Halloween Costume ideas 2015
05/24/14

Sungguh perjuangan yang luar biasa bagi Ahmad Al-Sya’ara. Ia membawa kelima putranya berjihad ke Suriah dengan perjalanan yang panjang. Al-Sya’ara membawa kelima putranya berputar ke Eropa, tepatnya di Belanda, untuk kemudian melewati Turki dan masuk ke Bumi Syam.


Salah satu dari putranya bahkan masih sangat muda. Putranya yang bernama Usamah Al-Sya’ara masih berusia 13 tahun. Namun hal itu tak menghalangi keluarga yang cukup besar ini membawanya serta untuk berjihad di Syam. Ahmad dan putranya Usamah sendiri, telah dikenal lewat aksi unjuk rasa yang mereka lakukan di Tangiers, Maroko Utara, saat menentang penangkapan aktivis Islam.

Perjalanan keluarga ini menarik perhatian media-media barat. Shiraz Maher, dari King’s College London berkomentar: “Kita telah melihat banyak keluarga datang dari Kaukasus dan dari Asia Tengah dan banyak diantara mereka masih anak balita.” Daulah Islam Iraq dan Syam memang pernah merilis kumpulan keluarga yang berhijrah dari Asia Tengah, untuk bergabung bersama para mujahidin tersebut.

Seorang mujahidin dari Indonesia bahkan telah dikabarkan syahid di peperangan Suriah. Riza Fardi atau Abu Muhammad Al-Indunisi gugur dalam sebuah operasi. Jumlah para mujahidin pendatang memang nampak “membengkak” jika dibandingkan dengan aktivitas jihad di Afghanistan 1980-an. Keberadaan mujahidin di Suriah memang menjadi dilema bagi barat.
[sksd/telegraph]

Lebih dari seribu mujahidin Maroko telah melakukan perjalanan ke Suriah sejak 2011, termasuk 900 orang pada tahun 2013 saja.

Angka-angka tersebut diumumkan pada tanggal 14 Mei oleh Hicham Baali, wakil dari Direktorat Jenderal Keamanan Nasional (DGSN), selama program siaran televisi di 2M.


Baali, mengklaim bahwa orang-orang yang berjihad tersebut menimbulkan ancaman keamanan karena mereka menerima pelatihan dalam penggunaan senjata berat maupun ringan, berlatih untuk bertempur di lapangan dan belajar bagaimana membuat bahan peledak dan memasangnya di kendaraan.

Lebih buruk lagi, "beberapa dari mereka telah dilatih untuk menerbangkan pesawat tempur. Jadi bagaimana bisa orang-orang ini tidak dapat ditangkap ketika mereka kembali ke Maroko jika kita tidak tahu rencana apa yang mereka akan lakukan?" tanyanya.

Para pejabat keamanan mengklaim bahwa organisasi Maroko Harakat Sham al-Islam dikenal telah menciptakan sekelompok pejuang untuk kembali ke kerajaan untuk melakukan tindakan terorisme sejalan dengan agenda Al-Qaidah.

Romain Caillet, seorang peneliti Perancis dan penasihat pada isu-isu Islam mengatakan bahwa jumlah mujahid Maroko di Suriah bisa jadi jauh lebih tinggi jika para ekspatriat dihitung. Dia menggarisbawahi bahwa fenomena tersebut mempengaruhi tidak hanya Maroko  namun beberapa negara lain.

Menurut Abdellah Rami, seorang ahli gerakan jihad, jaringan sosial seperti Twitter dan Facebook memainkan peran penting dalam perekrutan mujahid, komunikasi dan berbagi ide.

Namun dia menambahkan media sosial bukan faktor yang paling penting dalam pertumbuhan fenomena tersebut. "Ini adalah kebijakan media dari beberapa saluran satelit, yang telah membantu mengubah opini publik Arab terhadap rezim Suriah," klaimnya.

Para keluarga Maroko yang ditingggal berjihad ke Suriah telah mengajukan permohonan kepada pihak berwenang untuk mendorong para pemuda untuk kembali ke Maroko. Sejumlah dari mereka telah menunda perjalanan karena takut dipenjara kata Mohamed Mesbah, seorang peneliti di Jerman Institute of International and Security Affair.

"Mereka menemukan diri mereka menghadapi dilema, karena beberapa dari mereka telah menemukan realitas situasi di lapangan di Suriah," katanya.

Mesbah mengatakan bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan berfokus pada keamanan saja. Menurutnya, Orang-orang Maroko ini harus dibantu untuk kembali ke rumah dengan pertimbangan diberikan pada dimensi sosial dan kebutuhan untuk mengintegrasikan mereka kembali ke dalam masyarakat.

"Kita tidak harus menyamaratakan semua dari mereka yang telah pergi ke Suriah bersama-sama. Memang benar bahwa beberapa telah datang karena percaya pada ideologi jihad, tetapi yang lain didorong oleh antusiasme belaka. Mereka harus diberi kesempatan kedua," ia menggarisbawahi.

Hicham Baali mengatakan pemerintah menyadari bahwa pendekatan berbasis keamanan bukan satu-satunya solusi. Namun menurutnya, ada kebutuhan untuk waspada karena risiko bahwa orang-orang ini mungkin mengindoktrinasi orang di sekitar mereka setelah mereka kembali.

Menurut Baali, Maroko melakukan upaya besar untuk menghentikan orang-orang muda dari berjiha ke Suriah di tempat pertama dimana hal itu ditunjukkan dengan penangkapan empat sel jihadis baru-baru ini. (st/mgrb/voa-islam/kabarsuriah)

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget