Halloween Costume ideas 2015
07/19/14

Pada bagian 2 dari wawancara eksklusif dengan wartawan Bilal Abdul Karim yang menghabiskan dua tahun meliput perang Suriah, Dilly Hussain ingin mengetahui bagaimana reaksi dan tanggapan rakyat Suriah terhadap mujahidin asing, peran ISIS dalam pertikaian antara mujahidin, masa depan Suriah dan dunia Arab.

Bilal Abdul Karim


DH: Menurut Anda, kenapa begitu banyak pejuang asing yang berdatangan ke Suriah untuk berjihad dibandingkan dengan konflik lain yang pernah terjadi atau sedang terjadi di dunia Islam?

BAK: Suriah atau Sham lebih dikenal karena memiliki tempat khusus dalam Islam. Selain itu, adalah konflik yang mudah diakses melalui negara-negara tetangga.

DH: Bagaimana perasaan rakyat Suriah dan pejuang lokal mengenai pejuang asing yang bergabung dalam perang melawan Assad? Apakah pejuang asing benar-benar membantu atau hanya memicu api peperangan?

BAK: Pada awalnya, rakyat Suriah mencintai dan menyambut pejuang asing. Banyak pejuang asing yang menetap dan menikah dengan wanita Suriah. Ini adalah menunjukkan seberapa dekat hubungan antara rakyat Suriah dan pejuang asing. Mereka makan di satu meja dan minum dari cangkir yang sama. Saat itu posisi Rezim mulai terdesak. Persatuan antara pejuang asing dan lokal sangat kuat dan hasilnya sangat terlihat. Pertempuran di mana sebagian besar wilayah itu berhasil dibebaskan dari rezim menunjukkan bahwa pejuang asing adalah merupakan pejuang yang paling hebat dan berani di antara semua pejuang. Ini bukan berarti pejuang lokal tidak bertempur dengan hebat, akan tetapi keinginan kelompok pejuang asing untuk membebaskan Suriah dari rezim Assad sekuat keinginan pejuang Suriah, dan mereka pejuang asing juga sangat-sangat menginginkan syahid. Kelompok Jabhah Nusrah terdiri dari banyak pejuang asing tapi tidak semuanya. Kelompok Jabhah Nusrah jauh lebih dicintai oleh para pejuang revolusi Suriah daripada kelompok FSA itu sendiri.

Kemudian terjadilah deklarasi sepihak dari ISIS. Mereka bertikai dengan Jabhah Nusrah. Mereka mengklaim wilayah yang tidak dibebaskan oleh mereka namun mengklaim wilayah itu sebagai milik mereka. Tentu saja pejuang Suriah yang telah ikut membebaskan wilayah itu dari pasukan rezim menggerutu tentang hal itu.

Banyak anggota ISIS tidak melihat mayoritas rakyat Suriah sebagai Muslim dan karena itu mereka mulai memperlakukan mereka sebagai warga kelas dua. Saya tidak mengatakan ISIS sebagai kelompok takfiri, tetapi banyak dari anggota ISIS bermanhaj takfiri, bukan karena mereka tidak berakhlaq namun karena kurangnya pengetahuan Islam mereka. Hal ini menyebabkan gesekan utama antara pejuang ISIS dan penduduk lokal Suriah pada umumnya termasuk kelompok pejuang revolusi Suriah. kelompok ISIS terdiri dari hampir semua pejuang asing yang dianggap sebagai penjajah bukan pembebas di wilayah-wilayah yang mereka kuasai.

ISIS memulai serangkaian penculikan dan pembunuhan terhadap komandan kelompok lain seperti Dr Hussein Sulaiman dari Ahrar Al-Sham dan ketika dikembalikan tubuhnya penuh dengan bekas siksaan. Mereka juga mengeksekusi komandan Jabhah Nusrah, Al Hadhrami setelah menculik dia. Hal ini kemudian mengubah opini publik terhadap pejuang asing. Semua pejuang asing harus membayar harga karena tindakan ISIS tersebut. Ini menghambat proses revolusi dan sejak itu revolusi mengalami kemunduran.

DH: Beritahu kami tentang beberapa kelompok revolusi yang pernah berhubungan dengan Anda ?:

FSA (Free Syrian Army)
BAK: Banyak yang tidak menyadari bahwa sekelompok besar orang-orang yang berperang di bawah bendera FSA juga menginginkan pemerintahan Islam. Dan beberapa menginginkan demokrasi, tetapi tidak banyak. Saya tidak setuju dengan mereka yang melukiskan gambaran lengkap bahwa FSA sepenuhnya merupakan pendukung demokrasi.

Jabhah Islamiyyah
BAK: Kelompok ini melakukan sesuatu yang kelompok lain tidak mampu lakukan pada waktu itu. Mereka menyatukan kelompok-kelompok mujahidin menjadi satu dan membuat mereka menjadi federasi dan kekuatan tempur yang kuat. Kelompok ini bercita-cita untuk membangun sebuah pemerintahan Islam juga, tapi menggunakan taktik yang lebih lembut dan bersahabat daripada ISIS karena mereka tampaknya memiliki pemahaman yang lebih baik. Abu Essa, Hassan Abboud, dan petinggi lainnya dalam kelompok ini mungkin sudah mulai melakukan penyatuan yang mungkin akan menunjukkan hasil yang signifikan di masa depan.

Jabhah Nusrah
BAK: Jabhat al-Nusra mendominasi Suriah dengan minoritas pejuang asing. Mereka adalah afiliasi Al-Qaeda. Mereka tampaknya sangat fokus pada konflik Suriah. Pemimpin mereka, Syaikh Abu Muhammad Al Jawlani telah sangat sukses menjaga para pejuangnya untuk tetap fokus pada perang Suriah. Pejuang mereka ditakuti di seluruh Suriah, dan kemudian datanglah perpecahan sehingga banyak pejuang dan senjata berpindah ke ISIS. Saat ini mereka sedang merencanakan untuk mendirikan Imarah Islam di wilayah Suriah, yang berbeda dengan kekhalifahan. Kami akan menunggu dan melihat apakah ia akan berhasil atau tidak.

ISIS
BAK: Tentang mereka telah saya jawab di pertanyaan sebelumnya dan kembali akan saya singgung di pertanyaan selanjutnya.

Dewan Nasional Suriah (SNC)
BAK: Mereka ini dianggap sebagai agen Barat dan tidak ada yang benar-benar berbicara tentang mereka di dalam wilayah Suriah. Mereka kadang disebutkan ketika ada konferensi besar di Turki atau Jenewa, namun di luar itu saya jarang mendengar orang berbicara tentang mereka. Basis kekuatan SNC di dalam wilayah Suriah sangat sedikit sekali bahkan hampir tidak ada. Mereka berusaha masuk ke dalam peran kepemimpinan dan kekuasaan di wilayah Suriah, namun percobaan mereka tidak berhasil.

DH: Apa peran yang dimainkan oleh partai politik Islam seperti Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir dalam memberi bimbingan politik dan pengarahan kepada para pejuang?

BAK: Mereka belum terlalu berpengaruh. Hizbut Tahrir memang hadir di beberapa daerah di Suriah, tetapi pengaruh mereka belum signifikan.

DH: Selain Jabhah Nusrah dan ISIS, apakan Muslim Suriah menginginkan diatur dalam sistem kekhalifahan yang berlandaskan syariah Islam?

BAK: Penduduk Suriah terdiri dari dua jenis: Tipe orang yang melihat bahwa sistem Islam adalah salah satu sistem yang akan memberikan mereka alternatif dibandingkan sistem pemerintahan yang telah menindas mereka selama puluhan tahun dan mereka mendukung itu. Tipe kedua adalah tipe orang yang benar-benar tidak peduli apapun sistemnya. Mereka hanya ingin konflik itu berakhir dan kembali ke rumah.

BAK: Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, penduduk Suriah mencintai Jabhah Nusrah dan Jabhah Islamiyyah. Sementara Jabhah Nusrah adalah cabang Al Qaeda, dan Jabhah Islamiyyah tidak, tapi penduduk Suriah mencintai keduanya. Mereka bergaul dengan sangat baik dan berjuang bersama satu sama lain secara efektif. Jadi rakyat Suriah tidak melihat hal-hal dalam konteks yang sama seperti dipropagandakan oleh Barat, yang selalu menjelekkan Al Qaeda. Namun, jelas bahwa penduduk Suriah membenci ISIS. Bahkan jika ISIS datang untuk memerintah suatu daerah, orang-orang dari daerah itu tidak merasa aman. Aman dari tindak kejahatan biasa? Mungkin ya. Aman dari pihak berwenang ISIS? Tidak, mereka tidak merasa bahwa kehidupan mereka semakin membaik berada di bawah pemerintahan ISIS.

DH: Seberapa dekat keberhasilan kelompok revolusi dalam menggulingkan Assad?

BAK: Sulit untuk mengatakannya, karena untuk sementara, saya tidak bisa melihat seluruh lapangan pertempuran di dalam negeri Suriah. Namun, pada awal 2013, saya sempat merasakan kejatuhan rezim sudah dekat. Kemudian datanglah perpecahan yang disebabkan oleh ISIS, dan itu mengubah segalanya secara dramatis.

DH: Berapa besar pertikaian antara pejuang mempengaruhi revolusi Suriah?

BAK: Ini adalah bencana. ISIS mengkonsentrasikan pasukannya untuk memerangi Mujahidin. Hampir tidak ada pertempuran dengan pasukan rezim yang ISIS berpartisipasi di dalamnya. Jadi pasukan mujahidin dipaksa untuk melawan keduanya, rezim Assad dan ISIS. Hal ini melemahkan sumber daya perlawanan. Tampaknya Jabhah Nusrah, Jabhah Islamiyyah dan FSA dan kelompok lainnya akan bersatu melawan ISIS.

DH: Siapa yang harus disalahkan dalam pertikaian? Perpecahan antara Jabhah Nusrah dan ISIS, Al Qaeda atau hanya ISIS?

BAK: Seluruh pasukan pejuang revolusi berada di satu sisi dan bersatu dan ISIS berdiri di sisi lainnya, dan anehnya ISIS tidak merasa ada sesuatu yang salah. Koalisi pasukan Mujahidin memiliki satu masalah besar dengan ISIS (antara isu-isu lain) dan itu adalah penolakan ISIS untuk diadili dengan peradilan Islam yang independen untuk menyelesaikan perselisihan mereka. ISIS percaya bahwa mereka adalah negara dan dengan demikian tidak pantas menyelesaikan masalah dengan peradilan yang bukan dari kelompok mereka sendiri. Sedangkan koalisi mujahidin merasa bahwa cita-cita mereka adalah berjihad demi tegaknya Negara Islam dan agar syariah Islam menjadi penengah dalam semua urusan dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mendirikan dewan ulama independen untuk menyelesaikan perselisihan itu. Namun hal itu ditolak mentah-mentah oleh ISIS, membuat merasa bahwa mereka telah ditinggalkan dengan tidak ada pilihan lain kecuali melawan ISIS. Terjadi kebuntuan. Saya rasa banyak dari para mujahidin merasa bahwa kepemimpinan pusat Al Qaeda perlu berbuat lebih banyak untuk mengendalikan bawahan mereka yang bandel, dalam hal ini ini Abu Bakr al Baghdadi.

DH: Apa implikasi dari deklarasi Khilafah oleh ISIS terhadap revolusi Suriah dan dunia Muslim pada umumnya?

BAK: Deklarasi itu memiliki beberapa dampak di Suriah yaitu mengikisnya kelompok pejuang yang berkoalisi dengan Mujahidin. Namun Kelompok-kelompok yang menolak ISIS akan beradaptasi dengan konflik ini dan melanjutkan perlawanan mereka. Syaikh Hassan Abboud, salah satu pemimpin dari Jabhah Islamiyyah mengatakan bahwa mereka akan terus melanjutkan perjuangan untuk menyelamatkan rakyat Suriah dari segala bentuk penindasan apakah itu dari rezim Assad atau dari kelompok al Baghdadi.

Jabhah Nusrah beberapa hari yang lalu mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa: “Kami bertekad untuk menyatukan barisan dalam menghadapi bahaya yang mengancam front jihad di Sham, apakah ancaman ini berasal dari rezim Nushairiyyah atau dari kelompok Khawarij dan ekstrimis.” Saya melihat bahwa deklarasi dari ISIS membuat kelompok mujahidin lainnya berpikir bahwa ini akan menjadi potensi ancaman yang datang dari ISIS untuk mereka dan mereka akan mencoba untuk meningkatkan kerjasama dengan cara yang tidak pernah mereka lakukan di masa lalu.

DH: Apakah Anda percaya Khilafah yang dideklarasikan oleh al Baghdadi?

BAK: Pandangan pribadi saya adalah bahwa deklarasi “Khilafah” ini merupakan penghinaan terhadap umat Islam di Suriah, Irak, dan di seluruh dunia. Umat Islam bukanlah orang lemah dan bodoh. Dunia ini penuh dengan intelektual, dokter, sejarawan, ulama, dan orang-orang yang bersedia untuk membantu membangun Khilafah ala minhajin nubuwwah.

Bagaimana Abu Bakr al-Baghdadi dan pengikutnya berpikir bahwa dia bisa muncul begitu saja tanpa banyak kaum muslimin yang mengetahui dengan jelas siapa dirinya, dan seperti apa orangnya dan bahkan seperti apa visi dan misinya. Jika dia pikir orang akan menerima dia sebagai figur yang tidak diketahui maka itu berarti secara langsung mereka harus menerima siapa saja yang membuat klaim seperti klaim dirinya itu. Dia tidak diketahui bahkan oleh anggota kelompoknya sendiri. Tak seorang pun yang tahu seperti apa dia sampai dua minggu yang lalu.

Saya pikir jika ia benar-benar menghormati rakyatnya, maka ia akan lebih banyak memiliki rasa hormat untuk kecerdasan mereka. Tugas Khalifah adalah untuk menjaga kepentingan dan urusan umat, yang bisa dilakukan dalam kapasitas jauh lebih baik jika mereka yang diatur rela menerima Anda tanpa paksaan apapun dan dengan demikian mereka akan memberikan kepada Anda dukungan abadi mereka bahkan melalui masa-masa sulit. Apakah Baghdadi yang naif berpikir bahwa dengan mengangkat dirinya sebagai khalifah, lalu semua orang akan berkumpul di sisinya? Ini adalah pendapat saya.

DH: Apakah Anda pernah mengunjungi atau tinggal di ar-Raqqah atau daerah manapun di bawah kendali ISIS?

BAK: Aku sudah di banyak mengunjungi daerah di bawah kendali mereka, tetapi tidak pernah ke Raqqah. Daerah ISIS adalah wilayah di mana orang tidak selaras dengan mereka. Mereka mungkin atau mungkin tidak dapat melakukan apa-apa tentang mereka, tergantung pada daerahnya, tapi saya tidak pernah mengetahui daerah di luar kendali mereka dimana penduduknya sendiri yang meminta kehadiran mereka.
ISIS tidak ramah bagi mereka yang memiliki pemikiran yang kritis. Saya sering diancam oleh mereka hanya karena saya tidak menerima klaim kekhalifahan mereka dan dengan demikian banyak dari mereka tidak menganggap saya sebagai seorang Muslim lagi dan telah menyerukan untuk mengeksekusi saya. Ini adalah bagaimana mereka memperlakukan penduduk Suriah. Bagaimana gaya pemerintahan seperti ini akan menang dan membawa manfaat kepada penduduk yang sudah lelah ditindas?

DH: Mampukah Assad menahan serangan pejuang revolusi tanpa bantuan dari Hizbullah, Pasukan Pengawal Revolusi Iran dan pejuang Syiah dari Irak?

BAK: Tidak, aku tidak percaya dia akan mampu. Sebuah catatan menarik adalah bagaimana media massa memberitakan tentang bahaya hadirnya pejuang asing di Suriah. Namun 95% perhatian diarahkan kepada pejuang asing dari pihak oposisi. Sangat sedikit laporan media yang menyinggung bahaya kehadiran para pejuang asing dari pihak rezim. Apakah saya mengatakan bahwa ini adalah semua bagian dari satu konspirasi besar? Tidak. Namun, saya hanya menyatakan hal-hal yang sudah jelas terlihat. Orang lain yang lebih cerdas daripada saya harus mencari tahu mengapa hal itu terjadi.

DH: Apa pandangan Anda pada wacana sektarian yang telah muncul dari perang Suriah, yang telah merambat ke negara tetangga Lebanon dan Irak?

BAK: Itu adalah masalah nyata. Sebuah perang sektarian antara Sunni dan Syiah adalah bak kotak Pandora. Mereka yang memicu ketegangan tersebut tidak menyadari apa yang mereka lakukan dan sebab yang akan terjadi dari kelakukan mereka.

DH: Dari analisis Anda, siapakah yang saat ini akan memenangkan perang di Suriah, para pejuang revolusi atau rezim Assad?

BAK: Tidak ada yang menang. Pihak pejuang revolusi juga telah kehilangan wilayah yang cukup besar sejak munculnya ISIS. Jadi saya tidak bisa mengatakan bahwa mereka akan memenangkan perang. Mereka telah menguasai banyak wilayah tapi kita tidak bisa mengatakan mereka akan menang.

Sedangkan rezim Assad tidak akan menang karena negara itu kini penuh dengan senjata dan kebencian terhadap dia dan rezimnya. Orang-orang Suriah tidak lagi bisa diatur olehnya. Akan ada pemberontakan dengan intensitas tinggi selama bertahun-tahun yang akan datang, karena pihak oposisi mendapat dukungan dari rakyat.

DH: Apakah kemenangan pejuang revolusi masih mungkin? Atau satu-satunya cara adalah gencatan senjata dan solusi politik?

BAK: Apa yang akan saya katakan bukanlah hal yang umum tapi saya pikir itu nyata. Banyak orang berpikir bahwa tidak ada solusi militer terhadap konflik ini. Saya tidak setuju. Saya percaya bahwa tidak peduli apa solusi yang diajukan selama rezim tetap berkuasa tidak akan ada perdamaian. Selain itu, rezim tidak akan mundur dan tidak mungkin rezim yang didukung oleh Rusia dan Iran akan mundur bahkan jika ingin. Oleh karena itu satu-satunya solusi yang saya lihat saat ini adalah para pejuang revolusi harus mengesampingkan masalah apapun yang mereka miliki, dan tampaknya mereka akan melakukannya, dan untuk melengkapi kemenangan yang telah mereka raih. Saya tidak melihat tingkat kedamaian bagi rakyat Suriah selain hal itu. Saya tidak mengharapkan cara seperti itu, tapi cuma itu cara terbaik.

DH: Apakah Anda akan kembali ke Suriah?

BAK: Ya, saya akan. Saat ini saya bekerja pada sebuah berita harian singkat untuk meliput berita terbaru mengenai situasi lapangan di Suriah. Berita dari media saat ini belum cukup baik dan tidak berimbang dalam memberitakan kepada masyarakat di seluruh dunia. Kami ingin mengubah itu dan berharap 5Pillarz dapat menjadi bagian dari proyek ini insya Allah.

(sumber : 5pillarz / Twitter @BilalKareem @DillyHussain88)

Seorang jurnalis dan pembuat film, Bilal Abdul Karim tinggal bersama dengan pihak oposisi Suriah selama dua tahun, untuk mendokumentasikan perkembangan politik dan militer mereka yang tengah berjuang untuk menggulingkan rezim Bashar al Assad. Dalam wawancara eksklusif dua bagian dengan Dilly Hussain, jurnalis Amerika itu menjelaskan apa yang menyebabkan dia berangkat ke Suriah dan pengamatannya mengenai revolusi Suriah.
Bilal Abdul Karim

DH: Bilal, perkenalkan diri Anda. Dimana anda lahir? Apakah Anda memiliki saudara? Apakah Anda sudah menikah? Apakah Anda punya anak? Di mana Anda tinggal saat ini?

BAK: Saya lahir dan dibesarkan di New York. Saya punya satu adik dan kakak. Saat ini saya tinggal di Doha, Qatar. Saya memiliki enam “bayi” yang tidak benar-benar bayi lagi karena mereka semua ingin iPads dan ponsel dibandingkan bermain boneka.

DH: Apakah pendidikan terakhir Anda? Apakah Anda kuliah?

BAK: Saya kuliah di Universitas Negeri New York di mana saya belajar menulis kreatif. Saya juga belajar komposisi studio pada waktu itu saya menggemari musik.

DH: Apa yang Anda lakukan sebelum menjadi seorang jurnalis dan pembuat film?

BAK: Saya adalah Direktur Programming untuk Huda TV yang berbasis di Kairo. Selain itu saya melakukan beberapa pekerjaan lain seperti terjemahan materi keagamaan dari bahasa Arab ke bahasa Inggris, dan saya melakukan banyak rekaman suara dari buku. Tapi maksud Anda apa yang saya lakukan sebelum menjadi Muslim, maka jawabannya akan sangat berbeda. Aku mendalami stand up comedy dan hal-hal lain beberapa tahun lalu.

DH: Apa pendapat Anda mengenai Arab Spring? Apakah ia memiliki pencapaian?

BAK: Saya percaya bahwa ia mencapai banyak hal. Saya mencoba untuk melihat hal-hal ini dengan “mentalitas seorang pengembang”. Tanah Muslim berada dalam kondisi yang buruk begitu lama, dan bahwa sangat tidak realistis jika mereka tiba-tiba muncul dari keterbatasan dan kegelapan seperti ini tanpa penyebab, dan penyebabnya adalah beberapa gejolak yang kita lihat hari ini.
Apakah orang-orang dari daerah mendapat hasil dari Arab Spring? Belum, tapi hanya tiga setengah tahun dari awal musim semi, kita tidak bisa mengharapkan hasilnya dulu. Saya fokus pada melihat semua ini sebagai dasar bagi apa yang akan kita lihat pada tahun 2016 dan 2017 insya Allah.

DH: Apakah Anda pernah meliput perang lain selain Suriah?

BAK: Suriah adalah liputan perang pertama saya. Namun, aku pernah bekerja di Libya tak lama setelah jatuhnya Gadaffi. Wartawan Amerika berkeliaran di Libya adalah suatu hal yang berbahaya. Saya akui, saya memberitahu orang-orang, kadang saya berasal dari Nigeria atau Kenya. Ini membantu menjaga saya dari penculikan.

DH: Apa yang membuat Anda pergi ke Suriah? Apakah ada sesuatu yang menonjol yang membuatnya berbeda dengan konflik lainnya?

BAK: Awalnya saya pergi ke Suriah untuk meliput berita mengenai pejuang revolusi pada umumnya. Kemudian saya menjadi terpesona dengan apa yang saya lihat dari pejuang asing. Kebanyakan mereka merupakan pejuang yang hebat. Aku bertemu dengan Umar Shishani (Chechnya) dan bertanya apakah saya bisa merekam salah satu pejuangnya dan membuat cerita tentangnya. Ini terjadi sebelum masuknya ISIS ke Suriah. Dia setuju dan saya memulai perjalanan yang telah saya bawakan untuk Anda lihat hari ini.

DH: Apakah Anda pikir pemberontakan di Suriah adalah dimulai oleh sektarian atau itu benar-benar sebuah protes politik melawan diktator yang menindas?

BAK: Saya berpikir tidak keduanya. Mereka rakyat Suriah menuntut hak-hak dasar seperti hak untuk menentang kebijakan tahanan tanpa batas waktu, hak agar anak-anakmu tidak dibunuh dengan kejam bukanlah aspirasi politik, tapi ini adalah aspirasi manusia.

Seperti yang diperkirakan, rezim menanggapi permintaan rakyat Suriah dengan melakukan lebih banyak pembunuhan untuk menakut-nakuti para aktivis. Itu tidak berhasil. Pada saat itu orang-orang Suriah tidak religius dan benar-benar tidak peduli siapa yang Sunni, yang Syiah dan siapa yang Alawi. Mereka semua tinggal bersama-sama dan bergaul relatif baik. Namun, setelah revolusi dimulai dan rezim mulai kehilangan wilayah, mereka meminta bantuan ke Iran dan Hizbullah, inilah yang membuat konflik ini berubah menjadi konflik sektarian.

DH: Kapan Anda tiba di Suriah dan siapa yang pertama kali menjadi tuan rumah Anda?

BAK: Perjalanan pertama saya ke Suriah adalah di musim panas 2012. Saya pada awalnya bertemu dengan Ahrar as-Sham. Mereka adalah kelompok jihad yang sangat agresif yang kepemimpinannya terdiri dari banyak mantan tahanan yang berada di ruang penyiksaan Assad.

Pemimpin Ahrar al-Sham, Hassan Abboud adalah salah satu orang yang paling menarik yang saya temui. Ketika saya pertama kali tiba di Suriah aku menunggunya selama beberapa hari di markas mereka. Aku tidak tahu seperti apa orangnya. Namun dari cara orang berbicara tentangnya mereka sangat menghormati dia sebagai seorang pemimpin dan umumnya tidak bergerak tanpa persetujuannya. Saya adalah seorang wartawan Amerika dan awalnya mereka tidak percaya padaku. Saya bertanya-tanya apa reaksinya terhadap saya. Ketika dia tiba, dengan diapit oleh anggota kelompoknya, dia bertanya: “Bilal, bagaimana saya tahu Anda tidak bekerja untuk CIA?” Itu adalah percakapan yang saya tidak akan pernah lupakan!

DH: Apakah Anda mengatakan ada sentimen Islam yang kuat dalam revolusi Suriah?

BAK: Tidak kurang dari 75% dari para pejuang yang aktif dalam konflik ini berasal dari kelompok Islam. Tidak mungkin kelompok ini dapat diabaikan, tidak peduli berapa banyak Negara-negara barat ingin mencoba dan memasukkan beberapa bonekanya untuk membuat pemerintahan yang demokratis. Saya telah lama mengatakan bahwa satu-satunya jalan keluar dari situasi ini adalah dengan menciptakan win-win solution. Trik media murahan yang menciptakan boneka diktator adalah merupakan cara yang lama dan basi. Ini berhasil selama bertahun-tahun tapi saya pikir hari itu sudah berakhir.

Jika kita serius ingin menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua pihak maka jalan yang terbaik ada di depan. Mayoritas para pejuang lahir dan dibesarkan di Suriah, sehingga tidak benar yang diberitakan oleh media Barat yang mengatakan bahwa hanya pejuang asing yang ingin mendirikan pemerintahan Islam.

DH: Anda melakukan kontak dengan berbagai faksi revolusi, yang bersatu untuk menggulingkan rezim Bashar al Assad, tetapi berbeda dalam visi mereka tentang Suriah pasca jatuhnya Assad. Bagaimana negara-negara adidaya dan pemerintah regional mempengaruhi ini?

BAK: Sejujurnya, dan saya tahu ini akan terdengar aneh, tapi sekuat apapun Negara adikuasa mencoba untuk mempengaruhi para pejuang, saya pikir mereka semua akan gagal, dengan pengecualian untuk ISIS. Namun ISIS, menurut pengetahuan saya bukanlah produk dari sebuah negara. AS berusaha sangat keras untuk mendapatkan Dewan Nasional Suriah (SNC) untuk menjadi pemilik kekuasaan dalam konflik ini, tetapi mereka tidak mendapat dukungan dari rakyat.

Saya selalu mendengar berita mengenai Arab Saudi, Qatar, dan Turki yang mengendalikan revolusi ini di balik tirai, tapi di lapangan, saya tidak pernah melihatnya. Aku tidur dan makan bersama dengan banyak pejuang, baik asing maupun Suriah, termasuk komandan mereka dan mereka berjuang untuk mendapatkan amunisi dan uang untuk membeli makanan bagi para pejuang mereka. Sebagian besar senjata didapatkan dari ghonimah hasil perang.

Saya sangat percaya bahwa pengaruh Arab Saudi terhadap revolusi Suriah terlalu dibesar-besarkan. Banyak dari apa yang terjadi di Suriah tidak sejalan dengan kebijakan Saudi itu sendiri, maka merupakan hal yang menggelikan jika kita berpikir bahwa mereka yang menciptakan atau membantu revolusi itu. Turki adalah negara sekuler, mengapa mereka mencoba untuk menciptakan revolusi Islam? Qatar memang banyak membantu dalam hal kemanusiaan tapi saya harus mengakui, bahwa saya tidak melihat atau mendengar apapun mengenai pengiriman senjata dari Qatar pada mereka.

Apakah saya percaya bahwa ada beberapa bantuan militer yang diberikan kepada para pejuang? Tentu saja saya percaya, tapi semangat Islam telah mengakar secara organis. Inilah sebabnya mengapa Negara-negara adidaya tidak memiliki kekuatan yang nyata untuk menggoyahkan atau mengontrol revolusi.

DH: Menurut Anda, apakah Negara-negara Barat, yaitu Amerika Serikat dan Inggris telah ikut bermain dalam konflik Suriah? Bagaimana kebijakan itu berubah sejak awal perang?

BAK: Pertama, Inggris jarang memiliki agenda kebijakan luar negerinya sendiri. Apapun yang dikatakan Amerika, Inggris akan turuti. Baik AS dan Inggris mulai dengan mengatakan bahwa mereka mendukung para pejuang, dan mereka benar-benar ingin nimbrung menang juga! Mereka memasang taruhan mereka kepada Tentara Pembebasan Suriah (FSA), agar bisa menggulingkan Assad dan mereka bisa mendulang uang dan kekuasaan di bawah hidung mereka dan mereka bisa menempatkan pemerintahan boneka pro Barat di Damaskus tanpa mengeluarkan darah atau keringat. Namun itu gagal. Para mujahidin mengambil alih revolusi dan sejak itu, barat gagal mencampuri revolusi di Suriah.

Jika Amerika dan Inggris ingin berperan dalam membantu rakyat Suriah tumbuh dan sejahtera, maka mereka harus mulai dengan berhenti memperlakukan semua pejuang Islam sebagai “teroris”. Sama sekali tidak ada manfaatnya bagi rakyat Amerika dalam kebijakan ini. Ini tidak akurat dan itu benar-benar menyalakan api kebencian dalam hati orang-orang yang seharusnya tidak menjadi musuh mereka.

DH: Apa peran yang dimainkan negara-negara tetangga Muslim? Yaitu Turki, Arab Saudi dan Qatar?

BAK: Turki telah memberikan bantuan besar bagi rakyat sipil Suriah. Perdana Menteri Erdogan tidak mencoba untuk bertindak seperti beberapa politisi ketika krisis ini dimulai, dia bertindak seperti manusia.

Orang-orang menderita dan dia menanggapi dengan membantu mereka, tanpa embel-embel. Walaupun saya tidak setuju dengan yang dia katakan dan lakukan, namun saya mengatakan bahwa saya memiliki banyak rasa hormat kepadanya, dan tidak ada pejabat senior yang sepertinya di wilayah ini dan saya ingin memberitahukannya suatu hari nanti.

Qatar telah sangat murah hati dalam membantu saudara-saudara Muslim mereka dan saudara yang membutuhkan serta menghabiskan jutaan dolar bantuan. Aku senang melihat pemerintah membantu orang karena mereka membutuhkannya, dan bukan karena itu sesuai dengan kepentingan strategis negara mereka saja.

Adapun Saudi, mereka juga telah bermurah hati dalam pemberian mereka bantuan kemanusiaan. Namun, bantuan yang benar-benar dari Arab Saudi adalah berasal dari rakyatnya, bukan pemerintah. Dalam pandangan saya, mereka (masyarakatnya) adalah pahlawan sejati dari Jazirah Arab.

DH: Peran apa yang dilakukan Rusia, Iran dan Hizbullah yang ikut bermain dalam konflik Suriah?

BAK: Saya tidak melihat bahwa mereka memiliki peran yang konstruktif untuk bermain dalam urusan ini. Membantu rezim pembunuh ini adalah noda yang akan tertulis di catatan negara mereka masing-masing. Bagaimana orang bisa berpikir bahwa seseorang mendukung orang yang memerintahkan untuk menghujani warga sipil dengan bom barel. Sesungguhnya itu mengherankan bagaimana orang-orang ini tidur di malam hari, melihat korban tewas dan bertahan dalam membantu Assad. Hal terbaik yang bisa mereka lakukan adalah tidak ikut campur dalam hal itu.

Pada bagian 2 dari wawancara, Bilal akan menggambarkan bagaimana orang-orang Suriah menanggapi pejuang asing, ia bertemu dengan berbagai faksi mujahidin termasuk Jabhah Nusrah.

(sumber : 5pillarz / Twitter @BilalKareem @DillyHussain88)

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget