Halloween Costume ideas 2015
[ads-post]

Tanggapan AlMaqdisi atas Pidato Jubir ISIS

Juru bicara Daulah Islamiyah, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani, Selasa kemarin (23/06) muncul dengan rekaman audio pidato terbaru.  Dalam pidato yang berjudul “Wahai kaum kami! Terimalah seruan orang (Muhammad) yang menyeru kepada Allah (Al-Ahqaf: 31)” itu, Al-Adnani menyeru kepada para penduduk dan suku-suku di Irak agar bergabung dengan Daulah.

Berbagai penilaian pun bermunculan, di antaranya dari Syaikh Ibrahim Sakran yang merupakan murid Syaikh Sulaiman Al-Ulwan. Kemudian, kali ini mendapat tanggapan dari Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi yang aktif memberikan masukan kepada pihak Daulah dan mujahidin pada umumnya.

Tanggapan Syaikh Al-Maqdisi tersebut kami sertakan dalam terjemahan utuh dari link justpaste.it yang dapat Anda baca lengkap di bawah ini. Selamat membaca!

 Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasululullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dalam rilisnya yang terakhir  “Ya Qaumana Ajiibu Da’iyallah,” Al-Adnani mengklaim bahwa, “Tidak ada sejengkal tanah pun di muka bumi ini yang menerapkan syariat Allah selain wilayah Daulah Islamiyah.”

Pernyataan yang menjadi pijakan awal seperti ini jelas tidak benar, karena pasti akan melahirkan kesimpulan-kesimpulan sesat lainnya. Mengapa pijakan awal ini disebut tidak benar?

Karena banyak juga ikhwan kita di Taliban yang menegakkan syariat Islam sesuai dengan kemampuan mereka, demikian juga dengan para mujahidin lainnya. Kami melihat kelompok seperti Jabhah Nushrah juga telah menegakkan syariat Islam sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki dan tidak menyelewengkannya seperti yang dilakukan kelompok ekstrem (ghuluw).

Karena kelompok ekstrem (ghuluw) mengafirkan setiap orang yang berbeda pandangan dengan mereka dan menghalalkan darahnya. Lantas apakah ini yang disebut hukum Allah? Apakah ini yang dimaksud  dengan penegakkan syariat? Apakah mengafirkan kaum muslimin yang tidak bersalah dan menghalalkan darahnya termasuk hukum Allah atau hukum thaghut?

Demi Allah, siapa pun yang menyatakan bahwa ini bagian dari hukum Allah, maka sungguh dia telah berdusta atas nama Allah serta menyelewengkan syariat-Nya.

Dalam perkataannya yang lain, Al-Adnani juga mengawali dengan pijakan serupa dan dapat menghasilkan kesimpulan sesat lainya. Ia berkata, “Ingat! Jika ada yang mampu menguasai kembali sejengkal atau satu kampung, atau bahkan satu kota dari kekuasaan Daulah, maka ia pasti akan menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia.”

Kesimpulan ini  berlaku bagi semua, bahkan Jabhah Nushrah sekalipun, atau kelompok-kelompok mujahidin semisal yang telah menyatakan dengan jelas bahwa tujuan perjuangan mereka adalah untuk menegakkan Daulah Islamiyah.

Sikap mengeneralisir semacam ini lahir karena sifat ekstrem (ghuluw) dan masih meragukan keislaman orang yang tidak mau berbaiat kepada Daulah. Apakah ini bukan bentuk vonis kafir terhadap orang  yang menyelisihi Daulah atau memerangi mereka?

Apalagi mereka juga memandang bahwa tidak ada satu pun yang menginginkan tegaknya syariat di muka bumi ini selain mereka. Merekalah satu-satunya yang menegakkan Daulah Islamiyah dan Khilafah, sementara yang lain menegakkan hukum thaghut.

Kesimpulan ini jelas berasal dari klaim dan pernyataan—Al-Adnani—yang memukul rata semuanya, yaitu;

إن استطعت أن تأخذ منها شبراً أو قرية أو مدينة سيستبدل فيها حكم الله بحكم البشر

“Jika Anda mampu menguasai sejengkal saja atau satu kampung, atau bahkan satu kota dari kekuasaan Daulah maka dia pasti akan menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia.”

Perkataan ini jelas menimbulkan konsekuensi vonis kafir terhadap siapa saja yang menyerang mereka, meskipun melakukan perlawanan demi membela diri. Mereka ingin menyerang para mujahidin dan menguasai daerah yang dikuasai mujahidin. Lalu, siapa pun yang menjadi tawanan, akan mereka sembelih. Kemudian, ketika para mujahidin berperang membela diri dari serangan mereka, langsung mereka vonis kafir. Yang demikian ini tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

Juru bicara ini berkata, “Kemudian saya ingin bertanya kepada dirimu, apa hukumnya orang yang menggantikan atau membantu pihak lain untuk mengganti hukum Allah dengan hukum manusia…? Ya, tentu kamu itu kafir karena perbuatan tersebut.”

Tidak diragukan, pernyataan tersebut dia ucapkan agar mudah dipahami oleh para  pengikutnya, karena dia tahu bahwa mereka rata-rata bodoh dan hanya bisa dijelaskan melalui pernyataan atau klaim seperti ini. Pernyataan tersebut mampu mempengaruhi pikiran pengikutnya bahwa siapa pun yang memerangi Daulah—dengan cara apa pun—maka sama saja hendak menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia!!

Renungkanlah perkataan tersebut!

Memukul rata semacam ini jelas ingin mengafirkan siapa pun yang memerangi Daulah dengan cara apa pun. Sekalipun, perlawanan tersebut dalam rangka membela diri, keluarga atau menolak sikap ekstrem dan serangan mereka, atau siapa pun yang berusaha menegakkan syariat sunni (Islam) yang berbeda dengan hukum yang mereka tegakkan. Mereka semua (statusnya) sama, yaitu berupaya untuk menggantikan hukum Allah dengan hukum  manusia!

Menggeneralisir seperti ini sama saja mereka menganggap bahwa Jabhah Nushrah dan kelompok-kelompok mujahidin yang jelas ingin memperjuangkan hukum Allah, berada satu misi dengan tindakan Nushairiyah, Rafidhah, Syabihah, Amerika dan Koalisi. Dan, sama juga dengan misi kelompok PKK dan kelompok-kelompok sekuler lainnya.

Kezaliman macam apa ini, serta sikap ekstrem bagaimana lagi ini? Kalau hal ini bukan cara kelompok Khawarij dan kelancangan dalam mengafirkan kaum muslimin, terus cara siapa ini?

Kemudian, para pengikutnya senang atas statemennya, sehingga mereka terus tertipu dengan ucapan dan kedustaannya, terlebih setelah dia membuat pijakan dasar yang melahirkan kesimpulan yang berbahaya lainnya, yaitu pernyataannya;

فاحذر … فإنك بقتال الدولة الاسلامية تقع بالكفر من حيث تدري أو لا تدري

 “Waspadalah!…dengan memerangi Daulah Islamiyah maka kamu telah kafir, baik sadar maupun tidak.”

Perhatikanlah cara dia memukul rata dalam masalah ini serta menghilangkan setiap ikatan yang ada. Dia memberi legitimasi kepada para pengikutnya yang ekstrem untuk membunuh siapa saja yang menyelisihi atau memerangi mereka. Kemudian, mereka pun marah ketika ada yang menyifati mereka dengan ekstremis atau bermanhaj Khawarij!

Jika vonis pukul rata seperti ini bukan akidah Khawarij, terus seperti apa kelompok Khawarij itu? Jika sikap seperi ini tidak boleh disebut ghuluw, terus gimana lagi yang disebut ghuluw itu, seperti apa  warna dan rasanya?

Para pengikut Daulah telah melakukan pembunuhan terhadap siapa pun yang menyeselihi mereka sebelum keluar fatwa ini, dan jauh sebelum ada vonis umum seperti ini. Lantas apa yang ada dalam benak Anda jika mereka saja telah mengumumkan sikap ghuluw-nya seperti ini. Sungguh, pintu hukum telah terbuka bagi  para pengikut Daulah untuk membunuh setiap orang yang menyelisihi Daulah karena telah murtad.

Tidak ada bentuk perang lain yang mereka pilih dari sekian bentuk perang yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin—sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan pernyataan Nabi dalam haditsnya. Semua itu dia ingkari. Kemudian mengajak para pengikutnya untuk membunuh siapa saja yang menyelisihi mereka karena telah murtad, walaupun yang dibunuh tersebut melakukan perlawanan karena ingin membela diri.

Seolah-olah yang mereka inginkan dari klaim sesat ini adalah siapa pun yang diserang oleh tentara Daulah, hendaknya mereka mempersilahkannya dan menyerahkan dirinya untuk disembelih, tidak boleh membela diri karena kalau tidak demikian bisa murtad.

Teror pemikiran takfir seperti ini tidak ada yang bisa menerimanya kecuali orang bodoh dan lalai yang mengikuti arahannya seperti orang buta. Sedangkan mereka yang memiliki akal sehat dan memahami agama ini dengan benar, yaitu sesuai dengan penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak mungkin menerima vonis yang merata seperti ini.

Oleh karena itu saya mengira bahwa kerancuan mereka ini mulai tampak di mata semua orang. Fitnah mereka yang selama ini dijelaskan oleh para ulama dan telah menciptakan syubhat bagi orang-orang yang bodoh, semakin hari kian terungkap. Dan telah tiba saatnya bagi mereka yang memiliki akal untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh Abu Walid Al-Maqdisi dan orang-orang yang  semisal dengannya.

(Abu Walid Al-Maqdisi adalah qadhi Jamaah Daulah yang terbunuh di Qalamun bersama istrinya di tangan orang-orang Daulah sendiri karena mengungkap penyimpangan mereka—Red)

Terutama pemikiran takfir yang menghalalkan darah kaum muslimin yang berbeda pendapat dengan mereka. Hal tersebut menjadi titik tekan kritik saya kepada juru bicara ini. Pernyataannya yang sebelumnya, justru ia ingkari sendiri. Bahkan, perkataannya ketika bermubahalah dengan Syaikh Abu Abdillah Asy-Syami, sebagaimana dalam pernyataan resminya yang berjudul “Mari kita Bermubahalah dan Menjadikan laknat Allah Atas Orang yang Berdusta” ia berkata,

“Wahai kaum muslimin, ucapkanlah amin dan jadikanlah laknat Allah itu atas orang yang berdusta.”

“Ya Allah, sesungguhnya Abu Abdullah As-Syami telah mengklaim bahwa kami: … dan seterusnya.

“Bahwa Daulah berpendapat semua orang yang memeranginya berarti telah memerangi Islam, sehingga ia pun keluar dari millah Islam.”

“Ya Allah, saya bersaksi kepadamu bahwa apa yang disebutkan oleh Abdullah Asy-Syami adalah dusta dan reka-reka untuk menjelek-jelekkan Daulah. Dan bahwa itu bukanlah manhaj Daulah. Daulah tidak berakidah seperti itu, dan tidak melakukannya. Sebaliknya, Daulah mengingkari orang yang melakukannya. Ya Allah, siapa di antara kami yang dusta, maka turunkanlah laknatmu kepadanya dan tunjukkanlah tandanya sebagai pelajaran.”

Maka perhatikanlah pendusta ini yang telah mengingkari pernyataannya sendiri sebelumnya, dia jelaskan serta umumkan dalam bentuk mubahalah terhadap sesuatu yang dia ingkari sebelumnya. Yaitu tuduhan bahwa Daulah mengafirkan setiap orang yang menyelisihi dan menyerang mereka. Maka, sesungguhnya dia melaknat terhadap dirinya sendiri.

Jika para pengikutnya lupa atau lalai memperhatikan perkara ini, maka orang lain tidak lupa terhadap pernyataan itu.

Wahai para muqallid, sadarlah dari kelalaianmu dan janganlah kalian mengikuti pembohong yang satu ini, yang berani menantang Allah dan menghalalkan darah kaum muslimin, serta berani bermubahalah terhadap siapa saja yang mengingkarinya.

Firman Allah adalah Haq dan Dialah Maha Pemberi Hidayah

Abu Muhammad Al-Maqdisi

Ramadhan 1346 H

Penerjemah: Fahruddin

Editor: Rudi
Labels:
materi islam

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget