Halloween Costume ideas 2015
May 2015

Jabhah Nusrah (JN), belum lama ini, menyampaikan pengumuman bahwa kota-kota yang telah dibebaskan dari pemerintah rezim Asad pada beberapa hari yang lalu akan dikelola dan diatur sesuai dengan Syariat Islam.

JN juga menyampaikan pesan bahwa mereka tidak akan memonopoli kekuasaan di wilayah tersebut.

Amir Jabhah Nusrah, Syeikh Abu Muhammad al-Jaulani juga mengatakan bahwa para penduduk kota Idlib di wilayah barat laut akan diperlakukan dengan baik oleh para pejuang JN dan juga oleh para pejuang lainnya yang telah membebaskan kota itu pada hari Sabtu yang lalu (16/05/2015).

“Kami menyampaikan salam penghormatan kami kepada seluruh warga Idlib dan juga atas dukungan mereka kepada putra-putra mereka para mujahidin, dan Insya Allah seluruh warga akan segera menikmati keadilan Syariat Islam yang akan melindungi agama dan darah mereka”, kata Syeikh al-Jaulani dalam suatu rekaman audio yang di-posting melalui salah satu media JN.

idlib_mujahidin

Pembebasan Idlib menandai jatuhnya kota-kota utama di Suriah untuk yang kedua kalinya di tangan kelompok mujahidin sejak konflik Suriah pecah. Peperangan tak seimbang yang berlangsung akhirnya memaksa rezim Suriah telah kehilangan kontrol atas sejumlah ibukota propinsi. Pertama, adalah Kota Raqqah yang dibebaskan oleh kelompok Daulah (ISIS) yang kemudian secara de-facto menjadi ibukota kelompok tersebut.

JN bersama dengan kelompok-kelompok mujahidin yang lain termasuk Ahrarus Syam telah berhasil mengambil alih Idlib yang terletak 30 km dari perbatasan dengan Turki setelah berjuang menghadapi empat hari pertempuran sengit dengan pasukan rezim Asad.

Pengaruh JN telah meluas hingga ke bagian barat laut wilayah Suriah yang berbatasan dengan dengan propinsi Antakya-Hatay di Turki dan pesisir laut Mediterania. Di wilayah inilah sebelumnya kelompok afiliasi Al-Qaidah ini telah berhasil menghancurkan paling tidak dua kelompok oposisi sekuler dukungan Barat pada beberapa bulan yang lalu.

Syeikh al-Jaulani menambahkan, pembebasan Idlib menunjukkan bahwa meminta bantuan kepada Barat ataupun kepada kekuatan-kekuatan regional hanyalah sebuah ilusi (tidak ada gunanya). Kemudian, beliau mendorong persatuan di antara kelompok-kelompok mujahidin yang telah berhasil membebaskan Idlib dan menyerukan dibentuknya pengadilan Islam (Mahkamah Syariah) untuk menyelesaikan perselisihan yang ada di antara umat Islam. Demikian juga seluruh properti/fasilitas milik publik akan dilindungi.

“Kami Jabhatun Nusrah mengkonfirmasi bahwa kami tidak berjuang untuk semata-mata demi mendapatkan kekuasaan atas suatu wilayah tertentu ataupun memonopolinya tanpa keterlibatan yang lain”, kata Syeikh al-Jaulani.

Pemimpin Jabhah Nusrah, Syeikh Abu Muhammad al-Jaulani juga menyerukan kepada masyarakat untuk kembali bekerja terutama bagi mereka yang terkait dengan bidang pelayanan umum dan bersifat esensial. Di antaranya mereka yang bekerja di pabrik-pabrik roti untuk urusan pangan dan urusan penerangan (kelistrikan).

Mujahidin Jabhah Nusrah  telah mem-posting sejumlah foto dokumentasi kelulusan lebih dari 100 orang mujahidin yang telah berhasil menyelesaikan program latihan mereka di Idlib, Suriah

Pada akhir Maret yang lalu, Jabhah Nusrah  bekerja sama dengan beberapa kelompok mujahidin lainnya menyerbu ibukota propinsi Idlib. Mereka tergabung dalam koalisi Jaisyul Fatih yang berarti “Pasukan Pembebas” terus melanjutkan serangkaian serangan terhadap sisa-sisa pasukan pemerintah rezim Assad di sekitar wilayah Idlib yang telah dibebaskan pada minggu-minggu berikutnya.

Sejak akhir tahun 2014 yang lalu, Jabhah Nusrah mulai unjuk kekuatan besar-besaran dengan melakukan serangan sekaligus baik terhadap kelompok-kelompok oposisi sekuler dukungan Barat maupun kelompok-kelompok yang pro terhadap rezim Asad.

Jabhah Nusrah diyakini memposting foto-foto tersebut untuk tujuan propaganda. Gambar-gambar tersebut menunjukkan kemampuan organisasi Jabhah Nusrah dalam merekrut dan mengorganisir lebih banyak lagi para pemuda untuk dilatih menjadi pasukannya.

jabhah nusrah kamp idlib


Dokumentasi ini juga sekaligus menunjukkan bahwa kampanye militer melalui serangan udara oleh pasukan koalisi pimpinan AS dan kampanye propaganda mereka tidak efektif.

Keberhasilan koalisi para mujahidin beserta capaian-capaian mereka di Suriah wilayah utara tersebut diyakini berkontribusi terhadap tingginya popularitas Jabhah Nusrah.
(LW/kabarsuriah)

Aliansi Mujahidin, Jaisyul Fath, terus mengawasi benteng terakhir rezim Nushairiyah di provinsi Idlib, mereka mengumpulkan pasukan untuk merebut kota pegunungan Ariha, sehari setelah pengambilalihan kamp al-Mastouma.

jaysh alfath idlib


Ariha telah menyaksikan banyak pertempuran sengit tiga minggu terakhir di kantong-kantong kota. Mujahidin Jaisyul Fath terlihat memiliki semangat tinggi dalam melancarkan operasi militer karena mereka berencana untuk kembali menghantam pasukan rezim dan membersihkan provinsi Idlib dari rezim Nushairiyah, seperti dilaporkan Zaman Alwasl pada Rabu (20/5/2015).

Salah satu faksi perlawanan di Suriah yang aktif di Ghautah Timur, pinggiran Damaskus, Jaish al-Islam, telah memperketat pengepungan terhadap Brigade 39 setelah tiga hari pertempuran sengit, mereka berhasil menguasai tiga pos pemeriksaan, ujar komandan Jaish al-Islam pada Rabu (20/5/2015).

mujahidin-jaish-alislam


peta-mujahidin-ghouta-jaish-alislam
peta update 20/5/2015 aksi mujahidin kepung brigade 39

Juru bicara Jaish al-Islam, Islam Alloush, mengatakan kepada Zaman Alwasl bahwa pangkalan udara terkuat milik rezim di wilayah tersebut kini telah dikuasai oleh Mujahidin setelah mereka berhasil mengambil kendali kota-kota tetangga seperti Tal Kurdi, Housh al-Khayyat dan Maida’a dan menguasai pos pemeriksaan di sekitarnya.

Pejuang Jaish al-Islam meluncurkan serangan ofensif sejak Senin (18/5).

(19/05/2015) - Jabhah Nusrah dan koalisi Jaysh al Fateh menyampaikan pernyataan bahwa mereka telah benar-benar mengusir pasukan Assad di kamp militer Mastumah, Idlib. Kamp itu salah satu benteng rezim yang tersisa di provinsi Idlib.



Mujahidin telah mengumumkan kemenangan di Twitter dan media sosial lainnya. Pada akun Twitter resmi Jabhah Al nusrah untuk wilayah operasi Idlib, mujahidin mengatakan bahwa ia dan koalisi Jaysh al Fateh menguasai sepenuhnya Kamp Mastumah. Dalam tweet lain, mengatakan bahwa pasukan rezim di kamp telah mundur  dan jalan utama antara Mastumah dan kota-rezim yang menghubungkan Ariha adalah di bawah kendalinya .

Front Islam Ahrar al Sham juga telah melaporkan kemenangan pada akun Twitter-nya, mengklaim "puluhan pasukan Assad" tewas. Dan Ajnad Sham organisasi anggota lain dalam koalisi, telah mengatakan bahwa pasukannya telah menghancurkan  setidaknya dua tank BMP buatan Rusia dalam pertempuran.

Menurut laporan dari pertempuran, serangan untuk mengambil kamp dimulai dengan bom syahid dari mujhidin kelompok Jund al Aqsa. Setelah bom syahid, sekumpulan pasukan mujahidin lainnya mulai menyerang dengan Jabhah Al nusrah menyerbu basis dari sisi selatan.

Kendaraan Rezim Yang Berhasil Dihancurkan





Rampasan Perang berupa Senjata Berat, Amunisi, dan Kendaraan Tempur



Mujahidin Berkeliling Menguasai Kamp Militer Mastumah




Jaysh al Fateh terus mengalami kemajuan di Idlib. Pada bulan Maret, koalisi ini mengambil alih kota Idlib. Jund al Aqsa juga mulai ofensif dengan bom syahid. Bulan lalu, koalisi mengambil alih kamp militer Al Qarmeed di Idlib, sedangkan di sisi selatan berhasil mengambil alih Jisr al Shughur.

(LW/kabarsuriah)

Senin 18/05/2015 -  Mujahidin memulai serangan untuk menguasai kamp militer brigade 39, Ghoutah Timur provinsi Damaskus. Berikut ini adalah peta pertempuran yang dirilis untuk memperjelas posisi mujahidin di lapangan.

brigade-39-damaskus




Dokumentasi pertempuran dari garis terdepan untuk serangan ke brigade 39. Mujahidin berjalan dari daerah Maada ke Tel Kurdi.

Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Dewan Luar Negeri di parlemen Iran, Alaudin Baroujerdi, menegaskan Iran akan terus memberi dukungan militer dan dana kepada rezim Bashar Assad. Pernyataan itu dikeluarkan dalam kunjungannya ke Damaskus pada Kamis (14/05).

alaudin-baroujerdi_iran

“Saya datang ke Suriah untuk kembali menegaskan bahwa dukungan kami terhadap Suriah, pemerintahan dan “rakyatnya” adalah dukungan konstan dan permanen. Kami bangga dengan dukungan ini,” kata Baroujerdi seperti dinukil Al-Jazeera dari kantor berita resmi Suriah.

Dia menambahkan, departemen pertahanan negara kami dan Suriah masih terus berkoordinasi. Kami menyampaikan selamat kepada rezim Suriah dan Syiah Hizbullah atas yang dianggap “kemenangan di Qalamun”.

Dalam kesempatan itu, Baraujerdi menyindir misi pelatihan oposisi Suriah oleh AS. Ia menganggap, misi itu sebagai langkah strategi yang salah.

Kunjungan Baraujerdi ke Damaskus akan berlangsung selama dua hari. Ia dijadualkan bertemu dengan Bashar Assad, Perdana Menteri Suriah, Menteri Luar Negeri Suriah dan sejumlah pejabat lain.

Kunjungan pejabat Iran ini setelah kunjungan Menteri Pertahanan Suriah Fahad Al-Farij ke Teheran pada April lalu. Farij mengatakan, setelah kunjungan itu, kerjasama militer dan ekonomi dengan Iran sangat penting.

Sebagaimana diketahui, rezim Suriah telah melakukan pembantaian massal terhadap warga Suriah. Ratusan ribu warga sipil menjadi korban kebengisan rezim itu selama empat tahun terakhir.

Sumber: Al-Jazeera

Mujahidin Suriah pada Ahad (17/5/2015) telah menguasai kota-kota strategis al-Mastumah dan al- Muqbela di provinsi Idlib, mereka terus menekan pasukan rezim dalam upaya untuk menguasai sebuah kamp militer di dekatnya.

Aliansi kelompok Mujahidin termasuk Jabhah Nushrah, berusaha memotong rute yang menghubungkan kota Ariha dengan kamp militer al-Mastumah, ujar sumber seperti dilansir Zaman Alwasl.

Hadi Alabdallah, seorang aktivis media mengatakan aliansi Jaisyul Fath telah menguasai 12 pos pemeriksaan setelah sebuah bom mobil besar menargetkan kamp al-Mastouma di mana pasukan Bashar al-Assad bersembunyi di benteng terakhir mereka di utara Idlib.



Jaisyul Fath telah menyita sejumlah besar wilayah di utara Suriah sejak akhir Maret 2015 termasuk kota Idlib dan Jisr al- Shughur.

idlib_syria

(Zaman Alwasl)

Kantor berita Al-Jazeera, Kamis (14/05), menyebutkan korban tewas di barisan Syiah Hizbullah Lebanon dalam pertempuran Qalamun dalam dua pekan terakhir sebanyak 28 militan. Jumlah itu dikumpulkan dari keterangan sejumlah sumber di lapangan dan Lebanon.

qalamun-suriah


“Jumlah korban tewas Hizbullah bertambah menjadi 28 militan sejak dimulainya pertempuran di Qalamun pada Empat Mei lalu,” lansir Al-Jazeera.

Dalam pertempuran Kamis, Al-Jazeera melaporkan sedikitnya tiga anggota Syiah Hizbullah tewas. Di saat bersamaan, organisasi bentukan Iran itu menggelar upacara pemakaman anggotanya di kota Baqa, Lebanon utara.

Menurut wartawan Al-Jazeera di Lebanon, pertempuran kemarin antara mujahidin dan Syiah Hizbullah terfokus di sekitar daerah Ra’sul Ma’arrah da Falitha, Qalamun. Sementara itu, lembaga pengawas HAM Suriah menambahkan, pertempuran juga berlangsung di wilayah pegunungan Qalamun.

Organisasi Syiah Hizbullah di kota Baqa menggelar pemakaman komandan mereka, Muhammad Hasyim. Ia merupakan penanggung jawab operasi lapangan Syiah Hizbullah wilayah Baqa.

Sebagaimana diketahui, pertempuran Qalamun meletus setelah mujahidin melakukan serangan terlebih dahulu. Serangan mendadak itu dilakukan ketika Syiah Hizbullah tengah memobilisasi pasukan.

Syiah Hizbullah yang didukung militer Suriah berupaya membersihkan wilayah Qalamun dari mujahidin. Wilayah itu sangat strategis karena menghubungkan markas Hizbullah di Lebanon dengan Damaskus.

Sumber: Al-Jazeera

Pada Kamis (7/5/2015) Presiden Bashar Assad akhirnya tampil di muka publik. Ada yang menarik perhatian masyarakat dalam kemunculan pemimpin Suriah ini yang menepis kabar bahwa dia dan keluarganya akan melarikan diri ke “Israel”.



“Penampilan terakhir Bashar Assad kemarin mengangkat banyak pertanyaan tentang kesehatannya yang memburuk, psikologis dan tanda-tanda penuaan dini. Para ahli mengatakan bahwa tanda-tanda penyakit saraf menjadi lebih jelas dari hari ke hari.” Demikian dilaporkan stasiun televisi swasta Orient, Jum’at (8/5).

Kali ini, penampilan Assad yang terbata-bata dan pidato atas kinerjanya tidak dapat disembunyikan kosmetik. Begitupula antusiasmenya turut memudar. Sangat berbeda dari nada bicara sebelumnya yang begitu penuh keyakinan, seperti yang biasa ia coba tampilkan setiap berbicara selama empat tahun terakhir.

“Apa penyakit aneh yang muncul di tangannya dan mengapa (Assad) tetap dalam kesombongan dan (tidak) mengakui kerugian atas pertempurannya?” tanggapan masyarakat kepada Orient.


كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” [Qur’an Surat ‘Ali Imran : 11]

Sejumlah anggota pasukan rezim tewas dalam bentrokan dengan militan ISIS dalam 24 jam terakhir dari arah tenggara pangkalan udara Deir Ezzor dan Chekpoint Jemyan di pinggiran lingkungan al Sena'ah. Setidaknya terhitung ada 19 pasukan rezim yang tewas, termasuk seorang jenderal, yang dia adalah pemimpin brigade Angkatan Pertahanan Udara di pangkalan udara Deir Ezzor, dan 4 anggota dipenggal oleh militan ISIS. Bentrokan mengakibatkan kemajuan untuk ISIS setelah merebut chekpoint Jemyan, sedangkan dilaporkan juga kematian 15 militan ISIS, termasuk komandan-nya juga.


Faksi Islam membentuk koalisi militer untuk melancarkan serangan besar-besaran di Homs wilayah barat yang menargetkan posisi sejumlah Tentara Suriah (SAA) dan Angkatan Pertahanan Nasional (NDF) di sebuah desa perbatasan Tartous.

Serangan dimulai pada waktu 07:00 Selasa pagi, mujahidin dari Jabhat Al-Nusra dan Harakat Ahrar Al-Sham menyerang desa Hosh Al-Zebleh, mengakibatkan jatuhnya Checkpoint Zighbou dan Madajana di sisi timur.

islamic_front_homs_offensive

Meskipun mampu merebut dua Checkpoint tersebut, para mujahidin dari Harakat Ahrar Al-Sham dan Jabhat Al-Nusra tidak dapat menyusup ke Hosh Al-Zebleh. Hal ini kemungkinan adanya pasukan bala bantuan NDF yang dikerahkan untuk menghalau serangan mujahidin.

Sebela Selatan Host Al-Zebleh, para mujahidin dari Ahl Al-Sunnah dan Harakat Ahrar Al-Sham berusaha untuk menembus pertahanan garis depan NDF ini di Jiboreen; Namun, mereka masih belum berhasil menembus pertahanan garis depan NDF ini.

Serangan tidak berhenti di situ, Jabhat Al-Nusra dan Jaysh Al-Tauhid menyerang posisi SAA di Kafr Naan, dan Kayseen, mencoba menghujani dengan artileri berat dari dekat Al-Houla.





Aktivis media sosial dari kalangan mujahidin, melaporkan bahwa enam kelompok Islam yang berpartisipasi dalam serangan ini di Homs barat: Ajnad Homs, Faylaq Homs, Jaysh Al-Tauhid, Harakat Ahrar Al-Sham, Ahl Al-Sunnah dan Jabhat Al-Nusra.

Diberitakan bahwa Amerika dan Turki menandatangani perjanjian untuk melatih apa yang disebut elemen-elemen moderat… Apakah ini berarti Amerika sudah hampir menemukan pengganti Bashar, sehingga Amerika menghadirkan untuk calon pengganti itu kekuatan yang sesuai di lapangan yang mendukungnya, di samping dukungan udara? Ataukah itu hanya langkah menghabiskan waktu dengan pelatihan satu dua tahun… sampai Amerika longgar untuk mengadakan pengganti? Dengan ungkapan lain, apakah berarti pengganti itu sudah dekat sehingga Amerika menyiapkan dukungan untuknya. Ataukah pengganti itu masih jauh sehingga mereka menghabiskan waktu dalam pelatihan sampai mereka bisa menyiapkan pengganti?

amerika_obama_bashar_assad


Jawab:

Sehingga jelas jawabannya kami paparkan sikap Amerika dan pergerakan-pergerakan yang dilakukannya bersama negara-negara kawasan:

Obama mengatakan dalam pidato persatuan, “Dukungan Amerika Serikat kepada oposisi moderat di Suriah tidak hanya berkontribusi pada upaya di sana, melainkan juga bisa membantu masyarakat di mana saja untuk melawan ideologi radikal. Upaya ini akan memerlukan waktu dan fokus”. Obama mengatakan, “Sebagai ganti mengerahkan sejumlah besar angkatan darat ke luar negeri, Amerika Serikat sekarang sengaja bekerja bersama negara-negara yang membentang dari selatan Asia ke Utara Afrika agar teroris yang mengancam Amerika Serikat tidak mendapatkan kenikmatan keamanan”. (II Digital America, 20/1/2015).

Dari pernyataan ini jelas bahwa Amerika tidak ingin mengulangi pengalaman sebelumnya dengan mengirim kekuatan yang besar ke kawasan. Melainkan Amerika ingin mengeksploitasi negara-negara kawasan dan membentuk kekuatan dari warga kawasan yang disebut kekuatan moderat. Amerika mendukung dan mengendalikannya untuk mencapai tujuan-tujuan Amerika. Presiden Amerika telah menetapkan hal itu sebagai strategi politik yang menjadi dasar negaranya dalam politik luar negeri. Karena itu, Amerika tidak ingin mengirim kekuatan darat besar dalam perangnya di kawasan untuk menghalangi kembalinya Islam ke pemerintahan dan untuk menjaga pengaruhnya di kawasan dan merampok kekayaan kawasan. Akan tetapi Amerika ingin mengeksploitasi kaum Muslimin sendiri dalam perang Amerika itu. Maka Amerika mengirim kekuatan darat terbatas untuk melakukan misi-misi tertentu yang bersifat atributif atau pelatihan atau memimpin pertempuran dan terlibat dari udara dengan pesawat tempur.

Amerika telah memutuskan pelatihan apa yang disebutnya oposisi moderat, yakni pengikutnya, sejak musim panas tahun lalu. Amerika mengumumkan hal itu secara resmi pada musim gugur tahun lalu. Presiden Amerika Obama pada tanggal 13/6/2014 telah mengesahkan langkah rahasia untuk mempersenjatai oposisi ini yang dilakukan melalui Central Intelijen Agency (CIA). Obama mengumumkan hal itu pada tanggal 20/9/2014 dengan ucapannya: “Washington telah secara riil memberikan bantuan termasuk militer kepada oposisi Suriah. Hanya saja upaya baru akan menjamin logistik dan pelatihan pasukan oposisi Suriah supaya menjadi lebih kuat dan mampu melawan teroris di dalam Suriah.” (Associated Press America, 20/9/2014). “Kongres pada tanggal 18/9/2014 telah mengesahkan strategi Obama itu”. Jenderal Martin Dempsey, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Amerika menyatakan bahwa, “Pada kondisi di mana komando lapangan meminta dari saya atau menteri pertahanan untuk mengirimkan pasukan khusus guna mendukung orang-orang Irak atau pasukan Suriah yang baru, dan dalam kondisi kami menemukan bahwa perkara itu penting untuk mencapai tujuan-tujuan kami, pada saat demikian hal itu menjadi apa yang akan kami minta dari presiden Barack Obama”. (Sky News, 5/3/2015).

Sebelumnya, Amerika bekerja menyelesaikan situasi melalui negosiasi-negosiasi semisal Jenewa 1 dan 2 tanpa membentuk kekuatan semisal ini. Maka Amerika mengadakan Koalisi Suriah agar menjadi representasi pihak pemberontak. Akan tetapi Koalisi ini tidak diterima oleh masyarakat di Suriah dan tidak memiliki kekuatan di lapangan, sehingga Amerika gagal dalam hal itu. Lalu Amerika berpandangan untuk mengadakan kekuatan yang berafiliasi kepadanya untuk memperkuat posisi oposisi yang akan diekspos seolah-olah mereka merepresentasikan revolusi. Maka Amerika menerima ide pengadaan kekuatan Suriah moderat yang dilatih Amerika untuk mencapai hal itu dan untuk memerangi orang-orang yang melakukan revolusi yang menolak rencana-rencana Amerika, dan bukannya untuk memerangi rezim. Rezim Suriah dan orang-orang yang beredar di sekitarnya serta orang-orang di sekelilingnya, mereka adalah antek-antek Amerika. Namun warga Suriah dan para pemberontak yang bangkit melawan rezim ini tidak bersama Amerika, akan tetapi malah menentang Amerika. Karena itu, Amerika ingin mengadakan kekuatan dan antek-antek dari selain orang-orang yang ada di dalam rezim dan sekitarnya sehingga Amerika menjadikannya sebagai kekuatan di lapangan agar mereka masuk dalam perundingan yang baru. Jadi Amerika tidak mampu menjauhkan antek-anteknya yang ada di dalam rezim sampai Amerika yakin bahwa selain mereka bisa menjadi pengganti yang mampu mengendalikan masalah dan memadamkan revolusi.

Amerika bersama rezim Turki yang loyal kepadanya telah sampai pada kesepakatan dalam hal ini. Juru bicara kementerian luar negeri Amerika, Jean Psaki mengatakan, “Saya bisa tegaskan bahwa kami sudah mencapai kesepakatan dari sisi doktrin dengan Turki untuk pelatihan kelompok-kelompok oposisi Suriah dan mensuportnya”. Ia menambahkan, “Seperti yang telah kami umumkan di sini sebelumnya, Turki sepakat menjadi salah satu negara tuan rumah di kawasan untuk program pelatihan kekuatan oposisi Suriah moderat dan mensuportnya dengan perlengkapan. Kami berharap penandatanganan perjanjian dengan Turki itu bisa terjadi dalam waktu dekat”. (Sky News, 17/2/2015). Perjanjian itu dilakukan setelah pembicaraan delegasi militer Amerika yang terdiri dari 30 orang perwira yang mengunjungi Ankara beberapa hari sebelumnya. Kementerian Pertahanan Amerika mengumumkan akan mengirim lebih dari 400 personel militer untuk melatih oposisi di kamp Saudi, Turki dan Qatar. Juru bicara kementerian Pertahanan, John Kirby mengatakan, “Kami punya kelompok yang bekerja dengan orang-orang Saudi dalam upaya menyiapkan fasilitas khusus untuk program pelatihan dan mempersenjatai, dan menentukan resources yang perlu kami tambah dan berkaitan dengan penyiapan para pelatih dan semacamnya”. Kepala Staf Martin Dempsey telah menyebutkan bahwa “Tahap persiapan untuk program ini memakan waktu antara 3 sampai 5 bulan dan berikutnya 8 sampai 12 bulan untuk pelatihan 5.000 orang prajurit dari oposisi Suriah moderat agar setelahnya mereka mampu memerangi ISIS dan rezim Bashar”. (Anadolu Agency, 16/10/2014) Juru bicara luar negeri, Mary Harvey, pada 10/10/2014 mengumumkan, “Turki setuju mendukung upaya pelatihan dan penyiapan oposisi Suriah moderat”. (Reuters, 10/10/2014) Jadi, negara-negara kawasan baik Saudi, Turki atau yang lain dibuat khawatir oleh situasi di Suriah sampai batas paling jauh. Maka semua negara-negara kawasan ingin mengakhiri situasi ini di Suriah, sebab hal itu berpengaruh pada negara-negara tersebut. Karena itu, negara-negara kawasan itu bekerjasama dengan Amerika dan mendukung ide pembentukan kekuatan oposisi moderat. Pada waktu yang sama, negara-negara itu bekerja untuk merangkul pemberontak dengan bentuk berbeda-beda. Semua itu untuk menghancurkan seluruh orang mukhlis yang ada di dalam revolusi dan mengaborsi proyek islami apapun.

Dan berikutnya terjadilah penandatanganan resmi antara Amerika dan Turki pada bulan lalu. Pejabat luar negeri Amerika mengatakan kepada AFP pada hari penandatanganan tanggal 19/2/2015: “Saya bisa tegaskan kepada Anda bahwa telah ditandatangani perjanjian tersebut pada sore ini di Ankara”. Yang menandatangani perjanjian tersebut adalah Deputi Menteri Luar Negeri Turki, Feridun Sinirle Ihsanoglu, dan duta besar Amerika di Ankara, John Bass. Kantor berita Anadolu Agency pada 19/2/2015 mengutip dari menteri luar negeri Turki, Jawish Oglu, yang mengatakan, “Kedua pihak menandatangani piagam yang disepakati keduanya dan bahwa elemen-elemen oposisi yang dilatih akan menghadapi pasukan rezim Suriah dan ISIS teroris dan semua organisasi teroris di Suriah”. Ia juga mengatakan, “Kami akan menyambut gencatan senjata hingga meskipun hanya enam minggu saja”. Laman com pada tanggal 20/2/2015 mengutip dari menteri luar negeri Turki Jawish Oglu, ia mengatakan, “Perjanjian tersebut ditujukan untuk merealisasi transformasi politik yang hakiki atas dasar pernyataan Jenewa tentang Suriah dan untuk memperkuat oposisi Suriah dalam hal yang berkaitan dengan kontra terorisme dan ekstremisme serta menghadapi semua elemen yang menjadi bahaya bagi oposisi Suriah”. Menteri luar negeri Turki mengungkapkan, “… Qatar dan Saudi mengumumkan keinginan kuat menjadi tuan rumah program pelatihan dan penyiapan oposisi Suriah di wilayah mereka”. Reuters pada 19/2/2015 mengutip dari tiga orang pejabat Amerika yang mengatakan kepada Reuters dan minta tidak disebutkan namanya, “Pelatihan mungkin dimulai pada pertengahan Maret depan dan mereka akan melatih 5.000 prajurit Suriah setiap tahun selama tiga tahun sesuai rencana mendukung oposisi Suriah moderat”. Begitulah, menteri luar negeri Turki mengumumkan dengan gamblang bahwa tujuan dari pelatihan pasukan yang disebut oposisi moderat ini adalah untuk mencapai transformasi politik atas dasar Jenewa dan menghancurkan elemen-elemen yang menolak transformasi itu dan menginginkan sesuatu yang lain.

Pengganti Bashar tidak akan datang kecuali setelah penghancuran kekuatan yang menyalahi rencana-rencana Amerika dan yang memiliki bobot di lapangan dan mengancam pasukan agen yang disebut oposisi moderat. Program ini ditetapkan memiliki jangka waktu tiga tahun sampai terealisasi, maka pengganti itu akan siap. Atas dasar itu, jelaslah bahwa pengganti saat ini tidak siap dan negosiasi-negosiasi efektif tidak bisa terjadi sekarang. Yang lebih rajih, hal itu akan terjadi setelah penghancuran kekuatan yang disebut radikal atau bisa dibuat tidak efektif di lapangan sehingga pengaruhnya hilang. Ini telah ditetapkan yang sesuai estimasi mereka memiliki jangka waktu tiga tahun, tiap tahun 5.000 prajurit… Kunjungan Erdogan ke Saudi pada awal bulan ini dilakukan dalam konteks ini. Berbagai berita menyebutkan bahwa isu Suriah menjadi topik bahasan keduanya. Yang tampak adalah untuk koordinasi terkait dengan aktivitas memperkuat oposisi moderat dan mendukung pengganti mendatang yang akan dicalonkan oleh Amerika. Laman com pada 2/3/2015 mengutip dari sumber-sumber yang berada di bawah kepresidenan Turki “Bahwa Putra Mahkota Saudi, Salman bin Abdul Aziz, bertemu dengan presiden Turki, Recep Tayeb Erdogan, pada hari Senin (2/3/2015) di Istana kerajaan di ibu kota dan bahwa keduanya sepakat atas pentingnya meningkatkan dukungan yang diberikan kepada oposisi Suriah yang bisa memberikan hasil yang nyata”. Artinya, kedua negara ini, Saudi Salman dan Turki Erdogan yang sama-sama loyal kepada Amerika, ingin menyukseskan ide oposisi moderat. Lalu tampak keduanya akan berkoordinasi satu sama lain dengan segenap kemampuan untuk mencapai hasil yang nyata, bukan seperti yang terjadi pada Koalisi Suriah yang mana tidak merealisasi hasil-hasil yang nyata. Jadi taruhannya sekarang pada pengadaan kekuatan ini. Sebab keduanya bersama Amerika telah berpandangan bahwa tanpa pengadaan kekuatan yang bisa mengontrol lapangan dan mengklaim bahwa kekuatan itu merepresentasikan revolusi, maka mereka tidak akan mencapai hasil-hasil nyata dan mereka akan gagal. Berikutnya, barulah datang topik penawaran pengganti dan dilakukan negosiasi dan konferensi berdasarkan seperti Jenewa.

Diantara sarana-sarana Amerika untuk mengakhiri pengaruh pemberontak yang mendominasi lapangan saat ini adalah dengan gencatan senjata untuk memberi kesempatan bagi pelatihan pasukan yang dipilih oleh Amerika agar mampu mengalahkan kekuatan non moderat “ekstremis” dan menggantikannya. Pada waktu yang sama, gencatan senjata dengan rezim akan menyebabkan peperangan diantara faksi-faksi sendiri yang akan melemahkan mereka sehingga juga akan berkontribusi untuk bisa mengalahkan mereka nantinya. Karena itu, sesuai strategi Amerika harus terjadi gencatan senjata dengan sebutan pembekuan perang, sehingga bisa membentuk kekuatan moderat yang dilatih Amerika dan berikutnya memulai negosiasi antara rezim dan oposisi moderat. Strategi Amerika mengatakan demikian melalui lisan utusan PBB, De Mistura, yang pada dasarnya adalah utusan Amerika dan pengemban rencana Amerika. De Mistura setelah mengunjungi Damaskus selama dua hari mengatakan, “Presiden Asad merupakan bagian dari solusi. Dan saya akan melanjutkan diskusi penting dengannya. Ia tetap presiden Suriah… Di sana juga ada pemerintahan Suriah dan bagian besar dari Suriah masih di bawah kontrolnya”. Ia juga mengatakan, “Satu-satunya solusi adalah solusi politik dan bahwa pihak yang mengambil manfaat dari situasi tidak adanya perjanjian adalah ISIS”. (AFP, 13/2/2015) Jadi Amerika melalui lisan, De Mistura, mengakui Bashar Asad sebagai presiden dan ingin melakukan negosiasi-negosiasi dengannya dan menjadikan penyelesaiannya adalah secara politis. Karena itu, Amerika ingin menghentikan perang melawan anteknya, Bashar. Ini menunjukkan bahwa Amerika setelah melakukan negosiasi-negosiasi di bawah kekuatan yang dilatihnya, akan menentukan nasib Bashar dan bukan sekarang. Jadi Amerika tidak ingin menjatuhkan Bashar sebelum bisa menghentikan perang dan menjadikan kekuatan moderat yang berafiliasi padanya mengontrol lapangan, dan berikutnya Amerika menawarkan pengganti dan memulai negosiasi-negosiasi kembali antara pihak rezim dan pihak oposisi moderat.
Ringkasnya, kita tidak bisa mengatakan bahwa pengganti telah siap dan bahwa hari-hari Bashar telah dibatasi. Akan tetapi yang tampak bahwa Bashar akan tetap bertahan pada tahapan ini sampai
Amerika memulai negosiasi kembali dan terjadilah perjanjian atas formulasi situasi. Kekuatan moderat yang disiapkan Amerika tidak akan siap dalam jangka pendek, akan tetapi akan perlu waktu minimal setahun, yakni setelah berakhir tahap pertama dengan melatih 5.000 prajurit… Dan Amerika bekerja untuk menghentikan perang sehingga kekuatan moderat ini siap untuk berada di lapangan di dalam negeri dan memulai aktivitasnya dengan menyibukkan gerakan-gerakan yang dinilai radikal. Setelah itu dilanjutkanlah negosiasi antara antek-anteknya di dalam rezim dan di dalam oposisi moderat. Lalu berikutnya dimulai penyodoran pengganti dan pembentukan pemerintahan dari kedua pihak dan dilakukan pengaturan-pengaturan untuk itu.

Inilah apa yang direncanakan Amerika, para pengikut dan sekutunya. Dan inilah konspirasi yang disusun dan dilakukannya… Akan tetapi Allah memiliki tokoh-tokoh yang menyambung siang dengan malam mereka. Mereka mukhlis karena Allah SWT, yakin kepada Rasulullah saw. Mereka bersungguh-sungguh dan mengerahkan segenap kesungguhan untuk merealisasi janji Allah SWT dan kabar gembira Rasul-Nya saw dengan tegaknya al-Khilafah ar-Rasyidah setelah kekuasaan diktator yang sedang kita jalani… Ketika itu konspirasi dan tipu daya mereka akan sia-sia belaka.

﴿وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ﴾

“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (TQS Ibrahim [14]: 46)

22 Jumadul Ula 1436 H
13 Maret 2015 M
http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php/contents/entry_45053

Jabhah Nusrah memprakarsai serangan preemptive di Jarud Qalamun pada saat Hizbullah diberitakan akan melancarkan pertempuran di wilayah tersebut dalam waktu dekat. Serangan mendadak itu diluncurkan pada Senin, 4 Mei 2015.

Sebelumnya telah beredar kabar bahwa Syiah Hizbullah Lebanon akan menyerang Qalamun untuk membalas pejabat tinggi mereka yang telah tewas di Damaskus, seperti dilansir Orient News. Namun, sebelum menyerang, Kelompok Syiah dari Lembah Beka Lebanon itu digempur duluan oleh Jabhah Nusrah.

qalamun_perbatasan_lebanon

Serangan di Qalamun, utara Damaskus itu merupakan serangan mendahului rezim dan sekutunya yang berencana segera menyerang di wilayah tersebut.

Media Lebanon yang dekat dengan Hizbullah, sebelum serangan itu telah melaporkan rencana pasukan Basyar dan milisi Syiah Hizbullah untuk meluncurkan serangan besar ke Qalamun. Targetnya adalah menyerang pertemuan para pejuang di Jarrud Qalamun untuk mencegah jalur mereka ke Lebanon melalui kota Arsal di perbatasan atau masuk ke Damaskus.

Qalamun merupakan wilayah strategis. Pertempuran antara pejuang Islam dan tentara rezim telah berlangsung sejak awal 2014. Rezim dibantu oleh milisi Syiah dari Lebanon, Irak dan negara-negara lain berupaya merebutnya dari oposisi. Sebab, perkumpulan kelompok Islam dan pasukan oposisi di wilayah ini akan membuka jalur serangan ke Damaskus dan kantong-kantong Syiah Hizbullah di Lebanon.

Belakangan ini, militer Suriah telah mengalami sederetan kekalahan dari kelompok oposisi yang kembali memperoleh energi mereka. Pihak militer saat ini sedang berjuang untuk mengisi kekosongan personil di barisan pasukannya. Pasalnya, keluarga-keluarga Suriah yang pro-pemerintah sekalipun, ramai-ramai menolak pengiriman anak-anak mereka ke unit-unit tempur di garis depan. Keluarga-keluarga itu beralasan karena anak-anak mereka tidak dilengkapi dengan senjata yang memadai.

suriah_peta

Perkembangan situasi ini menimbulkan pertanyaan berapa lama lagi rezim Presiden Bashar Assad akan mampu bertahan?

“Grafik kemajuan rezim Assad cenderung menurun dan akan menjadi lebih buruk,” kata seorang pejabat senior AS di Washington yang berbicara dengan kondisi anonim saat mendiskusikan dokumen rahasia penilaian intelijen. Namun demikian, ia memperingatkan bahwa banyak hal belum mencapai fase “titik didih”.

Menurunnya kekuatan militer rezim Bashar Assad memaksa pemerintah untuk lebih mengandalkan para milisi pendukung mereka baik yang berasal dari Suriah maupun asing terutama Hizbullah, sebuah kelompok Syiah Lebanon yang bersekutu dengan Iran.

Menurut informasi sejumlah tentara Suriah, dan juga keterangan pejabat senior AS dan Suriah yang mempunyai hubungan dekat dengan upaya stabilisasi dan keamanan, saat ini, Syiah Hizbullah banyak memimpin dan bahkan mengendalikan langsung pertempuran di berbagai tempat yang membuat marah sejumlah perwira Suriah. Kebanyakan orang-orang Suriah yang diwawancarai meminta untuk dirahasiakan namanya karena khawatir terhadap ancaman atas diri mereka.

Pada bulan ini, pasukan pemerintah mengalami kekalahan telak serta melarikan diri dari area-area pertempuran yang selama ini dianggap oleh para pejabat pemerintah sebagai indikator kemampuan negara (rezim) untuk melakukan pertahanan.

Pejuang oposisi telah mengambil alih propinsi dan Kota Idlib, ibukota propinsi di wilayah utara, dan juga menguasai sepanjang garis perbatasan dengan Yordania di wilayah selatan. Upaya kontra-ofensif oleh rezim telah gagal, dan kemajuan oposisi yang terjadi pada minggu ini mendorong koalisi antar mereka yang semakin kohesif menjadi lebih dekat ke kantong-kantong pertahanan rezim di wilayah pesisir barat yang menghadap laut Mediterania. Koalisi tersebut terutama terdiri dari kelompok-kelompok Islamis termasuk JN (Jabhah Nusrah) yang merupakan afiliasi al-Qaidah di Suriah.

Tekanan untuk Assad

Di seluruh wilayah negeri ditemukan banyak indikasi yang memberi tekanan terhadap pemerintah, namun kondisi itu sangat kontras dengan kepercayaan diri Assad yang ditampilkan di depan publik. Baru-baru ini, pemerintah memecat dua orang kepala badan intelijen dari empat badan intelijen yang ada, setelah kedua kepala intelijen tersebut saling berseteru, akhirnya salah satu kepala intelijen itu tewas oleh pengawal kepala intelijen rivalnya.

Para pejabat di ibukota propinsi seperti Aleppo dan Dara’a sebelumnya juga telah membuat rencana untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan dengan cara menyimpan uang tunai dan barang-barang antik serta mengevakuasi warga sipil. Cadangan devisa yang mencapai $30 milyar di awal perang, kini telah menyusut hanya sekitar $1 milyar.

Kericuhan yang sudah terjadi saat ini di propinsi wilayah pesisir adalah ketegangan antara penduduk setempat dan pejabat lokal dengan para pendatang baru dari Idlib. Beberapa orang mengatakan para pejabat telah mengusir mereka.

Di Damaskus tengah, pos-pos checkpoint menjadi lebih sedikit dengan jumlah staf yang semakin berkurang. Sementara para milisi pro-rezim banyak yang dikirim untuk berperang di daerah pinggiran karena para pemuda banyak yang menghindar dari tugas militer.

Bahkan di beberapa area yang dihuni oleh minoritas seperti sekte Druse di selatan, Kristen Assyria di utara, dan Ismailiyah di Hama. Mereka khawatir terhadap kelompok Islamis seperti JN dan ISIS, dan banyak dari mereka yang mengirim anak-anak laki-laki mereka ke luar negeri untuk menghindari wajib militer, atau tetap membiarkan anak-anak itu supaya bisa menjaga keamanan desa-desa mereka.

Hal itu mempercepat transformasi pada pasukan rezim Suriah yang tadinya ter-sentralisasi berubah pola menjadi seperti kelompok oposisi yang terdiri dari gabungan antara pejuang lokal dan asing yang memiliki prioritas dan kepentingan yang tidak selalu sama.

Kehilangan Kedaulatan

Menurut sumber pejabat senior AS di Washington, empat tahun lalu tentara Suriah berjumlah sekira 250.000 orang. Dan sekarang, karena berbagai sebab seperti telah menjadi korban perang ataupun desersi, jumlah mereka menjadi sekitar 125.000 orang tentara reguler, ditambah 125.000 anggota milisi pro-pemerintah termasuk para milisi yang berasal dari Iraq, Pakistan, dan Hazara Afghanistan yang dilatih oleh Iran. Namun, militer Suriah tidak selalu memikul tanggung jawab pertempuran, terutama saat Syiah Hizbullah sebagai kelompok milisi asing yang memiliki pelatihan dan persenjataan terbaik ikut terlibat.

“Di setiap tempat yang ada Hizbullah, komando berada di tangan mereka,” kata anggota keamanan Suriah. Ia melanjutkan, “Jika anda mau melakukan sesuatu, anda harus meminta izin dulu kepada mereka”.

Hal itu, katanya, menimbulkan rasa sakit hati di kalangan para pejabat senior bidang keamanan, mengingat bahwa di era Hafiz Assad (ayah Bashar Assad) kelompok Hizbullah pendukung Iran tersebut hanya sebagai sekutu junior bagi Suriah.

Menurut pejabat senior AS, para pejabat Amerika kini sedang mencoba mengotak-atik segala kemungkinan bagaimana memanfaatkan hasil akhir ketegangan antara para komandan militer Suriah dengan kelompok Hizbullah.

Menanggapi hal itu, seorang pejabat lokal simpatisan Hizbullah berkilah bahwa musuh-musuh mereka sedang berusaha memanfaatkan ketegangan yang terjadi antar kelompok yang saling bersekutu, dan juga antar saudara sendiri di rumah yang sama. Tapi, menurutnya hal itu tidak akan berhasil. “Bahkan jika Hizbullah bertempur sendirian, warga Suriah akan setuju”, kata pejabat tersebut dengan kondisi anonim saat berdiskusi masalah internal mereka.

Ia mengumpamakan, ”Hizbullah adalah satu-satunya batu yang akan menolong untuk membangun rumah”.

Tetapi beberapa pihak lainnya melihat kedaulatan Suriah telah jatuh ke tangan Iran. Iran membutuhkan Suriah sebagai saluran untuk mempersenjatai Hizbullah. Seorang ahli masalah Suriah, Charles Lister di The Brookings Doha Center di Doha mengatakan bahwa Iran yang dibantu oleh Hizbullah dan para milisi lainnya sedang mendirikan negara di dalam negara (Suriah) sebagai kebijakan jaminan untuk melindungi dirinya dalam menghadapi kemungkinan kejatuhan rezim Assad di masa datang.

Ali, seorang prajurit berusia 23 tahun yang sedang cuti di Damaskus setelah bertempur di front selatan mengatakan bahwa salah satu komandannya seorang perwira berpangkat mayor mengeluhkan betapa setiap pejuang Hizbullah apapun posisinya dianggap lebih penting daripada seorang jenderal Suriah.

Lalu, ada kecemburuan di antara mereka ketika para pejuang Hizbullah dibayar dengan dolar sementara tentara Suriah dibayar dengan uang Suriah yang nilainya sudah anjlok. Milisi Hizbullah difasilitasi dengan mobil-mobil baru beserta daging dan beras, sementara tentara Suriah cuma diberikan truk-truk buatan Rusia yang sudah penyok beserta roti yang sudah basi.

Seorang mahasiswa yang baru-baru ini meninggalkan Damaskus mengatakan bahwa Hizbullah saat ini menguasai daerah sekitar di area Kota Tua. Ia bercerita, Syiah Hizbullah juga pernah membantu masalah yang terjadi antara saudaranya dengan pasukan keamanan. Di sepanjang perjalanan, mahasiswa itu selalu ditanya di setiap pos checkpoint untuk membuktikan bahwa dirinya bukan seorang desertir. Polisi juga terlihat semakin jarang sehingga banyak warga yang secara terbuka mengisap ganja.

Ia berkata, “Jika anda punya koneksi dengan Hizbullah, masalah anda akan mudah diselesaikan”. Mahasiswa itu tak mau menyebutkan identitas aslinya dan mengaku bernama Hamed al-Adem untuk melindungi anggota keluarganya yang masih berada di Damaskus.

Meskipun demikian, Hizbullah juga bukan dalam posisi untuk membantu Bashar Assad saat mereka mengirim ratusan pejuangnya menyerang basis mujahidin di Qusayr pada tahun 2013.

Menurut para pejabat intelijen Amerika, saat ini Hizbullah punya lebih banyak petempur dan penasehat di Suriah daripada sebelumnya, yaitu sebanyak 5.000 orang. Tetapi, menurut keterangan anggota keamanan Suriah itu bahwa Hizbullah hanya terlibat di beberapa area yang terkait dengan kepentingan mereka saja.

Pejabat simpatisan Hizbullah itu mengatakan mungkin Hizbullah memiliki ribuan pejuang di sepanjang perbatasan dengan Lebanon, ratusan pejuang di selatan yang berbatasan dengan Israel, dan hanya ada beberapa lusin yang tersebar di sekitar Aleppo. Di Kota Idlib mereka tidak punya pejuang, dan diperkirakan kota itu akan jatuh karena para perwira militer Suriah salah perhitungan.

Anggota keamanan Suriah itu menjelaskan bahwa para pemimpin mereka tidak punya prioritas untuk mempertahankan Idlib. Banyak tentara pemerintah yang melarikan diri setelah pejuang oposisi dan mujahidin menghancurkan jaringan komunikasi mereka, lalu kemudian meneriakkan “Allahu Akbar” di masjid-masjid.

“Damaskus dan wilayah pesisir Suriah, dan wilayah-wilayah lainnya dianggap tidak ada yang penting,” ujarnya saat menilai kepemimpinan Assad, “Ia tidak peduli meskipun seandainya Suriah ini hancur.”

Wajib Militer

Seorang tentara yang sudah lama berdinas mengatakan bahwa saudara sepupunya menelpon ibunya dari dalam parit-parit perlindungan untuk mengucapkan selamat tinggal. Tentara tersebut yang juga kehilangan paman dan sepupunya dalam pertempuran sangat marah saat mendengar ada 10 orang di sana yang ditembaki karena minimnya kendaraan untuk membawa mereka.

“Jika saya punya anak, saya tidak akan mengirimnya menjadi tentara”, katanya mengeluhkan gajinya yang hanya bisa untuk menutupi kebutuhan sepuluh hari. Lanjutnya,”Kenapa harus terbunuh atau disembelih?”

Di Suweida yang dihuni oleh sekte Druse yang pro-pemerintah, Abu Tayem seorang aktifis Druse mengatakan,”Di setiap rumah paling tidak ada satu orang laki-laki yang dicari untuk mengikuti wajib militer”.

Pekan lalu, ia mengatakan, setelah salah seorang temannya ditangkap karena menghindari wajib militer, para penduduk lalu menyerang para perwira militer dan menangkap salah seorang dari mereka untuk kemudian ditukar dengan tahanan temannya itu. Pada saat ini, pemerintah berusaha merekrut pasukan Druse untuk dilatih Hizbullah, tetapi sebagian mundur setelah mendengar kabar bahwa mereka akan diminta untuk memerangi orang-orang Sunni di wilayah tetangga di Dara’a.

Fayez Korko, seorang pria berusia 48 tahun mengatakan ia membantu mengorganisir milisi Assyiria di wilayah timur laut setelah para penduduk desa menyimpulkan bahwa janji pemerintah untuk melindungi mereka hanyalah omong kosong. Ia menyebut pemerintah dengan sebutan “yang terbaik di antara yang paling buruk”, namun ia mengatakan bahwa orang-orang Assyiria memilih mati mempertahankan desa-desa mereka ketimbang mati di front yang lebih jauh.

Peristiwa seperti jatuhnya Idlib, bagi anggota keamanan Suriah tersebut merupakan sesuatu yang membuat frustrasi bahkan bagi kalangan pendukung utama pemerintah, yaitu kelompok minoritas Alawiyyin yang juga merupakan sekte Assad sendiri. Padahal, selama ini mereka memiliki peran sangat tidak wajar dalam dinas kemiliteran pemerintah.

Kini, mereka mulai meragukan kemampuan Assad untuk melindungi mereka, sementara selama ini mereka telah bertaruh dengan mendekat ke rezim untuk mempertahankan eksistensi mereka. Demikian menurut seorang anggota sekte Syiah Alawiyyin (Nushairiyyah). Lalu ia melanjutkan pernyataannya tentang Bashar Assad,”Suriah itu bukan anda, dan anda bukan Suriah.”

( Sumber: Newyork Times / Kiblat.net )

Lembaga pengawas HAM Suriah, Kamis (30/04), melaporkan pejuang mengepung puluhan tentara yang masih terjebak di sebuah bangunan di pinggiran kota Jisr Ash-Shughur, pedesaan Idlib. Mujahidin terus berusaha melumpuhkan sisa tentara Suriah di kota strategis itu.

Menurut laporan pengawas HAM, seperti dinukil Al-Jazeera dari kantor berita Prancis, jumlah mereka lebih dari 150 tentara. Mereka bersembunyi di dalam gedung bertingkat milik rumah sakit pemerintah di barat daya Jisr Ash-Shughur ketika mujahidin berhasil masuk ke kota itu.

Koalisi mujahidin Jaisy Fath mencoba beberapa kali memasuki gedung itu. Namun upaya itu belum mampu melumpuhkan puluhan tentara yang terpojok itu.



Pengawas HAM menunjukkan, pejuang Rabu lalu (29/04) kembali menyerbu gedung itu. Pertempuran sengit terjadi. Belum diketahui hasil akhir dari pertempuran tersebut.

Pejuang Suriah sebelumnya menawan puluhan tentara rezim di sejumlah gedung di sekitarnya dan tempat lain di Jisr Ash-Shughur. Menurut pengawas HAM, jumlah mereka mencapai seratus tentara.

Mujahidin merebut kota Jisr Ash-Shughur Sabtu lalu. Dibutuhkan waktu tiga hari untuk bisa melumpuhkan tentara rezim di kota strategis tersebut.

Para pengamat mengatakan, jatuhnya kota Jisr Ash-Shughur ke tangan pejuang menjadi pukulan besar bagi rezim. Pasalnya, kemenangan itu memungkinkan pejuang Suriah membuka serangan ke provinsi Latakia, basis utama pendukung Bashar Assad.

Sumber: Al-Jazeera

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget