Halloween Costume ideas 2015
February 2014

Menjelang masuk tahun keempat konflik di Bumi Syam, negera Iran meningkatkan dukungan militernya terhadap rezim Bashar Al-Asad. Negara sekutu Suriah itu mengirimkan para komandan militernya untuk melatih dan mengomando militer pemerintah.

Menurut sejumlah sumber terpercaya yang diperoleh kantor berita Reuters, Iran meningkatkan dukungan militernya di negara Bashar Al-Asad itu. Reuters menambahkan dalam laporannya Jum’at (21/02), Iran telah mempersiapkan satuan khusus untuk mengumpulkan informasi penting terkait Suriah dan memberikan pelatihan militer untuk para tenatara loyalis Asad.

Sampai saat ini, kata Reuters, negara Syiah itu telah menggelontorkan miliaran dollar untuk mendukung Bashar Al-Asad dalam pertempuran sektarian di Suriah. Meski bukan berita baru keberadaan militer Iran di Suriah, banyak para pengamat konflik Timur Tengah menyakini, Iran menambah pasukan khususnya di Suriah dalam beberapa bulan terakhir. Pasukan-pasukan itu dikirim untuk membantu Bashar Al-Asad melawan pejuang yang semakin kuat.

Reuters menjelaskan, di antara pasukan tambahan yang dikirim itu adalah para komandan di pasukan khusus Al-Quds yang merupakan pasukan elit milik tentara Garda Revolusi Iran.


Sejumlah sumber Iran mengatakan bahwa misi para pasukan elit itu adalah ikut bertempur di lapangan. Seorang mantan pejabat tinggi Iran yang memiliki hubungan erat dengan pasukan Garda Revolusi mengatakan bahwa pasukan Iran ikut terlibat aktif di Suriah.

Seorang komandan pasukan Garda Revolusi mengatakan, sebagaimana disebutkan Reuters, jumlah komandan elit Iran yang berada di Suriah sebanyak  60-70 komandan. Pejabat itu menegaskan bahwa misi utama mereka adalah mengomando dan melatih para tentara loyalis Bashar Al-Asad.

Perang di Suriah telah menarik perhatian banyak pihak.  Mereka yang khawatir kemenangan akan jatuh ke tangan Mujahidin berupaya dengan berbagai cara untuk menghalangi hal tersebut yang dianggap sebagai “ancaman”.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memantau kegiatan “perang ideologi” di internet yang diklaim lebih agresif dari sebelumnya.  Keterangan oleh kepala Direktorat Keamanan Ideologi Arab Saudi, menunjukkan bahwa unit yang dikenal untuk menjaga aktivis liberal dan supir perempuan serta “ekstrimis” Islam, kini merubah fokus mereka terhadap penggunaan internet untuk merekrut pejuang Jihad di luar negeri khususnya Suriah, lansir Daily Star (17/2/2014).

Awal bulan ini, Raja Saudi Abdullah, memutuskan bahwa setiap warga Saudi yang pergi ke luar negeri untuk berperang akan menghadapi hukuman penjara 3-20 tahun.  Kerajaan Saudi yakin, sekitar 1.000-2.000 warganya telah pergi ke Suriah untuk berperang di sana.


Keputusan tersebut juga akan menghukum siapa saja yang memberikan dukungan moral atau material kepada kelompok yang digambarkan sebagai “teroris” atau “ekstrimis”.

"Pemerintah Indonesia lebih peduli setrategi politik Amerika ketimbang Umat Islam"

Setelah bertemu Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) John F Kerry, Ahad (17/2/2014), Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengimbau warga Indonesia yang masih berada di Suriah tidak ikut terlibat dalam perang tersebut.

Pengamat Politik luar Negeri, Farid Wadjdi menilai pernyataan Marty tersebut merupakan bentuk kriminalisasi terhadap hukum jihad yang diwajibkan dalam Islam.

Menurut Farid, harus dipahami kenapa umat Islam terpanggil untuk melakukan jihad di Suriah. Jihad di Suriah dalam rangka pembebasan umat Islam dari penindasan  dan kedzaliman Bashar Assad. Hal ini merupakan  cerminan ukhuwah Islamiyah terhadap kaum muslimin Suriah. “Inilah menjadi alasan kenapa sebagian umat Islam, bukan saja di Indonesia tapi juga seluruh dunia terpanggil melakukan jihad di sana,” tegasnya kepada Mediaumat.com, Selasa (18/2/2014).

Anggota Maktab I’lamiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ini pun menerangkan bahwa kaum muslim itu ibarat satu tubuh sehingga jika ada satu tubuh yang sakit didzalimi berarti itu juga sakit bagi seluruh umat Islam.

“Sangat disayangkan pernyataan Marty tersebut, sebab Jihad merupakan perintah dari Allah ,  kewajiban ini merupakan bagian hukum syara,” bebernya. Ia pun mengkritik sikap pemerintah yang menutup mata terhadap kejahatan yang dilakukan Bashar. Menurutnya, di satu sisi pemerintah melarang untuk jihad di Suriah namun di sisi lain pemerintah Indonesia hanya diam seribu bahasa  terhadap kejahatan Bashar Assad.

“Dalam pandangan Islam, penguasa negeri Islam, justru harus pertama kali mengirim pasukannya, membebaskan rakyat Suriah yang dibunuh dan dizalimi, bukan malah menghalang-halangi kaum muslimin untuk jihad di Suriah,” tandasnya.

Lebih jauh Farid menilai pernyataan Marty ini merupakan buah dari intervensi Amerika terhadap politik luar  negeri Indonesia. “Lagi-lagi ini menunjukkan intervensi Amerika secara tidak langsung kepada Indonesia,” jelasnya

Menyinggung warning Sydney Jones   yang mengatakan siapa saja yang pergi jihad di Suriah akan mengancam Indonesia, Farid menilai hal ini sebagai stigmatisasi terhadap ajaran Islam yang mulia  yaitu jihad fi sabilillah. Menurutnya hal itu bagian dari proyek War on Terorrism ala Amerika yang menjadikan umat Islam dan Islam sebagai sasaran empuk.

“Pola ini berulang dan hanya ingin merusak ajaran Islam ,melemahkan persatuan umat Islam yang ingin bersatu membantu saudaranya yang tertindas,” pungkasnya. (mediaumat.com, 19/2/2014)

Mujahidin Daulah Islam Iraq dan Syam di pegunungan Qalamoun meluncurkan tembakan sejumlah roket yang menargetkan basis Milisi Syiah Hizbollah di Lebanon.

Sebanyak empat buah roket Grad besar berhasil mendarat di Desa Bazaliah, salah satu benteng  Hizbollah di Lebanon, seperti yang dilaporkan oleh akun resmi Daulah Islam wilayah Damaskus, @dw_sham, hari Rabu (19/2/2014).




Serangan roket ini sebagai balasan atas aksi militer ofensif Milisi Syiah Hizbollah di wilayah Yabroud.

Mujahidin Liwa’ At-Tauhid, salah satu unsur dalam Jabhah Islamiyah, pada Senin (17/2/2014) menyerang markas milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon di kota Aleppo Lama dengan meriam Jahannam, laporan situs resmi Jabhah Islamiyah.


Milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon merupakan pasukan darat utama rezim Nushairiyah Suriah dalam pertempuran di Aleppo. Mereka mengalih fungsikan hotel Carlton sebagai asrama militer dan markas operasi mereka. Serangan-serangan darat milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon didukung oleh bombardir massif pesawat tempur dan artileri berat rezim Nushairiyah Suriah.



Mujahidin Liwa’ At-Tauhid menyerang markas milisi Syiah dalam gedung hotel Carlton, blok Qal’ah, Aleppo Lama dengan meriam Jahannam rakitan lokal. Tembakan tersebut tepat menghantam sasaran. Ledakan keras disusul asap tebal membumbung tinggi dari bagian gedung hotel Carlton yang terkena tembakan mujahidin. Mujahidin di Aleppo terus memberikan perlawanan sengit terhadap pasukan rezim Nushairiyah dan milisi-milisi Syiah sekutunya.

Pemimpin milisi Syiah  Hizbullah, Lebanon,  Hassan Nasrullah, bersumpah bahwa pasukan milisi Hizbullah selama akan terus berperang mendampingi pasukan pemerintah Suriah dalam perang sipil di negara itu, Minggu, 16/2/2014.


Jika perang berhenti maka "tentu saja" Hizbullah juga akan angkat kaki dari Suriah, cetusnya. Sekarang Suriah dibanjiri oleh milisi Syiah dari Lebanon, Irak, Iran, Yaman, dan berbagai negara Teluk, termasuk dari Turki. Mereka ikut berperang memanbantu rezim Bashar al-Assad.

Kehadiran pasukan Hizbullah dalam perang di Suriah telah menambah ketegangan politik di seluruh kawasan Timur Tengah. Kekerasan terus meluas hingga perbatasan Suriah-Lebanon. Milisi Hizbullah mendukung tentara Presiden Bashar al-Assad.

Milisi Syi’ah di Suriah terus berdatangan, dan mereka bertempur melawan mujahidin yang sekarang ingin melengserkan rezim Syiah Alawiyyin di bawah Bashar al-Assad.

Situs Usudu Sham (Singa-singa asy Syam) merilis video jejak-jejak pertempuran awal Mujahidin Suriah guna membebaskan Penjara Pusat Aleppo dan ribuan Ahlus Sunnah yang ditawan oleh Syi’ah di sana.
Usudu Sham merupakan situs resmi kelompok Mujahidin Jaisy al Khilafah al Islamiyyah yang berada di bawah pimpinan komandan Mujahidin Chechnya, asy Syahid –kama nahsabuhu- Sayfullah al Shishani. Namun situs tersebut kini berganti menjadi milik Jabhat al Nusrah semenjak Jaisy al Khilafah al Islamiyya melebur ke dalamnya.

Video dibuka dengan testimoni Sayfullah al Shishani selama 2 menit 30 detik, dan diakhiri olehdetik-detik gugur syahidnya ia akibat terkena serpihan peluru mortir yang meledak tak jauh dari posisinya bersama Mujahidin lainnya.

Video berdurasi panjang 46 menit 30 detik tersebut memperlihatkan rekaman lengkap, dari sejak keberangkatan awal Mujahidin menuju operasi penyerbuan Penjara Pusat Aleppo hingga baku tembak dahsyat antara Mujahidin dengan Tentara Nushairiyyah yang disertai dentuman bom dan meriam artilleri. Menjadikan video ini pantang untuk dilewatkan.

Youtube telah menghapus video tersebut dari Channel resmi Usudu Sham, namun telah diunggah kembali oleh Channel Al Bab Free pada tanggal 14 Februari 2014. Oleh karenanya, segera download sebelum ia kembali dihapus!



Hingga hari ini belum ada kejelasan resmi, apakah wilayah tersebut sudah berhasil dibebaskan ataukah belum.

Semoga Allah memudahkan jalan Mujahidin untuk segera menuntaskan pembebasan Penjara Pusat Aleppo sepenuhnya. Aamiin!

Salah seorang Mujahid Suriah asal Eropa, Abu Fulan al Muhajir menceritakan satu kisah keajaiban dalam operasi penyerangan Mujahidin guna membebaskan penjara pusat Aleppo selama satu pekan terakhir.
Abu Fulan mengisahkan mimpi seorang teman Mujahidnya sebelum digelarnya penyerbuan, yang mana ia melihat banyak malaikat berbaju putih, melindungi Mujahidin dari gempuran serangan balik tentara Nushairiyyah.


“Seorang saudara yang ikut berjuang bersama kami dalam operasi penyerangan Penjara Pusat Aleppo bermimpi satu malam sebelum penyerbuan. Dia bermimpi melihat banyak malaikat berbaju putih. Namun tangan mereka berwarna hitam,” kisah Abu Fulan, seperti yang ia tulisakn melalui akun jejaring sosialnya, @Fulan2weet, Ahad (16/2/2014).

“Ia lantas bertanya, kenapa tangan mereka menghitam? Mereka menjawab bahwa itu lantaran mereka berusaha melindungi Mujahidin dari serangan bom, peluru, birmil, dan serpihan senjata lainnya,” imbuhnya.
Dan Subhanallah, di hari penyerbuan, Abu Fulan al Muhajir dan kawan-kawan merasakan keajaiban itu. Dimana banyak tembakan yang dilancarkan tentara Nushairiyyah tak mengenai mereka.

“Karamah! Tatkala aku berada disana, aku sangat yakin ada sesuatu yang melindungi kami. Sangat banyak tembakan bom birmil dan roket ke arah kami, namun kami baik-baik saja. Alhamdulillah!”
Meski begitu, Abu Fulan al Muhajir mengaku, ia sempat tertembak namun hanya mendapat luka ringan. Ia musti dilarikan ke rumah sakit bersama seorang Mujahid lain yang terluka cukup parah.

Sebelum ini, jauh-jauh hari di bulan Januari, Abu Fulan sangat berbahagia setelah komandan pasukannya menuturkan mimpinya bahwa ia akan ikut terlibat dalam oeprasi pembebasan penjara pusat Aleppo. Hingga Abu Fulan berdo’a agar Allah menyegerakan dilaksanakannya operasi penyerbuan.

Abu Fulan al Muhajir adalah seorang Mujahid asal Eropa yang sudah cukup lama berada di Suriah. Ia bukanlah anggota Jabhat al Nusrah atau Daulah Islam Iraq dan Syam, dan hingga kini masih enggan mengatakan di kelompok mana ia ikut berjuang dan dari negara mana asalnya.

Kerendahan hati menuntunnya untuk tetap bersikap low profile guna mengharap Jihadnya hanya akan dilihat oleh Allah saja. Ia sangat bersyukur belum pernah ada fotonya tersebar di Internet sebagaimana Mujahid lainnya.

Subhanallah, semoga Allah mengaruniakan keteguhan, keselamatan, dan limpahan barokah padamu!

The Washington Institute for Near East, lembaga yang berkaitan dengan  kebijakan ‘Timur Jauh’ mengklaim bahwa Assad,  meminta  bantuan dari sekutunya, khususnya menghadapi semakin melemahnya pasukannya. Hampir mencapai 100.000 -  300.000 pasukan dari Lebanon, Irak, Iran, dan Yaman, masuk ke Suriah.


Rezim Bashar al-Assad melalui milisi Shabbiha, mampu menambahkan dari  50.000 personil  ‘kekuatan inti’ , sekarang  menjadi 150.000 personil.  Iran mendorong  sekutunya Hizbullah, di Lebanon,  diperkirakan mengirimkan milisinya hingga 10.000 anggota almilisi Hisbullah. Inilah yang membuat Basar al-Assad , mampu bertahan.

Mereka telah berjuang dan berlatih bersama pejuang Syiah Irak yang juga mendukung Bashar al - Assad . Kekuatan yang menjadi  ‘payung’ bagi  rezim al-Assad , nampaknya  telah menjadi kunci dalam mempertahankan cengkeramannya terhadeap kota  Homs , Aleppo dan Damaskus.

Sejumlah milisi Syi’ah  Houthi  dari Yaman, ikut pula bertempur bersama dengan pasukan al-Assad. Milisi Syi’ah Turki, milisi Syi’ah Afghanistan dan Pakistan, serta tentara bayaran dari Rusia , dan diyakini jumlahnya mencapai  10.000 orang personil, dan telah terjun dalam medan perang di berbagai kota di Suriah.

Kekuatan kelompok Syi’ah Alawiyyin yang merupakan kekuatan lokal  menjadi faktor pendukung utama al-0ssad. Kelompok Syi’ah  dikenal sebagai Nusayris , hanyalah 11-16 % dari 23 juta penduduk Suriah dan terutama terletak di sepanjang pantai Mediterania . Mereka memegang pos kunci dalam pemerintahan di Suriah, termasuk militer, departemen pertahan intelijen, dan departemen dalam negeri serta kepolisian. Mereka inilah yang menjadi tulang punggung Bashar al-Assad, dan sekarang mereka terus menghancurkan kekuatan pejuang oposisi di Suriah.

Menurut Menlu AS, John Kerry, dalam perang di Suriah, Bashar al-Assad memiliki posisi yang kuat, karena itu, al-Assad meletakkan jabatannya sebagai presiden Suriah. Situasi ini semakin pelik, dan perundingan di Jenewa tidak mencapai kemajuan yang berarti. Nampaknya, hanya dengan jalan perang menyelesaikan krisis di Suriah.

Mujahidin Ahrar Asy-Syam Al-Islamiyah, salah satu kelompok dalam Jabhah Islamiyah, pada Ahad (16/2/2014) terlibat pertempuran sengit dengan milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon di front desa Syaikh Najjar, Aleppo tenggara.

Mujahidin menghadang serangan gencar milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon dengan tank dan senjata mesin menengah.



Serangan darat milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon merupakan kelanjutan dari serangan udara dan artileri berat pasukan rezim Nushairiyah selama empat pekan terakhir. Perlawanan sengit mujahidin dengan izin Allah telah berhasil menghentikan laju serangan milisi Syiah ini.


Milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon melakukan serangan dari arah desa Jidar, kota Idlib selatan pada Ahad (16/2/2014). Mujahidin Ahrar Asy-Syam, salah satu unsur dalam Jabhah Islamiyah, menghadang serangan tersebut dengan melakukan serangan terhadap markas milisi Syiah “Hizbullah” di desa Jidar.



Baku tembak sengit antara kedua belah pihak berlangsung selama beberapa jam. Laporan situs resmi Ahrar Asy-Syam menyebutkan bahwa mujahidin Ahrar Asy-Syam membombardir markas milisi Syiah “Hizbullah” di desa Jidar dengan senjata mesin menengah.

Serangan Mujahidin Daulah Islam Iraq dan Syam di wilayah Damaskus semakin meningkat daripada yang sebelumnya. Kali ini puluhan anggota Hezbollah tewas.

Melalui akun Twitter resmi Daulah Islam wilayah Damaskus, @dw_sham pada hari Ahad (16/2/2014) Mujahidin berhasil membunuh 16 anggota Milisi Syiah Hezbollah dan menghancurkan dua buah kendaraan tempur mereka dalam sebuah serangan ambush (penyergapan) di pegunungan Qalamoun.


Dalam serangkaian operasi lainnya di wilayah Qalamoun, pinggiran Damaskus, Mujahidin Daulah Islam berhasil mendapatkan senjata rampasan, berupa sejumlah mortir, roket buatan Rusia dan sepasang peluncur roket Konkors 120.

Selain di wilayah pinggiran, Mujahidin Daulah Islam juga melancarkan beberapa serangan pengeboman di jantung Damaskus.



Serangan tersebut berhasil membunuh banyak tentara Nushairiyyah, diantaranya seorang pejabat militer tinggi Suriah berpangkat Letnan Kolonel.

Beirut – Politisi Sunni terkemuka Lebanon, Saad al-Hariri pada hari Jum’at, (14/02) berjanji untuk mengatasi ekstremisme sektarian, namun ia mengatakan Syiah Hizbullah harus mengakhiri keterlibatannya di Suriah jika Lebanon ingin menghindar dari pusaran “holocaust sektarian”.

Mengutip contoh yang ditetapkan oleh ayahnya, Rafik al-Hariri pada ulang tahun kesembilan dari pembunuhannya. Hariri mengatakan moderasi harus menang jika Lebanon menghadapi kekerasan yang dipicu oleh perang Suriah dan kebuntuan politik akibat tak ada kehadiran pemerintah.

“Kami akan menghadapi hasutan yang akan menyeret Lebanon, khususnya kaum Sunni. Tidak ada gunanya, selain untuk menarik Lebanon ke dalam holocaust sektarian,” katanya, seperti dilaporkan World Bulletin.

Hariri berbicara kepada para pendukungnya di Lebanon dari luar negeri melalui jaringan video. Dia sebelumnya pernah mengatakan bahwa alasan keamanan yang membuatnya tinggal di luar Lebanon.


Komentar Hariri adalah penegasan kembali kepemimpinannya atas kelompok Sunni Lebanon, di mana pengaruh kelompoknyasemakin meningkat karena konflik Suriah.

“Saat Gerakan Masa Depan menolak Hizbullah, kita menolak ISIS dan Nusrah, dan setiap panggilan untuk melibatkan kaum Sunni di Lebanon dalam perang antara Hizbullah dan Al-Qaidah,” seru Hariri.

Hariri mengkritik Hizbullah, dengan mengatakan telah melibatkan Lebanon dalam “perang asing” dan memecah belah bangsa itu. ”Kami adalah moderat,” katanya.

Didukung oleh Arab Saudi, Hariri masih dianggap sebagai politisi Sunni paling berpengaruh di negara itu. Ucapannya itu, mengikuti Keputusan Arab Saudi pada 3 Februari lalu yang mengancam setiap warga negara yang berjuang di luar negeri terkena hukuman penjara.

Hariri meninggalkan Lebanon tak lama setelah ia memimpin pemerintah yang digulingkan pada tahun 2011 ketika Hizbullah dan sekutu-sekutunya menarik menteri mereka.

Sebanyak 49 faksi oposisi di wilayah selatan Suriah beberapa waktu lalu mendeklarasikan pembentukan koalisi baru yang dinamakan ‘Front Selatan’. Tujuan utama koalisi itu melengserkan rezim Bashar Al-Asad dan menggantinya dengan pemerintah yang bisa mewakili aspirasi rakyat Suriah.

Dalam pernyataannya yang dilansir ardalrebat.net, Jum’at (14/02), puluhan faksi pejuang oposisi itu menegaskan bahwa tujuan utama mereka adalah membebaskan Suriah dari rezim diktator dan ekstrimis.

“Kami pejuang di selatan Suriah yang bersatu untuk mewujudkan Suriah merdeka, independen dan status-quo. Kami adalah suara moderat dan pasukan terkuat untuk rakyat Suriah. Kami bertempur untuk membebaskan Suriah dari tirani dan ekstrimisme serta membela hak rakyat Suriah untuk memilih pemerintahan yang mewakili mereka,” kata koalisi pejuang oposisi tersebut.


Front Selatan mengatakan bahwa jumlah tentara mereka mencapai 30.000 pejuang dari berbagai kelompok dan faksi oposisi. Faksi-faksi tersebut terkumpul di selatan Suriah yang meliputi Damaskus, pedesaan Damaskus, provinsi Daraa, Qunaithirah dan Suwaida.

Di akhir pernyataan, Front Selatan menegaskan tidak memiliki satu komandan. Akan tetapi, kepemimpinan diserahkan kepada setiap batalyon atau brigade. Setiap komandan diberi kebebasan mengatur dan melaksanakan operasi dengan cara yang sesuai dengan anak buah mereka.

Di antara faksi-faksi yang tergabung dalam koalisi tersebut adalah Jabhah Tsuwar Al-Janubiyah, Liwa Al-Kolamoon At-Tahtani, Liwa Yarmuk, Liwa Falujah Huran, Liwa Al-Muhajirin wal An-Shar, Liwa Aswadu Sunnah, Fauj Fursan Al-Awal wa Tsani, Katibah Tauhidul Lajah dan brigade-brigade lainnya.

Kepala kemanusiaan PBB, Valerie Amos menggambarkan evakuasi warga sipil dari kota Homs yang terkepung oleh Tentara Rezim, dan ia memperingatkan sekitar 250.000 orang masih menunggu bantuan.


“Kami mengevakuasi 1.400 orang, namun masih ada hampir 250.000 lebih jika kalian melihat ke seluruh komunitas yang terkepung,” ujarnya seperti dilaporkan AFP pada Jum’at (14/2/2014).

PBB mengklaim kepada para wartawan bahwa mereka menerima “jaminan lisan” dari kedua belah pihak dalam konflik bahwa gencatan senjata di sekitar Homs akan diperpanjang.  Namun kelompok bantuan kemanusiaan PBB belum menerima jaminan tertulis untuk memudahkan operasi mereka.

“Kami tidak akan berlanjut tanpa jaminan tertulis dari mereka,” lanjutnya.

Dia menyatakan frustasi karena lambatnya kemajuan.

“Itu sebabnya kita semua tidak hanya pesimis, tapi begitu frustasi,” menurutnya.

Amos menyerukan anggota Dewan Keamanan PBB untuk menggunakan pengaruh mereka untuk memastikan rezim Assad mematuhi jeda, memberikan akses kemanusiaan, berkomitmen secara tertulis untuk kemanusiaan.

Sekitar 400 warga sipil yang dievakuasi dari Homs telah diculik oleh pasukan rezim Nushariyah Suriah. Mereka ditahan dan diinterogasi secara ilegal, lansir BSFSSR pada Kamis (13/2/2014).


Mengetahui praktek biadab rezim diktator Assad terhadap para tahanan mereka selama ini, maka terdapat kemungkinan bahwa warga sipil Homs yang mereka culik juga mereka siksa.

Para warga sipil tersebut diculik saat PBB tengah membantu proses evakuasi untuk menjamin keamanan mereka.


Kondisi wilayah yang dikuasai tentara assad membuat masyarakat ketakutan dan terputusnya bantuan makanan. Mereka mengalami kelaparan berbulan-bulan.


Dalam sebuah video yang diunggah ke Youtube pada Rabu (12/2/2014) kemarin, dua bocah Suriah menyampaikan kesaksian mereka mengenai kondisi kelaparan yang mereka hadapi. Pernyataan-pernyataan yang keluar dari mulut polos mereka berikut ini benar-benar menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.


Bocah Suriah pertama bercerita :

Tidak ada toko bagi kami untuk membeli barang-barang kebutuhan kami, tidak ada. Bagaimana bisa kami membeli sesuatu saat tidak ada yang bisa dibeli. Tidak ada, tidak ada apa pun. Semua Moadamia tak punya persediaan lagi. Jika kau pergi ke toko, kau akan dapati toko itu telah berubah menjadi puing. Mungkin seluruh bangunannya telah berubah menjadi puing. Segalanya telah dihancurkan. Kami ingin makan, tetapi tak ada yang bisa dimakan. Tidak ada kambing lagi, jadi apa yang bisa kami makan?

Sementara itu, bocah Suriah kedua mengatakan:

Aku ingin roti. Aku ingin menjadi seorang syuhada.

Mengapa kamu ingin menjadi seorang syuhada?

Mengapa? Karena aku lapar. Aku ingin makan. Aku ingin makan roti. Aku ingin makan roti.

Tapi kamu baru saja bilang kamu ingin menjadi seorang syuhada.

Ya. Bukankah di surga ada roti ?

Hama – Sedikitnya 50 tentara rezim Bashar Al-Asad hari ini (Senin, 10/2/2014) dilaporkan tewas dalam pertempuran di desa Ma’an, pedesaan Hama, pusat Suriah. Pertempuran ini terjadi setelah pejuang Suriah berhasil mengontrol daerah yang menjadi basis pendukung Bashar Al-Asad tersebut.

“50 tentara rezim Suriah, Senin, tewas setelah pejuang oposisi bersenjata mengontrol desa Ma’an, basis terbesar pendukung rezim di pedesaan Hama,” lansir kantor berita Sky News Arabia menukil dari laporan langsung kantor berita media Hama, dengan tidak menyebutkan rincian pertempuran terbaru tersebut.

Sebelumnya dilaporkan, pejuang Suriah merebut desa Ma’an yang dihuni oleh sekte Alawiyah, sekte sesat yang dianut Bashar Al-Asad dan para pendukungnya, di provinsi Hama pada Ahad (9/02). Lembaga Observatorium mengatakan bahwa oposisi yang terlibat dalam pertempuran itu adalah para pejuang Islamis, tanpa merinci nama faksi pejuang tersebut.

Beberapa minggu terakhir, sejumlah faksi pejuang Suriah menggulirkan pertempuran besar-besaran untuk merebut daerah-daerah di sekitar jalan Internasional di pedesaan Hama. Jalan tersebut menjadi jalan penting bagi rezim, karena menghubungkan antara Suriah Utara dan Selatan, yang kedua daerah teresebut merupakan basis pendukung Bashar Al-Asad. Adapun desa Ma’an terletak 80 km dari jalan Internasional tersebut.

Sky News menambahkan, di saat bersamaan pesawat-pesawat tempur rezim Suriah terus melancarkan serangan birmil ke sejumlah daerah di Suriah. Di antara provinsi yang mengalami gempuran birmil selama Senin ini adalah provinsi Hama dan Aleppo.

Kamis (6/2/2014), sebuah catatan harian seorang mujahid muda di Suriah yang baru saja gugur syahid tersebar. Menjadi perbincangan hangat dan tak henti-hentinya membuat banyak orang berdecak kagum.
Bukan karena amalan Jihadnya yang luar biasa. Memimpin operasi Mujahidin, membunuh banyak musuh, dan lain sebagainya.

Namun sang Mujahid muda tersebut, mengisi buku diary-nya di medan jihad dengan daftar dosa dan kesalahan yang selalu ia kerjakan setiap harinya.


Alkisah, terjadi baku tembak sengit antara Mujahidin Suriah dengan Tentara Nushairiyyah yang menghantarkan beberapa Mujahid gugur syahid.

Usai pertempuran dan kemenangan berada di pihak Mujahidin, mereka mulai menyisir lokasi guna mencari jasad saudara-saudaranya yang gugur. Dan ditemukanlah jasad seorang Mujahid muda yang baru berumur 16 tahun.

Mujahidin temukan dan saksikan tanda-tanda kesyahidan pada sang bocah Mujahid tadi. Rasa takjub mereka tak berhenti sampai disitu. Mereka temukan sebuah buku catatan kecil di saku syuhada’ cilik tadi.
Apakah isinya? Isinya adalah daftar dosa dan kesalahan yang dilakukan sang Mujahid muda tadi selama satu pekan terakhir di bumi Jihad.

Senin : Aku tidur tanpa mengambil air wudhu terlebih dahulu.

Selasa : Aku tertawa terbahak-bahak dengan suara yang sangat keras.

Rabu : Aku menyelesaikan Qiyamul Lail (Sholat Malam) dengan terburu-buru.

Kamis : Tatkala aku sedang beristirahat, dan bermain bola dengan teman-teman lain, aku mencetak angka, memasukkan bola ke gawang lawan. Dan saat itu menyelusup di batinku rasa bangga/ ujub.

Jum’at  : Aku hanya bersholawat 700 kali, padahal seharusnya 1000 kali.

Sabtu : Salah satu komandan Mujahidin mendahuluiku ketika memberikan salam.

Ahad : Aku lupa berdzikir pagi.

Dan hal yang mengejutkan adalah, ia lakukan hal-hal yang ia anggap sebagai “dosa” dan “kesalahan” itu tatkala ia sedang beramal Jihad, beramal Ribath, berjaga-jaga di front pertempuran terdepan melawan musuh-musuh Islam.

Lantas, bagaimanakah kita ketika menghitung-hitung setiap kesalahan dan berintrospeksi diri atasnya?


Sungguh kita perlu belajar dari Sang Mujahid muda ini. Meski ia telah memiliki gelar sebagai seorang “Mujahid” dan bahkan “Syuhada”, InsyaAllah. Dirinya tetap diselimuti rasa rendah hati, dan tak berpuas diri dengan hanya amal jihadnya saja.

Negeri Syria, atau Suriah atau dalam literatur Islam disebut sebagai Negeri Syam memang mempunyai sejarah, bukan hanya bagi umat Islam, tetapi juga Kristen (Eropa) dan Yahudi (Israel).

Bagi umat Islam, Syam adalah bumi penuh berkah. Di sana tempat para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah.

Di sana, Nabi Muhammad saw diperjalankan, dan dimikrajkan ke Sidratil Muntaha. Bagi umat Kristiani, wilayah Syam, dahulu adalah bagian dari imperium Romawi Timur, Bizantium. Sementara bagi umat Yahudi, Syam juga diklaim menjadi tempat suci mereka, dimana Haikal Sulaiman berada di sana.

Bisyârah jatuhnya Syam ke tangan kaum Muslim ditunjukkan oleh Allah sejak Nabi Muhammad saw dilahirkan. Saat Nabi lahir, cahaya terpancar mengiringi kelahirannya. Cahaya itu menerangi istana-istana Syam.

Peristiwa Isra’ dan Mikraj Nabi saw dari Masjidil Haram, di Makkah, ke Masjid al-Aqsa, di Palestina, serta ditunjuknya Nabi saw untuk menjadi imam para Nabi dan Rasul sebelumnya di Masjid al-Aqsa juga menguatkan Bisyârah itu. Setelah itu, Nabi pun berulangkali menegaskan, “Uqru dar al-Islam bi as-Syam (Pusat negara Islam itu ada di Syam).”

Padahal saat itu, wilayah Syam merupakan pusat kekuasaan Romawi Timur, Bizantium. Syam pun belum ditaklukkan oleh kaum Muslim semasa hidup Nabi saw. Setelah Nabi mengirim surat kepada Heraklius pada tahun 6 H, maka upaya pertama kali yang dilakukan oleh Nabi saw untuk menaklukkan wilayah itu dimulai pada tahun 10 H, saat Perang Mu’tah.

Dalam peperangan ini, Khalid bin Walid muncul sebagai pahlawan, sekaligus membuktikan kebenaran sabda Nabi saw. Setelah itu, sejarah kepahlawan Khalid pun ditorehkan dalam sejarah penaklukan Syam, saat Perang Yarmuk, penaklukan Damaskus, hingga Baitul Maqdis.

Jatuhnya Baitul Maqdis menandai berakhirnya kekuasaan imperium Romawi Timur, Bizantium. Inilah yang menorehkan dendam kepada umat Kristiani. Ketika mereka menyaksikan Negara Khilafah di bawah Bani ‘Abbasiyyah lemah, mereka pun melancarkan Perang Salib yang berlangsung selama 2 abad. Saat itu, umat Islam di Syam dan Mesir bertempur menghadapi mereka bukan sebagai umat.

Meski begitu, mereka pun berhasil memenangkan perang itu. Setelah itu, wilayah ini pun disatukan kembali, ketika Shalahuddin al-Ayyubi memberikan bai’atnya kepada Khilafah ‘Abbasiyah.  

Setelah orang-orang Kristen Eropa itu dikalahkan tentara kaum Muslim dalam Perang Salib, mereka pun harus menelan pil pahit, saat Konstantinopel jatuh ke tangan Muhammad al-Fatih tepat tanggal 20 Jumadil Ula 857 H/29 Mei 1453 H.  

Masalah ini menjadi mimpi buruk bagi mereka, sehingga menjadi momok yang sangat mengerikan. Mereka menyebutnya dengan Mas’alah Syarqiyyah (masalah ketimuran). Sejak saat itu, mereka bekerja keras mencari kelemahan umat Islam, dan menunggu kesempatan untuk menghancurkan musuh mereka ini.  

Kesempatan itu pun tiba, saat Khilafah ‘Utsmaniyyah lemah. Mereka mulai menyusun strategi. Dimulai dengan menyebarkan virus nasionalisme di dalam tubuh umat Islam, dan merekrut orang-orang fasik dengan iming-iming kekuasaan.  

Pecahlah Revolusi Arab, yang berhasil memisahkan wilayah Arab dari Khilafah. Setelah itu, Perancis dan Inggeris pun melakukan invasi ke wilayah Arab. Wilayah ini, termasuk Syam, kemudian dijadikan sebagai Mandat Inggris dan Prancis. Mereka pun membagi wilayah ini di antara sesama mereka, dengan Perjanjian Sykes-Pycot.  

Bukan hanya Syam yang dipecahbelah, tetapi seluruh wilayah Arab juga mereka bagi-bagi sesuai dengan kepentingan mereka.   Ketika Lord Allenby, komandan pasukan Inggeris, berhasil menduduki Palestina, tahun 1917 M, dengan tegas dia menyatakan, “Baru sekaranglah Perang Salib telah berakhir.”  

Memang benar, tujuan Perang Salib adalah mengalahkan umat Islam, dan menghancurkan kekuatan mereka. Kekuatan umat ini, seperti kata Lord Curzon, Menlu Inggris saat itu, terletak pada Islam dan Khilafah. Maka, mega proyek mereka adalah menghancurkan Khilafah, dan menjauhkan Islam dari kehidupan umatnya.  

Karena itu, ketika Islam telah kembali ke dalam pelukan umatnya, dan mereka membangun kembali mega proyek Khilafah, George Walker Bush, mengobarkan Perang Salib kembali. Dengan kedok Perang Melawan Terorisme, AS, Inggeris, Perancis, Rusia dan sekutunya mengobarkan Perang Salib melawan umat Islam.  

Mereka pun berhasil mendapat dukungan dari para pengkhianat umat Islam. Namun, perang melawan terorisme ini pun menguras energi mereka. Perang dengan target untuk menundukkan umat Islam agar menjauhi agama mereka, dan meninggalkan mega proyek Khilafah ini ternyata gagal total.  

Alih-alih ditinggalkan, justru tuntutan umat Islam untuk kembali kepada agama mereka semakin menguat. Demikian juga dengan mega proyek Khilafah. Jika awalnya hanya Hizbut Tahrir yang menyuarakan, kini mega proyek ini telah menjadi mega proyek umat Islam di seluruh dunia.  

Karena itu, ketika Barat tengah bergelut dengan krisis ekonomi, Timur Tengah pun bangkit dengan Arab Spring yang telah berhasil menumbangkan boneka-boneka mereka, mereka pun sangat takut kembalinya Islam dan Khilafah di wilayah-wilayah ini.  

Di Tunisia, Aljazair, Libya, Yaman, Mesir dan Bahrain berhasil mereka rem, dengan boneka-boneka yang dibenci rakyatnya, dengan boneka-boneka mereka yang lain, yang bisa diterima oleh rakyatnya. Api Arab Spring itu pun berhasil mereka padamkan.  

Namun, di Suriah, kobaran api itu hingga kini tidak berhasil mereka padamkan. Maka, kini kobaran api Revolusi Islam di Suriah ini pun mereka hadapi bersama. Mereka pun tahu, jika Islam dan Khilafah kembali di Suriah, ini benar-benar akan mengakhiri kekuasaan mereka.

Mereka mendapat dukungan penuh dari antek-antek mereka. Turki, Iran, Libanon, Yordania, Irak, Mesir, Qatar, Saudi dan Israel, termasuk Hizbullah semuanya bahu-membahu, bekerja sama dengan Amerika, Inggris, Prancis, Rusia, Cina dan sekutu mereka untuk memadamkan api Revolusi ini. Berapapun harga yang harus mereka bayar.  

Karena kembalinya Islam dan tegaknya Khilafah di Suriah benar-benar menjadi akhir dari sejarah mereka. Umat Islam di seluruh dunia pun menyambut bisyârah Nabi itu dengan gegap gempita.  

Sementara para Mujahidin yang berjuang di Suriah, siang dan malam terus berjuang untuk mewujudkan bisyârah Nabi.  

Mereka berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk mewujudkan bisyârah Nabi di tanah penuh berkah, yang dipenuhi oleh hamba-hamba Allah pilihan, Syam. Semua ini menandai “Kembalinya Suriah Bumi Khilafah yang Hilang.”

Kelompok Sekular “Front Revolusioner Suriah” adalah bentukan dari 15 kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Suriah (FSA) pada hari Selasa (10/12/2013).



Menurut pernyataan yang dirilis dalam bentuk video di internet, kelompok ini mengklaim dibentuk guna menyatukan elemen-elemen FSA dalam upaya menggulingkan rezim Bashar Assad dan melindungi tujuan-tujuan Revolusi. Selain itu Front Revolusioner Suriah juga dimaksudkan untuk menjadi inti dari Tentara Nasional Suriah di masa depan.

Berikut ini 15 kelompok yang membentuk formasi koalisi “Jabhat ats Tsauri al Suriyya” atau “Front Revolusioner Suriah” :

  1. Dewan Militer Idli di bawah pimpinan Kolonel Afif Suleiman
  2. Syuhada’ Suriyya dibawah komando Jamal Maarouf
  3. Ahrar Zawiya dibawah komando Ahmde Yahya Khatib
  4. Alwiyah al Ansar di bawah pimpinan Miskal Abdallah
  5. Alwiyah Nasr al Qadim di bawah komando Rabea Hajjar
  6. FSA Divisi Ketujuh di bawah komando Haitham Afeesa
  7. FSA Divisi Kesembilan di bawah pimpinan Abu Mutassim
  8. Brigade Farouq Utara di bawah komando Abdullah Abu Zeid
  9. Liwaa Thiab al Ghab dengan pimpinan Mohd Zatir
  10. Liwaa Syuhada Idlib di bawah komando Muhammad Eissa
  11. Liwaa Ahrar Asy Syimal dengan pimpinan Bilal Khabir
  12. Kelompok bersenjata Riyadush Sholihin Damaskus
  13. Katibah al Farouq wilayah Hama
  14. Pasukan khusus Damaskus di bawah komando Usmah Abdullah
  15. Qaseem Saad Eddine

Pembentukan Syrian Revolutionaries Front (SRF) ini dipercayai oleh banyak pihak sebagai respon atas pembentukan koalisi Mujahidin Islam, Jabhta al Islamiyyah atau Front Islam.

Kelompok-kelompok SRF ini disebut berhaluan sekuler dan Pro Barat, di bawah komando Supreme Military Comander dan Syrian National Council yang menginginkan Suriah Baru yang demokratis al Barat.
Benarkah demikian? InsyaAllah redaksi Shoutussalam akan menelusurinya lebih lanjut dan menyuguhkannya pada pembaca. Wallahu a’lam.

Gerakan milisi bersenjata Anshar Syari’ah Libya menyatakan telah berhasil memasuki Suriah dan kini menggelar aksi tebar dana bantuan dan bahan-bahan kebutuhan lain terutama makanan bagi penduduk Syam.

Dalam rilis statemen melalui sayap Media informasi Ar Royyah pekan ini, Anshar Syari’ah Libya menyebut aksi pembagian bantuan ini dengan nama “Kafilah al Khoyr 3” di Bumi Syam.

“Divisi Da’wah dan Tebar Kebaikan Anshar Syari’ah Libya, dalam agendanya telah masuk bumi Syam untuk melakukan aksi solidaritas Kafilah Al Khoyr 3, guna membantu meringankan penderitaan penduduk bumi syam,” tulis statemen tersebut.

“Adapun sasaran yang dituju yaitu pedesaan, provinsi-provinsi dekat yang tidak sedang terjadi konflik seperti Provinsi Salmaa dan lainnya. Dikarenakan kami melihat sedikit bantuan yang sampai ke wilayah-wilayah tersebut, karena berdekatan dengan berjalannya pertempuran,” imbuhnya

Aksi tersebut baru yang pertama, dan InsyaAllah akan terus berlanjut sebagai bagian dari serial solidaritas kaum muslimin Libya sebagai buah dari periode revolusi kemerdekaan negara itu dari pemerintahan Thoghut Diktator yang berada dalam pengawasan Barat.



“Aktifitas ini di himpun dalam serial solidaritas kaum muslimin, diadakan atas kerjasama kaum muslimin setelah dekade/periode kebangkitan ummat dan merdeka dari pemerintahan diktator pun pengawasan Barat. Kemudian lahirlah ‘Izzah dan kemuliaaan bagi ummat dibawah naungan syari’at Ar Rahman (Allah).”

(8/2/2014) - Jabhat Thuwar Suriah (Syrian Revolutionaries Front/ SRF), kelompok pejuang sekuler Suriah menyatakan diri menarik pasukannya dari wilayah padang pasir Badiyyah asy Sya’ar, Provinsi Hama.


Keputusan itu datang setelah mereka gagal total dalam aksi untuk memerangi, memusnahkan, dan mengusir Daulah Islam Iraq dan Syam dari Suriah, seperti yang dilaporkan oleh situs eldorar.com, Sabtu (8/2/2014).
Jabhat Thuwar Suriah merupakan faksi pertama yang melancarkan serangan ke arah markas-markas ISIS di wilayah Idlib, Badiyyah asy Syam, dan Badiyyah asy Sya’ar, yang kemudian menimbulkan fitnah besar berupa aksi pertumpahan darah sesama kelompok pejuang Islamis.

Beberapa saat pasca dibentuknya SRF, mereka menyerbu dan membunuhi anggota Ahrar Syam di Bab al Hawa. Mereka juga pelaku pembunuhan Amir Mujahidin Jundu al Aqsha, Syaikh Abdul Aziz al Qatariy yang setelah dieksekusi mati mayatnya dibuang ke lubang sumur.

Belakangan, kelompok yang dipiloti oleh gembong kriminil Jamal Ma’rouf itu juga ikut mengancam Jabhat al Nusrah di wilayah Darkoush atas tudingan membantu ISIS emmbunuhi warga sipil.

Di wilayah Badiyyah asy Syam, SRF berkali-kali mencoba melakukan penyerbuan ke markas-markas Mujahidin ISIS yang berada di gua-gua, namun selalu menuai kegagalan. Guna membela diri, Mujahidin ISIS menyerang balik.

Sumber aktivis Suriah, Abu Sumayyah al Kholidi melaporkan bahwa kini 90% wilayah Badiyyah asy Syam yang mencakup pinggiran Timur Aleppo dan sebagian besar wilayah timur Homs telah berada di bawah kendali Daulah Islam Iraq dan Syam setelah SRF gagal menyerangnya.


Laporan Operasi Jihad Harakat Ahrar Sham Pada Minggu Terakhir Januari 2014.
Berbagai macam cara dilakukan dalam memerangi tentara rezim, baik dengan meriam, pertempuran langsung dan menggunakan artileri berat. Kemenangan terus diraih di beberapa wilayah Suriah.

Kondisi Peperangan yang belum berakhir berakibat banyaknya kesulitan untuk kebutuhan sehari-hari. Para Akhwat ini menceritakan kondisi ekonomi yang sangat sulit ditambah sulitnya mendapatkan pasokan makanan dan harga barang yang melambung tinggi ditambah sumber pendapatan rakyat suriah yang tidak ada alias pengangguran.




Presiden AS Barack Obama merasa sangat prihatin dengan semakin meluasnya pengaruh  al-Qaidah. Pengaruh al-Qaidah sebagai gerakan yang menyerukan jihad, menyebar dari Atlantik sampai Samudera Hindia.

Gerakan ini mengendalikan wilayah yang sangat luas, dan lebih banyak lagi pejuang yang bergabung, dan al-Qaidah semakin kuat daya tariknya. Sementara itu, berbagai prediksi pemerintahan Obama akan menghadapi kehancuran.

AS menghadapi kenyataan dan fakta, sesudah tiga tahun  penarikan pasukan AS, Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) telah menduduki dan menguasai kota-kota di Irak dan Suriah. Ini sebuah perkembangan yang sangat dramatik. Di mana AS tidak mampu menjaga dan melindungi para sekutunya di manapun secara permanen.

AS seperti orang tua yang sudah “renta” tidak mampu  lagi, berbuat apapun menghadapi situasi dan pergolakan yang terjadi di Timur Tengah, dunia Arab, Afrika, dan Asia Selatan sakrang ini.
Timur Tengah, Dunia Arab, dan Afrika, serta Asia Selatan dan Tengah, sedang menuju perubahan besar, dan AS tanpa bisa lagi mengelola perubahan yang terjadi, sesuai dengan skenario yang diinginkannya. Ini menunjukkan  bahwa AS sudah “udzur”, dan energinya sudah habis, dan tidak dapat lagi mengantisipasi setiap perubahan dan gejolak yang ada.

AS di menit-menit terakhir mengubah keputusannya, saat akan menyerang rezim Bashar al-Assad, yang sudah menggunakan senjata pemusnah massal (sarin), dan membunuhi ribuan rakyatnya sendiri.
Obama tidak memiliki keberanian dan sudah kehilangan karakter dasarnya sebagai “super power” yang ekspansif, hegemonik, dan unilateral (sepihak dalam setiap tindakanya).  Gelar AS sebagai “super power” secara de facto sudah luruh dan sudah ditinggalkan, dan akhirnya AS hanya bisa mengekor kepada Rusia dan Vladimir Putin.

AS yang sudah memasuki era baru pemerintahannya, dan ingin lebh fokus kepada masalah domestik. menghadapi utang luar negeri, yang tidak kecil, $ 16.8 triliun dollar! AS menghadapi defisit anggaran (APBN), sekitar $ 2 triliun dollar. AS menghadapi defisit perdagangan luar negerinya yang semakin membengkak.

Jika doktrin AS ingin mengubah rezim-rezim di Timur Tengah mengikuti doktrin AS, pasca “perang dingin”, menuju kehidupan baru yang demokratis, justru itu tidak terjadi,  maka sejatinya pengaruh AS sudah usai. AS sudah tidak memiliki pengaruh apapun di dunia sekarang ini.

Saat Amerika Serikat dan sekutunya merangkul rezim Assad dan para pengkhianat revolusi untuk duduk bersama dalam pembicaraan Jenewa 2, kaum Muslim di bumi Syam sejak awal telah melakukan penolakkan atas konspirasi Jenewa 2 tersebut. Di Yordania, kaum Muslim bersama Hizbut Tahrir melakukan aksi "Gagalkan Konferensi Jenewa, Rezim Penjahat dan Koalisi Nasional" di depan Kedubes Suriah, 22/01/2014.

Kaum Muslim dan para pendukung Hizbut Tahrir baik tua muda, termasuk anak-anak, laki-laki dan perempuan berkumpul di depan Kedubes Suriah di Aman, Yordania sambil untuk menolak Konferensi Jenewa 2 dan menyebut mereka yang duduk dalam konferensi tersebut sebagai para penkhianat keji.

Dalam keterangan persnya, Hizbut Tahrir mengatakan bahwa aksi itu dilakukan “untuk mendorong umat Islam, para pengendali kekuatan umat, dan para tentaranya yang hanya berdiam di barak-barak, agar mereka semua menggagalkan Konferensi Jenewa yang tidak lain hanyalah sebuah konspirasi, dengan memberikan nushrah (dukungan dan pertolongan) terhadap revolusi yang diberkati, dan proyeknya yang agung, berupa penegakan negara Khilafah”.


Dikatakan pula bahwa aksi massa ini bertujuan untuk “menyerukan kaum Muslim, dan para pejuang revolusi yang mukhlis di bumi Syam, agar menyingkirkan Koalisi Nasional Suriah”.

Bahkan Hizbut Tahrir menyebut Koalisi Nasional Suriah sebagai “Pengkhianat keji yang menjual murah pengorbanan kaum Muslim dan darah para syuhada’ di jalan Allah, demi mempertahankan pengaruh Amerika di atas bumi Syam.”

Demikianlah, umat ini masih hidup dengan mulia untuk mempertahankan jiwa dan kehormatannya, dibandingkan mereka yang duduk di Jenewa 2 yang hanya menunjukkan kehinaannya.
[m/ar/htipress/]

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget