan dengan cara yang benar. Sebagai contoh:

Jika kita ingin membunuh seeorang (dan jika ia masih Muslim), maka darah seorang Muslim tidak boleh ditumpahkan kecuali dengan alasan yang benar. Allah azza wa jalla mengizinkan kita untuk membunuh seseorang pada beberapa kasus, contoh yang laling menonjol dalam hal ini adalah:

  1. Hukuman atas Kasus Pembunuhan yang dilakukan seseorang kepada orang yang lain. 
  2. Hukuman atas perbuatan zina yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah. 
  3. Hukuman atas orang yang murtad dari Islam.

Kita harus membuktikan tuduhan-tuduhan ini dengan menggunakan bukti-bukti yang nyata dengan dalil-dalil yang shahih. Rasulullah saw telah memerintahkan kita untuk mencegah penegakan hudud, jika di sana terdapat bukti-bukti yang meragukan/syubhat.

Beliau bersabda, “Berlindunglah dari hudud, sebisa mungkin /sejauh yang engkau mampu.” (Al-hadits).
Umar bin Khatthab r.a berkata, ” Tidak jadi membunuh seseorang karena bukti-bukti yang ada masih meragukan/syubhat lebih saya cintai daripada membunuh seseorang hanya berdasarkan bukti-bukti yang meragukan/syubhat.”

Sungguh, telah ada kesepakatan ijma’ di antara para ulama’ bahwa hudud wajib dicegah atau dihindari jika masih ada syubhat atau bukti-buktinya masih meragukan atau hanya berdasarkan kecurigaan belaka.

Akan tetapi, para anggota Tanzhim Daulah Baghdadiyah itu (semoga Allah memperbaiki dan memberi hidayah kepada kebenaran bagi mereka). Mereka membunuh seseorang hanya berdasarkan atas kecurigaan belaka. Demikianlah cara berpikir mereka, demikian pula dalam kasus terhadap orang-orang murtad. Akan tetapi, Anda akan melihat bahwa orang yang mereka anggap murtad itu adalah seorang Muslim yang mendirikan sholat, menunaikan zakat dan berjihad fi sabilillaah. Tetapi, karena Muslim tersebut tidak mau berbaiat kepada “Khilafah” mereka, maka mereka menuduhnya sebagai orang murtad.

Padahal, (dalam sejarah) terdapat orang-orang yang tidak memberikan baiat mereka kepada Abu Bakar r.a. Saad bin Ubadah r.a adalah salah satu Kibarus Shohabah ( shahabat besar) dan ia tidak memberikan baiatnya kepada Abu Bakar r.a. Namun, Abu Bakar r.a tidak memerintahkan kaum Muslimin untuk membunuhnya.

Demikianlah, banyak orang yang tidak memberikan baiatnya kepada Khalifah yang berhak (secara syar’i dan waqi’i) dan para khalifah itu tidak memerintahkan untuk membunuh mereka.
Benar, bagi kami hukum hudud adalah Rahmat dari Allah. Oleh karena itu, jika engkau memutuskan untuk memotong tangan pencuri, maka itu dilakukan bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk mencegahnya dari mengulangi perbuatan mencuri dan sebagai peringatan bagi yang lain.
Benar, hukum hudud adalah rahmat dari Allah bati masyarakat. Oleh karena itu, seorang pezina laki-laki dan pezina perempuan dihukum rajam agar tindakan zina ini tidak menyebar di kalangan masyarakat.

Akan tetapi, syariat telah menetapkan syarat-syarat yang tegas, terkait penegakan hukuman-hukuman ini. Syariat Islam menegaskan bahwa hukuman rajam ini membutuhkan 4 orang saksi untuk membuktikan tuduhan perzinaan. Kita tidak serta merta merajam orang dengan batu, hanya karena sebuah tuduhan bahwa si Fulan dan si Fulanah adalah sepasang pezina yang tanpa bukti yang kuat atau hanya karena tuduhan kosong belaka.

Sekarang ini, Tanzhim Daulah (ISIS) bahkan telah mengeluarkan fatwa baru yang mengatakan bahwa para istri mujahidin adalah pezina, jadi mereka menyuruh untuk merajam para istri Mujahidin. Apakah hal ssmacam ini merupakan omongan orang yang waras/berakal? Apakah ini merupakan perkataan orang yang katanya tengah mendakwahkan Islam?

Ini jelas tidak mungkin! Mengala kita terlalu membesar-besarkan persoalan hudud ini? Pada saat yang sama, kita mengorbankan aspek penegakan syariat yang lengkap lagi menyeluruh?
Sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk menyebarkan Kasih Sayang-Nya, tetapi mereka (Tanzhim Daulah) tidak melakukannya. Sesungguhnya Allah menyuruh kita untuk menghapus pajak, tetapi mereka (Tanzhim Daulah) justru menarik pajak, Allah melarang kita untuk memotong jalan /membegal /merampok, tetapi mereka(Tanzhim Daulah) melakukan kejahatan itu.

Allah memerintahkan kita untuk tidak membunuh seseorang, kecuali setelah memiliki alasan yang benar dan bukti-bukti yang kuat, tetapi mereka membunuh hanya karena kecurigaan saja.
Allah melarang kita dari perbuatan meneror kaum Muslimin, tetapi mereka justru meneror kaum Muslimin. Mereka telah banyak berbuat melampaui batas dalam urusan agama ini. Padahal agama ini bukanlah hasil angan-angan atau menuruti keinginan hawa nafsu saja. Agama ini adalah taat kepada Allah azza wa jalla dalam semua perintah-Nya.

Bilal: Akan tetapi para pendukung Tanzhim Daulah (ISIS) akan mengatakan bahwa semuan jamaah selain mereka adalah jamaah yang di dalamnya aterdapat kesalahan, bagaimana tanggapan Anda tentang hal ini?

Syaikh Abu Firas: “Benar, Rasulullah saw mengatakan, ‘Setiap anak Adam adalah pendosa (pelaku kesalahan), tetapi sebaik-baik pelaku dosa adalah mereka yang bertaubat.’ (Al-Hadits).
Jika mereka (Tanzhim Daulah) berpendapat demikian, maka mereka juga telah melakukan kesalahan. Sebagaimana mereka dahulu mengakui pernah melakukan. kesalahan/ salah bunuh (seperti klaim mereka dalam pemenggalan komandan Al-Binsy-red), seperti perkataan mreka dulu, “Kami telah membunuh seseorang, kami melakukannya karena kesalahan.” Dan kemudian, mereka membayar denda darah (Diyat). Tetapi kemudian, mereka mengulangi kesalahannya berkali-kali, berulang-ulang. Maka jika seperti ini, terdapat perbedaan antara antara kesalahan dan Manhaj (sistem kerja), bagi Tanzhim Daulah membunuh adalah manhaj.

Allah azza wa jalla perintahkan kita untuk membunuh dengan cara yang telah ditetapkan syariat, bukan dengan memutilasi. Benar! Mereka telah membawa cara-cara Hollywood untuk mereka terapkan dalam metode pembunuhan mereka.

Mereka pernah membunuh dengan cara melilitkan QUARTEX (kabel peledak / detonating chord) di leher orang dan meledakkannya. Pada lain waktu, mereka memasukkan peledak dalam mobil berisi orang-orang yang akan dibunuh, kemudian mereka meledakkannya. Pada kesempatan lain dengan menembak orang dengan RPG, di lain waktu dengan menenggelamkan manusia ke dalam air dan menaruh kamera ke dalam air untuk merekam detik-detik kematian mereka.
Pada lain waktu dengan membakar mereka.

Sungguh, semua ini termasuk tindakan eksekusi dengan cara ‘mutslah.’ Allah ta’ala melarang kita melakukan itu. Rasulullah saw bersabda, ‘Jika kamu membunuh-bunuhlah dengan sebaik-baiknya.’ (Al-Hadits).

Tapi lihatlah mereka mencincang-cincang mayat. Ini jelas bukan tindakan manusiawi, apalagi kepahlawanan! Orang ini sudah mati, mengapa dicincang? Pertunjukan pencincangan mayat ini menunjukkan bahwa mereka itu tengah menderita sakit jiwa dan dan menunjukkan bahwa mereka dikuasai dendam dan kebencian.

Jika tindakan pembunuhan tersebut merupakan peneralan syariat Islam, mestinya kita harus membunuh sesuai aturan syariat sebagaimana yang diperintahkan Allah. Bahkan di negara-negara kafir pun, orang-orang kafir membunuh dengan cara-cara yang mereka anggap manusiawi. Dan jika ada tawanan yang dihukum mati, mereka membunuhnya dengan peluru yang mereka sebut ‘peluru pengampunan.’

Demikianlah, prinsip-prinsip Islam melarang kita untuk melakukan praktik pembunuhan yang sadis dan berlebihan semacam itu, tapi mereka (orang-orang Tanzhim Daulah/ISIS) menganggap bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah ajaran Islam. Demikianlah, mereka telah menggerogoti ajaran Islam, mereka pikir ajaran Islam hanyalah soal bunuh membunuh.”

Bilal: “Kami terus menerus mendengar kampanye tentang penerapan hudud. Dan inilah yang kami dengar dan kami ketahui tentang perjuangan penegakan Syariat Islam. Apakah bentuk penegakan syariat Islam yang dilakukan oleh Jamaah Anda? Apakah bentuk pelayanan yang disediakan oleh Jamaah Anda untuk masyarakat umum di Suriah, yakni penduduk Syam?”

Syaikh Abu Firas: “Sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, kami berusaha untuk mewujudkan tatanan Islam yang lengkap dan utuh, sebagaimana Islam yang diturunkan oleh Allah azza wa jalla. Tujuan pertama diturunkannya ajaran Islam adalah seruan untuk kembali kepada Allah, sebagaimana sabda Rasulullah saw, ‘Demi Allah, jika ada seseorang yang mendapat petunjuk dari Allah melalui dirimu, maka itu adalah lebih baik bagimu daripada segala sesuatu yang dilalui matahari dari terbit hingga tenggelamnya.’ (al-hadits). Maknanya, kebaikannya bukan saja lebih baik dari seisi dunia saja, tetapi adalah lebih baik dari segala sesuatu yang bisa dijangkau oleh sinar matahari, termasuk di dalamnya adalah Bumi dan planet-planet lainnya.

Dengan Allah memberi hidayah seseorang melalui Anda, maka itu lebih baik dari semua ini. Inilah poin utama dari ajaran agama ini, yakni untuk mengajak dan menyeru manusia agar beribadah kepada Rabb mereka yang telah menciptakan mereka. Untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam.

Penerapan hudud bukanlah tujuan satu-satunya. Sebagai tambahan, saya katakan bahwa dalam Jamaah kami di Jabhah Nushrah, di wilayah yang berada di bawah kontrol kami, jika ada Muslim yang melakukan tindak kejahatan, maka kami akan menjatuhkan hukuman hudud padanya dan kami akan melakukannya jika situasinya tepat dan kondisi si pelaku sudah sesuai dengan tuntutan syariat, bahwa si Muslim tersebut layak untuk dijatuhi hukuman padanya, dalam keadaan ini kami pasti tegakkan hukuman hudud atasnya.

Akan tetapi, ini bukanlah satu-satunya ajaran agama Islam. Jamaah kami berdakwah kepada Allah di atas Bashiroh/Bimbingan yang terang. Dalam Al-Qaeda dan Jabhah An Nushrah, kami memiliki ribuan Da’i yang mengajarkan kepada manusia tentang agama ini dan juga ribuan khathib di masjid-masjid yang mengajak manusia kepada Islam di Masjid-Masjid.

Kami memiliki banyak lembaga pendidikan Islam, kami menyelenggarakan pelatihan-pelatihan KeIslaman dan mendirikan sekolah-sekolah Islam yang mengajarkan kepada anak-anak kaum Muslimin tentang agama yang benar.

Sebagai tambahan dari semua itu, kami menyediakan pelayanan kepada masyarakat dengn berbagai pelayanan yang telah diajarkan dalam ajaran Islam, yakni menyediakan pertolongan bagi saudara-saudara kita untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Barangsiapa menolong saudara-saudaranya, maka Allah akan menolongnya.

Kami menyediakan pelayanan medis sebaik mungkin, sesuai kemampuan kami, pelayanan pendidikan, perbaikan jalan, perbaikan saluran air untuk kebutuhan rumah tangga. Kami sediakan pelayanan kebutuhan listrik bagi masyarakat, meski dalam masa-masa kritis, kami tetap berusaha memenuhi kebutuhan listrik warga di wilayah kami. Meskipun bom-bom barrel rezim Assad memotong saluran listrik ini berkali-kali. Namun, kami kembali memperbaikinya, di samping terus memperbaiki saluran distribusi air bagi kaum Muslimin.

Kami berusaha sebisa mungkin untuk melayani kebutuhan masyarakat. Tetapi saya tidak melihat bahwa urusannya hanya sekadar pelayanan belaka. Urusan pelayanan ini masih mudah untuk dilakukan. Tetapi lebih utama adalah untuk menyelamatkan manusia da4i kegelapan kepada cahaya, untuk menolong mereka agar terbebas dari kesesatan dan bid’ah kepada cahaya Islam, maka itu lebih baik bagi Anda daripada Anda memberinya makan selama ribuan hari.

Dalam Islam, terdapat sebuah kaidah yang menyatakan bahwa, barangsiapa membimbing seorang Muslim untuk memahami Islam, adalah seperti menebusnya dari api neraka!

Kekuatan koalisi Mujahidin yang diprakarsai oleh Jabhah Nushrah, yang meliputi Koalisi Jaisyul Fath, Koalisi Ansharusy Syariah, Koalisi Jaisyul Hermon telah sukses memporak porandakan benteng pasukan Assad di seluruh Suriah, sekaligus mengembalikan wilayah-wilayah yang direbut paksa oleh Tanzhim Daulah Baghdadiyah (ISIS).

Kini, setelah sempat “digembosi” oleh Tanzhim Daulah hingga kehilangan 2000 pasukannya yang membelot ke Tanzhim Daulah/ISIS, Tanzhim Al-Qaeda Jabhah Nushrah dalam waktu singkat kembali menjadi sebuah organisasi jihad terkuat di Suriah dengan wilayah yang sangat luas.
Tentunya, para pendengki tidak pernah rela dengan hal ini, mulai dari serangan udara koalisi Amerika, pengkhianatan faksi-faksi boneka Amerika, hingga bom bunuh diri Tanzhim Daulah yang menghancurkan masjid-masjid yang dikelola oleh Jabhah Nushrah.

Tuduhan yang dilancarakan oleh Tanzhim Daulah kepada Jabhah Nushrah pun semakin liar, mulai dari menganggap bahwa Jabhah Nushrah gagal menerapkan Syariah hingga mengkafirkan Jabhah Nushrah,

Berikut ini wawancara Bilal Abdul Karim seorang wartawan independen yang meliput konflik Suriah sejak beberapa tahun yang lalu, bersama syaikh Abu Firas As Suri, tokoh senior Al Qaeda sejak perang melawan Soviet, yang kini menjabat sebagai Dewan Pimpinan Majelis Syura Jabhah Nushrah.



Bilal: “Pertama-tama saya ingin mengucapkan; ‘Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh’.”

Abu Firas: “Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh, ahlan wa sahlan bikum.”

Bilal: “Apa tujuan Anda di sini, di Suriah?”

Abu Firas: “Segala puji milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada penghulu para Rasul. wa ba’du;

“Kita adalah umat pengemban risalah, dan tujuan dari umat ini adalah menyelamatkan seluruh dunia dan seluruh manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dan tujuan kami tidak hanya terbatas di Suriah saja. Hanya saja, sekarang pertempuran kami di Suriah. Allah ta’ala berfirman kepada Rasulnya saw, dan firman yang ditujukan kepada Rasulullah saw adalah firman yang ditujukan untuk seluruh umatnya. allah ta’ala berfirman:

“Alif Laam Raa. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka…” (QS. Ibrahim: 1).

Ini adalah misi dari umat pengemban risalah. Kewajiban kita adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dan ini tidak terjadi pada sebuah peperangan yang umumnya dipahami oleh banyak orang, bahwa urusan peperangan itu hanya berkutat pada urusan saling bunuh, baku hantam dan yang semisalnya.

Akar pokok dari kewajiban kita ini adalah membimbing dan menunjuki manusia sebagaimana yang dijelaskan Allah ta’ala dan sebagaimana yang dijalani oleh Rasulullah saw. jadi misi kita adalah membimbing manusia dan menuntun mereka agar kita semua bisa mewujudkan syariat Allah di muka bumi. dan misi kami di Suria merupakan satu bagian dari misi ini.”

Bilal: “Jamaah Anda menguasai banyak daerah akan tetapi ada sejumlah kritikan yang mengatakan bahwa jamaah Anda tidak menerapkan syariat Islam. mereka mengatakan bahwa kalian hanyalah jamaah perang saja dan tidak menegakkan syariat. Apa yang akan Anda katakan pada mereka?”

Abu Firas: “Sangat disayangkan bahwa kritikan ini dilatarbelakangi oleh tidak adanya kesadaran dari para ikhwan tentang syariah. Syariat Islam tidak hanya sebatas hukum hudud. Syariat Islam adalah sistem yang sempurna yang Allah turunkan kepada penutup para Rasul, yakni Rasulullah saw.

Rasulullah saw yang Allah utus untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan. Risalah Islam adalah sebuah sistem hidup yang komprehensif yang mencakup seluruh entitas manusia, ia adalah sebuah sistem yang utuh dan saling terkait. Ia merupakan hukum hudud, bimbingan hidayah, akhlak yang mulia, seruan dakwah menuju kebaikan. Dan pokok inti di dalamnya adalah menyeru manusia dengan cara yang paling baik. Dahulu Rasulullah saw berdakwah kepada Allah ta’ala dengan hikmah dan mau’izhah hasanah. Oleh karena itu, Allah ta’ala menggambarkan beliau dengan firmannya:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (Al-Qalam: 4)

Allah ta’ala berfirman kepada kita agar kita menyeru manusia dengan kebaikan, “wa qulu linnasi husna”. Ini adalah inti dasar dakwah Al-Qur’anul Karim. Al-Quran terdiri dari sekitar 6200 ayat. Ayat yang berkenaan hudud di dalamnya hanya enam ayat. Sirah nabi dan hadits shahih berjumlah lebih dari 10.000 hadits shahih tanpa pengulangan. Bahkan di dalam ribuan hadits tersebut yang berbicara tentang hudud tidak lebih dari sepuluh hadits. Saya tidak mengerti mengapa manusia hanya memahami bahwa syariat Islam hanya sebatas hudud. Di tempat-tempat yang kami kuasai, kami menyampaikan tentang dienullah yang benar sebagaimana yang Allah kehendaki. Kami berdakwah menyeru manusia kepada ilmu, untuk memahami dien. Kami mengadakan daurah syar’i. Rasul saw; pertama-tama beliau mengajari manusia baru kemudian menegakkan hudud. Rasul saw menuntun manusia kepada hidayah dan memberi mereka rasa aman dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. Oleh karenanya, saat itu hudud jarang sekali. Bahkan hudud harus digugurkan karena adanya syubhat. Umar ra pada tahun ramadah (tahun-tahun paceklik) tidak menegakkan had kepada para pencuri karena mereka mencuri agar bisa makan. Sa’ad bin Abi Waqqas di saat perang Qadisiyah tidak menegakkan had kepada Abu Mihjan ats Tsaqafi karena saat itu kondisi perang.

Dien bukan sekedar hudud. Dien pada dasarnya adalah sebuah misi yang dengan misi ini Allah ta’ala mengutus seluruh rasul. Misi ini adalah mengesakan Allah ta’ala dalam peribadahan.”

Bilal: “Jadi Anda tidak menganggap diri Anda sebagai sebuah kekuatan perang saja?”

Abu Firas: “Tentu, perang adalah sebuah kondisi pengecualian di dalam Islam. Kami adalah umat pengemban risalah. dan misi dari Islam bukan hanya perang, tapi mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Misinya adalah menerapkan aturan Allah di muka bumi.

Jika saya berdakwah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah, lalu mereka mau menerima dakwah.. mengapa saya harus memerangi mereka? Perang dalam Islam merupakan sarana terakhir, sarana terakhir untuk diplomasi. Sebagaimana sejumlah orang mengatakan tentang definisi perang bahwa perang adalah diplomasi secara kasar.

Kami berusaha untuk berdakwah mengajak manusia dengan segala hal yang kami bisa; dengan ta’lim, dakwah melalui masjid-masjid, melalui media massa. Berbagai sarana yang bisa digunakan untuk berdakwah maka kami gunakan.
Adapun jika ada orang yang berusaha untuk menghalangi dakwah kami atau melarang orang lain agar tidak menerima dakwah, maka kami harus memeranginya sehingga kami bisa menyampaikan Kalimatullah kepada manusia. Kami memiliki tanggung jawab agar kalimatullah sampai kepada manusia. maka siapa saja yang menjadi penghalang antara kami dan manusia sehingga dakwah tidak bisa sampai kepada mereka maka kami harus memeranginya sampai hanya allah saja yang diibadahi di muka bumi.”

Bilal: “Tanzhim Daulah mengklaim bahwa mereka menerapkan syariat Islam di daerah yang mereka kuasai. dan menurut mereka, daerah-daerah yang direbut dari tangan mereka, maka di daerah tersebut tidak lagi diterapkan syariat Islam. sekali lagi menurut mereka, hal ini (merebut wilayah Daulah) akan membatalkan iman Anda dan mengeluarkan anda dari Dien. bagaimana Anda menjawab mereka?”

Abu Firas: “Ini hasil dari pemahaman yang buruk tentang Islam. Mereka mengira bahwa Islam hanya sebatas hududud. Saya ulangi bahwa Islam adalah dakwah komprehensif. Adapun pokok dari dakwah ini adalah mentauhidkan Allah azza wa jalla. dan mentauhidkan Allah azza wa jalla sebagaimana penjelasan ulama bahwa tauhid terbagi dalam tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma dan sifat. Adapun puncak dari tauhid ini adalah tauhid uluhiyah. dan tauhid uluhiyah secara definisi yang singkat dan ringkas adalah mengesakan Allah dalam seluruh perbuatan kita. Artinya jika kita berdoa maka kita hanya berdoa kepada Allah, jika kita minta tolong maka hanya kepada Allah, jika kita beribadah maka hanya beribadah kepada Allah. jika kita meminta pertolongan maka hanya kepada Allah sebagaimana ucapan Ibrahim as:
“Aku hadapkan wajahku bagi yang telah menciptakan langit dan bumi sebagai seorang muslim yang lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik” (Al-An’am: 79).

Dan di setiap shalat kita mengucapkan, “Aku hadapkan wajahku kepada yang telah menciptakan langit dan bumi sebagai seorang Muslim yang lurus, dan bukanlah aku termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah rabb semesta alam. Tiada sekutu baginya dan dengan itu aku diperintahkan. Dan aku termasuk orang Islam”

Jadi pokok dasar dien adalah dakwah kepada Allah dan mentauhidkannya. Adapun dien ini mencakup banyak hal yang dikesampingkan oleh orang-orang Daulah. Dienul Islam mengajak kepada akhlak mulia, mengajak untuk tidak berbohong, mengajak untuk tidak berbuat ghulul (mencuri ghanimah), mengajak untuk tidak menuduh, mengajak untuk mengasihi manusia, mengajak untuk bersikap lembut kepada kaum muslimin dan juga kepada selain muslim.

Rasul saw bersabda kepada kita, “Sesungguhnya, Allah azza wa jalla menetapkan ihsan/kebaikan dalam segala hal. jika kalian menyembelih maka perbaguslah dalam menyembelih. jika kalian membunuh maka perbaguslah dalam membunuh. dan hendaknya agar menajamkan pisaunya dan membuat nyaman sembelihannya.”

Artinya jika kita ingin menyembelih kambing hendaknya kita menajamkan pisau, tidak memperlihatkannya sebelum menyembelih, dan agar menyembelih dengan cepat sehingga kita tidak menyiksanya. Dienul Islam adalah dien rahmah/kasih sayang. “Dan tidaklah kami mengutusmu hai Muhammad melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” Allah ta’ala tidak mengutus rasul saw untuk bersikap keras dan meneror seluruh alam. “dan tidaklah kami mengutusmu hai Muhammad melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam”

Rasul saw bersabda mengenai dirinya: “Sesungguhnya Allah azza wa jalla tidak mengutusku sebagai orang yang bersikap keras kepala lagi kasar, tetapi Allah mengutusku sebagai orang yang memberi pengajaran dan memudahkan”. (Bersambung)

Konflik Suriah yang semula pemberontakan melawan rezim diktator dan bengis berubah menjadi konflik antara kekuatan. Konflik itu membuat Suriah terbagi menjadi empat wilayah yang dikontrol empat kekuatan, seperti yang dipantau Al-Jazeera pada Selasa (18/08):

Empat tahun lebih enam bulan konflik berdarah di Suriah berlalu. Revolusi warga yang menginginkan lengsernya rezim diktator lagi kejam kini berubah menjadi konflik antara kelompok. Konflik itu pun mengubah Suriah menjadi empat wilayah yang terlihat sama-sama kuat. Mereka adalah rezim Suriah, faksi-faksi Mujahidin Suriah, milisi Kurdi dan ISIS.

Pada tahun, milisi Kurdi nampaknya menjadi kekuatan di Suriah yang meraih kemajuan pesat di utara negara tersebut. Sebelumnya, mereka hanya bercokol di pinggiran timur laut Suriah dan beberapa titik lainnya. Kini, Kurdi diperkirakan hampir mengontrol mayoritas Suriah utara mulai dari provinsi Hasakah hingga Aleppo Timur, ditambah daerah Ifrin di timur laut Suriah.

Sementara faksi mujahidin Suriah mengontrol wilayah yang luas di timur kota Aleppo dan wilayah pedesaannya. Mujahidin masih berperang merebutkan wilayah dengan rezim di sejumlah daerah di dalam Aleppo, termasuk di kota Nubul dan Zahra yang dihuni mayoritas Syiah pro rezim Bashar Assad.

ISIS juga mengontrol sejumlah wilayah di pedesaan Aleppo. Mereka menduduki antara sekitar kota Marik dan ‘Azaz di dekat perbatasan Turki. Dan juga di kota Manbaj, Al-Bab dan Jarabis. Saat ini mereka masih terlibat pertempuran dengan faksi oposisi di sejumlah titik di wilayah itu.

Wilayah kontrol ISIS juga menyebar luas di wilayah gurun (lembah Syam) di pusat dan timur Suriah. Titik utama mereka berada di provinsi Raqqah dan Dier Zour. Sementara di kota Tadmir dan sekitarnya di pedesaan Homs Timur serta di sejumlah daerah di provinsi Hasakah, mereka masih memperebutkan wilayah dengan Kurdi.

Merah: Wilayah Rezim, Hijau: Wilayah Oposisi, Kuning: Wilayah Kurdi Titik Hitam: Wilayah ISIS

Di provinsi Idlib, nampaknya hampir seluruhnya provinsi itu dikontrol mujahidin Suriah. Hanya ada dua kota di kota itu yang belum dibebaskan, yaitu kota Kufreya dan Al-Fu’ah yang dihuni Syiah. Namun, kedua kota itu sepenuhnya di bawah kepungan mujahidin.

Sementara itu, wilayah rezim Suriah masih membentang di sebagian besar Suriah barat, mulai dari perbatasan dengan Turki di Utara hingga ke perbatasan Yordania di Selatan. Begitu juga, mayoritas provinsi Latakia yang dikenal basis pendukung Bashar Asad.

Rezim juga masih mengontrol mayoritas provinsi Hama, sebagian Homs barat, ibukota Damaskus dan pedesaannya, provinsi Suwaida dan sekitar sepertiga provinsi Daraa.

Akan tetapi, sebagian dari wilayah-wilayah yang dikontrol rezim itu sebagian di antaranya diduduki mujahidin. Kekuatan mujahidin masih berupaya memperluas wilayah, terlebih ke wilayah-wilayah strategis.

Harakah Ahrar Syam Al Islamiyah mengkoordinasikan gerakan-gerakan binaannya untuk berperang melawan Daulah Baghdadiyah ( ISIS ) di utara Aleppo dan berbagai tempat lainnya.

Sikap tegas ini cukup mengejutkan, mengingat sejak 2 atahun yang lalu, Ahrar Syam lebih banyak bersikap sabar dan memfokuskan kekuatan untuk melawan rezim Assad, jika dibandingkan dengan faksi lokal lainnya seperti Jaisy al Islam pimpinan syaikh Muhammad Alloush maupun Jaisyul Mujahidin yang sejak awal langsung memilih sikap tegas dalam menghadapi Daulah Baghdadiyah.



Landasan pengambilan sikap ini pun sangat kuat, selain ditopang dalil-dalil syar’i, Dalam video tersebut Ahrar Syam juga menjelaskan bahwa tidak ada sebutan yang pantas bagi mereka, selain bahwa mereka itu Khawarij sebagaimana yang disebutkan dalam nash-nash syar’i, yang menipu umat dengan kedok khilafahnya

Aksi protes Hizbut Tahrir wilayah suriah bersama warga di desa Atmeh, Idlib. Aksi protes ini terkait serangan udara koalisi pada selasa (11/8) yang menargetkan gudang senjata kelompok Jaish al Sunna. Tercatat tewasnya  10 anggota Jaisyul Sunna dan 8 warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak. 


Dalam aksi ini Hizbut Tahrir menegaskan bahwa semakin jelasnya koalisi Amerika bersama Turki memusuhi mujahidin dan umat islam secara umum.   

(sumber : Akun Jubir Hizbut Tahrir Wilayah Suriah)

Berikut ini video rilisan dari Jabhah Nusra terkait tanggapan warga sipil atas Pasukan Koalisi AS.



Opini yang berkembang di kalangan warga sipil, mereka mempertanyakan adanya pasukan koalisi AS yang justru membantu Rezim Suriah tetap bertahan. Dengan dalih memerangi ISIS serangan udara koalisi AS malah menghantam juga wilayah yang dikuasai mujahidin berbagai faksi islam. Berapa bulan lamanya mujahidin dari faksi islam menjadi target serangan. Korban berjatuhan termasuk warga sipil didalamnya.  

pesawat-koalisi-as

Serangan udara pengecut oleh pasukan koalisi pimpinan AS yang mengklaim menargetkan gudang senjata milik kelompok pejuang Suriah, ujar laporan kelompok pemantau pada Rabu (12/8/2015).

Serangan yang terjadi pada Selasa (11/8) malam menghantam wilayah Atmeh di provinsi Idlib, juga membunuh 10 anggota Jaisyul Sunna, ujar laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR). Atmeh adalah rumah bagi sebuah kamp besar pengungsi Suriah, namun serangan dikatakan tidak menghantam kamp tersebut, seperti dilansir Middle East Online.

Kepala SOHR, Rami Abdel Rahman mengatakan terdapat 18 orang yang tewas. Delapan di antaranya warga sipil termasuk lima anak dan dua perempuan.

idlib-korban-koalisi-as

“Serangan memukul gudang senjata Jaisyul Sunna yang juga digunakan untuk memproduksi roket. Ada ledakan besar setelah serangan.”

Jaisyul Sunna merupakan bagian dari aliansi Mujahidin Jaisyul Fath yang juga termasuk Jabhah Nushrah di dalamnya.

Aktivis Suriah, Ibrahim Al-Idlibi yang berasal dari provinsi ini mengatakan serangan di gudang senjata tersebut menyebabkan ledakan besar yang menewaskan semua orang di dalamnya.

“Kami terkejut bahwa ada warga sipil di dekatnya,” ujarnya, menambahkan bahwa penduduk setempat telah menghitung sedikitnya enam warga sipil tewas.

Idlibi mengatakan sebagian besar warga setempat mengarahkan kemarahannya kepada Ankara yang telah mulai membiarkan pesawat tempur AS melancarkan serangan udara dari pangkalan udaranya di Turki tengah.

Seorang pelaku bom bunuh diri, Rabu (12/08), menargetkan markas gerakan Ahrar Al-Syam di daerah Kansafra, pedesaan Idlib. Serangan itu terjadi di saat sejumlah komandan gerakan yang tergabung dalam koalisi Jaisyul Fath itu hendak menggelar pertemuan membahas operasi selanjutnya di Sahlu Al-Ghab.

Menurut portal berita ARA News, penyerang meledakkan bom rompi yang dipakainya setelah mobil yang dikendarainya gagal mendekati markas Ahrar Al-Syam. Dia keluar dari mobil dan meledakkan diri di kompleks markas.

Abu Hasan Tavtaz, salah satu pejuang Ahrar Al-Syam, menuturkan serangan itu terjadi setelah para pejuang melaksanakan shalat Dhuhur. Penyerang memanfaatkan kumpulan pejuang yang selesai dari masjid untuk meledakkan bom yang dibawanya.

Sementara itu, portal berita yang fokus melaporkan perkembangan revolusi Suriah, Eldorar, menyebutkan serangan itu terjadi ketika pejuang bersiap melaksanakan shalat Dhuhur berjamaah.

Menurut keterangan Abu Hasan, penyerang berteriak “kami telah datang kepada kalian wahai orang-orang murtad” sambil lari mendekat ke markas. Kemudian, dia meledakkan bom yang ada di badannya.

“Banyak korban berjatuhan, baik terbunuh maupun luka-luka,” ujarnya.

Abu Hasan menambahkan, pada hari itu dijadwalkan ada pertemuan antara komandan lapangan dan komandan senior Ahrar. Pertemuan itu membahas rencana serangan militer di front Sahlu Al-Ghab.

Sementara itu, masih terjadi simpang siur jumlah korban terbunuh akibat serangan itu. Beberapa media menyebutkan tiga pejuang dan lainnya menyebutkan enam pejuang. Namun, mereka menegaskan termasuk dari korban, komandan lapangan Ahrar Al-Syam untuk operasi di Sahlu Al-Ghab, Muhammad Hamid yang dikenal dengan Abu Ahmad.

Banyak pihak meyakini serangan ini dilakukan oleh anggota Daulah Islamiyah (ISIS). Pasalnya, serangan ini terjadi setelah ISIS mengutuk sikap Ahrar Al-Syam yang mendukung Turki membangun zona aman di Aleppo yang dianggap merugikan ISIS.

Ahrar Al-Syam dan faksi-faksi mujahidin lainnya yang tergabung dalam koalisi Jaisyul Fath tengah fokus menghadapi pertempuran di Shalu Al-Ghab, yang bersebelahan dengan provinsi Latakia. Mujahidin meraih banyak kemenangan dalam pertempuran itu. Bahkan, pertempuran itu berhasil menekan rezim untuk mengurangi serangan di wilayah lain.

Sumber: Ara News, eldorar

Sikap arogan kembali ditunjukkan kalangan keluarga Presiden Suriah, Bashar Assad. Tak terima mobilnya disalib, sepupu presiden diktator itu menembak mati seorang anggota militer berpangkat Kolonel.
lattakia-desa-assad

Seperti dilaporkan lembaga pengawas HAM Suriah, (07/08), insiden itu terjadi pada Kamis malam (06/08) di bunderan Al-Azhari di pusat kota Latakia, basis sekaligus kampung halaman Bashar Assad. Mobil yang dikendarai Sulaiman Assad, sepupu Bashar Assad, diserobot mobil yang dikemudikan oleh Kolonel Hassan Syaikh.

Hal itu membuat Sulaiman naik pitam. Dia mengejar mobil kolonel angkatan udara tersebut dan menghentikannya.

Sebelum kolonel itu turun, Sulaiman Assad menembakkan pistol yang ia bawa ke arah Kolonel Hassan. Tembakan beberapa kali itu pun membuat Kolonel Hassan tak bergerak lagi. Aksi itu dilakukan di hadapan anak-anaknya yang masih di dalam mobil.

Menurut pengawas HAM, insiden itu memicu ketegangan di kalangan pengikut sekte Alawi di kota Latakia dan sekitarnya. Mereka yang marah menggelar aksi protes di jalan-jalan Latakia.




Mereka mendesak Sulaiman Assad yang melarikan diri setelah mengeksekusi anggota militer itu segera ditangkap. Sementara sebagiannya lainnya menuntut sepupu Bashar Assad itu ditembak di tempat yang sama.

Sulaiman Assad adalah anak dari Hilal Assad, komandan milisi Pertahanan Nasional. Hilal Assad sendiri tewas pada Maret 2014 dalam pertempuran di Latakia.

Provinsi Latakia merupakan basis pengikut sekte Alawi, agama yang dianut Bashar Assad. Keluarga Bashar Assad tinggal di provinsi yang berada di pesisir tersebut. Saat ini mujahidin berupaya memindahkan pertempuran ke wilayah itu.

(Al-Jazeera)

Mujahidin Suriah yang tergabung dalam koalisi Jaisyul Fath, semakit dekat dengan pusat komando militer rezim dan milisi pendukung di pusat Suriah, seperti dilaporkan lembaga Pengawas HAM Suriah.


6/8/2015 - Mujahidin dari FSA berhasil tembak Tank Rezim di Sahl alGhab 

Direktur lembaga yang bermarkas di Inggris itu, Rami Abdurrahim, mengatakan kepada kantor berita AFP, faksi-faksi pejuang Suriah saat ini berada kurang dari dua kilometer dari pusat komando militer rezim dan milisi pendukungnya di kota Jurin.

Abdurrahim menunjukkan, pecahnya pertempuran sengit antara dua kekuatan tersebut di desa Bahsah, yang berjarak kurang dari dua kilometer dari desa Jurin. Berikut ini sebuah dokumentasi dari Jabhah Nushrah berhasil membebaskan desa Bahsah.



Desa Jurin terletak di atas bukit di provinsi Hama. Dari desa itu, militer rezim dan milisi pendukungnya mengatur pertempuran di wilayah Sahlu Al-Ghab dan sekitarnya.

Jurin dianggap sebagai front pertahanan rezim untuk melindungi provinsi Latakia. Jika desa itu jatuh, mujahidin dengan mudah menargetkan desa-desa Syiah di provinsi basis pendukung Bashar Assad itu.


Kemajuan itu diraih mujahidin setelah melancarkan serangan balasan terhadap militer dan milisi pendukungnya di wilayah tersebut. Mujahidin membalas serangan rezim setelah merebut sejumlah wilayah yang dibebaskan.

Al-Mughīrah Film: “Tale of the Knight That Did Not Dismount”
Film Al-Mughirah: Legenda Sang Kesatria Yang Tidak Pernah Hilang


Kisah seorang mujahid muda Harakah Ahrar Syam bernama Abu Al-Mughirah yang cacat permanen akibat terluka dalam sebuah pertempuran. Namun, kondisi fisiknya yang kini terbatas tidak menyurutkan langkahnya dari jihad fi sabilillah, ia terus melangkah maju menenteng senjatanya yang ia namakan “Ummu Mughirah”.

Beberapa hari terakhir sebuah video menyedihkan telah beredar secara viral di Internet dan media sosial. Dalam video yang berdurasi 3 menit tersebut, sorang tentara rezim Bashar Assad terekam sedang menyiksa sepasang suami istri yang lemah dan terikat tak berdaya. Tanpa perasaan dan dengan sangat pengecut ia terus mencambuk kedua suami istri ini. Momen yang paling manyakitkan adalah saat si tentara Assad terus mencambuk wanita muslimah yang lemah ini di hadapan suaminya yang tak berdaya dan tidak mampu menolongnya.



Berbagai reaksi bermunculan setelah video ini tersebar luas, mulai dari yang mengutuk hingga mencaci maki milisi syiah yang terekam dalam video tersebut. Namun mujahidin memiliki cara tersendiri untuk menyikapi aksi pengecut para banci syi’ah yang hanya berani menganiaya kaum yang lemah, namun sangat pengecut dalam perang nyata!

Syaikh Dr. Abdullah Al-Muhaisini melalui akun twitter resminya memberikan respon serius dan tidak main-main menanggapi aksi keji dalam video ini. Doktor peraih gelar Phd dalam Ilmu Syariat dengan predikat Summa Cum laude (Mumtaz) ini menjanjikan hadiah sebesar US$ 20.000 (Baca: dua puluh ribu dollar Amerika, atau sekitar 260 juta Rupiah) bagi siapa saja yang bisa menebas kepala si penyiksa suami istri dalam video viral tersebut.

basil-assad-kejam

Sumber media mengabarkan bahwa pria yang menjadi pelaku penyiksaan dalam video itu bernama “Basil Baridi” berasal dari desa Ayn Sahn, wilayah Safita. Sedangkan kedua pasangan suami istri renta yang mengalami penyiksaan berasal dari desa Al-Mataras di lembah Nashara, Homs Suriah.

Sepasang pengantin Turki yang menikah pekan lalu mengundang 4.000 pengungsi Suriah untuk merayakan acara pernikahan bersama mereka.

pesta_nikah_pengungsi_suriah
Fethullah Üzümcüoğlu dan Esra Polat mengikat janji di provinsi Kilis di perbatasan Suriah, yang saat ini menjadi tempat bagi ribuan pengungsi yang melarikan diri dari konflik di negara tetangga Turki itu.

Acara pernikahan tradisional ala Turki itu berlangsung dari hari Selasa hingga Kamis. Hatice Avci, juru bicara organisasi bantuan Kimse Yok Mu, mengatakan kepada i100.co.uk bahwa badan amal itu bertanggung jawab untuk memberi makan 4.000 pengungsi yang tinggal di dalam dan sekitar kota Kilis, namun pada Kamis lalu pengantin baru itu menyumbangkan tabungan keluarga mereka dan telah memilih untuk bersama-sama merayakan pesta pernikahan dengan berbagi bersama  para pengungsi yang tinggal di dekat tempat acara.

“Saya kira kami tidak perlu makan malam besar yang lezat bersama keluarga dan teman-teman, ada begitu banyak orang yang tinggal di sekitar kami yang membutuhkan.

Para tamu pada acara pernikahan itu saling membantu untuk mengoperasikan truk-truk penuh berisi makanan dan berbagi jamuan dengan keluarga pengungsi Suriah. (www.telegraph.co.uk)

Setelah munculnya surat kesepakatan para ulama Mujahid Suriah dari kalangan Muhajirin dan Anshar termasuk di dalamnya melibatkan Syaikh Al-Muhaisini, yang menyatakan perang terbuka terhadap Jamaah ISIS dan kesepakatan mereka untuk menyematkan julukan Khawarij kepada Jamaah ISIS yang mudah menumpahkan darah kaum Muslimin, para mujahidin di seluruh penjuru Suriah pun mengangkat senjata dan bahu membahu untuk menyelamatkan jihad Suriah.

Laporan demi laporan tentang pertempuran antara mujahidin dengan pasukan Khawarij pun bermunculan, sebagaimana yang tercantum dalam Surat Pernyataan Majelis Syura Mujahidin Jaisyul Fath yang merebut kembali bendungan Kaukab yang sebelumnya dikuasai oleh Daulah Baghdadiyah (ISIS).



Bismillahirrohmanirrohim
Rasulullah saw bersabda:
“Di mana pun kalian menemui mereka, maka bunuhlah”

Segala puji milik Allah penolong hamba-hambanya para Mujahidin, yang menghinakan musuh-musuhnya kaum mariqin. shalawat dan salam kepada nabi kita Muhammad Saw beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. amma ba’du;

Pada hari Jumat yang penuh berkah pada 15 Syawwal 1436 H bertepatan 31 Juli 2015, Allah ta’ala menganugerahkan kepada Mujahidin Jaisyul Fath wilayah selatan dengan peperangan yang diberkahi. Mujahidin berhasil merebut kembali Sad Kaukab/Bendungan kKaukab dari sekelompok Khawarij yang keji, sekaligus membunuh mereka dalam jumlah besar, menghancurkan dua tank, kendaraan BMP, dan senjata anti tank kaliber 14.5.

Mujahidin juga mendapatkan ghanimah dari berbagai macam senjata dan amunisi. Dengan sebuah amaliyah nau’iyah/istisyhadiyah, singa-singa Jaisyul Fath berhasil menerobos barisan Khawarij dan menghancurkan pos di pusat markas mereka di pedesaan Syajarah yang mengakibatkan banyaknya korban dari mereka yang binasa dan terluka. Operasi ini terus berjalan, dan kilang-kilang khawarij berjatuhan satu demi satu. dan dengan izin dari Allah ta’ala pertempuran ini akan terus berlanjut sampai tanduk Khawarij di wilayah selatan dipatahkan.

Dan akhir kemenangan bagi orang-orang yang bertakwa.

Walhamdulillahirabbil’alamin.

Kantor Militer Jaisyul Fath

16 Syawwal 1436 H
1 Agustus 2015

(4/8/2015) - Pertempuran masih berlanjut di Sahl alGhab sebelah barat laut pinggiran Hama. Wilayah yang dikuasai rezim dan hizbullah mendapatkan serangan internsif dari aliansi gabungan mujahidin. Beberapa faksi mujahidin yang ikut aktif dalam serangan ini adalah Liwa al-Haq, Jund al-Aqsa, Jabhah Nushra, Jaish as-Sunah, Anshar al-Dien, Partai Islam Turkestan, Anshar al-Sham, Ajnad al-Sham, Liwa al-Sham, Ahrar al-Sham, dan sejumlah faksi lokal di wilayah Furu, Sahl al-Ghab.



sahl_alghab-syria

Sedikitnya 27 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka ketika sebuah jet tempur milik rezim Nushairiyah Suriah terjatuh dan menghantam sebuah pasar yang sibuk di kota Ariha yang dikuasai oleh pejuang Suriah  pada Senin (3/8/2015), ujar warga setempat dan saksi mata.

Sebagian besar korban adalah warga sipil-termasuk anak-anak-yang tinggal di kota yang dikuasai oleh Mujahidin sejak Mei lalu, menurut laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), seperti dilansir Reuters.

jet-tempur-ariha-idlib-suriah

Sejumlah orang juga terluka dalam insiden tersebut. SOHR menyatakan 70 orang terluka dalam insiden. Tidak ada reaksi segera dari pihak militer rezim.

“Enam orang masih terjebak di reruntuhan dan kami tidak tahu apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal,” ujar Direktur SOHR, Rami Abdel Rahman.

Jet tempur rezim telah menjatuhkan bom di pusat kota di jalan utama di mana para pemilik toko membuka tokonya di pagi hari sebelum jet tersebut jatuh di tengah-tengah pasar, ujar dua orang saksi kepada Reuters.

“Pesawat itu menjatuhkan bom di jalan utama Bazaar di ketinggian rendah, hanya beberapa detik sebelum jatuh,” ujar Ghazal Abdullah, warga setempat.

SOHR mengatakan jet tersebut tidak ditembak jatuh. Komite Koordinator Lokal (LCC), kelompok aktivis Suriah, juga mengatakan tidak jelas apakah jet tersebut ditembak jatuh atau tidak.

Provinsi Idlib sebagian besar telah dikuasai oleh aliansi Mujahidin termasuk Jabhah Nushrah yang merebut Ariha pada 28 Mei 2015 yang lalu.

Mujahidin Suriah melanjutkan gempuran terhadap kota Qardahah di pedesaan Latakia. Kota yang dihuni pengikut sekte Alawi pendukung Bashar Assad itu dihujani dengan mortir dan rudal Grad.

Koalisi mujahidin Jaisyul Fath dan brigade Liwa An-Nashr saling bahu menargetkan kota tersebut. Operasi itu dilancarkan pada Sabtu (01/08), seperti dilaporkan Al-Jazeera, Ahad (02/08).


Rezim Suriah telah menutup pasar dan pintu masuk ke kota tersebut sejak menjadi target mujahidin. Sementara milisi Komite Pertahanan Nasional dan Shabihah melarang warga masuk dan keluar dari kota tersebut.

Melalui situs jejaring sosial, para pendukung rezim Suriah di Latakia mengonfirmasi sedikitnya 14 mortir jatuh di kota Qardahah pada Sabtu itu. Serangan itu juga mengenai desa-desa sekitarnya dan menimbulkan kerusakan bangunan. Tidak disebutkan adanya korban.

Dokumentasi Para Pendukung Bashar Assad di Qardahah, Lattakia

Sementara itu komandan Liwa An-Nashr, Uqail Jum’ah menegaskan pejuangnya menembakkan 15 mortir ke kota Qardahah pada Sabtu malam. Serangan itu sebagai balasana atas pembantaian rezim di kota Zabadani, pedesaan Damaskus.

Dia mengaku pasukannya memiliki bank informasi mengenai posisi milisi Shabihah pro rezim di kota tersebut. Sehingga, mortir dan roket yang ditembakkan tepat mengenai sasaran. Hal itu menimbulkan ketakutan di barisan mereka.

Jum’ah memastikan jatuh banyak korban tewas akibat gempuran itu. Buktinya, tambah Jum’ah, rezim menutup kota tersebut untuk menghindari korban lebih banyak.

Mujahidin yang saat ini mendekati wilayah sumber milisi pendukung Bashar Assad beberapa hari terakhir gencar menargetkan desa-desa Syiah di wilayah tersebut. Serangan itu sebagai balasan operasi militer rezim di kota Zabadani, pedesaan Damaskus.

Setahun pasca deklarasi khilafah, ulama mujahid asal Yordania, Syaikh Abu Qatadah Al-Falistini melayangkan surat terbuka kepada Syaikh Al-Baghdadi sebagai khalifahnya. Abu Qatadah mengajak Al-Baghdadi untuk mengevaluasi dan merenungkan hasil dari deklarasi khilafah itu, yang diumumkan awal Ramadhan tahun lalu.

Masalah pertama yang perlu direnungkan kembali adalah pengafiran terhadap kaum muslimin yang dasarnya tidak kuat. “Kalau engkau mau merenungkan niscaya engkau menyadari agamaku (Al-Baghdadi) adalah agama kaum muslimin yang tidak mengafirkan manusia berdasarkan prasangka, syubhat, dan pembelaan pribadi.” Yang itu kemudian berlanjut dalam penghalalan darah kaum muslimin. “Inilah pokok perbedaan saya denganmu,” kata Al-Falistini.

Selain masalah takfir, Abu Qatadah juga mempertanyakan masalah deklarasi khilafah. Klaim Al-Baghdadi sebagai khalifah untuk seluruh kaum muslimin dan memosisikan kelompoknya sebagai jamaah kaum muslimin perlu dikaji ulang. Sebab itu dilanjutkan dengan pembatalan seluruh perkumpulan dan organisasi jihad di jalan Allah bila enggan taat dan bergabung ke dalam khilafahnya. Itu tidak tepat karena kelompok-kelompok jihad itu tidak diajak musyawarah dan Al-Baghdadi tidak mampu memberikan hak kaum muslimin.

Setelah setahun deklarasi khilafah itu, Abu Qatadah mengajak Al-Baghdadi untuk bersimpuh sejenak di hadapan Allah Ta’ala untuk mengevaluasi apa yang telah terjadi setelah deklarasi itu; baik atau buruk.

Salah satu poin yang perlu direnungkan, apakah khilafah yang dibangga-banggakan itu menjadi rahmat bagi kaum muslimin atau justru menjadi keburukan dan musibah bagi Islam dan kaum muslimin, lebih khusus lagi bagi mujahidin.

Abu Qatadah tidak menampik bahwa Al-Baghdadi telah berjihad memerangi orang-orang zindiq dan murtad di Irak. Pertanyaan Abu Qatadah, “Apakah jihad itu dimulai sejak engkau mendeklarasikan khilafah itu atau itu merupakan warisan dari kelompok-kelompok (jihad) yang membawa rahmat dan berkah bagi manusia?”

Al-Baghdadi hanya menjadi salah satu di antara sekian orang yang berperan dalam jihad itu, bukan pemrakarsanya, juga bukan khilafah yang dideklarasikannya. Dengan deklarasi khilafah itu, Al-Baghdadi dinilai telah memecah belah para mujahidin yang dahulu berada dalam satu kata. Al-Baghdadi telah membuat keburukan di antara mereka yang tidak ada yang gembira oleh peristiwa itu kecuali setan dan para loyalisnya.

Khilafah Al-Baghdadi, tidaklah menambah tokoh yang menguatkan kaum muslimin. Dan tidak pula menambah wilayah baru karena para komandan khilafah hanyalah membebaskan wilayah yang telah dikuasai oleh kelompok mujahidin lain.

Abu Qatadah juga meminta Al-Baghdadi tidak gembira dengan pernyataan baiat satu dua orang dari sana-sini karena itu tidaklah menambah amunisi baru bagi jihad, tetapi justru melemahkan. Bahkan musibah, sebab faktanya menjadi penyebab perang internal antara mujahidin.

Wilayah baru yang diklaim, baik di Dua Tanah Suci, Yaman, Libya maupun Khurasan, perlu diteliti kembali, apakah itu bisa disebut sebagai wilayah, menurut bahasa, syariat dan akal. Dalam pandangan Abu Qatadah, itu bukanlah wilayah, melainkan sel bawah tanah, yang kesibukan utamanya adalah membunuhi mujahidin dan membuat makar untuk menghancurkan mereka.

“Sudah setahun berlalu, wahai Al-Baghdadi, orang yang berakal akan mengintrospeksi diri dan mengevaluasi pekerjaannya,” kata Al-Falistini di bagian akhir surat terbukanya, “Ada ungkapan: Dari buah yang mereka hasilkan, kalian akan mengenal siapa mereka.”

Sumber: http://justpaste.it/mo36

Ucapan bela sungkawa atas gugurnya pemimpin Taliban Mullah Umar terus mengalir. Salah satunya dari kelompok mujahidin terbesar di Suriah, Ahrar Sham.

Ahrar Sham adalah salah satu kelompok mujahidin yang tergabung dalam koalisi Jaisyul Fath bersama Jabhah Nusrah, dan telah menguasai seluruh provinsi Idlib.


Allah berfirman:

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (Q.S. Al-Ahzab: 23)

Dengan hati yang penuh dengan keridhaan dengan keputusan dan takdir Allah dan dengan hati penuh dengan harapan untuk melihat fajar kemenangan yang semakin dekat, kami mengirimkan ucapan belasungkawa kami kepada masyarakat Afghanistan atas wafatnya pemimpin Imarah Islam Afghanistan Mullah Muhammad Omar ‘Mujahid’-semoga Allah merahmatinya dan menerima beliau di syurganya yang tinggi.

Wafatnya Mullah Omar meninggalkan bagi kami sebuah contoh seorang Mukmin yang memiliki kepercayaan (bertawakkal) kepada Allah SWT. Dia meninggalkan dunia ini setelah mengingatkan kita arti sebenarnya dari Jihad dan Ikhlas dan dia meninggalkan kami setelah mengajarkan bagaimana membangun Imarah di hati orang-orang sebelum menerapkannya di lapangan. Dia meninggalkan dunia ini setelah Taliban siap untuk kembali menegakkannya (Imarah) dan itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangsanya, dan menjadi nadi yang berdenyut bagi bangsa yang besar ini. Telah meninggalkan kita orang yang zuhud dalam pemerintahannya semata-mata mencari keridhaan Allah. Pria sejati umat ini telah meninggalkan kami.

Komandan (Mullah Umar) dan gerakannya yang diberkati telah menunjukkan keputusan yang bijaksana dalam usaha mereka membela Islam beberapa yang harus diperhatikan adalah:

-Ketabahan dalam memegang teguh prinsip-prinsip dasar. Imarah Islam berdiri teguh selama 14 tahun tidak terguncang oleh badai atau topan. Tentara penjajah dan tentara pengkhianat tidak menakut-nakuti mereka. Juga tidak mengejar posisi atau istirahat dari Jihad.

-Berkolaborasi Dengan masyarakat Afghanistan dan Umat Islam dan menjadi perwujudan dari keinginan dan tuntutan mereka.

-Melanjutkan kemenangan militer bersama dengan upaya politik, memfokuskan pandangan mereka pada prinsip-prinsip murni Syariah (hukum) dan penderitaan bangsa mereka, mencoba yang terbaik untuk menghindari perpecahan untuk mencapai tujuan yang jelas. Panutan mereka dalam melakukannya adalah yang Terpilih (Nabi Muhammad SAW).

-Dan yang terpenting, bersatunya mereka untuk melawan dua tipe ekstremisme, ifrath (berlebih-lebihan/ghuluw) dan tafrith (mempermudah) pada waktu yang sama. Reaksi dari gerakan ini tidak berlebihan, karena mendiamkannya akan menyebabkan penyimpangan dari Manhaj dan suluk yang benar.

Kami juga memohon kepada Allah SWT untuk memberikan kemampuan kepada saudara kami Mujahid Mullah Akhtar Mansoor untuk mengikuti jejak pendahulunya, yaitu mengembalikan Afghanistan kepada kejayaannya sepenuhnya dan untuk mengamankan masa depan yang mulia dan merdeka bagi  rakyat Afghanistan di bawah Syariah (hukum) Allah.

Harakah Ahrarus Syam  Al-Islamiyyah – Divisi Politik

15 Syawal 1436

1 Agustus 2015

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget