Halloween Costume ideas 2015
[ads-post]

Terowongan Bawah Tanah di Damaskus

Tentara rezim Suriah dan pejuang bertempur di bawah tanah, menggali terowongan dalam upaya untuk mengontrol pintu masuk timur ke ibukota Damskus.

Ini adalah pinggiran daerah Jobar, bersebelahan dengan Abassid Square, kubu pertahanan rezim Bashar Assad. Tentara tahu bahwa jika wilayah ini direbut mujahidin, maka seluruh pertahanan ibukota berada dalam bahaya.

Di dalam sebuah bangunan kosong, sebuah lubang di lantai mengarah ke ruang observasi, 7 meter ke bawah, di mana komputer-komputer milik militer terhubung dengan kamera dipasang di dalam jalur terowongan.

Tapi Mazen, sang kapten, menjelaskan bahwa kamera  hanya digunakan dalam pelacakan gerakan musuh.

“Kami bergantung di atas semua itu pada telinga kita. Ketika kita sudah menemukan sumber kebisingan, kita menggali ke arah itu.”

“Lalu terjadi kejutan: Pilihannya, Jika para mujahidin ada di sana maka kami bertempur, atau kita memotong terowongan tersebut, atau kita gunakan untuk diri kita sendiri.”

Ada dua perang yang terjadi di sini, satu di atas tanah, yang lainnya di bawah sini.

Di udara terbuka, penembak jitu dari kedua belah pihak menembak dari gedung-gedung kadang-kadang hanya beberapa meter jaraknya, suata dentuman mortir dan serangan udara rezim sesekali menggoyang daerah itu.

“Ada dua kota. Yang maya di atas sana, dan yang lainnya yang nyata ada di bawah sini,” kata seorang prajurit yang sedang memonitor layar komputer.

Untuk menghindari penembak jitu, orang-orang di kedua belah pihak telah menghubungkan bangunan yang mereka kontrol melalui jaringan terowongan bawah tanah yang digali melalui tanah merah dan diterangi dengan lampu.

“Terowongan pertama adalah untuk persediaan makanan, yang kedua untuk berkomunikasi tentang posisi kita, dan yang ketiga untuk mengevakuasi yang terluka,” jelas Maher, seorang perwira tentara berjenggot yang mengenakan seragam.

“Yang terakhir, yang bisa pergi ke kedalaman 12 meter, mengelilingi bangunan dan, jika musuh mencoba untuk masuk, kita meledakkan bom yang ditempatkan di dalamnya.”

Kedua belah pihak menggali terowongan mereka pada tingkat kedalaman yang berbeda untuk mengurangi risiko benturan yang berpotensi mematikan antara satu sama lain, ini menjadi seperti permainan kucing dan tikus.

Tentara rezim terpaksa merespon seperti ini ketika posisi mereka di Jobar barat diserang tahun lalu, dimana para mujahidin membom beberapa bangunan yang mereka duduki.

“Taktik para prajurit ada dua cara, yang pertama menggali sampai tepat di bawah gedung dan meledakkannya, atau yang kedua,  mengebor terowongan melewati garis demarkasi sehingga mereka dapat masuk ke kota dari belakang kami,” kata seorang komandan lokal, Kolonel Ramez.

Ramez telah memanggil ahli-ahli geologi yang dilengkapi dengan sensor yang mampu mendeteksi rongga pada kedalaman hingga 15 meter, tapi kadang-kadang mereka hanya menemukan pipa kuno zaman Romawi.

Bagi tentara rezim ada dua garis merah – “Abbasiyah Square” dan “Tower Jobar 8 Maret”, yang akan memungkinkan para penembak jitu pejuang pembebasan untuk dapat menargetkan banyak daerah di Damaskus timur jika mereka berhasil merebut tempat-tempat itu.

Beberapa bulan yang lalu tentara rezim menemukan sebuah terowongan pejuang yang menuju ke belakang garis pertahanan mereka, dan berhasil menggagalkan “serangan besar-besaran terhadap Damaskus” pada menit-menit terakhir, kata kolonel itu.

Menurut seorang perwira intelijen suriah, rencana mereka (mujahidin) adalah mengirim 30 pembom syahid untuk menargetkan beberapa bangunan, membuka jalan bagi 1.000 tentara pejuang untuk menebar kekacauan di jajaran militer.

Dalam sebuah dokumen berjudul “perang terowongan”, kantor pers Tentara Revolusioner Suriah  juga mengatakan bahwa penggalian terowongan memiliki beberapa tujuan, termasuk mengamankan pasokan makanan untuk kota-kota yang terkepung, mencapai musuh dan menghancurkan posisi mereka.

“Belum pernah terjadi di dunia ini suatu jaringan terowongan yang padat seperti yang terjadi di Suriah saat ini. Ini dimulai di Homs pada tahun 2012, dan tentara rezim mulai saat itu telah menemukan 500 buah yang seperti itu. Tapi saya pikir ada dua kali lebih banyak dari itu,” kata Salim Harba, seorang akademisi di Damaskus.

Perang terowongan bawah tanah aktif terjadi di wilayah Damaskus, Aleppo, dan Daraa. Pada tanggal 31 Mei, setidaknya 45 tentara rezim Suriah tewas dalam ledakan dari bawah pada sebuah pangkalan militer di Aleppo yang dilakukan oleh pejuang Front Islam (Islamic Front), mereka mengaku bertanggung jawab atas ledakan di terowongan di Zahrawi , wilayah sekitar Aleppo. Ledakan tersebut menewaskan paling sedikitnya 20 tentara rezim dan milisi pendukungnya. Sebuah Sumber mengatakan bahwa para mujahidin belajar melakukan  serangan tersebut dari gerakan Palestina, Hamas.
materi islam

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget