Halloween Costume ideas 2015
10/09/14

Seorang mantan perwira intelijen Prancis yang membelot ke Al-Qaeda merupakan salah satu target dari gelombang pertama serangan udara AS di Suriah bulan lalu, menurut orang-orang yang akrab dengan Jabhah Nusrah dan identitas pembelot itu.

Dua pejabat intelijen Eropa menggambarkan mantan perwira Perancis itu sebagai pembelot yang berperingkat tertinggi yang pernah bergabung dengan kelompok mujahidin dan menyebut pembelotan itu adalah salah satu perkembangan yang paling berbahaya dalam konfrontasi panjang antara Barat dengan Al-Qaeda.
intelegen jn

Identitas petugas sangat rahasia dan dijaga ketat. Kedua pejabat intelijen memberikan nama yang sama, namun masih menunggu konfirmasi lebih lanjut. Semua sumber sepakat bahwa mantan perwira Perancis adalah salah satu orang yang ditargetkan ketika Amerika Serikat menyerang delapan lokasi yang diduduki oleh mujahidin Jabhah Nusrah. Mantan perwira berhasil selamat dari serangan, termasuk serangan oleh 47 rudal jelajah.

Para pejabat intelijen Eropa mengatakan mantan perwira itu telah membelot dari intelijen militer Perancis atau dari badan intelijen luar negeri Perancis, Direktorat Jenderal Keamanan Luar Negeri, yang dikenal dengan singkatan bahasa Perancis sebagai DGSE.

Mantan perwira, menurut salah satu sumber, adalah seorang ahli bahan peledak yang berjihad di Afghanistan dan di Suriah bersama Al-Qaeda dan telah mengumpulkan sekelompok yang berjumlah sekitar lima orang yang beroperasi dari sebuah masjid di Idlib.

Mantan Perwira Perancis itu "masih hidup dan beroperasi" setelah serangan udara AS, kata seorang pejabat intelijen Eropa, yang menggambarkan pria itu sebagai seorang yang "sangat terlatih dalam intelijen Barat, perdagangan senjata dan bahan peledak. Kombinasi pelatihan intelijen Barat dan berpaham jihad membuatnya menjadi salah satu yang paling berbahaya dari Al-Qaeda," kata pejabat intelijen itu.

Empat agen intelijen Eropa dari berbagai negara telah mengkonfirmasi keberadaan mantan agen Perancis tersebut. Namun semua menolak untuk berbicara lebih lanjut karena begitu sensitifnya informasi tersebut dan karena mereka takut dituntut secara pidana di negara asal mereka untuk mengungkapkan informasi rahasia. Salah satunya menyebut keberadaan mantan agen Perancis itu merupakan "rahasia tingkat tinggi."

"Aku agak terkejut aku bahkan sedang melakukan pembicaraan ini," katanya.

"Kami tidak tahu apakah dia merupakan agen atau radikal setelah ia bergabung dengan intelijen," kata pejabat intelijen Eropa lain yang akrab dengan latar belakang pria itu. "Saya menganggap rekan-rekan saya bekerja keras untuk menentukan itu dan jika mereka telah menemukan jawabannya, mereka pasti akan merahasiakannya bagaimana mereka menyelesaikan kekacauan ini, seperti yang Anda ketahui, yang mereka temukan agak memalukan."

Dua sumber intelijen Eropa mengetahui nama pria itu, tetapi meminta agar tidak dipublikasikan – salah satu intelijen mengatakan bisa saja terjadi kekerasan terhadap keluarga pria itu di Prancis.

Ketika dihubungi untuk memberikan komentar mengenai situasi tersebut, seorang pejabat intelijen AS menolak untuk memberikan informasi apapun.

Tiga upaya untuk membahas masalah ini dengan dinas intelijen Perancis ditolak. "Saya tidak berhak untuk membahas masalah ini" hanya itu jawabannya.

Seorang pejabat Eropa yang akrab dengan kasus ini mengatakan kebingungan mengenai data pria itu – yang digambarkan bergantian sebagai Pasukan Khusus Perancis, dan intelijen militer atau DGSE – mungkin berasal dari proses peralihan di mana pria itu bergerak di antara cabang-cabang pemerintahan secara teratur.

"Kedengarannya mungkin ia mulai karirnya di militer Perancis dan mungkin karena latar belakang keluarga Arab dan penampilannya, kemampuan bahasa dan kompetensi tingkat tinggi, ia kemudian dipindahkan ke aspek yang berbeda dari intelijen Perancis," kata pejabat Eropa itu. "Semua melakukan itu sepanjang waktu," katanya, mengutip contoh anggota Komando Operasi Khusus (SOC) dari militer AS, yang ditugaskan untuk CIA. (zw)

Jaish alMujahidin melancarkan serangan pada Rabu (8/10/2014) dengan menembakkan "meriam jahannam" pada sebuah bangunan di Kota Tua Aleppo selama pertempuran dengan pasukan Assad.




Menurut Kantor Informasi Jaish alMujahidin serangan tersebut berhasil menewaskan sembilan pasukan Assad, termasuk seorang perwira dengan pangkat kapten yang dijuluki "Nazi" dari Tortous.

Kelompok mujahidin Jabhah Nusrah telah membuat kemajuan pesat di wilayah Qalamoun, menimbulkan kekalahan memalukan pada tentara rezim dan milisi Hizbullah selama dua hari terakhir dengan korban tewas meningkat menjadi puluhan.

qolamun

Aktivis mengatakan mujahidin telah menguasai pertahanan rezim di Assal Ward, kota strategis di perbatasan Suriah-Lebanon, juga salah satu milisi Hizbullat ditahan, sumber mengatakan kepada Zaman Al-Wasl.

Dua puluh empat jam terakhir setelah serangan di gunung Brital, Jabhah Nusrah merilis video yang menunjukkan berbagai tahap operasi militer yang menargetkan posisi Hizbullah di luar Brital, tidak jauh dari kota Baalbek.



Pada tanggal 5 Oktober, bentrokan pecah di Bekaa sisi Gunung Lebanon Barat, dan melibatkan setidaknya empat posisi. Kali ini, bentrokan yang relatif jauh dari Arsal. Para mujahidin datang dari daerah Assal Al-Ward, Suriah, menyeberangi perbatasan dan menembus beberapa kilometer ke wilayah Lebanon sebelum menyiapkan artileri. Selanjutnya sekelompok mujahidin menyusup ke posisi Hizbullah, yang berfungsi sebagai pemantau, selanjutnya mujahidin melakukan serangan gerilya klasik dan akhirnya berhasil mengambil alih posisi tersebut, membunuh milisi Hizbullah di dalamnya, dan kemudian menyita amunisi dan kembali ke gunung sekali lagi, demikian berita menurut NOW.

Hizbullah kemudian mengumumkan bahwa delapan anggotanya tewas; kebanyakan dari mereka dari Bekaa, daerah dekat lokasi bentrokan itu, sementara Jabhah Nusrah mengatakan telah menewaskan 11 anggota Hizbullah dan mengumumkan gugurnya salah satu mujahid.

Saat ini Hizbullah hidup dalam mimpi buruk setelah diserang oleh kelompok-kelompok kecil dari mujahid, tidak lebih besar dari dua peleton, atau 50 anggota. Mereka membunuh, melukai dan menyita persenjataan Hizbullah dan kemudian mundur. Lebih buruk dari itu, mujahidin juga berhasil memfilmkan bagian dalam lokasi yang berhasil dikuasai dan rudal TOW yang disita dari Hizbullah; sesuatu yang tak pernah disangka oleh Milisi Hizbullah. (Zaman Al-Wasl)

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget