Halloween Costume ideas 2015
01/16/14

Allepo - Khutbah Jum'at Ust. Munir Nasser (Abu Islam) seorang anggota Kantor Informasi Hizbut Tahrir di kota Soran / Azaz Brive - Aleppo utara. Beliau memperingatkan agar para mujahidin tidak jatuh pada konspirasi Barat yang ingin mendorong konsprensi Jenewa 2. Sesungguhnya fitnah perselisihan di antara Mujahidin adalah konspirasi mereka.
Beliau juga menegaskan bahwa apapun makar yang mereka rencanakan adalah hal sia-sia, karena revolusi suriah telah berada dalam bimbingan Allah SWT.

 - Jumat 9 Maret 1435 / 10 Januari 2014 -

Mujahidin Suriah di daerah Ghoutah timur, pedesaan Damaskus, Rabu malam (15/1/2014), berhasil menghadang penyerbuan pasukan rezim ke distrik Al Maraj di Ghoutah timur. Dilaporkan sedikitnya 35 tentara rezim tewas dalam pertempuran tersebut.

Dilansir dari kantor berita Orient dan dinukil almokhtasr.com, pasukan rezim dengan didukung milisi Syiah melancarkan serangan mendadak pada malam hari. Mujahidin yang berjaga di front pun terlibat pertempuran sengit dengan pasukan rezim.


“Mujahidin berhasil membunuh lebih dari 35 pasukan rezim dan menawan sejumlah lainnya ketika mereka menyerbu daerah Al Maraj” lapor Orient. Kantor berita yang berafiliasi pada oposisi Suriah itu menambahkan, Mujahidin juga menghancurkan sebuah tank dan kendaraan militer jenis Dushka. Sementara itu, belum diketahui jumlah mujahidin yang gugur dalam pertepuran tersebut. [hunef]

Tak hanya menjadi musuh di tanah kelahirannya di Suriah, Bashar Assad dan keluarganya juga menjadi sumber permusuhan di Inggris. Mertua Assad, yang merupakan penduduk kota London pun merasakan permusuhan yang luar biasa dari tetangganya.

Fawaz Akhras, mertua Bashar Assad, merupakan seorang dokter kelahiran keluarga ‘ber-KTP’ sunni dari kota Homs. Ayah Asma Assad beserta keluaganya kini menempati wilayah Acton, yang merupakan daerah sub-urban di sebelah barat Inggris. Gara-gara ulah menantunya yang membantai puluhan ribu muslim di Suriah, kini Fawaz Akhras menghadapi kebencian dari tetangga-tetangga mereka.


“Orang-orang merasa jijik pada mereka,” kata Malik al-Abdeh, seorang wartawan oposisi yang orang tuanya tinggal tepat di seberang rumah Akhras. “Mereka dianggap sangat tidak berperasaan, egois, hanya mengejar kekayaan, dan namanya tercemar justru karena dekat dengan rezim Assad.” ujarnya seperti dikutip dari Tempo. ”Mereka tampak sangat kejam, egois, mata duitan dan tercemar oleh asosiasi dengan rezim, “tambahnya.

Kebencian terhadap mertua Assad ini akhirnya membuat Sahar, ibunda Asma Assad pada bulan puasa kemarin memutuskan untuk tidak pergi ke masjid. Padahal sebelumnya pada Ramadhan, ia selalu mengunjungi masjid King Fahd Academy yang terletak di sekitar daerah tersebut.

Kebencian terhadap keluarga ini mulai muncul setelah beredar kabar Akhras diam-diam menyarankan menantunya mengambil tindakan tegas terhadap demonstran. Demonstrasi pernah dilakukan di depan rumah mereka. Saat itu, dinding taman roboh, jendela-jendela rusak, dan bom cat memenuhi dinding rumah mereka. Sebuah spanduk putih besar disampirkan, bertuliskan mereka harus keluar dari kawasan ini, dan menyatakan bahwa “semua parfum di dunia Arab tidak akan menghapus bau busuk rezim Assad”. [sksd/dbs]

Sumber-sumber pejabat Barat dan Timur Tengah pada The Wall Street Journal, Selasa (14/1/2014) mengatakan bahwa badan-badan Intelejen Eropa diam-diam bertemu dengan delegasi rezim Suriah, Bashar al Assad guna berbagi informasi terkait Jihadis Eropa yang beroperasi di Suriah.


Pertemuan pertama dibuat sebelum mereka menarik duta-duta besarnya dari Suriah. Pertemuan itu dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi terkait setidaknya 1.200 orang jihadis Eropa yang telah bergabung dengan kelompok Mujahidin di Suriah, di tengah kekhawatiran Eropa bahwa warga-warga negaranya tersebut akan menjadi ancaman sepulangnya mereka kembali ke rumah masing-masing.

Pembicaraan secara khusus difokuskan pada kelompok-kelompok afiliasi al Qaeda yang tumbuh subur di Suriah dan tidak mewakili pembukaan diplomatik yang lebih luas.Seorang pensiunan pejabat dari MI6 , sayap Intelejen luar negeri Inggris, adalah orang pertama yang mengunjungi Damaskus di tengah musim panas lalu mengatasnamakan pemerintah Inggris.

Badan-badan intelejen Jerman, Perancis dan Spanyol telah berbicara kepada para pejabat rezim di Damaskus sejak November. Mereka bepergian ke Suriah via Beirut, Lebanon. [arkan/ wsj]

Rezim Syiah Iraq bersama bala tentaranya sedang berupaya keras untuk memperketat kontrol perbatasan negaranya dengan Suriah di padang pasir al Anbar, Provinsi Barat Iraq. Mereka sangat khawatir dengan kekuatan Daulah Islam Iraq dan Syam yang berusaha bangkit di kedua negara tersebut.

Rezim Syiah Iraq dengan cepat meluncurkan Operasi Militer dengan sandi “Iron Hammer” pada tanggal 23 Desember untuk memecah hubungan komando ISIS di Iraq dan Suriah. “Kami ingin memisahkan dua perbatasan, karena kelompok Jihadis satu sama lain di kedua negara saling memberikan kekuatan dan bantuan,” kata seorang pejabat senior keamanan di Baghdad.


Pemerintah Baghdad telah mengerahkan tentara yang dilengkapi persenjataan baru buatan AS dan Rusia, untuk memotong jalur pasokan logistik dan jalur militer lintas batas Daulah Islam Iraq dan Syam antara Iraq dan Suriah. Tujuannya jelas, untuk melemahkan kekuatan kelompok Jihad yang sangat ditakuti oleh koalisi segitiga Syiah Iran, Salibis Amerika, dan rezim Saudi, yaitu Daulah Islam Iraq dan Syam.

Medan Jihad Iraq telah menyatukan ketiganya untuk berkolaborasi menahan laju dan kebangkitan Daulah Islam yang tentu mengancam eksistensi Israel juga seluruh batas wilayah Timur Tengah modern karena tujuan ISIS menegakkan Khilafah Islam yang satu.

Syiah Iran dan Salibis Amerika yang menyokong rezim Iraq secara politik dan militer, sementara Saudi melakukan back-up propaganda dan mensponsori milisi Shahawat di Iraq. Namun makar ketiganya hingga kini tak mampu menundukkan dan menaklukkan Daulah Islam, bahkan melemahkannya pun tidak. Jihad Suriah menjadi berkah. Menguatkan api perlawananan Ahlus Sunnah di seluruh wilayah Syam, dan kini kobaran semangatnya merembet hingga Iraq, terutama Provinsi al Anbar yang sebagian besar wilayahnya adalah padang pasir.

Rezim Baghdad tak mampu mencengkeramkan kekuatannya di gurun seluas 600 km (375 mil) yang berbatasan dengan Suriah tersebut. Padahal, ribuan personil tentara telah dikerahkan untuk menjaga perbatasan. Banyak pihakjuga sangat pesimis akan usaha pengamanan perbatasan.  [arkan/ reuters]

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget