Halloween Costume ideas 2015
[ads-post]

(Bagian 1) Wawancara Ekslusif dengan Bilal Abdul Karim

Seorang jurnalis dan pembuat film, Bilal Abdul Karim tinggal bersama dengan pihak oposisi Suriah selama dua tahun, untuk mendokumentasikan perkembangan politik dan militer mereka yang tengah berjuang untuk menggulingkan rezim Bashar al Assad. Dalam wawancara eksklusif dua bagian dengan Dilly Hussain, jurnalis Amerika itu menjelaskan apa yang menyebabkan dia berangkat ke Suriah dan pengamatannya mengenai revolusi Suriah.
Bilal Abdul Karim

DH: Bilal, perkenalkan diri Anda. Dimana anda lahir? Apakah Anda memiliki saudara? Apakah Anda sudah menikah? Apakah Anda punya anak? Di mana Anda tinggal saat ini?

BAK: Saya lahir dan dibesarkan di New York. Saya punya satu adik dan kakak. Saat ini saya tinggal di Doha, Qatar. Saya memiliki enam “bayi” yang tidak benar-benar bayi lagi karena mereka semua ingin iPads dan ponsel dibandingkan bermain boneka.

DH: Apakah pendidikan terakhir Anda? Apakah Anda kuliah?

BAK: Saya kuliah di Universitas Negeri New York di mana saya belajar menulis kreatif. Saya juga belajar komposisi studio pada waktu itu saya menggemari musik.

DH: Apa yang Anda lakukan sebelum menjadi seorang jurnalis dan pembuat film?

BAK: Saya adalah Direktur Programming untuk Huda TV yang berbasis di Kairo. Selain itu saya melakukan beberapa pekerjaan lain seperti terjemahan materi keagamaan dari bahasa Arab ke bahasa Inggris, dan saya melakukan banyak rekaman suara dari buku. Tapi maksud Anda apa yang saya lakukan sebelum menjadi Muslim, maka jawabannya akan sangat berbeda. Aku mendalami stand up comedy dan hal-hal lain beberapa tahun lalu.

DH: Apa pendapat Anda mengenai Arab Spring? Apakah ia memiliki pencapaian?

BAK: Saya percaya bahwa ia mencapai banyak hal. Saya mencoba untuk melihat hal-hal ini dengan “mentalitas seorang pengembang”. Tanah Muslim berada dalam kondisi yang buruk begitu lama, dan bahwa sangat tidak realistis jika mereka tiba-tiba muncul dari keterbatasan dan kegelapan seperti ini tanpa penyebab, dan penyebabnya adalah beberapa gejolak yang kita lihat hari ini.
Apakah orang-orang dari daerah mendapat hasil dari Arab Spring? Belum, tapi hanya tiga setengah tahun dari awal musim semi, kita tidak bisa mengharapkan hasilnya dulu. Saya fokus pada melihat semua ini sebagai dasar bagi apa yang akan kita lihat pada tahun 2016 dan 2017 insya Allah.

DH: Apakah Anda pernah meliput perang lain selain Suriah?

BAK: Suriah adalah liputan perang pertama saya. Namun, aku pernah bekerja di Libya tak lama setelah jatuhnya Gadaffi. Wartawan Amerika berkeliaran di Libya adalah suatu hal yang berbahaya. Saya akui, saya memberitahu orang-orang, kadang saya berasal dari Nigeria atau Kenya. Ini membantu menjaga saya dari penculikan.

DH: Apa yang membuat Anda pergi ke Suriah? Apakah ada sesuatu yang menonjol yang membuatnya berbeda dengan konflik lainnya?

BAK: Awalnya saya pergi ke Suriah untuk meliput berita mengenai pejuang revolusi pada umumnya. Kemudian saya menjadi terpesona dengan apa yang saya lihat dari pejuang asing. Kebanyakan mereka merupakan pejuang yang hebat. Aku bertemu dengan Umar Shishani (Chechnya) dan bertanya apakah saya bisa merekam salah satu pejuangnya dan membuat cerita tentangnya. Ini terjadi sebelum masuknya ISIS ke Suriah. Dia setuju dan saya memulai perjalanan yang telah saya bawakan untuk Anda lihat hari ini.

DH: Apakah Anda pikir pemberontakan di Suriah adalah dimulai oleh sektarian atau itu benar-benar sebuah protes politik melawan diktator yang menindas?

BAK: Saya berpikir tidak keduanya. Mereka rakyat Suriah menuntut hak-hak dasar seperti hak untuk menentang kebijakan tahanan tanpa batas waktu, hak agar anak-anakmu tidak dibunuh dengan kejam bukanlah aspirasi politik, tapi ini adalah aspirasi manusia.

Seperti yang diperkirakan, rezim menanggapi permintaan rakyat Suriah dengan melakukan lebih banyak pembunuhan untuk menakut-nakuti para aktivis. Itu tidak berhasil. Pada saat itu orang-orang Suriah tidak religius dan benar-benar tidak peduli siapa yang Sunni, yang Syiah dan siapa yang Alawi. Mereka semua tinggal bersama-sama dan bergaul relatif baik. Namun, setelah revolusi dimulai dan rezim mulai kehilangan wilayah, mereka meminta bantuan ke Iran dan Hizbullah, inilah yang membuat konflik ini berubah menjadi konflik sektarian.

DH: Kapan Anda tiba di Suriah dan siapa yang pertama kali menjadi tuan rumah Anda?

BAK: Perjalanan pertama saya ke Suriah adalah di musim panas 2012. Saya pada awalnya bertemu dengan Ahrar as-Sham. Mereka adalah kelompok jihad yang sangat agresif yang kepemimpinannya terdiri dari banyak mantan tahanan yang berada di ruang penyiksaan Assad.

Pemimpin Ahrar al-Sham, Hassan Abboud adalah salah satu orang yang paling menarik yang saya temui. Ketika saya pertama kali tiba di Suriah aku menunggunya selama beberapa hari di markas mereka. Aku tidak tahu seperti apa orangnya. Namun dari cara orang berbicara tentangnya mereka sangat menghormati dia sebagai seorang pemimpin dan umumnya tidak bergerak tanpa persetujuannya. Saya adalah seorang wartawan Amerika dan awalnya mereka tidak percaya padaku. Saya bertanya-tanya apa reaksinya terhadap saya. Ketika dia tiba, dengan diapit oleh anggota kelompoknya, dia bertanya: “Bilal, bagaimana saya tahu Anda tidak bekerja untuk CIA?” Itu adalah percakapan yang saya tidak akan pernah lupakan!

DH: Apakah Anda mengatakan ada sentimen Islam yang kuat dalam revolusi Suriah?

BAK: Tidak kurang dari 75% dari para pejuang yang aktif dalam konflik ini berasal dari kelompok Islam. Tidak mungkin kelompok ini dapat diabaikan, tidak peduli berapa banyak Negara-negara barat ingin mencoba dan memasukkan beberapa bonekanya untuk membuat pemerintahan yang demokratis. Saya telah lama mengatakan bahwa satu-satunya jalan keluar dari situasi ini adalah dengan menciptakan win-win solution. Trik media murahan yang menciptakan boneka diktator adalah merupakan cara yang lama dan basi. Ini berhasil selama bertahun-tahun tapi saya pikir hari itu sudah berakhir.

Jika kita serius ingin menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua pihak maka jalan yang terbaik ada di depan. Mayoritas para pejuang lahir dan dibesarkan di Suriah, sehingga tidak benar yang diberitakan oleh media Barat yang mengatakan bahwa hanya pejuang asing yang ingin mendirikan pemerintahan Islam.

DH: Anda melakukan kontak dengan berbagai faksi revolusi, yang bersatu untuk menggulingkan rezim Bashar al Assad, tetapi berbeda dalam visi mereka tentang Suriah pasca jatuhnya Assad. Bagaimana negara-negara adidaya dan pemerintah regional mempengaruhi ini?

BAK: Sejujurnya, dan saya tahu ini akan terdengar aneh, tapi sekuat apapun Negara adikuasa mencoba untuk mempengaruhi para pejuang, saya pikir mereka semua akan gagal, dengan pengecualian untuk ISIS. Namun ISIS, menurut pengetahuan saya bukanlah produk dari sebuah negara. AS berusaha sangat keras untuk mendapatkan Dewan Nasional Suriah (SNC) untuk menjadi pemilik kekuasaan dalam konflik ini, tetapi mereka tidak mendapat dukungan dari rakyat.

Saya selalu mendengar berita mengenai Arab Saudi, Qatar, dan Turki yang mengendalikan revolusi ini di balik tirai, tapi di lapangan, saya tidak pernah melihatnya. Aku tidur dan makan bersama dengan banyak pejuang, baik asing maupun Suriah, termasuk komandan mereka dan mereka berjuang untuk mendapatkan amunisi dan uang untuk membeli makanan bagi para pejuang mereka. Sebagian besar senjata didapatkan dari ghonimah hasil perang.

Saya sangat percaya bahwa pengaruh Arab Saudi terhadap revolusi Suriah terlalu dibesar-besarkan. Banyak dari apa yang terjadi di Suriah tidak sejalan dengan kebijakan Saudi itu sendiri, maka merupakan hal yang menggelikan jika kita berpikir bahwa mereka yang menciptakan atau membantu revolusi itu. Turki adalah negara sekuler, mengapa mereka mencoba untuk menciptakan revolusi Islam? Qatar memang banyak membantu dalam hal kemanusiaan tapi saya harus mengakui, bahwa saya tidak melihat atau mendengar apapun mengenai pengiriman senjata dari Qatar pada mereka.

Apakah saya percaya bahwa ada beberapa bantuan militer yang diberikan kepada para pejuang? Tentu saja saya percaya, tapi semangat Islam telah mengakar secara organis. Inilah sebabnya mengapa Negara-negara adidaya tidak memiliki kekuatan yang nyata untuk menggoyahkan atau mengontrol revolusi.

DH: Menurut Anda, apakah Negara-negara Barat, yaitu Amerika Serikat dan Inggris telah ikut bermain dalam konflik Suriah? Bagaimana kebijakan itu berubah sejak awal perang?

BAK: Pertama, Inggris jarang memiliki agenda kebijakan luar negerinya sendiri. Apapun yang dikatakan Amerika, Inggris akan turuti. Baik AS dan Inggris mulai dengan mengatakan bahwa mereka mendukung para pejuang, dan mereka benar-benar ingin nimbrung menang juga! Mereka memasang taruhan mereka kepada Tentara Pembebasan Suriah (FSA), agar bisa menggulingkan Assad dan mereka bisa mendulang uang dan kekuasaan di bawah hidung mereka dan mereka bisa menempatkan pemerintahan boneka pro Barat di Damaskus tanpa mengeluarkan darah atau keringat. Namun itu gagal. Para mujahidin mengambil alih revolusi dan sejak itu, barat gagal mencampuri revolusi di Suriah.

Jika Amerika dan Inggris ingin berperan dalam membantu rakyat Suriah tumbuh dan sejahtera, maka mereka harus mulai dengan berhenti memperlakukan semua pejuang Islam sebagai “teroris”. Sama sekali tidak ada manfaatnya bagi rakyat Amerika dalam kebijakan ini. Ini tidak akurat dan itu benar-benar menyalakan api kebencian dalam hati orang-orang yang seharusnya tidak menjadi musuh mereka.

DH: Apa peran yang dimainkan negara-negara tetangga Muslim? Yaitu Turki, Arab Saudi dan Qatar?

BAK: Turki telah memberikan bantuan besar bagi rakyat sipil Suriah. Perdana Menteri Erdogan tidak mencoba untuk bertindak seperti beberapa politisi ketika krisis ini dimulai, dia bertindak seperti manusia.

Orang-orang menderita dan dia menanggapi dengan membantu mereka, tanpa embel-embel. Walaupun saya tidak setuju dengan yang dia katakan dan lakukan, namun saya mengatakan bahwa saya memiliki banyak rasa hormat kepadanya, dan tidak ada pejabat senior yang sepertinya di wilayah ini dan saya ingin memberitahukannya suatu hari nanti.

Qatar telah sangat murah hati dalam membantu saudara-saudara Muslim mereka dan saudara yang membutuhkan serta menghabiskan jutaan dolar bantuan. Aku senang melihat pemerintah membantu orang karena mereka membutuhkannya, dan bukan karena itu sesuai dengan kepentingan strategis negara mereka saja.

Adapun Saudi, mereka juga telah bermurah hati dalam pemberian mereka bantuan kemanusiaan. Namun, bantuan yang benar-benar dari Arab Saudi adalah berasal dari rakyatnya, bukan pemerintah. Dalam pandangan saya, mereka (masyarakatnya) adalah pahlawan sejati dari Jazirah Arab.

DH: Peran apa yang dilakukan Rusia, Iran dan Hizbullah yang ikut bermain dalam konflik Suriah?

BAK: Saya tidak melihat bahwa mereka memiliki peran yang konstruktif untuk bermain dalam urusan ini. Membantu rezim pembunuh ini adalah noda yang akan tertulis di catatan negara mereka masing-masing. Bagaimana orang bisa berpikir bahwa seseorang mendukung orang yang memerintahkan untuk menghujani warga sipil dengan bom barel. Sesungguhnya itu mengherankan bagaimana orang-orang ini tidur di malam hari, melihat korban tewas dan bertahan dalam membantu Assad. Hal terbaik yang bisa mereka lakukan adalah tidak ikut campur dalam hal itu.

Pada bagian 2 dari wawancara, Bilal akan menggambarkan bagaimana orang-orang Suriah menanggapi pejuang asing, ia bertemu dengan berbagai faksi mujahidin termasuk Jabhah Nusrah.

(sumber : 5pillarz / Twitter @BilalKareem @DillyHussain88)
materi islam

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget