Halloween Costume ideas 2015
April 2014

Sebuah halaman jejaring sosial menunjukkan pembangunan benteng beton yang dimulai sejak dua hari yang lalu (26/04/2014) di sepanjang perbatasan dengan wilayah Suriah. Pembangunan dimulai dari selatan Provinsi Hatay.


Selain di Hatay, akun yang beralamat twitter di @AlNusrah juga menyebut pembangunan serupa telah dimulai di Gaziantep pada Januari lalu. Pembangunan ini dimaksudkan sebagai pencegah penyelundupan dan pelintas batas ilegal.

Dinding-dinding ini jika selesai akan sepanjang 1200 meter. Sedangkan berat bloknya sekitar sembilan ton.
Kegiatan melintas batas di perbatasan Turki – Suriah di area-area yang tak terjangkau oleh aparat perbatasan setempat.

Konstruksi serupa antara Nusaybin dan Qamishli pada sepanjang perbatasan Suriah di bulan Oktober lalu mendapatkan protes. Bahkan walikota distrik Sirnak mogok makan karenanya.

Kehidupan di kamp pengungsi Zaatari, Yordania semakin sulit bagi 130.000 pengungsi Suriah, yang sebagian besar telah melarikan diri dari pertempuran di Suriah selatan.

Pihak keamanan semakin sulit untuk mengontrol di kamp pengungsi yang penuh sesak ini, sementara para pengungsi jugamenjadi korban bagi orang-orang yang berkuasa untuk mencoba mencari nafkah.

Awal bulan ini , massa pengungsi yang marah menyerang polisi Yordania dengan batu, mendorong polisi untuk menembakkan gas air mata. Dalam bentrokan itu dilaporkan seorang pengungsi tewas dan 28 polisi terluka.

Seperti dikutip dari todayzaman, Ahad, (27/04), protes itu dipicu setelah polisi menahan sebuah keluarga pengungsi dan seorang sopir yang mencoba menyelundupkan mereka keluar dari kamp. PBB mengatakan khawatir akan “sifat kekerasan” aksi demonstrasi itu.

Sejumlah warga pengungsi yang frustrasi dengan keadaan kamp Zaatari, kini pergi untuk mendirikan kamp-kamp baru di lahan terbuka secara ilegal, untuk menghindari ketegangan.

Di antara mereka adalah Abu Hassan, seorang ayah dari 12 anak yang telah kehilangan salah satu anaknya dalam perang di Suriah. Dia mengatakan dia tidak bisa mentolerir kekerasan di kamp Zaatari dan mengkhawatirkan anak-anaknya – yang salah satunya telah terluka akibat luka pecahan peluru di kaki kirinya.

Abu Hassan lari dari kamp Zaatari dan menetap bersama keluarganya di pinggiran Amman, sekitar 70 kilometer ke arah selatan dari Zaatari. Di sana, ia bergabung dengan orang lain yang telah mendirikan kamp di samping sebuah pabrik plastik dengan harapan mendapatkan pekerjaan.

Pemukiman ilegal tidak diakui oleh pemerintah Yordania, tetapi karena semakin hari semakin banyak kamp-kamp pengungsi dibangun di seluruh penjuru negeri, hanya sedikit yang bisa dilakukan pemerintah untuk membongkar mereka.

Kamp Abu Hassan memiliki kurang dari 100 tenda, beberapa dari mereka menggunakan tenda UNHCR dari kamp Zaatari sementara tenda lainnya yang terbuat dari karung beras dan karung tepung karung. Lokasi tersebut tidak memiliki akses listrik dan tidak ada air. Aktivis datang untuk menyumbangkan air, dan penduduk setempat memberi aliran listrik dari pabrik atau pasar sayur yang terletak tak jauh dari kamp tersebut.

Abu Hassan, yang tak mau menyebutkan nama aslinya ini, mengatakan bahwa ia bekerja di pabrik selama beberapa waktu, namun pemilik pabrik takut mendapatkan kesulitan dengan pemerintah jika terus membantu Abu Hassan.

Untuk saat ini, Abu Hassan mengirimkan anak-anaknya untuk menjual dan bekerja di pasar sayuran, yang tidak jauh dari pemukiman warga untuk sekedar bertahan hidup.

Ini kisah seorang Mujahid muda Suriah, yang terpaksa harus menjadi tentara rezim Asad lantaran terkena peraturan wajib militer. Ia mengungkap tentang keberhasilannya keluar dari militer Suriah di tengah berlangsungnya revolusi di negara yang sedang dilanda perang itu.


Shamer (24), sebut saja namanya begitu, adalah putra ketiga seorang ulama di Suriah. Saat revolusi Suriah dimulai lebih 3 tahun yang lalu, ia sudah menjadi tentara rezim—tetapi karena tuntutan keadaan. Karenanya, setelah revolusi dan perang mulai berkecamuk, ia berupaya keras untuk keluar dari dinas militer, dan bergabung dengan Mujahidin.

Namun ketika masih dalam militer Asad, ia dan kawan-kawanya, sempat berupaya ingin membunuh Bashar Assad. Ketika itu, rencana matang sudah disiapkan, di saat Assad dikabarkan akan mengikuti sebuah upacara. “Namun sayang, Basyar Asad batal hadir. Kemungkinan rencana ini bocor,” ungkap Shamer kepada wartawan Indonesia yang tergabung dalam tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) saat meliput konflik Suriah, Sabtu (19/4).

Semangat jihad Shamer tumbuh dari lingkungan keluarganya yang memang berasal dari kalangan Muslim yang taat. Ayahnya adalah seorang ulama, Imam dan Khatib, di Damaskus, Suriah. Selain didikan orangtuanya, di usia masih belia, sebelum meletusnya perang, Shamer mengaku mendapat suntikan semangat jihad dari para tokoh Hamas Palestina.

Waktu itu, ujar Shamer, Masjid Al-Aqsha dikepung penjajah ‘Israel’ dan umat Islam di Palestina dibantai Zionis. “Kami dan teman-teman mengadakan tabligh akbar dan penggalangan dana Palestina bersamaan dengan datangnya beberapa tokoh Hamas di Damaskus, padahal di saat itu bicara masalah jihad menetang ‘Israel’ merupakan sesuatu yang sangat berbahaya bagi kami di Suriah, karena rezim di sini sangat represif, dan banyak teman-teman kami yang ditangkapi dan dipenjara oleh rezim Assad karena mengobarkan semangat jihad menentang Zionis ‘Israel’,” tuturnya.

Selain spirit jihad, peristiwa menarik yang diungkap pemuda yang baru saja menikah ini, adalah tentang kerjasamanya dengan Mujahidin di saat revolusi Suriah baru berlangsung pada 2011 lalu. Ketika itu ia masih di dinas militer rezim, ditugaskan membawa senjata oleh kesatuannya ke wilayah Raqqah, kota di sebelah timur Suriah.

Kesempatan ini digunakan Shamer untuk menjalankan misinya. Ia menghubungi Katibah Mujahidin lokal yang ada di Raqqah. Ia memberitahukan, bahwa ia membawa banyak senjata, dan ia ‘bersandiwara’ dengan Mujahidin, yaitu dengan mengatakan kepada kesatuannya seakan dia dihadang. “Tentu saja hal ini tanpa diketahui teman-teman saya di kesatuan militer rezim,” kata Shamer.

Selanjutnya, Mujahididin menghadang laju mobil tersebut dan mengambil semua peralatan senjata. Shamer dilepas. “Lalu saya melapor kepada kesatuan, bahwa saya telah dihadang dan semua senjata yang saya bawa telah dirampas,” ujarnya mengenang peristiwa pada 2011 lalu itu .

Jelas, di tengah peperangan, tindakan Shamer adalah sangat berani dan tentu saja berbahaya. Namun, dengan iman yang sudah mulai terasah, rasa takut menjadi sirna, berganti dengan keberanian yang luar biasa.

Sabtu pagi (19/4/2014) waktu Suriah, sebuah bom mobil meledak di pintu masuk sebelah barat kota Salamiyyah, di Provinsi Hama.


Ledakan berhasil menghancurkan pos checkpoint Khadamat pasukan rezim Nushairiyyah Bashar Assad hingga luluh lantak dan tinggal puing-puingnya saja, menewaskan sejumlah personel Militer Suriah dan melukai lainnya. Pos tersebut berdekatan dengan markas Pasukan Pertahanan Suriah NDF.

Mujahidin Daulah Islam Iraq dan Syam melalui akun media resmi wilayah Homs, menyatakan berada di balik aksi penyerangan tipe amaliyyah isytisyhadiyyah tersebut. Serangan menargetkan acara pertemuan Milisi Syabihah bersama dengan Komiter Rakyat di pos Nushairiyyah itu.

Fursan Syahadah atau Sang Ksatria Pemburu Syahid bernama Abu Abdullah al Libiy, Mujahid asal negeri Libya. Dalam sebuah foto dokumentasi memperlihatkan ia bersiap melakukan penyerangan dengan menaiki sebuah mobil pick-up yang memuat beberapa ton bom.

Sejumlah aktivis, diantaranya Tahrir Souri dan Markaz al Sauri Li Tautsiq juga melaporkan aksi penyerangan tersebut. Sementara itu, jumlah spesifik musuh yang tewas belum diketahui.


Selama satu pekan terakhir, Mujahidin Daulah Islam telah melancarkan sejumlah operasi militer menyerang konvoi-konvoi mobil dan pos checkpoint tentara Nushairiyyah di sekitar jalan utama yang menghubungkan Homs dengan kota Salamiyyah di Provinsi Hama.

Konvoi bus Tentara Nushairiyyah rezim Bashar Assad dilaporkan meledak setelah terkena ranjau Mujahidin Daulah Islam Iraq dan Syam di Wilayah Hasakah al Barakah.


Media Revolusi Suriah, Syabkah Raqqah al Islamiyyah, melaporkan pada hari Sabtu (19/4/2014), dua buah ranjau improvisasi IED berhasil menghantam mobil pengangkut infantri Tentara Nushairiyyyah yang berupa bus. Sebanyak 50 personil Militer Bashar Assad disebut tewas seketika.


Para aktivis Suriah, Kamis (17/04), melaporkan bahwa tentara rezim Suriah kembali menembakkan senjata kimia berupa gas beracun ke beberapa wilayah terutama di provinsi Idlib.

Sejumlah sumber mujahidin Suriah menyebutkan terjadi banyak kasus sesak nafas di kalangan warga sipil dan mujahidin setelah militer Suriah menembakkan sejumlah roket ke kota tersebut. Sumber aktivis tersebut mengatakan bahwa kasus itu merupakan akibat dari gas beracun yang ditembakkan militer Suriah.

Aktivis menunjukkan bahwa ini merupakan serangan kesekian kalinya selama kurang dari satu bulan, sebagaimana dilansir Sky News Arabia.

Lembaga Persatuan Koordinator Revolusi, Komisi Umum Revolusi Suriah mengatakan bahwa banyak para korban dengan kondisi sesak nafas dievakuasi ke rumah sakit darurat di kota tersebut.
  • Korban serangan gas beracun di Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib.

  • Korban serangan gas beracun di al-Taman'ah, Provinsi Idlib.

  • Korban perempuan akibat serangan gas beracun di Kafr Zeta, Provinsi Hama.


Foto-foto perempuan jihadis yang memegang senjata makin sering muncul di internet dan media cetak maupun media elektronik. Foto-foto ini memang jadi incaran publik. "Selalu saja ada ketertarikan besar pada isu jihadis (perempuan) ini", kata pengamat Guido Steinberg dari yayasan politik SWP di Berlin.


Fenomena ini memang sudah ada sejak lama, misalnya dalam berbagai peperangan yang dilakukan perempuan di Palestina dan Irak, atau oleh para mujahidin di Chechnya.


Tentu kita masih ingat, Seorang bocah perempuan berusia 16 tahun tanpa sepengetahuan orangtuanya memilih untuk menjadi jihadis di Suriah. Dia adalah dari keluarga wilayah Konstanz, di selatan Jerman. Sang ayah yang berasal dari Aljazair dan ibu berdarah Jerman, sempat menyangka anaknya diculik atau menjadi korban tindak kriminal.

Belakangan ketahuan, putrinya yang sedang duduk di bangku sekolah menengah atas itu memalsukan surat kuasa untuk bisa pergi ke luar negeri tanpa wali. Ia disebutkan meninggalkan Jerman dari Stuttgart menuju Turki, untuk kemudian ke Suriah dengan mengambil jalan darat.

Dengan dorongan aqidah islam, keinginan untuk bejuang di medan jihad lalu menolong sesama muslim membuat mereka tidak takut dengan apapun. Video berikut ini memperlihatkan perbedaan tentara perempuan rezim suriah atas nasionalisme-nya dan mujahidah atas aqidah islam.



  

17/04/2014 - Presiden Suriah Bashar Al- Assad seharusnya sudah kalah dalam pertempuran jika Iran tidak mendukungnya, Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam Angkatan Udara Iran Brigjen Amir Ali Hajizadeh mengatakan.

Kantor berita Iran Fars melaporkan Hajizadeh mengatakan bahwa Al-Assad telah mencapai kemenangan atas pihak oposisi dengan dukungan dari kekuatan yang berbeda dari luar negeri. ”Dia tetap berkuasa hanya karena Iran menginginkannya,” katanya.

Fars mengatakan bahwa Hajizadeh menyampaikan komentar itu pada perayaan diselenggarakan pada Jumat.”Delapan puluh enam negara di seluruh dunia ingin mengganti rezim Suriah dan mengatakan bahwa Al-Assad harus berhenti,” katanya,” semuanya gagal karena Iran ingin sesuatu yang berbeda.” lanjutnya:” Semua negara dikalahkan di akhir pertempuran.”

Dia mengatakan bahwa AS Menlu John Kerry mengakui kegagalannya dan peristiwa yang terjadi dibentuk sesuai dengan”Rencana Hizbullah dan Iran”. [middle-east-monitor]

Homs, kota pertama yang mulai melakukan perlawanan terhadap Presiden Bashar al – Assad,  pada tahun 2011. Kota Homs yang pertama menjadi pusat perlawanan itu, telah menjadi simbol dari kehancuran dan kematian dari kezaliman rezim Assad. Kematian setiap hari terus berlangsung, tanpa ada yang bisa memberikan bantuan.

Dalam beberapa bulan terakhir , pasukan pemerintah telah merebut kembali beberapa daerah yang dikuasai mujahidin  dan wilayah perbatasan , menutup rute pasokan mujahidin dari Lebanon dan mengamankan jalan raya utama menuju  utara dari Damaskus.
              
Ratusan orang masih terjebak di bagian kota tua itu, mereka  dikepung di pinggiran kota  oleh pasukan pemerintah dan milisi pro -Assad. Sesekali terdengar mortir, tembakan, dan bom birmil yang dijatuhkan ke dalam kota.

Berikut ini sebuah foto udara yang diambil tgl 17/04/2014, menunjukan hancurnya kota Homs akibat kebrutalan Tentara rezim Assad.

Saat ini beberapa wartawan Indonesia yang tergabung dalam JITU (Jurnalis Islam Bersatu) sedang berada di Suriah. Kehadiran mereka di Suriah sudah kali kedua setelah sebelumnya berangkat tahun 2013 kemarin.


Saat tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) melakukan liputan langsung di front jihad di kawasan Maorik, Hama, suara roket menggelegar 150 meter dari tempat JITU meliput.

Suara helikopter rezim Asad juga menderu-deru menjatuhkan bom-bom untuk meluluhlantakkan wilayah Maorik,Rabu (16/4). Dinding-dinding jendela dan pintu bergetar kuat akibat ledakan ini.



Penasihat Liwa Hitthin, Syaikh Abdullah Musthafa Rahhal, yang turut dalam front jihad ini menjelang shalat dzuhur memberikan semangat kepada tim JITU. Ulama ini memberikan apresiasi kepada JITU yang datang jauh dari Indonesia untuk memberitakan penderitaan rakyat Suriah sampai di garis depan jihad.

“Kalian wartawan dari Indonesia yang telah membulatkan tekad untuk meliput, berarti kalian sudah tahu risikonya. Kita berdoa agar selamat, tapi kalaupun kalian harus menemui kematian maka kita akan bertemu di surga,” ujarnya seraya membetulkan letak senjata AK 47nya.

Usai dari front jihad di Maorik, Hama, tim JITU mengabadikan rumah-rumah penduduk, bangunan sekolah dan masjid yang hancur, akibat serangan rezim Asad sebelumnya. Namun, alhamdulillah, sampai saat berita ini ditulis, kawasan tersebut tetap dalam kendali Mujahidin.

Video berikut ini memperlihatkan kondisi seorang muslim di suriah yang berjuang menghadapi rasa sakit antara hidup dan mati. Kondisi kakinya yang hancur akibat terkena serpihan bom birmil yang dijatuhkan dari pesawat rezim membuat ia terpaksa di operasi dalam kondisi darurat. Kejadian yang terjadi 15 april 2014 kemaren sungguh sangat membuat pilu, tapi ditengah kondisi seperti ini laki-laki ini masih sempat untuk berdzikir kepada Allah Ta'ala.






Beberapa negara baik di eropa, timur tengah, asia, dan afrika telah sepakat mengumumkan bahwa pemerintah akan menghukum warga negaranya yang terlibat dalam medan jihad di Suriah. Mujahidin asing yang berada di Suriah tak gentar menghadapi ancaman tersebut.



Selasa (15/04/14) - sayap Media Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS), Muassasah Al-Furqon, merilis video terbaru dengan judul Huwa Sammakumul Muslimin (Ia menamai kalian muslimin) yang dipublikasikan di forum Minbar Jihad. Video yang berdurasi 12:31 menit itu menayangkan mujahidin dari berbagai negara dengan aksinya merobek passport dan kewarganegaraan mereka.

Di awal pembukaan video itu, seorang syaikh memberikan wejangan dan wasiat tentang identitas seorang muslim, “Sungguh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang untuk mendirikan Daulah Islam dan membangun Din di mana pemeluknya tidak mengenal identitas selain muslim yaitu Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Mereka berpindah-pindah antara negri Islam dengan membawa identitas satu yaitu Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Mereka dipersatukan dengan loyalitas dengan sesama muslim karena Allah dan berlepas diri dari orang kafir dan musuh Allah Azza wa Jalla.

Musuh Allah datang untuk menumbuhkan ideologi nasionalisme. Kemudian menanamkan thoghut-thoghut di negri muslimin untuk memerangi agama Allah dan memerangi muslimin. Mereka memisah-misahkan kami dengan negara. Mereka membuatkan passport untuk menjadkannya tolak ukur loyalitas (al-wala wal baro).

Maka hal itu membuat kita tidak mencintai kecuali dari negara kami. Maka persahabatan dan permusuhan dibangun di atas bangsa. Maka kami disini mengumumkan kepada seluruh dunia, kami merobek-robek kewarganegaraan dan passport. Dan kami berjanji kepada Allah akan menyobek pula terotorial agar kita muslim dapat hidup di bawah satu naungan, Daulah Islam, hingga kami di timur dan di barat tidak berhukum kecuali dengan hukum Allah Azza wa Jalla” tuturnya.


Satu per satu mujahidin memberikan pernyataan dan membakar passport mereka dengan mengirimkan pesan bahwa mereka tidak akan pernah pulang ke negara mereka sampai tegak dengan nyata Daulah Islam yang akan mempersatukan kaum muslim di seluruh dunia.

Mujahidin Jabhah Nushrah bersama mujahidin Harakah Syam Al-Islam, Harakah Ahrar Asy-Syam Al-Islamiyah dan Kataib Anshar Asy-Syam telah menggelar operasi gabungan “Peperangan Al-Anfal di pesisir” yaitu di propinsi Lattakia, di pesisir Laut Mediterania, pada Jum’at (21/3/2014).






Dalam operasi ini, target-target mujahidin meliputi: kota Kasab, kota Naba’ Al-Murr, Jabal Nasr, Talah Nasr, desa Naba’ Al-Murr, desa Nab’in, desa Tasyalama, desa Samrah beserta pantai, penyeberangan perbatasan Kasab [Suriah – Turki] dan menara militer 45.

Mujahidin menyerang wilayah-wilayah dalam yang menjadi tempat pertahanan pasukan rezim Nushairiyah dan milisi Syiah dengan senjata-senjata berat yaitu meriam Hawan kaliber 120 mm dan kaliber 82 mm, tank-tank, meriam Shilka, senjata mesin DShK, dan roket Katyusa.

Atas karunia dan kekuatan Allah semata, mujahidin berhasil merebut beberapa kota dan desa beserta menara militer strategis. Banyak tentara rezim Nushairiyah dan milisi Syiah bayaranya tewas dalam pertempuran. Operasi gabungan empat kelompok jihad terbesar di Suriah barat itu sangat mengguncangkan rezim Nushairiyah Suriah.

Atas karunia Allah semata pula mujahidin meraih rampasan perang beberapa ton senjata berat, beragam amunisi dan roket, memperoleh lebih dari 100 mobil dan truk militer serta 9 tank. Mujahidin berhasil menghancurkan sejumlah besar kendaraan pasukan rezim Nushairiyah dan milisi Syiah sekutunya, diantaranya tank-tank, panser-panser dan kendaraan pengangkut personil. Segala puji milik Allah semata Rabb seluruh alam.

Al-Anshar Media Center telah merilis foto-foto eksklusif pinggiran Lattakia setelah dikuasai sepenuhnya oleh mujahidin. Foto-foto ini meliputi situasi kota Kasab, pinggiran Lattakia, di mana Mujahidin Ahrar Asy-Syam melakukan patroli di dalam kota Kasab dan Mujahidin Kataib Anshar asy-Syam melakukan ribath [penjagaan] di wilayah pantai Laut Mediterania, sementara Mujahidin Jabhah Nushrah menjaga pos-pos pemeriksaan.

(arrahmah)

Salah seorang bintang olahraga tinju asal Chechnya dikabarkan telah berjihad dan gugur syahid di Suriah di dalam barisan Mujahidin Daulah Islam Iraq dan Syam.

Situs resmi Mujahidin Chechnya di Daulah Islam, FiSyria yang berbahasa Rusia melaporkan berita tersebut pada akhir Maret 2014 lalu. Namun hanya menyebutkan nama alias Abdullah, seorang petinju Chechnya yang berjihad bersama Mujahidin Daulah Islam.

Laporan FiSyria juga disertai dengan sejumlah foto dan video Abdullah saat ia masih berkecimpung dalam dunia olahraga yang digelutinya tersebut, hingga saat dia sudah berhijrah ke bumi Syam meninggalkan popularitas dunia untuk berjihad meninggikan kalimat Allah.



Berdasarkan penelusuran sejumlah situs, pria yang nampak dalam foto tersebut bernama asli Zaurbek “Zaur” Baysangurov, petinju terkenal Chechnya dalam sebuah konferensi pers tahun 2012 di Kyiv jelang duel pertandingan melawan petinju Polandia, Lukas Konecny.

Zaurbek alias Abdullah gugur syahid dalam operasi pertempuran Mujahidin Daulah Islam untuk menaklukkan gudang senjata terbesar ketiga tentara Nushairiyyah di Deir al Zour, dengan nama sandi operasi Ghozwah al Khoyr.

“Masa lalunya adalah seorang juara tinju terkenal, lalu menjadi seorang Mujahid dan Syahid. Ia dipanggil dengan nama Abdullah al Shishani di bumi Syam yang diberkahi,” tulis FiSyria dalam laporannya.



“Di bawah kakinya dia kuasai dunia dengan semua pesonanya yang fana. Namun ia tinggalkan itu semua, dan mengadakan perniagaan dengan Allah. Saudara Abdullah kita yang tercinta pun akhirnya gugur syahid dalam operasi terakhir Mujahidin di Deir al Zour.”

Dalam pertempuran lanjutan pada hari Kamis (10/4/2014), mujahidin Jabhah Nushrah berhasil menghancurkan dua kendaraan dan menewaskan lebih dari 25 tentara rezim Nushairiyah Suriah di front Syaikh Najjar, Aleppo.


Akun resmi Jabhah Nushrah wilayah Aleppo melaporkan mujahidin Jabhah Nushrah berhasil melakukan penyusupan sampai mencapai salah satu bangunan tempat bermarkas pasukan rezim Nushairiyah Suriah di desa Syaikh Najjar, Aleppo. Regu ranjau mujahidin memasang tiga buah bom pada bangunan tersebut, kemudian meledakkannya dari kejauhan.

Ledakan ketiga bom itu menghancurkan dua buah mobil dan beberapa tentara rezim. Regu serbu mujahidin kemudian melakukan serangan ke dalam sisa-sisa bangunan. Dalam baku tembak sengit tersebut mujahidin menewaskan lebih dari 25 tentara Nushairiyah.

Mujahidin Harakah Ahrar Asy-Syam Al-Islamiyah, salah satu unsur dalam Jabhah Islamiyah, berhasil merebut bukit Ahmar barat di wilayah pinggiran Qunaitirah, situs resmi Ahrar Asy-Syam melaporkan pada Selasa (8/4/2014).



Mujahidin Harakah Ahrar Asy-Syam Al-Islamiyah terlibat pertempuran dengit dengan pasukan rezim Nushairiyah Suriah dan milisi Syiah “Hizbullah Lebanon” di wilayah pinggiran Qunaitirah, Suriah selatan. Melalui pertempuran sengit mujahidin berhasil memukul mundur pasukan musuh dan merebut bukit strategis Ahma barat.

Sejumlah tentara rezim dan milisi Syiah tewas dalam pertempuran tersebut. Mujahidin juga berhasil merebut sebuah tank T 62, sebuah tank BMP dan senjata mesin berat kaliber 14,5 mm, dan beberapa box senjata.


Kekeringan yang melanda Suriah bisa menyebabkan jutaan orang menderita kelaparan dan memperburuk krisis pengungsi yang disebabkan oleh tiga tahun perang Suriah, PBB mengatakan pada Selasa (8/4/2014), sebagaimana dilansir oleh WorldBulletin.


Kebun gandum di wilayah barat laut Suriah telah menerima kurang dari setengah dari curah hujan rata-rata sejak September, dan jika tetap kering sampai waktu panen gandum pada pertengahan Mei, negara Suriah – yang sudah tergantung pada bantuan untuk memberi makan jutaan rakyatnya – harus mengimpor lebih banyak makanan.

“Kekeringan bisa menyebabkan jutaan orang menderita kelaparan,” Elisabeth Byrs, juru bicara badan bantuan PBB World Food Programme (WFP), pada konferensi pers.

Berdasarkan data curah hujan dan citra satelit, dan dengan wilayah terkecil yang ditanami gandum dalam 15 tahun, panen sereal cenderung mengalami rekor yang rendah antara 1,7 juta dan 2 juta ton, sebanyak 29 persen berkurang dari tahun lalu dan sekitar separuh dibandingkan dengan hasil yang diperoleh sebelum konflik, kata WFP.

Pasukan loyalis rezim Bashar Al-Asad, Selasa pagi (08/04), menyerbu lingkungan Al-Ghoutah di kota Homs dengan mengendarai puluhan kendaraan militer. Mereka menggerebek sejumlah rumah warga sipil dengan tuduhan menyembunyikan senjata dan amunisi.

Dilansir dari Aksalser.com, penyerbuan itu dilakukan setelah pejuang Suriah menghujani lingkungan Zahra’ dengan berbagai mortir pada Senin malam sebelumnya. Dilaporkan sedikitnya sembilan milisi loyalis rezim tewas selama gempuran malam hari tersebut.

Seorang warga setempat yang takut disebutkan namanya mengatakan bahwa ia mendengar serangkaian ledakan dari wilayah yang dikontrol militer rezim di kota Homs. Pada Selasa pagi, lanjutnya, ketika kami membuka dagangan, puluhan milisi loyalis rezim tiba-tiba menyerbu lingkungan kami.

“Puluhan gerilyawan bersenjata dari Komite Rakyat (milisi loyalis Bashar Al-Asad) tiba-tiba datang ke kampung kami dengan mengendarai sejumlah mobil. Mereka turun kemudian memasuki rumah saudaraku dan sejumlah rumah lainnya. Mereka berteriak, ‘Dimana senjata yang kalian sembunyikan’,” kata saksi mata tersebut.

Setelah tidak menemukan senjata satu pun, mereka mengeluarkan senjata berat dan pelontar mortir dari dalam mobil militer yang mengangkut mereka. Kemudian, senjata-senjata itu diletakkan di lingkungan tersebut dam mereka mengambil gambar, seakan-akan daerah tersebut menjadi basis pejuang Suriah.

Setelah itu, mereka memeriksa setiap tas sejumlah wanita yang melintas dan menangkap tiga pemuda.

Mujahidin Jabhah Nusrah, Selasa (08/04), kembali melancarkan serangan bom Syahid ke sebuah kamp militer tentara rezim di pedesaan Idlib. Sedikitnya 50 tentara Suriah tewas akibat bom tersebut.

Dilansir dari almokhtshr.com, dua serangan besar itu menargetkan kamp militer Al-Khazanat di dekat kota Khan Syaikhun, pedesaan Idlib. Perlu diketahui, kamp Al-Khazanat merupakan basis militer Suriah terbesar di wilayah pedesaan Idlib.

Dua ledakan besar itu disusul dengan pertempuran sengit antara pejuang Suriah dan tentara loyalis Bashar Al-Asad. Setelah berlangsung beberapa jam, tidak terdengar lagi baku tembak di kamp tersebut.

Di waktu bersamaan, pertempuran juga meletus di pos berbatasan Abu Alla’, Talawi dan Madajin. Ketiga pos itu merupakan pos militer Suriah yang masih tersisa di kota Khan Syaikhun, setelah sebelumnya empat pos lainnya dibebaskan mujahidin.

Dalam serangkaian pertempuran itu, mujahidin juga berhasil menghancurkan dua tank tempur dari jenis T72. Terlihat asap membumbung tinggi dari dalam kamp Al-Khazanat, sementara serangan udara menghujani kota Khan Syaikhun.

Sekitar 176 tahanan disiksa sampai mati di dalam penjara rezim Nushairiyah Suriah selama bulan Maret, Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia atau Syrian Network for Human Rights (SNHR) mengungkapkan, seperti dilansir MEMO.


Catatan SNHR menunjukkan bahwa jumlah rata-rata tahanan yang tewas setelah disiksa di penjara telah melampaui 500 kematian dalam satu bulan. Kematian pada bulan Maret juga termasuk dua anak di bawah 16 tahun, dua wanita, seorang dokter dan seorang perawat. Tuduhan atau alasan penahanan terhadap mereka tidak terungkap.

Pengacara Ma’an Al-Ghonimi juga termasuk di antara mereka yang tewas; dia ditangkap paksa pada sepuluh bulan lalu. Pada akhir Maret, militer rezim memberitahu keluarganya tentang kematiannya yang berlangsung pada pertengahan Januari sebagai akibat dari adanya penggumpalan darah di otak.

Militer trezim tidak menyerahkan jenzahnya kepada keluarganya dan tidak memberitahu keluarganya tentang penguburan rahasianya.

Menurut SNHR, Al-Ghonimi disiksa sampai mati di departemen intelijen angkatan udara rezim. SNHR menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk mengalihkan masalah pembunuhan tahanan ke Pengadilan Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC).

Abu Khurayra Al-Kazakh adalah seorang mujahid muda asal Kazakhstan yang turut berjihad melawan rezim Nushairiyah di Suriah bersama Jaish Al-Muhajirin wal Anshar.


Kabar syahidnya Abu Khurayra datang bersamaan dengan kabar syahidnya dua Mujahidin lainnya yang berasal dari Tajikistan dan Dagestan. Mereka dilaporkan gugur baru-baru ini saat melancarkan jihad di Suriah, menurut Akhbar Sham, sebuah situs web berbahasa Rusia yang mendukung Jaish Al-Muhajirin wal Ansar, sebuah kelompok mujahidin asing yang dipimpin oleh komandan dari Kaukasus.

Diantara ketiga Mujahidin tersebut, Abu Khurayra adalah mujahid yang termuda. Kavkaz Center melaporkan bahwa dia baru berusia sekitar 19 tahun.

Sejak hari pertama berjihad, dia sudah terlihat [nyaman] seperti berada di rumah sendiri di tengah-tengah kelompok jihadnya.

Dia adalah salah satu dari mujahidin yang, selain masih muda, juga memiliki kharisma.

Melihat perilakunya dan mendengarkan dia berbicara, sepertinya sulit bagi kita untuk bisa membayangkan bahwa kita mungkin akan berdebat dengan dia.

Ceria, cerdas, dia dengan senang hati bergabung dalam percakapan rekan-rekan mujahidin, dalam diskusi-diskusi, tapi tetap lembut dan santun, tanpa menyakiti hati teman-temannya.

Dia hampir tidak menceritakan apa-apa tentang dirinya, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh mayoritas Mujahidin lainnya.

Salah seorang mujahid yang lebih senior sedikit usil menggodanya:

“Nah, anak padang rumput Kazakh, mari kita cari tahu namamu. Kau mau aku menyebut tiga nama untuk menebak namamu? Apakah kau Zhumabay? Bukan? Baiklah, itu berarti kau adalah Tuligen atau Serik.”

“Bukan,” jawabnya sambil tersenyum. “Namaku Abu Khurayra.”

Itu saja yang bisa diketahui tentang dia. Sebuah perjalanan hidup yang cukup singkat, namun mujahid muda ini meninggalkan jejak yang begitu benderang di hati rekan-rekan seperjuangannya, selamanya.

Pada Ahad (30/03/2014), Jerman menangkap beberapa orang yang merupakan alumni jihad Suriah yang dituduh berhubungan dengan ISIS.


Penyidik Federal menyatakan bahwa tiga kota, yakni Berlin, Frankfurt, dan Bonn telah menjadi wilayah pencarian mereka yang dicokok. Dalam tiga kota itu, ditangkap satu orang yang menurut mereka terkait ISIS.

Mereka yang ditangkap adalah Fatih K, yang berusia 35 tahun berkewarganegaraan Jerman, serta Fatih I (26), yang merupakan warga negara Turki. Seorang lagi merupakan wanita bernama Karolina yang memiliki kewarganegaraan ganda Jerman – Polandia.

Karolina, wanita berusia 27 tahun, ditangkap dengan alasan mengucurkan 48.000 euro, atau lebih dari 500 juta rupiah untuk membantu perjuangan. Mereka bertiga dituntut dengan alasan mendukung ataupun menjadi anggota dari golongan yang oleh Pemerintah Jerman dikategorikan sebagai teroris.

“Perhitungan sekarang menunjukkan bahwa konflik seperti di Suriah memberikan akibat langsung pada kita di Jerman,” sebut Harald Range, Kepala Penyidikan Federal. “Kita harus berbuat menghentikan perkembangan ini,” tambahnya.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget