Halloween Costume ideas 2015
07/02/14

Militer Suriah, selasa (01/07/2014) mengintensifkan kampanye militer ke kota Malihah di Ghouta timur, pedesaan Damaskus. Rezim berusaha membersihkan kota itu dari pejuang karena lokasinya yang strategis, berdekatan jalan utama yang menghubungkan ke bandara internasional Damaskus.

Aktivis Suriah melaporkan, sejumlah rudal permukaan menghantam kota yang dikontrol pejuang itu. Pertempuran juga berlangsung sengit di wilayah sekitarnya, sehingga menewaskan sejumlah tentara rezim, sebagaimana dilaporkan Badan Koordinator Lokal Revolusi Suriah.

Sejak tiga bulan terakhir, rezim Suriah menggencarkan kampanye militer di kota Malihah. Militer Suriah juga mengintensifkan serangan di Jarmana yang terletak bersebelahan.

Sementara itu, pertempuran sesama oposisi kembali meletus di pinggiran kota Bokamal yang terletak di perbatasan Irak-Suriah. Pertempuran yang berlangsung sengit sejak tiga hari lalu itu terjadi antara ISIS dan Faksi Mujahidin Suriah.

Sehari sebelumnya, pejuang Suriah mampu mengontrol batlyon rudal Tana di timur Aleppo. Lokasi strategis itu berhasil dikontrol pejuang setelah terlibat pertempuran sengit dengan militer rezim.

Jet-jet tempur Suriah juga masih menggempur markas pejuang Suriah di resimen 46 di pedesaan Aleppo. Di sisi lain, pejuang menghujani kota Hilan di timur laut Aleppo dengan tank tempur.

Sumber: Al-Jazeera

Sembilan kelompok pejuang di Suriah, termasuk faksi-faksi Islam yang besar-besar seperti Jabhah Islamiyah dan Majelis Syura Mujahidin Syarqiyah, termasuk Jabhah Nusrah di dalamnya menolak pembentukan khilafah versi jama’ah daulah (ISIS), dan mereka mengumumkannya secara online.


Sembilan kelompok mujahidin tersebut mengatakan bahwa “pengumuman  khilafah oleh jama’ah daulah adalah batal dan tidak sah (secara syar’i),” baik “dari sisi syariah maupun sisi logis.”

Pernyataan, yang ditandatangani oleh dewan-dewan syar’i masing-masing kelompok perjuangan itu, lebih lanjut mengatakan bahwa pengumuman khilafah tersebut  “tidak mengubah apa pun dalam hal bagaimana kita memandang mereka, atau bagaimana kita akan berurusan dengan mereka.”

Para penandatangan tersebut memperingatkan tiap mujahid dan organisasinya agar tidak mendukung ISIS. Mereka berpendapat bahwa keputusan untuk mengumumkan Khilafah adalah untuk kepentingan ego diri sendiri dan upaya untuk “membatalkan revolusi yang diberkati di Suriah dan Irak.”

Pada status Twitter-nya, MSM memasang link ke pernyataan yang menolak kekhalifahan yang telah diumumkan. MSM mengatakan bahwa pengumuman khilafah oleh ISIS adalah bagian dari “kampanye sistematis untuk mendistorsi makna syariah” dan ISIS telah mendistorsi syariah, dan [aturan untuk] hukuman, dan sekarang mereka ingin mendistorsi Khilafah.”

Selain Front Islam dan MSM, dewan syariah dari tujuh kelompok lain juga menandatangani penolakan  terhadap Khilafah versi ISIS.

Dalam pernyataan yang ditandatangani Dewan Syariah faksi-faksi besar oposisi Suriah, Dewan yang menjadi rujukan masing-masing kelompok pejuang itu mengatakan bahwa sarat pendirian Khilafah saat ini belum terpenuhi,  terutama bagi organisasi Daulah. Bahkan, Dewan Syariah mensinyalir deklarasi Khilafah oleh ISIS sebagai pelarian dari kejahatan organisasi tersebut dan melegalkan memerangi kelompok-kelompok yang enggan sumpah setia kepada mereka.

Pernyataan itu menilai bahwa deklarasi ini secara tidak langsung justru melanggengkan proyek memecah belah antara negara-negara Muslim atas dasar tidak sesuai dengan kepentingan umat tertinggi. Dan juga, tambahnya, memudahkan badan-badan internasional dan regional mengeksploitasi secara langsung negara-negara Muslim.

“Klaim ISIS tentang batalnya kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi Islam lainnya karena sudah dideklarasikannya Khilafah merupakan klaim yang tidak sah dan sangat tidak benar,” tegas pernyataan tersebut.

Pernyataan itu sendiri ditandatangani Dewan Syariah faksi-faksi besar oposisi Suriah, seperti Dewan Syariah Jabhah Islamiyah, Majlis Syura Mujahidin di daerah Timur, Dewan Syariah Pusat di daerah Timur, Dewan Syariah Jaisy Al-Mujahidin, Dewan Umum Ulama Islam di Suriah, Dewan Syariah di Idlib, Dewan Syariah Aleppo dan Dewan Syariah di Pesisir.

Reaksi dari para pemimpin Jabhah nusrah adalah sama. Dalam serangkaian tweet dalam bahasa Inggris dan Arab, oleh Abu Sulaiman al Muhajir, seorang pejabat syariah teratas di Jabhah nusrah, dengan tajam mengkritik pengumuman khilafah. Dengan menggunakan hashtag # Khilafah_Proclaimed dalam tweet-nya, Abu Sulayman berpendapat bahwa kegagalan Negara Islam (ISIS) untuk berkonsultasi dengan para pemimpin jihad sebelum membuat pengumuman “adalah pelanggaran yang jelas dari Islam.”

Situasi tidak berubah sama sekali di sini, “kata Abu Sulayman dalam satu tweetnya, mengacu pada Suriah.” Hanya perbedaannya yang saya lihat adalah adanya pembenaran atas nama ‘Islam’ bagi mereka [ISIS] untuk membunuh Muslim lainnya. “jama’ah daulah telah lama melakukan pembenaran atas pembunuhan mujahidin pejuang pembebasan lainnya dan para pemimpinnya dengan dalih bahwa mereka adalah satu-satunya otoritas yang sah di Irak dan Suriah.

Abu Sulaiman, yang berasal dari Australia, menjabat sebagai mediator selama upaya awal Al-Qaeda untuk mendamaikan ISIS dengan kelompok-kelompok jihad lainnya di Suriah. Ketika upaya-upaya tersebut gagal, ia menjadi kritikus vokal dari ISIS dan sekarang menjadi penentang khilafah versi ISIS.

Dua pejabat senior Jabhah Nusrah lainnya yang aktif di Twitter juga dengan tanggap mengecam pembentukan Khilafah tersebut. Salah satunya adalah  Sami al Uraydi. Beliau mengatakan bahwa pengumuman kekhilafahan”adalah benar-benar sebuah deklarasi perang terhadap Muslim lainnya, ketimbang pembentukan sebuah kekhalifahan Islam.” Uraydi melemparkan kritik yang mirip dengan Abu Sulaiman, dengan alasan bahwa Khilafah seharusnya diatur oleh aturan-aturan yang disepakati oleh para ulama Muslim dan tidak sesuai dengan tuntutan dari Abu Bakr al Baghdadi, pemimpin ISIS.

Pejabat jabhah nusrah lainnya, Al Gharib al Muhajir al Qahtani (abu marya), menolak khilafah versi ISIS dan menyebutnya sebagai “imajiner.” Menurut al Qahtani, ISIS sebelumnya telah gagal mendapatkan dukungan dari “banyak siswa ilmu [Islam]  dan para pemimpin.” Dengan demikian, kelompok ini sekarang telah menjadi terobsesi dengan gagasan tentang Khilafah, berharap memperoleh legitimasi yang lebih kuat daripada ketika ia masih hanya berbentuk sebuah negara.

ISIS telah menculik ribuan orang di Suriah, termasuk aktivis pemberontak dan  oposisi, dan melakukan sidang harian, serta mengeksekusi pelaku di depan publik di daerah-daerah yang berada di bawah kendalinya.

Mereka saat ini mengontrol provinsi Raqqa di Suriah utara, sebagian kawasan yang kaya minyak di provinsi Deir Ezzor selatan yang berbatasan dengan Irak, dan sebagian Aleppo di utara.

Al Maqdisi dikenal sebagai salah satu ideolog gerakan Al Qaidah, ia juga disebut-sebut menjadi mentor dari Abu Mushab az Zarqawi, bekas pimpinan Al Qaidah Irak yang sudah gugur dihantam rudal pesawat Amerika pada tahun 2006 silam.

Berikut ini adalah beberapa point yang beliau sampaikan berkenaan dengan Deklarasi Khilafah ISIS.

– Saya ditanya tentang kemenangan Jamaah Daulah di Iraq, maka saya jawab, “tidak didapati ada seorang mukmin yang tidak senang dengan kemenangan orang Islam”. Yang saya takutkan adalah hasil akhir dari kemenangan ini, bagaimana kaum ahlus sunnah, jamaah-jamaah lainnya baik yang bergerak di bidang dakwah maupun jihad serta seluruh kaum muslimin yang berada di wilayah-wlayah yang telah dibebaskan itu akan ditangani? Siapa yang akan menggunakan persenjataan berat yang berasal dari ghanimah Iraq yang kemudian dikirimkan ke Suriah itu? Inilah dia pertanyaanku dan yang menjadi sorotanku. Saya takut jika ini dijawab di dunia nyata, karena saya tidak percaya dengan mentalitas orang-orang yang memegang persenjataan tersebut karena banyak sebab.

– Pada pagi hari (29/06/2014) saya ditanya, “apakah anda telah mengkaji tulisan dari si fulan yang mengatakan tentang kekhilafahan, dan ia tidaklah disyaratkan harus ada tamkin”? Maka saya jawab, “tidak, saya belum mengkajinya, namun apa yang tertulis di dalamnya sudah dapat ditebak dari judulnya saja, yaitu akan ada deklarasi kekhilafahan dari jamaah mereka, dan ini sudah dekat”. Maka ia bertanya, “apa pendapatmu jika mereka mengumumkannya?”.

Maka saya menjawab, “pengumuman ini tidak akan membahayakan saya, dan saya tidak akan buang-buang waktu untuk menyanggah tulisan ini, karena kita semua mengharapkan kembalinya khilafah, terkoyaknya batasan-batasan kenegaraan, berkibarnya panji tauhid dan runtuhnya panji yang terkutuk, tidak ada yang membenci hal-hal itu kecuali orang munafik. Namun ada sebuah kaedah yang cocok bagi hal ini, “مَنْ تَعَجَّلَ عَلَى شَيْءٍ قَبْلَ اَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْماَنِهِ “ (“Siapa yang mempercepat sesuatu sebelum waktunya maka diganjar dengan tidak mendapatkan apa-apa”).

Namun yang menjadi perhatian saya adalah apa posisi kaum (muslimin) dalam deklarasi yang dimunculkan oleh sebuah jamaah yang kemudian berubah menjadi Daulah Iraq, lalu menjadi Daulah Iraq dan Syam, lalu menjadi kekhilafahan secara umum ini? Apakah kekhilafahan ini akan menjadi tempat yang dapat memberikan suaka bagi golongan yang lemah dan menjadi tempat yang dapat menjadi tujuan (hijrah) bagi seluruh orang Islam, atau ini akan menjadi sebilah pedang yang akan membabat orang-orang yang menyelisihinya dari kaum muslimin? Atau ia akan dapat membatalkan segala kepemimpinan Daulah yang telah dideklarasikan, dan menjadikan seluruh jamaah yang berjihad di jalan Allah di berbagai medan perang sebelumnya tidak berlaku/sah?

Sebelumnya saudara-saudara yang ada di Kaukasus telah mengumumkan keimarahan mereka yang diberkahi, namun ini tidak menjadikan mereka mewajibkan kepada orang-orang Islam di seluruh negara (untuk bergabung dengannya), dan tidak juga menjadikan mereka menumpahkan darah yang haram untuk ditumpahkan dengan mengatasnamakannya, lalu bagaimana nasib Imarah Islam Kaukasus menurut kelompok itu setelah adanya lengkingan dengan nama Khilafah???

Begitu juga Tahliban, ia telah mengumumkan Imarah Islam sebelum mereka. Namun amirnya, Mulla Umar hafizhahullah masih saja memerangi musuh-musuhnya bersama-sama dengan bala tentaranya. Namun dengan adanya Imarah yang nyata-nyata ada di dunia nyata selama bertahun-tahun, tidak menjadikan mereka menumpahkan darah yang haram untuk ditumpahkan, dan mengacaukan hubungan yang telah terjalin, maka bagaimana nasib dari Imarah ini jika orang-orang ini mengumumkan kekhilafahan? Bagaimana nasib seluruh jamaah-jamaah jihad dan perlawanan yang telah berbai’at kepada Imarah ini, yang sebagian anggotanya ada di Iraq dan di Syam? Dan juga di seluruh belahan bumi lainnya, bagaimana nasib darah mereka di hadapan orang yang menamakan dirinya sebagai khilafah ini nantinya? Padahal pada hari ini kelompok ini bersumpah bahwa ia akan melukai kepala orang-orang muslim yang menyelisihinya dengan peluru???

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting bagiku, dan ia membutuhkan jawaban.

Dan belum sampai sore harinya, Al Adnani sudah berteriak dengan jawabannya yang telah ditanda tangani, menurut perkiraan kami, kami tidak menzhaliminya sekecil apapun.

Ya Allah, rahmatilah kaum muslimin, lembutkanlah hati mereka… Ya Rabbal alamin, pimpinlah mereka dengan orang-orang pilihan di antara mereka dan jauhkanlah keburukan dan marabahaya dari mereka…

[sumber : mimbar at-tauhid wal Jihad]

Beberapa akun media sosial yang terkait dengan JIMA (Jaish al-Muhajirin wal-Ansar) telah memposting sebuah laporan mengenai kematian amir militer JMA Abu Muhannad rahimahullah dalam pemboman barel di Aleppo oleh tentara rezim Assad.


Berikut adalah tulisan, yang ditulis oleh sebuah akun bernama “Bely SNEG” (Salju Putih), seorang yang dekat dengan mujahidin Kaukasia Utara di JMA:

Abu Muhannad, seorang amir militer, telah syahid di dekat Aleppo. Beliau adalah seorang ikhwan yang mendapatkan rasa hormat dari orang-orang yang iri padanya dan musuh-musuhnya. Beliau adalah singa, yang telah memenangkan banyak pertempuran.

Kisah kematiannya adalah merupakan salah satu tanda-tanda yang luar biasa dari Allah. Pada hari itu pesawat tempur tentara Assad terbang seperti biasa. Kami sudah terbiasa dengan mereka dan tidak memperdulikannya lagi. Saya dan putri saya sedang berada di gedung apartemen kami, di lantai atas. Dia baru saja bangun dan kami ingin memasak, ketika tiba-tiba mendengar suara tiupan peluit. Kami terdiam membeku tak bisa bergerak.

Sudah terlalu terlambat untuk lari, dan beberapa saat kemudian, ada suara gemuruh memekakkan telinga yang mengguncang rumah, rumah dipenuhi dengan debu, dan ada teriakan dari suatu tempat di luar jendela, teriakan yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Itu mengerikan.

Pada hari itu di daerah kami, banyak bom barel berjatuhan, kita tidak tahu. Kita tidak bisa meninggalkan rumah, karena helikopter itu berputar-putar dan berputar-putar, kemudian melemparkan bom demi bom, kami hanya bisa duduk di lantai dasar, saling memeluk, dan membaca Syahadat. Saya yakin kami tidak akan bisa keluar dari rumah ini, dan setelah itu saya terkejut mengetahui saya masih hidup.

Allah Maha Kuasa belum mengambil nyawa kami ketika itu, setelah beberapa waktu berlalu dan pada sore hari, kami semua dievakuasi. Para ikhwah telah mendatangi ke rumah yang baru dibom, untuk membantu mengevakuasi. Dan membuat terowongan dari bekas reruntuhan bom barel, kemudian mereka bertemu Abu Muhannad berdiri di tengah sekelompok orang.

Lima menit kemudian mereka kembali bersama Abu Muhannad untuk melakukan solat, tiba-tiba sebuah bom barel jatuh sekitar 300 meter darinya, dan ini yang menjadi penyebab kematian beliau, pikirkan tentang hal ini! Beliau berdiri di antara banyak orang, bom itu jatuh jauh darinya, tapi pecahan pelurunya terbang tepat mengenai dadanya. Takdir Allah tidak dapat dihindari.

[chechensinsyria]

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget