Halloween Costume ideas 2015
04/20/14

Ini kisah seorang Mujahid muda Suriah, yang terpaksa harus menjadi tentara rezim Asad lantaran terkena peraturan wajib militer. Ia mengungkap tentang keberhasilannya keluar dari militer Suriah di tengah berlangsungnya revolusi di negara yang sedang dilanda perang itu.


Shamer (24), sebut saja namanya begitu, adalah putra ketiga seorang ulama di Suriah. Saat revolusi Suriah dimulai lebih 3 tahun yang lalu, ia sudah menjadi tentara rezim—tetapi karena tuntutan keadaan. Karenanya, setelah revolusi dan perang mulai berkecamuk, ia berupaya keras untuk keluar dari dinas militer, dan bergabung dengan Mujahidin.

Namun ketika masih dalam militer Asad, ia dan kawan-kawanya, sempat berupaya ingin membunuh Bashar Assad. Ketika itu, rencana matang sudah disiapkan, di saat Assad dikabarkan akan mengikuti sebuah upacara. “Namun sayang, Basyar Asad batal hadir. Kemungkinan rencana ini bocor,” ungkap Shamer kepada wartawan Indonesia yang tergabung dalam tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) saat meliput konflik Suriah, Sabtu (19/4).

Semangat jihad Shamer tumbuh dari lingkungan keluarganya yang memang berasal dari kalangan Muslim yang taat. Ayahnya adalah seorang ulama, Imam dan Khatib, di Damaskus, Suriah. Selain didikan orangtuanya, di usia masih belia, sebelum meletusnya perang, Shamer mengaku mendapat suntikan semangat jihad dari para tokoh Hamas Palestina.

Waktu itu, ujar Shamer, Masjid Al-Aqsha dikepung penjajah ‘Israel’ dan umat Islam di Palestina dibantai Zionis. “Kami dan teman-teman mengadakan tabligh akbar dan penggalangan dana Palestina bersamaan dengan datangnya beberapa tokoh Hamas di Damaskus, padahal di saat itu bicara masalah jihad menetang ‘Israel’ merupakan sesuatu yang sangat berbahaya bagi kami di Suriah, karena rezim di sini sangat represif, dan banyak teman-teman kami yang ditangkapi dan dipenjara oleh rezim Assad karena mengobarkan semangat jihad menentang Zionis ‘Israel’,” tuturnya.

Selain spirit jihad, peristiwa menarik yang diungkap pemuda yang baru saja menikah ini, adalah tentang kerjasamanya dengan Mujahidin di saat revolusi Suriah baru berlangsung pada 2011 lalu. Ketika itu ia masih di dinas militer rezim, ditugaskan membawa senjata oleh kesatuannya ke wilayah Raqqah, kota di sebelah timur Suriah.

Kesempatan ini digunakan Shamer untuk menjalankan misinya. Ia menghubungi Katibah Mujahidin lokal yang ada di Raqqah. Ia memberitahukan, bahwa ia membawa banyak senjata, dan ia ‘bersandiwara’ dengan Mujahidin, yaitu dengan mengatakan kepada kesatuannya seakan dia dihadang. “Tentu saja hal ini tanpa diketahui teman-teman saya di kesatuan militer rezim,” kata Shamer.

Selanjutnya, Mujahididin menghadang laju mobil tersebut dan mengambil semua peralatan senjata. Shamer dilepas. “Lalu saya melapor kepada kesatuan, bahwa saya telah dihadang dan semua senjata yang saya bawa telah dirampas,” ujarnya mengenang peristiwa pada 2011 lalu itu .

Jelas, di tengah peperangan, tindakan Shamer adalah sangat berani dan tentu saja berbahaya. Namun, dengan iman yang sudah mulai terasah, rasa takut menjadi sirna, berganti dengan keberanian yang luar biasa.

Sabtu pagi (19/4/2014) waktu Suriah, sebuah bom mobil meledak di pintu masuk sebelah barat kota Salamiyyah, di Provinsi Hama.


Ledakan berhasil menghancurkan pos checkpoint Khadamat pasukan rezim Nushairiyyah Bashar Assad hingga luluh lantak dan tinggal puing-puingnya saja, menewaskan sejumlah personel Militer Suriah dan melukai lainnya. Pos tersebut berdekatan dengan markas Pasukan Pertahanan Suriah NDF.

Mujahidin Daulah Islam Iraq dan Syam melalui akun media resmi wilayah Homs, menyatakan berada di balik aksi penyerangan tipe amaliyyah isytisyhadiyyah tersebut. Serangan menargetkan acara pertemuan Milisi Syabihah bersama dengan Komiter Rakyat di pos Nushairiyyah itu.

Fursan Syahadah atau Sang Ksatria Pemburu Syahid bernama Abu Abdullah al Libiy, Mujahid asal negeri Libya. Dalam sebuah foto dokumentasi memperlihatkan ia bersiap melakukan penyerangan dengan menaiki sebuah mobil pick-up yang memuat beberapa ton bom.

Sejumlah aktivis, diantaranya Tahrir Souri dan Markaz al Sauri Li Tautsiq juga melaporkan aksi penyerangan tersebut. Sementara itu, jumlah spesifik musuh yang tewas belum diketahui.


Selama satu pekan terakhir, Mujahidin Daulah Islam telah melancarkan sejumlah operasi militer menyerang konvoi-konvoi mobil dan pos checkpoint tentara Nushairiyyah di sekitar jalan utama yang menghubungkan Homs dengan kota Salamiyyah di Provinsi Hama.

Konvoi bus Tentara Nushairiyyah rezim Bashar Assad dilaporkan meledak setelah terkena ranjau Mujahidin Daulah Islam Iraq dan Syam di Wilayah Hasakah al Barakah.


Media Revolusi Suriah, Syabkah Raqqah al Islamiyyah, melaporkan pada hari Sabtu (19/4/2014), dua buah ranjau improvisasi IED berhasil menghantam mobil pengangkut infantri Tentara Nushairiyyyah yang berupa bus. Sebanyak 50 personil Militer Bashar Assad disebut tewas seketika.


MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget