Halloween Costume ideas 2015
September 2014

Tentara AS bernyanyi bersama, menari dan berdoa di Camp Pendleton, California. Saat itu AS mempersiapkan diri untuk memimpin koalisi dalam perang melawan mujahidin Suriah, tentara AS menyanyikan lagu “Tidak ada Tuhan seperti Yehuwa!” “Tidak ada Tuhan seperti Yehuwa!” Berulang-ulang sambil bergembira mereka menyanyikan lagu Kristen “lagu kidung” yang disebut “Hari Elia. “




Dengan fakta tersebut jelas menguatkan asumsi bahwa perang baru terhadap mujahidin di Suriah sebenarnya mereka maknai sebagai perang Salib terhadap umat Islam.

Berikut ini adalah contoh dari lirik lagu tersebut:
Ini adalah hari-hari Elia
Menyatakan firman Tuhan, ya
Dan ini adalah hari-hari hamba-Mu, Musa
Kebenaran telah dipulihkan
Ini adalah hari-hari ujian yang besar
Kelaparan dan kegelapan dan pedang
Kita masih merupakan suara di padang gurun yang menangis
Siapkan dirimu pada jalan Tuhan!

(5pillarz.com, 28/9/2014)

Amir Jabhah Nusrah mengatakan serangan udara yang dipimpin AS tidak akan mengalahkan mujahidin di Suriah dan memperingatkan bahwa mujahidin Al-Qaeda mungkin akan melancarkan serangan balasan terhadap negara-negara Barat.


Syaikh Abu Muhamad Al-Jaulani, dalam pesan audio berdurasi 25 menit yang diposting Jabhah Nusrah di forum jihad, mendesak warga Eropa dan AS untuk mengecam tindakan AS jika mereka ingin selamat dari perang.

"Muslim tidak akan menonton sementara anak-anak mereka dibom. Pemimpin tidak akan menjadi satu-satunya orang yang akan membayar harga perang. Kalian juga akan membayarnya," kata beliau.

"Kalian harus melindungi diri dari perang ini dengan berdiri menentang keputusan pemerintah kalian dan menghentikan mereka dari membawa kesengsaraan kepada kalian," lanjut beliau.

"Kami akan menggunakan semua yang kami punya untuk membela rakyat Suriah dari aliansi Salibis," kata beliau. "Dan kami akan menggunakan segala cara yang mungkin untuk mencapai tujuan ini," lanjut beliau, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Amerika Serikat telah melakukan serangan terhadap mujahidin Suriah pada 23 September, dan menewaskan puluhan warga sipil yang tak berdosa.

Washington mengatakan, kampanye yang didukung oleh sekutu Arab dan Barat, ditujukan untuk "menghancurkan" militan yang menguasai daerah di Irak dan Suriah.

Setidaknya 50 mujahidin Jabhah Nusrah gugur dalam serangan pimpinan AS gelombang pertama di Suriah pada Selasa lalu, kata satu kelompok pemantau yang berbasis di Inggris.

Serangan udara juga diyakini telah membunuh Muhsin Fadhli, pemimpin Al-Qaeda Khurasan, yang bekerjasama dengan Jabhah Nusrah.

Syaikh Al-Jaulani tidak langsung menyebutkan Fadhli, tapi mengatakan serangan udara telah membunuh para mujahid yang "kehilangannya dirasakan oleh semuanya, bukan hanya di Jabhah Nusrah."

Namun, beliau menegaskan bahwa pada akhirnya, mujahidin yang akan memenangkan perang "bahkan jika kami menderita rasa sakit saat itu."

Dia juga mendesak kelompok pejuang di Suriah untuk tidak mengambil keuntungan dari serangan AS dan menyerang Daulah, bahkan walaupun mereka telah menderita di tangan kelompok Daulah itu.

"(Ketidakadilan Daulah) tidaklah membuat salah satu dari kalian berdiri di belakang Barat dan mengambil bagian dalam aliansi yang mereka ingin gunakan untuk mengakhiri jihad." Beliau menegaskan.

Beliau juga mendesak Muslim Sunni di negara Lebanon untuk keluar dari tentara, yang menerima perintah dari Hizbullat, kelompok milisi Syiah yang telah mengirimkan tentara bayaran untuk membantu rezim Suriah, Bashar Assad.

link rekaman audio syaikh al-Jaulani, amir Jabhah Nushrah
http://gulfup.com/?2IrKcP ]

Rakyat Suriah menolak keterlibatan Amerika dan sekutu Arabnya di negara mereka. Koreponden Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Shakirullah, yang dalam beberapa hari setelah serangan Amerika dan sekutunya, Selasa (23/9) lalu, menyusuri beberapa kawasan, merekam suara jeritan rakyat.

Di wilayah Maarat Nouman, Kafr Nabel, Sarmada, dan lainnya, semua warga menyatakan penolakannya campur tangan Amerika dan sekutu Arabnya yang hanya merugikan rakyat Suriah.


“Setelah lebih 3 tahun kami dibantai Bashar Assad dan aliansi Syiahnya, kalian (AS dan sekutunya) malah datang untuk menambah pembantaian terhadap kami,” kata salah seorang warga.

“Satu roket pun tidak kalian tembakkan ke arah pasukan Bashar (Assad) yang membunuhi kami, tapi malah kalian menggempur kami,” serunya jengkel.







Hari-hari ini segenap Muslim, Mujahidin dan para Ulama di Suriah meningkatkan doa qunut seraya melaknat Amerika yang telah membombardir Mujahidin dan rakyat Suriah, tanpa satu tembakan pun yang diarahkan ke rezim Bashar Assad.

Departemen Pertahanan AS, Pentagon, Kamis (26/09), mengatakan bahwa jet tempur Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) ikut terlibat dalam serangan baru-baru ini terhadap ISIS di Suriah. Bahkan, 80% gempuran yang diluncurkan dari jet tempur Saudi dan Uni Emirat.


“10 jet tempur dua negara Arab dengan didampingi enam jet tempur AS melancarkan serangan udara pada Rabu malam (25/09) ke kilang minyak yang dikontrol ISIS,” kata juru bicara militer AS, Kolonel John Kirby, seperti dilansir kantor berita Reuters.



Ia menunjukkan bahwa total misil yang ditembakkan dalam serangan tersebut sebanyak 23 misil, 18 di antaranya ditembakkan jet AS. Sementara sisanya ditembakkan jet Uni Emirat dan Saudi. Ia menambahkan bahwa jet kedua negara Arab tersebut lebih dominan dalam serangan itu.

Atas nama perang melawan ISIS AS dan negara-negara sekutunya telah melancarkan serangan udara pertama di Suriah. Seperti yang diberitakan BBC online 23/9, Juru bicara Laksamana John Kirby mengatakan pesawat tempur dan pesawat pengebom serta rudal Tomhawk digunakan dalam serangan itu.

Serangan tersebut merupakan wujud dari pernyataan Presiden Barack Obama untuk “melemahkan dan menghancurkan” Negara Islam yang dianggap telah mencaplok wilayah-wilayah di Suriah dan Irak.Pada hari Senin (22/9)  Laksmana Kirby mengkonfirmasi “militer AS dan kekuatan negara-negara mitranya” melakukan tindakan militer di Suriah tetapi tidak memberikan keterangan rinci.

Mulusnya serangan Amerika terhadap negeri Islam tidak lain karena pengkhianatan penguasa-penguasa negeri Muslim.  Mereka dengan tergopoh-gopoh dan patuh di bawah komando Amerika, untuk menyerang negeri Islam dengan mengatasnamakan perang melawan ISIS. Di sisi lain, penguasa-penguasa Arab, nyaris tidak berbuat apa-apa ketika Gaza dibombardir oleh Zionis Israel.

Dibawah perintah Amerika, negara teroris, muhariban fi’lan, penguasa-penguasa Arab dengan mudahnya menggerakkan tentara mereka. Namun kenapa, ketika negeri Islam diserang, Gaza diserang, Afghanistan diserang, penguasa Arab membuat banyak alasan untuk tidak mengirim pasukan.


Meskipun mengklaim perang melawan ISIS  yang memproklamirkan diri menjadi Islamic State, tidak ada jaminan bahwa negara teroris ini hanya menyerang posisi ISIS. Sangat mungkin negara teroris ini akan menggunakan legitimasi palsu menyerang ISIS untuk juga menyerang posisi mujahidin yang tidak mau tunduk kepada kepentingan Amerika di Suriah. Serangan ini juga akan sangat menguntungkan Bashar Assad untuk menghabisi kelompok-kelompok perlawanan di Suriah. Pada akhirnya akan memperkuat posisi Bashar Assad sebagai penguasa diktator.

Mulusnya Amerika menjalankan penjajahannya di negeri-negeri Islam termasuk Timur Tengah tidak bisa dilepaskan dari kekosongan politik yang terjadi di negeri-negeri Islam. Amerika tampak dengan mudah melakukan berbagai konspirasi, adu domba, dan praktik-praktik penjajahan keji lainnya.

Kekosongan politik yang membunuh kaum muslimin. Kenapa kekosongan politik ? karena meskipun ada penguasa negeri Islam, tapi sesungguhnya mereka tidak menjalankan peran mereka layaknya sebagai penguasa. Pemimpin yang seharusnya mengurus rakyat dengan independen, bersikap tegas terhadap ancaman musuh yang memerangi rakyatnya sendir dan menjaga keamanan dan kekayaan alam negeri.
Penguasa negeri Islam saat ini tidak lain para boneka yang dimainkan oleh sang Tuan Amerika. Tidaklah mengherankan mereka berbondong-bondong bekerjasama dengan Amerika melawan ISIS , namun mereka tidak melakukan apa-apa ketika Gaza diserang oleh Zionis Yahudi. Ketika Amerika menjadikan ISIS sebagai ancaman besar, mereka pun berbondong-bondong menyuarakan hal yang sama.

Kekosongan politik yang lebih berbahaya adalah ketiadaan sistem pemerintahan yang berdasarkan aqidah Islam,pemerintahan Khilafah ala Minhajin Nubuwah sejati yang menerapkan syariah Islam secara totalitas. Khilafah yang keamanan dan kekuasaannya secara penuh ada ditangan umat yang dengan itu bisa mengatur umat Islam layaknya sebagai sebuah negara. Melindungi umat,mengurus umat, dan memberikan kesejahteraan dan keamanan kepada rakyat. Memiliki kewibawaan dan kekuataan untuk menghancurkan musuh-musuh imperialis yang ingin menyakiti umat.

Sejak hancurnya Khilafah seabad yang lalu kekosongan politik ini meliputi hampir semua negeri Islam. Baratpun tidak ingin umat Islam kembali kepada Khilafah Islam. Mereka menciptakan negara-negara boneka dengan warna yang bermacam-macam di negeri Islam baik itu sekuler,kapitalisme, kerajaan, kediktatoran, ataupun demokratis. Penguasa inilah yang mereka gunakan untuk memerangi siapapun yang ingin mengembalikan Khilafah Islam.

Begitulah, akhirnya di negeri kaum Muslimin tersebar kezaliman, kejahatan dan penindasan.  Kejatuhan para penguasa pun menjalar pada umat.  Para penguasa itu “meminta kesenangan hidup” di depan Amerika dan barat kafir, sampai-sampai para penguasa itu mengemis kepada Amerika agar membangun pakta memerangi negeri mereka… kemudian para penguasa itu menilainya sebagai kemenangan besar.

Sesungguhnya setiap pengkhianat akan dipermalukan Allah SWT di hari akhir. Mereka akan membawa bendera pengkhianatan mereka, dipertunjukkan di hadapan orang banyak.

و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْغَادِرَ يَنْصِبُ اللَّهُ لَهُ لِوَاءً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقَالُ أَلَا هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانٍ

Sesungguhnya Allah akan mengibarkan bendera untuk para pengkhianat, & dikatakan kepadanya, ‘Ini adl bendera pengkhianatan si fulan’. [HR. Muslim No.3266].

(Farid Wajdi / Hizbut Tahrir Indonesia)

(25/9/2014) - Militer Lebanon juga menangkap ratusan pengungsi Suriah di kamp-kamp mereka. Terkait terbunuhnya seorang pengungsi, militer Lebanon mengklaim bahwa yang terbunuh itu adalah milisi bersenjata. Menurut militer, mereka terlibat baku tembak dengan sejumlah milisi bersenjata di kamp pengungsian. Namun, pengungsi Suriah membantah klaim tersebut.




Selain itu, militer juga membakar sejumlah kemah pengungsi. Sehingga, hal itu mengundang kecaman dari persatuan lembaga kemanusiaan yang mengurusi hampir seluruh kamp pengungsi Suriah di kota Arsal.

Kantor berita Al-Jazeera melaporkan, militer Lebanon mulai menyerbu kamp-kamp pengungsi pada pagi hari. Para pengungsi diperintahkan keluar dan kemah-kemah mereka dan berbaris. Militer memisahkan antara pengungsi laki-laki dan perempuan, kemudian menangkap seluruh pengungsi laki-laki.

Sementara itu, para pengungsi dan persatuan lembaga kemanusiaan yang bertugas di Arsal memperingatkan bahwa aksi brutal yang dilakukan militer hanya akan menambah buruk situasi di Arsal. Sebagaimana diketahui, mujahidin Suriah beberapa waktu lalu menyerang kota Arsal setelah militer Lebanon melakukan kebrutalan yang sama.

Para pengamat menerjemahkan bahwa aksi brutal ini bertujuan untuk meneror pengungsi Suriah supaya mereka hengkang dari Lebanon.

Aktivis Suriah menambahkan bahwa jumlah pengungsi yang ditangkap mencapai 450 orang. Mereka sengaja ditangkap dan dipermalukan di depan umum.

(Al-Jazeera)

Jabhah Nusrah adalah salah satu kekuatan mujahidin yang paling kuat dalam perang Suriah, dengan catatan panjang yang berperang melawan rezim. Ia juga merupakan cabang Al-Qaeda. Yang telah dimasukkan ke dalam daftar hitam sebagai kelompok “teroris” oleh AS dan PBB, sesuatu yang selalu membuat geram beberapa anggotanya, seperti seorang anggota, yang berbicara dengan syarat anonim. Mereka mengatakan tujuan tunggal mereka adalah untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar Assad.

Serangan AS telah membuat marah banyak warga Suriah, yang selama ini mendukung Jabhah Nusrah karena keikhlasan membantu melindungi mereka dari kekejaman rezim Suriah. Serangan AS didukung penuh oleh beberapa negara timur tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar dan Yordania.

"Saudi,Jordan,UAE,Bahrain,Egypt, adalah Musuh bagi Penduduk Suriah bukan Teman"


Aksi protes dari penduduk di Kafrdiryan, Idlib terkait serangan udara AS ke markas Jabhah Nushrah


Protes penduduk di Marat anNuman, mendukung Jabhah Nushrah, Ahrar Sham, dan Islamic Front 

Dalam sebuah wawancara sebelum serangan, seorang petinggi Jabhah Nusrah – bukan seorang pemimpin senior, ia hanya seorang koordinator – dia mengatakan sangat marah karena ISIS telah memancing negara-negara Barat ke dalam perang, suatu hal yang akan sangat membantu rezim. Sudah cukup buruk bahwa negara-negara seperti Iran dan Rusia mendukung Assad, dia berkata, "Memang kami memiliki masalah dengan Amerika Serikat, tapi kami tidak perlu mengatasinya sekarang," katanya. "Tidak usah melibatkan seluruh dunia."

Seorang anggota Jabhah Nusrah, seorang mujahidin yang juga membantu untuk mengawasi produksi minyak di provinsi Deir Ezzor sebelum ISIS merampasnya pada musim panas ini, mengatakan ia mendukung Jabhah Nusrah karena ia melihatnya sebagai cara terbaik untuk melawan rezim dan IS. "Mereka adalah individu yang ingin membebaskan negara ini dari tiran," katanya. "Alasan saya bergabung Jabhah Nusrah adalah karena tahu dari awal bahwa kelompok ini bergantung pada dirinya sendiri."

Di rumahnya di Antakya, minggu sebelum serangan, anggota Jabhah Nusrah itu memperingatkan bahwa agresi AS terhadap kelompok itu akan mengubah pola pikir pejuang lokal, dia mengatakan bahwa menyerang Jabhah Nusrah akan menjadi kesalahan terbesar AS.

"Kami tidak pernah berbicara tentang AS sama sekali," katanya. "Jangan menyerang kami, dan jangan membuat kami menyerang Anda."

Dihubungi melalui telepon setelah serangan udara AS pada hari Selasa, ia berkata dengan nada yang menyiratkan kemarahan : "Setelah serangan ini, Amerika Serikat tidak akan menyalahkan siapapun, kecuali diri mereka sendiri."

AS meluncurkan delapan serangan udara pada Senin (22/9/2014) malam terhadap "jaringan veteran Al-Qaeda berpengalaman yang telah bermarkas di Suriah untuk mengembangkan serangan eksternal, membangun dan menguji alat peledak improvisasi dan merekrut pejuang Barat untuk melakukan operasi."

Serangan Amerika yang mentargetkan "kamp pelatihan, fasilitas bahan peledak dan amunisi produksi, bangunan komunikasi dan komando dan kontrol fasilitas" sebagai bagian dari upaya "untuk mengganggu serangan yang direncanakan dalam waktu dekat untuk melawan Amerika Serikat dan kepentingan Barat."

Jabhah Nusrah memposting foto-foto di akun Twitter resmi cabang Idlib. Dalam tweetnya, Jabhah Nusrah mengatakan bahwa kantor pusatnya telah kosong oleh mujahidin dan yang menjadi korban adalah warga sipil yang tak berdosa.





Jabhah Nusrah mengatakan pengeboman dilakukan oleh koalisi Salibis yang dipimpin oleh Amerika dengan bantuan beberapa negara seperti Arab Saudi, Qatar, Yordania, Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Penjajah salibis Amerika Serikat pada Senin (22/9/2014) malam mulai menggelar serangan laut dan udara terhadap kelompok-kelompok jihad di Suriah. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar dan Yordania berperan serta aktif dalam mendukung serangan militer AS tersebut, CNN dan Fox News melaporkan.

Penjajah salibis Amerika dan kelima negara Arab sekutunya mengklaim serangan tersebut ditujukan terhadap kelompok ISIS di propinsi Raqqah. Namun situs-situs jihad Suriah melaporkan serangan tersebut juga ditujukan kepada kelompok Jabhah Nushrah, Ahrar Asy-Syam, Jaisyul Muhajirin dan kelompok-kelompok mujahidin yang menginginkan tegaknya negara islam di Suriah.


Serangan penjajah salibis Amerika dan kelima negara Arab sekutunya menghantam mujahidin dan kaum muslimin di propinsi Raqqah, Idlib, dan Aleppo. Sedikitnya lima markas mujahidin Jabhah Nushrah di Idlib dan Aleppo hancur oleh serangan tersebut. Puluhan mujahidin dan rakyat sipil muslim gugur di Idlib, Aleppo dan Raqqah.

Sebuah biografi singkat nan padat dari sejarah hidup seorang Syaikh yang alim lagi mulia, Abu Abdul Malik yang telah syahid -insyaAllah- bersama para sahabatnya, petinggi Harakah Ahrar As-Syam, sebuah jama’ah mujahidin paling berpengaruh di bumi Syam. Mereka telah gugur akibat ledakan bom kimia di dalam markas Ahrar As-Syam di Provinsi Idlib beberapa waktu yang lalu.



Kami melihat betapa pentingnya umat Islam mengenal sosok Syaikh Abu Abdul Malik -rahimahullahu- dan kapasitas beliau dari segi keilmuan syari'ah, pengorbanan beliau dalam dakwah dan jihad serta peran penting beliau dalam revolusi dan jihad di bumi Syam. Sehingga para pembaca bisa membuat sebuah perbandingan pribadi yang ilmiah tentang kelancangan mulut para syar’iy jama’ah daulah (ISIS) yang dengan semena-mena mengkafirkan beliau karena beliau adalah ketua Dewan Syari’ah Ahrar As-Syam yang secara resmi telah dikafirkan oleh jama'ah daulah dengan tuduhan bahwa Ahrar As-Syam adalah pendukung “demokrasi”.

Dan terkhusus kami serukan kepada para fansclub ISIS, hendaknya mereka melihat ke arah diri mereka sendiri, dan kemudian bertanya apa yang telah mereka korbankan untuk Islam dan umat ini? Mengapa lidah mereka begitu ringan ikut-ikutan mengkafirkan para mujahidin yang mulia semisal Syaikh Abu Abdul Malik -rahimahullahu-. Mirisnya, para mujahidin yang mereka kafirkan ini adalah sosok-sosok mulia yang telah menghabiskan sebagian besar umur mereka dalam menuntut ilmu, berdakwah, penjara, dan jihad di jalan Allah sehingga akhirnya Allah anugerahkan mereka kesyahidan yang merupakan puncak dari kemulian tertinggi di jalan panjang ini.

Semoga Allah berikan hidayah kepada saudara-saudara kami yang telah terkena fitnah propaganda ISIS, semoga mereka bertaubat dari mengkafirkan para mujahidin yang seharusnya kita bela dan doakan selalu. Semoga Allah satukan hati kita agar kembali bersatu padu menghadapi musuh yang nyata.

Adalah Syaikh Abu Abdul Malik telah tumbuh dan besar di sebuah ma’had yang mengajarkan ilmu dan din diatas aqidah salimah dan manhaj salaf yang lurus, bahkan beliau juga mengirim dua dari anaknya untuk mengikuti jejak beliau belajar di ma’had ini yang bertempat di Iraq. Beliau mulai belajar ilmu syar’i semenjak umur yang dini, Syaikh Abu Abdul Malik telah memulai pendidikannya dengan kitab-kitab aqidah dan segala kajian yang berhubungan dengan topik aqidah dan beliau sangat bersemangat mendakwahi kaum muslimin di sekitarnya agar kembali kepada aqidah salafus shalih.

Setelah beliau menyelesaikan pendidikannya dengan cara bertalaqqi (belajar di majlis tradisional) di ma’had syar’i di Iraq, beliau melanjutkan belajar talaqqi di Masjid Nabawi dan sekaligus belajar formal di Universitas Islam Madinah Al-Munawarah. Ketika belajar di Madinah, Abu Abdul Malik adalah seorang pemuda yang sangat bersemangat dalam dakwah, bahkan beliau menulis dan menyebarkan risalah-risalah pemikiran jihad di dalam Universitas Islam Madinah. Karena dakwahnya ini, mulailah para mahasiswa Universitas Islam Madinah berpergian untuk berjihad di Iraq, dan pemikiran jihad menyebar dengan massif dan besar di kalangan mahasiswa sampai akhirnya pihak intelijen Saudi melakukan investigasi siapa dalang dari penyebaran fikrah jihadi di kalangan mahasiswa Universitas Islam Madinah.

Akhirnya, Syaikh Abu Abdul Malik memutuskan untuk segera kembali ke Iraq dan berjihad disana. Sambil menunggu waktu liburan musim panas, beliau menyadari bahwa investigasi akan dirinya semakin kuat dan akhirnya beliau memutuskan untuk segera melakukan safar ke Suriah, dan kemudian masuk ke Iraq darisana. Ternyata rencana beliau telah tercium oleh intelijen Saudi. Sehingga ketika beliau sampai di Suriah, maka pihak rezim Asad memenjarakan beliau atas permintaan Saudi selama 7 tahun di Sednayah, pinggiran Damaskus. Beliau didakwa atas peran bahaya yang beliau lakukan di Universitas Islam Madinah, yaitu menjadi mentor fikrah jihadi bagi mahasiswa disana.

Setelah keluar dari penjara, diawal kegiatan beliau dalam perjuangan dakwah di Suriah, beliau mendapat sokongan dan bantuan dari para pemuda yang menyertai beliau. Karena uang yang terbatas yang mereka miliki, mereka membeli kaset-kaset lagu yang bekas dan kemudian merekam ulang diatasnya dengan kajian-kajian keislaman yang beliau berikan serta rekaman khutbah-khutbah beliau, kemudian para pemuda ini membagikannya secara gratis kepada kaum muslimin.

Maka mulailah para pemuda Suriah di berbagai masjid mendengar dan terpengaruh dengan dakwah beliau, mereka sering berkumpul untuk mendengarkan kajian dari kaset-kaset yang dibagikan. Dalam waktu singkat, para pemuda ini telah menjelma menjadi sekelompok da’i-da’i baru yang bersemangat menyebarkan dakwah aqidah salaf dan mereka mulai menampakkan penampilan Sunnah dan memelihara jenggot, masyaAllah.

Maka datanglah saat-saat sulit dalam hidup beliau, dimana rezim kembali ingin mengincar beliau, sehingga dikisahkan beliau tidak bisa tidur di rumahnya, dan beliau tidak mendapati seorangpun yang bisa menampungnya saat itu, akhirnya beliau terpaksa tidur di jalanan beralaskan kardus.

Syaikh Abu Abdul Malik dalam proses belajarnya, tidak pernah mencukupkan diri dengan pendidikan formal di Universitas. Oleh karena itu beliau lebih banyak bertalaqqi (belajar di majlis tradisional) pada para Masyayikh Madinah diluar Universitas. Dan beliau sering menasehati teman-temanya agar tidak sibuk berdebat tentang masalah “takfir” atau “waliyul amri”sehingga lalai dari kewajiban utama untuk menuntut ilmu. Beliau pernah berkata : “Mereka (lawan debatmu) berhasil melalaikanmu dari menuntut ilmu”.

Beliau senantiasa membawa kitab-kitab kajian aqidah dan duduk paling belakang di aula, kemudian beliau menghabiskan waktunya dengan membaca semua kitab-kitab itu sendirian. Dalam hidupnya beliau telah menunjukkan pada kami tentang arti dari kemuliaan, budi pekerti yang mulia, dan kesabaran yang kokoh, serta akhlak dan pergaulan yang baik dengan teman.

Beginilah kami mengenalnya, semoga Allah menempatkan beliau dalam barisan para syuhada’ dan memberikan syurga sebagai tempat kembalinya. Allahumma Amin.

Selama tiga tahun, rakyat Suriah telah merasakan kekejaman rezim Assad dari penyiksaan, pembunuhan dan pengusiran. Ribuan anak-anak, wanita dan orang tua telah tewas; penjara penuh; jutaan penduduk kehilangan tempat tinggal; dan wanita diperkosa. Semua ini terpampang dengan jelas di depan mata dunia dan PBB, hanya terdiam tanpa melakukan apapun.

Sebaliknya, PBB (dipimpin oleh AS) malah bertindak dengan menunjuk beberapa faksi yang berjuang untuk mengakhiri penindasan ini sebagai "teroris," dan mengancam faksi lainnya.

Karena itu dalam ceramahnya, ustadz Nasir Munir (anggota Hizbut Tahrir Suriah) mengingatkan kepada kaum muslim untuk menentang setiap intervensi militer asing di kawasan itu, dan menyerukan seluruh faksi jihad untuk melawan langkah negara-negara Barat masuk ke Suriah.


14/9/2014 - Ceramah ustadz Nasir Munir di Masjid Aisah UmulMuminin, Aleppo, Suriah.

(10/9/2014) - Syaikh Hashim Abu Jabir (1968) dilahirkan di Maskana di Aleppo dan mendapatkan gelar sarjana di Teknik Mesin dari universitas Aleppo.


Beliau bekerja sebagai ahli di Pabrik Pertahanan dan telah ditangkap beberapa kali dikarenakan pemahaman agamanya; beliau ditangkap pada tahun 2005 dan dikirim ke Penjara Seidnaya dan dibebaskan pada 25 September 2011.

Beliau bergabung dengan mujahidin melawan rezim Assad di Utara dan Barat Aleppo. Kemudian beliau bergabung dengan Gerakan Fajr Al-Islam dan memimpin kelompok mujahid di daerahnya di batalion Mush’ab bin Umair.

Beliau ditunjuk sebagai anggota Dewan Syura Ahrar As-Syam sejak awal didirikannya dan kemudian sebagai pemimpin di daerah bagian Timur Aleppo.

Dan sekarang, beliau ditunjuk sebagai amir (pemimpin umum) Gerakan Islam Ahrar As-Syam setelah syahidnya pemimpin sebelumnya, Syaikh Mujahid Hassan Abboud (Abu Abdullah Al-Hamawi) rahimahullah.


Pidato Syaikh Hashim Abu Jabir setelah diangkatnya beliau menjadi pemimpin Ahrar Syam

(9/9/2104) -  Ustadz Nasir Munir, anggota kantor media Hizbut Tahrir Suriah mengadakan pertemuan dengan masyarakat di kota Atma, provinsi Idlib. Dalam pertemuan tersebut beliau menjelaskan bahwa peperangan antara banyak Kelompok Mujahidin dengan ISIS yang terjadi di Aleppo dan beberapa wilayah lain di Suriah adalah konspirasi yang dirancang Amerika dan Yahudi untuk melemahkan kekuatan perlawanan terhadap rezim Suriah.




Ustadz Nasir Munir juga menyeru kepada seluruh mujahidin yang ikhlas untuk menyatukan diri demi tegaknya Khilafah 'ala minhajin Nubuwah.  

(11/9/2014) - Mujahidin di Aleppo berhasil menembak jatuh pesawat tempur rezim jenis LAM39 dekat bandara militer kwairs, pedesaan timur Aleppo.

Media Center Suriah juga melaporkan, mujahidin berhasil juga menangkap pilotnya yang mecoba melarikan diri dengan parasut. Sang Pilot bernama Abas, diintrogasi dengan berbagai pertanyaan oleh mujahidin.



Ungkapan duka atas tewasnya para petinggi Ahrar Syam pada Selasa sore kemarin, 9 September 2014, datang dari berbagai komandan kelompok jihad di Suriah.






Ungkapan duka dari Jabhah Islamiyah atas tewasnya Hasan Aboud dan para petinggi lainnya.

Bagi kelompok jihad Ahrar Asy-Syam secara khusus dan Jabhah Islamiyah secara umum, gugurnya para amir, ulama syariat, dan komandan mereka secara berjama’ah ini merupakan sebuah prestasi tersendiri di hadapan Allah dan kaum muslimin. Allah Ta’ala berkenan memilih mereka, secara berjama’ah, dalam golongan syuhada’ di jalan-Nya setelah mereka bersama-sama menjalani jihad melawan rezim Nushairiyah Suriah selama tiga tahun lebih.

Berjuang bersama di jalan Allah dan gugur bersama di jalan Allah, insya Allah. Selamat atas gugurnya para ulama dan komandan Ahrar Asy-Syam di jalan Allah secara berjama’ah. Semoga Allah menerima amal shalih mereka, mengampuni dosa mereka, dan menempatkan mereka dalam surga yang tertinggi Al-Firdaus, dengan ridha-Nya. Aamiin.

Serangan pengkhianat yang membunuh puluhan komandan gerakan mujahidin Suriah Ahrar Syam, Selasa (09/09), dilancarkan ketika gerakan itu menggelar pertemuan umum di tempat rahasia di Idlib. Selain dihadiri para komandan brigade, pertemuan itu juga dihadiri dewan majelis Syura gerakan.

Menukil dari keterangan seorang komandan pasukan Pembebasan Suriah (FSA) Brigjend Ahmad Rahal, aktivis Suriah Khalid Syakban menjelaskan, Selasa, bahwa pertemuan itu digelar sangat rahasia di sebuah bungker bawah tanah. Sehingga, publik tidak mungkin mengetahui dan masuk ke tempat pertemuan tersebut.

Ia menambahkan sebagaimana keterangan Ahmad Rahal bahwa nampak dari tubuh para korban tanda-tanda serangan gas kimia.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, lebih dari 20 tokoh senior dan orang penting di Ahrar Syam terbunuh dalam sebuah ledakan di Idlib Utara, Selasa sore kemarin. Termasuk pemimpin tertinggi Gerakan, Abu Abdullah Al-Hamawi atau dikenal juga dengan Hassan Abbud.

Mimbar Tauhid dan Jihad yang dibimbing oleh Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi menyebut bahwa pembunuhan yang terjadi di di desa Ram Hamdan, wilayah pedesaan Idlib Utara tersebut dilakukan karena pengkhianatan. Namun, tidak dijelaskan pengkhianatan apa dan oleh siapa yang dimaksud lembaga pendukung jihad tersebut. Mimbar Tauhid berharap semoga para syuhada—insya Allah—diterima di sisi-Nya dan keluarga serta saudara-saudara seperjuangan di Ahrar Syam dikaruniai kesabaran oleh Allah.

“Kami turut berduka atas ujian besar saudara-saudara kami di Ahrar Syam dan terbunuhnya para memimpin mereka,” tulis Mimbar dalam pernyataannya.

Sementara itu, forum jihad Hanein melansir dari keterangan seorang saksi mata yang mengungkapkan melalui akun Twitter @mjahedalsham, menjelaskan bahwa ledakan itu bersumber dari TNT yang berisi gas beracun. Para korban banyak meninggal akibat sesak nafas dan sebagian tidak ditemukan luka di tubuh mereka.

Ia menegaskan, tidak ada pelaku bom bunuh diri masuk ke ruang pertemuan, atau bom mobil, atau serangan udara dalam insiden tersebut. Yang jelas, lanjutnya, ledakan tersebut bersumber dari bom yang ditanam di dalam ruangan pertemuan.

( dawaalhaq.com/hanein.info )

(9/9/2014) - Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Amir Harakah Ahrar Asy-Syam Al-Islamiyah, Syaikh Abu Abdillah Al-Hamawi Hasan Abud bersama 11 orang ulama dan komandan Ahrar Asy-Syam gugur oleh “sebuah ledakan” saat mereka melakukan pertemuan di Idlib.

Berita gugurnya Amir Ahrar Asy-Syam bersama belasan ulama dan komandan mereka juga diberitakan oleh Marshad Al-Jihad Al-Alami dan sumber-sumber mujahidin lainnya.

Mereka yang dikabarkan syahid adalah Abu Abdillah Al-Hamawi Hasan Abud dan sejumlah rekannya Abu Yazin Asy-Syami, Abu Thalhah Al-Ghab, Abu Abdil Malik Asy-Syar’i, Abu Aiman Al-Hamawi, Abu Aiman Raam Hamdan, Abu Sariyah Asy-Syami, Muhibuddin Asy-Syami, Abu Yusuf Binnisy, Thalal Al-Ahmad Tamam, Abu Zubair Al-Hamawi, Abu Hamzah Ar-Raqqah dan beberapa orang lainnya.





Ledakan terjadi manargetkan markas komando Ahrar Asy-Syam. Kejadian ini jelas menunjukan adanya intelegen musuh yang memonitoring keberadaan para pemimpin Ahrar Asy-Syam. 

Beberapa akun twitter dari tentara ISIS dan pendukungnya justru bergembira akan kejadian ini. Bisa kita baca dalam akun twitter mereka dengan hashtag "mati anjing murtad Hasan Aboud" # 

Siapapun yang membunuhnya apakah pihak ISIS ataukah pihak Rezim, maka mereka akan mendapat balasan setimpal di dunia dan akhirat.

“Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahanam. Ia kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, mengutukinya, serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. an-Nisa`: 93)

Sidang dimulai di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada Senin (8/9), 15 orang dituduh bergabung dan membiayai Jabhah Nusrah dan Ahrar Syam di Suriah, kata kantor berita resmi WAM.


Sebelas terdakwa, yang kewarganegaraannya tidak diungkapkan, muncul di sidang pertama sebelum Mahkamah Agung Federal di Abu Dhabi, kata WAM.

Tidak jelas mengapa empat sisanya tidak dihadirkan di pengadilan.

Mereka dituduh "bergabung dan mengumpulkan dana untuk dua kelompok “teroris” di luar negeri – Jabhah Nusrah dan Ahrar Syam" yang sedang berjuang melawan rezim pemerintah Suriah, Bashar Assad.

Jabhah Nusrah adalah afiliasi Al-Qaeda di Suriah, sementara Ahrar Syam adalah kelompok mujahidin yang kuat di Suriah.

Para terdakwa juga didakwa dengan tuduhan memproduksi bahan peledak, WAM melaporkan.

Salah satunya dituduh memiliki senjata api tanpa izin, sementara yang lain diduga "mengelola sebuah website yang menyebarkan informasi tentang Al-Qaeda dan menyebar ideologinya."

Sidang berikutnya akan digelar pada tanggal 23 September, tambahnya.

Pihak berwenang di negara Teluk telah mentargetkan Islamis dengan dugaan memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin atau Al-Qaeda.

Pada tanggal 23 Juni, pengadilan yang sama memejarakan enam warga Arab selama tujuh tahun setelah mendapati mereka membentuk sel Al-Qaeda dan mengumpulkan dana untuk Jabhah Nusrah.

Puluhan warga Emirat dan Mesir juga telah dipenjara karena membentuk sel Ikhwanul Muslimin, yang dilarang di Mesir dan dituduh berusaha menggulingkan monarki Teluk.

Ahli PBB Gabriela Knaul Maret mengkritik pelanggaran dan kurangnya transparansi dalam proses pengadilan UAE, dan mendesak penyelidikan independen atas tuduhan penyiksaan di penjara.

(9/2014) - Sebuah rekaman audio telah dirilis dari kantor media kesatuan mujahidin dalam ruang operasi "Nahrawan AsSham". Sheikh Hussam AlAtrash selaku anggota majelis syar'i dalam operasi ini, berdebat dengan pihak Syar'i ISIS melalui jaringan telepon. Berdasarkan AlQuran dan AsSunnah, Sheikh Hussam AlAtrash mempertanyakan tindakan ISIS memberi label murtad terhadap mujahidin, dan menyerang wilayah yang dibebaskan mujahidin seperti Aleppo, Raqqa, dan Deir ezZour.



(9/2014) - Pertempuran dengan ISIS di utara pedesaan wilayah Aleppo terus berlangsung, kesatuan mujahidin dengan sandi peperangan "Nahrawan As-Sham" melakukan serangan menggunakan senjata berat.







Laporan dari situs berita Addurar AsShamiya, dalam serangan ini beberapa anggota ISIS dikabarkan tewas dan terluka. Mujahidin mulai mendapat kemajuan di pedesaan dekat kota Akhtarin yang masih dikuasai ISIS.   

Liwa al-Haq (لواء الحق ) adalah kelompok pemberontak Islamis bersenjata yang telah aktif selama Perang Revolusi Suriah di wilayah Homs.

Pada tanggal 11 Agustus 2012, beberapa kelompok berhaluan Islam di Homs membentuk Liwa al-Haq, yang kemudian menjadi salah satu kelompok pertempuran paling menonjol di daerah tersebut. Adalah gabungan dari Katibat al -Furati, Kataeb Atbaa al-Rasoul dan Katibat al-Ansar.

Pada bulan Desember 2012, Liwa al-Haq bergabung dengan kelompok pemberontak lain untuk membentuk Front Islam Suriah (SIF). Kemuian pada bulan November 2013,  SIF dibubarkan sehingga Liwa al-Haq, Ansar al-Sham, Ahrar al-Sham, Jaish alIslam membentuk persatuan yang lebih luas dengan nama Front Islam (Jabhah Islamiyah).

Pada April 2014, Liwa al-Haq telah dilaporkan melemah di tengah kemajuan yang dibuat oleh militer Suriah di wilayah Homs.

Pada bulan Agustus 2014 mulai menghimpun kembali kekuatan di bawah komando Jabhah Islamiyah untuk masuk kembali ke wilayah Homs.

Berikut ini sebuah video yang dirilis Liwa al-Haq baru-baru ini. Video memperlihatkan aktivitas para sniper Liwa al-Haqq pada pekan pertama September, dimana beberapa tentara rezim Suriah tewas terkena tembakan.

  


Mujahidin Suriah telah membuat kemajuan di Dataran Tinggi Golan, mereka terus meraih wilayah di dekat daerah yang diduduki “Israel” di provinsi Qunaitirah, ujar laporan kelompok aktivis Suriah.



 (5/9/2014) Qunaitirah - dokumentasi dari kelompok Fathu AsSham, saat menargetkan beberapa tentara rezim yang mencoba kabur dari markasnya.



Ghonimah yang didapat oleh kelompok Fajru atTauhid di salah satu markas Qunaitirah

"Pada hari Sabtu rezim mencoba untuk mengambil kembali desa Msahra, namun gagal, Selama pertempuran mujahidin berhasil mengusai serangkaian puncak bukit di wilayah tersebut," ujar Direktur Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), Rami Abdel-Rahman pada Ahad (7/9) seperti dilaporkan AFP.

Mantan anggota parlemen Kuwait, Dr Walid Tabtabai, menyatakan di akun twitternya bahwa segala tindakan ISIS di Suriah telah memberikan pembenaran bagi Barat untuk menggelar invasi militer.


Bahkan beliau berkata bahwa sangat naif jika tidak ada peran intelegen dalam tubuh ISIS.

Seperti yang dikutip oleh situs Addurar Asshamiya, bahwa ISIS sebelumnya pada Juni lalu, pernah mengancam akan membunuh Dr Walid Tabtabai.


Dr Walid Tabtabai ikut berperang bersama salah satu front mujahidin di Suriah

Pada 31 Agustus, seorang veteran jihad Al-Qaeda, Syaikh Abu Firas As-Suri Hafidhahullah mengumumkan kehadirannya di sosmed dengan membuat akun Twitter dan Facebook. Untuk Syaikh Abu Firas, seorang mujahid yang lama beroperasi di belakang layar, situs media sosial adalah indikasi dari berapa banyak hal telah berubah sejak beliau pertama kali memilih jalan jihad pada 1970-an. Beliau telah berubah dari seorang agen rahasia dalam jaringan internasional Al-Qaeda menjadi sebagai juru bicara Jabhah Nusrah.

Dalam menjalani peran beliau sebagai seorang jubir, Syaikh Abu Firas menangani urusan publik yang paling penting. Misalnya saat beliau, petinggi Jabhah Nusrah yang bertugas menjelaskan mengapa kelompok telah menyandera 44 tentara PBB.

Peran Syaikh Abu Firas sebagai tokoh senior dalam Jabhah Nusrah, cabang resmi Al-Qaeda di Suriah, tidak diketahui sampai Maret tahun ini ketika beliau pertama kali muncul di video. Jabhah Nusrah memperkenalkan Syaikh Abu Firas sebagai salah satu saksi terhadap kelakuan Daulah (ISIS), mantan cabang Al Qaeda yang telah menyempal.

Beberapa bulan sejak penampilan video yang pertama, beliau telah mendapat peran yang semakin penting dalam Jabhah Nusrah. Pada bulan Juli, Syaikh Abu Firas memperkenalkan Syaikh Abu Muhammad Al-Jaulani, amir Jabhah Nusrah ini, dalam pertemuan para mujahid. Suaranya bisa terdengar pada rekaman audio dari pertemuan itu, di mana Syaikh Al-Jaulani berbicara mengenai penegakan sebuah Imarah Islam di Suriah.

Rekaman audio itu sempat merenggangkan hubungan erat JN dengan kelompok jihad terkemuka lainnya, karena kedengarannya seolah-olah JN ingin mengikuti jejak ISIS yang mendirikan “khilafah” secara sepihak dan secara sepihak menyatakan dirinya otoritas tertinggi di Suriah. Dan ketika JN berusaha untuk meyakinkan sekutunya bahwa bukan itu maksudnya, dan itu dijelaskan oleh Syaikh Abu Firas. Dalam sebuah video yang dirilis oleh Jabhah Nusrah pada 8 Agustus, Syaikh Abu Firas mengatakan JN hanya akan mendeklarasikan Imarah Islam di Suriah setelah berkonsultasi dengan kelompok jihad lainnya. Pada saat itu, JN secara terbuka menyebut Syaikh Abu Firas sebagai juru bicara resmi.

Sebuah posting di halaman Twitter Abu Firas pada 31 Agustus mengatakan bahwa akunnya adalah "akun resmi dan hanya satu-satunya akun juru bicara Al-Qaeda" di Suriah.

Pasukan "penjaga perdamaian" PBB disandera

Akhir bulan lalu, Jabhah Nusrah menangkap lebih dari 40 pasukan PBB dalam pertempuran di perbatasan Quneitra, yang menghubungkan Suriah ke bagian yang dikuasai Israel dari Dataran Tinggi Golan.

Bahkan sebelum Jabhah Nusrah mengumumkan bahwa telah menahan para sandera, Syaikh Abu Firas mulai membangun kasus kelompok terhadap PBB. Dalam sebuah video yang dirilis oleh JN pada 27 Agustus, beliau mengecam keputusan PBB yang mengutuk Jabhah Nusrah berdasarkan Bab VII dari Piagam PBB.

AS dan PBB telah mengambil langkah-langkah untuk menargetkan Jabhah Nusrah sebagai organisasi teroris pada minggu-minggu menjelang video tersebut. Komandan Al-Qaeda tersebut menyodorkan fakta, bahwa justru PBB-lah yang menjadi organisasi teroris yang nyata, dan melayani aliansi Zio-Protestan. Beliau menyatakan bahwa PBB hanya menggunakan kekuasaannya untuk menargetkan kaum Muslimin, dan tidak untuk mengutuk penjajahan dan kejahatan perang yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

"PBB adalah lembaga yang didirikan berdasarkan kekafiran dan teror," beliau mengatakan. "Kita tahu bahwa PBB dan Barat tidak menginginkan stabilitas di Syam (Suriah), dan tidak ingin Syam diperintah oleh Islam," beliau melanjutkan. "Kita tahu bahwa PBB adalah salah satu pendukung terbesar dan penyokong Negara Yahudi, dan pembentukan sebuah Imarah Islam yang diatur dengan Syariah Allah di syam pastinya langsung mengancam Negara bikinan PBB, Negara Yahudi Israel."

"Ada banyak basa-basi dan obrolan tentang isu tawanan dari apa yang disebut PBB," tulis beliau di akun Twitter-nya. "Kami mengatakan bahwa Al-Qaeda dan cabangnya di Syam, Jabhah Nusrah, tidak didirikan tetapi untuk mendirikan Syariah Allah dan menegakkan kalimat Allah." Selanjutnya Syaikh Abu Firas menjelaskan bahwa situasi penyanderaan akan diputuskan sesuai dengan hukum syariah.

Tentara PBB yang disandera oleh Jabhah Nusrah adalah dari Fiji dan pemerintah Fiji mengatakan, Jabhah Nusrah telah mengeluarkan serangkaian tuntutan yang harus dipenuhi untuk membebaskan para sandera. Menurut Voice of America, Jabhah Nusrah ingin dihapus dari daftar organisasi teroris PBB, dan bantuan kemanusiaan untuk daerah sekitar Damaskus, dan kompensasi untuk tiga mujahid Jabhah Nusrah yang syahid dalam pertempuran.

Permintaan pertama adalah sepenuhnya sama dengan pernyataan Syaikh Abu Firas yang menyatakan menentang terhadap penunjukan Jabhah Nusrah sebagai organisasi teroris oleh PBB.


Biografi singkat Syaikh Abu Firas As-Suri

Hanya sedikit hal yang diketahui tentang Abu Firas As-Suri hingga beliau muncul dengan tiba-tiba dalam video Jabhah Nusrah yang mencakup ringkasan biografinya.

Menurut Jabhah Nusrah, Abu Firas pernah bersekolah militer dan bergabung dengan militer Suriah, Namun ia dibebaskan dari tugasnya/dipecat karena kecenderungan dia terhadap  pemikiran Islam.  Abu Firas adalah anggota dari Suriah Ikhwanul Muslimin dan berperang melawan rezim Hafizh Assad, ayah dari Bashar Assad, pada tahun 1979 dan 1980.

Abu Firas melakukan perjalanan ke Yordania dan kemudian Afghanistan, di mana ia bertemu dengan Syaikh Abdullah Azzam dan Syaikh Usamah bin Ladin. Beliau dilatih baik di Afghanistan dan Negara Arab, serta berjihad di negara-negara lain di seluruh dunia, dan bekerja untuk mengakhiri konflik antara kelompok jihad tak dikenal di dalam Afghanistan.

Jabhah Nusrah menyebutkan bahwa Abu Firas merupakan Utusan Syaikh Usamah Bin Ladin untuk Pakistan dalam rangka memobilisasi orang-orang untuk berjihad. “Dan Kelompok jihad Pakistan Lashkar Taiba (LeT) didirikan untuk tujuan ini”, kata Jabhah Nusrah. Lashkar Taiba dan kelompok lain “didirikan, dilatih, dan didanai oleh Syaikh Usamah Bin Laden.”

Lebih lanjut, untuk menunjukkan senioritas Abu Firas dalam Al-Qaeda, Jabhah Nusrah mengatakan bahwa ia bekerja dengan dua komandan militer, Abu Ubaidah Al-Banshiri dan Abu Hafs Al Misri. Abu Firas juga bekerja sama dengan Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi.

Setelah serangan mubarak  9/11, Abu Firas melindungi  keluarga mujahidin di Pakistan, yang berarti bahwa ia membantu keluarga Al-Qaeda dan orang lain untuk menemukan tempat perlindungan di negara ini .

Pada tahun 2003, Abu Firas pindah ke Yaman dan tinggal di sana sampai tahun 2013. Ketika konflik antara ISIS dan Jabhah Nusrah meletus, Abu Firas yang merupakan orang senior Al-Qaeda dikirim untuk membantu mengakhiri Konflik tersebut.

Dalam Video tersebut Abu Firas telah mengikuti arahan dari Amir Jabhah Nusrah, Syaikh Al-Fatih Abu Muhammad Al Jaulani yang ingin menyelesaikan konflik tersebut dengan ISIS.

(lwj/muqawamah)

Harokah Islam Suriah menyatakan bergabung dalam Jaish alIslam yang dipimpin oleh Muhammad Zahran bin Abdullah Alousi. Prosesi penyatuan dilakukan di Ghoutah, pinggiran Damaskus.



Harakah Islam Suriah adalah salah satu kelompok terbesar di wilayah pinggiran Damaskus, terdiri dari Liwa Dar'u alIslam, Liwa Fajri alIslam, Liwa Suwari Ghoutah Sarqiyah, dan Liwa Syuhada Islam. Mereka semua sekarang sudah menyatu dalam Jaish alIslam.


Pada Senin (01/09/2014), Putera Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz tiba di Paris dalam pembicaraan dengan Presiden Francois Hollande.

saudi-prancis

Kedua petinggi negara tersebut membicarakan kebangkitan jihadis di Lebanon. Arab Saudi berencana membiayai pengiriman senjata Perancis ke Lebanon.

Saudi lewat Salman bin Abdul Aziz, yang juga merangkap sebagai wakil PM serta menteri pertahanan, telah menyetujui untuk memberikan bantuan biaya sebanyak 3 milyar dolar AS dalam pengiriman senjata ini.

Raja Saudi, Abdullah Al-Saud sendiri telah memperingatkan bahaya kebangkitan jihadis di Timur Tengah. Ia memberikan perumpamaan yang cukup hiperbola, dengan mengatakan jika mereka para jihadis akan tiba sampai ke Eropa dan Amerika.

Saudi berhak untuk merasa khawatir dengan kebangkitan tersebut, karena mereka berbatasan langsung dengan Irak sepanjang 800 kilometer, yang merupakan tempat di mana Daulah Islamiyah semakin memperkuat eksistensinya.

[TDS]

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget