Halloween Costume ideas 2015
June 2015

Juru bicara Daulah Islamiyah, Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani, Selasa kemarin (23/06) muncul dengan rekaman audio pidato terbaru.  Dalam pidato yang berjudul “Wahai kaum kami! Terimalah seruan orang (Muhammad) yang menyeru kepada Allah (Al-Ahqaf: 31)” itu, Al-Adnani menyeru kepada para penduduk dan suku-suku di Irak agar bergabung dengan Daulah.

Berbagai penilaian pun bermunculan, di antaranya dari Syaikh Ibrahim Sakran yang merupakan murid Syaikh Sulaiman Al-Ulwan. Kemudian, kali ini mendapat tanggapan dari Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi yang aktif memberikan masukan kepada pihak Daulah dan mujahidin pada umumnya.

Tanggapan Syaikh Al-Maqdisi tersebut kami sertakan dalam terjemahan utuh dari link justpaste.it yang dapat Anda baca lengkap di bawah ini. Selamat membaca!

 Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasululullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dalam rilisnya yang terakhir  “Ya Qaumana Ajiibu Da’iyallah,” Al-Adnani mengklaim bahwa, “Tidak ada sejengkal tanah pun di muka bumi ini yang menerapkan syariat Allah selain wilayah Daulah Islamiyah.”

Pernyataan yang menjadi pijakan awal seperti ini jelas tidak benar, karena pasti akan melahirkan kesimpulan-kesimpulan sesat lainnya. Mengapa pijakan awal ini disebut tidak benar?

Karena banyak juga ikhwan kita di Taliban yang menegakkan syariat Islam sesuai dengan kemampuan mereka, demikian juga dengan para mujahidin lainnya. Kami melihat kelompok seperti Jabhah Nushrah juga telah menegakkan syariat Islam sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki dan tidak menyelewengkannya seperti yang dilakukan kelompok ekstrem (ghuluw).

Karena kelompok ekstrem (ghuluw) mengafirkan setiap orang yang berbeda pandangan dengan mereka dan menghalalkan darahnya. Lantas apakah ini yang disebut hukum Allah? Apakah ini yang dimaksud  dengan penegakkan syariat? Apakah mengafirkan kaum muslimin yang tidak bersalah dan menghalalkan darahnya termasuk hukum Allah atau hukum thaghut?

Demi Allah, siapa pun yang menyatakan bahwa ini bagian dari hukum Allah, maka sungguh dia telah berdusta atas nama Allah serta menyelewengkan syariat-Nya.

Dalam perkataannya yang lain, Al-Adnani juga mengawali dengan pijakan serupa dan dapat menghasilkan kesimpulan sesat lainya. Ia berkata, “Ingat! Jika ada yang mampu menguasai kembali sejengkal atau satu kampung, atau bahkan satu kota dari kekuasaan Daulah, maka ia pasti akan menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia.”

Kesimpulan ini  berlaku bagi semua, bahkan Jabhah Nushrah sekalipun, atau kelompok-kelompok mujahidin semisal yang telah menyatakan dengan jelas bahwa tujuan perjuangan mereka adalah untuk menegakkan Daulah Islamiyah.

Sikap mengeneralisir semacam ini lahir karena sifat ekstrem (ghuluw) dan masih meragukan keislaman orang yang tidak mau berbaiat kepada Daulah. Apakah ini bukan bentuk vonis kafir terhadap orang  yang menyelisihi Daulah atau memerangi mereka?

Apalagi mereka juga memandang bahwa tidak ada satu pun yang menginginkan tegaknya syariat di muka bumi ini selain mereka. Merekalah satu-satunya yang menegakkan Daulah Islamiyah dan Khilafah, sementara yang lain menegakkan hukum thaghut.

Kesimpulan ini jelas berasal dari klaim dan pernyataan—Al-Adnani—yang memukul rata semuanya, yaitu;

إن استطعت أن تأخذ منها شبراً أو قرية أو مدينة سيستبدل فيها حكم الله بحكم البشر

“Jika Anda mampu menguasai sejengkal saja atau satu kampung, atau bahkan satu kota dari kekuasaan Daulah maka dia pasti akan menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia.”

Perkataan ini jelas menimbulkan konsekuensi vonis kafir terhadap siapa saja yang menyerang mereka, meskipun melakukan perlawanan demi membela diri. Mereka ingin menyerang para mujahidin dan menguasai daerah yang dikuasai mujahidin. Lalu, siapa pun yang menjadi tawanan, akan mereka sembelih. Kemudian, ketika para mujahidin berperang membela diri dari serangan mereka, langsung mereka vonis kafir. Yang demikian ini tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

Juru bicara ini berkata, “Kemudian saya ingin bertanya kepada dirimu, apa hukumnya orang yang menggantikan atau membantu pihak lain untuk mengganti hukum Allah dengan hukum manusia…? Ya, tentu kamu itu kafir karena perbuatan tersebut.”

Tidak diragukan, pernyataan tersebut dia ucapkan agar mudah dipahami oleh para  pengikutnya, karena dia tahu bahwa mereka rata-rata bodoh dan hanya bisa dijelaskan melalui pernyataan atau klaim seperti ini. Pernyataan tersebut mampu mempengaruhi pikiran pengikutnya bahwa siapa pun yang memerangi Daulah—dengan cara apa pun—maka sama saja hendak menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia!!

Renungkanlah perkataan tersebut!

Memukul rata semacam ini jelas ingin mengafirkan siapa pun yang memerangi Daulah dengan cara apa pun. Sekalipun, perlawanan tersebut dalam rangka membela diri, keluarga atau menolak sikap ekstrem dan serangan mereka, atau siapa pun yang berusaha menegakkan syariat sunni (Islam) yang berbeda dengan hukum yang mereka tegakkan. Mereka semua (statusnya) sama, yaitu berupaya untuk menggantikan hukum Allah dengan hukum  manusia!

Menggeneralisir seperti ini sama saja mereka menganggap bahwa Jabhah Nushrah dan kelompok-kelompok mujahidin yang jelas ingin memperjuangkan hukum Allah, berada satu misi dengan tindakan Nushairiyah, Rafidhah, Syabihah, Amerika dan Koalisi. Dan, sama juga dengan misi kelompok PKK dan kelompok-kelompok sekuler lainnya.

Kezaliman macam apa ini, serta sikap ekstrem bagaimana lagi ini? Kalau hal ini bukan cara kelompok Khawarij dan kelancangan dalam mengafirkan kaum muslimin, terus cara siapa ini?

Kemudian, para pengikutnya senang atas statemennya, sehingga mereka terus tertipu dengan ucapan dan kedustaannya, terlebih setelah dia membuat pijakan dasar yang melahirkan kesimpulan yang berbahaya lainnya, yaitu pernyataannya;

فاحذر … فإنك بقتال الدولة الاسلامية تقع بالكفر من حيث تدري أو لا تدري

 “Waspadalah!…dengan memerangi Daulah Islamiyah maka kamu telah kafir, baik sadar maupun tidak.”

Perhatikanlah cara dia memukul rata dalam masalah ini serta menghilangkan setiap ikatan yang ada. Dia memberi legitimasi kepada para pengikutnya yang ekstrem untuk membunuh siapa saja yang menyelisihi atau memerangi mereka. Kemudian, mereka pun marah ketika ada yang menyifati mereka dengan ekstremis atau bermanhaj Khawarij!

Jika vonis pukul rata seperti ini bukan akidah Khawarij, terus seperti apa kelompok Khawarij itu? Jika sikap seperi ini tidak boleh disebut ghuluw, terus gimana lagi yang disebut ghuluw itu, seperti apa  warna dan rasanya?

Para pengikut Daulah telah melakukan pembunuhan terhadap siapa pun yang menyeselihi mereka sebelum keluar fatwa ini, dan jauh sebelum ada vonis umum seperti ini. Lantas apa yang ada dalam benak Anda jika mereka saja telah mengumumkan sikap ghuluw-nya seperti ini. Sungguh, pintu hukum telah terbuka bagi  para pengikut Daulah untuk membunuh setiap orang yang menyelisihi Daulah karena telah murtad.

Tidak ada bentuk perang lain yang mereka pilih dari sekian bentuk perang yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin—sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan pernyataan Nabi dalam haditsnya. Semua itu dia ingkari. Kemudian mengajak para pengikutnya untuk membunuh siapa saja yang menyelisihi mereka karena telah murtad, walaupun yang dibunuh tersebut melakukan perlawanan karena ingin membela diri.

Seolah-olah yang mereka inginkan dari klaim sesat ini adalah siapa pun yang diserang oleh tentara Daulah, hendaknya mereka mempersilahkannya dan menyerahkan dirinya untuk disembelih, tidak boleh membela diri karena kalau tidak demikian bisa murtad.

Teror pemikiran takfir seperti ini tidak ada yang bisa menerimanya kecuali orang bodoh dan lalai yang mengikuti arahannya seperti orang buta. Sedangkan mereka yang memiliki akal sehat dan memahami agama ini dengan benar, yaitu sesuai dengan penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak mungkin menerima vonis yang merata seperti ini.

Oleh karena itu saya mengira bahwa kerancuan mereka ini mulai tampak di mata semua orang. Fitnah mereka yang selama ini dijelaskan oleh para ulama dan telah menciptakan syubhat bagi orang-orang yang bodoh, semakin hari kian terungkap. Dan telah tiba saatnya bagi mereka yang memiliki akal untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh Abu Walid Al-Maqdisi dan orang-orang yang  semisal dengannya.

(Abu Walid Al-Maqdisi adalah qadhi Jamaah Daulah yang terbunuh di Qalamun bersama istrinya di tangan orang-orang Daulah sendiri karena mengungkap penyimpangan mereka—Red)

Terutama pemikiran takfir yang menghalalkan darah kaum muslimin yang berbeda pendapat dengan mereka. Hal tersebut menjadi titik tekan kritik saya kepada juru bicara ini. Pernyataannya yang sebelumnya, justru ia ingkari sendiri. Bahkan, perkataannya ketika bermubahalah dengan Syaikh Abu Abdillah Asy-Syami, sebagaimana dalam pernyataan resminya yang berjudul “Mari kita Bermubahalah dan Menjadikan laknat Allah Atas Orang yang Berdusta” ia berkata,

“Wahai kaum muslimin, ucapkanlah amin dan jadikanlah laknat Allah itu atas orang yang berdusta.”

“Ya Allah, sesungguhnya Abu Abdullah As-Syami telah mengklaim bahwa kami: … dan seterusnya.

“Bahwa Daulah berpendapat semua orang yang memeranginya berarti telah memerangi Islam, sehingga ia pun keluar dari millah Islam.”

“Ya Allah, saya bersaksi kepadamu bahwa apa yang disebutkan oleh Abdullah Asy-Syami adalah dusta dan reka-reka untuk menjelek-jelekkan Daulah. Dan bahwa itu bukanlah manhaj Daulah. Daulah tidak berakidah seperti itu, dan tidak melakukannya. Sebaliknya, Daulah mengingkari orang yang melakukannya. Ya Allah, siapa di antara kami yang dusta, maka turunkanlah laknatmu kepadanya dan tunjukkanlah tandanya sebagai pelajaran.”

Maka perhatikanlah pendusta ini yang telah mengingkari pernyataannya sendiri sebelumnya, dia jelaskan serta umumkan dalam bentuk mubahalah terhadap sesuatu yang dia ingkari sebelumnya. Yaitu tuduhan bahwa Daulah mengafirkan setiap orang yang menyelisihi dan menyerang mereka. Maka, sesungguhnya dia melaknat terhadap dirinya sendiri.

Jika para pengikutnya lupa atau lalai memperhatikan perkara ini, maka orang lain tidak lupa terhadap pernyataan itu.

Wahai para muqallid, sadarlah dari kelalaianmu dan janganlah kalian mengikuti pembohong yang satu ini, yang berani menantang Allah dan menghalalkan darah kaum muslimin, serta berani bermubahalah terhadap siapa saja yang mengingkarinya.

Firman Allah adalah Haq dan Dialah Maha Pemberi Hidayah

Abu Muhammad Al-Maqdisi

Ramadhan 1346 H

Penerjemah: Fahruddin

Editor: Rudi

Pejuang Kurdi dan sekutu mereka telah menguasai sebuah pangkalan militer yang sebelumnya dikuasai oleh Tanzhim Daulah Baghdadiyah (ISIS) yang dianggap garis pertahanan pertama utara dari ibukota de facto ISIS/ Tanzhim Daulah.




Observatorium Suriah yang berbasis di Inggris untuk Hak Asasi Manusia dan aktivis Kurdi Mustafa Bali mengatakan bahwa para pejuang Kurdi dari Unit Perlindungan Rakyat (YPG) telah menguasai markas yang dikenal sebagai Markas Brigade 93 dekat kota Ayn Issa pada Senin malam.

Perkembangan terakhir yang terjadi pada hari Senin ini menjadi kemunduran besar kedua bagi ISIS di Suriah utara dalam dua pekan terakhir, setelah pejuang YPG dan sekutu mereka dari FSA pekan lalu berhasil kuasai kota Tal Abyad di perbatasan Turki.

Sejak Tal Abyad dibebaskan pekan lalu, aliran pengungsi telah kembali ke kota itu, dan sumber-sumber telah mengatakan kepada Al Jazeera bahwa jumlah roti dan persediaan makanan lainnya yang sudah tersedia di kota itu dalam jumlah yang cukup.

Para pengamat Timur tengah menggambarkan penaklukan Tal Abyad sebagai “pukulan telak bagi Tanzhim Daulah/ ISIS.” karena memotong salah satu rute transit utama yang digunakan untuk menyelundupkan pasokan, senjata, dan petempur.

Sedangkan bagi Kurdi, jatuhnya Tal Abyad ke tangan mereka cukup penting karena itu berarti mereka dapat mengkonsolidasikan wilayah mereka dengan menghubungkan kantong Kurdi di Kobane ke barat dan ke timur.

Lama tidak terdengar di media, juru bicara ISIS Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani, Selasa kemarin, 23 Juni 2015, muncul dengan pidato terbaru. Dalam pidato yang diberi judul mengutip ayat Al-Qur’an, “Wahai kaum kami! Terimalah seruan orang (Muhammad) yang menyeru kepada Allah (Al-Ahqaf: 31)” itu, Al-Adnani menyeru kepada penduduk dan suku-suku Irak yang belum memenuhi seruan ISIS untuk bertobat.

“Kami memberikan kesempatan terakhir kepada shahawat serta tentara dan polisi Rafidhah yang masih tersisa; Kami menyeru sekali lagi kepada mereka untuk bertobat seluruhnya tanpa pengecualian,” ancam Al-Adnani. Tidak ada syarat dalam pertobatan itu kecuali menyerahkan senjata sebagai bukti kejujuran tobat.



Selain itu, Al-Adnani juga menyampaikan peringatan secara khusus kepada faksi-faksi mujahidin di Syam dan Libya agar mereka tidak memerangi ISIS. Adnani mengklaim tidak ada bagian dari bumi ini yang menerapkan hukum Allah kecuali bumi ISIS. Siapa yang memerangi ISIS dan merebut sebagian wilayahnya, berarti telah menyebabkan wilayah tersebut dikuasai oleh hukum buatan manusia. Sehingga ia pun kafir.

“Kami menyeru kepada faksi-faksi di Suriah dan Libya, berpikirlah matang-matang sebelum memutuskan untuk memerangi ISIS,” tegas Al-Adnani dalam pidatonya, “Ingat, tidak ada bagian dari bumi yang diterapkan syariat dan hukum Allah seluruhnya kecuali wilayah ISIS. Kemudian siapa pun yang memerangi ISIS, sadar atau tidak telah kafir.

“Dengan memerangi ISIS, maka kalian telah kafir, baik sadar maupun tidak.”

Ungkapan petinggi ISIS tersebut mendapatkan kecaman dari banyak pihak, termasuk Dr Hani As-Sibai, ulama mujahid senior. Ungkapan tersebut dinilai lemah. Itu adalah pemahaman takfir yang tidak benar!

Pernyataan-pernyataan Al-Adnani dalam rekaman selama 29 menit itu dinilai oleh As-Sibai tidaklah berbeda dengan pernyataan sebelumnya yang berjudul “Inilah Manhaj Kami” dan “Inilah Janji Allah”.

Kelompok yang memerangi kekhilafahan yang sah sekalipun tidak serta-merta menjadi kafir. As-Sibai menunjukkan sejarah, para shahabat yang ikut dalam perang Jamal. Sebagian dari mereka merupakan shahabat yang diberi kabar gembira sebagai ahli surga saat masih hidup. Ada Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Ummul Mukminin Aisyah. Apakah mereka akan disebut kafir karena memerangi khilafah uzhma yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib? Ali bin Abi Thalib tidak menyebut mereka sebagai kelompok kafir!

Adnani, menurut penilaian As-Sibai telah terjebak ke dalam takfir berantai yang parah. Adnani menyebut orang-orang yang memerangi Daulah telah kafir karena menjadi sebab berlakunya hukum buatan manusia di bumi ISIS. Amirul Mukminin Ali RA tidaklah menuding para shahabat yang ikut dalam perang Jamal kafir karena memeranginya. Atau dengan tuduhan bahwa bila kubu Ali kalah maka bumi kaum muslimin akan dikuasai oleh Persia dan Romawi, yang akan mengatur dengan undang-undang mereka! Lalu, para sahabat tersebut kafir karena menjadi penyebab berlakunya undang-undang Romawi dan Persia di negeri kaum muslimin.

Menurut As-Sibai, materi pidato Al-Adnani tidak tepat. Mestinya ia berbicara kepada umat tentang hasil yang dicapai selama setahun setelah pengumuman Daulah Khilafah Ramadhan tahun lalu. As-Sibai melihat Adnani selalu memaksakan diri untuk mengulang-ulang bahwa khilafah Al-Baghdadi (demikian kalimat As-Sibai) dengan ungkapan “Inilah janji Allah” dan seolah-olah tentaranya tidak akan pernah kalah selamanya.

As-Sibai juga menyarankan lebih baik Adnani berbicara tentang realisasi “Baqiyah dan Tamaddud (Eksis dan Meluas)” sebagai slogan ISIS. “Bagaimana dengan dinding Roma, Big Ben (maksudnya Inggris Raya), dan Gedung Putih?” tukas As-Sibai.

As-Sibai mempertanyakan kabar Kobane yang dicungkil dan hilang dari genggaman ISIS. Termasuk nasib kekuasaan ISIS di wilayah Tikrit, Beiji, dan Yazidi. Bahkan Raqqah, sebagai pusat negeri mereka terlihat terkikis dan mendekati keruntuhan, menurut penilaiannya.

Di akhir tulisannya, As-Sibai menyebut Adnani telah melakukan penipuan, dengan menyebut baiat dari segelintir orang yang membangkang dan menyempal dari kelompok jihad lama di Chechnya sebagai wilayah baru bagi ISIS. Padahal mereka tidak mampu mengangkat bendera di kampung maupun kota. Kondisi mereka saja menyedihkan. Mereka hampir tidak bisa menetap di suatu desa, kota atau pegunungan, sehingga tidak pantas disebut sebagai wilayah baru.

Seperti sebelumnya, Al-Adnani menebar ancaman, memotong kepala, membakar tubuh dan semua peran yang telah ditunjukkannya di banyak wilayah. Hal ini bukanlah peran sebuah khilafah udzma yang mengemban visi mengatur dunia dengan agama Islam. “Khilafah tidak mungkin diwakili oleh mereka, kata As-Sibai, “Keledai akan tetap keledai meskipun diselimuti dengan jubah sutera.”

Reporter: Salem
Editor: Abdullah
Sumber tanggapan Dr Hani As-Sibai: http://justpaste.it/ly0o

(22/06/2015) - Helikopter dari Rezim menjatuhkan bom barel pada sebuah masjid di lingkungan AlAnsari kota Aleppo. Kejadia ini bertepatan dengan shalat maghrib mengakibatkan tewasnya beberapa orang jama'ah, tercatat 10 orang tewas termasuk 2 anak-anak, serta 20 orang lainnya mengalami cedera berat.

masjid_bom_barel

masjid_bom1

masjid_bom_aleppo2

Lihat juga dokumentasi situasi kritis ini jatuhnya bom barel tersebut 

Mujahidin Suriah mengumumkan, Rabu (17/06), merebut desa Ar-Rasyidin di kota Aleppo, Suriah utara. Di waktu bersamaan, mujahidin di front Qunaithirah melaporkan mencapai kemajuan di kota Al-Ba’ats, selatan Damaskus.

Ruang operasi mujahidin untuk membebaskan Aleppo mengatakan, pihaknya hari ini (Rabu) mengontrol penuh desa Ar-Rsyidin yang terletak di pinggiran barat kota Aleppo. Kemenangan itu diraih setelah koalisi yang tergabung dari berbagai faksi mujahidin itu menggulirkan pertempuran sejak Senin lalu.

Beberapa waktu sebelumnya, wartawan Al-Jazeera melaporkan pejuang merebut sebuah bangunan di desa tersebut. Gedung itu merupakan markas militer Suriah di desa tersebut.

Aktivis Suriah juga membicarakan banyak korban dari tentara Suriah akibat pertempuran di lingkungan Kiram Ath-Tharb, Aleppo. Lingkungan itu sempat diserbu mujahidin pada 2012 lalu sehingga sebagiannya berhasil dibebaskan.

Faksi-faksi pejuang di Aleppo terdorong membentuk koalisi untuk membebaskan daerah-daerah di Alepppo setelah kesuksesan koalisi Jaisy Fath di kota Idlib. Kemenangan itu membangkitkan moral mujahidin di belahan wilayah lainnya untuk melakukan hal sama.

Secara bersamaan, faksi-faksi mujahidin di provinsi Qunaithirah mengumumkan pertempuran “Nusrah li Harairina”. Mujahidin segera meraih kemajuan dalam pertempuran itu dengan mengontrol daerah Qarin dan Bazaq yang terletak berdampingan.



Sebelumnya, aktivis juga melaporkan bahwa mujahidin bersiap menyerbu kota Al-Ba’ats yang dikenal sebagai basis pendukung partai Bashar Assad, partai Ba’ats. Terlihat konvoi militer mujahidin beriringan menuju front di kota tersebut.

muhaisini_syria
Setelah Jumat lalu (28/5) mujahidin Suriah berhasil menguasai wilayah Ariha, kota terakhir di Idlib, mereka menghadapi satu tantangan besar dari ISIS.

Syaikh Abdullah Al-Muhaisini, yang didaulat sebagai penanggung jawab syar’i dalam Jaisyul Fath, memberikan kesaksian bahwa ISIS melancarkan serangan terhadap mujahidin di Aleppo utara.

Dalam kesaksiannya, ia menceritakan bahwa para komandan lapangan memang telah memprediksi bahwa ISIS akan mengambil keuntungan dari kemajuan mujahidin di Idlib. Sebagian dari mereka menyangkal hal itu tidak mungkin dilakukan, karena nantinya akan dituduh membantu rezim.

Tapi kenyataannya, para mujahidin benar-benar dikejutkan oleh serangan ISIS. Untuk itu, Syaikh menghimbau kepada mujahidin untuk mempertahankan wilayah yang telah dikuasai.

“Terlepas dari anggapanmu bahwa mereka Khawarij, bughat (pemberontak), atau At-Thaifah Al-Mumtani’ah (kelompok yang menolak hukum Allah), para ulama sepakat bahwa memukul mundur para penyerang adalah wajib.” tuturnya.

Syaikh Muhaisini juga menghimbau kepada rakyat Syam untuk terus bersuka cita dan optimis, karena Allah telah menjanjikan kemenangan. Di akhir, ia menegaskan bahwa mujahidin akan mengusir kelompok ISIS, sekaligus melakukan berbagai operasi penaklukkan.

ISIS mendapat kemajuan yang besar di kawasan pedesaan tepi utara Aleppo dengan dikuasainya kawasan itu dari tangan mujahidin Jabhah Syamiyah. Demikian sumber lokal memastikan bahwa ISIS menguasai kota Souran pada Ahad, (1/6) yang berdekatan dengan kota I’zaz merupakan kota strategis di tepian utara provinsi Aleppo.

utara_aleppo_isis_offensive

Menurut beberapa sumber, baku tembak sengit masih berlangsung di sebagian besar titik tepian utara antara mujahidin Jabhah Syamiyah yang dibantu Brigade Nuruddin Az-Zenki melawan ISIS.

Sebanyak 1.500 tentara Garda Revolusi Iran beberapa hari terakhir dikabarkan tiba di kota Slanfah di pedesaan Lattakia. Menurut informasi, mereka akan memegang kendali pertempuran di provinsi Suriah yang menjadi basis utama para milisi dan pendukung Bashar Assad.


Dilansir dari Al-Jazeera, Ahad (31/05), sumber terpercaya menyebutkan ratusan tentara Iran itu tiba di Lattakia pada Jumat malam (29/05). Mereka akan mengambil alih pos-pos militer yang dikelola militer Suriah, milisi pertahanan nasional dan milisi Syiah Hizbullah di Lattakia.

Menurut sumber itu, kehadiran tentara asing itu bertujuan melancarkan serangan besar-besaran di wilayah Jabal Akrad yang sebagian dikontrol mujahidin. Operasi itu demi melindungi para pengikut Alawi yang saat ini ketakutan seiring kemenangan besar mujahidin di provinsi Idlib, yang berdampingan dengan Lattakia.

Informasi ini mengemuka bersamaan dengan santernya pemberitaan yang dilansir halaman-halaman online oposisi dan pro rezim Suriah bahwa Jenderal Iran yang menangani operasi luar negeri, Qasim Sulaimani berada di Lattakia. Menurut informasi itu, Sulaimani terlihat berada di front Qimmah Nabi Yunus pada Sabtu malam, memantau pasukan yang berjaga.

Seorang komandan pejuang, Abu Jamil mengonfirmasi bahwa pejuangnya melihat yang berjaga di front melihat Sulaimani tengah memeriksa pasukan rezim.

Sementara itu, Al-Jazeera belum bisa mengonfirmasi keakuratan informasi ini. Pasalnya, kabar kedatangan ratusan tentara Suriah ke Lattakia itu mayoritas berbahasa Persia. Dan juga, sejumlah tentara Iran memang berada di Lattakia sejak beberapa bulan lalu.

Provinsi Lattakia adalah kampung halaman Bashar Assad dan basis pendukungnya. Mayoritas penduduknya berkeyakinan Alawi. Milisi lokal Shabihah dan Pertahanan Nasional yang mendukung rezim memerangi rakyat Suriah bermarkas di provinsi pesisir itu.

Sarang para pendukung Bashar Assad itu kini dalam ancaman serangan mujahidin, setelah berhasil membebaskan seluruh provinsi Idlib. Posisi mujahidin hanya berjarak 30 kilometer dari ibukota Alawi di provinsi tersebut.

Sumber: Al-JazeeraSebanyak 1.500 tentara Garda Revolusi Iran beberapa hari terakhir dikabarkan tiba di kota Slanfah di pedesaan Lattakia. Menurut informasi, mereka akan memegang kendali pertempuran di provinsi Suriah yang menjadi basis utama para milisi dan pendukung Bashar Assad.

Dilansir dari Al-Jazeera, Ahad (31/05), sumber terpercaya menyebutkan ratusan tentara Iran itu tiba di Lattakia pada Jumat malam (29/05). Mereka akan mengambil alih pos-pos militer yang dikelola militer Suriah, milisi pertahanan nasional dan milisi Syiah Hizbullah di Lattakia.

Menurut sumber itu, kehadiran tentara asing itu bertujuan melancarkan serangan besar-besaran di wilayah Jabal Akrad yang sebagian dikontrol mujahidin. Operasi itu demi melindungi para pengikut Alawi yang saat ini ketakutan seiring kemenangan besar mujahidin di provinsi Idlib, yang berdampingan dengan Lattakia.

Informasi ini mengemuka bersamaan dengan santernya pemberitaan yang dilansir halaman-halaman online oposisi dan pro rezim Suriah bahwa Jenderal Iran yang menangani operasi luar negeri, Qasim Sulaimani berada di Lattakia. Menurut informasi itu, Sulaimani terlihat berada di front Qimmah Nabi Yunus pada Sabtu malam, memantau pasukan yang berjaga.

Seorang komandan pejuang, Abu Jamil mengonfirmasi bahwa pejuangnya melihat yang berjaga di front melihat Sulaimani tengah memeriksa pasukan rezim.

Sementara itu, Al-Jazeera belum bisa mengonfirmasi keakuratan informasi ini. Pasalnya, kabar kedatangan ratusan tentara Suriah ke Lattakia itu mayoritas berbahasa Persia. Dan juga, sejumlah tentara Iran memang berada di Lattakia sejak beberapa bulan lalu.

Provinsi Lattakia adalah kampung halaman Bashar Assad dan basis pendukungnya. Mayoritas penduduknya berkeyakinan Alawi. Milisi lokal Shabihah dan Pertahanan Nasional yang mendukung rezim memerangi rakyat Suriah bermarkas di provinsi pesisir itu.

Sarang para pendukung Bashar Assad itu kini dalam ancaman serangan mujahidin, setelah berhasil membebaskan seluruh provinsi Idlib. Posisi mujahidin hanya berjarak 30 kilometer dari ibukota Alawi di provinsi tersebut.

(Al-Jazeera)

Aleppo mujahidin assad isis

Kota Aleppo yang merupakan salah satu basis pejuang perlawanan Suriah, kembali diharu biru oleh bombardemen pesawat rezim. Kota yang menjadi basis sejumlah besar pasukan perlawanan seperti Mujahidin Jabhah Nushrah, Jabhah al-Islamiyah, Jaisyut Tauhid, Jabhah Syamiyah dan sejumlah besar komponen kelaskaran FSA itu mengalami kerusakan parah. Sedikitnya 85 orang tewas pada Sabtu (30/05), setelah pasukan Asad kembali membombardir wilayah tersebut.

Di daerah al-Bab provinsi Aleppo, setidaknya 70 orang tewas dan 90 lainnya luka-luka sementara di kota Asy Syiar 15 orang meninggal dan sekitar 20 lainnya luka-luka, saat helikopter rezim menjatuhkan bom barel. Jenis bom yang telah dilarang oleh dunia internasional itu masih saja digunakan oleh pasukan rezim Syiah Nushairi untuk membantai kaum Muslimin.
Tidak cukup sampai di situ rezim Syiah-Nushairi pimpinan Bashar Assad terus, membombardir Aleppo dan wilayah pedesaan di sekitarnya hingga hari ini (31/05) sehingga total korban meninggal menembus angka 107 orang lebih.

ISIS Ikut Membantai Penduduk Aleppo bersama Bombardemen Rezim Assad

Lengkap sudah penderitaan kaum Muslimin Suriah di Aleppo, bersamaan dengan hujan bom barrel yang meluluhlantakkan kota Aleppo, pasukan ISIS yang mengklaim pembela kaum Muslimin, justru ikut serta membantai kaum Muslimin di kota Aleppo juga, puluhan orang meninggal dunia pada malam hari (30/05) setelah terjadinya pemboman kota Aleppo dan sekitarnya.

ISIS menggunakan bom mobil, roket dan senjata artileri lainnya untuk membantai kaum, Muslimin yang mereka tuduh sebagai shahawat, tepat di tempat-tempat yang menjadi sasaran bom Barrel rezim dan tempat lainnya, yang masih masuk di sekitar kota Aleppo. Serangan ini mempertegas posisi ISIS di sisi rezim Assad dalam membantai kaum Muslimin.Kota Aleppo yang merupakan salah satu basis pejuang perlawanan Suriah, kembali diharu biru oleh bombardemen pesawat rezim. Kota yang menjadi basis sejumlah besar pasukan perlawanan seperti Mujahidin Jabhah Nushrah, Jabhah al-Islamiyah, Jaisyut Tauhid, Jabhah Syamiyah dan sejumlah besar komponen kelaskaran FSA itu mengalami kerusakan parah. Sedikitnya 85 orang tewas pada Sabtu (30/05), setelah pasukan Asad kembali membombardir wilayah tersebut.

Di daerah al-Bab provinsi Aleppo, setidaknya 70 orang tewas dan 90 lainnya luka-luka sementara di kota Asy Syiar 15 orang meninggal dan sekitar 20 lainnya luka-luka, saat helikopter rezim menjatuhkan bom barel. Jenis bom yang telah dilarang oleh dunia internasional itu masih saja digunakan oleh pasukan rezim Syiah Nushairi untuk membantai kaum Muslimin.
Tidak cukup sampai di situ rezim Syiah-Nushairi pimpinan Bashar Assad terus, membombardir Aleppo dan wilayah pedesaan di sekitarnya hingga hari ini (31/05) sehingga total korban meninggal menembus angka 107 orang lebih.

Kota Aleppo dibombardir rezim Assad dari udara

ISIS menyerang Aleppo (kawasan Tal Rifat) dengan bom mobil

Sebuah rumah terbakar, setelah terkena roket ISIS

Anak-anak korban bom barrel Assad

Salah satu korban serangan roket ISIS di kawasan Mare Aleppo

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget