Halloween Costume ideas 2015
12/08/13


Koordinator Tim Ketiga HASI, Abu Yahya, menceritakan kisah seorang mantan tentara Bashar Asad yang membelot dan bertaubat lalu bergabung dengan Mujahidin

Saat diwawancara oleh Mujahidin Suriah dan relawan HASI, mantan tentara Asad itu, menjawab pertanyaan kenapa pasukan Asad yang berjumlah 1500 personel di Jabal Akhrod tidak berani melakukan serangan kepada Mujahidin Suriah yang hanya berjumlah 150 personel, padahal baik secara kekuatan (jumlah) maupun persenjataan, Mujahidin jauh kalah dibanding tentara Asad.

Mantan tentara Asad itu menjelaskan sembari terkejut dan heran lalu balik bertanya. “Siapa bilang jumlah kalian sedikit? Kami setiap malam melihat kalian dengan pakaian putih-putih bergerak dari satu lembah ke lembah lain sehingga kami berpikir jumlah kalian begitu banyak dan menjadi pertimbangan kami untuk tidak lebih dulu menyerang,” ungkapnya seperti diceritakan kembali oleh Abu Yahya dalam presentasi Laporan Tim ke-3 HASI kepada Forum Indonesia Peduli Suriah (FIPS).

Seperti diketahui, wilayah Jabal Akrod mempunyai sebuah tapal batas dengan tentara Asad yang jumlahnya ribuan. Tapal batas tersebut hanya dijaga oleh ratusan mujahidin. Begitu pentingnya tapal batas tersebut mempengaruhi situasi di Jabal Akrod, jika pasukan Asad mampu membobolnya.

“Namun, hingga kita pulang mereka tidak mampu membobol tapal batas, Allah menurunkan pertolongannya. Sebab, di sana dijaga oleh para Mujahidin yang sangat ikhlas mencari ridho Allah, sangat menjaga ke-Islamannya, sedikit bicara, menundukkan pandangan, dan menjauhi sikap ashobiyah (fanatisme kelompok),” papar Ustadz Oemar Mitha, penerjemah yang terlibat dalam bantuan kemanusiaan HASI.

Peristiwa-peritistiwa luar biasa seperti di atas pun tidak hanya terjadi satu kali. Pada kejadian yang lain, Mujahidin hendak melakukan perang dengan konvoi 50 truk yang berisi tentara Bashar Asad.

Hingga pada satu titik terjadilah baku tembak antara Mujahidin dengan tentara Asad. Mujahidin memang sudah bertekad untuk menghabisi dan memukul mundur tentara Bashar Asad.

Di luar dugaan, tiba-tiba saja muncul kejadian di luar perkiraan mereka. Helikopter dan pesawat tempur datang seperti hendak memerangi Mujahidin. Mujahidin yakin, ini bantuan dari pihak Bashar Asad untuk menghabisi mereka.

Ingat, hingga kini Mujahidin Suriah sama sekali tidak memiliki alat tempur seperti pesawat. Mereka bertempur hanya via jalur darat dengan persenjataan yang kalah canggih jika dibandingkan milik rezim Asad.

Mengukur jumlah personel dan persenjataan yang terbatas, komando Mujahidin menyerukan agar segera mengosongkan tempat pertempuran dan masuk ke gunung-gunung untuk mengatur strategi.

Anehnya, ketika Mujahidin sudah menarik diri, suara baku tembak masih saja terus terjadi. Berondongan dan desingan peluru seperti enggan berhenti walau tidak ada satu Mujahidin pun tersisa di lokasi pertempuran. Komandan Mujahidin sampai bertanya-tanya dalam hati, siapakah sebenarnya yang sedang berperang melawan tentara Bashar Asad?

Ia pun mengecek jumlah personel untuk memastikan kemungkinan ada Mujahidin tertinggal dan melakukan perlawanan terhadap tentara Asad. Namun hasil perhitungannya, seluruh Mujahidin sudah berada di gunung.

Hingga datang matahari terbit dan mereka yakin kondisi telah aman, barisan Mujahidin pun turun dari gunung-gunung. Dan, betapa terkejutnya mereka melihat sebagian tentara Asad telah tewas dengan luka menganga. Sebagian lainnya mengalami luka berat layaknya baru menghadapi pertempuran hebat.

Tentu kejadian ini menjadi seribu tanya bagi Abu Yahya, relawan HASI yang menghabiskan waktu selama satu bulan, 4 November-4 Desember 2012, di Desa Salma, Jabal Akhrod, Suriah. Ia mendapatkan kisah ini langsung dari Mujahidin.

Lantas siapa yang berada di dalam pesawat dan helikopter untuk melawan tentara Suriah?” tanya Abu Yahya yang diliputi rasa heran audiens yang hadir.

Banyak peristiwa-peristiwa lain yang belum sempat diceritakan relawan HASI secara lengkap mengingat keterbatasan waktu.

Namun, kisah-kisah tersebut sudah cukup mengukuhkan keyakinan perihal munculnya ayaturrahman fii jihadil-Syam (keajaiban perang di Bumi Syam).

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut,” (QS Al-Anfal: 10).


Palestina - Asy-Syahid Muhammad Fuad Nairukh yang dipanggil Abu Huzaifah adalah salah seorang dari 3 Syuada (insya Allah) yang gugur dalam peristiwa baku tembak dengan Detasmen Khusus Israel di pintu masuk utama kota Yatha, selatan Hebron, Tepi Barat.
Mujahid Nairukh berusia 30 tahun warga Wadi al-Tuffah, kota Hebron. Ia seorang Hafiz Al-Qur’an,  berkeluarga dan memuliki dua orang anak.
Abu Huzaifah pernah ditahan di penjara Israel  selama 8 tahun, dari tahun 2002 hingga tahun 2009, atas tuduhan berafiliasi ke Brigade Izzuddin al-Qassam dan membantu Abdul Mu’thi Syabanah untuk menjalankan operasi martirnya yang berkualitas.
Selama masa penahanannya, Nairukh dipindah dari penjara satu ke penjara yang lain. Ia pun menghafal Al-Qur’an dalam penjara dalam waktun 8 bulan. Tidak sekedar itu, Muhammad Fuad juga menghafal 6000 hadits lebih dari Shahih Bukhori.
al-Mujahid Muhammad Nairukh dikenal di penjara sebagai orang yang sangat konsisten dengan ajaran Islam. Sedkit nonton televisi,  wara dan lebih sering menghabiskan waktu bersama Al-Qur’an. Nairukh pun memiliki hujjah yang kuat saat diskusi.
Perlu dicatata, Asy-Syahid Nairukh telah dinonaktifkan dari Hamas saat berada di Penjara Negev menjelang beberapa bulan sebelum dibebeaskan. Dan hal itu setelah ia dituduh sebagai takfir. Itu label yang senantiasa Hamas sematkan kepada siapa yang berafiliasi kepada Salafi Jihadi. lebelnya tersebut pun didengung-dengungkan.
Ia pun pernah berdiskusialot dengan salah satu Anggota Dewan Legislatif di penjara Israel. Nairukh mengeluarkan hujjah-hujjah tentang kebathilan demokrasi, di mana Hamas berjlan di atasnya dan menyelisihi syari’at. Lantaran itu, Abu Huzaifah pun dipindahkan ke penjara Eshel di Beer Sheva.

Otoritas Palestina Berkoordinasi dengan Israel untuk Membunuhnya

Sebelum kesyahidannya, Nairukh diusir oleh Aparat Keamanan Palestina dan Tentara Israel. Intelijen Palestina berusaha menangkapnya setelah mendapatkan informasi bahwa ia akan melakukan operasi menyerang Israel di Hebron. Dan yang bertanggungjawab dalam operasi intelijen tersebut adalah seorang perwira bernama Adnan Abu Eisha.
Namun Muhammad Fuad berhasil meloloskan diri dan bersembunyi. Upaya pencarian OtoritasPalestina pun sia-sia. Adnan Abu Eisha pun meminta foto-foto Nairukh dari Aparat Intelijen untuk disebarkan.
Pada minggu kedua, aparat menyita mobil Nairukh dan membekukan rekeningnya. Otoritas juga mengumumkan agar Muhammad menyerahkan dirinya. Namun ia menolak. Intelijen pun memberitahu kepada keluarganya bahwa status Muhammad sekarang menjadi DPO Israel karena berafiliasi kepada Salafi Jihadi.
Intelijen berhasil memantau gerak-gerik mobil yang ditumpangi oleh Muhammad Nairukh selama 4 hari sebelum kesyahidannya di salah satu desa Hebron. Israel pun melakukan pengawasan 24 jam terhadap Muhammad.
Menjelang Muhammad ingin beroperasi di dalam wilayah Israel, pasukan khusus yang bernama Yamas di Militer Israel melakukan penyergapan. Terjadilah baku tembak pada hari itu hingga akhirnya Muhammad bersama 2 temannya menghebuskan nafas terakhir.
[usamah/haq]

Dalam sebuah wawancara media tanggal 7/12/2013 di Beirut Lebanon, Hasan Nasrullah petinggi hizbullah mengakui kekalahan pasukannya di Ghoutah timur.
Seperti kita ketahui, di pertengahan bulan november yang lalu lebih dari 300 tentara hizbullah, Iran, dan tentara suriah tewas dalam pertempuran 4 hari di Ghoutah timur oleh pasukan gabungan mujahidin.

Jabhah Islamiyah (Islamic Front), aliansi Islam yang terbentuk dari enam jama’ah jihad Islam dan Mujahidin FSA Suriah pada 22 November 2013 lalu, telah memukul mundur pasukan militer oposisi nasionalis-sekuler Suriah dari basis dan gudang yang mereka duduki di perbatasan penyebrangan Bab Al-Hawa ke Turki, lansir LWJ pada Sabtu (7/12/2013).

Setelah pertempuran yang berlangsung sepanjang malam antara Mujahidin Jabhah Islamiyah dan pasukan oposisi sekuler Suriah, Mujahidin Jabhah Islmaiyah akhirnya berhasil merebut depot oposisi sekuler yang berisi senjata yang telah dikirim ke Suriah melalui Turki, menurut aktivis Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia atau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR).

Juru bicara oposisi sekuler Suriah Louay Meqdad mengatakan Mujahidin Jabhah Islamiyah telah mengibarkan bendera mereka di tempat yang sebelumnya diduduki militer oposisi sekuler Suriah, setelah “meminta” personil oposisi sekuler untuk pergi dari sana, lansir Reuters.

Pengambilalihan basis militer oposisi sekuler Suriah ini terjadi hanya empat hari setelah Jabhah Islamiyah menyatakan bahwa mereka berlepas diri dari dewan militer oposisi nasionalis-sekuler pimpinan Salim Idris.

Pekan lalu, Jabhah Islamiyah yang diperkirakan terdiri dari 45.000 mujahidin, telah merilis Piagam Jabhah Islamiyah, semacam AD/ART mereka, pada 22 November 2013. Piagam yang dipublikasikan melalui situs-situs revolusi Suriah itu menetapkan tujuan Jabhah Islamiyah untuk mendirikan Daulah Islam di bawah hukum syariah.

Meski tidak menyebutkan Al-Qaeda atau dua cabang resminya  di Suriah, Jabhah Nushrah dan Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS), Mujahidin Jabhah Islamiyah mennyatakan para pejuang asing dengan sebutan “saudara-saudara kami”. Piagam itu menunjukkan bahwa Jabhah Islamiyah juga berjuang bersama dengan Jabhah Nushrah dan ISIS.

Jendral Salim Idris, pemimpin Dewan Militer oposisi nasionalis-sekuler Suriah dari kantornya di Turki menyatakan bahwa Mujahidin dari faksi Jaisyul Hurr atau Tentara Pembebasan Suriah (FSA) akan memerangi Mujahidin Al-Qaeda dan kelompok Mujahidin lainnya yang berafiliasi kepada Al-Qaeda di Suriah.

Jabhah Islamiyah pada Selasa (3/12/2013) kemudian mengeluarkan pernyataan resmi menarik dirinya keluar dari Dewan Militer pimpinan Jendral Salim Idris itu. Pernyataan resmi Jabhah Islamiyah tersebut merupakan wujud dari indipendensi dari “pihak luar.” Pernyataan resmi tersebut pun disambut positif oleh para ulama dan pemimpin kelompok jihad Islam di Suriah.

Di tengah semakin melemahnya kekuatan oposisi nasionalis-sekuler FSA Suriah yang didukung oleh Barat, seorang mantan komandannya mengaku kepada BBC bahwa saat ini dia sedang ditargetkan oleh Mujahidin Islam sehingga dia melarikan diri ke Turki setelah mujahidin menangkap sebagian besar anak buahnya.

Jabhah Islamiyah merupakan kelompok mujahidin pertama di dalam negeri Suriah yang memerankan dirinya sebagai lembaga militer, politik dan sosial Islam. Jabhah Islamiyah akan memainkan peranan seperti Aliansi Nasional Suriah, dewan oposisi nasionalis-sekuler dukungan Barat yang berkantor di Turki.

Tetapi bedanya, Jabhah Islamiyah berperan aktif di lapangan dalam operasi jihad dan pelayanan sosial masyarakat, dua hal yang tidak dilakukan oleh Aliansi Nasional Suriah. Berbeda dengan Aliansi Nasional Suriah yang mencita-citakan negara baru Suriah yang nasionalis, demokratis dan sekuler; Jabhah Islamiyah mencita-citakan Daulah Islam dan penerapan Syariat Allah. (banan/arrahmah)

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget